Claim Missing Document
Check
Articles

ESTETIKA TARI SANDUR RONGGO BUDOYO TUBAN PADA ACARA SEDEKAH BUMI OLEH SISWA SMP NEGERI 3 TUBAN saputra, joko; yanuartuti, Setyo; sabri, indar; Juwariyah, Anik
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik Vol 8 No 1 (2025): April 2025
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v8n1.p1-15

Abstract

This study discusses the aesthetics of the Sandur Ronggo Budoyo Tuban Dance in the performance of the earth alms event by students of SMPN 3 Tuban. The Sandur dance is one of the traditional dances of the intangible cultural heritage of Tuban regency which has aesthetic value, beauty of movement, and symbolic meaning. This research aims to analyze the aesthetic elements contained in the dance, including aspects of movement, accompanying music, costumes, and expression abilities that represent cultural identity by the santur dancers, providing added value in maintaining and introducing local culture to the younger generation. This study uses a qualitative method with direct observation and interviews with art actors, dance coaches, dancers and performance documentation. The performance of SMPN 3 Tuban students succeeded in displaying the beauty and uniqueness of the Sandur Ronggo Budoyo Dance. The values contained include the values of ethics, please help and tolerance
Pembelajaran Violin Berbasis Kurikulum Belajar dan Bermain di Komunitas Musik POSS Surabaya Putro, Ragil Anggoro; Yanuartuti, Setyo; Handayaningrum , Warih; Trisakti
Grenek: Jurnal Seni Musik Vol. 14 No. 1 (2025): Grenek: Jurnal Seni Musik (June)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/grenek.v14i1.65648

Abstract

Komunitas musik POSS adalah salah satu komunitas musik di Surabaya yang masih eksis dari dulu hingga saat ini. Jenis penelitian ini adalah deskribtif kualitatif. Kurikulum yang ada pada komunitas ini menarik untuk diteliti. Keunggulan komunitas ini adalah pembelajarannya yang berbasis di lapangan dan interaksi langsung dengan penonton serta menekankan pembelajaran yang menyenangkan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa kurikulum pembelajaran violin yang ada pada komunitas Musik POSS. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pembelajaran violin dalam komunitas ini menggunakan kurikulum yang fleksibel dan terbuka untuk siapa saja yang mau berkontribusi, dengan catatan pedoman atau patokan adalah teori Suzuki violin book. Pengumpulan data menggunakan beberapa teknik mulai dari observasi, wawancara, serta dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan pengumpulan data, kemudian dirangkum, kemudian data disajikan.
Keris Siamang Tunggal Alih Wahana Film Upin & Ipin: Representasi Identitas Budaya dan Nilai Pendidikan dalam Teater Pendidikan Basri, Syaiful Qadar; Yanuartuti, Setyo
Jurnal Pendidikan Sendratasik Vol 14 No 1 (2025): Jurnal Pendidikan Sendratasik
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article explores the educational theater adaptation of the film Upin & Ipin: Keris Siamang Tunggal by students of the Sendratasik Education Study Program at Universitas Negeri Surabaya. Using a qualitative-descriptive method, the study analyzes how this adaptation communicates cultural identity and educational values to a student audience. The theatrical adaptation, developed as a final project for the "Teater Pendidikan course," highlights local wisdom, multiculturalism, and character education. By examining the process and performance during the implementation of Phase D in the course, this paper illustrates how educational theater serves as a medium of learning, value transformation, and identity reinforcement in performing arts education.
Pedagogical Development of the Remo Bapang Jatiduwur Dance for Instructional Use at Sanggar Tri Purwo Budoyo Biantoro, Aditya Putra; Yanuartuti, Setyo; Rahayu, Eko Wahyuni
Lectura : Jurnal Pendidikan Vol. 16 No. 2 (2025): Lectura: Jurnal Pendidikan
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/pr0v0f35

Abstract

The Bapang dance within the Wayang Topeng Jatiduwur tradition in Jombang has experienced a significant decline due to a lack of regeneration, rendering it dormant for years. This study addresses the urgent need for choreographic reconstruction and development of the Remo Bapang Jatiduwur dance as a creative effort to preserve and reintroduce it to contemporary audiences. The objectives are twofold: (1) to describe the choreographic development process of Remo Bapang Jatiduwur as instructional material at Sanggar Tri Purwo Budoyo, and (2) to evaluate its feasibility for pedagogical implementation. The research is grounded in two theoretical frameworks: artistic reconstruction and choreographic development, combined with the concept of studio-based teaching materials. Methodologically, it integrates the Four-D development model (Define, Design, Develop, Disseminate) by Thiagarajan and Hawkins art creation process (exploration, improvisation, and forming). The findings reveal the creation of two choreographic works: a reconstructed version that revives traditional nuances, and a contemporary adaptation designed for educational relevance and inclusivity. Validation by experts and field testing at the studio showed strong cultural resonance, technical feasibility, and learner engagement. This study concludes that the developed choreography is viable for instructional use and contributes meaningfully to the revitalization of local performing arts, providing a sustainable model for heritage-based dance education.
MINIMNYA WADAH SENI TEATER DI KABUPATEN TUBAN : UPAYA PENGENALAN DAN PENGEMBANGAN SENI TEATER DI TENGAH MASYARAKAT Karunia, Adinda Rhizky; Yanuartuti, Setyo
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 22, No 2: September 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v22i2.14471

Abstract

Penelitian ini mengkaji penyebab kurangnya wadah seni teater di Kabupaten Tuban, dampaknya terhadap masyarakat, dan upaya pengembangan seni teater di daerah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun seni teater memiliki potensi besar sebagai media pendidikan dan pelestarian budaya lokal, berbagai kendala seperti minimnya dukungan pemerintah, kurangnya infrastruktur yang memadai, serta rendahnya apresiasi masyarakat terhadap seni teater menjadi faktor utama yang menghambat perkembangannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melibatkan wawancara mendalam dengan pelaku seni teater, tokoh masyarakat, dan pejabat pemerintah setempat, serta observasi langsung terhadap praktik seni teater di Kabupaten Tuban. Temuan penelitian menunjukkan perlunya kolaborasi erat antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi seni teater. Dengan adanya kebijakan yang mendukung, pelatihan intensif, serta penyelenggaraan festival seni teater, seni teater di Kabupaten Tuban diharapkan dapat berkembang, memperkaya kebudayaan lokal, dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya seni dalam kehidupan.
Penanaman Nasionalisme bagi Siswa Sekolah Indonesia Makkah melalui Pelatihan Tari Tradisional Jawa Timur Nurhadi, Didik; Yanuartuti, Setyo; Juwariyah, Anik
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 16, No 3 (2025): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v16i3.20990

Abstract

Nasionalisme dan sikap cinta pada budaya sendiri sangat penting untuk ditanamkan pada anak-anak Indonesia sebagai generasi muda. Penanaman nasionalisme dan cinta pada budaya bagi anak-anak ini berlaku untuk semua warga negara Indonesia, termasuk warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri. Salah satunya adalah anak-anak yang saat ini tinggal di Saudi Arabia, khususnya di sekolah Indonesia di Makkah. Penanaman nasionalisme dan cinta pada budaya dapat dilakukan melalui pengenalan nilai-nilai budaya Indonesia, seperti tari tradisional Jawa Timur. Tujuan pelatihan ini adalah menanamkan rasa nasionalisme siswa Sekolah Indonesia di Makkah melalui pengenalan tari tradisional. Metode kegiatan yang ditawarkan adalah pelatihan atau workshop tari yang disesuaikan dengan kondisi siswa yang belum mengenal seni tari Jawa Timuran. Materi tari yang dipilih adalah tari Kiprah Glipang yang berasal dari Probolinggo, dengan durasi 3 menit. Tari ini dirancang dan disusun dengan tingkat kesulitan yang rendah, agar mudah dipahami dan dilakukan bagi siswa yang awam seni tari. Materi ini juga dikemas dalam bentuk Video Tutorial yang dapat digunakan untuk latihan secara mandiri. Metode yang digunakan pelatihan langsung secara luring dan demonstrasi, serta terbimbing. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa memiliki respon yang baik terhadap pelatihan, meskipun mereka agak malu. Sebelum diberikan materi Tari Glipang, siswa dikenalkan dengan Jamu tradisional sebagai produk budaya Jawa. Dalam pelatihan peserta dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok laki-laki dan perempuan. Materi Glipang putri siswa putri, senang dan antusias mengikuti pelatihan. Pendidikan seni memang bukan hanya membelajarkan seni untuk seni itu sendiri, namun juga untuk menguatkan rasa bangga terhadap bangsa Indonesia.
Implementasi Deep Learning dalam Pembelajaran Tari Topeng Getak Berbasis TikTok di SMP Negeri 3 Pamekasan Jamila, Roro; Yanuartuti, Setyo; Juwairiyah, Anik; Sabri, Indar
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 11 No 4 (2025): Desember
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v11i4.30109

Abstract

This study aims to examine the application of the concept of deep learning based on mindful, meaningful, and joyful learning in learning Topeng Getak Dance at the Junior High School (SMP) level by utilizing the TikTok application as an interactive learning medium. Facing the challenge of attracting the interest of the younger generation to traditional arts, this approach offers a conscious, meaningful, and enjoyable learning experience. Through the use of TikTok as a creative medium, students are invited to actively explore dance movements in the form of videos, reflect on the meaning in each type of movement, and enjoy the learning process interactively. This study uses a descriptive qualitative method with observations, interviews, and documentation of junior high school students. The results of the study indicate that the application of the mindful-meaningful-joyful learning strategy based on TikTok can increase student engagement, understanding of cultural values, and strengthen the preservation of Topeng Getak Dance among the younger generation. These findings emphasize the importance of technology-based innovation in developing art learning models that are relevant to the digital era.
Reading Ponoragan Visual Culture on The Visual Development Phenomenon of Dhadhak Merak Reyog Ponorogo Naufal, Romzi Akram Al; Djatiprambudi, Djuli; Yanuartuti, Setyo
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol. 8 No. 1 (2024): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, JUNE 2024
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gondang.v8i1.57629

Abstract

The dhadhak merak is an iconic mask in Reyog Ponorogo. Over a very long period of time, the dhadhak merak has visually evolved into the form that is often seen today. The visual phenomenon then forms an image of Ponoragan visual culture that is interesting to explore in greater depth. This is what attracts the author's attention to focus on reviewing: 1) The phenomenon of visual development of dhadhak merak over time and 2) Reading Ponoragan visual culture in dhadhak merak. This research is a descriptive qualitative research, with data collection techniques using literature studies and archival documentation. In the process of reading the visual culture of dhadhak merak, the author conducted a review from several aspects, namely: visual structure, function, value, and meaning. The results of this study are 1) The dhadhak merak has undergone seven phases of development starting from its simple dhadhak to the form that is commonly found today. 2) The visual structure, function, historical value, and meaning of the dhadhak merak are constructed on the culture of the people of Ponorogo itself starting from the era of animism-dynamism, Hindu-Buddhism, Islam, to the present era. From that, the Ponoragan culture as a very strong identity marker can be reflected in the dhadhak merak visual culture artifact.
Aesthetic criticism of dancers' costumes at Jaranan Pegon's performance in Trenggalek Sugiarto, Mellany Octa Salsabila; Mariasa, I Nengah; Yanuartuti, Setyo
Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 18 No. 2 (2023)
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/dewaruci.v18i2.5191

Abstract

Aesthetic criticism serves as an evaluation of diverse forms of beauty perceived differently by individuals. Costumes worn by Jaranan Pegon dancers adhere to specific standards and regulations during performances, with the dancers donning Wayang Wong attire. This research aims to assess aesthetic criticism by investigating absolutism, anarchy, and relativism in the costumes of Jaranan Pegon dancers. The study employed a descriptive approach with a phenomenological method. The findings revealed that, in accordance with absolutism, Jaranan Pegon dancers' costumes must adhere to established standards or guidelines. From the perspective of anarchy, there is freedom in costume choices, allowing deviation from traditional rules. Relativism permits flexibility in attire, considering various presentation factors while still allowing departures from established guidelines. The significance of this research lies in exploring aesthetic criticism through the lenses of absolutism, anarchy, and relativism in the context of Jaranan Pegon dancers' costumes, shedding light on the varying standards and freedoms associated with costume choices in performances.
Metode Pembelajaran Solatmingkom dalam materi olah vokal kelas XI di SMA Maarif Nu Pandaan Larashati, Bunga Widiya; Trisakti, Trisakti; Martadi, martadi; Yanuartuti, Setyo; Sabri, Indar
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik Vol 5 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v5n1.p36-47

Abstract

Metode  pembelajaran menjadi hal yang penting dalam mencapai tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran seni musik berbasis action Learning  digunakan oleh guru SMA Maarif Nu Pandaan sebagai upaya atau bentuk inovasi dalam pembelajaran materi olah vokal kelas XI.  Salah satu bentuk action learning yang digunakan adalah metode solatmingkom dalam materi olah vokal guna meningkatkan kreativitas bernnyanyi dan kecerdasan musikal anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Lokasi Penelitian di SMA Maarif Nu Pandaan Jalan Ahmad Yani No 92 Pandaan Kabupaten Pasuruan. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik keabsahan data menggunakan trianggulasi data. Teknik analisis data meliputi pengumpulan data, reduksi data, menyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan strategi pembelajaran solatmingkom digunakan guru dalam materi olah vokal. Solatmingkom merupakan salah satu treatment yang berupa gabungan metode solfegio, latihan alam, hamming dan kompetisi. Solfegio digunakan untuk melatih kepekaan anak terhadap nada, ear training, membidik nada sehingga siswa dapat mengelola nada dengan baik. Latihan alam digunakan untuk meningkatkan power agar kualitas suara menjadi maksimal. Hamming merupakan treatmen guna melatih siswa agar mampu bernyanyi dengan nada tinggi dengan cara menutup mulut sehingga mampu membantu rongga hidung dan tenggorokan lebih terbuka. Kompetisi digunakan sebagai evaluasi akhir atau penilaian praktek yang digunakan guru sebagai stimulus agar siswa mampu menampilkan penampilan terbaik.