Claim Missing Document
Check
Articles

Penerapan Konsep Kearifan Lokal Dalam Pengembangan Desa Wisata Nglanggeran Syahiffah, Syahda Siti; Mukti, Adelia Febriana; Fauzan, Adwardanu Akmal; Murtiningsih, Hana; Fazah, Meida Nur; Hadzami, Muhammad Al Fathdry; Rahmafitria, Fitri; Pratama, Armandha Redo
Journal of Tourism and Creativity Vol. 8 No. 2 (2024): Creative Tourism
Publisher : Rumah Jurnal UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jtc.v8i2.45413

Abstract

Desa wisata Nglanggeran termasuk dalam salah satu desa wisata terbaik dunia, tetapi dalam pengembangan desa wisata ini kearifan lokal masih kurang diterapkan, karena banyak bangunan tradisional yang berubah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengembangkan Konsep Sarana dan Prasarana berbasis Kearifan Lokal di Desa Nglanggeran. Melalui konsep ini, diharapkan dapat mengintegrasikan nilai-nilai budaya, tradisi, dan kearifan lokal ke dalam infrastruktur desa secara holistik. Adapun tujuan dari kajian ini adalah menganalisis sarana dan prasarana berbasis kearifan lokal di Desa Nglanggeran sebagai daya tarik wisata. Metode yang digunakan yaitu pendekatan deskriptif kualitatif untuk mendalami isu yang terkait. Teknik pengumpulan data adalah observasi lapangan secara langsung, yang mencakup melakukan wawancara dengan subjeknya yaitu pihak POKDARWIS (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga Wisata) Desa Wisata Nglanggeran, sebagai pemangku kepentingan utama dalam pengelolaan desa wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa membangun infrastruktur yang berbasis kearifan lokal mempunyai implikasi yang signifikan terhadap daya tarik wisata, terutama bagi yang memiliki perbedaan budaya dan tertarik pada wisata alam. Upaya yang memadukan kearifan lokal dengan pengembangan sarana dan prasarana dapat memberikan landasan yang kuat dalam menjaga dan meningkatkan daya tarik desa wisata Nglanggeran.Pengembangan sarana prasarana dengan penerapan kearifan lokal di Desa Wisata Nglanggeran perlu direalisasikan dengan selain pelestarian budaya lokal penerapannya mampu mengenalkan budaya lokal ke kancah internasional.
Pelatihan desa binaan siaga bencana untuk pengurangan resiko bencana gempa bumi dan longsor di Desa Suntenjaya Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat Wanjat Kastolani; Darsiharjo Darsiharjo; Iwan Setiawan; Fitri Rahmafitria
Jurnal Abmas Vol. 17 No. 1 (2017): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v17i1.38702

Abstract

Kecamatan Lembang di Kabupaten Bandung Barat merupakan salah satu daerah di Jawa Barat yang berada pada zona sesar Lembang dengan morfologi perbukitan membuatnya rawan bencana gempa bumi dan gerakan tanah seperti longsor. Potensi pertanian dan pariwisata menjadi ciri khas dari kecamatan ini, untuk mencegah masalah yang dapat ditimbulkan oleh gempa bumi dan gerakan tanah perlu adanya upaya pengurangan resiko bencana berbasis desa binaan, diharapkan dengan hal tersebut, masyarakat yang menjadi desa binaan ini menjadi lebih siaga terhadap bencana yang sewaktu-waktu akan terjadi. Laporan akhir pelatihan desa binaan untuk pengurangan resiko bencana longsor dan gempa bumi menunjukkan nilai positif yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat antara lain: (a) pengenalan kebencanaan di Indonesia, (b) bencana longsor, gempa bumi dan penyebabnya, (c) informasi geografis potensi bencana longsor dan gempa bumi di Desa Suntenjaya Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat, dan (d) mitigasi bencana longsor dan gempa bumi. Pembentukan kader/relawan warga siaga bencana dan desa binaan siaga bencana untuk menjalin komunikasi dalam upaya pembinaan mitigasi bencana.
Inovasi produk kriya dan seni pertunjukan melalui pemberdayaan masyarakat di Desa Sukaluyu Juju Masunah; Reni Haerani; Fitri Rahmafitria; Agus Ahmad Wakih
Jurnal Abmas Vol. 26 No. 1 (2026): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v26i1.228

Abstract

The development of culture-based tourism villages still faces obstacles to integrating artistic potential into the tourism system and creating sustainable economic value. One alternative that can be implemented is educational tourism arts that combine elements of art, education, and tourist participation in an integrative empowerment model. The objective of this activity is to develop innovative bamboo woven craft products and Angklung Sered performances as tourist attractions in Sukaluyu Village. The method used is community-based participatory research. Partners involved in this activity are the Sered Angklung Studio and the village's Youth Organization. The activity stages include partner determination, problem identification, needs mapping, innovation formulation, program socialization, training, technology implementation, mentoring, and evaluation. The results of the activity indicate that the Sered Angklung Studio can produce educational tourism arts innovations that are more participatory, concise, interactive, and engaging, and that contain educational value. Meanwhile, the Youth Organization developed miniature traditional kitchen utensils as a learning medium based on local wisdom, with both educational and economic value. These two innovative products were then integrated into the development of the pilot tourism village. In addition to producing innovative cultural products, this activity strengthens the role of cultural education, expands community participation, and creates new economic opportunities for residents.
Pelatihan pemanfaatan limbah ternak untuk pertanian tanpa olah tanah di Desa Sukamaju, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung Wanjat Kastolani; Fitri Rahmafitria; Ghoitsa Rohmah Nurazizah; U Supriatna
Jurnal Abmas Vol. 22 No. 2 (2022): Jurnal Abmas
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/abmas.v22i2.52935

Abstract

Topographically, Cimaung is in the form of hills and mountains with slopes above 30%. Slopes above 30% should only be used for moderate grazing, designated as nature reserves or planted with perennials. However, the reality on the ground is that the conditions that occur in Cimaung District are used as agricultural land and intensive horticulture carried out by rural communities. Based on observations, the vegetable plants that dominate the Cimaung District are mustard plants. The majority of mustard greens farmers are very intensive in using chemical fertilizers. Increasing agricultural production intensively by using chemical fertilizers, pesticides and other chemical compounds on a large scale by farmers often causes damage to the soil and the environment. To reduce the risks that have been caused by the use of these chemicals, it is necessary to balance it with the use of organic materials such as post-harvest crop residues and livestock waste. Utilization of livestock waste which has a function as compost which can be applied directly without tilling the soil needs to be socialized to farming communities who have used chemical fertilizers a lot. Changing the habits of farmers will not be easy, but efforts must still be made. Based on this, it is necessary to socialize and train the utilization of livestock waste for agriculture without tillage in the form of community service. The method of community service activities is lectures to provide material and direct practice in the field.   Abstrak Cimaung secara topografi adalah berupa perbukitan dan pegunungan dengan kemiringan lereng di atas 30%. Kemiringan lereng di atas 30% seharusnya hanya digunakan untuk pengembalaan sedang, dijadikan cagar alam atau ditanami tanaman keras. Namun demikian kenyataan di lapangan kondisi yang terjadi di Kecamatan Cimaung banyak dijadikan lahan pertanian sawah maupun hortikultura secara intensif yang dilakukan oleh masyarakat pedesaan. Berdasarkan pengamatan, tanaman sayuran yang mendominasi Kecamatan Cimaung adalah tanaman sawi. Mayoritas petani sawi sangat intensif dalam penggunaan pupuk kimia. Meningkatkan produksi pertanian secara intensif dengan pemakaian pupuk kimia, pestisida dan senyawa-senyawa kimia lainnya secara besar-besaran oleh petani sering menimbulkan kerusakan tanah dan lingkungan. Untuk mengurangi risiko yang sudah ditimbulkan dengan pemakaian bahan-bahan kimia tersebut, perlu diimbangi dengan pemakaian bahan organik seperti sisa tanaman pascakapen dan limbah ternak. Pemanfaatan limbah ternak yang memiliki fungsi sebagai kompos yang langsung dapat diaplikasikan tanpa mengolah tanah perlu untuk disosialisasikan pada masyarakat petani yang selama ini banyak menggunakan pupuk kimia. Untuk mengubah kebiasaan petani memang tidak akan mudah, akan tetapi tetap harus diusahakan. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu adanya sosialisasi dan pelatihan pemanfaatan limbah ternak untuk pertanian tanpa olah tanah dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Metode kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah ceramah untuk pemberian materi dan praktik langsung di lapangan. Kata Kunci: limbah ternak; pertanian; tanpa olah tanah
EFEKTIVITAS KEBIJAKAN PERDA KABUPATEN BANDUNG NO. 07 TAHUN 2020 TERHADAP PENCAPAIAN DESA WISATA ALAMENDAH Zakiyah Nur Sholihah; Ayulia Nirwani; Tresna Bela; Fitri Rahmafitria
JURNAL EKONOMI BISNIS DAN MANAJEMEN (EKO-BISMA) Vol 4 No 2 (2025): JURNAL EKONOMI BISNIS DAN MANAJEMEN (EKO-BISMA)
Publisher : PUBLISHER ABISATYA DINAMIKA ISWARA PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58268/eb.v4i2.211

Abstract

Tourism villages serve as a government strategy to promote equitable development in economic, social, and human resource sectors through the utilization of local potential. The Bandung Regency Government established Regional Regulation No. 07 of 2020 as a legal framework to regulate and guide the sustainable development of tourism villages. This study aims to analyze the effectiveness of the implementation of Regional Regulation No. 07 of 2020 on the achievement of Alamendah Tourism Village as an advanced tourism village in Bandung Regency. The research employs a qualitative approach with policy analysis based on the six evaluation criteria proposed by William N. Dunn, namely effectiveness, efficiency, adequacy, equity, responsiveness, and appropriateness. The findings indicate that the regulation has been effective in encouraging the development of Alamendah Tourism Village through economic empowerment, cultural preservation, and sustainable environmental management. Furthermore, the success of this policy implementation is supported by strong community participation and collaboration among various stakeholders. Keywords: Tourism Village; Policy Analysis; Community Participation
Analisis Daya Dukung Wisata Lava Tour di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Dhea Anisa Lutfiyanti; Anisa Pitriani; Sri Lestari; Ilyasa Irfan; Deval Margen Sagita; Putti Nur Amaliah; Widyanitha Suganti; Fitri Rahmafitria
Jurnal Lanskap Indonesia Vol. 16 No. 2 (2024): Jurnal Lanskap Indonesia
Publisher : http://arl-faperta.ipb.ac.id/

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jli.v16i2.52814

Abstract

Dengan kemajuan pariwisata yang pesat dan pengembangan wisata melalui aktivitas wisata Lava Tour di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), manfaat ekonomi telah terwujud melalui peningkatan kunjungan wisatawan. Namun, peningkatan kunjungan juga berpotensi menimbulkan dampak negatif karena dapat menyebabkan gangguan terhadap sumber daya. Memperhitungkan potensi pariwisata yang dimiliki oleh TNGM dan keterbatasan sumber daya alamnya, diperlukan analisis yang mendalam dengan mempertimbangkan potensi fisik dari kawasan tersebut. Analisis daya dukung pariwisata menjadi suatu keharusan untuk mengidentifikasi sejauh mana kawasan ini dapat menanggung tekanan pariwisata. Penilaian daya dukung dilakukan untuk mengetahui batas maksimum jumlah pengunjung yang berada di area tersebut pada satu waktu. Perhitungan daya dukung pada penelitian menggunakan rumus Cifuentes yang terdiri dari Daya Dukung Fisik/PCC, Daya Dukung Riil/RCC dan Daya Dukung Efektif/ECC. Pengumpulan data melalui dokumentasi foto, wawancara, dan studi literatur. Hasil Perhitungan daya dukung wisata dengan aktivitas wisata Lava Tour memperoleh PCC sebesar 4.340 pengunjung/hari, RCC sebesar 3.181 pengunjung/hari, dan ECC sebesar 882 pengunjung/hari. Nilai daya dukung tersebut jika dibandingkan dengan jumlah wisatawan aktual 1.000-1.500 pengunjung/hari, maka untuk PCC masih dibawah nilai daya dukung fisiknya, sedangkan secara aktual untuk RCC dan ECC telah melampaui batas jumlah kunjungan dalam sehari.
ANALISIS USAHA PARIWISATA DALAM MENGHADAPI RISIKO BENCANA ALAM DI KECAMATAN LEMBANG Akbar, Moch Aditya; Rahmafitria, Fitri; Nurazizah, Ghoitsa Rohmah
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 3, No 2 (2020): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v3i2.26414

Abstract

ABSTRAKPeluang terjadinya bencana di kawasan wisata alam selalu ada, sehingga ketahanan usaha pariwisata menjadi isu yang penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesiapan usaha pariwisata khususnya UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) dalam menghadapi potensi bencana di masa yang akan datang. Empat indikator yang digunakan untuk mengklarifikasi yaitu kesiapan UMKM pariwisata, kesadaran dan pemahaman terhadap potensi bencana, aspek bahaya, dan aspek kerentanan. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara semi-terstruktur dengan pemilik usaha pariwisata yang mencakup bidang usaha akomodasi, pusat oleh-oleh, serta usaha perjalanan wisata. Hasil wawancara diubah menjadi transkrip lalu direduksi menghasilkan kode bentuk kesiapan UMKM pariwisata dalam menghadapi bencana sesuai standar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dari skala tinggi hingga rendah.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh UMKM mempunyai kesadaran akan potensi bencana pada tingkat sedang. Mayoritas UMKM skala besar memiliki kesiapan yang lebih tinggi, sedangkan UMKM kecil hanya sadar akan adanya potensi bencana. Sementara itu, seluruh UMKM memiliki tingkat kerentanan bencana alam yang tinggi. Secara keseluruhan masih terdapat UMKM baik skala tinggi maupun rendah yang memiliki risiko bencana yang tinggi, sehingga dibutuhkan rencana mitigasi yang melibatkan seluruh stakeholder, melalui koordinasi yang efektif dari pemerintah daerah.Kata Kunci: Kesiapan menghadapi bencana, risiko bencana, usaha  pariwisata, wisata alamTOURISM BUSINESS RISK ANALYSIS IN FACING NATURAL DISASTERS IN LEMBANG REGENCYABSTRACTThis study aims to identify the readiness of tourism businesses, especially MSMEs (Micro, Small and Medium Enterprises) in facing potential natural disasters in the future. The method used in this research is a qualitative approach by using four indicators to analyze the readiness, namely clarification of tourism SMEs, awareness and understanding of potential disasters, aspects of danger, and aspects of vulnerability. Data collection was carried out through semi-structured interviews with tourism business owners covering the accommodation business, souvenir centers, and tourist travel businesses. The interview results were changed to the transcript and then reduced to produce a code of tourism MSME readiness in facing disasters according to the National Disaster Management Agency (BNPB) standards from high to low scale. Drawing conclusions from the findings states that all MSMEs are aware of potential disasters at a moderate level. The majority of MSMEs with more excellent assets and income have better-planned preparation for dealing with disasters in the future. In comparison, MSMEs that have smaller income levels are only aware of the potential for disasters. For the vulnerability level, tourism SMEs in the District of Lembang has a high vulnerability to disasters. The aspects studied to measure the level of vulnerability are economic, social, and physical aspects. From the disaster's risk level, tourism MSMEs that become the research sample have different results from each MSME classification studied. There are three tourism MSMEs included in the micro, small and medium classification at the high-risk level. For medium risks, there are no MSMEs that are included in this level of risk. There are five tourism MSMEs included in the micro and middle classification for the low-risk level. The suggestion that resulted from this research is a disaster prevention action plan whose plans involve all stakeholders, and their implementation is closely monitored. Keywords: Disaster risk, disaster mitigation, tourism business, tourism SME
The Effect of Tourism Accessibility Perception Towards Tourists Visiting Intention to Toba Lake in Samosir District Napitupulu, Dina Wati Veronika; Rahmafitria, Fitri; Rosita, Rosita
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 4, No 1 (2021): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (April Edition)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v4i1.32410

Abstract

ABSTRACTThis study aims to see the effect of perceptions received by tourists visiting intention to Toba Lake, Samosir Regency. A quantitative approach method was used by using statistical data in multiple regression analysis. The population was domestic tourists and the sample was 325 respondents who were obtained using random sampling techniques. The results were divided into (1) a significant effect and positive destination accessibility and simultaneously on the intention in tourist visits 2) the ability of the independent variables in explaining the related variables was 53.8% the remaining 46.2% from other variables not discussed in this study 3) the influence of accessibility variable on tourists' visiting intention is strong. From these results it can be concluded that accessibility according to the Apollo concept needs to be improved by the manager of tourist destinations at Toba Lake because the role of accessibility affects the intention to visit tourists to Toba Lake. Keywords: Real Accessibility, Destination Accessibility, and Visiting Intention 
Visitor Management Concept Through Carrying Capacity Analysis In Forest Recreation Jamin, Aziean; Rahmafitria, Fitri
Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation Vol 5, No 1 (2022): Journal of Indonesian Tourism, Hospitality and Recreation (April Edition)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jithor.v5i1.46821

Abstract

A b s t r a c tKawah Putih Forest Recreation (KPFR) is a tourism area with beautiful and unique scenery, functioning as biodiversity conservation and protection of Presbylis comata, an endemic primate of West Java. Because of its complex function, the use of the area for tourism should consider carrying capacity aspect. Carrying capacity is identified from three factors; those are physical carrying capacity (PCC), real carrying apacity (RCC) and effective carrying capacity (ECC). The calculation resulted from these three factors are then compared to the actual condition in KPFR.  This research showed that physically the crater area of KPFR could accommodate 986 visitor/day (PCC). The result also showed that according to the specific characteristic of the area KPFR could accommodate 255 visitors/ day (RCC), while in its management capacity, the mode of local transportation in KPFR only able to carry 98 visitors/ day (ECC). A b s t r a kHutan Rekreasi Kawah Putih (KPFR) merupakan kawasan wisata dengan pemandangan yang indah dan unik, berfungsi sebagai konservasi keanekaragaman hayati dan perlindungan Presbylis comata, primata endemik Jawa Barat. Karena fungsinya yang kompleks, maka pemanfaatan kawasan untuk pariwisata harus memperhatikan aspek daya dukung. Daya dukung diidentifikasi dari tiga faktor; yaitu daya dukung fisik (PCC), daya dukung nyata (RCC) dan daya dukung efektif (ECC). Hasil perhitungan dari ketiga faktor tersebut kemudian dibandingkan dengan kondisi sebenarnya di KPFR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara fisik kawasan kawah KPFR mampu menampung 986 pengunjung/hari (PCC). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa sesuai dengan karakteristik spesifik kawasan KPFR mampu menampung 255 pengunjung/hari (RCC), sedangkan dalam kapasitas pengelolaannya, moda transportasi lokal di KPFR hanya mampu mengangkut 98 pengunjung/hari (ECC).
Analisis Implementasi Masterplan Pengembangan Kawasan Geopark Kabupaten Sukabumi 2019 Terhadap Pemberdayaan Masyarakat Lokal Di Geopark Ciletuh – Palabuhanratu Muqsitul Fajar, Abdul Syahid; Aulia, Lailatul; Rachmat, R. Deden Sunmendar; Rahmafitria, Fitri
Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya Vol 14, No 2 (2023): Jurnal Khasanah Ilmu - September 2023
Publisher : Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/khi.v14i2.16191

Abstract

Geopark atau taman bumi adalah suatu wilayah yang memiliki warisan geologi yang didukung oleh keragaman geologi, keragaman hayati dan keragaman budaya didalamnya. Pengembangan kawasan geopark haruslah menjunjung tiga pilar utama yaitu konservasi, edukasi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Salah satu bentuk pengembangan geopark adalah melalui geowisata dimana kekayaan geologi yang ada dikembangkan menjadi potensi pariwisata. Selain berfokus pada aspek konservasi dan edukasi, pengembangan geowisata sendiri tentu tidak luput dari keterlibatan masyarakat lokal sebagai penggerak pariwisata di dalamnya. Oleh karena itu, pemberdayaan masyarakat menjadi penting dalam peningkatan kualitas SDM pariwisata dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatat itu sendiri. Agar pengembangan dan pemberdayaan ini memiliki tolak ukur yang jelas, kemudian disusunlah Masterplan Pengembangan Kawasan Geopark Kabupaten Sukabumi di tahun 2019 yang lalu. Salah satu kebijakan yang tertulis adalah mengenai pedoman pemberdayaan masyarakat di Kawasan Geopark Ciletuh yang harus pro-poor, pro-growth, pro-jon dan pro-environment. Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan penelitian metode deskriptif kualitiatif dengan instrumen wawancara dan studi literatur untuk menjelaskan serta menafsirkan apakah pedoman pemberdayaan masyarakat yang tertuang di dalam masterplan ini berhasil dijalankan. Adapun temuan dari penelitian menyebutkan bahwa meskipun beberapa strategi seperti pendampingan dan pelatihan berhasil diupayakan, namun faktor-faktor seperti kemiskinan, tingkat pendidikan, literasi, kecakapan teknologi, pandemi, anggaran dan kebijakan pemerintah tetap menjadi kendala yang terus dihadapi oleh pengelola Geopark Ciletuh dalam usaha pemberdayaan masyarakat. Dibutuhkan pendekatan komunikatif dan waktu yang panjang agar kemudian pemberdayaan masyarakat ini dapat tercapai seutuhnya.
Co-Authors Agus Ahmad Wakih Akbar Nurseptian, Akbar Akbar, Moch Aditya Al-Ghaniy, Abudzar Amanda Rara Prameswari Anggi Ratna Juwita Anisa Pitriani Anjali Nurizki Putri Arief Rosyidie Armandha Redo Pratama Aulia, Indah Rahma Aulia, Lailatul Ayulia Nirwani Azgya, Sidik Rivadul Aziza, Tsania Azzahra, Kharisma Putri Azzahra, Yuzia Syaharani Bahreisy, Afghani Mahmuda Baskara, Kesit Hadi Budiarto, Ruslan Cepy Riyana, Cepy Daffa, Marthias Darsiharjo Dasiharjo Destyana Arifia Deval Margen Sagita Dewi, Nova Purnama Dhea Anisa Lutfiyanti Dirgahayani, Puspita Dona Ananda, Rizkya Tri Dona, Rizkya Tri Dyanta, Nabiila Ega Prakarsa Eliza Nazwa Shina Fadhlillah, Refi Farhan, Aries Fauzan, Adwardanu Akmal Fazah, Meida Nur Febriansyah, Muhammad G R Nurazizah Hadzami, Muhammad Al Fathdry Hanafie, Aryawidya Aulia Haryadi, Rafly Hasny Sutiarani Hera Oktadiana, Hera Heri Puspito Diyah Setiyorini Heru Purboyo Heru Purboyo Hidayat Putro, Heru Purboyo Hidayat Hindayani, Purna Hutapea, Rian Bastian Ilyasa Irfan Ismarizal, Beni Istiqomah Iwan Setiawan Jamin, Aziean Juju Masunah Juwita, Anggi Ratna Karim Suryadi Khairiah, Nur Ainun Khairunisa, Reiqa Kusumah, Ghoitsa Hudaiby Galih Leni Anggraeni Lia Yuliani Manik, Yonatan Krisna Masura, Maurin Putri Milani, Rivita Shafa Molinda Hotmauly Br Manik, Molinda Hotmauly Br Monika, Lela Mosyaftiani, Amarizni Muhammad Harits Insan Kamil, Muhammad Harits Insan Muhammad Nur Ali Darajat Mukti, Adelia Febriana Munauwarah, Izmi Muqsitul Fajar, Abdul Syahid Murtiningsih, Hana Najwa Zahratun Nisa Napitupulu, Dina Wati Veronika Natawiguna, Hyldan Neni Widaningsih Nisa, Najwa Zahratun Nurazizah, Ghoitsa Rohmah Nurhaliza, Hannissa Destriwani Nurihzany, Nazwa Nurvantina, Elis P, Pijar Dwi Istio Prabowo, Panji Alam Pramadika, Taukhid Prameswari, Amanda Rara Prasetya, Nabila Zahra Nur Puspito Dyah Setiyorini, Heri Putri Wafda Fauziah Putri, Anjali Nurizki Putri, Nasywa Rizqia Putriqu, Octaviana Putti Nur Amaliah Rachmat, R. Deden Sunmendar Rahmafitria, Sandra Ramadhan, Andrian Ramadhan, Muhammad At Thariq Ratnafury, Dea Intan Novia Raynaldi, Rizki Refi Fadhlillah Reiza Miftah Wirakusuma, Reiza Miftah Reni Haerani Romadhon, Mohamad Riski Rosita - Rosita Rosita Rosita Rosita Salsabila, Audita Saputro, Dimas Kurniawan Seila Zanuar Septiani, Astri Rahmawati Shina, Eliza Nazwa Sri Lestari Sri Marhanah, Sri SS, Vani Yuniastoeti Sutiarani, Hasny Syahiffah, Syahda Siti Tresna Bela Triyana, Rafli Tsania Aziza U Supriatna U Supriatna Upi Supriatna, Upi Wanjat Kastolani Wanjat Kastolani Widagdo, Kalih Dzikraa Widyanitha Suganti Wijaya, Aurel Reynata Wiyoga, Harityas Zahra, Sabila Aulia Zakiyah Nur Sholihah Zanuar, Seila