p-Index From 2021 - 2026
9.335
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Literary Literacy Among the Younger Generation: Reading More Deeply and Meaningfully Masruroh, Mia; Nurjanah, Nunuy; Ahmad, Ali Monas
International Journal of Language and Culture Vol. 3 No. 2 (2025): International Journal of Language and Culture
Publisher : CV. Goresan Pena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63762/ijolac.v3i2.43

Abstract

Literacy is a very important aspect of life, as it enables access to various types of information. However, among the younger generation, literacy is rarely sought and tends to be neglected. The purpose of this study is to describe the influence of literature on literacy among the younger generation, to develop critical thinking skills through literary literacy, and to identify efforts to increase awareness of literary literacy among the younger generation. The research method used is a descriptive qualitative approach. Data collection techniques in this study include a literature review and the distribution of questionnaires to respondents regarding issues examined in the research, which will produce efforts to maintain literary literacy among the younger generation, identify literary works that are attractive to the younger generation, and determine media preferred by the younger generation to encourage their interest in literary literacy.
Kampung Naga Tasikmalaya Menjaga Alam Dengan Keyakinan Pada Norma dan Tradisi Eulis Entin; Denny Adrian Nurhuda; Nunuy Nurjanah; Retty Isnendes
PANALUNGTIK Vol. 6 No. 2 (2023): Vol 6 (2) Desember 2023
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/panalungtik.2023.3004

Abstract

Kampung Naga is an indigenous village in West Java that still upholds the values of ancestral heritage. This research discusses how the description of the Kampung Naga community settlement and the value system and norms carried out by the Kampung Naga community and the correlation between the value system and community behavior reflected in the settlement towards natural preservation. With an ethnographic approach, this research describes and interprets cultural phenomena that reflect the view of life of the Kampung Naga community. Data were collected through literature study, field observations, and interviews. The literature study involved archives, articles, and books, while field data was obtained through involved observation and in-depth interviews, which recorded the mythology and spatial layout of Kampung Naga. The data were then identified and processed inductively, based on existing concepts, values and beliefs. The results showed that the people of Kampung Naga still strongly uphold ancestral customs, which help maintain the balance of nature and prevent environmental damage. They value customs as norms in action and behavior, utilize local produce, and inherit Sundanese manners well, as well as showing typical Sundanese hospitality or commonly called soméah hadé ka sémah, which reflects hospitality and respect for guests.  
Penerapan metode lokasi dan asosiasi untuk mengefektifkan kemampuan otak kanan dan kiri anak usia SMP Nunuy Nurjanah
Jurnal Abmas Vol. 7 No. 1 (2007): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v7i1.89

Abstract

Sebutan otak kiri dan kanan. Kenyataannya ada manusia yang dominan otak kiri dan ada yang dominan otak kanan. Otak kiri bertanggung jawab terhadap kemampuan verbal dan matematis seperti berbicara, membaca, menulis, dan berhitung. Proses berpikirnya bersifat logis, sistematis, dan analitis. Otak kiri tergolong short term memory (memori jangka pendek). Otak kanan berurusan dengan irama, musik, imajinasi, emosi, warna, gambar, dan diagram. Cara berpikirnya bersifat kreatif, tidak teratur, dan menyeluruh. Otak kanan tergolong long term memory (memori jangka panjang). Analisis pustaka di atas menjadi pemicu teridentifikasinya masalah yaitu adanya perbedaan daya pikir anak yang mengikuti pendidikan formal dan non formal antara usia 12 s.d 15 tahun dalam kemampuan berpikir imajinasi dan asosiasi untuk menghafal dan memahami Asmaul Husna. Hasilnya ternyata pelatihan berpengaruh signifikan terhadap peserta pelatihan, baik terhadap peserta yang sedang bersekolah maupun terhadap peserta yang tidak bersekolah. Selain itu, ditemukan bahwa ternyata pendidikan formal berpengaruh positif terhadap kemampuan daya ingat. Kemampuan rata-rata daya ingat peserta yang bersekolah di SLTP lebih tinggi (80,69) dibanding kemampuan rata-rata daya ingat peserta anak usia SLTP yang tidak bersekolah (63,42).
Pembinaan etika dan tata krama bermedia sosial pada komunitas Mojang Jajaka Kota Tasikmalaya Nunuy Nurjanah; Haris Santosa Nugraha; Temmy Widyastuti; O. Solehudin; Yatun Romdonah Awaliah
Jurnal Abmas Vol. 21 No. 2 (2021): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v21i2.40168

Abstract

Kasus pelanggaran etika dan tata krama yang kerap muncul di media sosial menimbulkan kekhawatiran berbagai kalangan terhadap degradasi moral para generasi muda. Pengabdian pada masyarakat ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan pembinaan kepada generasi muda untuk senantiasa menggunakan etika dan tata krama bahasa Sunda yang baik dan benar dalam bermedia sosial. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini didasarkan pada hasil penelitian Model 3W (Wiwaha, Wiraga, Wibawa) sebagai alternatif solusi mengatasi permasalahan tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan dengan menerapkan empat langkah kegiatan yakni perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek dalam pengabdian ini adalah pengurus dan anggota komunitas Mojang Jajaka (Moka) Kota Tasikmalaya. Para peserta dibimbing untuk memahami dan menguasai konsep etika dan tata krama bahasa Sunda yang baik dan benar (wiwaha), terampil menerapkannya dalam media sosial (wiraga), serta mampu menjadi figur atau teladan bagi masyarakat luas (wibawa). Kegiatan pembinaan ini diharapkan mampu membekali para peserta agar lebih bijak menggunakan media sosial yang didasarkan pada penerapan etika dan tata krama Sunda dalam kehidupan sehari-hari.
CAMPUR KODE PADA PROSES PEMBELAJARAN BAHASA SUNDA DI KELAS X SMAN 1 BEBER (KAJIAN SOSIOLINGUISTIK): (Kajian Sosiolinguistik) Nandi Sanusi Muhamad Idris; Nunuy Nurjanah; Temmy Widyastuti
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 2 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i2.314

Abstract

ABSTRAK: Kemampuan Bahasa yang bilingual dan multilingual menyebabkan terjadinya campur kode. Campur kode sering terjadi pada komunikasi, utamanya komunikasi pada saat pembelajaran di kelas pada guru dan siswa. Pada penelitian ini membahas campur kode yang terjadi dalam komunikasi pada saat pembelajaran basa Sunda di kelas X SMA Negeri 1 Beber. Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengambilan data digunakan Teknik triangulasi (gabungan) yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil pada penelitian ini ditemukan 244 data bentuk campur kode yang dibagi menjadi tiga yaitu, 224 bentuk campur kode ke dalam, 7 bentuk campur kode ke luar, dan 13 campur kode campuran. Berdasarkan wujud campur ditemukan sebanyak 319 unsur yang dibagi menjadi enam yaitu, 127 unsur wujud kata, 120 unsur wujud frasa, 10 wujud baster, 38 wujud klausa, 1 wujud idiom, dan 23 wujud kata ulang. Selanjutnya mengenai faktor yang mempengaruhi terjadinya campur kode pada proses pembelajaran, berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan siswa ditemukan enam faktor pemyebabnya diantaranya yaitu, 1) faktor latar belakang bahasa yang di pakai di lingkungan keluarga, 2) faktor kebiasaan, 3) faktor pengaruh media sosial, 4) faktor kemampuan siswa ketika menggunakan Bahasa, 5) faktor bahasa yang bersifat multilingual, dan 6) faktor kebutuhan dalam pembelajaran. KATA KUNCI: campur kode; bentuk; wujud; factor yang mempengaruhi >  MIXED-CODE INSTRUCTION IN SUNDANESE LANGUAGE LEARNING IN GRADE 10 AT SMAN 1 BEBER (A SOCIOLINGUISTIC STUDY)   ABSTRACT: Bilingual and multilingual language skills lead to code mixing. Code mixing often occurs in communication, especially communication during classroom learning between teachers and students. In this study, we discuss the mixing of codes that occur in communication during learning Sundanese language in class X of SMA Negeri 1 Beber. In this study, a qualitative method with a descriptive approach was used. The data collection technique was used triangulation (combined) techniques, namely observation, interviews, and documentation. The results of this study found 244 mixed code form data which was divided into three, namely, 224 inward mixed code forms, 7 outward mixed code forms, and 13 mixed code mixed forms. Based on the mixed form, it was found that there were 319 elements divided into six, namely, 127 elements of word forms, 120 elements of phrase forms, 10 forms of baster, 38 forms of clauses, 1 form of idioms, and 23 forms of repetitions. Furthermore, regarding the factors that affect the occurrence of code mixing in the learning process, based on the results of interviews with teachers and students, six factors were found, namely, 1) the language background factor used in the family environment, 2) habit factor, 3) the influence factor of social media, 4) the ability factor of students when using the language, 5) the multilingual language factor, and 6) the factors of need in learning. KEYWORDS: mix code; shape; exist; influencing factors  
Proses Grafemik dalam Kata Serapan Bahasa Sunda dari Bahasa Sansekerta Yudistira Fitra Sabarudin; Yayat Sudaryat; Nunuy Nurjanah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8522

Abstract

This study aims to explore the graphemic process in Sundanese loan words from Sanskrit and to document the graphemic process in Sundanese loan words from Sanskrit , The method used in this study is qualitative with a descriptive-analytical approach to Sundanese loan words from Sanskrit, the main data source used is the Danadibrata Sundanese Dictionary and two supporting data sources, namely the Sanskrit-Indonesian Dictionary and A Sanskrit-English Dictionary. The data collection technique uses the literature study technique, while the data processing technique uses the Immediate Constituent Analysis (ICA) technique, so that in this study the word elements analyzed from the data obtained are graphemes listed in Sundanese loan words from Sanskrit. The results of the study show that there are nineteen change processes, namely initial silnaan, middle silnaan, final silnaan, initial swarabakti, middle swarabakti, final swarabakti, metathesis, haplology, intervocalic voicing, nasal assimilation, loss of retraction, rotachism, platyphthongization, diphthongization, monophthongization, rising vowel, falling vowel, degemination, gemination, loss of aspiration, shortening, lenition, and vocalization. As well as two forms of grapheme change formation that need to be considered, namely loss of aspiratio and shortening. Abstrak Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi proses perubahan grafemik kata serapan bahasa Sunda dari bahasa Sansakerta dan mendokumentasikan perubahan bentuk kata-kata serapan bahasa Sunda dari bahasa Sanesekerta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap kata serapan bahasa Sunda dari bahasa Sansekerta, sumber data utama yang digunakan adalah Kamus Basa Sunda Danadibrata serta dua sumber data pendukung yakni Kamus Sansekerta-Indonesia dan A Sanskrit-English Dictionary. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik studi pustaka, sedangkan teknik mengolah data menggunakan teknik Immediete Constituent Analysis (ICA), sehingga pada penelitian ini unsur kata yang dianalisis dari data yang didapatkan adalah grafem yang tertera pada kata serapan bahasa Sunda dari bahasa Sansekerta. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat Sembilan belas proses perubahan grafemik yakni sirnaan awal, sirnaan tengah, sirnaan akhir, swarabakti swarabakti awal, swarabakti tengah, swarabakti akhir, metatesis, haplologi, menyuarakan intervokalik, asimilasi nasal, hilang retraksi, rotakisme, platalisasi, diftongisasi, monoftongisasi, vokal naik, vokal turun, degeminasi, geminasi, hilang aspirasi, pemendekan, lenisi, dan vokalisasi. Serta dua bentuk formasi perubahan grafem yang perlu diperhatikan yakni hilang aspirasi dan pemendekan.
Korespondensi Fonemis dalam Bahasa Sunda Dialek Bandung, Ciamis, dan Karawang Deni Abdul Ghoni; Nunuy Nurjanah; Retty Isnendes
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.4663

Abstract

The purpose of this research is to see the similarity of Bandung, Karawang, and Ciamis dialects. The Bandung dialect was chosen as a lulugu or standard language, the Karawang dialect as a region that may have been influenced by the Betawi Malay language, and the Ciamis dialect as one of the historical centers of the Sunda kingdom during the Galuh period in 1371-1475 AD. The method used in this research is descriptive qualitative method with the data collection technique used is phenomenological document technique. Document techniques sourced from notes, books, and research data that has been done to strengthen interview data. While the phenomenological technique in question is the inventory of glosses that are determined in reality in the field. So that 6 glosses are obtained to be studied, and become 6 sets of phonemic correspondence from the 3 dialects that have been selected. The analysis shows that there are 9 phonemic correspondences with details: /l~h/, /u~a/, /s~Ø/, /a~Ø/, /b~w/, /g~k/, /au~ɔ/, /k~Ø/, /r~Ø/. From the 9 correspondences, 3 language groups were formed, namely DB, DK+DC as group 1; DB, DC+DK as group 2; and DK, DC+DB as group 3. AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk melihat kelompok dialek Bandung, Karawang, dan Ciamis. Dipilihnya dialek Bandung sebagai bahasa lulugu atau standar, dialek Karawang sebagai wilayah yang kemungkinan terpengaruhi oleh bahasa Melayu Betawi, dan dialek Ciamis sebagai salah satu  pusat sejarah kerajaan Sunda pada masa Galuh tahun 1371–1475 M. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumen fenomenologis. Teknik dokumen yang bersumber dari catatan, buku, serta data penelitian yang pernah dilakukan untuk menguatkan data wawancara. Sedangkan teknik fenomenologis yang dimaksud adalah penginventarisasian glos yang ditentukan secara nyata di lapangan. Sehingga didapatkan 6 glos yang akan diteliti, dan menjadi 6 perangkat korespondensi fonemis dari 3 dialek yang telah dipilih. Hasil analisis menunjukkan adanya 9 korespondensi fonemis dengan rincian: /l~h/, /u~a/, /s~Ø/, /a~Ø/, /b~w/, /g~k/, /au~ɔ/, /k~Ø/, /r~Ø/. Dari 9 korespondensi tersebut, terbentuk 3 kelompok bahasa, yaitu DB, DK+DC sebagai kelompok 1; DB, DC+DK sebagai kelompok 2; dan DK, DC+DB sebagai kelompok 3.
Aspek Flora untuk Penyebutan Standar Kecantikan dalam Bahasa Sunda Sandi Setiawan; Nunuy Nurjanah; Retty Isnendes; Denny Adrian Nurhuda
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i2.4671

Abstract

The purpose of this research is to reveal the direct meaning or conceptual meaning and figurative meaning or associative meaning. The method used in this research is analytical descriptive method with data collection techniques by literature review, namely looking for the data needed and then recording it so that there are six data used which are sourced from several libraries namely “Kamus Bahasa Sunda R.A. Danadibrata”, “Kamus Idiom Sunda-Indonesia”, and “Peperenian Urang Sunda”. The data used were Ngadaun seureuh, Bitis Jaksi Sajantung, Mucuk Eurih, Lambey Jeruk Sapasi, Pipi Kadu Sapasi and Héjo Carulang. The analysis technique starts from collecting data, reducing the initial data and analyzing the data used in this study. The result of this study is to reveal that the conceptual meaning does not show the standard of beauty in Sundanese language but refers to the plant used as a simile, but the standard of beauty can be found when looking by means of associative meaning or figurative meaning that is continuous with the referred flora. The beauty is borrowed from the form or nature of the flora used in the idiom.  AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap makna langsung atau makna konseptual dan makna kiasan atau makna asosiatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deksriptif analitis dengan teknik pengumpulan data dengan tinjauan pustaka yakni mencari data yang dibutuhkan lalu mencatatnya sehingga terdapat enam data yang digunakan yang bersumber dari beberapa pustaka yakni “Kamus Bahasa Sunda R.A. Danadibrata”, “Kamus Idiom Sunda-Indonesia”, dan “Peperenian Urang Sunda”. Data yang digunakan adalah Ngadaun seureuh, Bitis Jaksi Sajantung, Mucuk Eurih, Lambey Jeruk Sapasi, Pipi Kadu Sapasi dan Héjo Carulang. Teknik analisis dimulai dari pengumpulan data, mereduksi data awal dan menganalisis data yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil dari penelitian ini adalah mengungkap bahwa makna konseptual tidak menunjukan standar kecantikan dalam bahasa Sunda melainkan merujuk pada tanaman yang digunakan sebagai perumpamaan, namun standar kecantikan tersebut dapat ditemukan apabila melihat dengan cara makna asosiatif atau makna kiasan yang berkesinambungan dengan flora yang dirujuk. Kecantikan tersebut dipinjam dari bentuk atau sifat flora yang digunakan dalam idiom tersebut.
Membaca dan Meraih Self-Efficacy: Satu Buku Seribu Kemungkinan Ujang Ruslan; Nunuy Nurjanah; Fatima Bolushova; Maulia Depriya Kembara
IBERS : Jurnal Pendidikan Indonesia Bermutu Vol 5 No 1 (2026): IBERS: Jurnal Pendidikan Indonesia Bermutu (Juni 2026)
Publisher : Yayasan Indonesia Bermutu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61648/ibers.v5i1.209

Abstract

Self-efficacy, atau keyakinan seseorang terhadap kemampuannya dalam mencapai tujuan, merupakan faktor penting dalam pengembangan diri. Salah satu kebiasaan yang berkontribusi terhadap peningkatan self-efficacy adalah membaca. Artikel ini bertujuan untuk meneliti bagaimana kebiasaan membaca memengaruhi tingkat self-efficacy dan kepercayaan diri individu, serta mengeksplorasi genre bacaan yang paling berkontribusi terhadap peningkatan kepercayaan diri. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan kuesioner yang disebarkan kepada 50 responden untuk mengukur hubungan antara frekuensi membaca dan self-efficacy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki kebiasaan membaca secara teratur cenderung memiliki tingkat self-efficacy yang lebih tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa membaca bukan hanya sekadar aktivitas hiburan, tetapi juga menjadi sarana efektif dalam membangun keyakinan diri dan meningkatkan kepercayaan diri. Oleh karena itu, membudayakan kebiasaan membaca dapat menjadi strategi yang dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan untuk meningkatkan self- efficacy individu.
Readability Analysis of Rancagé Diajar Basa Sunda for Junior High Schools: Evidence from the Fry Graph Tanti Sri Wahyuni; Nunuy Nurjanah; Haris Santosa Nugraha
Edunesia : Jurnal Ilmiah Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Research, Training and Philanthropy Institution Natural Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51276/edu.v7i1.1555

Abstract

This study aims to analyze the readability level of 43 texts in the book Rancagé Diajar Basa Sunda for junior high school students using Fry Graphs, as well as to evaluate their suitability for readers aged 12 to 15 years. This study uses a document analysis method comprising steps such as text identification, calculation of sentence and syllable counts, graph mapping, and interpretation of results in the context of Sundanese. The results showed that only 11 texts (26%) were in the "suitable" category, while most were in the low and very low categories. However, such low scores do not necessarily reflect incompatibility, because the clarity of sentence structure is a way to accommodate the limitations in mastery of Sundanese cultural vocabulary among junior high school students. The results of this study show that Fry's Graph must be interpreted in a real way in Sundanese. By implication, teachers and book writers must balance simple sentences with important cultural vocabulary. At the same time, authorities can use these results to formulate readability standards for local Sundanese materials.
Co-Authors Abdullah Mizan ADE SUTISNA, ADE Adzimarismahikmah@upi.edu, Derin Fauzan Agus Suherman Ahmad, Ali Monas Aisyah Ameliawati, Sasti Annisa Azizah Aripin, Indri Yani Assidiq, Muhamad Hasbi Awaliah, Yatun Romdonah Azizah, Annisa Budi Rahayu Setiawan Ciptro Handrianto, Ciptro Danan Darajat Davronbek, Kurbonov Dede Kosasih Dedi Koswara Deni Abdul Ghoni Denny Adrian Nurhuda Denny Adrian Nurhuda Derin Fauzan Adzimarismahikmah@upi.edu Dingding Haerudin Edi Rohaedi Edi Rohaedi Edi Suhaedi Ema Siti Muliawati Eulis Entin Farid Rizqi Maulana Fatima Bolushova Haris Santosa Nugraha Hendrayana, Dian Herlina, Yeni Hernawan Hernawan Ilyas, Erick Muhammad Imas Siti Masitoh Isnendes, Chey Retty Kurniasih Kurniasih Maemunah Sa’diyah Masruroh, Mia Maulia Depriya Kembara Mauludi, Nugraha Mizan, Abdulah Mizan, Abdullah Muhamad Hasbi Assidiq Muhammad Ghifari Sharih Al-Iman Muhammad zaki tamami Muliawati, Ema Siti Mulyani, Noni Muntako, Berian Nandi Sanusi Muhamad Idris nia kurniasih Nisrina Khairunnisa Supriatna Nurhuda, Denny Adrian Nurhuda, Trifalah Nursolah, Mila O. Solehudin Oleh Solehudin Rahmadini, Risma Hikmah Rahman Rahman Rahman, M Arinal Ranu Sudarmansyah Retty Isnendes Ridho, Haqi Risma Hikmah Rahmadini Rizki Muhamad Nur Rostika Srihilmawati Rostika Srihilmawati Rostika Srihilmawati RUHALIAH Dr., RUHALIAH Rukmanah, Hani Rukmanah, Hani Siti Ruslan, Ujang Ruswendi Permana Sandi Setiawan Sa’diyah, Maemunah Setiawan, Budi Rahayu Sidik, Fajar Mauliana Sidiq, Ridwan Siswahyudianto Sofia, Poppy Sopy Sopy Srihilmawati, Rostika Supriatna, Nisrina Khairunnisa Tamami, Muhammad Zaki Tanti Sri Wahyuni Temmy Widyastuti Temmy Widyastuti Temmy Widyastuti Tri Agustini Gandaresmi Ujang Ruslan Ulug'bek, Xoduk Usep Kuswari Vinia Marliyani Winci Firdaus Yayat Sudaryat Yudistira Fitra Sabarudin Yuliani Yuliani Yuliani Yuliani Yusuf, Dery Maulana Zuhdi, Hafidz Ali Zul Fahmi, Lisan Shidqi