Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS MAKNA PUISI “TIRAM” DAN “TIRAMKU JAMA NIKU” PADA BUKU SAMPIAN Riskika, Septia; Ratu, Puja Bidi; Prayogi, Rahmat; Hayati, Dwi
JURNAL SELAKSA MAKNA Vol. 1 No. 1 (2025): JURNAL SELAKSA MAKNA
Publisher : PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA LAMPUNG, FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/selaksamakna.v1i1.368

Abstract

Penelitian ini menganalisis tentang makna yang terkandung dalam puisi “Tiram” dan “Tiramku Jama Niku” yang terdapat dalam buku sampian. Metode penelitian menggunakan metode studi pustaka. Puisi yang diambil dari buku Sampian (Antologi Puisi Dwibahasa Lampung-Indonesia) Cetakan 1, ISBN 978-623-53150-5-8 Diterbitkan oleh pustaka LABRAK. Dalam penelitian puisi “Tiram” dan “Tiramku Jama Niku” pada buku sampian memiliki perbedaan dan persamaan antara puisi “Tiram” dan “Tiramku Jama Niku”. Puisi “Tiram” dan “Tiramku Jama Niku” sama-sama memiliki makna yang tertuju untuk kekasih hati,mengingatkan tentang perjalanan hidup bersama orang tersayang, Susah dan senang yang selalu dilewati bersama, kenangan disetiap sudut dalam bentuk khayalan terlintas dan menjadi teringat kembali kepada kekasih hati, Serta ingatan masa-masa patah hati yang dialami yang mengakibatkan harusnya diakhiri hubungan kasih bersama kekasih hati. Sedangkan perbedaannya yaitu yang meliputi, Pada puisi “Tiram” menjelaskan tentang kerinduan terhadap kekasih pada masa-masa sekolah dengan beberapa tempat yang membuat kembali mengingat sang kekasih hati. Sedangkan pada puisi “Tiramku Jama Niku” menjelaskan tentang kerinduan, namun kerinduan yang dimaksud didalamnya bukan mengingatkan tentang kerinduan akan hal indah, namun lebih kepada rindu karena teringat masa-masa kelam dan patah hati karenanya, banyaknya penyesalan dan kabut hitam yang memebayanginya. Jadi, perbedaannya hanya terletak pada bagaimana arti rindu itu sendiri tersampaikan secara berbeda. This research analyzes the meaning contained in the poems "Tiram" and "Tiramku Jama Niku" contained in the Sampian book. The research method uses the library study method. Poetry taken from the book Sampian (Lampung-Indonesian Bilingual Poetry Anthology) Print 1, ISBN 978-623-53150-5-8 Published by LABRAK library. In researching the poems "Tiram" and "Tiramku Jama Niku" in the accompanying book, there are differences and similarities between the poems "Tiram" and "Tiramku Jama Niku". The poems "Tiram" and "Tiramku Jama Niku" both have meanings aimed at the lover of the heart, reminding of the journey of life with loved ones, the difficulties and joys that are always passed together, memories in every corner in the form of fantasies flash and become remembered again by the lover heart, as well as memories of times of heartbreak that resulted in the end of the love relationship with your lover. While the differences include, the poem "Oysters" explains the longing for a lover during school days with several places that make you remember your lover again. Meanwhile, the poem "Tiramku Jama Niku" explains longing, but the longing referred to in it is not a reminder of longing for beautiful things, but rather longing because of remembering dark times and being heartbroken because of them, the many regrets and the black fog that hangs over them. So, the difference only lies in how the meaning of longing itself is conveyed differently.
UPAYA MELESTARKAN BUDAYA LAMPUNG SERUIT SEBAGAI SIMBOL KEBERSAMAAN DALAM BUDAYA KULINER LAMPUNG Anggraini, Sabryna; Shantiya, Dela; Prayogi, Rahmat; Nurlelawati, Nurlelawati
JURNAL SELAKSA MAKNA Vol. 1 No. 1 (2025): JURNAL SELAKSA MAKNA
Publisher : PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA LAMPUNG, FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/selaksamakna.v1i1.369

Abstract

Seruit adalah salah satu kuliner khas Lampung yang memiliki nilai filosofis mendalam terkait kebersamaan dan keharmonisan sosial. Tradisi ini bukan hanya mengutamakan cita rasa, tetapi juga mencerminkan semangat gotong royong dan penghormatan terhadap leluhur. Seruit menjadi simbol penting dalam kehidupan sosial masyarakat Lampung, terutama dalam acara adat dan pertemuan keluarga. Namun, dalam era modernisasi dan globalisasi, tradisi ini menghadapi tantangan besar, seperti perubahan gaya hidup dan berkurangnya minat generasi muda terhadap kuliner tradisional. Untuk itu, pelestarian seruit memerlukan berbagai upaya yang melibatkan masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta. Upaya ini bisa dilakukan dengan mengenalkan seruit melalui media sosial, pengembangan produk seruit modern, serta mengadakan festival kuliner. Pelestarian seruit juga membuka peluang bagi pengembangan ekonomi daerah, khususnya dalam sektor pariwisata dan kuliner. Seruit berpotensi menjadi ikon budaya Lampung yang mendunia, memperkenalkan budaya lokal sambil meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keberlanjutan tradisi seruit dapat memperkokoh identitas budaya Lampung dalam menghadapi tantangan zaman. Seruit is a traditional dish from Lampung, Indonesia, that holds profound philosophical values related to social harmony and togetherness. This tradition not only emphasizes flavor but also reflects the spirit of mutual cooperation and respect for ancestors. Seruit serves as a vital symbol in the social life of the Lampung community, particularly in traditional ceremonies and family gatherings. However, in the face of modernization and globalization, this tradition faces significant challenges, such as lifestyle changes and a decreasing interest among younger generations in traditional cuisine. Therefore, the preservation of seruit requires various efforts involving society, the government, and the private sector. These efforts could include promoting seruit through social media, developing modern seruit products, and organizing culinary festivals. The preservation of seruit also presents opportunities for local economic development, particularly in tourism and culinary sectors. Seruit has the potential to become a global cultural icon of Lampung, introducing local culture while improving community welfare. The continuity of the seruit tradition strengthens the cultural identity of Lampung in the face of modern challenges.
ANALISIS KONTRASTIF KATA SAPAAN/PANGGILAN DALAM KELUARGA PADA MASYARAKAT LAMPUNG DIALEK A/O Saputra, Dira; Firnanda, M. Evan; Prayogi, Rahmat; Riadi, Bambang
JURNAL SELAKSA MAKNA Vol. 1 No. 1 (2025): JURNAL SELAKSA MAKNA
Publisher : PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA LAMPUNG, FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/selaksamakna.v1i1.377

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menjelaskan fungsi ragam kata sapaan atau panggilan dalam hubungan kekerabatan terutama dalam keluarga yang ada di masyarakat Lampung baik dialek A/O. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif. Analisis data menggunakan analisis kontrastif yaitu membandingkan persamaan dan perbedaan dua bahasa yang sama. Data diperoleh dari hasil pengisian kuisioner yang dilakukan oleh mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Lampung di Universitas Lampung. Hasil penelitian menunjukkan banyaknya keberagaman kata sapaan yang ada ditengah masyarakat Lampung dari berbagai daerah. Variasi kata sapaan ini mengalami keseimbangan dalam Bahasa Lampung baik dari dialek A maupun dialek O. This study aims to analyze and explain the function of various greeting words or calls in kinship relations, especially in families in the Lampung community, both in the A/O dialect. This study uses a quantitative approach method. Data analysis used contrastive analysis, namely comparing the similarities and differences of the two languages. The data were obtained from the results of filling out a questionnaire conducted by students of the Lampung Language Education study program at the University of Lampung. The results of the study show that there is a great diversity of greeting words in the midst of the people of Lampung from various regions. This variation of greeting words experiences a balance in the Lampung language, both from dialect A and dialect O.
EKSPLORASI SENI GITAR TUNGGAL DI KELURAHAN KOMERING AGUNG Kurniawan, Aldo; Ronalta, Ratna Rahayu; Prayogi, Rahmat; Betnawati, Betnawati
JURNAL SELAKSA MAKNA Vol. 1 No. 1 (2025): JURNAL SELAKSA MAKNA
Publisher : PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA LAMPUNG, FKIP UNIVERSITAS LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/selaksamakna.v1i1.378

Abstract

Seni gitar tunggal Lampung di Komering Agung adalah manifestasi seni yang kaya dan beragam yang menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan identitas masyarakat di wilayah ini. Abstrak ini membawa kita dalam perjalanan melalui eksplorasi musik gitar tunggal, mengungkapkan akar sejarahnya, karakteristik uniknya, serta peran pentingnya dalam kehidupan sehari-hari dan perayaan budaya. Musik gitar tunggal ini merupakan ekspresi artistik yang mendalam dan beragam, mencerminkan kekayaan kreativitas dan keberlanjutan tradisi dalam masyarakat Komering Agung. Dengan menggali lebih dalam ke dalam seni gitar tunggal Lampung, kita dapat memahami bagaimana seni ini berfungsi sebagai penghubung antara dua masa yakni masa kini dan masa lalu, serta sebagai medium pendukung warisan budaya yang tak ternilai dalam masyarakat ini. Lampung solo guitar art in Komering Agung is a rich and varied artistic manifestation that is an inseparable part of the culture and identity of the people of this region. This abstract takes us on a journey through an exploration of solo guitar music, revealing its historical roots, unique characteristics, and important role in everyday life and cultural celebrations. This solo guitar music is a deep and varied artistic expression, reflecting the rich creativity and continuity of tradition in the Komering Agung community. By digging deeper into Lampung solo guitar art, we can understand how this art functions as a link between two eras, namely the present and the past, as well as a medium to support the invaluable cultural heritage of this society.
ANALISIS CULTURE SHOCK PADA PENDATANG BARU DALAM PENYESUAIAN PENGGUNAAN LOGAT DAERAH LAMPUNG Khotman, Desy Rahmawati; Amalia, Romaisya; Prayogi, Rahmat; Ubaidillah, Muhammad; Muhammad, Ulul Azmi
Jurnal Buana Kata: Pendidikan, Bahasa, dan Ilmu Komunikasi Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Buana Kata: Pendidikan, Bahasa, dan Ilmu Komunikasi
Publisher : Laboratorium Pembelajaran Bahasa, FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/buanakata.v2i1.786

Abstract

Penelitian ini dikaji untuk mengetahui bagaimana pengalaman culture shock atau gegar budaya yang dialami oleh pendatang baru di Lampung, khususnya dalam penyesuaian penggunaan logat daerah setempat. Culture shock merupakan kondisi psikologis di mana seseorang mengalami tekanan dan keterkejutan saat berhadapan dengan lingkungan dan budaya yang berbeda dari yang biasa mereka kenal. Masalah ini menarik untuk diteliti karena penggunaan logat yang berbeda dari bahasa asal sering kali memicu tantangan bagi pendatang, baik dalam aspek komunikasi maupun interaksi sosial, sehingga memperlambat proses adaptasi mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pendatang baru yang tinggal di Lampung dalam kurun waktu kurang dari dua tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendatang baru hampir selalu mengalami culture shock atau gegar budaya dengan berbagai tingkat dan bentuk, di mana mereka kerap merasa cemas, bingung, dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Meski begitu, dengan proses adaptasi yang baik dan dukungan lingkungan, mereka secara bertahap dapat menyesuaikan diri dengan budaya dan logat bahasa baru. This research was studied to find out how culture shock is experienced by newcomers in Lampung, especially in adjusting the use of local accents. Culture shock is a psychological condition in which a person experiences pressure and shock when dealing with an environment and culture that is different from what they are used to. This issue is interesting to study because the use of accents that are different from the language of origin often triggers challenges for migrants, both in aspects of communication and social interaction, thus slowing down their adaptation process. This research uses a qualitative method with a case study approach. Data was collected through in-depth interviews with newcomers who lived in Lampung for less than two years. The results showed that newcomers almost always experience culture shock with various levels and forms, where they often feel anxious, confused, in interacting and communicating. Even so, with a good adaptation process and environmental support, they can gradually adjust to the new culture and language accent.
PISAAN SEBAGAI WADAH PENANAMAN MORAL DALAM ACARA INTAR TERANG MASYARAKAT PAKUAN RATU Sanah Riah; Syifa Athiyyatus Zuhro; Rahmat Prayogi; Bambang Riadi
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 1 No. 2 (2024): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research study is used as a forum for instilling values ​​in society. The aim of the research entitled "pisaan as a forum for instilling moral ​​in wedding ceremonies in the Pakuan Ratu community" describes the function and role of pisaan in a society. Apart from being entertainment, Pisaan can also be used as a fun place for moral cultivation and of course has a different impression. This research uses qualitative descriptive research. Apart from being used as entertainment, it is also a place to instill moral values ​​in society. Because pisaan is a form of poetry which always contains advice for the bride. This advice will become a guide or guideline for the bride to make her family harmonious and happy. This piasaan is conveyed by singing. Usually at the intar bright event the pisaan is sung by the grandfather or grandmother from the girl's side as a farewell greeting and to give advice to the bride. Pisaan also serves as an accompaniment to the bride's release to the bridal car to go to the groom's house together with the entourage.   Kajian penelitian ini ialah pisaan sebagai wadah penanaman nilai pada masyarakat. Tujuan penelitian yang berjudul “Pisaan sebagai Wadah Penanaman  Moral dalam Acara  Intar Terang Pamasyarakat Pakuan Ratu” mendeskripsikan fungsi  dan peran pisaan dalam suatu masyarakat. Selain sebagai hiburan pisaan juga dapat digunakan sebagai wadah penanaman moral yang menyenagkan dan tentunya memiliki kesan yang berbeda. Penelitian ini menggunakan  penelitian deskriptif kualitatif. Selain digunakan sebagai sebuah hiburan pisaan menjadi wadah penanaman niali moral pada masyarakat. Sebab pisaan merupakan bentuk puisi yang isi di dalamnya selalu mengandung nasehat  untuk  mempelai wanita. Nasihat itulah  yang akan menjadi sebuah pegangan atau titian bagi  mempelai wanita agar menjadikan keluarganya harmonis dan bahagia. Piasaan  ini disampaikan dengan cara bernyanyi. Biasanya dalam acara intar terang  pisaan dilantunkan oleh bakas atau atu dari pihak gadis sebagai ucapakn perpisahan serta memberikan nasihat kepada mempelai wanita. Pisaan juga sebagai pengiring  pelepasan mempelai wanita menuju mobil pengantin untuk menuju ke rumah pihak laki-laki bersama di  dengan rombongan.
DAMPAK KULTURAL MAYORITAS JAWA TERHADAP MINORITAS LAMPUNG DI DESA PAREREJO Fitri Nur Hidayah; Lesti Susanti; Rahmat Prayogi; Bambang Riadi
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 1 No. 1 (2024): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to explore how Javanese culture influences the social and cultural life of the minority Lampung pelples. Using a qualitative approach, this research collected data through interviews and direct observation in the field. The research results show that the dominance of Javanese culture has resulted in changes in Lampung cultural values, including language, customs and social practices. Lampung people experience difficulties in maintaining their cultural identity, with the younger generation more likely to adopt Javanese language and traditions. This creates social tensions that can threaten the continuity of Lampung culture. Research also finds that despite acculturation, many elements of Lampung culture are marginalized. As a solution, it is important to increase awareness of Lampung’s cultural values ​​through education and preserving traditions. Community activities involving both ethnicities can help build mutual understanding and respect for diversity. This research emphasizes the need for collaboration between government and society to create a harmonious and inclusive environment for all ethnicities.   Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana budaya Jawa mempengaruhi kehidupan sosial dan budaya masyarakat Lampung yang menjadi minoritas. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara dan observasi langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dominasi budaya Jawa telah mengakibatkan perubahan nilai-nilai budaya Lampung, termasuk dalam bahasa, adat istiadat, dan praktik sosial. Masyarakat Lampung mengalami kesulitan dalam mempertahankan identitas budaya mereka, di mana generasi muda lebih cenderung mengadopsi bahasa dan tradisi Jawa. Hal ini menciptakan ketegangan sosial yang dapat mengancam keberlangsungan budaya Lampung. Penelitian juga menemukan bahwa meskipun ada akulturasi, banyak elemen budaya Lampung yang terpinggirkan. Sebagai solusi, penting untuk meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai budaya Lampung melalui pendidikan dan pelestarian tradisi. Kegiatan komunitas yang melibatkan kedua etnis dapat membantu membangun saling pengertian dan menghormati keberagaman. Penelitian ini menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang harmonis dan inklusif bagi semua etnis.
ANALISIS SASTRA BANDINGAN PADA PEPACCUR LAMPUNG DAN TAHULI GORONTALO DALAM UPACARA PEMBERIAN GELAR ADAT Nadila Ayu Putri; Nur Hikmawati Adinda; Rahmat Prayogi; Bambang Riadi
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 1 No. 1 (2024): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research analyzes the comparison between two types of traditional Indonesian poetry, Pepaccur Lampung and Tahuli Gorontalo, in the context of traditional title awarding ceremonies. This research aims to compare the theme, tone, message and function of the two types of poetry in traditional ceremonies. Using a comparative literary analysis approach, this research analyzes the differences and similarities between Pepaccur and Tahuli and explores the cultural implications contained in both. The qualitative descriptive analysis method was used in this research. Non-participant observation techniques and literature studies were used to collect data. The results of the analysis are presented using informal techniques, namely word formulation techniques. The findings of this research provide deeper insight into the diversity of traditional Indonesian literature and the role of poetry in strengthening local cultural identity.   Penelitian ini menganalisis perbandingan antara dua jenis puisi tradisional Indonesia, Pepaccur Lampung dan Tahuli Gorontalo, dalam konteks upacara pemberian gelar adat. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tema, nada, amanat dan fungsi kedua jenis puisi tersebut dalam upacara adat. Dengan menggunakan pendekatan analisis sastra komparatif, penelitian ini menganalisis perbedaan dan kesamaan antara Pepaccur dan Tahuli serta menggali implikasi budaya yang terkandung dalam keduanya. Metode analisis deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Teknik observasi non partisipan dan studi literatur digunakan untuk mengumpulkan data. Hasil analisis disajikan dengan menggunakan teknik informal yaitu teknik perumusan kata. Temuan penelitian ini memberikan wawasan yang lebih dalam tentang keragaman sastra tradisional Indonesia dan peran puisi dalam memperkuat identitas budaya lokal.
PELESTARIAN SASTRA LISAN WAWANCAN DALAM UPAYA MEMBANGUN KESADARAN BUDAYA GENERASI MUDA DI PEKON SUKARATU Azarine Kayla; Nanalia; Rahmat Prayogi; Bambang Riadi
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 1 No. 1 (2024): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wawancan oral literature is a cultural tradition rich in moral, ethical, and philosophical values. This tradition is typically performed during various customary events such as weddings and title bestowals (adok). However, modernization and globalization have led to a decline in younger generations' interest in this tradition, particularly in Pekon Sukaratu, Pringsewu Regency, Lampung. This study aims to document and preserve wawancan oral literature using a qualitative approach with a case study method. Data were obtained through in-depth interviews and field observations. The findings reveal that wawancan oral literature plays a significant role in strengthening the cultural identity of the Lampung community, yet its preservation faces challenges such as lack of documentation, limited government support, and the influence of modernization. This study recommends documenting wawancan in written and audio-visual formats, introducing cultural education in schools, and modernizing the tradition’s presentation to engage younger audiences. Government support and collaboration with local communities are essential for developing sustainable preservation strategies.   Sastra lisan wawancan merupakan tradisi budaya yang kaya akannilai-nilai moral, etika, dan filosofi hidup. Tradisi ini biasanya ditampilkan dalam berbagai acara adat seperti pernikahan dan pemberian gelar (adok). Namun, modernisasi dan globalisasi telah menyebabkan penurunan minat generasi muda terhadap tradisi ini, terutama di Pekon Sukaratu, Kabupaten Pringsewu, Lampung.Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan melestarikan sastra lisan wawancan melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh dari wawancara mendalam dan observasi di lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sastra lisan wawancan memiliki peran penting dalam memperkuat identitas budaya masyarakat Lampung, tetapi minimnya dokumentasi, dukungan pemerintah, serta pengaruh modernisasi menjadi tantangan besar dalam pelestariannya. Penelitian ini merekomendasikan dokumentasi dalam bentuk tulisan dan audio-visual, edukasi budaya di sekolah, serta pengemasan ulang tradisi dengan pendekatan modern untuk menarik minat generasi muda. Dukungan pemerintah dan kolaborasi dengan komunitas lokal juga diperlukan untuk menciptakan strategi pelestarian yang berkelanjutan.
MUATAN LOKAL BAHASA LAMPUNG DI SEKOLAH SEBAGAI STRATEGI PEMERTAHANAN DAN PELESTARIAN BAHASA DAERAH Sulistiyanti Khalizah; Nabila Trya; Rahmat Prayogi; Bambang Riadi
Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya Vol. 1 No. 1 (2024): Saka Bahasa: Jurnal Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Budaya
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research is to determine strategies for maintaining and preserving the Lampung regional language in schools through local content subjects. This research method applies literature study with a qualitative approach, which is considered an effective way to collect information. The object of this research is to identify strategies that can maintain the Lampung language, one of which is by incorporating local Lampung language content into the subjects. In addition, this maintenance and conservation strategy involves teachers as educators, students and the government in developing educational curricula that support regional languages ​​and the use of information technology to promote understanding and use of the Lampung language. It is hoped that the results of this research can contribute to participation in efforts to maintain and preserve the Lampung language.   Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pemertahanan dan pelestarian bahasa daerah Lampung di sekolah melalui mata pelajaran muatan lokal. Metode penelitian ini mengaplikasikan studi pustaka dengan pendekatan kualitatif, yang dianggap sebagai cara yang efektif untuk mengumpulkan informasi. Objek penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi strategi yang dapat mempertahankan bahasa Lampung, salah satunya dengan memasukkan muatan lokal bahasa Lampung ke dalam mata pelajaran. Selain itu, strategi pemertahanan dan pelestarian ini melibatkan guru sebagai pendidik, siswa, dan pemerintah dalam pengembangan kurikulum pendidikan yang mendukung bahasa daerah dan pemanfaatan teknologi informasi untuk mempromosikan pemahaman serta penggunaan bahasa Lampung. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam partisipasi upaya untuk mempertahankan dan melestarikan bahasa Lampung.
Co-Authors Abadi, Rizky Agung Achyari, Asrul Adelio Alvaro Aditama, Haryuda Afni, Vernia Nur Agustina , Dhita Aulia Ahmad Mu'is Ainunnisa, Aisyahvira Salwa Alfanny Pratama Fauzy Alfina Fistalita Ali Mustofa Ali Mustofa Alvindra, Alya Putri Amalia, Romaisya Amelia, Elda Anggraini, Dwi Susi Anggraini, Sabryna Annajar, M. Naufal Ardana, Rafli Dwi Aulia, Miya Aulia, Sindy Azarine Kayla Balqis, Syira Amanah Bambang Riadi Betnawati Betnawati, Betnawati Budiman , Ahmad Arif Celshy Audrielia Rahman Daffa Hibban Bahrisy Damayanti, Dwi Defi, Dini Ananda Delta Anggraeni Delvina Maulhy Azahra Hulu Destiana, Nindy Dewi Nur Azizah Dewi Ratnaningsih Dhaivina Gustiani Putri Dhalimah, Septia Diah Ayu Dwi Agustiana Putri Edi Suyanto Eka Sofia Agustina Eka Sofia Agustina Elly Nur Fatimah Fajri, Egi Gusti Al Faktiah, Harummi Fauzi , Irfan Felisa, Nadia Fifi Mutia Sari Filmansah, Een Firnanda, M. Evan Fitri Nur Hidayah Harummi Fakhtiah Hayati, Dwi Herga , Rafa Maritza Heru Prasetyo Hidayatullah, Maikel Humaira, Fannisa I Wayan Ardi Sumarta I Wayan Mustika Iqbal Hilal Irawan Suprapto Irawan, Putri Calista Irma Bela Oktaviana Jane, Cinta Adinda Nur Jimny, Zahra Adellia Dewi Joan Siswoyo Khairunnisa, Arsy Khairunnisa, Dinda Ferika Khotman, Desy Rahmawati Kouri Asyiah Kurniawan, Aldo Kurniawan, Rizaldi Yosep Kurniawati Kurniawati Kusuma, Nirma Fadia Lailatul Hidayati Latifah, Umun Lesti Susanti Lisna, Nova Maharani , Syifa Maharani, Salwa Pramesti Maharani, Serlia Marlisa, Ani Mawardi, Raisya Thania Meirita, S.Pd., M.Pd., Siska Melia Pitriyani Meyriska, Alya Selsa Mila Sari Mildawati, Arini Monica, Rosa Dina Muhammad Fuad Muhammad, Ulul Azmi Muharidha, Suharti Muharsyam Dwi Anantama Mulyanto Widodo Mulyanto Widodo Munandar, Muhammad Rafi Munaris Munaris . Mustika , I Wayan Nabila Trya Nabila, Julia Putri Nadila Ayu Putri Naewa Puarada, Friska Dewi Nahdliyya Izzatul Mutammimah Nanalia Nur Halimah Nur Hikmawati Adinda Nur, Darma Devanza Nurjanah, Vivi Baity Nurlaksana Eko Rusminto Nurlaksana Eko Rusminto Nurlelawati, Nurlelawati Prasetyo, Nereus Eko Purwoko, Agus Puspita, Citra Putri, Claudiana Omega Putri, Della Eka Putri, Meilinda Tiara Putri, Shelvia Putri, Shulamid Shania Permata Putri, Tania Aurellia Rahmatika, Zidny Rizka Rahmawati, Annisa Az-Zahra Ramadhany, Nurul Astry Rani Oktavia Ratu, Puja Bidi Razak, Oca Yuliza Reihan Franige Restiani, Kharisma Reza, Muhammad Arfa Riadi , Bambang Riadi, Bambang Rian Andri Andri Prasetya Rian Andri Prasetya Riansyah, Zadra Riskika, Septia Ronalta, Ratna Rahayu Sabilla Mukhtar, Amalia Safei Soleh Safitri, Dwi Rahma Safitri, Reni Septi Sagita, Hardi Sahmega, Bagus Salsabila, Atha Nabitha Salsabila, Elsya salsabila, safira Sanah Riah Saputra, Deni wahyu Saputra, Dira Sari, Arivia Tri Novita Sari, Ima Permata Septia Uswatun Hasanah Shantiya, Dela Sintia, Nindi Siti Hasanah HS Siti Samhati Soleh, Safei Solina Solina Sudirman Husin Sulistiyanti Khalizah Sumarti Sumarti Sumarti Sunarti, Iing Syah, Nur Irwan Syaiful Kiram Syifa Athiyyatus Zuhro Tiara Brilliant Triyani, Riska Sukma Ubaidillah, Muhammad Umun Latifah Utami, Annisa Widya Utari, Marya Utari, Marza Utari Wahyuni, Lena Wibowo, Duta Inovasi Yani, Mira Fitri Yanti, Dewi Yulianita, Dea Yunisa, Aulia Yustiana, Berlianna Asih Zafira, Dhiya Ulhaq ZR, Mutiara Ananda