Claim Missing Document
Check
Articles

Exemplary Values From Umar Bin Khattab and Sayyidah Aisyah R.A. Anisa Oktaviana; Siti Ardianti; Jeesica Shinta
MAQOLAT: Journal of Islamic Studies Vol. 1 No. 2 (2023): Transformative Islamic Thought Based on the Qur'an
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58355/maqolat.v1i2.13

Abstract

This journal discusses the exemplary values ​​of Umar bin Khattab and Sayyidah Aisyah RA, two important figures in Islamic history. Umar bin Khattab is known as one of the best caliphs in Islamic history, while Sayyidah Aisyah RA was one of the wives of the Prophet Muhammad who had a major influence on Islamic history. Both of them also set an example in terms of sincerity and determination in facing trials and tests. Umar bin Khattab, for example, always put the interests of the people above his own interests, while Sayyidah Aisyah RA always tried to maintain her chastity and honor, even though she faced slander and accusations that were not true. This study aims to explore exemplary values ​​that can be learned from the lives and inspirational stories of these two figures. The method used in this study is a library search by collecting information relevant to the research topic through searching and analyzing information sources such as journals, books, articles and other documents related to the topic under study. The results of the study show that these two figures have many exemplary values ​​that can be used as role models by Muslims. Some of these values ​​include integrity, courage, simplicity, fairness, sincerity, perseverance, and tolerance. In the context of modern life, the exemplary values ​​of Umar bin Khattab and Sayyidah Aisyah RA can be an inspiration for Muslim individuals to develop strong character, good work ethics, and superior leadership qualities. This research is expected to provide a better understanding of the exemplary values ​​of these two figures and their relevance in the context of modern life.
Avoiding Despicable Morals, namely Miserliness and Hypocrisy Through the Story of Tsa'labah Ibn Hatib Al-Ansari Maimunah Munthe; Siti Ardianti; Siti Zahra
MAQOLAT: Journal of Islamic Studies Vol. 1 No. 3 (2023): Transformative Islamic Thought Based on the Qur'an
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58355/maqolat.v1i3.16

Abstract

A popular story spread in Islamic society about Tsa'labah ibn Hatib, a companion of the prophet who became miserly and hypocritical when His prayer was granted by Allah Almighty. Tsa'labah was one of the companions of the prophet who was initially very devoted to the Commandments of Allah Almighty and diligent in worshiping to the mosque when he was still poor, while the purpose of this study was to find out what despicable traits or morals existed in Tsa'labah so that he was said to be a person who Damnated by Allah Almighty, This research is a literature study research, namely research by reviewing and examining sources that are relevant to the research being carried out which is taken from several books and journals that are relevant to the title that the researcher wrote and raised to be researched, The results of this study are a form of presentation of researchers about avoiding despicable morals, namely miserliness and hypocrisy through the example of the story of Tsa'labah where in this story Tsa'labah shows that he was one of the companions of the Prophet who was originally devoted to Allah Almighty but because he was kufr not grateful for the blessings given by Allah made him forget to carry out the command of Allah Almighty, namely zakat, as for the despicable nature or morals in Tsa'labah that we should avoid is miserly, kufr delicious, arrogant, greedy, and break promises.
Moral Values in the Story of Prophet Lut Rizka Amalia; Siti Ardianti; Azlia Fasya Kintara
MAQOLAT: Journal of Islamic Studies Vol. 1 No. 3 (2023): Transformative Islamic Thought Based on the Qur'an
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58355/maqolat.v1i3.17

Abstract

We hear and read many stories about the prophets in the Qur'an, including the story of Prophet Lut a.s. which of course contains a lot of wisdom and teachings to be adhered to and emulated as a guideline for human life. And here the author focuses on discussing moral values in the story of the prophet Lut as. As we know, the atrocities of the people of Lut, such as those who like the same sex, have become a habit and are considered normal. Seeing a woman's body does not increase her lust, except seeing a man's body increases her lust. This study uses library techniques by collecting information from various sources by reading, analyzing it and drawing conclusions according to the problem. Researchers get some results in the form of messages that can be used as lessons for the future. The results of this study indicate that the Prophet Lut (as) repeatedly rebuked and warned his people not to commit immoral acts (same sex), but his people ignored these warnings. Therefore, Allah (s.w.t.) punished the people of Prophet Lut (a.s.) with a huge explosion accompanied by hail.
STUDI KOMPARATIF MUSTHAFA AS-SIBA'I DENGAN AHMAD AMIN TENTANG KESAHIHAN HADIS Devia Rahmah; Anggi Fatrisia; Muhammad Jamil; Nabila Yunita; Siti Ardianti
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 2 No. 1 (2023): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v2i1.1897

Abstract

Hadis merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah Alquran yang menjadi pedoman bagi umat Islam. Hadis memiliki peran penting dalam menentukan hukum-hukum Islam, menjelaskan makna Alquran, dan memberikan teladan bagi umat Islam. Namun, sejak masa Nabi Muhammad SAW hingga saat ini, hadis mengalami berbagai problematik, terutama terkait dengan autentisitas dan orisinalitasnya. Salah satu tokoh modernis yang melakukan kritik terhadap hadis adalah Ahmad Amin, seorang sejarawan dan penulis buku Fajr al-Islam. Dalam bukunya, ia mempertanyakan kembali orisinalitas hadis dan juga menilai bahwa kaidah-kaidah yang dibuat oleh ulama hadis dalam rangka meneliti kesahihan sanad sangat ketat, tetapi tidak memperhatikan koreksi terhadap matan hadis. Sebagai respons terhadap kritik Ahmad Amin, Mustafa al-Siba'i, seorang ulama hadis dan penulis buku Al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri' al-Islami, melakukan pembelaan terhadap hadis dengan mengemukakan bukti-bukti historis tentang orisinalitas hadis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua tokoh memiliki persamaan dan perbedaan dalam memandang hadis, terutama dalam hal kriteria, definisi, dan contoh hadis sahih. Persamaan mereka terletak pada pengakuan terhadap otoritas hadis sebagai sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an, penggunaan metode ilmiah dalam meneliti hadis, dan penghormatan terhadap para ulama hadis. Perbedaan mereka terletak pada pandangan tentang ketersambungan sanad, adilnya perawi, hafalan perawi, syadz, illat, dan contoh hadis sahih yang mereka anggap. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperkaya khazanah ilmu hadis dan pemikiran Islam kontemporer.
WIQAYAH DALAM AL-QUR’AN: ANALISIS TAFSIR AL-MISBAH KARYA M. QURAISH SHIHAB Alvita Khartarya; Nurliana Damanik; Siti Ardianti
Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah Vol. 3 No. 3 (2024): Tashdiq: Jurnal Kajian Agama dan Dakwah
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.4236/tashdiq.v3i3.2897

Abstract

Melihat keadaan perkembangan zaman saat ini yang sebagian umat Islam itu asing dengan keislamannya itu sendiri yang artinya mereka yang menjalankan perintah agama dianggap berlebihan dan dipandang aneh yang muncul dari umat muslim itu sendiri. Padahal sebenarnya kunci, solusi dan tujuan kehidupan ada pada agama yang mempunyai kitab pedoman hidup berupa Al-Qur’an. Salah satu problem dimasyarakat sekarang adalah abai dengan pemeliharaan diri (Wiqayah ). Wiqayah adalah bentuk sikap dalam pemeliharaan diri dari segala sesuatu yang memudharatkan. Skripsi dengan judul “Wiqayah Dalam Al-Qur’an (Analisis Tafsir Al-Misbah Karya M. Quraish Shihab)” ini merumuskan masalah yaitu: apa macam-macam kata Wiqayah dalam Al-Qur’an ?, dan bagaimana Penafsiran Quraish Shihab dalam memahami makna Wiqayah dalam Al-Tafsir Al-Misbah?, yang bertujuan untuk mengetahui macam-macam kata Wiqayah dalam Al-Qur’an. Dan mengetahui Penafsiran Quraish Shihab dalam memahami makna Wiqayah dalam Al-Tafsir Al-Misbah. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah telaah pustaka (Library research) menggunakan data kualitatif yang berasal dari data primer dan sekunder, metode tafsir yang digunakan adalah metode tafsir maudhu’i.. Hasil temuan menunjukkan bahwa wiqayah terbagi beberapa macam yaitu : pemeliharaan diri dari penyakit surah An-Nahl {16} : 81, Pemeliharaan diri dari panas surah An-Nahl{16} : 81, pemeliharaan diri dari kejelekan surah Ghafir{40} : 9 dan Ghafir{40}: 45, pemeliharaan diri dari kekikiran surah Al-Hasyr{59} : 9 dan At-Thaghabun{64}:16, pemeliharaan diri dari kejahatan surah Al-Insan{76} : 11, pemeliharaan diri dari penganiayaan surah Ali Imran : 16, pemeliharaan diri dari azab surah Al-Baqarah {2}: 201, Ali Imran{3} : 16, Ali Imran {3}:191, Ar-Ra’d{13} : 34, Ghafir{40}:7, Ghafir{40}: 9, Ghafir{40}: 21, Dukhon{44}: 56, At-Thur{52}: 18, At-Thur{52}: 27, Al-Insan{76} : 11, pemeliharaan diri dari neraka surah Al-Baqarah{2} :201, Ali Imran{3} : 191 dan At-Tahrim{66} : 6.
Media Pembelajaran Al-Qur’an Hadis Dalam Mengatasi Kesulitan Baca Tulis Al-Qur’an Siswa di MTs. Al Washliyah Labuhanbatu Putri, Vika Yuliana; Daulai, Afrahul Fadhila; Ardianti, Siti
Pedagogik: Jurnal Pendidikan dan Riset Vol. 2 No. 2 (2024)
Publisher : CV Edu Tech Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media Pembelajaran Al-Qur’an Hadis Dalam Mengatasi Kesulitan Baca Tulis Al-Qur’an Siswa di MTs. Al Washliyah Labuhanbatu     Vika Yuliana Putri¹, Afrahul Fadhila Daulai², Siti Ardianti³   1,2,3Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan, Indonesia Jalan Williem Iskandar Pasar V Medan Estate, 20371   Email: vika0301202013@uinsu.ac.id1, afrahulfadhila@uinsu.ac.id2, sitiardianti@uinsu.ac.id3     Corresponding Author: Vika Yuliana Putri     ABSTRAK Penelitian ini akan membahas terkait penggunaan media pembelajaran Al-Qur’an Hadis di MTs Al Washliyah Labuhanbatu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan serta pengalaman guru dan siswa terkait media pembelajaran Al-Qur’an Hadis dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al-Qur’an siswa. Adapun metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif, teknik pengumpulan data  yaitu observasi, wawancara  serta dokumentasi, dalam analisis data ada tiga langkah yang dilakukan, yaitu reduksi data (mengumpulkan data), display data (penyajian data), serta menarik kesimpulan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa (1) guru Al-Qur`an Hadis telah menggunakan media yang bertujuan agar pesan (materi) dapat tersampaikan dengan baik. (2) keadaan baca tulis Al-Qur`an siswa bervariasi, namun rata-rata dalam baca tulis Al-Qur`an para siswa hanya mampu sekedar membaca dan terkadang keliru dalam membedakan pelafalan makhorijul huruf dan tajwidnya (3) penggunaan media pembelajaran Al-Qur`an Hadis tidak begitu optimal, dikarenakan keterbatasan media yang ada (4) faktor yang menyebabkan siswa kesulitan dalam baca tulis Al-Qur`an, yaitu dikarenakan tidak adanya motivasi dalam diri peserta didik itu sendiri, dan kurangnya dukungan dari orangtua, serta keterbatasan guru ngaji (5) Upaya penanggulangan yang dilakukan yaitu dengan membuat kursus Tahsin yang diadakan disetiap hari jum’at, yang dilakukan agar para siswa bisa lebih memahami cara membaca Al-Qur`an dengan baik dan benar.
Nilai-Nilai Pendidikan Islam Dalam Kisah Nabi Nuh A.S Jihan; Chairunnisa; Siti Ardianti
DIROSAT: Journal of Education, Social Sciences & Humanities Vol. 1 No. 2 (2023): Innovation in Education and Social Sciences Research
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58355/dirosat.v1i2.9

Abstract

Penelitian ini menjelaskan nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam kisah Nabi Nuh A.S. Dalam tulisan ini, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dengan mengambil dari berbagai sumber baik dari buku, jurnal-jurnal dan sumber-sumber lainnya yang relevan. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan Islam dalam kisah Nabi Nuh A.S mencangkup beberapa aspek nilai-nilai pendidikan Islam, diantaranya yaitu: (1) Nilai keimanan, (2) Nilai ibadah, (3) Nilai Akhlak. Oleh karena itu, kisah Nabi Nuh A.S ini dan juga kisah-kisah Nabi yang lainnya dapat dijadikan sebagai salah satu pedoman dalam kehidupan agar tercipta ketenangan dan kebahagian baik didunia maupun diakhirat kelak.
Pemahaman Hadis Kontemporer Yusuf Al-Qardhawi Dan Muhammad Al- Ghazali Wafiq Mayada; Siti Ardianti; Abdul Ghoni; Andri Gunawan; Oky Akmal Rustandi; Maulana Halim
Mutiara : Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah Vol. 2 No. 1 (2024): Februari : Mutiara : Jurnal Penelitian dan Karya Ilmiah
Publisher : STAI YPIQ BAUBAU, SULAWESI TENGGARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59059/mutiara.v2i1.1016

Abstract

Hadith is anything in the form of words, actions, tacit approval, or characteristics (self-description) that is attributed to the Prophet Muhammad. What is meant by the nature (self-description) of the Prophet in this definition is the physical description and morals of the Prophet as reported by the narrators, such as his body being strong, his chest broad, he was a polite person and so on. Muhammad al-Ghazali was a famous scholar who was born in al-Buhairah, Egypt, precisely in Nakla Inab, a village which gave birth to many prominent Islamic figures of his time such as Muhammad 'Abduh, Mahmud Syaltut, Hasan alBana and Muhammad al-Madani, Yusuf Al -Qardhawi. He was born in the village of Shaft Turab in the middle of the Nile River Delta, Mahallah al-Kubra area, he already memorized the Koran. Completing his education at Ma'had Thantha and Ma'had Tsanawi, Qaradawi continued on to al-Azhar University, Cairo, Egypt, at the Ushuluddin Faculty, majoring in religious studies and graduating in 1952 where he received the shahadah 'aliyah. Then he continued his Arabic language studies for two years and graduated with the best achievement among five hundred students. These people have an understanding of hadith, then in this research we discuss the Understanding of Contemporary Hadith According to Yusuf Al-Qardhawi and Al-Ghazali. In this research, the qualitative approach used by researchers is library research, namely. activities related to library data collection methods. In terms of Hadith material, according to Yusuf Al-Qardhawi and Muhammad Ghazali: Related to current problems. As an effort to reinterpret the hadith in accordance with the current context.
Perspektif Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam Sebagai Bapak Para Nabi Sovia Harahap; Fery Fadli; Siti ardianti
LECTURES: Journal of Islamic and Education Studies Vol. 2 No. 2 (2023): Progressive Islamic and Education Studies
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58355/lectures.v2i2.31

Abstract

Al-Qur'an pada dasarnya diperuntukkan bagi umat manusia dimanapun ia berada. Salah satu cara mendekatkan Al-Qur'an kepada manusia adalah melalui kisah-kisah yang dikandungnya. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengeksplorasi lebih jauh bagaimana kisah Nabi Ibrahim digambarkan dan signifikansinya bagi nilai pendidikan Islam sehingga beliau disebut sebagai bapaknya para Nabi. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis data dan metode observasi. Hasil pencarian menemukan informasi tentang ayat-ayat yang berkaitan dengan kisah Nabi Ibrahim AS sebanyak 186 ayat yang terbagi menjadi 25 surat. Dari 25 surat tersebut, 17 (tujuh belas) surat mendarat di Mekkah dan 8 (delapan) surat mendarat di Madinah. Merujuk kepada al-Qur'an, ditemukan bahwa para nabi dan rasul selalu membawa ajaran tauhid. Ayat-ayat di dalamnya menggugah jiwa dan menuntut mereka untuk membangun sebuah masyarakat yang penuh dengan kemakmuran dan keadilan. Hingga datang ajakan Nabi Ibrahim yang merupakan periode baru dari tuntunan tentang Ketuhanan Yang Maha Esa. Nabi Ibrahim dikenal sebagai Bapak Para Nabi , Bapak Monoteisme serta Proklamator keadilan Ilahi . Karena agama agama samawi terbesar dewasa ini merujuk kepada ajaran beliau.
Kisah Keteladanan KH. Hasyim Asy’ari Fauzul Azmi; Siti Ardianti
LECTURES: Journal of Islamic and Education Studies Vol. 2 No. 2 (2023): Progressive Islamic and Education Studies
Publisher : Perkumpulan Dosen Fakultas Agama Islam Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58355/lectures.v2i2.32

Abstract

Persoalan mengenai akidah dan akhlak merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan di Indonesia khususnya melalui dunia pendidikan. Banyak sekali contoh tokoh yang dapat dijadikan teladan bagi bangsa Indonesia dalam memenuhi dan meningkatkan akidah serta akhlak bagi generasi penerus bangsa Indonesia melalui kisah-kisah nya yang akan dibahas dan di sajikan pada karya ilmiah ini. Disini penulis akan menyajikan seputar tentang keteladanan akidah dan akhlak yang dapat diambil dari salah seorang tokoh ulama besar sekaligus pendiri organisasi islam yaitu Nahdatul Ulama atau yang lazim disebut dengan NU. Bagaimana kisah keteladanan yang mengenai akidah akhlak yang di contohkan oleh KH.Hasyim Asy’ari dalam kehidupannya akan dibahas melalui karya ilmiah ini. Teladan dari Kiai Hasyim Asy’ari yaitu a). Berkhidmah Kepada Guru, b) Berkhidmat pada Negara Kesatuan Republik Indonesia, c). Pendidikan Pesantren Karakter Kebangsaan. Fatwa Resolusi Jihad Kiai Haji Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945 mampu menggerakkan rakyat Indonesia untuk melawan dan mengusir penjajahan kembali oleh Belanda. Fatwa tersebut menggambarkan bahwa erjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan kewajiban agama
Co-Authors Abdul Ghoni Abdul Rahman Ade Widya Adi Zulkifli Boangmanalu Ahmad Maulana Ibrahim Siregar Alvita Khartarya Andri Gunawan Andriansyah, Nanang Andy, Safria Anggi Fatrisia Anisa Oktaviana Anisa Oktaviana Arifinsyah Asmalia, Asmalia Asnil Aidah Ritonga Azlia Fasya Kintara Azri Fahyuzi A’yuni, Nur Bahri Sitompul, Syaiful Bayu Pratama, Krisna Chairunnisa Chairunnisa Chaniago Daulai, Afrahul Fadhila Devia Rahmah Dewi, Sri Intan Kumala Diva Viola Natasya Hasibuan Fadilla, Nurul Fauzul Azmi Fauzul Azmi Fery Fadli Fery Fadli Gadis Ayuni Putri Gadis Ayuni Putri Hasibuan, Zainuddin Abdillah Hidayati, Azizah Nurul Ihza Mahendra Jeesica Shinta Jeesica Shinta Jihan Jihan Aprilia Lubis Junaidi Arsyad, Junaidi Khainur Arrasyid Khairunnisa Gajah, Rizkiyah Khoirun Nisa Siregar Kholijah Siregar M Hafiz Rustandi M Rifai Ar Rahman Mahariah Maimunah Munthe Marpaung, Patimah Nurun Maulana Halim Maylenda, Windi Mhd. Abdul Hakim Muhammad Hasbi Maulana Muhammad Idris Muhammad Jamil Muhammad Miftahul Habib Muhammad Mitra Muhammad Rizky Muhammad Zammy Azly Muslem Muslem Nabila Yunita Nasution, M. Nazrin Nasution, Muhammad Roihan Nasution, Nafia Safitri Natia Hasibuan Nona Maulidika Inayah Nurliana Damanik Oky Akmal Rustandi Poppy Radana Putri Aprilia B.r Payung Putri Azhari Putri, Vika Yuliana Ramadhan, Maratu Naja Ramsil Huda Hasibuan Rizka Amalia Rizki, Fachri Roisul Hamdi Rustam Efendi Sabana, M. Fauzi Sahan Irvando Sakinah Sakinah Saragih, Hendra Shifa, Mawaddatus Siti Zahra Sovia Harahap Sovia Harahap Sri Wahyuni Syahrudi nst Thoha, Muhammad Akbar Ummi Hanifaa Ummi Hanifaa Wafiq Mayada Yuli Delia Zahrani Fatni Hapsah Zikraa Zubaidi, M. Iqbal