Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Konsep Diri dan Dukungan Sosial Terhadap Body Image pada Remaja Perempuan di Karawang Nurbaeti; Cempaka Putrie Dimala; Haryanti Mustika
EduInovasi:  Journal of Basic Educational Studies Vol. 5 No. 3 (2025): EduInovasi:  Journal of Basic Educational Studies
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/edu.v5i3.9764

Abstract

Teenage girls are vulnerable to body dissatisfaction due to beauty standards shaped by the media and social environment. The purpose of this study is to determine the influence of self-concept and social support on body image among teenage girls in Karawang, as well as the simultaneous influence of both on body image among teenage girls in Karawang. The research method used a quantitative approach with a causal design. The sample consisted of 348 adolescent female respondents obtained through non-probability sampling using incidental sampling. The research instruments included the Self-Concept Scale to measure self-concept, the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) to measure social support, and the Body Image Scale to measure body image. All instruments underwent validity and reliability testing with satisfactory results. Data analysis was conducted using multiple linear regression analysis with the SPSS program. The results of the study indicate that there is a significant influence of self-concept on body image, a significant influence of social support on body image, and a significant simultaneous influence of self-concept and social support on body image among adolescent girls in Karawang.
Resilience as a Mediator of Peer Support Against Workforce Burnout Wulansari, Resi; Dimala, Cempaka Putrie; Ibad, M Choirul
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 11, No 3 (2023): Volume 11, Issue 3, September 2023
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v11i3.11766

Abstract

The reduced number of employees caused by the effects of the Covid-19 pandemic has caused the workload of employees who are still working to increase, so that employees experience burnout. The purpose of this study was to determine whether the influence of coworker support on burnout, the influence of coworker support on resilience, the effect of resilience on burnout and the influence of coworker support on burnout with resilience as the mediator. The research subjects are workers who are domiciled in Karawang, the number of respondents is 400 people taken using the incidental sampling technique. This study uses a quantitative approach. Questionnaires were distributed via Google form. The burnout scale using the adaptation scale from the Maslach Burnout Inventory-Human Service Survey (MBI-HSS) which consists of 11 question items, the peer support scale using the adaptation scale from Sarafino & Smith theory which consist of 20 question items, the resilience scale uses the adaptation scale from Connor David’s Resilience Scale (CD-RISC), which consists of 23 items questions. Data analysis using simple regression and multiple regression. The influence of coworker support variables on burnout is 19.1%. The influence of peer support on resilience is 4.7%. The effect of resilience on burnout. The effect of resilience on burnout is 24.2%. The influence of the mediator using the Sobel calculator with a value of 3.98. Based on the results of statistical tests conducted, there is a significant positive effect of coworker support on resilience, there is a significant negative effect of coworker support on burnout, there is a significant negative effect of resilience on burnout, there is a mediator effect of the resilience between coworker support on burnout.Pengurangan jumlah karyawan yang disebabkan oleh efek pandemi covid-19 menyebabkan beban kerja karyawan yang masih bekerja bertambah, sehingga karyawan mengalami burnout. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh dukungan rekan kerja terhadap burnout, pengaruh dukungan rekan kerja terhadap resiliensi, pengaruh resiliensi terhadap burnout dan pengaruh dukungan rekan kerja terhadap burnout dengan resiliensi sebagai mediator nya. Subjek penelitian merupakan tenaga kerja yang berdomisili di Kabupaten Karawang, jumlah responden sebanyak 400 orang diambil menggunakan teknik Incidental sampling. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Kuesioner di sebar melalui Google form. Skala burnout menggunakan skala adaptasi dari Masclach Burnout Inventory-Human Service Survey (MBI-HSS) yang terdiri dari 11 aitem pertanyaan, skala dukungan rekan kerja menggunakan skala adaptasi dari teori Sarafino & Smith yang terdiri dari 20 aitem pertanyaan, skala resiliensi menggunakan skala adaptasi dari Connor-Davidson’s Resilience Scale (CD-RISC), yang terdiri dari 23 aitem pertanyaan. Analisis data menggunakan regresi sederhana dan regresi berganda. Besar pengaruh variabel dukungan rekan kerja terhadap burnout sebesar 19.1%. Besar pengaruh dukungan rekan kerja terhadap resiliensi sebesar 4.7%. Besar pengaruh resiliensi terhadap burnout sebesar 24.2%. Besar pengaruh mediator menggunakan kalkulator sobel dengan nilai sebesar 3.98. Berdasarkan hasil uji statistik yang dilakukan terdapat pengaruh positif signifikan dukungan rekan kerja terhadap resiliensi, terdapat pengaruh negatif signifikan dukungan rekan kerja terhadap burnout, terdapat pengaruh negatif siginifikan resiliensi terhadap burnout, terdapat pengaruh mediator resiliensi antara dukungan rekan kerja terhadap burnout.
Resilience in Emerging Adulthood Viewed from Social Support Lekatompessy, Shella Kristiani; Dimala, Cempaka Putrie; Wulandari, Christina R
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 11, No 4 (2023): Volume 11, Issue 4, Desember 2023
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v11i4.12335

Abstract

At each stage of development, individuals have tasks and demands that must be met during the transition from adolescence to adulthood. Term Emerging adulthood introduced by Arnett (2000), namely the phase of self-exploration in various aspects during the transition from adolescence to adulthood. To overcome obstacles and challenges in the future emerging adulthood, individuals must have the strength to endure and develop positive emotions. This ability is referred to as resilience. Resilience is an individual's ability to survive and adapt to difficult circumstances in their life. In order for the transition to be successful in facing change, individuals need social support to reduce psychological pressure and control negative emotions. StudyThis aims to determine the impact of social support on resilience in emerging adulthood in Karawang. This quantitative research involved 100 early adults in Karawang using a purposive sampling technique. Data collection was carried out using questionnaires distributed randomly.daring. Resilience is measured using the Connor-Davidson scaleResilience Scale (CD-RISC) modified by Yu & Zhang (2007), while social support was measured using scala Multidimensional Scale Perceived Social Support (MSPSS) from Zimet (2015) theory. The significance value shows that social support has a significant positive influence of (F=13.615) with sig. 0.000 (p<0.05), proving that there is a significant positive influence between social support on resilience in emerging adulthood in Karawang. The analysis results prove the coefficient of determination (R2) of 0.491, which means that social support has an influence of 49.1 percent, the remaining 50.9 percent is influenced by other factors outside the scope of this research. It is hoped that individuals who are in the future emerging adulthood, not to hesitate to ask for physical and psychological support from the surrounding environment in facing a developmental crisis.Di setiap tahap perkembangan, individu mempunyai  tugas serta  tuntutan yang harus terpenuhi di masa transisi dari remaja menuju dewasa. Istilah emerging adulthood dikenalkan oleh Arnett (2000), yaitu fase mengekplorasi diri dalam berbagai aspek di masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Untuk mengatasi hambatan dan tantangan di masa emerging adulthood, individu harus memiliki kekuatan untuk bertahan dan mengembangkan emosi positif. Kemampuan ini disebut sebagai resiliensi. Resiliensi adalah kemampuan individu untuk bertahan dan beradaptasi pada keadaan sulit dalam hidupnya. Agar arahtransisi sukses dalam menghadapi perubahan, individu memerlukan dukungan sosial untuk menurunkan tekanan psikologis dan mengontrol emosi negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak dukungan sosial terhadap resiliensi pada emerging adulthood di Karawang. Penelitian kuantitatif ini melibatkan 100 dewasa awal di Karawang memakai teknik purposive sampling.Pengumpulan data dilakukan menggunakan penyebaran kuesioner secara daring. Resiliensi diukur menggunakan skala Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) yang dimodifikasi oleh Yu & Zhang (2007), sedangkan dukungan sosial diukur memakai skala Multidimensional Scale Perceived Social Support (MSPSS) dari teori Zimet (2015). Nilai signifikasi menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki pengaruh positif dengan signifikan sebesar (F=13,615) dengan sig. 0.000 (p< 0,05), membuktikan bahwa adanya pengaruh positif yang   signifikan antara dukungan sosial terhadap resiliensi pada emerging adulthood di Karawang. Hasil analisis membuktikan nilai koefisiensi determinasi (R2) sebesar 0.491 yang berarti bahwa dukungan sosial memiliki pengaruh 49,1 persen, selebihnya sebesar 50,9 persen dipengaruhi faktor lain diluar cakupan penelitian ini. Diharapkan individu yang berada di masa emerging adulthood, untuk tidak ragu meminta dukungan secara fisik dan psikologis dari lingkungan sekitar dalam menghadapi krisis perkembangan. 
SUBJECTIVE WELL-BEING DRIVER GOJEK DITINJAU DARI WORK LIFE BALANCE DAN SELF-ESTEEM Cempaka Putrie Dimala; Arif Rahman Hakim; Haekal Mauludin
PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 6 No. 1 (2021): PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/psychopedia.v6i1.1469

Abstract

Well-being is something that humans always want to achieve because it is considered as an important thing in life. Everyone will strive to achieve their welfare with all the efforts made, one of which is undergoing the profession of being a Gojek driver. Employees can be said to have high subjective well-being if they are satisfied with their work and more often experience positive emotional experiences and rarely experience negative emotions. Drivers choose this profession because of work-life balance, besides the factors that affect subjective well-being, namely selfesteem. This research was conducted to see the effect of work-life balance and self-esteem on the subjective well-being of motorbike taxi drivers in Karawang. The method used in this research is quantitative method. The sampling technique uses incidental sampling. The number of participants as many as 220 driver participants in Karawang, data collection using a questionnaire which consists of three scales, namely the work-life balance scale, self-esteem scale, and satisfaction with life scale. Hypothesis testing in this study used multiple regression analysis, based on the results of data analysis showing Sig.F 0.005 <0.05 (p <0.05) so that there is an influence between worklife balance and self-esteem variables on subjective well being. The amount of influence is 10.4% (R2 = 0.104) and the remaining 89.6% is influenced by other factors. Keywords: Gojek driver, work-life balance, self-esteem, subjective well-being. Kesejahteraan (well-being) merupakan hal yang selalu ingin dicapai oleh manusia, karena dianggap sebagai hal yang penting dalam kehidupan. Setiap orang akan berupaya untuk mencapai kesejahteraannya dengan segala upaya yang dilakukan, salah satunya menjalani profesi menjadi driver Gojek. Karyawan dapat dikatakan memiliki subjective well-being yang tinggi jika mereka puas dengan pekerjaannya dan lebih sering mengalami pengalaman emosi yang positif dan jarang mengalami pengalaman emosi yang negatif. Driver memilih profesi tersebut karena keseimbangan kehidupan kerja atau disebut juga work-life balance, selain itu faktor yang mempegaruhi subjective well-being yaitu self-esteem. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh dari work-life balance dan self-esteem terhadap subjective well-being pada driver gojek yang ada di Karawang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif, teknik pengambilan sampling menggunakan insidental. Jumlah partisipan sebanyak 220 partisipan driver di Karawang, pengambilan data menggunakan kuesioner yang terdiri dari tiga skala, yaitu skala work life balance, self-esteem scale, dan satisfaction with life scale. Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda, berdasarkan hasil analisis data menunjukan Sig.F 0,005<0,05 (p<0,05) sehingga terdapat pengaruh antara variabel work-life balance dan selfesteem terhadap subjective well-being. Besarnya pengaruh sebesar 10,4% (R2=0,104) dan selebihnya 89,6% dipengaruhi oleh faktor lain. Kata Kunci: Driver gojek, work-life balance, self-esteem, subjective well-being.
RESILIENSI SEBAGAI MEDIATOR PENGARUH BULLYING TERHADAP PSYCHOTIC LIKE EXPERIENCE PADA REMAJA DI KABUPATEN KARAWANG Cempaka Putrie Dimala; Arif Rahman Hakim; Riki Aprijal; Indah Nur Azizah; Ahmad Fuad Fadhil
PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 6 No. 2 (2021): PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/psychopedia.v6i2.2024

Abstract

Psychotic Like Experiences (hereinafter abbreviated as PLEs) are understood as changes in the way a person perceives and thinks about reality, which presents certain peculiarities and thoughts, which are characterized by unconventional logic (Pedero, 2011). One of the factors that cause PLEs are victims of bullying or victims of bullying which can affect mental health (Campbella & Morrisona, 2007). However, most of the studies mentioned do not take into account possible protective factors such as resilience (Georgiades, Farquharson, & Ellett, 2015), and may have the potential to reduce the risk of developing psychotic symptoms. This study aims to test the suitability of the theoretical model of bullying against PLEs with Resilience as a moderator. The measuring instrument used is the CAPE Psychotic-Like Experiences Scale, the CD-RISC Scale, and the Bullying Scale. The sample of this study was 422 teenagers in Karawang, which were obtained through the Nonprobability technique with the snowball sampling technique. The results of the analysis using JASP version 15.0, with the results of the direct effect of the bullying variable on PLEs with a p value of 0.001 <0.05, which means that the bullying variable directly has a significant influence on the psychotic like experience. While the results of the indirect effect calculation between the bullying variable and the psychotic like experience variable and the resilience variable as a mediator, obtained a p value of 0.219> 0.05, which means that the resilience variable cannot be a mediator between the bullying and psychotic like experience variables. Keywords: Psychotic-like experience, bullying, resilience, adolescents, Karawang. Psychotic Like Experiences (yang selanjutnya disingkat PLEs) dipahami sebagai perubahan dalam cara seseorang memandang dan berpikir tentang realitas, yang menghadirkan keanehan dan pemikiran tertentu, yang ditandai oleh logika non-konvensional (Pedero, 2011). Salah satu faktor yang menyebabkan PLEs adalah korban penindasan atau korban bullying yang dapat mempengaruhi kesehatan mental (Campbella & Morrisona, 2007). Namun sebagian besar penelitian yang disebutkan tidak memperhitungkan kemungkinan faktor pelindung seperti resiliensi (Georgiades, Farquharson, & Ellett, 2015), dan mungkin memiliki potensi untuk mengurangi resiko terjadinya gejala psikotik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh bullying terhadap PLEs dengan Resiliensi sebagai moderator. Alat Ukur yang digunakan adalah Skala CAPE Psychotic-Like Experiences, Skala CDRISC, dan Skala Bullying. Sampel penelitian ini adalah 422 remaja di Kabupaten Karawang, yang diperoleh melalui teknik Nonprobability dengan teknik snowball sampling. Hasil analisis menggunakan JASP versi 15.0, dengan hasil direct effect variabel bullying terhadap PLEs dengan nilai p 0.001<0,05 yang berarti secara langsung variabel bullying memiliki pengaruh yang signifikan terhadap psychotic like experience. Sedangkan hasil perhitungan secara indirect effect antara variabel bullying dengan variabel psychotic like experience dan variabel resiliensi sebagai mediator, diperoleh nilai dari p sebesar 0,219>0,05 yang berarti variabel resiliensi tidak bisa menjadi mediator antara variabel bullying dan psychotic like experience. Kata Kunci: Psychotic-like experience, bullying, resiliensi, remaja, Kabupaten Karawang
ASAH, ASIH, ASUH: PEMBELAJARAN KOOPERATIF SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KREATIFITAS DAN MOTIVASI BELAJAR ANAK DI PANTI ASUHAN DARUL HASANAH KARAWANG Cempaka Putrie Dimala
JURNAL BUANA PENGABDIAN Vol. 4 No. 1 (2022): JURNAL BUANA PENGABDIAN
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jurnalbuanapengabdian.v4i1.2302

Abstract

Panti asuhan di Indonesia merupakan panti asuhan dengan jumlah terbanyak di seluruh dunia. Minnis, Everet, Pelosi, Dunn, dan Knapp (2006) menyatakan bahwa anak-anak panti asuhan diidentifikasi sering mengalami masalah perilaku dan emosional. Simpulan ini didasari pemikiran bahwa anak-anak yang dikirim ke panti asuhan adalah mereka yang berasal dari keluarga atau kondisi yang bermasalah. Akan tetapi kurangnya tenaga pengajar atau pengasuh di panti asuhan yang berdampak pada kurangnya perhatian secara intensif pada anak-anak di panti asuhan, dan ditambah kondisi saat ini sedang dilanda pandemi membuat anak-anak panti asuhan semakin dibatasi setiap kegiatannya. Oleh karena itu perlu diadakan proses pembelajaran di panti asuhan untuk meningkatkan motivasi belajar, produktivitas dan kreativitas anak di panti asuhan. Tujuan dilaksanakannya pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan program kreativitas non-akademik pelatihan kepada anak-anak di panti asuhan dengan melakukan metode belajar sambil bermain dengan teman-temannya (kooperatif learning). Program pembelajaran kooperatif terbagi menjadi enam termin. kegiatan yang digunakan dalam pengabdian kepada masyarakat ini adalah pelatihan mengenai pembelajaran kooperatif untuk anak-anak di panti asuhan melalui kegiatan yang dikemas dengan unik dan menarik serta mampu meningkatkan kreativitas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini akan dilaksanakan selama 8 minggu pelaksanaan. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok[1]kelompok. Secara deskriptif nilai mean pre-tes (70.00) yang lebih kecil dari mean post-tes (90.63) menjelaskan bahwa kemampuan anak-anak panti asuhan dalam memahami materi setelah diterapkan kooperatif learning meningkat. Hasil analisis inferensial dengan melakukan uji t diperoleh nilai P = 0.000 lebih kecil dari taraf nyata 0.05, artinya hipotesis nol ditolak, ini menunjukkan telah terjadi peningkatan yang signifikan dari kemampuan anak-anak panti asuhan dalam memahami materi himpunan, sehingga terjadi peningkatan motivasi dalam belajar yang akan membantunya dalam proses belajar.
PELANA: Pemberdayaan Lansia Aktif untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Lansia di Masa Pandemi Covid-19 Cempaka Putrie Dimala
JURNAL BUANA PENGABDIAN Vol. 5 No. 1 (2023): JURNAL BUANA PENGABDIAN
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jurnalbuanapengabdian.v5i1.5660

Abstract

Lanjut usia (Lansia) merupakan bagian dari proses tumbuh kembang. Masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia adalah depresi yang ditandai dengan perasaan sedih yang ekstrim, minat yang rendah untuk beraktivitas dan ketidakmampuan untuk merasakan kebahagiaan. Salah satu penyebab depresi pada lansia adalah karena faktor psikologis, misalnya dukungan sosial. Selain faktor psikologis sebagai lansia juga perlu memperhatikan kesehatan fisiknya agar tetap aktif sampai tua, sejak muda individu perlu menerapkan dan mempertahankan pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi seimbang, melakukan aktifitas fisik/ olahraga secara benar dan teratur dan tidak merokok. Kualitas hidup lansia terutama status fungsionalnya perlu ditingkatkan sehingga lansia dapat melakukan aktifitas sehari-hari secara mandiri. Terutama di masa pandemi Covid 19 ini banyak kegiatan yang biasanya bisa dilakukan jadi tidak bisa dilakukan karena pembatasan sosial yang diberlakukan oleh pemerintah. Individu biasanya akan menyadari betapa pentingnya pola hidup sehat ketika telah merasakan kekurangan fungsi dari organ tubuhnya ketika menginjak usia lanjut. Oleh karena itu dibutuhkan pembelajaran mengenai perilaku hidup bersih dan sehat dengan metode yang tidak membosankan serta mampu membuat lansia merasa tidak kesepian. Tujuan dilaksanakannya pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan program kreativitas non-akademik menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, dimana program tersebut merupakan suatu upaya memberikan pengalaman belajar bagi perorangan, kelompok, dan masyarakat dengan cara membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi guna meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku melalui pendekatan bina suasana, pembelajaran dengan metode yang menyenangkan dengan melibatkan orang-orang disekitar lansia dan melakukan gerakan pemberdayaan masyarakat sehingga dapat menerapkan cara hidup sehat dalam rangka menjaga, memelihara, melindungi, dan meningkatkan kesehatan fisik maupun psikologisnya.
TABAH (Tangguh Dan Bahagia): Pendampingan Dalam Mengatasi Stress Pengasuhan Pada Orang Tua Dengan Anak Berkebutuhan Khusus Cempaka Putrie Dimala; Puspa Rahayu Utami
JURNAL BUANA PENGABDIAN Vol. 6 No. 1 (2024): JURNAL BUANA PENGABDIAN
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jurnalbuanapengabdian.v6i1.6223

Abstract

Di Indonesia angka kisaran disabilitas anak usia 5-10 tahun adalah 3,3% dari jumlah penduduk pada usia tersebut, artinya jumlah anak berkebutuhan khusus berkisar 2.197.833 jiwa. Anak berkebutuhan khusus menunjukkan perbedaan perkembangan dibanding dengan anak lain yang seusia dengan mereka. Orang tua yang memiliki anak dengan berkebutuhan khusus sangat mungkin mengalami kesulitan dalam mengelola stres. Tekanan yang dialami orang tua dengan anak berkebutuhan khusus juga dapat memicu timbulnya parenting stress. Maka dari itu, untuk mengurangi kecemasan dan tekanan yang dirasakan orangtua dalam mengasuh dan merawat anak berkebutuhan khusus, orangtua harus mengetahui cara mengatasi stres agar lebih optimal dalam mencari informasi mengenai kondisi anak dan dapat menyelesaikan masalah pengasuhan yang tepat.
Psychometric Properties Of The Perceived Stress Scale (PSS-10) In Indonesian Version Hakim, Arif Rahman; Mora, Linda; Leometa, Citra Hati; Dimala, Cempaka Putrie
JP3I (Jurnal Pengukuran Psikologi dan Pendidikan Indonesia) Vol. 13 No. 2 (2024): JP3I
Publisher : FAKULTAS PSIKOLOGI UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jp3i.v13i2.35482

Abstract

The Perceived Stress Scale (PSS-10) by Cohen is a popular tool for measuring stress from a psychological perspective. The PSS-10 measures the extent to which situations in a person's life are perceived as stressful. This study aims to evaluate the psychometric properties of the Perceived Stress Scale adapted into Indonesian. The PSS-10 has been translated into various languages, but no previous studies have specifically explored the psychometric properties of the PSS-10 in Indonesian. Additionally, this study seeks to test the construct invariance of the PSS-10 among students and workers. The respondents of this study were employees working in several regions in Indonesia (N=259) and college students (N=244). Data analysis was conducted using Confirmatory Factor Analysis (CFA) and Measurement Invariance (MI). After testing for validity based on internal structure, the Indonesian version of the PSS-10 fit the two-factor model (perceived helplessness and perceived self-efficacy). The AVE value of 0.38 for student participants was considered low, with a CR value of 0.81, which is quite good. For employee participants, the AVE value was 0.58 and the CR value was 0.93, both of which were good. Based on the multigroup CFA analysis test, there are differences in the factor structure of the PSS-10 between students and employees, where these differences lie in how the two groups respond to and interpret the items of the PSS-10.
Self-Efficacy as a Mediation the Influence of Proactive Personality on Career Adaptability in Early Adults Afero, Fanny Irawan; Dimala, Cempaka Putrie; Ibad, M Choirul
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 4 (2023): Volume 12, Issue 4, December 2023
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v12i4.12315

Abstract

Early adulthood, as defined by Huclock (2012), is a transitional period from adolescence to adulthood, spanning the age range of 18 to 40 years. The fact that 80% of Indonesian students do not work in fields related to their college majors indicates a discrepancy between graduates' qualifications and the job demands in the labor market. Furthermore, data stating that only about 27% of graduates have jobs in their field of study highlights a high level of incongruity between graduates' qualifications and the job demands in specific industries or sectors. This research aims to explore the role of self-efficacy as a mediator of the influence of proactive personality on career adaptability among young adults in Kabupaten Karawang. The distribution of questionnaire data is conducted electronically. The instruments used in this study include the Career Adapt-Abilities Scale (CAAS), The General Self-Efficacy Scale (GSES-12), and the Proactive Personality Scale (PPS), all of which have been translated into Indonesia. The results of the analysis indicate that proactive personality significantly influences career adaptability. However, self-efficacy does not have a significant influence on career adaptability. Neither proactive personality nor self-efficacy individually has an impact on career adaptability. Data analysis using mediation analysis shows that there is no mediating role of self-efficacy between proactive personality and career adaptability among young adults in Kabupaten Karawang.Dewasa awal, menurut Huclock (2012), adalah periode peralihan dari masa remaja menuju dewasa dengan rentang usia 18 hingga 40 tahun. Fakta bahwa 80% mahasiswa Indonesia tidak bekerja sesuai dengan jurusan kuliahnya menunjukkan adanya kesenjangan antara kualifikasi yang dimiliki oleh lulusan dengan kebutuhan dan permintaan pekerjaan di pasar kerja. Selain itu, data yang menyatakan hanya sekitar 27% lulusan yang memiliki pekerjaan sesuai dengan bidang ilmunya menunjukkan tingginya tingkat ketidaksesuaian antara kualifikasi lulusan dengan tuntutan pekerjaan di industri atau sektor tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran efikasi diri sebagai perantara dari pengaruh kepribadian proaktif terhadap adaptabilitas karir pada dewasa awal di Kabupaten Karawang. Penyebaran data kuesioner melalui media elektronik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini mencakup Skala Adaptabilitas Karir (CAAS), Skala Efikasi Diri Umum (GSES-12), dan Skala Kepribadian Proaktif (PPS), yang semuanya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa kepribadian proaktif memiliki pengaruh signifikan terhadap adaptabilitas karir. Namun, efikasi diri tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap adaptabilitas karir. Baik kepribadian proaktif maupun efikasi diri secara individual tidak memiliki pengaruh pada adaptabilitas karir. Analisis data menggunakan analisis mediasi menunjukkan bahwa tidak ditemukan peran mediasi dari efikasi diri antara kepribadian proaktif dan adaptabilitas karir pada dewasa awal di Kabupaten Karawang.
Co-Authors Afero, Fanny Irawan Agnia Putri Permatasari Ahmad Fuad Fadhil Aisha, Dinda Alfajri, Fauzan Ahmad Ananda Saadatul Maulidia Ananda Saadatul Maulidia Ananda Saadatul Maulidia Andeli, Rossy Andika, Rizki Andyan Lutfahyanto Andyan P.L Anggun Pertiwi Anggun Pertiwi Anisa Priastuti Utami Arif Rahman Hakim Arif Rahman Hakim Arif Rahman Hakim Asep Saepuloh Atrianah Christina R Wulandari Christina Rahayu Wulandari Dewi Anggraeni Dewi, Alba Putri Dewi, Andrea Puspita Dimas Prabowo Dimas Prabowo Dinda Aisha Dinda Aisha Dwi Toni Indra Pamungkas Eka Mardia Fadilahasanah, Salsa Fauzul Adim Ubaidillah Febrianto, Helmi Fitria, Reni Haekal Mauludin Hartanti, Riska Tri Haryanti Mustika Hidayatul Karomah Ibad, M Choirul Ibad, M. Choirul Indah Nur Azizah Ivana Mara Salsabila LATIFAH Lekatompessy, Shella Kristiani Leometa, Citra Hati Linda Mora Listiana, Yulinar Dwi Gita Lydia Putri Afandi M. Choirul Ibad Maharani, Alyssa Marwah, Siti Maulida, Ananda Saadatul Maulidia, Ananda Saadatul Mudinillah, Adam Muhamad Gilang Krismana Muharsih, Lania Musriyah, Azizah Mustika, Haryanti Nezia, Amara Nia Mardiana Nita Rohayati Nita Rohayati Nugroho, Sephtian Setyo Nurbaeti Nurzaman, Robby Pandiangan, Saria Indriana Pertiwi, Anggun Pirli, Indriyani Dewi Agita Prasetya, Talitha Aisha Putri PRATOMO, BIMO Purwanti, Dewi Asih Puspa Rahayu Utami Puspa Rahayu Utami Rahman Puspa Rahayu Utami Rahman Putri Nur Rahmawati Rahman, Arif Hakim Rahman, Puspa Rahayu Utami Ramadan, Regi Randwitya Ayu Ganis Hemasti Ratih Saraswati Riki Aprijal Riza, Wina Lova Rohayati, Nita Shabrina, Darin Salsa Silvi Dwianti Siregar, Linda Mora Sofhie Istiqomah Agustin Susi Yeni Syamsiar, Syamsiar Tantia Yuliandina Tourniawan, Irwan Ulva, Maria Wahyudin Winda Sri Pramesti Nugraha Wulandari, Christina R Wulansari, Resi Yudha Adrianto Yufita Jasmine Yulyanti Minarsih Yulyanti Minarsih