Claim Missing Document
Check
Articles

KERAGAMAN GENETIK 64 AKSESI KUNYIT ASAL INDONESIA BERDASARKAN MARKA P450-BASED ANALOGUE (PBA) Tresna Kusuma Putri; Putri Ardhya Anindita; Noladhi Wicaksana; Tarkus Suganda; Vergel Concibido; Agung Karuniawan
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 31, No 2 (2020): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v31n2.2020.123-134

Abstract

Kunyit merupakan tanaman penghasil rimpang yang memiliki banyak kegunaan, baik untuk konsumsi, industri obat, maupun pewarna. Pengembangan varietas unggul kunyit di Indonesia saat ini perlu didukung oleh adanya informasi keragaman genetik. Saat ini informasi mengenai keragaman genetik tanaman kunyit di Indonesia masih belum tersedia. Salah satu cara untuk memperoleh informasi keragaman genetik adalah dengan menggunakan marka molekuler yang mampu memberikan hasil yang akurat dan tidak dipengaruhi oleh lingkungan. Marka PBA sebagai marka fungsional mampu mendeteksi gen P450 yang berkaitan dengan pembentukan metabolit sekunder pada area genom yang luas sehingga dapat dijadikan alternatif marka untuk mengidentifikasi keragaman genetik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi keragaman genetik 64 aksesi tanaman kunyit menggunakan delapan pasang primer P450-Based Analogue (PBA). Penelitian dilakukan di Laboratorium Sentral Universitas Padjadjaran dari Juni 2019 hingga Januari 2020. Sebanyak 133 pita terdeteksi dengan rentang jumlah masing-masing alel 8 – 45 pita, dan rata-rata per alel 22,3 pita. Hasil analisis PIC menunjukkan adanya enam pasang primer PBA yang menunjukkan polimorfisme tinggi pada rentang 0,90 – 0,98 sehingga marka PBA dikategorikan sangat informatif. Analisis klaster membagi 64 aksesi kunyit ke dalam dua klaster utama berdasarkan tingkat kemiripan pada rentang 0,01 hingga 0,83. Aksesi CL-GTL01 yang berasal dari Gorontalo memiliki kemiripan yang rendah yaitu 0,01 terhadap 64 aksesi lainnya, sedangkan aksesi CL-NTB01 dan CL-PPB04 memiliki tingkat kemiripan yang tinggi pada jarak 0,83. Berdasarkan nilai PIC, jumlah pita polimorfik, dan jarak genetik, kunyit asal Indonesia memiliki keragaman yang luas berdasarkan marka PBA. 
Aktivitas Enzim Peroksidase pada Lima Genotip Cabai yang Mempunyai Ketahanan Berbeda terhadap Penyakit Antraknos Khairul Zen; Ridwan Setiamihardja; Murdaningsih H. K.; Tarkus Suganda
Zuriat Vol 13, No 2 (2002)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v13i2.6740

Abstract

Percobaan ini dilakukan di Kebun Percobaan dan rumah kaca, Fakultas Pertanian, UNPAD, Jatinangor dari bulan Agustus 2001 sampai bulan Februari 2002, bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai aktivitas enzim peroksidase pada tanaman cabai yang mempunyai ketahanan berbeda dan korelasi aktivitas peroksidase dengan ketahanan terhadap penyakit Antraknos. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan enam kali ulangan. Sebagai perlakuan adalah lima genotipe cabai yang mempunyai ketahanan berbeda terhadap penyakit Antraknos, yaitu : CF-03, KRT-I, KRTShatol, Paprika, dan RS-07. Untuk mengetahui aktivitas enzim peroksidase pada tanaman yang terinfeksi, setiap genotipe ditanam di lapangan pada petakan berukuran 1,2 m x 4 m, sedangkan untuk mengetahui aktivitas peroksidase pada tanaman yang tidak terinfeksi, penanaman dilakukan di polybag di rumah kaca. Sebagai sumber inokulum Antraknos, dilakukan penanaman genotipe rentan di sekeliling petakan percobaan dan diantara ulangan satu bulan sebelum penanaman genotipe uji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan aktivitas peroksidase antara genotip setelah terinfeksi Antraknos. Aktivitas peroksidase pada daun cabai yang terinfeksi Antraknos lebih tinggi dibanding daun cabai yang tidak terinfeksi. Tidak terdapat korelasi antara intensitas serangan penyakit Antraknos dengan aktivitas peroksidase pada daun tanaman cabai yang terinfekai. Aktivitas peroksidase yang tinggi tidak berkaitan dengan intensitas serangan penyakit yang rendah. Dengan demikian aktivitas peroksidase tidak dapat dipakai sebagai kriteria seleksi untuk ketahanan tanaman cabai terhadap penyakit Antraknos.
Keefektifan beberapa senyawa kimia sebagai agen penginduksi resistensi tanaman sawi terhadap penyakit bercak daun Curvularia Tarkus Suganda; Dinda Yulindar Wulandari
Jurnal Agro Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/4619

Abstract

Penyakit bercak daun Curvularia merupakan penyakit baru pada tanaman sawi. Pengendalian penyakit dengan fungisida sintetik sangat berbahaya karena daun sawi dikonsumsi sebagai sayuran mentah atau pengolahan minimal, untuk itu diperlukan alternatif cara pengendalian yang lebih aman bagi kesehatan seperti menginduksi resistensi tanaman menggunakan bahan kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan beberapa bahan penginduksi resistensi seperti asam salisilat, kitin, K2HPO4, dan vitamin B1. Sementara, Bion M1/48, bahan penginduksi komersial, digunakan sebagai pembanding. Bahan penginduksi diaplikasikan melalui cara perendaman benih dan disemprotkan. Pada perlakuan perendaman, benih direndam dalam suspensi bahan penginduksi selama 12 jam, sedangkan pada perlakuan penyemprotan, bahan penginduksi disemprotkan satu kali yaitu dua hari sebelum inokulasi dilakukan. Inokulasi patogen yang digunakan memiliki suspensi konidia kerapatan 5 x 105 konidia ml-1. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan empat  ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap masa inkubasi dan intensitas penyakit. Hasil pengujian menunjukkan bahwa perendaman benih asam salisilat, kitin dan K2HPO4, mampu menunda kemunculan gejala sakit lebih lama dibandingkan Bion M 1/48. Terhadap intensitas penyakit, asam salisilat, kitin, dan K2HPO4, juga efektif menginduksi resistensi tanaman sawi terhadap penyakit bercak daun Curvularia. Ketiga senyawa kimia ini potensial untuk digunakan sebagai pengganti fungisida sintetis dalam mengendalikan penyakit bercak daun Curvularia pada tanaman sawi.ABSTRACTCurvularia leaf spot is a new disease on mustard green (Brassica juncea L.). The diseases control with synthetic fungicide is dangerous since mustard green leaves are freshly consumed or with minimum treatments. Therefore, a safer alternative method must be sought such inducing plant resistance using chemical inducers. This research aimed to evaluate effectiveness of salicylic acid, chitin, K2HPO4, vitamin B1, as resistance inducers. Meanwhile,  Bion M 1/48, a commercial inducer, was used as the check treatment. These substances were applied as either seed soaking or spraying. In the soaking treatmet, the seeds were soaked for 12 hours duration, whereas in the spraying treatment, chemicals were applied once, at two days before inoculation with conidial suspension of 5 x 105 conidia ml-1. Experimental plants were arranged in a Randomized Block Design with four replicates. Observation was carried out on incubation period and disease intensity. Results showed that soaking the seed in salicylic acid, chitin and K2HPO4 was able to delay the appearance of symptoms, better than of Bion M 1/48. Towards disease intensity, salicylic acid, chitin, and K2HPO4 were also effective in inducing resistance of mustard green leaves against Curvularia leaf spot.  The three substances were potential to be applied as an alternative to synthetic fungicide in managing Curvularia leaf spot on the mustard green.
Uji Kualitas Ubi Beberapa Klon Kentang Hasil Persilangan untuk Bahan Baku Keripik Helmi Kurniawan; Tarkus Suganda
Jurnal Agro Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/79

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji kualitas ubi beberapa klon kentang hasil persilangan sebagai bahan baku keripik. Penelitian dilakukan mulai Bulan Mei sampai Bulan Juli 2013 di Laboratorium Pasca Panen Balai Penelitian Tanaman Sayuran.Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji terdiri dari 6 klon hasil persilangan dan 3 varietas pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan klon kentang memberikan pengaruh terhadap warna, rasa, kerenyahan, dan penampilan keripik yang dihasilkan dan klon kentang terbaik yang memenuhi persyaratan kualitas sebagai bahan baku keripik kentang adalah klon AR 08.The objective of the research was to determine the quality of potato clones derived fromcrossing for potato chips. The research was conducted from May to July 2013 in Postharvest Laboratory of Research Institute for Vegetables, and arranged in a completely randomized design with tree replications. Quality test of 6 clones derived from crossing and 3 varieties control. The results showed that the difference in potato clones give effect to the color, taste, crispyness, and the appearance of the resulting chips and potato clones that best meet the quality requirements for potato chips was cloned AR 08.UJI KUALITAS UBI BEBERAPA KLON KENTANG HASIL PERSILANGAN UNTUK BAHAN BAKU KERIPIK
The Effectiveness of Several Plant Extracts to Induce Rice Plant Resistance against Bacterial Leaf Blight - (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) Fitri Widiantini; Avissa Ayuningdiyas; Endah Yulia; Tarkus Suganda
Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia Vol 23, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpti.34912

Abstract

Resistant plants are one of the disease control techniques that considered to be effective. Resistant plants can be produced in various ways including the application of plant extracts. The aim of this study was to examine the ability of several plant extracts to increase the resistance of rice plants to bacterial leaf blight (BLB) caused by Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). A total of 13 plants were extracted and applied in two methods, which were seed treatment and seedling treatment which sprayed on two-week old rice seedlings. Xoo bacteria were inoculated on rice plants two weeks after planting. The observations on the intensity of BLB disease infection showed that water hyacinth extract (Eichhornia crassippes), spiny amaranth (Amaranthus spinosus) and jasmine leaves (Jasminum grandiflorum) can suppress the development of BLB disease in both application methods. The application of plant extracts as inducing agents needs to be repeated to maintain the activated plant defense mechanism.
Genetic Diversity of Butterfly Pea (Clitoria ternatea) from Indonesia Based on Flower and Yield Component Traits in Two Land Conditions Trixie A. Ulimaz; Debby Ustari; Virda Aziza; Tarkus Suganda; Vergel Concibido; Jutti Levita; Agung Karuniawan
Jurnal AgroBiogen Vol 16, No 1 (2020): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v16n1.2020.p1-6

Abstract

Genetic diversity among the butterfly pea genotypes is important information to support breeding program of this underutilized crop. The important characters to be targeted in the breeding program of this crop included yield and yield components of flowers that are strongly affected by the environment and have not been previously reported. This study aimed to determine the genetic diversity of butterfly pea (Clitoria ternatea L.) from Indonesia tested in two land conditions, namely dryland and former paddy fields, based on flower character and yield component traits. The results showed that butterfly pea accessions were divided into two main clusters with dissimilarity coefficient of 0.01–3.99 indicating wide genetic diversity across  accessions. The Mantel correlation showed that the genetic distance among accessions studied were not significantly correlated (r = 0.044, P = 0.8709). Based on principal component analysis (PCA), the eigenvalue ranged from 1.69 to 3.34 with a cumulative contribution of 72.64%. The traits that influenced genetic diversity in this study were flower length, weight of one fresh flower, total weight of pods, and weight of 100 seeds. The results of this study should be useful to support future butterfly pea breeding program.
Keragaman Fenotipik Bunga Telang Double Petal Asal Indonesia dan Thailand Berdasarkan Morfologi Bunga Virda Aziza; Trixie Almira Ulimaz; Debby Ustari; Tarkus Suganda; Vergel Concibido; Budi Irawan; Agung Karuniawan
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 14, No 1 (2021): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v14i1.15558

Abstract

AbstrakBunga telang (Clitoria ternatea L.) merupakan tanaman legum yang bagian bunganya telah banyak dimanfaatkan. Double petal adalah salah satu varian spesies bunga telang yang banyak ditemukan di Asia Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaman fenotipik plasma nutfah bunga telang double petal asal Indonesia (Bali, Jawa Barat, dan Jawa Timur) dan Thailand berdasarkan morfologi bunga. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Data morfologi dianalisis menggunakan analisis multivariat berupa Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis) dan Analisis Klaster (Cluster Analysis) dengan bantuan program NTSYS 2.1. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima komponen utama yang berpengaruh terhadap keragaman aksesi dengan persentase keragaman kumulatif 88,82%. Karakter tipe bunga, susunan mahkota bunga, keberadaan lunas, tipe benang sari, dan posisi kepala putik memberi pengaruh terbesar terhadap keragaman aksesi. Analisis klaster membagi aksesi-aksesi tersebut menjadi dua klaster dengan koefisien ketidakmiripan 3,01–6,83. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bunga telang double petal asal Indonesia dan Thailand memiliki keragaman yang luas dan kekerabatan yang jauh; aksesi asal Bali memiliki morfologi bunga dan klaster yang berbeda dengan aksesi asal Jawa Barat, Jawa Timur, dan Thailand. Informasi ini akan bermanfaat dalam merencanakan pengelolaan plasma nutfah dan pemuliaan bunga telang double petal. Abstract Butterfly pea (Clitoria ternatea L.) is a legumeplant of which flower parts are widely used. One of butterfly pea variant is double petal which commonly found in Southern Asia. This study aimed to evaluate phenotypic diversity of double petal butterfly pea germplasm from Indonesia (Bali, West Java, and East Java) and Thailand based on flower morphology. The experiment was arranged in randomized complete blocks design with three replications. Morphology data were subjected to multivariate analysis using Principal Component Analysis and Cluster Analysis and performed by NTSYS 2.1. The result showed that there were five significant principal components that cumulatively explained 88.82% of variance. Existence of keel, aestivation type, position of stigma, type of stamen, and flower type gave high contributions to the diversity of accessions. Cluster analysis grouped the accessions into two clusters with dissimilarity coefficient from 3.01–6.83. From the results, it can be concluded that double petal butterfly pea from Indonesia and Thailand have wide diversity and genetic relationship; the accessions from Bali have different flower morphology and cluster compared to the accessions from East Java, West Java, and Thailand. The information will help planning management of the germplasm and breeding double petal butterfly pea.
KERAGAMAN GENETIK 64 AKSESI KUNYIT ASAL INDONESIA BERDASARKAN MARKA P450-BASED ANALOGUE (PBA) Tresna Kusuma Putri; Putri Ardhya Anindita; Noladhi Wicaksana; Tarkus Suganda; Vergel Concibido; Agung Karuniawan
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 31, No 2 (2020): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v31n2.2020.123-134

Abstract

Kunyit merupakan tanaman penghasil rimpang yang memiliki banyak kegunaan, baik untuk konsumsi, industri obat, maupun pewarna. Pengembangan varietas unggul kunyit di Indonesia saat ini perlu didukung oleh adanya informasi keragaman genetik. Saat ini informasi mengenai keragaman genetik tanaman kunyit di Indonesia masih belum tersedia. Salah satu cara untuk memperoleh informasi keragaman genetik adalah dengan menggunakan marka molekuler yang mampu memberikan hasil yang akurat dan tidak dipengaruhi oleh lingkungan. Marka PBA sebagai marka fungsional mampu mendeteksi gen P450 yang berkaitan dengan pembentukan metabolit sekunder pada area genom yang luas sehingga dapat dijadikan alternatif marka untuk mengidentifikasi keragaman genetik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi keragaman genetik 64 aksesi tanaman kunyit menggunakan delapan pasang primer P450-Based Analogue (PBA). Penelitian dilakukan di Laboratorium Sentral Universitas Padjadjaran dari Juni 2019 hingga Januari 2020. Sebanyak 133 pita terdeteksi dengan rentang jumlah masing-masing alel 8 – 45 pita, dan rata-rata per alel 22,3 pita. Hasil analisis PIC menunjukkan adanya enam pasang primer PBA yang menunjukkan polimorfisme tinggi pada rentang 0,90 – 0,98 sehingga marka PBA dikategorikan sangat informatif. Analisis klaster membagi 64 aksesi kunyit ke dalam dua klaster utama berdasarkan tingkat kemiripan pada rentang 0,01 hingga 0,83. Aksesi CL-GTL01 yang berasal dari Gorontalo memiliki kemiripan yang rendah yaitu 0,01 terhadap 64 aksesi lainnya, sedangkan aksesi CL-NTB01 dan CL-PPB04 memiliki tingkat kemiripan yang tinggi pada jarak 0,83. Berdasarkan nilai PIC, jumlah pita polimorfik, dan jarak genetik, kunyit asal Indonesia memiliki keragaman yang luas berdasarkan marka PBA. 
Potency of Yeasts Isolated from Shallot Rhizosphere to Control Basal Rot (Fusarium oxysporum f.sp. cepae) Disease on Shallot Sri Hartati; Risma Yuniah Nur’haqi; Wahyu Daradjat Natawigena; Tarkus Suganda
CROPSAVER Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/cropsaver.v5i1.38099

Abstract

One of the major diseases of shallots is basal rot disease caused by Fusarium oxysporum f.sp. cepae (FOC). Biocontrol agents can be used as an environmentally friendly control method. Some yeasts isolated from the rhizosphere may have the potencies to control soilborne plant pathogen such as FOC. This study was objected to obtain yeast isolates from the rhizosphere of shallots that have the potencies to control basal rot. The first step was isolation of yeasts from the rhizosphere of shallots and isolation of FOC. The yeast isolates were then tested for their potencies in suppressing FOC in vitro and decreasing the basal rot disease on the shallot plants. There were ten yeast isolates obtained from the rhizosphere of shallot, in which seven isolates were non pathogenic to shallot plant. These seven isolates were further tested  for their potencies in controlling FOC and basal rot disease. The results showed that those isolates were able to inhibit the colony growth of FOC by 16,11% - 38,33% in the in vitro dual culture test, and 21,11% - 38,89% in the production of volatile compound test. The isolates also suppressed the basal rot disease incidences by 8,30% - 24,98%. Isolates Cm2 and Cm3 caused the highest disease suppression (24,98%).
DAYA HASIL DAN KANDUNGAN ANTOSIANIN GENOTIP UBI JALAR UNGU (PURPLE-FLESHED SWEET POTATO) DI JATINANGOR, JAWA BARAT Amalia Murnihati Noerrizki; Harlino Nandha Prayudha; Debby Ustari; Tarkus Suganda; Vergel Concibido; Agung Karuniawan
BERITA BIOLOGI Vol 21, No 3 (2022): Berita Biologi
Publisher : Research Center for Biology-Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/beritabiologi.v21i3.3931

Abstract

Daya hasil adalah kemampuan tanaman untuk memproduksi hasil sesuai dengan potensinya. Ubi jalar ungu mengandung senyawa antosianin yang merupakan senyawa yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk karena memberikan efek yang baik untuk kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengestimasi daya hasil dan kandungan antosianin pada 12 genotip ubi jalar ungu. Penelitian lapangan dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 kali ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap karakter bentuk ubi, warna daging ubi, warna kulit, panjang ubi, diameter ubi, jumlah ubi dan bobot ubi per plot berdasarkan Descriptors for Sweet Potato (Huaman, 1999). Kandungan antosianin dievaluasi dengan metode pH Differential sedangkan variabel warna ekstrak dianalisis berdasarkan nilai L*, a*, b*. Hasil  menunjukkan terdapat keragaman pada bentuk ubi, panjang ubi, diameter ubi, jumlah ubi dan bobot ubi per plot. Bentuk ubi bervariasi yaitu oval memanjang, elips membulat, elips, obovate, berlengkung. 11 genotip ubi jalar ungu memiliki warna daging berpigmen dengan antosianin dan warna kulit yaitu ungu. Hasil analisis LSI menunjukkan PF 4, PF 5, PF 6, PF 7, PF 8, PF 9 dan PF 12 memiliki penampilan lebih baik dari varietas pembanding. Kandungan antosianin tertinggi yaitu PF 12 (84,02 mg/100g). Analisis korelasi menunjukkan antosianin memiliki korelasi positif dengan karakter hasil dan nilai a*.
Co-Authors A.M. Kalay Aep Wawan Irawan Agung Karuniawan Agus Susanto Ai Siti Santriyani Amalia Murnihati Noerrizki Amanda, Lauren Thalita Andang Purnama Andhita Nadhirah Avissa Ayuningdiyas Azhhar Hadyarrahman Bari, Ichsan Nurul Budi Irawan Ceppy Nasahi Danar Dono Danar Dono Danar Dono Debby Ustari Dinda Y Wulandari Dinda Yulindar Wulandari Endah Rismawati Endah Yulia Endah Yulia Endah Yulia Yulia Fahmi, Rahmad Bahaudin Fitri Widiantini Gabbi Andria Dwitia Putri Harlino Nandha Prayudha Helmi Kurniawan Helmi Kurniawan Hersanti - Indah Nita Chrysilla Simarmata Ineu Sulastrini Iwan Setiawan Jabbar, Muhammad Aqshal Azizil Jutti Levita Kaltsum, Rumaisha Thifaaliyah Keliat, Chrisnasari Yanti Khairul Zen Kholifah, Sisca Noor Lindung Tri Puspasari Luciana Djaya, Luciana Martua Suhunan Sianipar Maulana, Ghifari Aditya Murdaningsih H. K. Neneng Sri Widayani Nenet Susniahti Noladhi Wicaksana Noor Istifadah Pini Komalasari Puspa Radityo Putri Putri Ardhya Anindita Rahayu, Aldi Rangga Irawan Prasetyo Reginawanti Hindersah Ridwan Setiamihardja RIKA MELIANSYAH Risma Yuniah Nur’haqi Rizky Ramdhani Rizqullah, Ahmad Fauzan Rohmah, Nanda Dea Nikmatu Sadeli Natasasmita Satriyo Restu Adhi SIska Rasiska, SIska Sofia Kholifatu Wahda Sri Hartati Sudarjat Sudarjat Sudarjat Sudarjat Syarif Hidayat Syarif Hidayat Toto Sunarto Tresna Kusuma Putri Trixie A. Ulimaz Trixie Almira Ulimaz Tualar Simarmata Tualar Simarmata Vergel Concibido Vergel Concibido Vergel Concibido Vergel Concibido Vira Kusuma Dewi Virda Aziza Virda Aziza Wahyu Daradjat Natawigena Wahyu Daradjat Natawigena, Wahyu Daradjat Wawan Kurniawan Yadi Supriyadi Yani Maharani, Yani Yulia, Endah Yulia Yunira, Alma Yusup Hidayat Yusup Hidayat