p-Index From 2021 - 2026
10.688
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal KALAM WALISONGO Wawasan : Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya Religio : Jurnal Studi Agama-agama Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Medina-Te : Jurnal Studi Islam Aqlania Al Ahkam Mutawatir : Jurnal Keilmuan Tafsir Hadith Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Holistic Al-Hadis : Jurnal Studi Hadis, Keindonesiaan, dan Integrasi Keilmuan Al-Fath Rusydiah: Jurnal Pemikiran Islam Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Al-Qur'an An-Nur : Jurnal Studi Islam SPECTRUM: Journal of Gender and Children Studies Jurnal El-Thawalib Jurnal Riset Rumpun Agama dan Filsafat Al-Mu'tabar Staatsrecht: Jurnal Hukum Kenegaraan dan Politik Islam Hikami : Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Bashirah Ihsanika : Jurnal Pendidikan Agama Islam (Indonesian of Interdisciplinary Journal) Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Jurnal Manajemen dan Pendidikan Agama Islam Jurnal Budi Pekerti Agama Islam TAFAKKUR : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Tazkiyya: Jurnal Keislaman, Kemasyarakatan dan Kebudayaan Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Shād : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Jurnal Intelek Insan Cendikia Akhlak: Jurnal Pendidikan Agama Islam Dan Filsafat Karakter: Jurnal Riset Ilmu Pendidikan Islam Jurnal KACA Jurnal El-Thawalib Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Kusuma : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Jurnal Studi Ilmu Alquran dan Tafsir Indonesian Journal of Islamic Studies INTERNATIONAL JOURNAL OF SOCIETY REVIEWS (INJOSER) International Journal of Social and Education (INJOSEDU) JUTEQ (JURNAL TEOLOGI & TAFSIR) Mushaf Journal: Jurnal Ilmu Al Quran dan Hadis (MJ) Ad-dawl : Jurnal Islamic Studies At Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Claim Missing Document
Check
Articles

KONSEP KEADILAN SOSIAL DALAM TAFSIR FAZLUR RAHMAN: ANALISIS TERHADAP PRINSIP MORAL QUR’ANI Zain, Muhamad Fakhriyal Dewanda; Attirka, Garda Fathan; Wibawa, Khaestya Hadi; Rosa, Andi
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 13 No. 3 (2025): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berjudul “Konsep Keadilan Sosial dalam Tafsir Fazlur Rahman: Analisis terhadap Prinsip Moral Qur’ani”. Kajian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana Fazlur Rahman memahami konsep keadilan sosial dalam Al-Qur’an melalui pendekatan hermeneutika double movement yang ia gagas. Fazlur Rahman menekankan bahwa pesan moral Al-Qur’an bersifat universal dan harus dipahami secara kontekstual agar dapat diterapkan dalam kehidupan sosial modern. Keadilan sosial, menurutnya, bukan sekadar distribusi ekonomi yang merata, melainkan upaya menegakkan nilai kemanusiaan, kebebasan, dan tanggung jawab moral dalam struktur masyarakat. Melalui analisis terhadap karya-karya utama Fazlur Rahman seperti Major Themes of the Qur’an dan Islam and Modernity, penelitian ini menemukan bahwa keadilan sosial merupakan inti dari misi etika Al-Qur’an yang menuntut transformasi sosial berlandaskan tauhid dan moralitas universal. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis isi terhadap teks-teks Fazlur Rahman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gagasan keadilan sosial Rahman berakar pada pemahaman moral Qur’ani yang dinamis, yang menolak legalisme tekstual semata dan menekankan aktualisasi nilai-nilai etis wahyu dalam konteks sosial-historis yang terus berkembang. Kata kunci: Fazlur Rahman, Keadilan Sosial, Moral Qur’ani, Hermeneutika, Double Movement.
KONSEP KEADILAN DALAM TAFSIR AMINA WADUD TERHADAP AYAT POLIGAMI: KAJIAN TAFSIR KONTEMPORER Aulia, Putri; Nurhayani, Rosita; Nurazizah, Siti; Rosa, Andi
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 13 No. 3 (2025): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Riset ini berorientasi untuk mengemukakan analisis mendalam atas interpretasi Amina Wadud terhadap ayat-ayat Al-Qur'an tentang keadilan, khususnya dalam QS. an-Nisā' [4]:129. Riset ini berorientasi dalam rangka mengeksplorasi signifikansi eksegesis feminisnya dalam kaitannya dengan wacana keadilan gender dalam kerangka pemikiran Islam kontemporer. Penelitian ini didasarkan pada pemahaman bahwa interpretasi tradisional terhadap ayat-ayat Al-Qur'an tentang poligami seringkali dipengaruhi oleh perspektif patriarki, yang cenderung melanggengkan status subordinat perempuan dalam struktur keluarga. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini menganalisis karya Amina Wadud yang berpengaruh, Qur'an and Woman: Rereading the Sacred Text from a Woman's Perspective. Temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa Amina Wadud menafsirkan ayat kitab suci Al-Qur'an berkenaan dengan legalitas bukanlah sebagai hal yang didukung terhadap praktik tersebut, melainkan sebagai batasan moral yang mensyaratkan keadilan sejati suatu kondisi yang, pada kenyataannya, hampir mustahil dipenuhi oleh manusia. Ia menggarisbawahi bahwa esensi ayat tersebut terletak pada perlindungan hak-hak perempuan dan promosi prinsip-prinsip universal kemanusiaan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan transisi metodologis dari modus penafsiran legalistik menuju pendekatan etis-kontekstual yang berlandaskan prinsip-prinsip keadilan dan kesetaraan. Oleh karena itu, penelitian ini berkontribusi signifikan terhadap kemajuan wacana eksegesis feminis dan menawarkan jalan baru untuk mengeksplorasi integrasi hermeneutika gender dengan maqāṣid al-sharī‘ah dalam studi penafsiran Al-Qur'an kontemporer. Kata kunci: Amina Wadud, Poligami, Adil. Abstract This research seeks to provide an in-depth analysis of Amina Wadud’s interpretation of Qur’anic verses concerning polygamy, specifically QS. an-Nisā’ [4]:3 and QS. an-Nisā’ [4]:129. The study aims to explore the significance of her feminist exegesis in relation to the discourse on gender justice within the framework of contemporary Islamic thought. This research is grounded in the understanding that traditional interpretations of Qur’anic verses on polygamy are frequently influenced by patriarchal perspectives, which tend to perpetuate the subordinate status of women within the family structure. Employing a descriptive qualitative approach, this study analyzes Amina Wadud’s influential work Qur’an and Woman: Rereading the Sacred Text from a Woman’s Perspective. The findings of this study reveal that Amina Wadud interprets the Qur’anic verse on polygamy not as an endorsement of the practice, but as a moral limitation that requires genuine justice a condition that is, in reality, nearly impossible for humans to fulfill. She underscores that the essence of the verse lies in safeguarding women’s rights and promoting universal principles of humanity. The conclusion of this study demonstrates a methodological transition from a legalistic mode of interpretation to an ethical-contextual approach grounded in the principles of justice and equality. Consequently, this research contributes significantly to the advancement of feminist exegetical discourse and offers new avenues for exploring the integration of gender hermeneutics with maqāṣid al-sharī‘ah in contemporary Qur’anic interpretation studies. Keyword: Amina Wadud, Polygamy, Fair.
Menelisik Dunia Makna: Pendekatan Semantik Toshihiko Izutsu terhadap Kosakata Kunci dalam Al-Qur’an Aal Mujadilah; Diyah Nuralifah; Naesyah Fazriyah; Andi Rosa
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 2 (2025): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to explore the semantic approach proposed by Toshihiko Izutsu in analyzing key terms in the Qur’an, which play a crucial role in shaping a worldview derived from the Qur’an. Toshihiko Izutsu, a Japanese scholar recognized as a pioneer in Qur'anic semantic studies, introduced a method that emphasizes the relationships between words within the context of revelation. Using a qualitative approach based on literature review, this research examines Izutsu's seminal texts such as God and Man in the Qur’an and Ethico-Religious Concepts in the Qur’an, as well as analyzes various relevant secondary literature in the fields of linguistics, exegesis (tafsir), and philosophy of language. The findings of this study show that, according to Izutsu, each term in the Qur’an does not have an isolated meaning but forms a semantic network that reflects the theological values and concepts in Islam. Terms like faith (iman), disbelief (kufr), piety (taqwa), and justice (‘adl) are interconnected within a structure of meaning that represents the relationship between humans and God, between humans, and between humans and the universe. This semantic approach offers the potential for more reflective and contextual interpretations, enabling the meaning of the Qur’an to be understood in a more holistic, profound, and relevant way to the challenges of the modern era. Therefore, the semantic perspective put forth by Toshihiko Izutsu not only contributes to the advancement of contemporary exegesis techniques but also enriches the understanding of the essence of the language of revelation as a manifestation of the religious consciousness present in the human soul. Keywords: Toshihiko Izutsu, Semantics, Qur’an, Key Vocabulary, Qur’anic Worldview   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pendekatan semantik yang diusulkan oleh Toshihiko Izutsu dalam menganalisis istilah-istilah kunci dalam Al-Qur’an, yang memiliki peranan krusial dalam membentuk pandangan dunia yang bersumber dari Al-Qur’an. Toshihiko Izutsu, seorang akademisi Jepang yang diakui sebagai pionir dalam studi semantik Al-Qur’an, memperkenalkan metode yang menekankan hubungan antar kata dalam konteks wahyu. Dengan pendekatan kualitatif yang didasarkan pada studi pustaka, penelitian ini mengkaji teks-teks utama Izutsu seperti God and Man in the Qur’an dan Ethico-Religious Concepts in the Qur’an, serta menganalisis berbagai literatur sekunder yang relevan dengan bidang linguistik, tafsir, dan filsafat bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Izutsu, setiap istilah dalam Al-Qur’an tidak memiliki arti yang berdiri sendiri, melainkan membentuk jaringan semantik yang mencerminkan nilai-nilai dan konsep teologis dalam Islam. Istilah seperti iman, kufr, taqwa, dan ‘adl saling terhubung dalam struktur makna yang menggambarkan hubungan antara manusia dan Tuhan, hubungan antar manusia, serta hubungan manusia dengan alam semesta. Pendekatan semantik ini memberikan peluang untuk penafsiran yang lebih reflektif dan kontekstual, sehingga arti Al-Qur’an dapat dipahami secara lebih holistik, mendalam, dan relevan dengan tantangan di era modern. Oleh karena itu, cara pandang semantik yang diajukan oleh Toshihiko Izutsu tidak hanya berperan dalam kemajuan teknik tafsir masa kini, tetapi juga menambah wawasan mengenai esensi bahasa wahyu sebagai wujud dari kesadaran religius yang ada dalam jiwa manusia. Kata kunci: Toshihiko Izutsu, Semantik, Al-Qur’an, Kosakata Kunci, Pandangan Dunia Qur’ani
Pandangan Amin Al-Khulli Soal Qs. Al Baqarah : 188 Dan Kaitannya Dengan Korupsi Di Indonesia Putri Nurul Maghfiroh; Sofa Salsabilah; Siti Paulia Septia; Andi Rosa
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 2 (2025): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this research is to examine the views and interpretive methods of Amin al-Khūllī on QS. al-Baqarah: 188 and its relevance to the phenomenon of corruption in Indonesia. This verse emphasizes the prohibition of unlawfully taking the property of others and bribing authorities for personal gain. In the context of modern society, the meaning of this verse holds significant importance in shaping public ethics and rejecting corrupt practices that undermine social order. This research was conducted using a bayānī exegesis approach, which focuses on the linguistic aspects, historical context, and moral messages that are relevant to society. The findings of the study show that Amin al-Khūllī views the Qur'an as a dynamic and humanistic text, urging readers to interpret it in line with the social realities of their time. According to the bayānī approach, QS. al-Baqarah: 188 contains a strong message about justice, responsibility, and public trust. In the context of Indonesia, this interpretation has direct relevance to anti-corruption efforts, as it affirms that corrupt behavior is a form of akl al-māl bil-bāṭil (unlawful appropriation of wealth), which contradicts the moral principles of the Qur'an. Keywords: Bayānī Exegesis, Amin al-Khūllī, QS. al-Baqarah: 188, Corruption, Contemporary Exegesis. Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pandangan dan metode tafsir Amin al-Khūllī terhadap QS. al-Baqarah: 188 serta relevansinya dengan fenomena korupsi di Indonesia. Ayat ini menekankan larangan untuk mengambil harta orang lain secara tidak sah dan menyuap penguasa untuk kepentingan pribadi. Dalam konteks sosial modern, makna ayat ini memiliki signifikansi besar dalam membentuk etika publik dan menolak praktik korupsi yang merusak tatanan masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan tafsir bayānī, yang berfokus pada aspek bahasa, konteks sejarah, dan pesan moral yang relevan dalam masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Amin al-Khūllī memahami Al-Qur’an sebagai teks yang dinamis dan humanistik, yang menuntut pembaca untuk menafsirkan sesuai realitas sosial zamannya. QS. al-Baqarah: 188, menurut pendekatan bayānī, mengandung pesan kuat tentang keadilan, tanggung jawab, dan amanah publik. Dalam konteks Indonesia, tafsir ini memiliki relevansi langsung terhadap pemberantasan korupsi, karena menegaskan bahwa perilaku koruptif merupakan bentuk akl al-māl bil-bāṭil yang bertentangan dengan prinsip moral Al-Qur’an. Kata Kunci: Tafsir Bayānī, Amin al-Khūllī, QS. al-Baqarah: 188, Korupsi, Tafsir Kontemporer.
Gagasan Pendidikan Islam Muhammad Abduh dan Hubungannya Dengan Kurikulum Merdeka di Indonesia Nuzila Khoirun Nisa; Suci Purnama Sari; Anisah Jahro; Andi Rosa
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 2 (2025): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islamic education plays a crucial role in shaping a civilization that adapts to changing times. Muhammad Abduh, one of the Islamic reformers who placed significant emphasis on education, emphasized the importance of reason, rationality, and ijtihad in the teaching and learning process, while simultaneously rejecting the shackles of imitation (taqlid). In the Indonesian context, the Independent Curriculum (Kurikulum Merdeka), which began to be implemented in 2022, is a response to the demands of globalization, the Fourth Industrial Revolution, and the need for flexible learning that emphasizes creativity, critical thinking, and character. This study aims to analyze the relevance of Muhammad Abduh's Islamic educational thinking to the implementation of the Independent Curriculum in Indonesia. The research method employed a qualitative approach with a literature review, examining Abduh's works and contemporary literature related to the national curriculum. The study's findings indicate that Abduh's ideas, such as reason-based education, the integration of religious and modern sciences, and liberation from the shackles of imitation (taqlid), align with the principles of the Independent Curriculum, which emphasize teacher autonomy, student freedom, and competency-based learning. Furthermore, Abduh's ideas on education reform are also relevant to pressing issues in Indonesia, such as weak literacy, disparities in educational quality, and the challenges of digitalization. Therefore, Abduh's thinking can serve as a philosophical foundation for strengthening the implementation of the Independent Curriculum, while also providing a progressive Islamic nuance relevant to the nation's needs. Keywords: Muhammad Abduh, Islamic Education, Independent Curriculum, Educational Reform   Abstrak Pendidikan Islam memiliki peran penting dalam membentuk peradaban umat yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Salah satu tokoh pembaharu Islam yang memberikan perhatian besar terhadap pendidikan adalah Muhammad Abduh. Gagasannya menekankan pentingnya akal, rasionalitas, dan ijtihad dalam proses belajar-mengajar, sekaligus menolak taqlid yang membelenggu umat. Dalam konteks Indonesia, sistem Kurikulum Merdeka yang mulai diterapkan sejak 2022 hadir sebagai respons terhadap tuntutan globalisasi, revolusi industri 4.0, serta kebutuhan akan fleksibilitas pembelajaran yang menekankan kreativitas, berpikir kritis, dan karakter. Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi pemikiran pendidikan Islam Muhammad Abduh terhadap implementasi Kurikulum Merdeka di Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kepustakaan, mengkaji karya-karya Abduh serta literatur kontemporer terkait kurikulum nasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa gagasan Abduh, seperti pendidikan berbasis akal, integrasi ilmu agama dan ilmu modern, serta pembebasan dari belenggu taqlid, memiliki kesesuaian dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang menekankan otonomi guru, kebebasan peserta didik, dan  pembelajaran berbasis kompetensi. Selain itu, gagasan Abduh tentang reformasi pendidikan juga relevan dengan isu-isu hangat di Indonesia, seperti lemahnya literasi, ketimpangan kualitas pendidikan, serta tantangan arus digitalisasi. Dengan demikian, pemikiran Abduh dapat dijadikan salah satu landasan filosofis dalam memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka, sekaligus memberikan nuansa Islam progresif yang relevan dengan kebutuhan bangsa. Kata kunci: Muhammad Abduh, Pendidikan Islam, Kurikulum Merdeka, Reformasi Pendidikan
Self Value dalam Bayang-Bayang Uang: Kajian Hadis ‘Abd al-D?n?r’ dan Perspektif Filsafat Sosial Kontemporer Yusi Fathurohman; Salsabila Alifiya; Abdul Aziz; Andi Rosa
Al-Mu'tabar Vol. 5 No. 1 (2025): Al-Mu'tabar
Publisher : Program Studi Ilmu Hadis STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874//almutabar.2025.v5i1/2319/5

Abstract

This paper discusses the phenomenon of a self-value crisis in the context of modern materialism, with a focus on the Prophet Muhammad’s ?ad?th concerning ‘abd al-d?n?r (the slave of money). The study integrates a ?ad?th-based approach with contemporary social philosophy to understand the impact of monetary domination on individual identity and morality. The findings reveal that the ?ad?th offers a profound critique of material enslavement, while social philosophy highlights the structural mechanisms that reinforce consumerist culture. This paper recommends a renewal of spiritual and social consciousness as an effort to restore authentic self-value
Etika Komunikasi Dakwah dalam Perspektif Naqd Al-Naṣṣ: Analisis Tafsir Kontemporer Ali Al-Harb terhadap QS. An-Nahl: 125 Amirulloh; Abdurrahman, Haris; Nazirah, Annida; Samiah, Siti Robiah; Kurniawan, Muhammad Rizki; Andi Rosa
Bashirah Vol 6 No 2 (2025): Bashirah
Publisher : Prodi Komunikasi Penyiaran Islam Sekolah Tinggi Agama Islam As-Sunnah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51590/bashirah.v6i2.1154

Abstract

Abstract This study examines the ethical concept of Islamic communication in the contemporary interpretation of Ali al-Harb toward QS. An-Nahl [16]:125. The main problem addressed in this study is the decline of ethical and dialogical values in modern da'wah communication, especially in digital media. Using a qualitative library research method with a hermeneutical and contemporary tafsir approach, this research explores how Ali al-Harb’s Naqd al-Nash (textual critique) provides a new understanding of the Qur’an that is reflective, critical, and contextual. The findings reveal that the principles of bil hikmah, mau‘izhah hasanah, and mujādalah billatī hiya ahsan form the foundation of Qur’anic-based communication ethics. These three principles construct a model of da'wah ethics that integrates intellectual, emotional, and moral dimensions, allowing da'wah practices to become more humanistic, moderate, and adaptive to the digital era. The study concludes that Ali al-Harb’s hermeneutical interpretation offers a relevant framework for developing ethical standards in contemporary Islamic communication.
Building Modern Transformation through Fazlur Rahman’s Double Movement Method in Interpreting the Qur’an Maulana, Alif; Azizah, Hanifatul; Turmudi, Ahmad; Anam, Syahru Ramadhanil; Rinaldi, Muhammad Syafiq; Rosa, Andi
Jurnal El-Thawalib Vol 6, No 6 (2025)
Publisher : UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/el-thawalib.v6i6.17974

Abstract

In the contemporary era, Muslim engagement with the Qur’an and Hadith faces increasingly complex and multidimensional challenges, including issues of gender, globalization, scientific advancement, and social transformation. Previous studies on Fazlur Rahman’s hermeneutical approach have largely been descriptive, while relatively few have examined the double movement method as a framework for a transformative and contextually relevant interpretation of the Qur’an. This study aims to analyze how Rahman’s double movement functions as a mechanism that bridges the historical-contextual origins of revelation with contemporary ethical and social realities. This research employs a qualitative design based on a library research approach. The primary data sources of this study consist of scholarly literature examining Fazlur Rahman’s thought, particularly his double movement hermeneutical approach and contemporary Qur’anic interpretation. The secondary data sources include studies on modern tafsir and relevant discourses in contemporary Islamic thought. Data were collected through systematic literature review and in-depth textual analysis, and analyzed using a descriptive-analytical method to critically examine the conceptual and methodological framework of Rahman’s thought. The findings indicate that the double movement operates through two dialectical stages: first, situating Qur’anic texts within their historical context to extract universal moral principles; and second, recontextualizing theseprinciples within contemporary social settings. Its application to Q.S. al-Mujādalah :11 demonstrates the method’s capacity to transform historically specific directives into ethically relevant guidance that promotes social inclusivity, respect for knowledge, and justice. The study concludes that Rahman’s double movement offers a robust hermeneutical framework for an ethical, contextual, and socially relevant interpretation of the Qur’an.
TANTAWI JAWHARI DAN TAFSIR KONTEMPORER: INTEGRASI AL-QUR’AN, SAINS, DAN PERADABAN MODERN Muhamad Miftahudin; Muhammad Ilyas Alghifari; Makhzumi Makhzumi; Andi Rosa
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 12 (2025): Desember 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas corak penafsiran kontemporer Tantawi Jawhari yang dituangkan dalam karyanya yaitu kitab al-Jawāhir fī Tafsīr al-Qur’ān al-Karīm sebagai representasi tafsir ilmiah yang berusaha mengintegrasikan antara wahyu dan ilmu pengetahuan modern. Dalam kitab tafsirnya, Tanthawi Jawhari menekankan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai kitab petunjuk spiritual dan moral, melainkan juga sebagai sumber inspirasi untuk mengembangkan sains, teknologi, dan peradaban. Dengan menggunakan metode deskriptif-analitis, Artikrl ini menguraikan landasan epistemologis yang digunakan Tanthawi Jawhari, fokus perhatiannya pada ayat-ayat kauniyah, serta kontribusinya dalam membangun paradigma integratif antara agama dan ilmu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan tafsir Jawhari relevan dalam menjawab tantangan modernitas, terutama dalam mengatasi dikotomi antara agama dan sains yang kerap muncul dalam wacana kontemporer. Melalui penafsirannya, Jawhari menegaskan pentingnya berpikir kritis, melakukan penelitian ilmiah, dan mengembangkan pengetahuan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah, sehingga Al-Qur’an dapat dipahami bukan hanya sebagai teks normatif tetapi juga sebagai pedoman praktis untuk membangun peradaban. Dengan demikian, pemikiran tafsir Jawhari dapat dipandang sebagai upaya kreatif untuk menghidupkan kembali semangat ijtihad sekaligus menjembatani teks wahyu dengan realitas empiris umat manusia. Artikel ini menyimpulkan bahwa tafsir Tantawi Jawhari tidak hanya memperkaya khazanah tafsir kontemporer, tetapi juga memberikan tawaran metodologis yang relevan bagi umat Islam dalam membangun peradaban modern yang berbasis pada nilai-nilai keagamaan sekaligus terbuka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
Fenomena Keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) Pada Siswa Sekolah Dalam Perspektif Muhammad Abduh : Penelitian Fitriah; Iqbal Maulana; Lulu Nurul Khasanah; Andi Rosa
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.4189

Abstract

The phenomenon of poisoning in the Free Nutritious Food (MBG) program experienced by a number of school students in Indonesia has caused a critical discourse on educational governance, public health, and social ethics in the implementation of government programs. This poisoning incident that should not have occurred is an indicator of weaknesses in the surveillance system, policy implementation, and quality of food provided. To delve into this issue, the perspective of the renewal of Islamic thought from Muhammad Abduh can provide a relevant framework of analysis, especially related to moral responsibility, rationality, and social reform. Abduh, as an Islamic modernist figure, emphasized the importance of the use of common sense (al-'aql), social ethics, and educational reform as the foundation for the formation of a civilized society. In the context of the phenomenon of MBG poisoning, Abduh's thinking demands an integration between rationality and moral values in every public policy. He argued that the ummah and the government should not be trapped in a formalistic work pattern without ensuring substantive benefits for society. MBG programs, while well-intentioned to improve students' nutritional status and learning readiness, become counterproductive when the procurement, distribution, and oversight processes are not based on science, transparency, and accountability. Abduh emphasized that every policy must be based on the principles of maslahah (community welfare) and amanah (accountability), so that potential dangers such as poisoning must be anticipated through careful planning and scientific supervision. Abduh's thinking also assesses that education is not limited to academic aspects, but includes the formation of a healthy and safe social environment.
Co-Authors A Kholibi Aal Mujadilah Aang Ahmad Syahid Abdul Aziz Abdul Kohar Abdul Mu'ti Abdurrahman, Haris Adam Mustaqim Jiddan Ade Fakih Kurniawan Adya Dzikri Anwari Affifah Syawalia Arifin Afifah Syawalia Arifin Afro Zakiyah Ahmad Al Wafi Ahmad Alan Ardiyansayah Ahmad Ghufron, Iffan Ahmad Mumtazul Faqih Ahmad Mumtazul Faqih Ahmad Turmudzi, Ahmad Ajharul Wirdi Akbar Zailani Akbar Zailani Al-Ahnaf, Muhammad Atsiil Albantani Garda Albarra Gilang Andika Alfian Yogi Kurniawan Alhilal Hamdi Alif Maulana, Alif Alif Zibran Altaf Abdurahman Alya Afifa Azra Daulay Amaliyah, Nur Ambarwati, Aisyah Mariful Amirulloh Amirulloh, Amirulloh Anam, Syahru Ramadhanil Anbari, Hilman Ani Indrawati Aniatul Fukoroh Anisah Jahro Anisah Jahroh Aprilia Musawamah Arda, Ahmad Musyafa Ardan Alfariz Arinalhaq, Muhammad Syauqi Arya Chandra Argadinata Attirka, Garda Fathan Attoriq Islami Pasha Aulia Ali Irsyad Aulia, Putri Avuani Alrijal Choir Umam Azizah, Hanifatul Azkia Ahada Ummu Sabilah Badrudin Bayyinahdy, Julfathra Budiyanto, Nur Aini Budiyanto, Nuraini Dani Abdul Latif Dawam Mulahdori Dea Destiani Delvin Hanif Pramudita Dikriyah Dikriyah Diyah Nuralifah El-Habsa, Isna Tsania Elsa Sopia Azzahra Enon Lis Agustina Erlangga Akhazi Fadlan Nur Mubarok Fahrul Ihsan Faidza, Haura Nadine Nayla Faisal Wijaya Faliha Syaifi Jannah Farih, Awan Fathur al-Kayisu Royyan Fattah, M. Yusuf Fauzan, Miftahul Fazriyanti, Fazriyanti Firda Firda Firda Firman Afrianto Fitriah Fitriah Fitriyah Handayani Hadi, Khaestya Hadi Wibawa Hanifatul Azizah Hasbullah, M. Farrij Herlina Herlina Herlina Hikmatul Fazriah Hofifah Hofifah Hudaeva Hudaeva Hudaeva Humrotus Safataeni Iefah Muflihah Iefah Muflihah Ihyaudin Ihyaudin Iin Inayatul Ummah Ilham Akbar, Muhammad Ilham Wijaya Kusuma Ilyas Ibnu Sabi Imam Faizin Imron Rosadi Indah Namiratuz Zahra Indah Ramadhani Priyono Indah Ramadhani Priyono Iqbal Maulana Iqbal Maulana Iqbal Maulana Jahrotu Soimah Julfathra Bayyinahdy Khairul Kahfi Khairussalam Khairussalam Khatimah, Lailatul Khoiru Rizki Idzni Robbik Khoirul Ropik Sidik Komala Sari Latief, Dani Abdu Latifah, Ismatul Lulu Alfina Lulu Nurul Khasanah M Farih Alawi M. Naufal Hatsyafiq M. Zaky Hamdie Maelina Putri Maratu Solihah Makhzumi Makhzumi Masbuang Masrukhin Muhsin Maulana Hakim Al-Fazri Maulidya Rahmani Melisa Haryati Miftahul Fauzan Mohammad Fikri Muthohhari Mohammad Hambali Muhamad Daffa Ghazial Fawwaz Muhamad Farrij Hasbullah Muhamad Izza M Muhamad Jefri Muhamad Jefri Muhamad Miftahudin Muhammad Adji Saputra Muhammad Ahmad Mumtaz Muizza Muhammad Ahmad Mumtaz Muizza Muhammad Dzikri Maulana Muhammad Fadzli Muhammad Fakhrial Dewanda Zain Muhammad Faris Al-Fajri Arifin Muhammad Hotibul Umam Muhammad Ilham Wijaya Kusuma Muhammad Ilyas Alghifari Muhammad Muttaqin Muhammad Nikola Shidqi Muhammad Panji Islami Muhammad Raihan Syahid Muhammad Rifqi Nurfadilah Muhammad Rizki Kurniawan, Muhammad Rizki Muhammad Sholahuddin Ali Muhammad Syauqi Arinalhaq Muhsin, Masyrukin Mujiburrohman Mujiburrohman Mumtaz Muizza, Muhammad Ahmad Musawamah, Aprilia Muthoharoh Muthoharoh Muthoharoh Nadia Nurpadilah Naesyah Fazriah Naesyah Fazriyah Nagib Romadhony Nanda Sri Lestari Nayla Nur Aprilia Shalihah Nazirah, Annida Nikhlah Ziyadaturrohmah Nur Amaliyah Nurazizah, Siti Nurhayani, Rosita Nurqurotun Nabila NURSEHA NURSEHA Nuzila Khoirun Nisa Padilah, Nurul Priyantika Lesyaina Az Zahra Priyantika Lesyaina Az-Zahra Puspita Fajriany Putri Aulia Putri Hudani Nabila Putri Hudani Nabila Putri Nurul Maghfiroh Rahel Abduh Rahman, Akmal Fadilah Rahmatullah Agustianto Ramdani, Ikhwan Ramzy Ramadhan Raudotul Jannah Regina Cahyani Putri Rendi Septian Ridho Rahmatullah Rinaldi, Muhammad Syafiq Rio Ku Yandani Rohimatus Salamah Rohmadi Rohmat Hidayatullah Rohmatallah, Syahru Rohmatallah, Syahrul Romadhony, Nagib Ropip Ropip Royani, Ahmad Rusdiyanto Salsabila Alifiya Salsabila, Tasya Samiah, Siti Robiah Saputra, Muhamad Adji Sa’ad, Suadi Shidqi, Muhammad Nikola Sholahuddin Al Ayubi Siska adelia Siska Adelia Zahra Siti Hudaroh Siti Khuliyah Siti Mubadi Awaliyah Siti Muliya Septiani Turaedi Siti Nur Azizah Siti Nuraisyah Siti Nurlaila Siti Nurlaila, Siti Siti Paulia Septia Siti Rihadatul Aisy Siti Rohmah Siti Rohmah Siti Sarah Muhamad Siti Waspiatul Kamilah Sofa Salsabilah Suci Purnama Sari Suhadi Sutiani, Nina Suwanda Syahid, Aang Ahmad Syahid, M Raihan Syaiful Rahman Syifa Nurkholilah Syifa Roudhatul Jannah Syitaul Fuadiah Tazkia Nur Fateha Turmudi, Ahmad Ummah, Iin Inayatul Usnia Usnia Usnia Vera Nungki Wati, Putri Innayah Wibawa, Khaestya Hadi Wita Wita Wulan Octaviani Putri Yeni Andriyani Yeni Andriyani Yusi Fathurohman Yusi Fathurohman Yusroh Yusroh Yusroh Zahra, Indah Namiratu Zain, Muhamad Fakhriyal Dewanda