Artikel ini mengevaluasi dilema biaya-manfaat dari program akuisisi kapal selam bertenaga nuklir Australia melalui pakta AUKUS, yang disepakati dengan Amerika Serikat dan Inggris pada tahun 2021. Meskipun proyek ini diklaim sebagai langkah strategis untuk memperkuat pertahanan bawah laut Australia di kawasan Indo-Pasifik, berbagai kritik telah muncul terkait lonjakan biaya, ketidakpastian jadwal, dan dampaknya terhadap kebijakan luar negeri. Dengan estimasi biaya mencapai AUD 368 miliar, proyek ini menjadi investasi pertahanan terbesar Australia dalam 30 tahun terakhir. Namun, beban fiskal, ketergantungan teknologi asing, dan keterlambatan pengiriman hingga pertengahan 2030-an menimbulkan pertanyaan serius mengenai efektivitas jangka pendek sistem pertahanan tersebut. Di sisi lain, meskipun kapal selam nuklir menawarkan keunggulan strategis seperti jangkauan dan ketahanan operasional, dampak geopolitik dan persepsi ancaman dari negara-negara tetangga seperti ASEAN dan Tiongkok berpotensi memperburuk stabilitas regional dan mendorong perlombaan senjata. Selain itu, keterlibatan yang semakin dalam dalam arsitektur pertahanan Amerika Serikat dapat mempersempit ruang diplomasi independen Australia dan mengurangi fleksibilitas posisinya di tengah dinamika Indo-Pasifik yang multipolar. Melalui pendekatan deskriptif-analitis, artikel ini menekankan perlunya Australia mengadopsi mekanisme evaluasi pengadaan militer yang lebih adaptif dan berbasis risiko. Tujuannya adalah untuk menyeimbangkan kebutuhan penangkalan berteknologi tinggi dengan pendekatan kolaboratif dan efisien dalam membangun ketahanan maritim. Dengan demikian, proyek AUKUS harus dipertimbangkan tidak hanya sebagai alat pertahanan, tetapi juga sebagai komponen strategis dalam arsitektur keamanan regional yang menuntut kehati-hatian, fleksibilitas, dan perhitungan geopolitik yang matang.