Articles
SYAIKH ABDUR RAUF SINGKEL: KITAB TAFSIR TARJUMAN AL-MUSTAFID
Syifa Nurkholilah;
Alfian Yogi Kurniawan;
Rohmadi;
Andi Rosa
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 1 No. 10 (2024): Desember 2024
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tafsir Tarjuman al-Mustafid adalah salah satu tafsir yang berbahasa Arab Jawi (Melayu) yang dianggap sebagai tafsir paling awal dan lengkap di Nusantara. Tafsir ini ditulis oleh Syekh Abdur Rauf al-Singkili, pada masa pemerintahan Ratu Safiyatuddin. Ada dua pandangan mengenai sumber penulisan tafsir ini adalah pertama sebagai terjemahan dari tafsir Baidhawi, kedua sebagai terjemahan dari kitab Jalalain dan Al-Khazin. Metode yang diterapkan dalam penulisan tafsir ini adalah dapat ditinjau dari sudut penafsiran dan makna. Dari sudut cara penafsiran adalah tahlili (analisis) karena menjelaskan ayat secara berurutan dan kandungan ayat dari berbagai aspek. Sedangkan ijmali (global) adalah karena menjelaskan maknanya sesuai dengan arti ayat yang dijelaskan.
PROSES PENCIPTAAN ALAM STUDI ANALISIS TAFSIR ILMI
Afifah Syawalia Arifin;
Hikmatul Fazriah;
Elsa Sopia Azzahra;
Aniatul Fukoroh;
Andi Rosa
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 1 No. 3 (2024): JUNI - JULI 2024
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Manusia sejak lama terpesona oleh misteri asal mula alam semesta dan segala isinya. Pertanyaan tentang bagaimana alam semesta tercipta telah memicu rasa ingin tahu dan mendorong berbagai penelitian ilmiah. Alquran, kitab suci umat Islam, turut membahas penciptaan alam semesta, meskipun tidak secara gamblang menjelaskan detail ilmiahnya.Penelitian menarik ini mengkaji penciptaan alam semesta dalam perspektif Tafsir Ilm, yaitu tafsir Alquran dengan pendekatan ilmiah. Menggunakan metode analisis tekstual dan sastra, penelitian ini meneliti ayat-ayat Alquran yang berkaitan dengan penciptaan alam semesta. Ayat-ayat tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan pengetahuan ilmiah modern untuk menemukan kesesuaiannya.Hasil penelitian menunjukkan adanya kesamaan yang menarik antara Alquran dan teori Big Bang, teori ilmiah yang saat ini diterima sebagai penjelasan asal mula alam semesta. Penemuan ini memperkuat gagasan bahwa Alquran mengandung informasi berharga tentang alam semesta.Lebih lanjut, penelitian ini juga menemukan kesesuaian antara Alquran dengan kaidah ilmiah lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa Alquran bukan hanya kitab suci spiritual, tetapi juga sumber ilmu pengetahuan yang selaras dengan sains modern.Meskipun temuan ini memberikan wawasan baru tentang penciptaan alam semesta dalam perspektif Alquran, penelitian ini masih tergolong awal. Masih banyak misteri alam semesta yang perlu dipelajari dan ditelusuri. Di sinilah peran penting penelitian sains dan tafsir Alquran untuk terus bersinergi, membuka tirai rahasia penciptaan yang agung ini.Penelitian ini membuka jalan bagi pemahaman yang lebih mendalam tentang Alquran dan hubungannya dengan sains modern. Dengan terus meneliti dan menggali ayat-ayat Alquran, diharapkan kita dapat semakin memahami kebesaran Allah SWT dan keagungan penciptaan alam semesta
Evolusi Dan Penciptaan: Memahami Asal Usul Manusia Perspektif Al Qur’a
Siti Rihadatul Aisy;
Hudaeva;
Priyantika Lesyaina Az-Zahra;
Firda;
Syifa Nurkholilah;
Andi Rosa
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 1 No. 3 (2024): JUNI - JULI 2024
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini membahas proses penciptaan manusia menurut Al-Qur’an, yang dibagi menjadi dua kategori utama: penciptaan dari benda padat dan dari materi cair. Menurut Al-Qur’an, Adam a.s., Manusia pertama, diciptakan oleh Allah SWT dari bahan-bahan seperti tanah (al-tin), debu (alturob), tanah liat (min shal), dan lumpur hitam yang busuk (min hamain masnun). Setelah proses ini selesai, Allah SWT meniupkan ruh ke dalam diri Adam, memberikan kehidupan kepadanya. Selanjutnya, penciptaan manusia berlanjut melalui proses biologis yang dapat dipahami secara sains-empirik. Manusia diciptakan dari inti sari tanah yang menjadi air mani (nuthfah), yang kemudian disimpan dalam rahim. Proses ini dilanjutkan dengan perubahan nuthfah menjadi segumpal darah (‘alaqah), yang menggantung dalam rahim, kemudian menjadi segumpal daging (mudghah), dan akhirnya dibungkus dengan tulang belulang. Penelitian ini juga menyoroti penafsiran Muhammad Syahrur terhadap Surah az-Zumar/39:6, yang menawarkan perspektif berbeda tentang asal-usul kehidupan. Syahrur berpendapat bahwa penciptaan manusia dan makhluk hidup lainnya dimulai dari turab, yaitu materi anorganik yang menghasilkan organisme bersel tunggal (nafs wahidah). Organisme ini kemudian berkembang biak secara seksual (ṡumā ja’ala minhā zaujahā) dan melalui fase panjang evolusinya.
Pemikiran Abdullah An Nai'm Dalam Penafsiran Ayat-Ayat Syariah
Rio Ku Yandani;
Hikmatul Fazriah;
Andi Rosa
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 1 No. 6 (2024): Desember 2024 - Januari 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini mengkaji gagasan Abdullah An-Na'im dalam penafsirannya terhadap ayat-ayat syariah, khususnya terkait dengan pendekatan kontekstualnya yang memadukan gagasan keadilan kontemporer dan hak asasi manusia. Metode penafsiran yang dikemukakan oleh An-Na'im mempertimbangkan konteks historis, sosial, dan budaya dari turunnya ayat-ayat tersebut. Selain itu, ia menentang syariah sebagai hukum negara dan lebih menyukai syariah sebagai kode moral daripada aturan yang harus dipatuhi oleh semua warga negara. An-Na'im berpendapat bahwa syariah dapat dimodifikasi untuk mendukung kesetaraan gender dan hak asasi manusia melalui metode ini. Untuk membuat syariah dapat diterapkan pada kondisi masyarakat kontemporer, gagasan An-Na'im menawarkan sudut pandang yang progresif.
PENAFSIRAN BUYA HAMKA TERHADAP SURAT AL FATIHAH: STUDI TAFSIR AL AZHAR
Hudaeva Hudaeva;
Imam Faizin;
Andi Rosa
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 1 No. 6 (2024): Desember 2024 - Januari 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tafsir Al Azhar karya Syeikh Haji Abdul Malik Karim Amirullah (Hamka) merupakan salah satu kitab tafsir berbahasa Indonesia, selain karena bahasanya yang mudah dipahami, Tafsir Al Azhar sarat dengan makna. Manhaj atau metode yang digunakan Hamka dalam tafsir Al Azhar adalah, Tahlili,. Yaitu menafsirkan ayat demi ayat sesuai urutannya dalam Mushaf serta menganalisis begitu rupa hal-hal penting yang terkait langsung dengan ayat, baik dari segi makna atau aspek-aspek lain yang dapat meperkaya wawasan pembaca tafsirnya. Maudhu’i juga dipakai nya meskipun dominan menggunakan metode tahlili, tafsir ini juga menyisipkan pembahasan tematik (maudhu’i) untuk menyatukan ayat ayat yang berkaitan dengan tema tertentu. Penafsiran hamka lebih sangat luas dan rinci dalam memaparkan penjelasan baik dari segi surat maupun ayat. Buya Hamka dalam tiap surat menambahkan tema-tema tertentu dan mengelompokkan beberapa ayat yang menjadi bahan bahasan. Contohnya dalam Surah Al Fatihah terdapat tema antara lain: Al Fatihah sebagai rukun sembahyang, di antara jahr dan sir dari hal aamiin, Al Fatihah dengan Bahasa Arab, dalam penjelasan tafsirannya, terkadang Hamka menambahkan syair. Adapun yang penulis akan ambil dari pembahasan pada artikel ini yakni bagaimana metodologi penafsiran Buya Hamka dalam tafsir Al Azhar, dan bagaimana penafsiran Buya Hamka terhadap surat Al-Fatihah dalam tafsir Al Azhar.
Makna Filosofis dan Saintifik Terkait Janji dan Ancaman (al-Jannah wa Al-Nar)
Ali, Muhdi; Masbuang, Masbuang;
Romadhony, Nagib;
Rosa, Andi
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 5 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37985/hq.v5i2.272
This research discusses the philosophical and scientific meaning of the concepts of promises and threats in a religious context, especially in Islamic teachings regarding al-Jannah (heaven) and al-Nar (hell). Allah's promises regarding rewards for individuals who believe and do good deeds function as moral motivation, while threats against violators of moral norms function to prevent bad behavior. With a qualitative approach that discusses relevant literature, this research explores the interaction of these two concepts in shaping social norms and individual morality. The research results highlight that the synergy between promises and threats is not only powerful in regulating individual behavior, but also provides a deep perspective on moral and spiritual responsibility. A strong understanding of promises and threats can help individuals make wiser decisions in accordance with religious teachings, as well as build good character. These findings imply the importance of moral and spiritual education to increase people's awareness in living a life that adheres to good ethical values and social responsibility. This research also shows that clear promises and threats can encourage harmonious social development and reduce the potential for conflict in society.
Makna Filosofis dan Saintifik Terkait Tauhid (Keesaan Tuhan)
Amaliyah, Nur;
Musawamah, Aprilia;
Usnia;
Ummah, Iin Inayatul;
Rosa, Andi;
Muhsin, Masyrukin
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 5 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37985/hq.v5i2.287
This research examines the philosophical and scientific meaning related to tawhid (oneness of God) in Islam through qualitative research methods with a literature study approach. The research aims to understand the concept of monotheism from ontological, epistemological and axiological dimensions. The results show that monotheism is not just a recognition of the oneness of Allah, but is a basis for understanding the reality of life. Ontologically, tawhid affirms Allah as Absolute Being. In epistemology, monotheism bridges revealed knowledge and reason. Meanwhile, in axiology, monotheism provides a system of values and ethics that form character. This concept is supported by modern scientific discoveries such as the Big Bang theory, DNA and quantum entanglement. In practice, monotheism gives birth to the principles of anti-discrimination, human unity, and the concept of the caliph who protects the environment. In the modern era, monotheism remains relevant as a dynamic concept that provides solutions to contemporary problems, while maintaining the essence of recognizing the oneness of Allah.
Makna Filosofis dan Saintifik Terkait Keislaman
Royani, Ahmad;
Arinalhaq, Muhammad Syauqi;
Rahman, Akmal Fadilah;
Rosa, Andi;
Muhsin, Masrukhin
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 5 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37985/hq.v5i2.301
This study explores the philosophical and scientific meanings related to Islam. Philosophy and scientification in the Islamic context are complementary in understanding reality and enhancing human knowledge. Through the integration of faith and reason, Islamic tradition has successfully developed a knowledge system grounded in moral and spiritual principles. Consequently, scientification in Islam is not merely the practical application of technology but also an effort to comprehend God's creation and elevate human dignity holistically. Ontology in the Islamic context refers to an in-depth investigation into the nature of existence and reality as they relate to Islamic teachings. Several principles of Islamic epistemology pertain to the definition of knowledge, its sources, objects, and scientific methods within Islamic epistemology. In Islam, axiology examines values or ethics, where ethics (akhlaq) serves as the ultimate goal for those pursuing knowledge itself.
Makna Filsafat dan Saintifik dalam Keimanan
Rohmatallah, Syahrul;
Farih, Awan;
Anbari, Hilman;
Rosa, Andi
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 5 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37985/hq.v5i2.307
The study of faith in philosophical and scientific contexts is an attempt to understand the spiritual dimension of human beings from different perspectives. In philosophy, faith is explored through in-depth questions about the existence of God, the relationship between faith and reason, and the moral values that arise from faith. This approach encourages individuals to think about the nature of their beliefs and enforce them in everyday life. Meanwhile, the scientific approach emphasizes the empirical aspects of faith, focusing on its impact on mental health, social behavior, and religious experience. Research in psychology, sociology, and neuroscience offers insights into how faith affects the lives of individuals and groups, and how religious experiences can be explained through a scientific lens. The combination of philosophical and scientific approaches to understanding faith not only enriches discussions about faith but also provides a foundation for constructive dialogue between religion and science. By understanding faith from both perspectives, we can explore deeper and more relevant meanings, and bridge the gap between spiritual beliefs and scientific knowledge. This article aims to examine the interaction between philosophy and science related to faith, and its strengthening for individuals and society in facing the challenges of modern life. Keywords faith in the Quran and philosophy, science.
Sains dan Wahyu dalam Penciptaan Manusia: Telaah Tafsir Ilmi dan Ilmu Genetika
Turmudzi, Ahmad;
Amirulloh, Amirulloh;
Arda, Ahmad Musyafa;
Latifah, Ismatul;
Budiyanto, Nur Aini;
Rosa, Andi
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 6 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37985/hq.v6i2.528
This study aims to explore the relationship between science and revelation in understanding human creation, particularly within the context of scientific exegesis (tafsir ilmiy) and findings in genetics. The primary objective of this research is to integrate the Quranic explanation of the stages of human creation with scientific concepts in the fields of embryology and genetics. The methodology used is a literature review, comparing Quranic verses on human creation with modern scientific discoveries related to fertilization, embryonic development, and genetic formation. The results of this study show that while the Quran and science use different approaches, they complement each other in describing the stages of human creation, both biologically and spiritually. This research reveals the alignment between the Quranic descriptions and modern scientific findings, such as fertilization processes and embryonic development. In conclusion, the integration of science and revelation provides a more comprehensive understanding of human creation, emphasizing the importance of a harmonious relationship between science and religion in contemporary times. Further research could explore the relationship between science and revelation in other fields and develop a more dynamic methodology for interpreting revelation in the context of evolving scientific knowledge.