cover
Contact Name
Muhammad Asy'ari
Contact Email
muhammadasyari1991@gmail.com
Phone
+6285338219596
Journal Mail Official
lumbunginovasi@gmail.com
Editorial Address
Tanjung Karang Sekarbela, Mataram, NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
ISSN : -     EISSN : 2541626X     DOI : -
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat | Lumbung Inovasi: Journal of Community Service (ISSN: 2541-626X) is an open access scientific journal that publish community service and empowerment articles. This journal published twice a year (bianually) in May and November.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 522 Documents
Pemanfaatan Jantung Pisang sebagai Produk Bananeat Sebagai Produk Inovatif untuk Usaha Katering Rumah Tangga Ramadhan, Muhamad Justitia; Mulyati, Yayuk; Setiawan, Deny; Daryanes, Febblina; Kharomah, Sindi; Firdaus, Zahra; Hayuana, Wachidah; Zubaidah, Siti
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/mwq0hr28

Abstract

Peningkatan tren pola hidup vegan mendorong kebutuhan akan pangan alternatif yang sehat, bergizi, dan terjangkau. Jantung pisang merupakan salah satu sumber daya lokal yang mengandung serat, protein, vitamin, mineral, serta senyawa bioaktif, namun pemanfaatannya masih terbatas dan umumnya hanya digunakan sebagai sayuran tradisional. Rendahnya inovasi dalam pengolahan jantung pisang menyebabkan bahan pangan ini belum dikenal luas sebagai alternatif sumber protein nabati yang bernilai tinggi. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengenalkan inovasi pengolahan jantung pisang melalui pelatihan pembuatan bakso nabati bagi warga Kampung Sanan, Malang, Jawa Timur. Program dilaksanakan dengan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) melalui tahapan identifikasi aset lokal, pelatihan teknis, praktik langsung, serta evaluasi partisipatif. Hasil evaluasi menunjukkan respon positif, dengan 82,6% peserta menyatakan sangat puas terhadap pelatihan yang dinilai bermanfaat, jelas, dan menarik. Dengan demikian, kegiatan pelatihan ini membuka peluang usaha baru di bidang kuliner sehat seperti katering atau produk olahan nabati, sehingga berkontribusi terhadap penguatan ekonomi masyarakat. Utilization of Banana Blossoms as Bananeat Products as Innovative Products for Home Catering Businesses Sanan Malang Residents Abstract The growing trend of vegan lifestyles has driven the demand for healthy, nutritious, and affordable alternative foods. Banana hearts are a local resource that contain fiber, protein, vitamins, minerals, and bioactive compounds, but their use is still limited and generally only used as a traditional vegetable. The lack of innovation in processing banana hearts has meant that this food ingredient is not widely known as a high-value alternative source of plant-based protein. This community service activity aims to introduce innovations in banana heart processing through training in making plant-based meatballs for residents of Kampung Sanan, Malang, East Java. The program was implemented using an Asset-Based Community Development (ABCD) approach through the stages of local asset identification, technical training, hands-on practice, and participatory evaluation. The evaluation results showed a positive response, with 82.6% of participants stating that they were delighted with the training, which they considered valuable, clear, and engaging. Thus, this training activity opens up new business opportunities in the field of healthy cuisine, such as catering or plant-based processed products, thereby contributing to the strengthening of the community's economy.
Sosialisasi Toilet Bersih di Sekolah 3 T: Studi Persepsi Siswa SMA Negeri 5 Tidore Kepulauan Madi, Nasrullah La; Sabtu, Rasmita; Sinyo, Yumima
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/k965wy84

Abstract

Kebersihan toilet sekolah merupakan aspek penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan nyaman. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di SMA Negeri 5 Tidore Kepulauan, yang termasuk wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan persepsi siswa terhadap pentingnya menjaga kebersihan toilet sekolah. Metode yang digunakan adalah sosialisasi edukatif dan pengisian angket skala Likert untuk mengukur tingkat persepsi siswa terhadap aspek pengetahuan, sikap, dan partisipasi dalam menjaga kebersihan toilet. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk awal pendekatan edukasi partisipatif sanitasi berbasis persepsi siswa di daerah 3T, yang menekankan keterlibatan langsung siswa dalam memahami pentingnya sanitasi sekolah. Hasil menunjukkan bahwa persepsi siswa tergolong positif dengan capaian skor 73,3%, terutama pada indikator pemahaman pentingnya toilet bersih dan rasa bangga terhadap program kebersihan. Meskipun demikian, tingkat partisipasi langsung siswa dalam kegiatan kebersihan masih rendah. ini menunjukkan bahwa pendekatan sosialisasi edukatif efektif dalam meningkatkan kesadaran siswa, tetapi perlu ditindaklanjuti dengan kegiatan praktik kebersihan yang lebih partisipatif. Kegiatan ini mendorong terbentuknya budaya peduli sanitasi di sekolah 3T dan perlu dilanjutkan melalui program kolaboratif berkelanjutan.  Clean Toilet Socialization in 3T Schools: Student Perception Study of State Senior High School 5 Tidore Islands  Abstract The cleanliness of school toilets is an essential factor in creating a healthy and comfortable learning environment. This community service activity was conducted at SMA Negeri 5 Tidore Kepulauan, a school located in one of Indonesia’s 3T regions (underdeveloped, frontier, and outermost areas), with the aim of increasing students’ awareness and perceptions of the importance of maintaining toilet hygiene. The activity used an educational socialization approach combined with a Likert-scale questionnaire to measure students’ perceptions in three aspects: knowledge, attitude, and participation in maintaining toilet cleanliness.This program represents an early form of participatory sanitation education based on students’ perceptions in 3T areas, emphasizing the active involvement of students in understanding the importance of school sanitation. The results showed that students’ overall perception was positive, with an average score of 73.3%, particularly in indicators related to understanding the importance of clean toilets and feeling proud of the cleanliness program. However, students’ direct participation in cleaning activities remained relatively low.These findings indicate that educational socialization is effective in improving students’ awareness of sanitation, yet it needs to be followed by more participatory and practical cleaning activities. This activity encourages the development of a sanitation-awareness culture in 3T schools and should be continued through sustainable collaborative programs.
Pengembangan Bahan Ajar Digital dan Non-Digital Pelajaran Bahasa Inggris Untuk Guru MI Miftahul Ulum 02 Putat Lor Kabupaten Malang Nasihah, Durotun; Cahyanto, Bagus; Zubaidi, Nanang; Satsuki, Takizawa; Nafi’ah, Nida
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/2q6r1a80

Abstract

Saat ini guru dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif dalam mengembangkan bahan ajar bahasa Inggris karena banyak siswa sekolah dasar yang memiliki kemampuan bahasa Inggris yang masih rendah. Guru kelas diwajibkan menguasai semua mata pelajaran termasuk bahasa Inggris, tetapi sebagian besar dari mereka masih bergantung pada lembar kerja siswa (LKS) sebagai bahan ajar utama. Masalah yang dihadapi di sekolah wilayah urban adalah minimnya akses kegiatan-kegiatan penunjang yang terkait penggunaan teknologi dalam pembelajaran dan menciptakan bahan ajar yang kreatif dan inovatif.  Oleh karena itu, guru perlu mendapatkan kegiatan pelatihan dan pendampingan dalam menciptakan bahan ajar baik digital maupun non-digital. Bahan ajar digital dirancang sebagai bentuk adaptasi terhadap kemajuan teknologi yang pesat, sedangkan bahan ajar non-digital dimaksudkan untuk mendukung praktik pembelajaran yang berlangsung saat ini. Peserta dalam pelatihan ini berjumlah 20 orang guru dan tenaga kependidikan MI Miftahul Ulum 02, kabupaten Malang, Indonesia. Metode yang digunakan meliputi pelatihan, pendampingan, implementasi dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa 52,9 % peserta yang awalnya belum pernah mengikuti pelatihan pengembangan bahan ajar baik digital dan non-digital, kini 75 % peserta merasa mendapat pengetahuan terkait pembuatan bahan ajar. Selain itu, 82,4% peserta fokus menggunakan LKS dalam pembelajaran, kini 100% peserta mempunyai satu bahan ajar digital, satu bahan ajar non-digital. Pellatihan ini menunjung pembeljaran yang kontekstual berbasis teknologi di sekolah dasar wilayah rural. Development of English Lesson Digital and Non-Digital Teaching Materials for Teachers at MI Miftahul Ulum 02 Putat Lor, Malang Regency Abstract Currently, teachers are required to be creative and innovative in developing English language teaching materials because many elementary school students have low English skills. Classroom teachers are required to master all subjects, including English, but most of them still rely on student worksheets (LKS) as the main teaching material. A problem faced in urban schools is the limited access to supporting activities related to the use of technology in learning and creating creative and innovative teaching materials. Therefore, teachers need training and mentoring in creating both digital and non-digital teaching materials. Digital teaching materials are designed as a form of adaptation to rapid technological advances, while non-digital teaching materials are intended to support current learning practices. Participants in this training were 20 teachers and educational staff from MI Miftahul Ulum 02, Malang Regency, Indonesia. The methods used included training, mentoring, implementation, and evaluation. The results of the activity showed that 52.9% of participants who had not previously participated in training on developing digital and non-digital teaching materials, now 75% of participants felt they had gained knowledge related to creating teaching materials. In addition, 82.4% of participants focused on using LKS in learning, now 100% of participants have one digital teaching material, one non-digital teaching material. This training supports technology-based contextual learning in elementary schools in rural areas.
Pendampingan Pengelolaan Hutan Lindung pada HKm Lestari 1 Desa Tumbang Nusa Kabupaten Pulang Pisau Nopembereni, Eti Dewi; Elvince, Rosana
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/axnfsp45

Abstract

Hutan kemasyarakatan (HKm) merupakan hutan yang diberikan hak pengelolaannya kepada kelompok masyarakat unutk dimanfaafkan guna meningkatkan perekonomian masyarakat. Keberadaan HKm Lestari 1 di Desa Tumbang Nusa belum dikelola secara optimal karena kurangnya pemahaman anggota terkait pengelolaan dan pemanfaatan HKm secara berkelanjutan, meskipun HKm Lestari 1 telah memiliki izin untuk mengelola hutan secara sah, yang diperoleh dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Tahun 2023. Tujuan kegiatan untuk meningkatkan pemahamam peserta terkait keberadaan, fungsi dan manfaat Hutan Kemasyarakatan (HKm) yang dlilakukan pada bulan September 2025 di Desa Tumbang Nusa Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau dengan peserta yaitu pengurus dan anggota HKm Lestari 1. Metode pelaksanaan kegiatan ini menggabungkan metode ceramah dan demonstrasi peta sebagai pendekatan edukatif dalam penguatan pemahaman kawasan HKm, yang belum banyak diterapkan sebelumnya di Kalimantan Tengah. Metode ceramah dilakukan dengan cara memaparkan materi terkait HKm untuk menambah wawasan masyarakat dalam pengelolaan HKm, sedangkan demonstrasi peta dilakukan untuk melibatkan masyarakat dalam memetakan area dalam zona produksi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sesuai dengan kondisi zona tersebut dan untuk menggali lebih detail tentang pengetahuan peserta terhadap keberadaan HKm, zona, fungsi dan manfaatnya. Perubahan pemahaman dan pengetahuan peserta  dapat dilihat dari peningkatan jumlah peserta yang mengetahui dan memahami tentang HKm berdasarkan pre-test dan post-test yaitu hanya 16,67%  peserta yang mengetahui tentang HKm pada saat awal kegiatan dan meningkat menjadi 100% (semua peserta) pada akhir kegiatan. An Assistance in Protected Forest Management at HKm Lestari 1, Tumbang Nusa Village, Pulang Pisau Regency Abstract Community forests (HKm) are forests whose management rights are granted to community groups to be utilised for the purpose of improving the community's economy. The existence of HKm Lestari 1 in Tumbang Nusa Village has not been optimally managed due to a lack of understanding among members regarding the sustainable management and utilisation of HKm, even though HKm Lestari 1 has obtained a legal permit to manage the forest from the Ministry of Environment and Forestry in 2023. The objective of this activity was to increase participants' understanding of the existence, function and benefits of Community Forests (HKm), which was carried out in September 2025 in Tumbang Nusa Village, Jabiren Raya Sub-district, Pulang Pisau Regency, with participants consisting of the administrators and members of HKm Lestari 1. The method of implementing this activity combines lectures and map demonstrations as an educational approach to strengthening understanding of the HKm area, which has not been widely applied in Central Kalimantan before. The lecture method was carried out by presenting material related to HKm to increase community knowledge in HKm management, while the map demonstration was carried out to involve the community in mapping areas within the production zone that can be utilised by the community in accordance with the conditions of the zone and to explore in more detail the participants' knowledge of the existence of HKm, zones, functions and benefits. Changes in participants' understanding and knowledge can be seen from the increase in the number of participants who know and understand HKm based on pre-tests and post-tests, namely only 16.67% of participants who knew about HKm at the beginning of the activity and increased to 100% (all participants) at the end of the activity.
Gerakan “Genting” Sebagai Model Pemberdayaan Orang Tua Asuh Dan Pemanfaatan Ikan Gabus Di Kabupaten Kapuas Pahoe, Evi Veronica; Maryani, Maryani; Elvince, Rosana; Norhayani, Norhayani; Wulandari, Linda
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sy0kzw69

Abstract

Kabupaten Kapuas di Provinsi Kalimantan Tengah masih menghadapi tantangan serius dalam menurunkan angka stunting pada balita, dengan prevalensi di beberapa wilayah yang melebihi ambang batas 20% menurut standar WHO. Masalah ini tidak hanya disebabkan oleh rendahnya asupan gizi, tetapi juga oleh faktor pola asuh, pengetahuan orang tua, dan keterbatasan akses pangan bergizi. Di sisi lain, potensi lokal berupa ikan gabus (Channa striata), yang kaya albumin dan nutrien penting, belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber pangan fungsional. Untuk menjawab tantangan tersebut, dikembangkan program Gerakan GENTING (Gerakan Pemberdayaan Orang Tua Asuh dalam Produksi Olahan Ikan Gabus) yang bertujuan meningkatkan status gizi anak berisiko stunting sekaligus memberdayakan masyarakat. Berbeda dari pendekatan stunting konvensional, kegiatan ini mengintegrasikan edukasi gizi, pelatihan usaha, dan pemanfaatan pangan lokal secara simultan, yang belum banyak diterapkan di Kalimantan Tengah. Program ini melibatkan ibu PKK dan tokoh masyarakat melalui pelatihan pengolahan ikan gabus dan pendampingan konsumsi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan gizi sebesar 40% dan perubahan perilaku konsumsi, di mana 70% keluarga sasaran mengonsumsi olahan ikan gabus minimal tiga kali per minggu. Kegiatan ini tidak hanya memperbaiki status gizi anak, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui pengembangan produk olahan ikan lokal. “GENTING” Movement as a Model of Foster Parent Empowerment and Utilization of Snakehead Fish in Kapuas Regency Abstract Kapuas Regency in Central Kalimantan still faces serious challenges in reducing stunting among children under five, with prevalence in several areas exceeding the 20% threshold set by WHO. This problem is not only caused by low nutritional intake but also by parenting patterns, limited nutritional knowledge, and restricted access to nutritious food. On the other hand, the local potential of snakehead fish (Channa striata), which is rich in albumin and essential nutrients, has not been optimally utilized as a functional food source. To address this challenge, the GENTING Movement (Empowerment of Foster Parents in Snakehead Fish Processing) was developed to improve the nutritional status of children at risk of stunting while empowering the community. Unlike conventional stunting interventions, this program integrates nutrition education, entrepreneurship training, and the utilization of local food simultaneously an approach rarely applied in Central Kalimantan. The program involved women’s groups (PKK) and community leaders through training in snakehead fish processing and consumption assistance. The results showed a 40% increase in nutritional knowledge and improved dietary behavior, with 70% of target families consuming snakehead-based products at least three times per week. This activity not only improved children’s nutritional status but also created new economic opportunities through local fish product development.
Pelatihan Strategi dan Taktik Bermain Pada Tim Sepakbola Wanita Banjarbaru Arifin, Ramadhan; Nurdiansyah, Nurdiansyah; Warni, Herita; Mashud, Mashud; Amirudin, Akhmad; Rachman, Aryadi; Nata, Ananda Muhammad Fajar Kusuma; Mustaqim , Muhammad Rizal
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ca5s4s19

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan taktik bermain, khususnya strategi menyerang, pada tim sepakbola wanita Kota Banjarbaru. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh lemahnya pemahaman strategi bermain pada tim sepak bola wanita Kota Banjarbaru, terutama dalam penerapan pola dan strategi menyerang yang efektif. Kondisi ini berdampak pada kurang optimalnya koordinasi tim dan efektivitas permainan di lapangan. Oleh karena itu, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan taktik bermain, khususnya strategi menyerang, pada tim sepak bola wanita Kota Banjarbaru. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui pendekatan pelatihan terstruktur yang meliputi penyampaian teori strategi bermain, diskusi interaktif, demonstrasi pola serangan, serta simulasi pertandingan. Peserta kegiatan berjumlah 25 orang pemain sepakbola wanita yang aktif berlatih di bawah binaan pelatih daerah. Evaluasi dilakukan menggunakan tes pemahaman strategi bermain yang diberikan sebelum dan sesudah pelatihan (pre-test dan post-test). Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada kemampuan peserta. Nilai rata-rata tes awal sebesar 53,8 meningkat menjadi 87,8 pada tes akhir, atau terjadi peningkatan sekitar 63%. Sebanyak 92% peserta menunjukkan peningkatan pemahaman dan kemampuan menerapkan strategi menyerang dalam simulasi pertandingan. Strategy and Tactics Training for the Banjarbaru Women's Football Team Abstract This Community Service (PkM) activity was carried out with the aim of improving the understanding and skills of playing tactics, particularly attacking strategies, in the Banjarbaru City women's soccer team. This activity was motivated by the weak understanding of playing strategies in the Banjarbaru City women's soccer team, especially in the implementation of effective attacking patterns and strategies. This condition has an impact on suboptimal team coordination and game effectiveness on the field. Therefore, this Community Service (PkM) activity was carried out with the aim of improving the understanding and skills of playing tactics, particularly attacking strategies, in the Banjarbaru City women's soccer team. The method of implementation was carried out through a structured training approach that included the delivery of playing strategy theory, interactive discussions, demonstrations of attack patterns, and match simulations. The activity participants numbered 25 female soccer players who actively train under the guidance of local coaches. Evaluation was carried out using a test of understanding of playing strategies given before and after the training (pre-test and post-test). The results of the activity showed a significant increase in the participants' abilities. The average score of 53.8 in the initial test increased to 87.8 in the final test, or an increase of approximately 63%. As many as 92% of participants showed an increase in understanding and ability to apply attacking strategies in match simulations.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Eco-Enzyme untuk Pengelolaan dan Degradasi Limbah Cair Industri Tempe di Desa Sukorejo Trenggalek Firdaus, Rohim Aminullah; Rahmawati, Endah; Dzulkiflih, Dzulkiflih; Khoiro, Muhimmatul; Putri, Nugrahani Primary; Yantidewi, Meta
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/6eyqtz37

Abstract

Limbah cair industri tempe memiliki beban organik tinggi (COD, BOD, TSS) yang berpotensi menurunkan kualitas lingkungan jika dibuang tanpa pengolahan. Sebagian besar pelaku UMKM tempe di pedesaan belum memiliki akses terhadap teknologi pengolahan yang murah dan sederhana, sehingga diperlukan pendekatan alternatif berbasis partisipasi masyarakat. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan memberdayakan warga Desa Sukorejo, Trenggalek dalam pengelolaan limbah cair menggunakan eco-enzyme hasil fermentasi sampah organik rumah tangga. Berbeda dari pendekatan konvensional, kegiatan ini menerapkan model partisipatif dengan pembuatan dan penerapan eco-enzyme berbasis rumah tangga yang terintegrasi dengan monitoring masyarakat, sebuah pendekatan yang belum umum diterapkan pada pengelolaan limbah tempe skala kecil. Metode meliputi pemetaan pelaku usaha, sosialisasi, pelatihan pembuatan eco-enzyme (rasio 3:1:10; fermentasi ±90 hari), penyusunan SOP aplikasi (1–5% v/v), dan pendampingan uji sederhana (pH, bau, kekeruhan). Program diikuti 18 peserta dan menghasilkan kelompok pengelola serta unit percontohan. Observasi menunjukkan penurunan bau dan kekeruhan dalam 24–48 jam serta peningkatan pengetahuan peserta. Evaluasi respon peserta menunjukkan kategori sangat baik (rata-rata >90%). Kegiatan ini efektif meningkatkan kapasitas masyarakat dan menunjukkan potensi eco-enzyme sebagai solusi awal pengolahan limbah cair tempe yang murah dan berkelanjutan. Community Empowerment Through Eco-Enzymes for the Management and Degradation of Liquid Waste from Tempeh Industries in Sukorejo Village, Trenggalek Abstract Liquid waste from tempeh production contains high organic loads (COD, BOD, TSS) that can degrade environmental quality if discharged without proper treatment. Most small-scale tempeh producers in rural areas lack access to simple and low-cost treatment technologies, necessitating an alternative approach grounded in community participation. This Community Service Program (PKM) aims to empower residents of Sukorejo Village, Trenggalek in managing liquid waste using eco-enzymes produced from the fermentation of household organic waste. Unlike conventional approaches, this program adopts a participatory model involving the household-based production and application of eco-enzymes integrated with community monitoring—an approach that is rarely implemented for small-scale tempeh wastewater management. The methods included stakeholder mapping, awareness-building activities, training on eco-enzyme production (3:1:10 ratio; ± 90-day fermentation), preparation of application SOPs (1–5% v/v), and facilitation of simple testing (pH, odor, turbidity). The program involved 18 participants and resulted in the formation of a management group and a pilot demonstration unit. Observations indicated reductions in odor and turbidity within 24–48 hours, alongside improved participant knowledge. Participant response evaluations showed excellent results (average >90%). This program effectively enhanced community capacity and demonstrated the potential of eco-enzymes as a low-cost and sustainable preliminary solution for treating liquid waste from tempeh production.
Penguatan Usaha Teh Bunga Melati Melalui Inovasi Teknologi Dan Sertifikasi Produk Di Desa Labuan Tabu Kabupaten Banjar Agustina, Lya; Millati, Tanwirul; Susi, Susi; Rohmanna, Novianti Adi; Hakim, Hisyam Musthafa Al; Purba, Febriani; Majid, Zuliyan Agus Nur Muchlis; Nisa, Nurul Fayzhatun; Dyah Frawesti
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/7vh1ys74

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing usaha teh bunga melati di Desa Labuan Tabu melalui penerapan inovasi teknologi pengeringan, pengemasan, serta fasilitasi legalitas usaha dan digitalisasi pemasaran. Kebaruan program ini terletak pada integrasi tiga aspek utama yaitu teknologi produksi sederhana, fasilitasi legalitas usaha, dan penguatan pemasaran digital; dalam satu model pemberdayaan berbasis transfer teknologi yang melibatkan mahasiswa MBKM, yang belum banyak diterapkan pada usaha teh bunga melati lokal. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan, pendampingan, dan evaluasi menggunakan observasi serta kuesioner kepada peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan keterampilan mitra sebesar 100% dalam penerapan teknologi pengeringan oven (8 jam pada 60°C) dengan kadar air stabil 8–10%, peningkatan kemampuan desain kemasan dan pembukuan digital sebesar 75%, serta keberhasilan fasilitasi legalitas usaha (NIB dan sertifikasi halal) sebesar 100%. Program ini mendukung pencapaian MBKM dan IKU perguruan tinggi melalui keterlibatan mahasiswa dalam proses pemberdayaan masyarakat. Dengan adanya kegiatan ini, usaha teh bunga melati diharapkan memiliki standar kualitas yang lebih baik, akses pasar yang lebih luas, serta daya saing yang meningkat. Strengthening the Jasmine Tea Business Through Technological Innovation and Product Certification in Labuan Tabu Village, Banjar Regency  Abstrak This community service program aims to improve the competitiveness of jasmine tea businesses in Labuan Tabu Village through the application of innovative drying and packaging technologies, as well as facilitating business legality and digital marketing. The program's novelty lies in the integration of three main aspects—simple production technology, facilitating business legality, and strengthening digital marketing—in a technology transfer-based empowerment model involving MBKM students, which has not been widely implemented in local jasmine tea businesses. Implementation methods include outreach, training, mentoring, and evaluation using observations and questionnaires for participants. The results of the activity showed a 100% increase in partner skills in implementing oven drying technology (8 hours at 60°C) with a stable moisture content of 8–10%, a 75% increase in packaging design and digital bookkeeping capabilities, and a 100% successful facilitation of business legality (NIB and halal certification). This program supports the achievement of MBKM and university IKU through student involvement in the community empowerment process. With this activity, jasmine tea businesses are expected to have better quality standards, broader market access, and increased competitiveness.
Pendampingan Pengembangan Modul Ajar Matematika Berbasis Deep Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa SMPN 1 Narmada Pujilestari, Pujilestari; Muzaki, Ahmad; Sukarma, I Ketut; Sabrun, Sabrun; In, Hurul; Anggraini, Astiadika; Lestari, Putu Eka Perthiwi
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/cv1dwk28

Abstract

Dalam menghadapi tuntutan kompetensi abad ke-21, terutama kemampuan berpikir kreatif, proyek pengabdian ini bertujuan mengembangkan dan mendampingi penerapan modul pembelajaran matematika berbasis prinsip deep learning bagi guru di SMPN 1 Narmada. Intervensi dilakukan melalui dua fase: pelatihan tatap muka (in-service) dan pendampingan jarak jauh (on-service). Pada fase in-service, 60 guru diperkenalkan pada teori dan praktik deep learning serta strategi pengembangan berpikir kreatif, sekaligus diarahkan merancang modul ajar matematika. Pada fase on-service, guru mendapatkan mentoring digital saat menyempurnakan modul mereka. Berbeda dari pendekatan pelatihan guru konvensional, kegiatan ini menggabungkan fase pelatihan tatap muka dan pendampingan daring berbasis prinsip deep learning yang kontekstual. Meskipun berbagai pelatihan guru telah dilakukan sebelumnya, belum tersedia model pengabdian yang secara terpadu mengombinasikan deep learning, kreativitas matematis, dan skema pendampingan berkelanjutan, sehingga pendekatan ini menawarkan kontribusi baru dalam penguatan kapasitas guru. Hasil menunjukkan bahwa 85% guru berhasil mengintegrasikan prinsip deep learning dan indikator berpikir kreatif (tugas multi-solusi, konteks budaya, refleksi siswa) dalam modul pembelajaran. Temuan ini menegaskan bahwa dukungan berkelanjutan, desain kontekstual, dan bimbingan bertahap sangat penting dalam mewujudkan inovasi pedagogis di sekolah. Proyek ini berkontribusi pada pengabdian masyarakat dengan memberdayakan kapasitas guru dalam merancang pembelajaran kreatif berbasis deep learning. Untuk pengembangan selanjutnya, direkomendasikan evaluasi dampak langsung terhadap siswa serta perluasan model ke konteks sekolah lain.Kata Kunci: Pengabdian Inovatif; Deep Learning Pedagogi; Berpikir Kreatif; Desain Instruksional Matematika; Pengembangan Kapasitas Guru. Assistance in Developing Deep Learning–Based Mathematics Teaching Modules to Enhance the Creative Thinking Skills of Students at SMPN 1 Narmada Abstract In response to the demands of 21st-century competencies, particularly creative thinking, this community service project aimed to develop and mentor the implementation of mathematics instructional modules based on deep learning principles for teachers at SMPN 1 Narmada. The intervention was carried out in two phases: face-to-face training (in-service) and remote mentoring (on-service). During the in-service phase, 60 teachers were introduced to the theory and practice of deep learning and creative thinking, and were guided in designing mathematics learning modules. In the on-service phase, teachers received digital mentoring as they refined their modules. Distinct from conventional teacher-training approaches, this program integrates face-to-face instruction with online mentoring grounded in contextual deep-learning principles. Although various professional development initiatives have been implemented in Indonesia, there remains a lack of community-service models that simultaneously combine deep-learning pedagogy, mathematical creativity development, and sustained mentoring—representing a key gap that this project uniquely addresses. The results indicate that 85% of participants successfully integrated deep-learning principles and creative-thinking indicators (multiple-solution tasks, cultural contextualization, student reflection) into their modules. These findings highlight the importance of continuous support, contextualized design, and scaffolded guidance in enabling pedagogical innovation. This project contributes to community-service scholarship by empowering teachers to design creative mathematics learning grounded in deep-learning practices. Future work should include direct evaluation of student outcomes and broader implementation across diverse school contexts.
Pemberdayaan Kelompok Petani Muda Desa Buahan Kaja melalui Literasi Keuangan, Evaluasi Biaya Eksternalitas, dan Strategi Distribusi Berkelanjutan Miati, Ni Luh Putu Mita; Purba, Ida Bagus Gde Indra Wedhana; Asrida, Putu Diah
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/nfjk8z91

Abstract

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan untuk meningkatkan keberlanjutan usaha pertanian Kelompok Petani Muda Keren di Desa Buahan Kaja melalui integrasi pelatihan pencatatan keuangan sederhana, analisis biaya eksternalitas, dan penguatan strategi pemasaran. Metode yang digunakan berupa pendampingan berbasis partisipatif, pelatihan, dan bimbingan teknis yang melibatkan dosen dan mahasiswa. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pemahaman peserta pada aspek pencatatan keuangan dari 42% menjadi 81%, analisis biaya eksternalitas dari 38% menjadi 76%, dan strategi pemasaran dari 45% menjadi 84%. Petani mulai menerapkan sistem pencatatan keuangan manual, memahami dampak lingkungan dari input kimia, serta membangun kemitraan distribusi dengan koperasi dan pasar lokal. Program ini memberikan kontribusi terhadap penguatan kapasitas manajerial petani muda, peningkatan efisiensi usaha, serta pergeseran menuju praktik pertanian yang lebih berkelanjutan. Secara umum, kegiatan ini mendukung pencapaian SDG 1, 2, 8, 12, dan 13. Selain itu, implementasi program juga mendukung kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi. Model pemberdayaan yang terintegrasi ini dapat direplikasi di wilayah lain sebagai praktik baik penguatan petani muda berbasis keuangan, lingkungan, dan distribusi. Community Empowerment of Young Farmers in Buahan Kaja through Financial Management, Sustainability Assessment, and Local Market Strategies Abstract This Community Service Program (PKM) was implemented to improve the sustainability of the farming enterprise of the Petani Muda Keren Group in Buahan Kaja Village through the integration of basic financial record-keeping training, externality cost analysis, and marketing strategy development. The program utilized a participatory mentoring model involving lecturers and students through training and technical guidance. Pre-test and post-test results showed increased participant understanding in financial record-keeping (from 42% to 81%), externality cost analysis (from 38% to 76%), and marketing strategy (from 45% to 84%). Farmers began applying manual bookkeeping systems, recognized the environmental impact of chemical inputs, and initiated distribution partnerships with local markets and cooperatives. This program contributed to strengthening the managerial capacity of young farmers, improving business efficiency, and fostering a shift toward more sustainable agricultural practices. Overall, the program supported the achievement of SDGs 1, 2, 8, 12, and 13. Moreover, the implementation aligns with the Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) policy and the Key Performance Indicators (IKU) of higher education institutions. This integrated empowerment model is replicable in other rural areas as a best practice for youth farmer development based on finance, environment, and distribution systems.