Claim Missing Document
Check
Articles

Tribalisme Politik dan Kewarganegaraan: Pemetaan Tren Penelitian dan Lanskap Intelektual melalui Analisis Bibliometrik Database Scopus 2011-2025 Iqbal Prasetya Agusti; Iqbal Arpannudin; M. Ilham Ramadhon; Adrik Kemal Bahruniam
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jiis.v12i1.104257

Abstract

Fenomena tribalisme politik yang semakin kuat dalam dinamika politik global maupun nasional menimbulkan tantangan serius bagi praktik kewarganegaraan. Identitas kelompok sering kali lebih dominan dibandingkan rasionalitas politik, sehingga berpotensi melemahkan kohesi sosial dan kualitas demokrasi. Penelitian ini bertujuan memetakan tren publikasi ilmiah mengenai tribalisme politik dan kewarganegaraan pada periode 2011–2025 dengan menggunakan pendekatan analisis bibliometrik berbasis database Scopus. Data penelitian terdiri dari 117 artikel jurnal yang dianalisis menggunakan R Studio. Hasil menunjukkan bahwa diskursus didominasi oleh tema citizenship, identity politics, nationalism, dan human rights yang berakar pada kerangka normatif-demokratis berbasis negara-bangsa. Namun demikian, munculnya tema digital activism, youth engagement, dan civic participation sebagai area berkembang menandakan pergeseran menuju bentuk kewarganegaraan yang lebih terdigitalisasi dan transnasional. Rendahnya kolaborasi internasional serta konsentrasi geografis publikasi mengindikasikan fragmentasi epistemik dalam bidang ini. Secara keseluruhan, studi ini menyimpulkan bahwa diskursus tribalisme politik sedang mengalami transisi dari paradigma kewarganegaraan teritorial menuju kewarganegaraan berbasis jaringan dalam konteks polarisasi global.
Internalisation of Local Wisdom Values in the Hapakat Traditional House: Civic Character Formation and National Identity Strengthening Aditya Fauzianur; Iqbal Arpannudin
SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum Vol. 5 No. 4 (2026): IN PRESS - SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, Agustus 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/seikat.v5i4.3136

Abstract

Research on local wisdom has tended to focus on descriptive cultural aspects, resulting in little integrative study of the relationship between local wisdom, civic character formation, and strengthening national identity. This study aims to analyze the process of internalizing local wisdom values in the Hapakat Traditional House, its role in shaping civic disposition, and its implications for strengthening national identity. The study used a qualitative approach with an ethnographic type conducted in Penyang Village, East Kotawaringin Regency, Central Kalimantan. Data were obtained through in-depth interviews, participant observation, and documentary analysis involving the head of the Perajah Motanoi Community, community members, and members of the community who understand the existence of the Hapakat Traditional House. Data analysis was conducted using the interactive model of Miles et al. (2014) through data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The findings reveal that the internalization of local wisdom values occurs through the interpretation of architectural symbols, socio-cultural practices, the role models of traditional leaders, deliberation activities, traditional rituals, and intergenerational interactions that instill the values of Pahari, Handep, Barendeng, Belom Bahadat, Belom Harati, Pangaji, Bakena, and Hapakat Kula, a set of Dayak ethical principles concerning kinship, mutual aid, civility, and communal harmony. These values contribute to shaping civic dispositions in the form of responsibility, discipline, social awareness, tolerance, mutual cooperation, awareness of rules, deliberation skills, and commitment to the common good. The implications of this research demonstrate the growth of national awareness rooted in the preservation of local culture through the integration of Dayak cultural values with Pancasila values (Indonesia's five foundational state principles).