Claim Missing Document
Check
Articles

Program Pengabdian Masyarakat: Edukasi dan Deteksi Dini Kanker Serviks melalui Pemeriksaan Pap Smear di Kecamatan Bangkalan Sari, Aditya Sita; Kurniasari, Nila; Rahaju, Anny Setijo; Rahniayu, Alphania; Mastutik, Gondo; Fauziah, Dyah; Kusumastuti, Etty Hary; Sandhika, Willy; Wiratama, Priangga Adi; Ariani, Grace; Ridholia, Ridholia; Heriyawati, Heriyawati; Sudiana, I Ketut; Ilmiah, Khafidhotul; Qonitatillah, Ana
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 3 No. 3 (2025): Mei
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v3i3.2310

Abstract

Kegiatan pengabdia masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan dan masyarakat mengenai deteksi dini serta pencegahan kanker serviks. Pelatihan tenaga kesehatan dilakukan agar mereka dapat melakukan prosedur Pap smear dengan benar dan sesuai standar, sementara penyuluhan masyarakat bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini dan pencegahan kanker serviks. Studi ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional, mencakup dua kegiatan utama: pelatihan tenaga medis secara daring dan penyuluhan masyarakat secara langsung. Pelatihan Pap smear diikuti oleh 51 peserta yang terdiri dari perawat, bidan, dan dokter. Evaluasi sebelum dan sesudah pelatihan menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan, di mana peserta dengan skor 80-100 meningkat dari 58,82% menjadi 82,35%. Penyuluhan kanker serviks diikuti oleh 74 peserta. Sebelum penyuluhan, hanya 12,16% peserta yang memperoleh nilai 80-100, namun setelahnya meningkat menjadi 100%. Sebanyak 62,2% peserta telah menikah, 8,1% memiliki riwayat hubungan seksual sebelum usia 17 tahun, dan 9,5% memiliki lebih dari satu pasangan. Selain itu, 98,6% belum pernah menerima vaksin HPV, dan 78,4% jarang melakukan Pap smear, menunjukkan rendahnya kesadaran pencegahan kanker serviks. Setelah penyuluhan, 60 peserta menjalani skrining kanker serviks. Mayoritas (41,7%) berusia 31-40 tahun. Hasil skrining dengan sistem Bethesda menunjukkan 100% NILM. Berdasarkan klasifikasi Papanicolaou, 88,1% termasuk kelas II (96,2% inflamasi, 1,9% bacterial vaginosis, 1,9% atrofi), dan 11,1% kelas I. Program ini terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan dan masyarakat, serta keterampilan tenaga kesehatan dalam prosedur Pap smear, yang berkontribusi pada peningkatan kualitas layanan deteksi dini kanker serviks di RSIA Hikmah Sawi Bangkalan.
Optimalisasi Deteksi Dini Kanker Serviks Melalui Peningkatan Kapasitas Tenaga Kesehatan dan Edukasi Komunitas di Puskesmas Ngariboyo, Kabupaten Magetan Sari, Aditya Sita; Rahniayu, Alphania; Kurniasari, Nila; Rahaju, Anny Setijo; Mastutik, Gondo; Fauziah, Dyah; Kusumastuti, Etty Hary; Susilo, Imam; Sandhika, Willy; Mustokoweni, Sjahjenny; Ilmiah, Khafidhotul
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 4 No. 1 (2025): Bulan September
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v4i1.549

Abstract

Latar belakang: Kanker serviks merupakan masalah kesehatan global dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi, termasuk di Indonesia. Deteksi dini melalui pemeriksaan Pap smear masih menjadi metode yang sering dipakai, namun akurasi hasilnya sangat bergantung pada teknik pengambilan sampel yang adekuat. Tujuan: Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan di Puskesmas Ngariboyo dalam teknik pengambilan sediaan Pap smear yang memadai, dan Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang deteksi dini kanker serviks. Metode: Metode kegiatan terdiri dari dua bagian utama. Pertama, pelatihan bagi tenaga kesehatan yang meliputi webinar dan praktikum offline untuk mengukur adekuasi sediaan berdasarkan Sistem Bethesda. Kedua, penyuluhan dan skrining offline bagi 95 warga dan 101 peserta pemeriksaan Pap smear. Hasil Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan tenaga kesehatan (nilai 80-100 meningkat dari 58,82% menjadi 82,35%). Penyuluhan juga berhasil meningkatkan pengetahuan masyarakat (nilai 80-100 meningkat dari 80% menjadi 94,74%). Hasil skrining menunjukkan 100% sediaan adekuat dan 100% hasil Negative for Intraepithelial Lesion or Malignancy (NILM). Kesimpulan: Disimpulkan bahwa program ini efektif dalam meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dan kesadaran masyarakat, sekaligus menghasilkan data dasar skrining kanker serviks yang berkualitas bagi wilayah Ngariboyo.
Ratio of CD68/CD163 in Breast Carcinoma with and without Axillary Lymph Node Metastatic Wiratama, Priangga Adi; Sandhika, Willy
Folia Medica Indonesiana Vol. 56, No. 1
Publisher : Folia Medica Indonesiana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumor and its microenvironment can interact each other. Macrophage is part of tumor microenvironment. New drugs targeting specific superficial receptor of macrophage or cytokine of macrophage polarization have been found. Therefore, macrophage phenotype and its ratio of M1/M2 macrophage need to be identified. This identification could lead us to prognose breast cancer and monitor its therapy. Analytical observational study with cross sectional approach, conducted on paraffin block sample of breast carcinoma from Anatomical Pathology Laboratory of Dr. Soetomo General Hospital. The samples divided into four groups based on nodal metastasis staging (N0, N1, N2, and N3) and stained with antibody against CD68 and CD163. The ratio of CD68 and CD163 were analyzed with Anova test. There were difference expression of CD68 as M1 macrophage marker in various axillary node metastasis groups (p=0.015). There were difference ratio of CD68 as M1 macrophage marker and CD163 as M2 macrophage marker in various axillary node metastasis groups (p=0.005). There were difference ratio of macrophage M1 and macrophage M2 between N0 and N3 group, N2 and N3 group also.
Profile of Skin Biopsy Patients in Dr. Soetomo General Academic Hospital, Surabaya, Indonesia Wandhita, R.A. Astrid Putri; Sandhika, Willy; Listiawan, M. Yulianto
Folia Medica Indonesiana Vol. 58, No. 1
Publisher : Folia Medica Indonesiana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Highlight: • Profile of skin biopsy results which carried out the anatomical pathology examination was reviewed. • The highest skin biopsy disease group case are erythropapulosquamous, infection, skin tumor, vesiculobullous, connective tissue disease, pigmentation disorders, and vasculitis Abstract: Skin biopsy is an important tool used by dermatologists in diagnostic determination. The correlation between clinical and histological features is needed in understanding pathogenesis and formulating the diagnosis of a skin disease with a greatly varied spectrum of histopathological results, while the observable clinical symptoms are highly limited. Skin diseases are still a serious problem worldwide, especially in Indonesia. Based on the Indonesian Health Profile in 2010, skin diseases ranked third out of 10 most diseases in outpatients in hospitals throughout Indonesia. This study was a review of the profile of skin biopsy results in Dr. Soetomo General Academic Hospital, Surabaya, Indonesia from 1 July 2014 to 31 July 2019, which were subjected to anatomic pathology examination. This study was an observational descriptive study using secondary data sources from the medical records at the Communication and Information Technology Installation (ICT) of Dr. Soetomo General Academic Hospital, Surabaya. Based on data searches, the total number of biopsy examinations performed was 1,368 cases. There were more female patients (50.3%) than males (49.7%). The most common skin disorder found was erythropapulosquamous disorder (30%), followed by infection (18%). Other cases consisted of skin tumor (15%), vesiculobullous (13%), connective tissue disease (7%), pigmentation disorders (5%), and vasculitis (5%). Diseases that could not be classified into 7 groups of the biopsy criteria were grouped separately in other diseases (7%).
PATHOLOGICAL AND MOLECULAR PARAMETERS SHOW NO SIGNIFICANT ASSOCIATION WITH RESIDUAL CANCER BURDEN IN BREAST CARCINOMA Rahmanti, Fishella Aprista; Sandhika, Willy; Tjandra, Lusiani
Folia Medica Indonesiana Vol. 61, No. 2
Publisher : Folia Medica Indonesiana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Residual Cancer Burden (RCB) is a validated scoring system that quantifies the amount of tumour remaining after neoadjuvant chemotherapy (NAC) for breast cancer, providing prognostic information beyond binary outcomes, such as pathologic complete response (pCR). pCR represents a binary endpoint within various NAC response-grading systems, including RCB, rather than a separate reporting system. This study aimed to assess clinicopathological and molecular predictors of RCB class, including histological grade, histopathological type, molecular subtype, and Ki-67 index. A retrospective study was conducted on 68 patients diagnosed with breast carcinoma who underwent NAC. Descriptive statistics and Pearson, Spearman, and chi-square tests were used to evaluate associations between these variables and RCB class. The mean Ki-67 index was 49.9% (standard deviation not specified), and most tumours were grade 2 (48.5%), invasive carcinoma of no special type (79.4%), and luminal B subtype (63.2%). The distribution of RCB classes was RCB III (42.6%), RCB II (35.3%), RCB 0 (13.2%), and RCB I (8.8%). Statistical analysis did not reveal significant associations between histological grade, histopathological type, molecular subtype, or Ki-67 and RCB class (all p > 0.05). No statistically significant associations were identified; however, the study may be insufficiently powered to detect smaller but clinically meaningful relationships. These findings point to the need for larger, multicentre studies with standardised biomarker assessment to improve post-treatment prognostication.
Analysis of Risk Factors Associated with the Incidence of Placenta Accreta at an Indonesian Tertiary Hospital Cahyani, Aisha Grayli; Sandhika, Willy; Hardianto, Gatut
Folia Medica Indonesiana Vol. 60, No. 3
Publisher : Folia Medica Indonesiana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Highlights: 1. The increased incidence of placenta accreta is contributed significantly by parity classification, a history of cesarean section, body mass index, and interbirth interval. 2. The findings of this study can be used as an additional reference in determining the risk of placenta accreta in pregnant women, specifically as an input in screening and antenatal care programs for pregnant women to provide early detection and appropriate management. Abstract The incidence of placenta accreta during pregnancy constitutes a serious problem in reproductive health. This complication has increased significantly over the last few decades, especially in developed countries where cesarean deliveries have also risen. Placenta accreta spectrum can cause very severe bleeding and potentially lead to other serious complications. The purpose of this study was to analyze the risk factors associated with the incidence of placenta accreta in women giving birth at Dr. Soetomo General Academic Hospital, Surabaya, Indonesia. This quantitative study used an analytical observational research design, specifically the case-control approach. The study sample was all mothers who gave birth at Dr. Soetomo General Academic Hospital, Surabaya, Indonesia, between 2019 and 2023. In addition to a univariate analysis, the data were subjected to bivariate analysis using a two-sample independent t-test or Mann-Whitney test for ordinal data and for nominal data using the Chi-square test as well as multivariate analysis using logistic regression (p<0.05). The results showed that parity, a history of cesarean section, body mass index, and interbirth interval were the variables identified as significantly associated with placenta accreta. According to the logistic regression analysis, parity, a history of cesarean section, and a history of curettage were identified as the primary determinants of placenta accreta incidence. The classification of parity was found to have the most significant relationship to the incidence of placenta accreta. This study concluded that parity classification, a history of cesarean section, body mass index, and interbirth interval are the significant risk factors contributing to the increased incidence of placenta accreta at Dr. Soetomo General Academic Hospital, Surabaya, Indonesia.
The Effect of Cabbage (Brassica oleracea var. capitata L.) Extract on Macrophage and Blood Vessel Counts in Clean Wound Tissue of Male Rats (Rattus norvegicus) Tsania, Nidya Ulfana; Sandhika, Willy; , Sawitri
Folia Medica Indonesiana Vol. 59, No. 2
Publisher : Folia Medica Indonesiana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Highlights : • Cabbage extract application accelerates wound healing and has anti-inflammatory effect. • Cabbage extract serves as an affordable source material for wound healing and anti-inflammation. Abstract Cabbage is a widely consumed vegetable known for its health benefits due to its rich nutrients and phytochemicals, especially phenolic compounds, which are known to have potent anti-inflammatory and antioxidant effects. This study aimed to investigate the effects of cabbage extract on wound healing by observing inflammatory responses in wound tissue. A total of 24 male rats were divided into four groups, with six rats in each group. The experiment was conducted for five days by administering cabbage extract to the treatment group and distilled water to the control group. Skin wound tissues were collected from all rats for histological observation by counting the number of macrophages and blood vessels. The results of the observation were analyzed statistically using an independent sample t-test with p<0.05. The results showed that the number of macrophages and blood vessels in the treatment group was significantly higher than the control group on the third day and significantly lower on the fifth day. In conclusion, the administration of cabbage extract can accelerate the inflammatory and proliferative phases of wound healing by promoting the migration of cells, including macrophages, resulting in accelerated angiogenesis. In addition, the decreased number of macrophages and blood vessels during the proliferative phase showed that the healing phase had reached a more advanced stage.
Pemutusan Mata Rantai Penularan Penyakit Menular Seksual Melalui Edukasi Wanita Resiko Tinggi di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember Sandhika, Willy; Sari, Dewi Ratna; Novitasari, Dian; Wahyuni, Sri; Khamid, M Nur
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 4 No. 3 (2026): Bulan Februari
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v4i3.877

Abstract

Latar belakang: Penyakit Menular Seksual (PMS) merupakan penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Penyakit ini menyerang organ reproduksi dan menimbulkan berbagai komplikasi serius baik pada organ reproduksi maupun organ lain di seluruh tubuh. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga bekerja sama dengan Yayasan Langkah Sehat Berkarya (Laskar) melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi gejala dan pencegahan PMS di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger Kabupaten Jember. Tujuan kegiatan ini adalah memutuskan mata rantai penularan PMS melalui edukasi PMS pada wanita resiko tinggi. Metode: Kegiatan dilaksanakan dengan melakukan edukasi pada wanita beresiko tinggi PMS sebanyak 76 orang pada bulan Juni 2025. Materi edukasi  meliputi pemahaman PMS secara umum serta gejala dan deteksi masing-masing jenis PMS secara khusus. Pretest dan posttest diberikan untuk mengukur pemahaman peserta. Edukasi diakhiri dengan acara tanya jawab dan pemberian umpan balik dari peserta. Hasil: Didapatkan peningkatan pemahaman peserta edukasi baik pada topik PMS secara umum maupun PMS secara khusus (p<0,001). Pada acara tanya jawab dan umpan balik didapatkan sikap yang positif terhadap tindakan pencegahan PMS serta identifikasi masalah yang ada di lapangan. Kesimpulan: Edukasi PMS pada wanita resiko tinggi terbukti dapat meningkatkan pemahaman pengetahuan tentang penularan, pencegahan dan gejala PMS.
Ekspresi Protein p53 Mutan dan Ki-67 pada Kondiloma Akuminata dan Karsinoma Sel Skuamosa Nurliani, Agustin; Sandhika, Willy
Majalah Patologi Indonesia Vol. 24 No. 1, Januari 2015
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Diagnosis kondiloma akuminata (KA) dan karsinoma sel skuamosa (KSS) dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi. Sebagian besar kasus gambaran mikroskopik kondiloma akuminata dan karsinoma sel skuamosa berbeda nyata. Pada kasus tertentu seperti pada karsinoma sel skuamosa tipe verrucous dapat menyerupai kondiloma akuminata. Beberapa penelitian telah dikembangkan untuk membantu penegakan diagnosis dengan melihat ekspresi p53 mutan dan Ki-67 pada lesi-lesi tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ekspresi protein p53 mutan dan Ki-67 dalam diagnosis kondiloma akuminata dan karsinoma sel skuamosa. Metode Penelitian yang dilakukan menggunakan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah blok parafin dari sediaan kulit dengan diagnosis kondiloma akuminata, karsinoma sel skuamosa diferensiasi baik atau tipe verrucous yang diarsipkan di Laboratorium Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo periode Januari 2010-Desember 2012. Sampel penelitian terdiri dari 15 kasus KA dan KSS dari seluruh kasus yang ditemukan. Sampel dipulas menggunakan pulasan imunohistokimia dengan antibodi primer p53 dan Ki-67. Ekspresi p53 mutan dan Ki-67 dinilai berdasarkan jumlah inti sel yang tercat dalam 100 sel. Perbedaan ekspresi p53 mutan dan Ki-67 pada KA dan KSS dianalisis dengan menggunakan uji statistik. Hasil Dari 15 kasus KA rerata usia penderita 36,07+12,30 tahun, dan 15 kasus KSS rerata usia penderita 49,93+15,65 tahun. Hasil uji statistik menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna ekspresi protein p53 mutan pada KA dan KSS (p=0,131). Terdapat perbedaan yang bermakna ekspresi protein Ki-67 pada KA dan KSS (p=0,001). Kesimpulan Ekspresi protein Ki-67 dapat membedakan kondiloma akuminata dengan karsinoma sel skuamosa. Ekspresi protein p53 mutan tidak dapat membedakan kondiloma akuminata dengan karsinoma sel skuamosa. Kata kunci : karsinoma sel skuamosa, Ki-67, kondiloma akuminata, p53 mutan. ABSTRACT Background The diagnosis of condyloma accuminata (CA) and squamous cell carcinoma (SCC) can be made based on histopathological examination. In most cases the microscopic picture of condyloma accuminata and squamous cell carcinoma clearly different. However, in certain cases such as SCC, verrucous type can form a picture that resembles condyloma accuminata. Several studies have been developed to assist in the diagnosis by looking at the expression of p53 mutant and Ki-67 proteins in these lesions. To analyze the differences in the expression of p53 mutant and Ki-67 proteins in condyloma accuminata and squamous cell carcinoma. Methods Analytical observational research with cross sectional approach. Population of this study was paraffin blocks from skin preparation with a diagnosis of condyloma accuminata and squamous cell carcinoma well differentiated and squamous cell carcinoma verrucous type stored in the Anatomical Pathology Laboratory Hospital Dr. Soetomo within the period January 2010 to December 2012. The samples used in this study were taken, respectively-each of the 15 cases from all cases were found. Paraffin blocks that met the criteria were stained with immunohistochemical method using antibody p53 and Ki-67. The degree of expression of p53 mutant and Ki-67 were assessed by quantity of cells was staining in 100 cells. Differences in the expression of p53 mutant and Ki-67 in condyloma accuminata and squamous cell carcinoma were analyzed using statistical tests. Results 15 cases of condyloma accuminata mean patient age 36.07 +12.30 years, and 15 cases of squamous cell carcinoma patients mean age 49.93 +15.65 years. The test results showed statistically no significancy in the expression of p53 mutant protein both condyloma accuminata and squamosa cell carcinoma (p=0.131). There is a significant in the expression of Ki-67 in condyloma accuminata and squamosa cell carcinoma (p=0.001). Conclusion Expression Ki-67 protein play a role in distinguishing condyloma accuminata with squamous cell carcinoma. Expression of protein p53 mutant protein do not play a role in differentiating condyloma accuminata with squamosa cell carcinoma. There was no relationship between the expression of protein p53 and Ki67 in condyloma accuminata and squamous cell carcinoma. Key words : condyloma accuminata, Ki-67, p53 mutant, squamous cell carcinoma.
Ekspresi Ki-67 dan COX-2 pada Papiloma dan Karsinoma Sel Skuamosa Laring Chrisdianti, Vinna; Sandhika, Willy
Majalah Patologi Indonesia Vol. 24 No. 3, September 2015
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Papiloma sel skuamosa dan karsinoma sel skuamosa merupakan bentuk neoplasma yang banyak ditemukan pada laring. Infeksi human papilloma virus (HPV), terutama tipe 6 dan 11 terbukti berperan dalam terjadinya papiloma sel skuamosa, sedangkan karsinoma sel skuamosa disebabkan oleh bahan-bahan karsinogenik, terutama rokok dan alkohol. Beberapa penelitian telah dikembangkan untuk membantu penegakan diagnosis dengan mengamati ekspresi Ki-67 dan COX-2 pada lesi-lesi tersebut. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis perbedaan dan korelasi ekspresi Ki-67 dan COX-2 pada papiloma sel skuamosa dan karsinoma sel skuamosa. Metode Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah blok parafin sediaan papiloma sel skuamosa dan karsinoma sel skuamosa yang tersimpan di Laboratorium Patologi Anatomik RSUD. Dr. Soetomo periode 1 Januari 2012 sampai dengan 31 Maret 2013. Dari masing-masing kasus diambil 15 sampel. Blok parafin yang memenuhi kriteria dilakukan pewarnaan imunohistokimia menggunakan antibodi Ki-67 dan COX-2 dan dinilai berdasarkan intensitas kualitatif. Perbedaan ekspresi Ki-67 dan COX-2 pada papiloma sel skuamosa dan karsinoma sel skuamosa dianalisis dengan menggunakan uji Spearman. Hasil Limabelas kasus papiloma sel skuamosa menunjukkan rerata usia penderita 17,27 ± 9,91 tahun, dan 15 kasus karsinoma sel skuamosa menunjukkan rerata usia penderita 58,80 ± 8,54 tahun. Analisis statistik ekspresi Ki-67 dan COX-2 antara papiloma sel skuamosa dan karsinoma sel skuamosa menunjukkan perbedaan bermakna (p0,05). Analisis statistik antara ekspresi Ki-67 dan COX-2 pada karsinoma sel skuamosa menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05). Kesimpulan Ekspresi Ki-67 dan COX-2 meningkat pada karsinoma sel skuamosa. Ekspresi Ki-67 dan COX-2 antara papiloma sel skuamosa dan karsinoma sel skuamosa menunjukkan korelasi. Kata kunci : COX-2, karsinoma sel skuamosa, Ki-67, papilloma sel skuamosa,.
Co-Authors , Sawitri A.A. Ketut Agung Cahyawan W Afif Nurul Hidayati, Afif Nurul Agung Dwi Wahyu Widodo Agustin Nurliani Aisha Grayli Cahyani Alief Yudo Astuti Alphania Rahniayu Anny Setijo Rahaju, Anny Setijo Ariani, Grace Aries Sasongko Astindari Astindari Astindari Astindari, Astindari Astuti, Alief Yudo Ayu Tyasmara Bagus Haryo Kusumaputra, Bagus Haryo Baiq Ratna Kumaladewi Bernadetta Jonan Betty Agustina Tambunan Brama Rachmantyo Budiono Budipramana, Vicky Sumarki Cahyani, Aisha Grayli Chrisdianti, Vinna Cita Rosita Sigit Prakoeswa Cleodylon Reinard Susanto Densy Violina Harnanti Dewi Ratna Sari Dian Eskaningrum Dian Novitasari Djoni Susanto Dwi Murtiastutik DYAH FAUZIAH, DYAH Endi Prilansa Mahadi Erlina Erlina Erlina Erlina Eskaningrum, Dian Faizah, Zakiyatul Fanny Gunawan Fertilita, Soilia Firda Azizah Gatut Hardianto, Gatut Gilda Hartecia Gondo Mastutik Grace Ariani Hartanto, Felix Hartecia, Gilda Heny Arwati Heriyawati, Heriyawati Heryawati Heryawati I Wayan Yudiana Ibrahim, Azarya Ida Septika Wulansari Ilmiah, Khafidhotul Imam Susilo INDROPO AGUSNI Irene Lingkan Parengkuan Irmadita Citrashanty, Irmadita Isnin Anang Marhana Iswinarno Doso Saputro iwan Syarif Jimmy Hadi Widjaja Jonan, Bernadetta Judikristiani, Theresia Fifi Junita Jeanne Paliman Kartika Arum Wardani Khamid, M Nur Kholida Nur Aini Kiki Apnita Sari Kintan Putri KUSUMASTUTI, ETTY HARY LaleMaulin Prihatina Linda Astari, Linda Lisa Savitri Lusiani Tjandra Lusiani Tjandra M. Yulianto Listiawan Mappamasing, Hasnikmah Marina Rimadhani Marina Rimadhani Martha Kurnia Kusumawardani Maylita Sari Maylita Sari, Maylita Meita Ardini Pratamasari, Meita Ardini Muhammad Miftahussurur Muhammad Zaid Imron Nanda Amalia Ramadhanti Navisa, Claudia Clary Nidya Ulfana Tsania Nila Kurniasari Novia Indriyani Adisty Nurina Hasanatuludhhiyah Nurliani, Agustin Nurul Wiqoyah, Nurul Poernomo, Adinda Sandya PUNGKY MULAWARDHANA, PUNGKY Purwati Purwati Purwati Puteri, Agnes Ilene Suprapto Qonitatillah, Ana R. Heru Prasetyo R.A. Astrid Putri Wandhita Rahel Yuana Sadikim Rahmanti, Fishella Aprista Ratna Darjanti Haryadi Regina Martina Cilik Ridholia, Ridholia Rizaldi, Fikri Rulisiana Widodo Rusdamayanti Rusdamayanti Rusdamayanti, Rusdamayanti Rwahita Satyawati Dharmanta Ryski Meilia Novarina Ryski Meilia Novarina, Ryski Meilia S.Pd. M Kes I Ketut Sudiana . Sabilal Alif Sari, Aditya Sita Sari, Festi Artika Sawitri Sawitri Sawitri Sawitri Sawitri Sjahjenny Mustokoweni, Sjahjenny Soilia Fertilita Sri Wahyuni Sunarso Suyoso Sunaryo Hardjowijoto Suprabawati, Desak Gede Agung Tessy Badriyah, Tessy Theresia Fifi Judikristiani Tri Hartini Yuliawati Trisniartami Setyaningrum Tsania, Nidya Ulfana Tyasmara, Ayu Umi Choviva, Farida Ummi Maimunah Vinna Chrisdianti Wandhita, R.A. Astrid Putri Widati Fatmaningrum Widjaja, Jimmy Hadi Wilda Fitria Rachmadina Windya Tri Hapsari Winona May Hendrata Wiratama, Priangga Adi Wulansari, Ida Septika yasmin, dzakiyah Yusfita Evi Rosdiana