Claim Missing Document
Check
Articles

Optimization of Professional Zakat Fund Management at the Office of Ministry of Religion of Parepare City Usman, M. Hasyim; Hannani, Hannani; Muchsin, Agus
Al-Iftah: Journal of Islamic studies and society Vol 1 No 1 (2020): Al-Iftah: Journal of Islamic studies and society
Publisher : IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.068 KB)

Abstract

Poverty is a problem faced by the Indonesian people and is the responsibility of the Indonesian government. The approach used in this study is the theological, penomenological, and juridical approaches. The source of this research data is sourced from primary and secondary legal materials. This research includes qualitative using data in the form of direct interviews and questions and answers or dialogues and documents. The data obtained are then collected both primary and secondary. Data collection techniques are carried out through observation, interviews and documentation studies in order to obtain clear and representative data, while data processing and analysis techniques are carried out through data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of this study indicate that the optimization of the management of professional zakat funds at Ministry of Religion Office,Parepare City is less than optimal. However, in terms of collection has fulfilled the principles of sharia, trustworthiness, transparency, professionalism, accountability, participation and efficiency. Its distribution is still traditional and productive productive creative and not in accordance with the principles of justice.
The Effectiveness of Marriage Guidance for Prospective Bride in Building the Sakinah Household Jufri, Jufri; Hannani, Hannani
Al-Iftah: Journal of Islamic studies and society Vol 1 No 2 (2020): Al-Iftah: Journal of Islamic studies and society
Publisher : IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.448 KB)

Abstract

This study discussed the effectiveness of Marriage Guidance for Prospective Brides in Building Sakinah Households in KUA Kec. Maritengngae, Sidrap Regency. This study aims to determine the effectiveness of marriage guidance for prospective brides in building sakinah households in KUA Kec. Maritengngae in Sidrap Regency. This study used descriptive qualitative research. Descriptive research, researchers go directly to the field or carried out in the field through observation, interviews, and documentation studies, in order to obtain clear and representative data. The results of this study indicated that 1) Implementation of marriage guidance (Bimwin) in the Maritengngae District of Sidrap Regency for the bride and groom in realizing a sakinah family is the first step to prepare the prospective bride and groom to navigate their new life , namely married life; 2) The concept of a sakinah household has several characteristics, namely: Standing on a solid foundation of faith, Fulfilling the mission of worship in life, Obeying religious teachings, loving and cherishing each other, Compact educating children and Contributing to the good of society, the nation and the country, and 3) The effectiveness of the implementation of marriage guidance in forming sakinah households in the Maritengngae District, Sidrap Regency, especially for the bride and groom, in its implementation is quite effective. Compact educating children and Contributing to the good of society, the nation and country.
ISLAMIC LAW PHILANTHROPY IN INSTITUTIONS AND URBAN VILLAGE COMMUNITY EMPOWERMENT PATTERNS IN PAREPARE CITY Hannani; Hasim, Hasanuddin; Abdillah
Al-Risalah VOLUME 23 NO 1, MAY (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-risalah.vi.37008

Abstract

Parepare city community empowerment through Parepare Mayor Regulation No. 4 of 2019 concerning Guidelines for Community Empowerment Institutions for the City of Parepare Village is a step by the city government in increasing the empowerment of the keluran community, but it is inversely proportional to the poverty rate from 2019-2022 which has shown a drastic increase, this is what makes researchers want to see the implementation of the mayor's regulations and community empowerment parepare city from an Islamic philanthropic perspective, this research method is a qualitative research using library research and field research methods, Islamic philanthropy and the concept of the Indonesian state are manifested linearly with Parepare Mayor Regulation No.4 of 2019 concerning guidelines for implementing village community empowerment institutions including namely : 1) Facilitate the municipal government of Parepare in preparing and implementing policies that are aspirational and right on target or needed by the community; and 2) Management of LPMK is more structured and systematic. However, the problem with the implementation of these rules lies in human resources, communication and socialization and the massive management of LPMK in Parepare City.
Hukum Pernikahan Tanpa Wali Perbandingan Pemikiran Hukum Fiqhi Imam Abu Hanifah dan Kompilasi Hukum Islam: The Law of Marriage Without a Guardian is a Comparison of the Legal Thinking of Fiqhi Imam Abu Hanifah and the Compilation of Islamic Law Rasyidah; Hannani; M. Ali Rusdi; Rahmawati; Aris
IQRA JURNAL ILMU KEPENDIDIKAN & KEISLAMAN Vol 19 No 2: Juli 2024
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/iqra.v19i2.4632

Abstract

Salah satu aspek penting dalam pernikahan adalah persyaratan kehadiran seorang wali. Mengenai kedudukan wali dalam pernikahan, ulama berbeda pendapat apakah wali termasuk rukun pernikahan atau tidak karena memang berbeda pendapat dalam menentukan jumlah rukun pernikahan. Namum perbedaan tersebut bukanlah dalam hal yang substansial, hanya disebabkan karena perbedaan dalam memaknai ayat-ayat al-Qur’an dan hadis yang berkaitan dengan permasalahan wali dalam pernikahan. 1) Bagaimana Status Wali dalam Pernikahan Pendapat Imam Abu Hanifah dan Kompilasi Hukum Islam (HKI). 2) Dasar Hukum Yang dipakai Imam Abu Hanifah dan Kompilasi Hukum Islam (HKI) tentang Pernikahan tanpa Wali. 3) Analisa Maqashid Al Syari’ah terhadap Pendapat Imam Abu Hanifah dan Kompilasi Hukum Islam (HKI) tentang kedudukan pernikahan tanpa wali. Jenis penelitian ini merupakan penelitian pustaka (Library Research) Pendekatan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistik-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami. Adapun pengumpulan datanya menggunakan Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, dengan menganalisis data menggunakan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Konstruksi penelitian dalam menjawab persoalan yang muncul dengan menggunakan teori maqashid al syari’ah. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan Dalam konteks keindonesiaan melihat pendapat Imam Abu Hanifah yang membolehkan pernikahan tanpa wali maka tujuan syariah terutama dalam hal tercapainya penjagaan terhadap keturunan, penjagaan terhadap akal dan harta ini kelihatannya kecil kemungkinan bisa tercapai dimana di indonesia pernikahan tanpa wali itu dianggap tidak sah. Kecuali Kompilasi Hukum Islam yang mengatur tentang pernikahan tersebut direvisi kembali sehingga terdapat pengecualian terhadap wanita yang menikahkan dirinya sendiri dikarenakan kondisi dan situasi tertentu yang mendesak seseorang itu harus melakukannya.
Pemenuhan Hak-Hak Istri Dalam Masa Iddah Pasca Penerapan Surat Edaran No.P005/DJ.III/Hk.00.7/10/2021 Studi Di Kantor Urusan Agama Parepare (Perspektif Hukum Keluarga Islam): Fulfillment of Wives' Rights During the Iddah Period After the Implementation of Circular No.P005/DJ.III/Hk.00.7/10/2021 Study at the Parepare Religious Affairs Office (Islamic Family Law Perspective) Nurul Aqidatul Izzah; Rusdaya Basri; Rahmawati; Hannani; Fikri
IQRA JURNAL ILMU KEPENDIDIKAN & KEISLAMAN Vol 19 No 1: Januari 2024
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/iqra.v19i1.4673

Abstract

Pemenuhan hak-hak istri dalam masa iddah pasca penerapan surat edaran No.P005/Dj.iii/Hk.00.7/10/2021 . Permasalahan utama pada penelitian ini adalah 1) Bagaimana realita pemenuhan kewajiban suami dalam masa iddah pasca penerapan surat edaran No.P005/Dj.Iii/Hk.00.7/10/2021 di kota Parepare 2) Bagaimana penyebab tidak terpenuhinya hak-hak istri dalam masa iddah pasca penerapan surat edaran No.P005/Dj.III/Hk.00.7/10/2021 di kota Parepare dan 3) Bagaimana tinjauan hukum keluarga islam terhadap pemenuhan hak-hak perempuan pasca penerapan surat edaran no.p005/dj.iii/hk.00.7/10/2021 di kota parepare Jenis penelitian ini adalah lapangan (field research) dengan pendekatan yuridis empiris, penelitian yang dilakukan secara langsung untuk mengetahui permasalahan yang sebenarnya terjadi, kemudian akan dihubungkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan teori hukum yang ada. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Konstruksi penelitian dalam menjawab persoalan yang muncul dengan menggunakan teori keabsahan hukum, teori kemanfaatan hukum dan teori perubahan sosial. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa:. 1) Realita pelaksanaan pemenuhan kewajiban suami masa iddah istri di kelurahan galung maloang Kecamatan Bacukiki tidak berjalan sesuai dengan syariat islam karena mantan suami ketika sudah bercerai dengan istrinya tidak memberikan nafkah lagi meskipun masih dalam keadaan iddah. Di kantor urusan agama bacukiki surat edaran ini sudah diterapkan namun penerapannya di masyarakat masih tidak sesuai. 2) Hubungan antara kedua belah pihak tidak terjalin dengan baik, mantan suami beranggapan bahwa setelah bercerai maka sudah tidak menjadi kewajibannya lagi. Pernikahan suami yang terjadi dalam masa iddah istri cenderung mengakibatkan pemenuhan hak istri tidak terpenuhi karena sudah fokus dengan pernikahan kedua. Hal yang menjadi penyebab utama adalah kondisi ekonomi begitupun tingkat pendidikan juga sangat mempengaruhi. 3) Berdasarkan hukum islam perlindungan terhadap hak asasi dan kehormatan perempuan menjadi tujuan dari surat edaran tersebut . Pemenuhan kewajiban mantan suami disesuaikan dengan kemampuan dan kadar kepantasan yang berlaku di masyarakat agar tidak memberatkan beban
Unlocking The Potential of "Kalosara": An Extensive Analysis of Adultery Instances Dispute Resolution in the Tolaki Tribe through the Lens of al-Ishlah Concept Haq, Islamul; Hannani, Hannani; Syatar, Abdul; Amiruddin, Muhammad Majdy; Musmulyadi, Musmulyadi
Al-Risalah Vol 24 No 1 (2024): June 2024
Publisher : Fakultas Syariah UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/alrisalah.v24i1.1488

Abstract

This article delves into the comprehensive examination of the dispute resolution in adultery cases within the Tolaki Tribe, specifically through the traditional practice of "Kalosara." The research also explores the relevance of Kalosara to the al-Ishlah concept in Islamic criminal law. This research uses the literature review method to establish a robust theoretical foundation. This research indicates a significant relevance between the Kalosara custom and the concept of Ishlah in the context of Islamic criminal law. The practice of Kalosara in resolving cases of adultery within the Tolaki Tribe reflects the principles of Ishlah, emphasizing reconciliation, restoration, and conflict resolution. The stages of the resolution process, from the acknowledgment of the perpetrator to the purification ceremony, mirror a holistic approach to achieving restorative justice. The research results show that the integration of Kalosara customary law in the Ishlah process reflects the aspirations of the Tolaki community for a comprehensive resolution and effective recovery at various levels, including individual, social, and broader community contexts. In the settlement through Kalosara, adulterers are expected to admit their actions, express regret, and carry out a purification process with a holistic approach to resolving conflicts and restoring social relations.
Domination Of Islamic Fiqih Doctrine On Positive Law Concerning Divorce Maqashid Sharia Perspective Nurdalia Bate; Muammar Muhammad Bakry; Abd. Rauf Muhammad Amin; Rahmawati, Rahmawati; Hannani, Hannani; Kurniati, Kurniati; Abd. Karim Faiz
International Journal of Education, Vocational and Social Science Vol. 3 No. 04 (2024): November, International Journal of Education, Vocational and Social Science( I
Publisher : Cita konsultindo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63922/ijevss.v3i04.1240

Abstract

Divorce is the breaking of the marriage bond due to a problem in the household. In its application, especially in the city of Parepare, there is still a polemic regarding the understanding between the determination of talaq. Therefore, the authors are interested in researching and examining how the provisions of divorce in the fiqh of Imam Shafi'i and the positive law applicable in Indonesia and the dominance of Islamic fiqh doctrine on positive law regarding the fall of divorce using the Maqashid Sharia perspective. The purpose of this study aims to describe the regulation of divorce and to analyse the dominance of Islamic fiqh doctrine on positive law in the study of the perceptions of religious figures in Parepare city about the occurrence of divorce from the perspective of Maqashid Sharia. The method used by the authors in this research is based on the field reserch method. The results of this study indicate that divorce according to positive law in Indonesia dominates the validity of talaq determination due to the guidance of KHI and applicable laws.
Zakat for Mama Biang in Maluku, Indonesia: Ulama Opinion on Fīsabīlillāh in the Perspective of Islamic Legal Anthropology Hannani, Hannani; Haq, Islamul; Amiruddin, Muhammad Majdy; Haramain, Muhammad
Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam Vol 7, No 2 (2023): Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/sjhk.v7i2.17044

Abstract

Giving zakat to mama biang is one of the problems of zakat distribution that has attracted controversy. In the people of Negeri Iha, Maluku, the giving of zakat mama biang has become a tradition that has survived into the modern era. The purpose of this study is to study the practice of distributing zakat to Mama Biang, the opinions of tafsir scholars and  the implications for  Islamic law. The study uses empirical legal studies with an anthropological approach to Islamic law. While data collection techniques are in-depth interviews and literature studies. This study concluded that the controversy over the distribution of zakat mama biang occurred due to differences in scholars' interpretations of the meaning of fīsabīlillāh which had implications for differences in people's understanding of Islamic law. People who maintain the tradition of zakat mama biang understand that the distribution of zakat mama biang is in accordance with Islamic law, relying on the opinion of scholars who expand the meaning of fīsabīlillāh to include mama biang. Meanwhile, some people understand that mama biang zakat is not in accordance with Islamic law.  The controversy over the distribution of zakat to mama biang also occurs because zakat is not distributed evenly to all existing asnaf, this  can also trigger gaps in society. Therefore, in the perspective of legal anthropology, the practice of giving to mama biang can continue as a local tradition, but this gift can be categorized as infaq or sadaqah, not zakat. So that this can give birth to harmonious legal implications between Islamic law and adat which has become living law.
DINAMIKA PENYELESAIAN PERMOHONAN PERKARA POLIGAMI DI PENGADILAN AGAMA PAREPARE Hamzah Samir; Hannani; Rahmawati; Rusdaya Basri; Aris
YUSTISI Vol 12 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v12i1.19027

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai dinamika penyelesaian perkara poligamipengadilan agama Parepare, dengan sub masalah:1) Bagaimana proses permohonan Izin perkawinan poligami. 2) Bagaimana Pertimbangan Hakim dalam Permohonan perkara Izin Poligami. 3) Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap pertimbangan hukum hakim dalam mengabulkan permohonan Izin poligami di Pengadilan Agama Parepare?. Dengan Tujuan untuk mengidentifikasi proses permohonan izin perkawinan poligami , untuk menganalisis pertimbangan hakim dalam permohonan perkara izin poligami serta untuk menganalisis tinjauan hukum Islam terhadap pertimbangan hukum hakim dalam mengabulkan permohonan izin poligami di Pengadilan Agama Parepare. Penelitian ini adalah penelitian Lapangan (field research) dengan menggunakan pendekatan metode normatif-empiris. Penelitian dilakukan di Pengadilan Agama Parepare dengan pengumpulan data melalui wawancara dan studi kepustakaan dengan penelusuran terdahadap literatur, buku, dan Perundang-undangan. Hasil penelitian ini menunjukkan: 1) Proses permohonan izin perkawinan poligami di Pengadilan Agama Parepare umumnya melibatkan langkah-langkah sebagai berikut: a) Pengajuan Permohonan, b) Pemeriksaan Dokumen dan Bukti, c) Pemeriksaan Sidang, d) Pertimbangan Majelis Hakim dan e) Putusan. 2) Pertimbangan Hakim dalam permohonan perkara Izin poligami di Pengadilan Agama Parepare adalah Hakim di Pengadilan Agama Parepare melakukan penilaian cermat dan berimbang dalam memutuskan permohonan izin poligami, mempertimbangkan penerapan hukum yang tepat, keadilan bagi semua pihak yang terlibat, serta mematuhi prosedur hukum yang berlaku. 3) Tinjauan Hukum Islam terhadap pertimbangan hakim adalah bahwa keputusan untuk mengabulkan permohonan Izin poligami telah didasarkan pada prinsip-prinsip hukum Islam yang mengatur poligami sebagai upaya untuk menjaga keadilan dan kemaslahatan umum, serta menghindari mudharat yang lebih besar bagi semua pihak yang terlibat. Kata Kunci : Poligami, Pengadilan AgamaHukum Islam
IMPLEMENTASI KEGIATAN BIMBINGAN PERKAWINAN PADA KANTOR URUSAN AGAMA KECAMATAN BUNGORO PERSPEKTIF HUKUM KELUARGA ISLAM DAN HUKUM NASIONAL Nurhasanah; Hannani; Saidah; Rahmawati; Aris
YUSTISI Vol 12 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/yustisi.v12i1.19028

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan tentang: Implementasi kegiatan bimbingan perkawinan calon pengantin di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep, tinjauan teori hukum keluarga Islam dan hukum nasional terhadap implemantasi kegiatan bimbingan perkawinan calon pengantin di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep. Penelitian dilakukan melalui penelitian lapangan (field research), yakni dengan melakukan pengamatan langsung dengan wawancara secara mendalam dengan narasumber dengan menggunakan metode purposive sampling teori. Penelitian ini merujuk pada tiga teori yang dijadikan dasar, yakni yang digunakan adalah teori Ketaatan dan Kesadaran Hukum, Teori Maqashid Al-Syariah, dan Teori dasar hukum perkawinan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: 1 Bimbingan Perkawinan yang dilakukan oleh KUA Kecamatan Bungoro telah terlaksana sesuai dengan aturan, prinsip, dan indikator yang telah ditetapkan. 2) Dalam pelaksanaan Bimbingan Perkawinan (Bimwin), perspektif Hukum Islam yakni merujuk pada teori Maqashid Syariah yang berisi tentang prinsip kebaikan dan keadilan, kesejahteraan, kebahagiaan dan kemudahan harus berpusat dan bertumpu dalam lima pokok kemaslahatan yaitu: kemaslahatan agama (hifz al-din), kemaslahatan jiwa (hifz al-nafs), kemaslahatan akal (hifz al-aql), kemaslahatan keturunan (hifz al-nasl) dan kemaslahatan harta (hifz al-mal). 3) Hukum nasional memuat penghargaan terhadap nilai dan kepercayaan masyarakat yang dianut ketika ingin melakukan perkawinan. Hukum nasional mengatur bahwa tujuan perkawinan harus sesuai dengan Ketuhanan yang Maha Esa, yang juga merupakan bagian dari cita-cita implementasi Bimwin. Definisi Undang-Undang Perkawinan Nomor 16 Tahun 2019, membahas tiga unsur utama yakni pernikahan merupakan ikatan lahir batin, tujuan membentuk keluarga yang bahagia, serta dasar ikatan lahir batin berdasar pada Ketuhanan yang Maha Esa. Kata Kunci : Bimbingan Perkawinan, Calon Pengantin, Hukum Keluarga Islam, Konseling