Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Diferensiasi dalam Pembelajaran: Strategi dan Praktik di Kelas Fauziyah Fauziyah; Ainur Rofiqi; Slamet Arifin; Ratna Ekawati
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 4 (2025): November
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i4.4114

Abstract

Pembelajaran berdiferensiasi menjadi pendekatan pedagogis yang esensial dalam menghadapi keberagaman peserta didik di kelas dasar. Studi bertujuan menelaah secara sistematis strategi dan praktik pembelajaran berdiferensiasi di sekolah dasar berdasarkan hasil studi literatur dalam lima tahun terakhir (2019–2025). Kajian ini menggunakan metode systematic literature review terhadap 30 artikel ilmiah terindeks nasional dan internasional, termasuk publikasi di jurnal terakreditasi SINTA dan Scopus. Hasil menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi berakar pada teori konstruktivisme, humanisme, dan Universal Design for Learning (UDL), yang menekankan pentingnya menyesuaikan proses belajar dengan kesiapan, minat, dan profil belajar peserta didik. Praktik di lapangan meliputi diferensiasi konten, proses, dan produk melalui berbagai strategi seperti penilaian diagnostik, pembelajaran berbasis proyek, kelompok fleksibel, dan penggunaan teknologi digital adaptif. Temuan penelitian juga menyoroti bahwa keberhasilan implementasi diferensiasi sangat dipengaruhi oleh kompetensi guru dalam perencanaan, manajemen kelas, serta dukungan kebijakan kurikulum. Studi ini menegaskan bahwa pembelajaran berdiferensiasi bukan sekadar strategi teknis, melainkan paradigma pedagogis yang berorientasi pada keadilan belajar (equity in education) dan pengembangan potensi individu peserta didik. Rekomendasi penelitian ini mengarah pada perlunya penguatan kapasitas guru, desain kebijakan yang inklusif, dan penelitian empiris lanjutan terkait efektivitas model diferensiasi di berbagai konteks pendidikan dasar di Indonesia.
STRENGTHENING THE RADEC MODEL IN SCIENCE LEARNING TO SUPPORT STUDENTS' HIGHER-ORDER THINKING SKILLS: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Siti Lami'ah; Intan Sari Rufiana; Mardhatillah; Aynin Mashfufah; Slamet Arifin
Jurnal Cakrawala Pendas Vol. 12 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jcp.v12i1.16815

Abstract

Science learning at the elementary school level requires a pedagogical approach that can encourage the development of higher-order thinking skills (HOTS) as part of improving the quality of the learning process. The RADEC (Read, Answer, Discuss, Explain, Create) model is considered relevant because it includes systematic, collaborative learning stages, and is oriented towards knowledge construction. Based on this need, this study aims to examine the forms of strengthening the RADEC model in science learning and its contribution to the development of students' HOTS. This study used the Systematic Literature Review (SLR) method by analyzing scientific articles that met the criteria for eligibility and relevance. The results of the review indicate that strengthening RADEC is carried out through the integration of contextual media, the development of HOTS-based teaching tools, the implementation of collaborative strategies, and the use of authentic assessments. These various forms of strengthening play a role in optimizing the RADEC stages, thereby supporting the improvement of analytical, evaluative, creative, scientific communication, and active participation skills of students. Overall, the SLR findings indicate that RADEC has substantive potential in strengthening the quality of science learning and supporting the achievement of higher-order thinking skills in elementary school students.
Integrating PhET Interactive Simulation to Enhance Students' Mathematical Understanding and Engagement in Learning Mixed Fraction Slamet Arifin; Fazilah Binti Razali; Winanjar Rahayu
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 10 No. 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.15056

Abstract

AbstractThis study aims to document how integrating PhET interactive simulations into mathematics learning enhances students' conceptual understanding of mixed fraction material. This collaborative action research project adhered to the action research cycle proposed by Kemmis and McTaggart. In total 17 4th-grade students from one of the public elementary schools in Malang City, Indonesia participated in this investigation. The data was collected through tests, interviews, and classroom observation. The test of students' mathematical understanding (TSMU) was administered to the students at the pre-cycle, post-cycle I, and post-cycle II stages. The number of questions given in each test was 10 mathematical problems, and they were designed to assess students' mathematical understanding of mixed fractions. The quantitative data was analyzed by using descriptive statistics using SPSS 25, and the qualitative data was analyzed simultaneously using a qualitative data analysis cycle.  The research findings unveiled the following key insights. First, we found a notable enhancement in students' mathematical understanding of mixed fractions emerged throughout the study. Specifically, the pre-cycle average score for students' mathematical understanding stood at M=51.59, which saw substantial improvement in the post-cycle I phase (M=61.53) and further growth in the post-cycle II phase (M=76.94). Moreover, the utilization of PhET simulations was found to significantly enhance students' engagement in the realm of mathematics learning. Therefore, the integration of PhET interactive simulation in mathematics learning has been shown to have a significant effect on improving students' mathematical understanding and engagement in learning fractions.Keywords: PhET interactive simulation, conceptual understanding, mixed fractions, students’ engagement. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan bagaimana integrasi PhET interactive simulation ke dalam pembelajaran matematika meningkatkan pemahaman konseptual siswa pada materi pecahan campuran. Desain penelitian tindakan kelas kolaboratif (PTK) dilaksanakan mengikuti siklus penelitian tindakan Kemmis dan McTaggart. Sebanyak 17 siswa kelas 4 di salah satu sekolah dasar negeri di Kota Malang, Indonesia dilibatkan dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan melalui tes, wawancara, dan observasi kelas. Tes pemahaman matematis siswa (TPMS) diberikan kepada siswa pada tahap pra siklus, pasca siklus I, dan pasca siklus II. Jumlah soal yang diberikan dalam setiap tes adalah 10 soal matematika, dan dirancang untuk menilai pemahaman matematis siswa tentang pecahan campuran. Data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif menggunakan SPSS 25, dan data kualitatif dianalisis secara simultan mengacu pada siklus analisis data kualitatif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa: (1) terdapat peningkatan kemampuan pemahaman matematis siswa pada materi pecahan campuran. Hasl ini ditunjukan dengan rata-rata hasil TPMS pada pra-siklus M=51,59, pasca siklus I M=61,53, dan pasca siklus II M=76,94; (2) penggunaan PhET interactive simulation terbukti berkontribusi dalam meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran matematika. Oleh karena itu, integrasi simulasi interaktif PhET dalam pembelajaran matematika terbukti memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pemahaman konsep matematis pecahan campuran siswa.Keywords: PhET interactive simulation, pemahaman matematis, pecahan campuran, keterlibatan siswa.
Analysis of Student Errors in Solving Numeracy Literacy Problems of Graph Representation Model in Elementary School Intan Sari Rufiana; Slamet Arifin; Mohammad Yusuf Randy; Fierda Nursitasari Amaliya
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 11 No. 2 (2024): October 2024
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v11i2.18720

Abstract

AbstractThis study aims to describe the types of student errors in solving numeracy literacy problems of graph representation models. This study used a mixed methods research design with a sequential exploratory type. The data collection techniques used were tests and interviews. The participants in this study were 30 elementary school students tested and six students selected by purposive sampling to be interviewed. The results showed that students experienced conceptual errors and procedural errors. In conceptual errors, 40% of students make errors in reading data, 43% between data, and 60% of students make errors beyond data. Conceptual errors occur when students cannot understand the context of the problem, cannot read the data, do not master the basic concepts of statistics, and do not understand number patterns. In procedural errors, 63% of students make errors in reading data, 73% of students make errors in reading between data, and 80% of students make errors in reading beyond data. Procedural errors occur when students are wrong in choosing the solution procedure, calculating, and predicting. Therefore, educators need to design appropriate learning strategies to minimize errors made by students in numeracy literacy questions on graph representation models, such as applying contextual learning-based numeracy problems.Keywords: student errors, graphic literacy, numeracy literacy, elementary school. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal literasi numerasi model representasi grafik. Penelitian ini menggunakan desain penelitian mixed methods dengan tipe eksploratori sekuensial. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan wawancara. Partisipan dalam penelitian ini adalah 30 siswa sekolah dasar yang dites dan enam siswa yang dipilih secara purposive sampling untuk diwawancarai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami kesalahan konseptual dan kesalahan prosedural. Pada kesalahan konseptual, 40% siswa melakukan kesalahan dalam membaca data, 43% di antara data, dan 60% siswa melakukan kesalahan di luar data. Kesalahan konseptual terjadi ketika siswa tidak dapat memahami konteks soal, tidak dapat membaca data, tidak menguasai konsep dasar statistika, dan tidak memahami pola bilangan. Pada kesalahan prosedural, 63% siswa melakukan kesalahan dalam membaca data, 73% siswa melakukan kesalahan dalam membaca antar data, dan 80% siswa melakukan kesalahan dalam membaca di luar data. Kesalahan prosedural terjadi ketika siswa salah dalam memilih prosedur penyelesaian, menghitung, dan memprediksi. Oleh karena itu, pendidik perlu merancang strategi pembelajaran yang tepat untuk meminimalisir kesalahan yang dilakukan siswa dalam soal literasi numerasi pada model representasi grafik, seperti menerapkan soal literasi numerasi berbasis pembelajaran kontekstual.Kata kunci: kesalahan siswa, literasi grafik, literasi numerasi, sekolah dasar.
Program Peningkatan Technological Knowledge Guru Melalui Pelatihan Coding Dasar Berbantuan AI Slamet Arifin; Aynin Mashfufah; Siti Faizah
Journal of Innovation and Sustainable Empowerment Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/jise.v5i1.171

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan technological knowledge (TK) guru Sekolah Laboratorium Universitas Negeri Malang (UM) Kota Blitar melalui pelatihan coding dasar berbantuan kecerdasan buatan (AI). Selain itu, program ini juga bertujuan menghasilkan media pembelajaran berbasis web dalam bentuk digital simulation inovatif yang dikembangkan secara mandiri oleh guru peserta. Kegiatan diikuti oleh 20 guru sekolah dasar yang tergabung dalam Sekolah Laboratorium UM Kota Blitar. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan participatory training, yang mengintegrasikan kegiatan pelatihan, pendampingan praktik, dan refleksi hasil karya. Tahapan kegiatan meliputi: (1) identifikasi kebutuhan dan kemampuan awal guru dalam pemanfaatan teknologi; (2) pelatihan dasar coding menggunakan platform berbasis AI; (3) pendampingan pengembangan media pembelajaran digital berbentuk simulasi interaktif; dan (4) evaluasi hasil dan umpan balik. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada aspek technological knowledge guru, yang tampak dari kemampuan mereka dalam mengintegrasikan elemen coding dan AI ke dalam media pembelajaran. Selain itu, para guru berhasil menghasilkan berbagai produk simulasi pembelajaran berbasis web yang inovatif dan kontekstual dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah dasar. Program ini menunjukkan bahwa pelatihan coding dasar berbantuan AI dapat menjadi strategi efektif dalam memperkuat literasi teknologi dan kreativitas guru sekolah dasar di era digital.
Pengaruh Media Interaktif Berbasis Wordwall terhadap Pemahaman Konsep Waktu Siswa Kelas II Sekolah Dasar Yuni Ma'idah; Slamet Arifin; Riska Pristiani
Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 1 No. 3 (2026): Edisi: April-Juni
Publisher : Pustaka Bangsa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh media interaktif berbasis Wordwall terhadap pemahaman konsep waktu siswa kelas II sekolah dasar. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan kelompok kontrol pretest–posttest nonekuivalen yang melibatkan 60 siswa SDN Dermo I Bangil, Jawa Timur. Kelompok eksperimen mendapatkan delapan kali pembelajaran berbasis Wordwall selama empat minggu, sedangkan kelompok kontrol menggunakan metode konvensional. Data dikumpulkan melalui tes tertulis 20 butir yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya (Cronbach’s α = 0,81). Analisis data menggunakan statistik deskriptif, uji-t independen, dan N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata posttest kelompok eksperimen (M = 81,4; SD = 7,2) lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (M = 63,7; SD = 8,6), dengan ukuran efek besar (d = 2,27; p < 0,001). Nilai N-Gain kelompok eksperimen (0,68) juga lebih tinggi daripada kontrol (0,31). Temuan ini menunjukkan bahwa Wordwall efektif meningkatkan pemahaman konsep waktu siswa.
Beyond the Numerator: Visualizing the Equal Partitioning Barrier in Elementary Fraction Learning Davina Aurelia; Slamet Arifin; Siti Faizah
Sekolah Dasar: Kajian Teori dan Praktik Pendidikan Vol. 35 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um009v35i12026p148-163

Abstract

Abstract: Understanding fractions remains a persistent challenge for elementary students, particularly when translating verbal mathematical problems into visual representations. This study aims to analyze the visual-conceptual difficulties of elementary school students in understanding fractions, specifically the principles of equal partitions and equivalence fraction, through visual representations. Using a thematic content analysis within a descriptive qualitative design, six fifth-grade students were selected based on their mathematical representation skills. Instruments included an illustrated diagnostic test (6 figures) and semi-structured interviews. The results reveal that the majority of students exhibited significant misconceptions rooted not in an inability to see differences, but in a "counting schema". They defined fractions solely by counting shaded parts versus total parts, ignoring the requirement of equal area. Specifically, students failed to apply the equal partition principle to disproportionate images, made systematic denominator errors due to excessive focus on the numerator, and showed rigidity in recognizing equivalent fractions (e.g., rejecting 2/6 the same as 1/3). These findings confirm that a discrete (counting) rather than continuous (measuring) reasoning schema acts as a significant conceptual barrier. Therefore, this study recommends non-prototypical and dynamic visual training that explicitly disrupts the counting habit and forces students to verify equal partitioning before labeling a fraction. Abstrak: Memahami pecahan masih menjadi tantangan bagi siswa sekolah dasar, terutama saat mengubah soal matematika lisan menjadi representasi visual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesulitan visual-konseptual yang dialami siswa sekolah dasar dalam memahami pecahan, khususnya prinsip pembagian yang sama besar dan pecahan senilai, melalui representasi visual. Dengan menggunakan analisis tematik dalam kerangka desain kualitatif deskriptif, enam siswa kelas lima dipilih berdasarkan kemampuan mereka dalam merepresentasikan konsep matematika. Instrumen yang digunakan meliputi tes diagnostik bergambar (6 gambar) dan wawancara semi-terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa menunjukkan kesalahpahaman yang signifikan, bukan disebabkan oleh ketidakmampuan untuk melihat perbedaan, melainkan karena "skema penghitungan". Mereka mendefinisikan pecahan semata-mata dengan menghitung bagian yang diarsir dibandingkan dengan jumlah keseluruhan bagian, tanpa memperhatikan syarat luas bagian yang sama besar. Secara spesifik, siswa gagal menerapkan prinsip pembagian yang sama besar pada gambar yang tidak proporsional, membuat kesalahan dalam menentukan penyebut karena cenderung fokus pada pembilang, dan menunjukkan kekakuan dalam mengenali pecahan yang senilai (seperti, menolak 2/6 sama dengan 1/3). Temuan ini menegaskan bahwa skema penalaran diskrit (penghitungan) —bukan skema penalaran kontinu (pengukuran)— menjadi sebagai hambatan konseptual yang signifikan. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan pelatihan visual yang tidak prototipikal dan dinamis, yang secara eksplisit mengurangi kebiasaan menghitung bagian dan memaksa siswa untuk memverifikasi pembagian yang sama sebelum memberi label pada suatu pecahan.