Claim Missing Document
Check
Articles

Preserving the Environment and Alleviating Poverty Through Household Waste Management Umi Wisapti Ningsih; Keppi Sukesi; Hesthi Utami Nugroho; Agustina Shinta
e-2477-1929
Publisher : Institute of Research and Community Service, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.19 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijleg.2015.001.02.3

Abstract

The household waste disposal problem eventuated from poverty wherein people overly exploited their natural environment, and those who suffered the greatest impacts of from it were always women. Therefore, this research was carried out in order to introduce a way to improve healthy living within households whilst also improving household income by implementing household waste management. The research was carried out from May to October 2010 using an action research method with an in-depth interview stage, and documentation study. Household waste management was implemented using the takakura method and the entrenchment method.  The results show that, in Probolinggo, only 4 baskets of takakurasuccessfully produced organic compost, while this methodfailed completely in Malang and Tulungagung. In Probolinggo, a local public figure’s role is very vital in determining the technological adoption of takakura and entrenchment. It was established that this was because the research participants in Malang and Tulungagung were not patient enough in looking after the takakura baskets. The entrenchment method was 100% successful in Probolinggo, and the organic compost, as the outcome of the entrenchment method, has been applied to their cornfields. In Malang the entrenchment method failedbecause it was difficult to find the household waste and the respondents were not enthusiactic nor motivated enough to participate in the program. The urban society having an increased public economic activity results in the household difficulty in adopting a new method of dsiposing waste. Tulungagung is a small city having same countryside areas with a dense agricultural activity and adequately available waste disposal area which results in insufficient time for households to change their way of disposing waste.Thus, future programs need awareness and commitment from the citizens to reduce the solid waste pollution of their environment, and there is a clear need to have an environmental cadre who works hard, has high empathy and care to the environment, and communicates well with the citizens; so that the natural resources can be preserved and the poverty within the households can be alleviate.Keywords: household waste management, environment, poverty 
Dampak Perubahan Sistem Pertanian Terhadap Pola Pembagian Kerja Secara Seksual Di Pedesaan (Studi Kasus Di Desa Nambakan, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri) Ratna Dewi Mulyaningtiyas; Keppi Sukesi
Indonesian Journal of Women's Studies Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembagian kerja secara seksual adalah pembagian kerja yang didasarkan atas jenis kelamin. Faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut ialah budaya, teknologi, kepadatan penduduk dan sistem usaha pertanian. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mendeskripsikan bentuk perubahan sistem pertanian yang ada di Desa Nambakan, 2) menganalisis bentuk pembagian kerja secara seksual di Desa Nambakan sebagai akibat dari perubahan sistem pertanian, 3) menganalisis kesenjangan antara laki-laki dan perempuan sebagai akibat dari perubahan sistem pertanian. Metode penelitian yang digunakan studi kasus. Jumlah informan ada 14 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan dokumentasi, wawancara mendalam dan observasi. Metode analisis data meliputi analisis deskriptif kualitatif, analisa gender Model Harvard. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil sebagai berikut: (1) Perubahan yang terjadi di dalam masyarakat Desa Nambakan dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2011 kerja adalah; a). perubahan pada teknologi pertanian, b). perubahan dalam pemasaran hasil pertanian, c). perubahan dalam pola kerja. (2). Bentuk pembagian kerja secara seksual yang dulunya perempuan hanya di ranah domestik dan produktif (off-farm) sekarang perempuan di ranah domestik, produktif (on-farm), sosial kemasyarakatan, serta  akses dan kontrol perempuan atas sumberdaya pertanian, (3) Adanya kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dilihat dari peran perempuan yang merangkap pekerjaan baik di ranah domestik maupun ranah produksi, dengan pembagian kerja yang memperkecil kesenjangan. Kata kunci: sistem pertanian, perubahan sosial, pembagian kerja, gender
Tingkat Kebahagiaan Perempuan Buruh Migran Indonesia (BMI) (Kasus Di Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang) Yeni Puspita Sari; Keppi Sukesi; Suhartini Suhartini
Indonesian Journal of Women's Studies Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap manusia pada dasarnya menginginkan kebahagiaan, Salah satunya adalah melalui peningkatan kesejahteraan. Terbatasnya lapangan pekerjaan, terutama di pedesaan membuat banyak masyarakat pedesaan berprofesi sebagai petani atau buruh tani. Tetapi, pekerjaan tersebut seringkali tidak menjamin kesejahteraan. Sehingga, banyak perempuan yang memutuskan untuk melakukan migrasi internasional dan bekerja di sektor informal. Namun, tidak semua orang selalu memperoleh kebahagiaan hidup meskipun kondisi kesejahteraannya meningkat, karena disebabkan oleh berbagai faktor seperti kekerasan dari majikan, overstay, gaji tidak dibayar, dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak migrasi internasional terhadap kebahagiaan perempuan Buruh Migran Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Unit analisis dalam penelitian ini adalah Buruh Migran Indonesia yang berasal dari keluarga petani dan telah purna dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, dengan jumlah 17 orang. Data diperoleh dengan cara wawancara yang berpedoman pada kuesioner dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan kebahagiaan pada beberapa indikator, yaitu kepuasan terhadap kesehatan, ketenangan, rasa takut, religiusitas, depresi, kelancaran penggunaan bahasa, alokasi waktu kerja dan waktu istirahat, serta hubungan dengan keluarga dan masyarakat, sehingga jika dihitung skor kebahagiaan responden menurun dari 38,95 menjadi 37,99. Akan tetapi, kemampuan membaca dan menulis responden meningkat melalui penguasaan bahasa asing dengan adanya pendidikan di PT. PJTKI. Pendidikan non formal responden juga mengalami peningkatan melalui kursus atau peningkatan pengalaman kerja dan adanya perubahan tutur kata maupun perilaku sopan santun melalui kebiasaan yang diperoleh di tempat kerja. Standar hidup responden juga mengalami peningkatan melalui pemilikan aset, seperti teknologi informasi, tanah/sawah, serta adanya peningkatan pendapatan keluarga melalui kontribusi remitan. Sehingga terjadi peningkatan kesejahteraan keluarga. Sebaiknya Pemerintah lebih banyak membuka lapangan pekerjaan bagi tenaga kerja Indonesia, khususnya perempuan mengingat adanya Moratorium pengiriman TKI pada tahun 2017, serta untuk mengurangi adanya praktek perdagangan manusia.   Kata kunci: Kebahagiaan, Perempuan, Buruh Migran Indonesia
Diplomasi Hibrida: Perempuan Dalam Resolusi Konflik Maluku Helmia Asyathri; Keppi Sukesi; Yayuk Yuliati
Indonesian Journal of Women's Studies Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1179.708 KB)

Abstract

Keberadaan perempuan diakui oleh masyarakat internasional sangat penting dalam proses penyelesaian konflik, namun menjadi persoalan lain ketika dihadapkan pada pertanyaan “dapatkah perempuan berperan sebagai agen resolusi konflik diluar pertemuan formal?”. Peneliti berniat menggali aktivitas perempuan di wilayah non-formal, sebagai bentuk Diplomasi Hibrida yang berpengaruh dalam resolusi konflik di Maluku. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif - kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan studi dokumentasi yang berlokasi di kota Ambon, Maluku.  Hasil penelitian ini mengidentifikasi konflik komunal di Maluku sebagai konflik sosial yang berkepanjangan, yang dinamikanya sesuai dengan model Protracted Social Conflict yang dikembangkan oleh Edward Azar. Namun berbeda dengan model Azar yang mainstream dan tidak sensitive gender, penelitian ini memperlihatkan peran perempuan di sektor informal seperti di pasar tradisional mampu mempengaruhi proses resolusi konflik Maluku. Aktifitas Papalele atau perempuan pedagang di kota Ambon, tanpa mereka sadari dapat membantu proses resolusi konflik. Perannya dalam tahapan Peacekeeping, Peacemaking, maupun Peacebuilding menjadikan mereka anomali dalam kajian resolusi konflik dan diplomasi. Dengan demikian, Papalele dan aktifitas perdagangannya di Ambon dapat dikatakan sebagai aktor dan aktifitas Diplomasi Hibrida.Kata Kunci: Diplomasi Hibrida, Resolusi Konflik, Protracted Social Conflict, Papalele, Isu Perempuan
Hubungan Faktor Sosial Ekonomi Dengan Tingkat Partisipasi Petani Dalam Program Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (Slpht) Padi Hamid Hidayat; Keppi Sukesi; Isromi Kusumawarni
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.186 KB)

Abstract

Keberhasilan program SLPHT sangat ditentukan oleh adanya partisipasi dari petani, baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan dan menikmati hasil. Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi, antara lain tingkat pendidikan, luas lahan, status sosial (pendapatan), motivasi mengikuti SLPHT, keberanian menanggung resiko dan intensitas kontak dengan penyuluh. Penelitian ini bertujuan untuk : mendeskripsikan faktor sosial ekonomi petani peserta program SLPHT padi di tempat penelitian, mendeskripsikan tingkat partisipasi petani dalam program SLPHT padi di tempat penelitian, dan menganalisis hubungan antara faktor sosial ekonomi dengan tingkat partisipasi petani dalam program SLPHT padi di tempat penelitian. Lokasi ditentukan secara purposive dan responden ditentukan secara sensus. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis Chi-Square Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Karakteristik sosial ekonomi responden adalah tingkat pendidikan masih rendah, luas lahan yang diusahakan relatif sedang, status sosial (pendapatan) relatif sedang, motivasi mengikuti SLPHT adalah untuk meningkatkan produksi, keberanian menanggung resiko tergolojng tinggi, dan intensitas kontak dengan penyuluh sedang/jarang dilakukan; 2) Tingkat partisipasi petani dalam program SLPHT padi mencapai 87,19% dan termasuk dalam kategori tinggi; 3) Secara keseluruhan, tidak terdapat hubungan antara faktor-faktor sosial ekonomi dengan tingkat partisipasi petani dalam program SLPHT padi. Kata Kunci : faktor sosial ekonomi, partisipasi, SLPHT padi
Dampak Lembaga Keuangan Mikro (Lkm) Terhadap Perubahan Sosial Ekonomi Petani Reza Safitri; Keppi Sukesi; Mufidatul Mila
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.18 KB)

Abstract

Setiap masyarakat hidup dalam bentuk dan dikuasai oleh lembaga-lembaga tertentu. Yang dimaksud lembaga adalah organisasi atau kaidah-kaidah, baik formal maupun informal, yang mengatur perilaku dan tindakan anggota masyarakat. (Mubyarto,1989).Kondisi para petani dan pengusaha pedesaan pada umumnya tidak bisa memenuhi ketentuan-ketentuan Bank Indonesia.Keberadaan keuangan mikro tidak dapat dipisahkan dari usaha-usaha penanggulangan kemiskinan.  Bahkan perhatian dan usaha untuk mengembangkan keuangan mikro terutama didasarkan pada motivasi untuk mempercepat usaha penanggulangan Pembangunan pertanian termasuk pula dengan adanya LKM (Lembaga Keuangan Mikro). Tujuan dari penelitian ini adalah: (1)Mendeskripsikan pelaksanaan kegiatan di Lembaga Keuangan Mikro (LKM) “Sahabat Tani”.(2).   Mendeskripsikan dampak  LKM “Sahabat Tani” terhadap perubahan sosial ekonomi petani Hasil penelitian yang diperoleh berdasarkan penelitian yang dilakukan adalah:1).Pelaksanaan kegiatan Simpan Pinjam Lembaga Keuangan Mikro LKM Sahabat Tani desa Bedali yang didirikan pada bulan September 2005 adalah organisasi lembaga keuangan yang didirikan untuk kepentingan petani/anggota dengan kegiatan utama yaitu kegiatan simpan pinjam. 2). Dengan demikian kehidupan sosial petani sebelum menjadi anggota LKM Sahabat Tani di desa Bedali yang terdiri dari nilai/norma, interaksi sosial,  sikap, pengetahuan dan ketrampilan adalah rendah. Setelah menjadi anggota LKM Sahabat Tani perubahan terhadap nilai/norma beradap pada skor 2,55 dengan presentase sebesar 85% dan kategori sedang, interaksi sosial mempunyai skor 2,45 dengan presentase sebesar 81,67% dan kategori sedang, sikap mempunyai skor 2,60 dengan presentse sebesar 86,67% beradap pada kategori sedang, pengetahuan mempunyai skor 2,70 dengan presentase sebesar 90% dan kategori sedang, untuk ketrampilan mempunyai skor 2,50 dengan presentase sebesar 83,33% dan kategori sedang. Perubahan ekonomi didapatkan sebelum menjadi anggota LKM Sahabat Tani indikator rata-rata skor jawaban  dengan presentse sebesar 66,66% dan kategori rendah. Setelah menjadi anggota LKM Sahabat Tani kehidupan ekonomi mempunyai rata-rata skor jawaban 2,57 dengan presentase sebesar 85,33% dan kategori tinggi.   Kata kunci: Dampak,Perubahan Sosial ekonomi, Petani
Peran Masyarakat Sekitar Desa Penyangga Dalam Konservasi Taman Nasional Alas Purwo Berbasis Kearifan Lokal Eko Setiawan; Keppi Sukesi; Kliwon Hidayat; Yayuk Yuliati
Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi Vol 10, No 1 (2021): Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi
Publisher : Pendidikan Sosiologi FIS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/dimensia.v10i1.38862

Abstract

Penelitian ini menggambarkan kehidupan masyarakat sekitar kawasan desa penyangga Taman Nasional Alas Purwo, khususnya Dusun Kutorejo Desa Kalipait yang memiliki kearifan lokal berupa sejumlah tradisi, berupa aturan atau pantangan yang masih berlaku secara turun temurun. Kearifan lokal ini memiliki nilai kecerdasan ekologis yang dipelihara dan dikembangkan dan dipelajarinya tentang hubungan aktivitas manusia dengan ekosistemnya. Kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat digunakan sebagai acuan dalam pengelolaan kawasan hutan dan perairan pantai, baik berupa mitos maupun pantangan. Pusat perhatian dari kajian ekologi menurut Julian Steward adalah proses adaptasi kultural terhadap lingkungan. Proses ini dipandang sebagai suatu bentuk hubungan dialektika dalam konteks hubungan saling ketergantungan dengan yang lain. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan dengan desain studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Alas Purwo memiliki kearifan lokal berupa sejumlah tradisi, aturan atau pantangan yang masih berlaku secara turun temurun yang kemudian dipelihara dan ditaati sampai sekarang. Pantangan tersebut berupa larangan membunuh burung merak serta pantangan dalam sistem payang.
Peran Kelembagaan dalam Program Upaya Khusus (UPSUS) Tanaman Jagung Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Timor Tengah Utara Marsianus Marsi Falo; Sugiyanto Sugiyanto; Keppi Sukesih; Yayuk Yuliati
AGRIMOR Vol 7 No 1 (2022): AGRIMOR - January 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/ag.v7i1.1361

Abstract

The involvement of all community components is a very important indicator for the success of the agricultural sector development process. The whole community can participate in agricultural development if the agricultural development program can be communicated according to regional conditions.The method used in this study is the Mix Method, which is a collaboration between quantitative and qualitative methods using a sequential explanatory model design where the first order uses quantitative methods, and the second uses qualitative methods. The population in this study were corn farmers who were members of the Corn Plant Upsus program in Insana District, TTU Regency, amounting to 270 farmers. the method of determining the size of the sample is calculated using the Slovin formula as many as 161 respondents. The primary data collection method is through a questionnaire that has been prepared in August-December 2019. Secondary data collection is carried out by collecting data from the Agriculture Service, BPS and related agencies.The analytical technique used in this study uses descriptive analysis, Miles and Hubermann analysis and Nvivo 12 analysis. The results of the analysis show that the characteristics of farmers (age is in the adult category, formal education, non-formal education is in the low category, farmer experience is in the high category, while broad In general, farmers are aware that there are government policies, institutions that provide capital, and the role of farmer groups but have not been utilized due to limited information that is less accessible to farmers.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRATEGI BERTAHAN HIDUP PEREMPUAN PULAU DI DESA GEDUGAN, PULAU GILIGENTING, KABUPATEN SUMENEP Ismi Aulil Wardani; Keppi Sukesi; Reza Safitri
SEPA: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 16, No 1 (2019): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/sepa.v16i1.29102

Abstract

Income is one of the factors that influence Island women to carry out a survival strategy. Not only that, there are still other factors that influence. These factors are collected in household asset capital, each of which is interrelated and there is also a factor that is most dominating among others. This study aims to identify and analyze the factors that influence the survival strategy in Gedugan Village, Giligenting Island and analyze the relationship between the factors that influence the survival strategy of island women. The method used is quantitative analysis by distributing questionnaires (Likert scale), observation and interviews. The sampling method used was random sampling with Slovin. The variables used in this study are financial capital, social capital, natural capital, physical capital and human capital, while the analytical method used is factor analysis and multiple linear regression analysis. The results showed that the most dominant and most influential factor on the survival strategy of Pulau Perempuan was financial capital.
Preserving the Environment and Alleviating Poverty Through Household Waste Management Ningsih, Umi Wisapti; Sukesi, Keppi; Nugroho, Hesthi Utami; Shinta, Agustina
International Journal of Social and Local Economic Governance Vol. 1 No. 2 (2015)
Publisher : Institute of Research and Community Service, University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ijleg.2015.001.02.3

Abstract

The household waste disposal problem eventuated from poverty wherein people overly exploited their natural environment, and those who suffered the greatest impacts of from it were always women. Therefore, this research was carried out in order to introduce a way to improve healthy living within households whilst also improving household income by implementing household waste management. The research was carried out from May to October 2010 using an action research method with an in-depth interview stage, and documentation study. Household waste management was implemented using the takakura method and the entrenchment method.  The results show that, in Probolinggo, only 4 baskets of takakurasuccessfully produced organic compost, while this methodfailed completely in Malang and Tulungagung. In Probolinggo, a local public figure’s role is very vital in determining the technological adoption of takakura and entrenchment. It was established that this was because the research participants in Malang and Tulungagung were not patient enough in looking after the takakura baskets. The entrenchment method was 100% successful in Probolinggo, and the organic compost, as the outcome of the entrenchment method, has been applied to their cornfields. In Malang the entrenchment method failedbecause it was difficult to find the household waste and the respondents were not enthusiactic nor motivated enough to participate in the program. The urban society having an increased public economic activity results in the household difficulty in adopting a new method of dsiposing waste. Tulungagung is a small city having same countryside areas with a dense agricultural activity and adequately available waste disposal area which results in insufficient time for households to change their way of disposing waste.Thus, future programs need awareness and commitment from the citizens to reduce the solid waste pollution of their environment, and there is a clear need to have an environmental cadre who works hard, has high empathy and care to the environment, and communicates well with the citizens; so that the natural resources can be preserved and the poverty within the households can be alleviate.Keywords: household waste management, environment, povertyÂ