Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS KANDUNGAN ZAT BESI (FE) PADA BUAH KELOR (MORINGA OLEIFERA) ASAL KABUPATEN PANGKEP Wa Ode Rustiah
Jurnal Medika Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.176 KB) | DOI: 10.53861/jmed.v1i2.111

Abstract

Zat besi (Fe) merupakan salah satu mineral yang terkandung dalam kelor. Zat besi (Fe) adalah mikromineral yang sangat penting dalam tubuh karena berfungsi dalam pembentukan sel darah merah. Zat besi (Fe) dalam pembentukan sel darah merah yakni proses sintesis hemoglobin (Hb) dapat pula mengaktifkan beberapa enzim salah satunya yakni enzim pembentuk antibodi. Kekurangan zat besi (Fe) akan mengakibatkan anemia yang merupakan masalah gizi di Indonesia. Selain itu, dapat menurunkan kekebalan tubuh karena berhubungan erat dengan penurunan fungsi enzim pembentuk antibodi. tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar zat besi (Fe) pada buah kelor. Penelitian ini adalah penelitian jenis eksperimen dengan menganalisis mineral yakni zat besi (Fe) dimana digunakan sebagai suplemen dalam tubuh. Pada penelitian ini digunakan buah kelor sebagai sampel dengan tujuan untuk mengetahui kadar zat besi (Fe) pada sampel tersebut. Kandungan zat besi (Fe) dalam sampel digunakan cara Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Untuk buah kelor, kadar zat besi (Fe) rata-rata pada titik A yakni 2,50 mg/100 gram sampel, titik B yakni 3,20 mg/100 gram sampel, titik C yakni 3,59 mg/100 gram sampel dan titik D yakni 4,51 mg/100 gram sampel.
ANALISIS PAC (POLY ALUMINIUM CHLORIDE) DALAM MENURUNKAN KADAR COD AIR LIMBAH JASA LAUNDRY Wa Ode Rustiah; Yuli Andriani Deli
Jurnal Medika Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.431 KB) | DOI: 10.53861/jmed.v2i1.135

Abstract

Masalah pencemaran air saat ini sudah sangat memprihatinkan, apalagi di zaman modern saat ini banyak usaha jasa cuci pakaian atau laundry yang berada disekitar rumah warga, dimana limbah jasa cuci pakaian ini merupakan derivatik zat organik. Kandungan zat organik pada air limbah jasa cuci pakaian ini mengakibatkan tingginya kadar COD air, sehingga dapat menyebabkan pencemaran bagi lingkungan dan dapat menyebabkan toksik bagi kehidupan di dalam air. Oleh karena itu perlu dilakukan solusi untuk mengatasi pencemaran tersebut, salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan proses koagulasi menggunakan koagulan Poly Aluminium Chloride. Tujuan penelitian ini untuk menentukan efektifitas Poly Aluminium Chloride dalam menurunkan kadar COD pada limbah cair jasa laundry. Penelitian ini meliputi proses koagulasi menggunakan PAC dan uji penurunan kadar COD pada air limbah jasa laundry. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan variasi berat, maka dapat disimpulkan bahwa penurunan COD yang sangat baik diperoleh pada 0,3 gram yang dapat menurunkan COD sebesar 307,70 mg/L
IDENTIFIKASI ZAT METHYL PARABEN PADA PENCUCI ORGAN WANITA Wa Ode Rustiah; Ani Kartini; Novi Astrid
Jurnal Medika Vol 3 No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.909 KB) | DOI: 10.53861/jmed.v3i2.150

Abstract

Pencuci organ wanita adalah salah satu produk kosmetik yang banyak beredar di pasaran saat ini. Didalam kosmetik terdapat zat tambahan yang digunakan untuk mengawetkan kosmetik. Zat methyl paraben merupakan salah satu zat pengawet yang paling sering digunakan sebagai pengawet kosmetik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya zat methyl paraben pada pencuci organ wanita, penelitian ini bersifat observasi laboratorik, dengan tekhnik pengambilan sampel secara accidental sampling. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dengan jumlah sampel 5 sampel pencuci organ wanita. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa pada 3 sampel mengandung zat methyl paraben dan 2 sampel tidak mengandung zat methyl paraben dengan nilai Rf pada sampel yang positif adalah sampel A (Hb) 0,458; sampel B (Mj) 0,5; dan sampel C (RV) 0,458.
ANALISIS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN PACAR KUKU (Lawsonia inermis L) TERHADAP PERTUMBUHAN Salmonella sp Andi Fatmawati; Wa Ode Rustiah; Syaiful S
Jurnal Medika Vol 4 No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.3 KB) | DOI: 10.53861/jmed.v4i2.171

Abstract

Daun pacar kuku (Lawsonia inermis L) merupakan salah satu tanaman Indonesia yang sering digunakan masyarakat untuk pengobatan radang, luka bakar, dan penyakit kulit. Tanaman ini memiliki aktivitas antibakteri karena mengandung flavonoid, tanin, alkaloid, dan quinon. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan antibakteri ekstrak daun pacar kuku terhadap pertumbuhan Salmonella sp. Uji antibakteri ekstrak daun pacar kuku dilakukan dengan menggunakan 5 konsentrasi yaitu 15%, 25%, 50%, 75%, 100% pada media agar yang mengandung kultur bakteri Salmonella sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pacar kuku pada konsentrasi 100%, 75%, dan 50% memiliki kemampuan antibakteri terhadap pertumbuhan Salmonella sp, hal ini ditunjukkan dengan adanya zona bening yang terbentuk. Sedangkan pada konsentrasi 25% dan 15% tidak ditemukan kemampuan antibakteri terhadap pertumbuhan Salmonella sp.
IDENTIFIKASI FORMALIN PADA CINCAU YANG DIPERJUALBELIKAN DI BEBERAPA PASAR AREA KOTA MAKASSAR Wa Ode Rustiah; Tuty Widyanti; Andi Fatmawati; Yuwalida Yuwalida
Jurnal Medika Vol 4 No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.751 KB) | DOI: 10.53861/jmed.v4i2.172

Abstract

Cincau merupakan salah satu jenis makanan yang digemari oleh masyarakat, cincau merupakan produk yang memiliki karakteristik mudah rusak sehingga perlu dilakukan pengawetan. Bahan pengawet yang umumnya digunakan untuk mengawetkan pangan yang mempuanyai sifat mudah rusak, hal ini menyebabkan beberapa pedangang menggunakan bahan tambahan yang berbahaya dan dilarang penggunaannya pada makanan oleh pemerintah seperti Formalin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi formalin pada cincau yang diperjualbelikan di beberapa pasar di Kota Makassar. Jenis penelitian ini bersifat eksperimen laboratorik dengan teknik analisa kualitatif. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel cincau, sebanyak 10 sampel yang diambil dari beberapa pedangang di 5 Pasar tradisional dan 1 sampel di Supermarket. Teknik pengambilan sampel adalah Sampling Accidental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 10 sampel yang diambil di beberapa pasar dengan inisial SG 1, SG 2, PB 1, PB 2, AB 1, AB 2, TL 1, TL 2, MC 1, SP 1 dinyatakan tidak mengandung formalin atau hasil Negatif (-).
ANALISIS KADAR SAKARIN PADA HALUS MANIS YANG DIPERJUALBELIKAN DI KOTA MAKASSAR Waode Rustiah; Nurul Ni’ma Azis; Aulia Putri Cahyani Kaempe
Jurnal Medika Vol 6 No 2 (2021): Desember 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/jmed.v6i2.232

Abstract

Halus manis merupakan jajanan yang terbuat dari gula pasir yang diberi pewarna makanan dan dibuat menggunakan alat khusus yang berputar dan menghasilkan serat-serat gula yang halus. Dalam produksi halus manis terkadang ada pedagang menambahkan Bahan Tambahan Makanan (BTM) berupa sakarin. Sakarin adalah zat pemanis buatan dengan rumus kimia (C7H5NO3S), berbentuk bubuk kristal putih, mudah larut dalam air, tidak berbau dan sangat manis. Efek samping penggunaan sakarin dapat menyebabkan gangguan tenggorokan berupa batuk dan radang tenggorokan serta dapat menimbulkan kerusakan membran sel serta timbulnya kanker kandung kemih karena bersifat karsiogenik jika dikonsumsi dalam kurun waktu yang lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar sakarin dengan teknik pengambilan sampel random sampling dengan jumlah 10 sampel. Berdasarkan hasil penelitian uji kualitatif menggunakan uji kolorimetri diperoleh 7 sampel negatif (70%) dan 3 sampel positif (30%). Selanjutnya uji kuantitatif menggunakan uji alkalimetri diperoleh sampel 1 dengan kadar sakarin 0,0096 mg/kg, sampel 2 dengan kadar sakarin 0,0085 mg/kg dan sampel 5 dengan kadar sakarin 0,0096 mg/kg. Menurut Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988 mengenai bahan tambahan makanan, batas maksimum sakarin yaitu 50-300 mg/kg bahan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa halus manis yang diperjualbelikan di kota Makassar masih layak dikonsumsi karena masih masuk ambang batas yang ditetapkan.
COMPARISON OF TIMBAL LEVELS (Pb) ON BLOOD SHELLS (Anadara granosa) AND BAKAU (Shell Telescopium telescopium) IN PLACE AUCTION OF FISH (TPI) LAPPA SINJAI DISTRICT Rahmawati Rahmawati; Wa Ode Rustiah; Nurhidayat Nurhidayat; Novie Rezkiyana Dewi
Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar Vol 15, No 2 (2020): Media Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/medkes.v15i2.1235

Abstract

Shellfish is one of the sea products that is very popular with the community including the community in Sinjai Regency as a potential coastal and fishery resources that have a fish auction place (TPI). Shellfish are one of the most efficient marine animals to accumulate heavy metals. This is due to the fact that shellfish live in the bottom sedimentary layer of water, move very slowly, and their food comes from detritus in the bottom waters, so the chance of entering heavy metals into the body is very large. Shells can be contaminated by lead (Pb) which enters the body of water through the crystallization of lead in the air with the help of rain water. Lead which accumulates in water and sediments will enter the water and accumulate in the water causing toxic effects on the organisms in it, including some types of shellfish. If humans consume shells that contain heavy metals in high enough quantities will have a negative impact on health. In the human body, heavy metals will combine with active enzymes to become inactive enzymes, so the synthesis of red blood grains (Hb) can be inhibited, consequently it can cause anemia. The purpose of the study was to determine lead content (Pb) in the sample of shellfish. The object of research is blood shells and mangrove shells, analyzed using the Atomic Absorption Spectrophotometer (SSA) method with a total sample of 10. The results obtained by lead (Pb) in blood shells (Anadara granosa) with an average of 0.0439 mg / kg while the mangrove shells (Telescopium telescopium) with an average of 0.0176 mg / kg. Both shellfish samples did not exceed the maximum limit set by the Indonesian National Standard (SNI) of 1.5 mg / kg. Based on the data analysis test p value = 0.011 <0.05 which can be concluded that there is a significant difference between the levels of lead (Pb) in blood shells (Anadara granosa) and mangrove shells (Telescopium telescopium). Keywords: Blood Shells (Anadara granosa), Mangrove Shells (Telescopium telescopium), Lead (Pb),                  Atomic Absorption Spectrophotometer (SSA)
Analisis Kadar Natrium Benzoat Pada Bumbu Dapur yang Diperjualbelikan Di Kota Makassar Waode Rustiah; Nur Qadri Rasyid; A. Nur Afni Ishak
Lontara Journal of Health Science and Technology  Vol 3 No 1 (2022): Ilmu dan Teknologi Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/lontarariset.v3i1.260

Abstract

Bumbu dapur instan adalah campuran dari berbagai macam bumbu rempah yang diolah dan diproses dengan komposisi tertentu. Penggunaan pengawet natrium benzoat pada bumbu dapur instan dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur. Penggunaan pengawet natrium benzoat secara berlebihan dapat menyebabkan endema (bengkak), keram perut, rasa kebas di mulut, dan dalam jangka panjang menimbulkan penyakit kanker, serta dapat merusak sistem syaraf. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kadar natrium benzoat pada bumbu dapur yang diperjualbelikan di kota Makassar. Jenis penelitian yaitu observasi laboratorik, sampel diambil sebanyak 10 dan masing-masing dianalisis dengan menggunakan alat Spektrofotometer UV-Vis pada panjanggelombang 275 nm. Hasil pengukuran terhadap 10 sampel menunjukkan kadar natrium benzoat pada sampel B1 110.95 mg/kg, sampel B2 320.97 mg/kg, sampel B3 98.91 mg/kg, sampel B4 160.07 mg/kg, sampel B5 483.96 mg/kg, sampel B6 865.41 mg/kg, sampel B7 527.58 mg/kg, sampel B8 213.59 mg/kg, sampel B9 253.90 mg/kg, sampel B10 86.59 mg/kg. Pada sampel B6 kadar natrium benzoatnya sebesar 865.41 mg/kg. Kadar ini melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh BPOM No. 36 tahun 2013 yaitu 600 mg/kg, maka sampel tersebut dinyatakan tidak layak untuk dikonsumsi.
LIMBAH SAYURAN REBUNG BAMBU SEBAGAI MIKROORGANISME LOKAL (MOL) DALAM PEMBUATAN PUPUK ORGANIK: Perspektif Pengelolaan Sampah Organik Waode Rustiah Rustiah; Dewi Arisanti; Mujahidah Basarang; Nur Qadri Rasyid; Andi Fatmawati
Lontara Abdimas : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 1 (2022): Juni
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/lomas.v3i1.259

Abstract

This Community Service Program aims to enhance motivation, knowledge and skills about techniques of producing organic fertilizer from household waste by utilizing local microorganisms (MOL), which can replace agricultural chemicals. Training of using of bamboo shoots vegetable waste, as MOL in the manufacture of organic fertilizer, provides enlightenment in the manufacture of liquid organic fertilizer, and encourages local community businesses independently. MOL contain micro and macro nutrients and bacteria that have the potential to decompose organic matter, stimulate plant growth and act as an activator or decomposer in composting. Organic fertilizers are fertilizers composed of living matter that is processed through a process of decomposition (decomposition) by decomposing bacteria. The method of this community service consists of three phase, namely: 1) the preparation phase, including counseling to the community of Bonto Kio Village, Kec. Minasate'ne, Kab. Pangkep on the using of MOL as liquid organic fertilizer from bamboo shoots vegetable waste; 2) the implementation phase, including direct practice of the material presented; and 3) question and answer or discussion on the use of MOL as organic fertilizer. The results show that this counseling and training success to enhance motivation the community and shows that their level of curiosity and interest in making liquid organic fertilizer using local microorganisms is quite high, such as to increase soil microbes which in turn maintain the fertility of their agricultural land. The community's understanding of the benefits of this activity is very large, as can be seen from the desire to independently make MOL-based organic fertilizers.
UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI SARI BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) TERHADAP BAKTERI YANG DIISOLASI DARI MULUT Fatwa Fatwa; Mujahidah Basarang; Waode Rustiah
Jurnal Medika Vol 7 No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Kesehatan Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/jmed.v7i1.288

Abstract

Bawang putih (Allium sativum L) adalah tanaman yang sejak dahulu telah digunakan untuk tujuan pengobatan infeksi karena memiliki sifat antibakteri. Kandungan dari bawang putih yaitu allicin dapat menghambat pertumbuhan bakteri di dalam mulut. Bawang putih sering digunakan masyarakat untuk mengobati berbagai penyakit, terutama penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan sari bawang putih (Allium sativum L) dalam menghambat pertumbuhan bakteri yang diisolasi dari mulut dan untuk mengetahui konsentrasi yang paling baik menghambat pertumbuhan bakteri yang diisolasi dari mulut. Perasan bawang putih dibuat dengan konsentrasi 25%, 50%, 75% dan 100%. Uji efektivitas perasan bawang terhadap bakteri dari mulut menggunakan metode disc diffusion pada medium Mueller Hinton Agar (MHA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi larutan bawang putih maka semakin besar hambatan terhadap pertumbuhan bakteri dengan zona hambat yang terbentuk pada masing-masing konsentrasi 25%, 50%, 75%, 100% sebesar 17,8, 24,7, 29,5, 29,8 mm. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sari bawang putih memiliki efektivitas antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri yang diisolasi dari mulut dan konsentrasi sari bawang putih yang paling paling besar menghasilkan zona hambat pertumbuhan bakteri yang diisolasi dari mulut adalah konsentrasi 100%.
Co-Authors . Maming A. Nur Afni Ishak Al Munawwarah, Fira Alfian Alfian Alfian Alfian Alfian Alfian Alfian Noor Alfian Noor Alfian Noor Alfian Noor Alfian Noor Alimin Alimin Andi Fatmawati Andi Fatmawati Andi Fatmawati Andi Fatmawati Andi Nurrahma Andi Rosmawati Andi Tenri Fitriyah Ani Kartini Anita Anita Anita Anita Anna Handayani Annisa Fillaeli Ansar, Asnaeni Arisanti, Dewi Aryanto, Bambang Ashrafiyah Ashrafiyah Ashrafiyah, Ashrafiyah Aulia Putri Cahyani Kaempe Azis, Nurul Ni’ma Baharuddin Baharuddin Baharuddin Sunu Bano, Siti Maryam Basarang, Mujahidah Darmawaty Rauf Dewi Arisanti Dewi Arisanti Dewi Arisanti Dini Cahyani Putri Effendy Rasiyanto Ernawati Ernawati Ernawati Ernawati Fajriah, Nur Fatikhah Nur Hidayati P.S. Fatwa Fatwa Fira Al Munawwarah Gustriani Gustriani Hamran, Suci Alya Harun, Herlinda Mahdania Hasnah Hasnah Hasnah Hasnah Hasnah Hasnah Ishak, A. Nur Afni Kasturi Rais Kiki Putri Amelia Laki, Sriyunanda Lesmana, Utami Ayu Lestari, Rita Mahdania Harun, Herlinda Maming Gaffar Maming Maming Maming Maming Maming Maming Marwah Syafa Maswati Baharuddin Meliyani Yusuf Mirnawati Mirnawati Muawanah Muawanah Muawanah Muawanah Muh. Rifo Rianto Muh. Rusli Muhammad Lukman Muhammad Lukman Muharram, A. Fatmawati Muharram, Andi Fatmawati Mujahidah Basarang Mutmainnah Mutmainnah Novi Astrid Novie Rezkiyana Dewi Novita Rahman Nur Qadri Rasyid Nur Qadri Rasyid Nur Umriani, Nur Nuraedah Hasima Nurfadillah Nurfadillah Nurfadillah Nurfadillah Nurhidayat Nurhidayat Nurul Ni’ma Azis Nurul Ni’ma Azis Nurul Ni’ma Azis Permata, Indra Raden Mohamad Herdian Bhakti Rahmawati Rahmawati Rahmawati Rahmawati Rahmawati, Rahmawati Rasyid, Nur Qadri Rosmawati, Andi Samsinar Samsinar Sartika F. Rahman Siti Maryam Bano Sitti Chadijah Sjamsiah, Sjamsiah Sriyunanda Laki St Chadijah St Chadijah St. Chadijah Suardi suardi suardi Suci Alya Hamran Sulistyani Sulistyani Susila Kristianingrum Syaiful S Tuty Widyanti Tuty Widyanti Warsy Warsy Widyanti, Tuty Yuli Andriani Yuli Andriani Deli Yustikasari Masulili Yuwalida Yuwalida