Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Scientific Journal

Mycosis Fungoides dengan Gambaran Klinis Eritroderma yang Menyerupai Dermatitis Seboroik Tofrizal; Mayorita, Pamelia; Aini, Julpa Nurul; Nelzima, Maisyah; Oktora, Meta Zulyati
Scientific Journal Vol. 4 No. 2 (2025): SCIENA Volume IV No 2, March 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i2.200

Abstract

Mycosis fungoides (MF) merupakan limfoma T-sel kulit primer yang paling sering ditemukan, termasuk dalam kategori Cutaneous T-cell Lymphomas (CTCL). MF ditandai dengan proliferasi sel T epidermotropik yang sebagian besar terdiri dari sel CD4+. Penyakit ini memiliki perjalanan klinis yang umumnya lambat, diawali dengan lesi berupa patch atau plak eritematosa yang secara bertahap dapat berkembang menjadi tumor atau eritroderma pada stadium lanjut. Eritroderma, yang melibatkan lebih dari 80% permukaan kulit, sering kali sulit dibedakan dari dermatitis inflamasi lainnya, seperti dermatitis seboroik, psoriasis, atau penyakit sistemik lainnya. Oleh karena itu, pengenalan dini dan diagnosis akurat sangat penting untuk menentukan terapi yang tepat dan memperbaiki prognosis pasien. Laporan ini memaparkan kasus seorang pria berusia 53 tahun dengan gejala eritroderma yang awalnya menyerupai dermatitis seboroik. Pemeriksaan fisik dan laboratorium awal menunjukkan adanya lesi kulit meluas disertai skuama kasar, sehingga diduga eritroderma akibat Cutaneous T-cell Lymphoma (CTCL). Hasil biopsi eksisi kulit mengungkapkan infiltrasi sel limfosit atipikal yang menunjukkan epidermotropisme dan pembentukan Pautrier microabscesses, yang mengarah pada diagnosis MF. Pemeriksaan imunohistokimia menunjukkan hasil positif untuk CD3 dan CD4, yang semakin memperkuat diagnosis tersebut. Pasien direncanakan menjalani kemoterapi sebanyak enam siklus, namun pada saat akan menjalani kemoterapi siklus ketiga, kondisi pasien memburuk dengan penurunan kesadaran akibat hiponatremia dan komplikasi lain, hingga akhirnya meninggal dunia. Diagnosis MF pada tahap awal sering kali menjadi tantangan karena manifestasi klinisnya yang menyerupai penyakit kulit inflamasi lainnya. Oleh karena itu, kombinasi pemeriksaan klinis, histopatologi, dan imunohistokimia sangat diperlukan untuk membedakan MF dari diagnosis banding lainnya. Penatalaksanaan yang tepat dan pemantauan jangka panjang menjadi kunci dalam memperbaiki prognosis pasien, terutama pada stadium lanjut MF yang memerlukan terapi sistemik agresif.
A Rare Case of Multiple Hereditary Exostosis: Making The Correct Diagnosis with Triple Diagnosis Ramadhani, Rahmi; Hilbertina, Noza; Yenita; Tofrizal; Mayorita, Pamelia; Devianti, Loli; O ktora, Meta Zulyati
Scientific Journal Vol. 4 No. 4 (2025): SCIENA Volume IV No 4, July 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i4.248

Abstract

Background: A rare genetic disorder characterized by the development of multiple benign bone tumors called osteochondromas. This condition is primarily hereditary and follows an autosomal dominant pattern of inheritance, with mutations in the EXT1 and EXT2 genes being the most common genetic. Case report: This case report describes an 12-year-old boy with lumps in all four extremities accompanied by intermittent pain. Femur x-rays concluded MHE of the femur, tibia, and bilateral fibula. Histopathological examination shows that the cartilage tissue contains chondrocyte cells that form the cartilage cap. There is a transition of cartilage to bone trabeculae through endochondral ossification and bone marrow between the bone trabeculae. Discussion and Conclusion: MHE is a rare condition, with an incidence of approximately 1 in 50,000 to 100,000 live births. MHE is closely related to genetic mutations that occur in the EXT1, EXT2, and EXT3 genes. These genes code for enzymes involved in the biosynthesis of heparan sulfate, which is necessary for normal bone growth. Mutations in any of these genes disrupt the regulation of bone growth and lead to osteochondroma formation. Symptoms of MHE can range from mild to severe, and they tend to appear in childhood or adolescence. The main clinical manifestations include the formation of a hard lump on the bone, which can cause deformity, pain, and limitation of movement. Osteochondroma can also compress nerves or blood vessels, causing complications such as circulatory disorders or paralysis. We report a rare case emphasizing the typical morphology of multiple hereditary exostosis of the long bones to establish the final diagnosis without immunohistochemistry and molecular examination. In low-resource settings where molecular analysis is not available, histopathological examination are key tools to establish a correct diagnosis.
Diffuse Sclerosing Papillary Thyroid Carcinoma (Ds-Ptc): Kasus Jarang Dengan Perilaku Agresif: Kasus Jarang Dengan Perilaku Agresif Ariani, Yuliza; Setiawatu, Yessy; Asri, Aswiyanti; Tofrizal; Novianti, Hera; Oktora, Meta Zulyati
Scientific Journal Vol. 4 No. 6 (2025): SCIENA Volume IV No 6, November 2025
Publisher : CV. AKBAR PUTRA MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56260/sciena.v4i6.284

Abstract

Pendahuluan: Diffuse sclerosing Papillary Thyroid Carcinoma (DS-PTC) adalah subtipe PTC yang jarang terjadi dengan perilaku klinis yang agresif. Adanya ciri-ciri papiler membuat ahli patologi salah mendiagnosis tumor ini sebagai PTC konvensional. Namun, adanya keterlibatan kelenjar getah bening yang menyebar di kelenjar getah bening harus diwaspadai oleh ahli patologi. Laporan Kasus: dilaporkan kasus seorang pria berusia 35 tahun dengan benjolan di lehernya yang semakin membesar dalam 3 tahun, mengeluh sesak napas dan suara serak. Benjolan tersebut memiliki konsistensi padat, berukuran 12x7x5 cm dan 10x6x4 cm, dan mengikuti gerakan menelan. Nilai FSH dan T4 berada dalam batas normal. CT scan leher menunjukkan tumor tiroid kistik (sugestif ganas) dengan limfadenopati koli bilateral. Tiroidektomi bilateral dilakukan. Kelenjar getah bening (KGB) dan jaringan dikirim ke laboratorium anatomi patologis untuk diperiksa. Jaringan tiroid tampak berwarna putih kecoklatan pada penampang melintang dengan beberapa kista. Secara mikroskopis, terdapat proliferasi sel tumor yang membentuk struktur papiler dengan inti yang besar dalam mode tumpang tindih dengan gambaran groove dan ground glass. Ditemukan juga sklerosis stroma, psamoma bodies, dan metaplasia skuamosa, serta infiltrasi limfovaskular dan penyebaran sel tumor ke 26 kelenjar getah bening. Temuan ini konsisten dengan diagnosa DS-PTC stadium minimal pT3aN1bMx. Pasien ditangani dengan radioterapi setelah operasi. Kesimpulan: DS-PTC memiliki insiden metastasis kelenjar getah bening dan metastasis jauh yang lebih tinggi dibandingkan dengan classic PTC.Temuan ini harus diperhatikan oleh ahli patologi saat mendiagnosis tumor.
Co-Authors Abdiana Abdiana, Abdiana Afdal Afdal Afriani Afriani, Nita Aini, Julpa Nurul Aizah, Havina Nurul Aljassri, Resti Karunia Alvarino Alvarino Amel Yanis Aqilah, Giffary Zahida Ariani, Novita Ariani, Yuliza Arnofyan, Budi Pratama Asri, Ennesta Aswiyanti Asri Aswiyanti Asri Athika Rahmawati Avit Suchitra Azmal, Nita Afriani Cimi Ilmiawati, Cimi Daan Khambri Deddy Saputra Deddy Satriya Putra Desmawati Desmawati Dessy Arisanty Devianti, Loli Djong Hon Tjong Dwi Yanti Fioni Putri Dwisari Dillasamola Elli Firdamila Elmatris Sy Endrinaldi Ennesta Asri Erkadius Erkadius Eryati Darwin Eryati Darwin Eti Yerizel Fachry Abda El Rahman Fadhilah, Maisarah Fadil Oenzil Fadila, Srigunda Arisya Fadillah Fadillah Fajriza Yona Fesdia Sari Firdamila, Elli Gardenia Akhyar Gusti Revilla Hafni Bachtiar Handriyani, Fitri Nur Hasmiwati henny Mulyani Henny Mulyani Hera Novianti Hirowati Ali, Hirowati Husna Yetti Intan, Shinta Ayu Kamelia, Muthia Khotimah, Rifqoh Kusumardani, Dini Lubis M Mahata, Liganda Endo Maliza, Rita Mayorita, Pamelia Miftah Irramah Muhammad Idris Muhammad Nazri Janra Mustika Sari Naqia, Masyithah Nelzima, Maisyah Nita Afriani Nofrita Nofrita Novianti, Hera Novita Ariani Noza Hilbertina Noza Hilbertina, Noza Nur Afrinin Syah Nuzulia Irawati O ktora, Meta Zulyati Oktora, Meta Zulyati Perisnawati, Pemi Putra Santoso Putri Amran, Fajriana Anggun Putri, Biomechy Oktomalio Putri, Nabila Priscilla R. Zuryati Nizar Rahmadian, Rizki Rahmi Ramadhani Rauza Sukma Rita Raymond, Benni Restu Susanti Ria Oktavia Ria Oktavia Rina Gustia Rio Hendra Robby Jannatan Rony Rustam Runky Pebranka Rusnita, Dewi RZ Nizar Safnita, Dewi Salmiah Agus Salmiah Agus Salmiah Agus Salmiah Agus Selfi Renita Rusjdi, Selfi Selly Alinta Syukri Setiawatu, Yessy Sisca Dwi Yarni Siti Nurhajjah Sri Lestari SRI LESTARI Sri Wahyuni Handayani Sri Wahyuni Handayani, Sri Wahyuni Suci Rahmadhani Sukri Rahman Syamel Muhammad Tiffany, Begum Utama, Bobby Indra Yarni, Sisca Dwi Yenita . Yenita Yenita Yenny Raflis Yerizal, Eti Yessy Setiawati Yessy Setiawati Zehan Afifa Yusran Zulfadli Syahrul, Muhammad