Claim Missing Document
Check
Articles

RESILIENSI SEBAGAI MEDIATOR PENGARUH BULLYING TERHADAP PSYCHOTIC LIKE EXPERIENCE PADA REMAJA DI KABUPATEN KARAWANG Cempaka Putrie Dimala; Arif Rahman Hakim; Riki Aprijal; Indah Nur Azizah; Ahmad Fuad Fadhil
PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 6 No. 2 (2021): PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/psychopedia.v6i2.2024

Abstract

Psychotic Like Experiences (hereinafter abbreviated as PLEs) are understood as changes in the way a person perceives and thinks about reality, which presents certain peculiarities and thoughts, which are characterized by unconventional logic (Pedero, 2011). One of the factors that cause PLEs are victims of bullying or victims of bullying which can affect mental health (Campbella & Morrisona, 2007). However, most of the studies mentioned do not take into account possible protective factors such as resilience (Georgiades, Farquharson, & Ellett, 2015), and may have the potential to reduce the risk of developing psychotic symptoms. This study aims to test the suitability of the theoretical model of bullying against PLEs with Resilience as a moderator. The measuring instrument used is the CAPE Psychotic-Like Experiences Scale, the CD-RISC Scale, and the Bullying Scale. The sample of this study was 422 teenagers in Karawang, which were obtained through the Nonprobability technique with the snowball sampling technique. The results of the analysis using JASP version 15.0, with the results of the direct effect of the bullying variable on PLEs with a p value of 0.001 <0.05, which means that the bullying variable directly has a significant influence on the psychotic like experience. While the results of the indirect effect calculation between the bullying variable and the psychotic like experience variable and the resilience variable as a mediator, obtained a p value of 0.219> 0.05, which means that the resilience variable cannot be a mediator between the bullying and psychotic like experience variables. Keywords: Psychotic-like experience, bullying, resilience, adolescents, Karawang. Psychotic Like Experiences (yang selanjutnya disingkat PLEs) dipahami sebagai perubahan dalam cara seseorang memandang dan berpikir tentang realitas, yang menghadirkan keanehan dan pemikiran tertentu, yang ditandai oleh logika non-konvensional (Pedero, 2011). Salah satu faktor yang menyebabkan PLEs adalah korban penindasan atau korban bullying yang dapat mempengaruhi kesehatan mental (Campbella & Morrisona, 2007). Namun sebagian besar penelitian yang disebutkan tidak memperhitungkan kemungkinan faktor pelindung seperti resiliensi (Georgiades, Farquharson, & Ellett, 2015), dan mungkin memiliki potensi untuk mengurangi resiko terjadinya gejala psikotik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh bullying terhadap PLEs dengan Resiliensi sebagai moderator. Alat Ukur yang digunakan adalah Skala CAPE Psychotic-Like Experiences, Skala CDRISC, dan Skala Bullying. Sampel penelitian ini adalah 422 remaja di Kabupaten Karawang, yang diperoleh melalui teknik Nonprobability dengan teknik snowball sampling. Hasil analisis menggunakan JASP versi 15.0, dengan hasil direct effect variabel bullying terhadap PLEs dengan nilai p 0.001<0,05 yang berarti secara langsung variabel bullying memiliki pengaruh yang signifikan terhadap psychotic like experience. Sedangkan hasil perhitungan secara indirect effect antara variabel bullying dengan variabel psychotic like experience dan variabel resiliensi sebagai mediator, diperoleh nilai dari p sebesar 0,219>0,05 yang berarti variabel resiliensi tidak bisa menjadi mediator antara variabel bullying dan psychotic like experience. Kata Kunci: Psychotic-like experience, bullying, resiliensi, remaja, Kabupaten Karawang
ASAH, ASIH, ASUH: PEMBELAJARAN KOOPERATIF SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KREATIFITAS DAN MOTIVASI BELAJAR ANAK DI PANTI ASUHAN DARUL HASANAH KARAWANG Cempaka Putrie Dimala
JURNAL BUANA PENGABDIAN Vol. 4 No. 1 (2022): JURNAL BUANA PENGABDIAN
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jurnalbuanapengabdian.v4i1.2302

Abstract

Panti asuhan di Indonesia merupakan panti asuhan dengan jumlah terbanyak di seluruh dunia. Minnis, Everet, Pelosi, Dunn, dan Knapp (2006) menyatakan bahwa anak-anak panti asuhan diidentifikasi sering mengalami masalah perilaku dan emosional. Simpulan ini didasari pemikiran bahwa anak-anak yang dikirim ke panti asuhan adalah mereka yang berasal dari keluarga atau kondisi yang bermasalah. Akan tetapi kurangnya tenaga pengajar atau pengasuh di panti asuhan yang berdampak pada kurangnya perhatian secara intensif pada anak-anak di panti asuhan, dan ditambah kondisi saat ini sedang dilanda pandemi membuat anak-anak panti asuhan semakin dibatasi setiap kegiatannya. Oleh karena itu perlu diadakan proses pembelajaran di panti asuhan untuk meningkatkan motivasi belajar, produktivitas dan kreativitas anak di panti asuhan. Tujuan dilaksanakannya pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan program kreativitas non-akademik pelatihan kepada anak-anak di panti asuhan dengan melakukan metode belajar sambil bermain dengan teman-temannya (kooperatif learning). Program pembelajaran kooperatif terbagi menjadi enam termin. kegiatan yang digunakan dalam pengabdian kepada masyarakat ini adalah pelatihan mengenai pembelajaran kooperatif untuk anak-anak di panti asuhan melalui kegiatan yang dikemas dengan unik dan menarik serta mampu meningkatkan kreativitas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini akan dilaksanakan selama 8 minggu pelaksanaan. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok[1]kelompok. Secara deskriptif nilai mean pre-tes (70.00) yang lebih kecil dari mean post-tes (90.63) menjelaskan bahwa kemampuan anak-anak panti asuhan dalam memahami materi setelah diterapkan kooperatif learning meningkat. Hasil analisis inferensial dengan melakukan uji t diperoleh nilai P = 0.000 lebih kecil dari taraf nyata 0.05, artinya hipotesis nol ditolak, ini menunjukkan telah terjadi peningkatan yang signifikan dari kemampuan anak-anak panti asuhan dalam memahami materi himpunan, sehingga terjadi peningkatan motivasi dalam belajar yang akan membantunya dalam proses belajar.
PELANA: Pemberdayaan Lansia Aktif untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Lansia di Masa Pandemi Covid-19 Cempaka Putrie Dimala
JURNAL BUANA PENGABDIAN Vol. 5 No. 1 (2023): JURNAL BUANA PENGABDIAN
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jurnalbuanapengabdian.v5i1.5660

Abstract

Lanjut usia (Lansia) merupakan bagian dari proses tumbuh kembang. Masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia adalah depresi yang ditandai dengan perasaan sedih yang ekstrim, minat yang rendah untuk beraktivitas dan ketidakmampuan untuk merasakan kebahagiaan. Salah satu penyebab depresi pada lansia adalah karena faktor psikologis, misalnya dukungan sosial. Selain faktor psikologis sebagai lansia juga perlu memperhatikan kesehatan fisiknya agar tetap aktif sampai tua, sejak muda individu perlu menerapkan dan mempertahankan pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang, melakukan aktifitas fisik/ olahraga secara benar dan teratur dan tidak merokok. Kualitas hidup lansia terutama status fungsionalnya perlu ditingkatkan sehingga lansia dapat melakukan aktifitas sehari-hari secara mandiri. Terutama di masa pandemi Covid 19 ini banyak kegiatan yang biasanya bisa dilakukan jadi tidak bisa dilakukan karena pembatasan sosial yang diberlakukan oleh pemerintah. Individu biasanya akan menyadari betapa pentingnya pola hidup sehat ketika telah merasakan kekurangan fungsi dari organ tubuhnya ketika menginjak usia lanjut. Oleh karena itu dibutuhkan pembelajaran mengenai perilaku hidup bersih dan sehat dengan metode yang tidak membosankan serta mampu membuat lansia merasa tidak kesepian. Tujuan dilaksanakannya pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan program kreativitas non-akademik menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, dimana program tersebut merupakan suatu upaya memberikan pengalaman belajar bagi perorangan, kelompok, dan masyarakat dengan cara membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi guna meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku melalui pendekatan bina suasana, pembelajaran dengan metode yang menyenangkan dengan melibatkan orang-orang disekitar lansia dan melakukan gerakan pemberdayaan masyarakat sehingga dapat menerapkan cara hidup sehat dalam rangka menjaga, memelihara, melindungi, dan meningkatkan kesehatan fisik maupun psikologisnya.
TABAH (Tangguh Dan Bahagia): Pendampingan Dalam Mengatasi Stress Pengasuhan Pada Orang Tua Dengan Anak Berkebutuhan Khusus Cempaka Putrie Dimala; Puspa Rahayu Utami
JURNAL BUANA PENGABDIAN Vol. 6 No. 1 (2024): JURNAL BUANA PENGABDIAN
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jurnalbuanapengabdian.v6i1.6223

Abstract

Di Indonesia angka kisaran disabilitas anak usia 5-10 tahun adalah 3,3% dari jumlah penduduk pada usia tersebut, artinya jumlah anak berkebutuhan khusus berkisar 2.197.833 jiwa. Anak berkebutuhan khusus menunjukkan perbedaan perkembangan dibanding dengan anak lain yang seusia dengan mereka. Orang tua yang memiliki anak dengan berkebutuhan khusus sangat mungkin mengalami kesulitan dalam mengelola stres. Tekanan yang dialami orang tua dengan anak berkebutuhan khusus juga dapat memicu timbulnya parenting stress. Maka dari itu, untuk mengurangi kecemasan dan tekanan yang dirasakan orangtua dalam mengasuh dan merawat anak berkebutuhan khusus, orangtua harus mengetahui cara mengatasi stres agar lebih optimal dalam mencari informasi mengenai kondisi anak dan dapat menyelesaikan masalah pengasuhan yang tepat.
Psychometric Properties Of The Perceived Stress Scale (PSS-10) In Indonesian Version Hakim, Arif Rahman; Mora, Linda; Leometa, Citra Hati; Dimala, Cempaka Putrie
JP3I (Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia) Vol. 13 No. 2 (2024): JP3I
Publisher : FAKULTAS PSIKOLOGI UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jp3i.v13i2.35482

Abstract

The Perceived Stress Scale (PSS-10) by Cohen is a popular tool for measuring stress from a psychological perspective. The PSS-10 measures the extent to which situations in a person's life are perceived as stressful. This study aims to evaluate the psychometric properties of the Perceived Stress Scale adapted into Indonesian. The PSS-10 has been translated into various languages, but no previous studies have specifically explored the psychometric properties of the PSS-10 in Indonesian. Additionally, this study seeks to test the construct invariance of the PSS-10 among students and workers. The respondents of this study were employees working in several regions in Indonesia (N=259) and college students (N=244). Data analysis was conducted using Confirmatory Factor Analysis (CFA) and Measurement Invariance (MI). After testing for validity based on internal structure, the Indonesian version of the PSS-10 fit the two-factor model (perceived helplessness and perceived self-efficacy). The AVE value of 0.38 for student participants was considered low, with a CR value of 0.81, which is quite good. For employee participants, the AVE value was 0.58 and the CR value was 0.93, both of which were good. Based on the multigroup CFA analysis test, there are differences in the factor structure of the PSS-10 between students and employees, where these differences lie in how the two groups respond to and interpret the items of the PSS-10.
Self-Efficacy as a Mediation the Influence of Proactive Personality on Career Adaptability in Early Adults Afero, Fanny Irawan; Dimala, Cempaka Putrie; Ibad, M Choirul
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 4 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v12i4.12315

Abstract

Early adulthood, as defined by Huclock (2012), is a transitional period from adolescence to adulthood, spanning the age range of 18 to 40 years. The fact that 80% of Indonesian students do not work in fields related to their college majors indicates a discrepancy between graduates' qualifications and the job demands in the labor market. Furthermore, data stating that only about 27% of graduates have jobs in their field of study highlights a high level of incongruity between graduates' qualifications and the job demands in specific industries or sectors. This research aims to explore the role of self-efficacy as a mediator of the influence of proactive personality on career adaptability among young adults in Kabupaten Karawang. The distribution of questionnaire data is conducted electronically. The instruments used in this study include the Career Adapt-Abilities Scale (CAAS), The General Self-Efficacy Scale (GSES-12), and the Proactive Personality Scale (PPS), all of which have been translated into Indonesia. The results of the analysis indicate that proactive personality significantly influences career adaptability. However, self-efficacy does not have a significant influence on career adaptability. Neither proactive personality nor self-efficacy individually has an impact on career adaptability. Data analysis using mediation analysis shows that there is no mediating role of self-efficacy between proactive personality and career adaptability among young adults in Kabupaten Karawang.Dewasa awal, menurut Huclock (2012), adalah periode peralihan dari masa remaja menuju dewasa dengan rentang usia 18 hingga 40 tahun. Fakta bahwa 80% mahasiswa Indonesia tidak bekerja sesuai dengan jurusan kuliahnya menunjukkan adanya kesenjangan antara kualifikasi yang dimiliki oleh lulusan dengan kebutuhan dan permintaan pekerjaan di pasar kerja. Selain itu, data yang menyatakan hanya sekitar 27% lulusan yang memiliki pekerjaan sesuai dengan bidang ilmunya menunjukkan tingginya tingkat ketidaksesuaian antara kualifikasi lulusan dengan tuntutan pekerjaan di industri atau sektor tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran efikasi diri sebagai perantara dari pengaruh kepribadian proaktif terhadap adaptabilitas karir pada dewasa awal di Kabupaten Karawang. Penyebaran data kuesioner melalui media elektronik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini mencakup Skala Adaptabilitas Karir (CAAS), Skala Efikasi Diri Umum (GSES-12), dan Skala Kepribadian Proaktif (PPS), yang semuanya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa kepribadian proaktif memiliki pengaruh signifikan terhadap adaptabilitas karir. Namun, efikasi diri tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap adaptabilitas karir. Baik kepribadian proaktif maupun efikasi diri secara individual tidak memiliki pengaruh pada adaptabilitas karir. Analisis data menggunakan analisis mediasi menunjukkan bahwa tidak ditemukan peran mediasi dari efikasi diri antara kepribadian proaktif dan adaptabilitas karir pada dewasa awal di Kabupaten Karawang.
Adult Attachment in Early Adulthood with Divorced Parents Nezia, Amara; Dimala, Cempaka Putrie; Aisha, Dinda
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 1 (2025): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i1.14828

Abstract

Individuals from divorced families have a higher risk compared to those from intact families when entering adulthood. These individuals tend to feel less secure in forming attachments with others during early adulthood. This study aims to examine the adult attachment patterns of early adults with divorced parents in Karawang Regency. This descriptive quantitative research involves 100 early adults in Karawang, using non-probability sampling. Data collection was conducted through an online questionnaire distribution. Adult attachment was measured using the Revised Adult Attachment Scale (RAAS) with a Likert scale from 1 to 5. The results show that the dominant attachment type is anxiety attachment, held by 51% of early adults with divorced parents, followed by depend on attachment (26%) and close attachment (23%). Hypothesis testing reveals no significant differences between gender and attachment patterns, but there are significant differences between the age groups of 20-25 years (transition from adolescence to adulthood) and 26-40 years (early adulthood), as well as between the age at which parents divorced, specifically early childhood (2-6 years) and late childhood (7-12 years). No significant differences were found based on relationship status (dating, engaged, or married). These findings suggest that anxiety attachment patterns are more prevalent in individuals who experienced parental divorce at a younger age, and both age and parental divorce experiences influence early adulthood attachment patterns. Individu yang berasal dari keluarga yang bercerai memiliki resiko yang lebih besar dibanding individu dengan keluarga yang utuh ketika memasuki usia dewasa. Individu tersebut memiliki kecenderungan untuk merasa kurang aman dalam menjalin kelekatan dengan orang lain di saat dewasa awal. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran adult attachment pada dewasa awal dengan orang tua yang bercerai di Kabupaten Karawang. Penelitian kuantitatif deskriptif ini melibatkan 100 dewasa awal di Karawang dengan menggunakan non-probability sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan penyebaran kuesioner secara daring. Pengukuran adult attachment menggunakan Revised Adult Attachment Scale (RAAS) dengan skala Likert 1 hingga 5. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tipe anxiety attachment dominan dimiliki oleh dewasa awal dengan orang tua yang bercerai, dengan persentase sebesar 51%, diikuti dengan depend on attachment (26%) dan close attachment (23%). Uji hipotesis menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara jenis kelamin terhadap pola kelekatan, namun terdapat perbedaan signifikan antara kelompok usia 20-25 tahun (masa transisi remaja menuju dewasa) dan 26-40 tahun (dewasa awal), serta antara usia ketika orang tua bercerai, yakni masa kanak-kanak awal (2-6 tahun) dan masa kanak-kanak akhir (7-12 tahun). Tidak ditemukan perbedaan signifikan berdasarkan status hubungan (berpacaran, tunangan, atau menikah). Temuan ini menunjukkan bahwa pola anxiety attachment lebih tinggi pada individu yang mengalami perceraian orang tua pada usia lebih muda, dan usia serta pengalaman perceraian orang tua mempengaruhi pola kelekatan dewasa awal.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stres Pengasuhan pada Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus Rahman, Puspa Rahayu Utami; Dimala, Cempaka Putrie; Tourniawan, Irwan; Ramadan, Regi
Journal of Education Research Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Perkumpulan Pengelola Jurnal PAUD Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/jer.v5i1.771

Abstract

Pengasuhan anak bukan tugas yang mudah untuk dilakukan sehingga dapat menimbulkan stres. Stres pengasuhan adalah situasi penuh tekanan yang terjadi pada pelaksanaan tugas pengasuhan anak yang dapat berdampak buruk bagi perkembangan anak terlebih anak berkebutuhan khusus. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial, efikasi diri, dan resiliensi terhadap stres pengasuhan pada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Populasi penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus di Kabupaten Karawang. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling sebanyak tiga ratus tiga puluh empat responden. Teknik pengumpulan data menggunakan empat skala yaitu Parental Stress Scale, Multidimensional Scale of Perceived Social Support, General Self-Efficacy Scale, The Connor-Davidson Resilience Scale. Hasil penelitian menunjukan ada pengaruh dukungan sosial, efikasi diri, dan resiliensi terhadap stres pengasuhan pada orang tua dengan anak berkebutuhan khusus.
Pengaruh Kecerdasan Emosional dan Stres Kerja Terhadap Burnout pada Karyawan Manufaktur di Kabupaten Karawang Dimas Prabowo; Cempaka Putrie Dimala; Ananda Saadatul Maulidia
El-Mal: Jurnal Kajian Ekonomi & Bisnis Islam Vol. 6 No. 1 (2025): El-Mal: Jurnal Kajian Ekonomi & Bisnis Islam
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/elmal.v6i1.5296

Abstract

This This research aims to examine the influence of emotional intelligence and work stress on burnout in manufacturing employees in Karawang district. Participants in this research were employees of manufacturing companies in Karawang district and domiciled in Karawang district with a total of 383 participants. The method used is quantitative with a causality design and accidental sampling technique. Data was collected using psychological scales including the Emotional Intelligence Questionnaire (EIQ) scale from Goleman (2009) to measure emotional intelligence, the Job Stress Scale (JSS) which was prepared referring to the theory of Parker dan DeCotiis (1983) to measure the work stress scale and the Oldenburg burnout scale. inventory (OLBI) to measure burnout tendencies. Data analysis used in this research is normality test, linearity test, multiple regression test and coefficient of determination with the help of the SPSS program. Based on the results of research that has been conducted, there is an influence of emotional intelligence and work stress on burnout with a significance value of 0.000. The results of the coefficient of determination test show that emotional intelligence and work stress on burnout have an influence of 28.8%. Further research is recommended to focus on more specific and contextual intervention strategies according to the needs of manufacturing employees in Karawang district.
Overview of Academic Dishonesty in Students in Karawang Regency Permatasari, Agnia Putri; Dimala, Cempaka Putrie; Minarsih, Yulyanti
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 4 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v12i4.12434

Abstract

Academic dishonesty occurs a lot in education. Academic dishonesty has been widely committed by students and students, and has a negative impact and causes problems in the future. This study aims to determine the picture of academic dishonesty in students in Karawang. The sampling technique used in this study used convenience sampling. The population used in this study is active students studying at five universities in Karawang with a total of 400 students. Data collection techniques in this research use two different ways, namely with scale sheets that are given directly and through scale sheets that can be accessed online. The instrument in this study used a Likert scale composed of four answer choices. The measuring instrument used in this study is Bashir & Bala's Academic Dishonesty Scale (ADS) (2018) which has 23 items. Data analysis techniques in this study used normality tests, categorization tests, and difference tests. The results in this study show that academic dishonesty in students in Karawang is relatively low. Based on gender, it was found that there was no difference between males and females. Furthermore, in the age range there was no difference between the age range between 18-21, 22-25 and 26-48 years. Meanwhile, based on education, there is no difference in academic dishonesty carried out in universities and in semesters there is no difference in academic dishonesty carried out by students in each semester.Academic dishonesty banyak terjadi di dunia pendidikan. ketidakjujuran akademik sudah banyak dilakukan oleh pelajar maupun mahasiswa, serta memiliki dampak negatif dan menimbulkan masalah dimasa yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran academic dishonesty pada mahasiswa di Karawang. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan convenience sampling. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif yang berkuliah di lima perguruan tinggi yang ada di Karawang dengan jumlah responden sebesar 400 orang mahasiswa. Teknik pengumpulan data dalam peneltian ini menggunakan menggunakan dua cara yang berbeda, yaitu dengan lembar skala yang diberikan secara langsung dan melalui lembar skala yang dapat di akses secara daring. Instrument dalam penelitian ini menggunakan skala likert yang tersusun dari empat pilihan jawaban. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Academic Dishonesty Scale (ADS) milik Bashir & Bala (2018) yang memiliki 23 aitem. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji normalitas, uji kategorisasi, dan uji beda. Hasil dalam penelitian ini menunjukan academic dishonesty pada mahasiswa di Karawang tergolong rendah. Berdasarkan jenis kelamin ditemukan bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Lebih lanjut pada rentang usia tidak ditemukan perbedaan antara rentang usia antara 18-21, 22-25 dan 26-48 tahun. Sedangkan berdasarkan pendidikan tidak memiliki perbedaan academic dishonesty yang dilakukan di perguruan tinggi dan pada semester tidakditemukan perbedaan academic dishonesty yang dilakukan mahasiswa di setiap semesternya.
Co-Authors Afero, Fanny Irawan Agustin, Sofhie Istiqomah Ahmad Fuad Fadhil Alfajri, Fauzan Ahmad Ananda Saadatul Maulidia Andeli, Rossy Andika, Rizki Andyan Lutfahyanto Andyan P.L Anggun Pertiwi Anisa Priastuti Utami Arif Rahman Hakim Arif Rahman Hakim Arif Rahman Hakim Asep Saepuloh Atrianah Christina Rahayu Wulandari Dewi, Alba Putri Dewi, Andrea Puspita Dimas Prabowo Dinda Aisha Dwi Toni Indra Pamungkas Eka Mardia Fadilahasanah, Salsa Fauzul Adim Ubaidillah Febrianto, Helmi Fitria, Reni Haekal Mauludin Hartanti, Riska Tri Haryanti Mustika Hidayatul Karomah Ibad, M Choirul Ibad, M. Choirul Indah Nur Azizah Ivana Mara Salsabila Jasmine, Yufita Krismana, Muhamad Gilang LATIFAH Lekatompessy, Shella Kristiani Leometa, Citra Hati Listiana, Yulinar Dwi Gita Lydia Putri Afandi M. Choirul Ibad M. Yogi Riyantama Isjoni Maharani, Alyssa Marwah, Siti Maulida, Ananda Saadatul Maulidia, Ananda Saadatul Mudinillah, Adam Muharsih, Lania Musriyah, Azizah Mustika, Haryanti Nezia, Amara Nia Mardiana Nita Rohayati Nita Rohayati Nugraha, Winda Sri Pramesti Nugroho, Sephtian Setyo Nurbaeti Nurzaman, Robby Pandiangan, Saria Indriana Permatasari, Agnia Putri Pertiwi, Anggun Pirli, Indriyani Dewi Agita Prasetya, Talitha Aisha Putri PRATOMO, BIMO Purwanti, Dewi Asih Puspa Rahayu Utami Puspa Rahayu Utami Rahman Putri Nur Rahmawati Rahman, Arif Hakim Ramadan, Regi Randwitya Ayu Ganis Hemasti Ratih Saraswati Ridwan, Eka Riki Aprijal Riza, Wina Lova Rohayati, Nita Shabrina, Darin Salsa Silvi Dwianti Siregar, Linda Mora Susi Yeni Syamsiar, Syamsiar Tantia Yuliandina Tourniawan, Irwan Ulva, Maria Wahyudin Winda Sri Pramesti Nugraha Wulandari, Christina R Wulansari, Resi Yudha Adrianto Yulyanti Minarsih