Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Pengaruh Indeks Massa Tubuh terhadap Handgrip Strength pada Mahasiswa FK UPNVJ Tahun 2023 Raihan, Muhamad Pandji; Citrawati, Mila; Kristanti, Melly; Lardo, Soroy
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 14 No. 02 (2025): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v14i02.3483

Abstract

Masalah kesehatan status gizi buruk sering berkaitan dengan indeks massa tubuh dan tingkat aktivitas fisik sehingga dibutuhkan alat skrining sebagai langkah preventif. Kecukupan status gizi sering dievaluasi melalui pengukuran antropometri dengan mengukur berat dan tinggi badan. Beberapa peneliti berpendapat bahwa dalam mengevaluasi status gizi dapat menggunakan handgrip strength test. Parameter handgrip strength merupakan model penilaian status gizi yang diusulkan sebagai alat skrining oleh American Society for Parenteral and Enteral Nutrition. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh indeks massa tubuh terhadap handgrip strength pada mahasiswa aktif FK UPNVJ. Desain penelitian ini menggunakan metode observasional analitik desain cross-sectional dengan responden sebanyak 55 mahasiswa. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa responden dengan IMT normal (88,9%) dan overweight (76,9%) serta tingkat aktivitas fisik sedang (76,9%) dan tinggi (100%) mayoritas memiliki HGS sedang - tinggi. IMT berpengaruh terhadap HGS dengan OR = 2,09 95% CI (1.20-3.64)); Nilai p = 0,009. Hasil analisis dapat isimpulkan bahwa kategori IMT sangat berpengaruh terhadap HGS setelah dikontrol oleh tingkat aktivitas fisik. Oleh karena itu, mahasiswa perlu menjaga berat badan ideal dan tingkat aktivitas fisik sedang - tinggi.
PERBANDINGAN NILAI VOLUME EKSPIRASI PAKSA DETIK PERTAMA (VEP1) PEROKOK KONVENSIONAL DENGAN PEROKOK ELEKTRIK Ruth Tio Napitupulu; Bobby Singh; Mila Citrawati
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 8 No 1 (2020): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 8.1 Edisi November 201
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v8i1.33

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: VEP1 adalah volume udara yang dapat dikeluarkan dalam waktu satu detik pertama setelah inspirasi dan ekspirasi maksimal. Faktor yang dapat mempengaruhi nilai VEP1 di antaranya adalah penyakit, usia, paparan bahan iritan, jenis kelamin. Rokok adalah paparan bahan iritan yang dapat mempengaruhi nilai VEP1. Menurut World Health Organization prevalensi perokok di dunia pada tahun 2015 sebanyak 22.2% dan prevalensi di Indonesia sebanyak 33.5%. Rokok terdiri atas dua jenis yaitu rokok konvensional dan elektrik. Rokok konvensional adalah tembakau yang digunakan dengan cara dihisap sedangkan rokok elektrik adalah perangkat yang menggunakan tenaga baterai untuk menyalurkan uap. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan nilai VEP1 pada perokok konvensional dan perokok elektrik. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional. Jumlah sampel penelitian sebanyak 81 orang, sebanyak 44 orang perokok konvensional dan 37 orang perokok elektrik yang diambil dengan consecutive sampling. Nilai VEP1 diukur pada orang yang menggunakan rokok selama ?5 tahun. Hasil: Berdasarkan penelitian ini didapatkan adanya penurunan VEP1 pada perokok konvensional dan perokok elektrik, namun penurunan pada perokok elektrik lebih rendah dibanding perokok konvensional. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan antara perokok konvensional dan perokok elektrik (p=0,00). Kesimpulan: Hasil penelitian didapatkan bahwa rerata VEP1 perokok tembakau adalah 76,31±8,21% dan rerata VEP1 perokok elektrik adalah 83.94±6.95%. Kata Kunci: Perokok elektrik, Perokok konvensional, VEP1 ABSTRACT Background: FEV1 is the volume of air exhaled in first second after maximal level of inspiration and expiration. There are some factors which can affect FEV1 value for example obstruction, age, irritant exposure, and sex. Cigarette is an irritant substance that can influence FEV1 value. According to World Health Organization in 2015 world and Indonesian smokers’ prevalence was 22,2% and 33,5%. Cigarettes are divided into two kinds; conventional and electrical. Conventional cigarette is dried-tobacco usually rolled with a paper and commonly inhaled in the usage, while electric cigarette is a battery powered device that vaporize liquid into fumes. This research aimed to investigate the difference of FEV1’s value between conventional smoker and electric cigarette user. Method: Cross sectional study design was applied in this research. Total sample in this research was 81 participants consist of 44 conventional smokers and 37 electric cigarette users selected by using consecutive sampling method. The FEV1 value measured in people who had been smoking for at least 5 years. Result: This research found that the FEV1 value was decreased in both smokers, but the electrical cigarette user having less decreasing of FEV1 value. The statistic result was revealed the differences between conventional smoker and electric cigarette user (p=0,00). Conclusion: As the result, the average of conventional smoker’s FEV1 value is 76,31±8,21% and the average of electric cigarette user’s FEV1 value is 83.94±6.95%. Keywords: Conventional smoker, Electric cigarette user, FEV1
Relation between body mass index, waist circumference, and a body shape index with VO2 max among medical students in Jakarta, Indonesia Anughrayasa, Mikhaella Pritananda; Citrawati, Mila; Wahyuningsih, Sri; Heristyorini, Ayodya
World Nutrition Journal Vol. 9 No. i1 (2025): Volume 09 Issue 1, August 2025
Publisher : Indonesian Nutrition Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25220/WNJ.V09.i1.0007

Abstract

Background: Individuals with low VO2 max have higher potential of chronic disease in later life. Body fat composition is a factor that affects VO2 max. A sedentary lifestyle and poor diet in medical students can lead to excess body fat mass, which can be measured through BMI, WC, and ABSI. Objective: The study aimed to determine the relation between BMI, WC, ABSI, and VO2 max in medical students. Methods: This study used an observational analytic method and a cross-sectional approach. It was conducted at the Medical Education and Research Center UPNVJ from January to December 2024. The sampling technique was simple random sampling with total sample size of 46 respondents. Data collection involved filling out a questionnaire and measuring BMI, WC, ABSI, and VO2 max. Statistical analysis in this study was performed using the Mann-Whitney test. Results: Most respondents had normal BMI, normal WC, and low ABSI. The results of bivariate analysis showed relation between WC and VO2 max (p = 0.000), and there was no relation between VO2 max with BMI (p = 0.344) and ABSI (p = 0.956). Conclusion: The study's results conclude that WC and VO2 max are related. However, there was no relation between BMI and ABSI and VO2 max in medical students.
Parental history and body mass index as predictors of osteoporosis among urban elderly women in Depok, Indonesia Kusumawardani, Kunthi Ayu; Supartono, Basuki; Hadiwiardjo, Yanti Harjono; Citrawati, Mila
BKM Public Health and Community Medicine Vol 41 No 02 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.v41i02.14618

Abstract

Purpose: This study aims to identify the risk factors associated with osteoporosis among urban elderly women in Depok, Indonesia. Methods: This research employed a cross-sectional design and involved 110 elderly women living in Cimanggis District, Depok. Participants were selected through consecutive sampling. Data were collected through interviews using the risk factor checklist from the International Osteoporosis Foundation, and bone density measurements were obtained using heel bone ultrasound. The relationship between variables was analyzed using the Chi-square test and logistic regression. Results: The results showed that most elderly suffer from osteoporosis (77.3%). BMI and parental history of hip fracture showed a significant relationship with bone density. History of fractures after 50 years of age, height loss greater than 4 cm, comorbidities, long-term medication use (over three months), smoking, and alcohol consumption showed no significant relationship with bone density. The most influential risk factor was a parental history of hip fracture. Conclusion: The majority of elderly women have osteoporosis (77.3%). Low body mass index and a family history of hip fractures are significantly associated with lower bone density. These results highlight the need for preventive strategies and lifestyle interventions to reduce osteoporosis risk among the elderly.
Hubungan Daya Tahan Kardiovaskular dan Aktivitas Fisik terhadap Tekanan Darah Mahasiswa Usia 18-21 Ananda, Regita Siska; Citrawati, Mila; Hadiwiardjo, Yanti Harjono; Widyawardani, Nugrahayu
Health and Medical Journal Vol 5, No 3 (2023): HEME September 2023
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v5i3.1292

Abstract

Pendahuluan: Indonesia memiliki data kejadian hipertensi menurut Riskesdas pada tahun 2018 dengan penduduk berusia lebih dari 18 tahun yaitu sebesar 34,11%, dan DKI Jakarta sebagai provinsi dengan kejadian peningkatan prevalensi hipertensinya tertinggi merupakan awalan bagi generasi selanjutnya untuk mulai memahami bahwa penting menjaga kondisi tubuh dari terjadinya peningkatan tekanan darah. Tekanan darah dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor baik yang tidak dapat di kontrol dan dapat di kontrol, salah satu contoh faktor yang dapat di kontrol adalah ketahanan kardiovaskular dan aktivitas fisik. Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dapat mencegah meningkatnya tekanan darah melalui mekanisme melebarnya pembuluh darah dan proses pembakaran lemak di pembuluh darah jantung dan aliran darah akan lencar. Daya tahan kardiovaskular adalah mampunya sistem paru, jantung, dan pembuluh darah dalam bekerjasama untuk mengangkut dan memberikan oksigen pada sel agar digunakan untuk metabolisme tubuh yang hasilnya dimanfaatkan untuk beraktivitas dalam waktu yang panjang tanpa kelelahan yang berarti. Maka dari itu, seseorang dengan daya tahan kardiovaskular yang baik maka kualitas aktivitas fisiknya baik ringan atau berat tidak akan membuat seseorang tersebut mengalami kelelahan yang berarti. Tujuan penelitian: Mengetahui hubungan daya tahan kardiovaskular dan aktivitas fisik dengan tekanan darah mahasiswa usia 18-21 tahun. Metode: Penelitian ini berjenis analitik obervasional yang menggunakan pendekatan secara potong lintang atau cross sectional. Proses penelitian dilakukan pada bulan Oktober hingga November tahun 2022 dengan jumlah responden sebanyak 78 orang yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Subjek penelitian diambil dengan metode probability cara simple random sampling. Analisis data setelah dilakukannya pengambilan data menggunakan uji alternatif Fisher. Hasil: Penggunaan uji alternatif Fisher dalam menganalisis hubungan akibat tidak terpenuhinya ketentuan untuk uji Chi-square menunjukan nilai p = 0,038 bagi hubungan daya tahan kardiovaskular dan tekanan darah, begitu juga untuk aktivitas fisik, dengan makna terdapatnya hubungan antara daya tahan kardiovaskular dan aktivitas fisik terhadap tekanan darah. Kesimpulan: Terdapatnya hubungan antara daya tahan kardiovaskular dan aktivitas fisik terhadap tekanan darah menunjukan terdapatnya manfaat dari melatih daya tahan kardiovaskular dan melakukan aktivitas fisik sebagai bentuk preventif peningkatan tekanan darah. Melakukan hal seperti berjalan kaki, jogging, bersepeda, dan kegiatan sederhana lainnya dapat melatih tubuh untuk beradaptasi dalam melakukan kegiatan sehari-hari agar tidak mudah mengalami lelah yang berarti dan menyebabkan peningkatan tekanan.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS BIAYA TERAPI KOMBINASI OBAT ANTIDIABETIK METFORMIN-GLIMEPIRIDE DAN ACARBOSE-GLIMEPIRIDE Tresnawati, Nden Ajeng; Hany Yusmaini; Mila Citrawati; Erna Harfiani
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 20 No. 1 (2024): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.vol20.iss1.art9

Abstract

Background: Type 2 diabetes mellitus (DM) is one of the cardiometabolic diseases with the highest prevalence worldwide, including Indonesia. The increasing number of type 2 DMs is known to have become an economic burden on Indonesia's health sector. There are several options for treating type 2 DM, either with monotherapy or in combination. At present, metformin, sulfonylurea, and acarbose have become common drugs in the treatment of type 2 DM. Variations in antidiabetic drugs will cause differences in therapy cost and effectiveness.Objective: The purpose of this study is to analyze the cost-effectiveness of the combination therapy of metformin-glimepiride and acarbose-glimepiride antidiabetic drugs in patients with type 2 DM at RSUD Sumedang in 2021 based on the hospital's perspective.Method: This study collected data by documenting medical records and patient costs from January to December 2021 using a cross-sectional design on 60 samples.Results: Findings from the statistical analysis showed that the combination of metformin and glimepiride did not make a difference in GDS (mean difference 10.70 mg/dL-1; p-value = 0.457). The average total direct medical costs of the acarbose-glimepiride group were higher than that of the metformin-glimepiride group, and there was a significant difference between the average costs of the antidiabetic drugs (p-value = 0.000).Conclusion: The combination of metformin-glimepiride therapy is more cost-effective than acarbose-glimepiride, with an ACER value of metformin-glimepiride Rp. 3,037.48.Keywords: Acarbose, cost effectiveness analysis, glimepiride, metformin, type 2 DM Intisari Latar belakang: Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan salah satu penyakit kardiometabolik dengan prevalensi tertinggi di seluruh dunia termasuk Indonesia. Peningkatan jumlah DM tipe 2 diketahui telah menjadi beban ekonomi bagi sektor kesehatan di Indonesia. Terdapat beberapa pilihan terapi dalam pengobatan DM tipe 2 baik secara monoterapi maupun kombinasi beberapa obat. Saat ini obat metformin, sulfonilurea, dan acarbose telah menjadi obat umum dalam pengobatan DM tipe 2 di Indonesia. Variasi terapi obat antidiabetik akan menyebabkan adanya perbedaan biaya dan efektivitas terapi. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk menentukan efektivitas biaya terapi kombinasi obat antidiabetik metformin-glimepirid dan acarbose-glimepirid pada pasien DM tipe 2 Instalasi Rawat Jalan di RSUD Sumedang Tahun 2021 berdasarkan perspektif rumah sakit.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi potong-lintang pada 60 sampel dengan pengambilan data dilakukan secara dokumentasi terhadap data rekam medis dan biaya pasien periode Januari-Desember 2021. Hasil: Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna selisih GDS pada kombinasi metformin-glimepirid dan acarbose-glimepirid (rata-rata perbedaan 10,70 mg/dL-1; nilai-p=0.457). Rata-rata total biaya langsung medis kelompok acarbose-glimepirid lebih tinggi dibandingkan metformin-glimepirid serta terdapat perbedaan bermakna rata-rata biaya obat antidiabetik (nilai-p=0.000).Kesimpulan: Kombinasi terapi metformin-glimepirid lebih cost-effective dibandingkan acarbose-glimepirid dengan nilai ACER metformin-glimepirid Rp. 3.037,48.Kata Kunci: Acarbose, analisis efektivitas biaya, DM tipe 2, glimepirid, metfotmin
HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK DAN TINGKAT STRES DENGAN RESTING HEART RATE PADA MAHASISWA KEDOKTERAN Syeftiani, Nabilatussalma; Citrawati, Mila; Safira, Lisa; Kristanti, Melly
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 1 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Resting Heart Rate (RHR) atau denyut jantung istirahat merupakan salah satu indikator penilaian risiko penyakit kardiovaskular. Rendahnya aktivitas fisik dan tingginya tingkat stres pada mahasiswa kedokteran dapat meningkatkan RHR yang akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan menurunkan harapan hidup. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dan tingkat stres dengan RHR pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta tahun 2022. Jenis penelitian ini termasuk analitik observasional dengan desain cross-sectional pada 46 orang subjek yang dipilih menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Pengambilan data RHR dilakukan secara langsung, sedangkan data aktivitas fisik dan tingkat stres menggunakan kuesioner GPAQ dan MSSQ. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Aktivitas fisik responden paling banyak pada kategori sedang, tingkat stres pada kategori berat, dan RHR pada kategori tinggi. Uji bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara aktivitas fisik dengan RHR (p = 0,665) dan antara stres dengan RHR (p = 0,226). Mahasiswa terbiasa melakukan aktivitas fisik harian dan menghadapi stresor selama menjalani perkuliahan. Terdapat kecenderungan RHR normal pada mahasiswa dengan aktivitas fisik sedang sampai tinggi, sedangkan pada mahasiswa dengan stres berat cenderung memiliki RHR tinggi. Kata kunci : aktivitas fisik, denyut jantung istirahat, stres DOI : 10.35990/mk.v7n1.p1-11
Peningkatan Pengetahuan dan Perilaku tentang Tb Paru pada Keluarga Binaan di Kota Depok: Motion Graphic: Increasing Knowledge and Behavior about Pulmonary Tuberculosis in Assisted Families in Depok City: Motion Graphic Parameswari, Aryadhira; Kristanti, Melly; Fitriya, Ismah Nurul Sittah; Shaifuddin, Zakky; Nur, Hendi Fulvian Fauzan; Amalia, Firda; Citrawati, Mila
Jurnal Pengabdian MALEO Vol. 3 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Maleo
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/maleo.v3i2.309

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit kronik yang bersifat menular akibat infeksi oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Tuberculosis umumnya menginfeksi jaringan parenkim paru-paru (TB paru) dan juga dapat menginfeksi organ lain (TB ekstra paru). Kegiatan ini bertujuan untuk melihat peningkatan pengetahuan dan perilaku serta kepatuhan pengobatan TB menggunakan Motion Graphic. Pengabdian ini menggunakan kuesioner dengan peserta terdapat 3 keluarga dengan jumlah total 13 peserta. Hasil pengukuran dilakukan pengolahan data menggunakan uji Wilocxon. Hasil kegiatan ini terdapat peningkatan rata-rata pengetahuan, perilaku dan kepatuhan pengobatan, tetapi secara statistic belum signifikan. Hasil ini diharapkan lebih difokuskan lagi dengan cara pendekatan lebih mendalam dalam melakukan penyuluhan walaupun menggunakan motion graphic hasil ini sudah dapat meningkatkan rata-rata pengetahuan dan perilaku pasien maupun keluarga pasien.  Tuberculosis (TB) is a chronic disease that is contagious due to infection by the bacterium Mycobacterium tuberculosis. Tuberculosis generally infects the parenchymal tissue of the lungs (pulmonary TB) and can also infect other organs (extrapulmonary TB). This activity aims to see the improvement of knowledge and behavior as well as TB treatment compliance using Motion Graphic. This service uses a questionnaire with participants there are 3 families with a total of 13 participants. The measurement results were processed using the Wilocxon test. The results of this activity showed an increase in the average knowledge, behavior, and adherence to treatment, but statistically it was not significant. This result is expected to be more focused by a more in-depth approach in conducting counseling, although using motion graphics, this result can increase the average knowledge and behavior of patients and their families.
PENGARUH OBESITAS TERHADAP KELELAHAN KERJA PADA PEGAWAI LAKI-LAKI DI UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA TAHUN 2023 Kristanti, Melly; Nur Fasya, Ratu Azka; Citrawati, Mila; Chairani, Aulia
Preventif : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 15 No. 1 (2024): Volume 15 No. 1 (2024)
Publisher : Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/preventif.v15i1.1087

Abstract

Kelelahan kerja adalah berkurang atau hilangnya kesiagaan atau kecepatan bereaksi dan kemampuan untuk menampilkan keselamatan dan kesehatan yang sering terjadi pada profesi yang bersifat human service dan pada jenis kelamin laki-laki. Salah satu faktor yang berperan terhadap terjadinya kelelahan kerja adalah status gizi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh obesitas terhadap kelelahan kerja pada pegawai laki-laki di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross-sectional dengan sampel berjumlah 51 pegawai laki-laki di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat pengaruh antara obesitas dengan kelelahan kerja (p = 0,888), tetapi terdapat faktor lain yang berpengaruh terhadap kelelahan kerja yaitu masa kerja (p = 0,006 ; OR = 10,964) dan beban kerja mental (p = 0,035 ; OR = 6,572). Pegawai kantoran lebih memperhatikan kondisi mental terhadap beban kerja yang dimiliki serta dapat menyesuaikan diri dimana tempat bekerja sebaik mungkin agar tidak terjadinya kelelahan kerja. Kata kunci: beban kerja mental, kelelahan kerja, masa kerja, obesitas, pegawai
Co-Authors Adisaputra, Chantika Zahra Agneta Irmarahayu Agus Aulung Agus Aulung, Agus Amanah, Salma Rizqi Ananda, Regita Siska Andri Pramesyanti Annisa Afifah Anughrayasa, Mikhaella Pritananda Aprilia, Citra Ayu Arman Yurisaldi Saleh Aulia Chairani, Aulia Baehaqi Basuki Supartono Bobby Singh Cahyaninglatri, Wendi Corlia Citra Ayu Aprilia Citra Ayu Aprilia Citra Ayu Aprilia Devora, Angelina Dhigna Luthfiyani Citra Pradana Diana Agustini Diana Agustini Purwaningastuti Dwi Rafita Lestari Erna Harfiani Etra Ariadno Fachruddin Perdana Fadhilah Apriliandri Firda Amalia Fitriya, Ismah Nurul Sittah Gandung Prakoso Gandung Prakoso, Gandung Hadiwiardjo, Yanti Harjiono Hany Yusmaini Harli Amir Mahmudji Heristyorini, Ayodya Hikmah Muktamiroh Imarta Retri Putri Kholib, Abdul Kristina Simanjuntak Kusumawardani, Kunthi Ayu Maria Selvester Thadeus Mayang Ameilia Putri Melly Kristanti Nadifa Kartika Dewi Niniek Hardini Niniek Hardini Noor Az Zhahra Nooramadhani, Tasya Novri Rahmadika Nugrahayu Widyawardani Nunuk Nugrohowati Nur Fasya, Ratu Azka Nur, Hendi Fulvian Fauzan Parameswari, Aryadhira Qori Aini Afiati Rahma Rufaida Susetyo Raihan, Muhamad Pandji Retno Yulianti Retno Yuliyanti Riezky Valentina Astari Rukman Abdullah Ruth Tio Napitupulu Safira, Lisa Shaifuddin, Zakky Shifa Azzahra Simanjuntak, Kristina Soroy Lardo Sri Wahyuningsih Sri Wahyuningsih Sri Wahyuningsih Syamsiar, Syamsiar Syeftiani, Nabilatussalma Theodora Putri Simanjaya Tiwuk Susantiningsih Tresnawati, Nden Ajeng Widyawardani, Nugrahayu Yanti Harjono Hadiwiardjo Yuli Suciati Yuliyanti, Retno