p-Index From 2021 - 2026
11.215
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS WARGA BINAAN: PERAN DUKUNGAN SOSIAL DAN RELIGIUSITAS DI LAPAS KELAS IIA KARAWANG Sonia Puspitasari; Cempaka Putrie Dimala; Anggun Pertiwi
Consilium: Education and Counseling Journal Vol 6 No 2 (2026): Edisi Agustus
Publisher : Biro 3 Kemahasiswaan dan Kerjasama Universitas Abduracman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/consilium.v6i2.8514

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial dan religiusitas terhadap kesejahteraan psikologis pada warga binaan pemasyarakatan di Lapas Kelas IIA Karawang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain eksplanatori. Sampel penelitian berjumlah 242 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan psikologis pada warga binaan pemasyarakatan di Lapas Kelas IIA Karawang. Religiusitas juga berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan psikologis pada warga binaan pemasyarakatan di Lapas Kelas IIA Karawang. Selain itu, dukungan sosial dan religiusitas secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan psikologis. Nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,189 menunjukkan bahwa dukungan sosial dan religiusitas mampu menjelaskan 18,9% variasi kesejahteraan psikologis. Hasil analisis kontribusi efektif menunjukkan bahwa religiusitas memberikan kontribusi yang lebih besar (15,2%) dibandingkan dukungan sosial (3,6%) terhadap kesejahteraan psikologis warga binaan pemasyarakatan. Temuan ini dapat membantu meningkatkan kesejahteraan psikologis warga binaan
Memahami Psychological Distress pada Emerging Adulthood: Peran Kesepian dan Dukungan Sosial Kanti Putri Febriani; Cempaka Putrie Dimala; Haryanti Mustika
Jurnal Psikologi dan Konseling West Science Vol 4 No 02 (2026): Jurnal Psikologi dan Konseling West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpkws.v4i02.2700

Abstract

Individu pada tahap emerging adulthood mulai membangun karier, melanjutkan studi, membentuk hubungan pribadi, dan menetapkan nilai-nilai hidup untuk mencapai kestabilan di masa depan. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana pengaruh kesepian dan dukungan sosial terhadap psychological distress. Populasi dalam penelitian ini yakni emerging adulthood di Karawang dengan rentang usia 18-25 tahun. Metode penelitian menggunakan kuantitatif dengan teknik non-probability sampling dengan jenis purposive sampling. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan rumus Cochran dengan taraf kesalahan sebesar 5% maka sampel dalam penelitian menggunakan 385 responden. Penelitian ini menggunakan 3 alat ukur psikologi yaitu Psychological distress scale (K10), UCLA Version 3, dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji regresi berganda. Hasil analisis variabel kesepian terhadap psychological distress sebesar 0,000 < 0,05 sehingga dinyatakan terdapat pengaruh, sedangkan variabel dukungan sosial memberikan hasil sebesar 0,683 > 0,05, yang artinya tidak ada pengaruh antara dukungan sosial dengan psychological distress. Berdasarkan hasil koefisien determinasi, apabila dilihat dari nilai R square sebesar 0,789 atau 78,9% memberikan sumbangsih terhadap psychological distress, selebihnya sebesar 21,1% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
PERAN INTERPERSONAL TRUST DAN SELF-ESTEEM DALAM MEMBENTUK PERILAKU SELF-DISCLOSURE GEN Z DI SECOND ACCOUNT INSTAGRAM Ryzka Salsabila; Cempaka Putrie Dimala; Anggun Pertiwi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.12047

Abstract

ABSTRACT The increasing use of secondary Instagram accounts among Generation Z has created an alternative space for more personal, private, and authentic self-expression compared to primary accounts. Secondary accounts enable users to share their thoughts, feelings, and experiences with a more limited social circle, thereby encouraging self-disclosure. In this context, psychological factors such as interpersonal trust and self-esteem are believed to play important roles in influencing individuals’ willingness to disclose personal information on social media. This study aimed to examine the effects of interpersonal trust and self-esteem on self-disclosure among Generation Z users of secondary Instagram accounts. A quantitative approach with a causal associative design was employed. The participants consisted of Generation Z individuals aged 18–29 years who owned more than one Instagram account. Data were collected using instruments measuring interpersonal trust, self-esteem, and self-disclosure and were analyzed through multiple regression analysis. The findings revealed that interpersonal trust had a positive effect on self-disclosure, indicating that individuals with higher levels of trust were more likely to share personal information through their secondary Instagram accounts. Self-esteem was also found to positively influence self-disclosure, suggesting that individuals with a more positive self-evaluation tended to express their thoughts, feelings, and personal experiences more openly. Furthermore, self-esteem demonstrated a stronger influence on self-disclosure than interpersonal trust. Taken together, both variables contributed to explaining self-disclosure behavior among secondary Instagram account users. These findings highlight that self-disclosure on social media is shaped by both social and personal factors. Therefore, strengthening interpersonal trust and fostering positive self-esteem are important for promoting healthier and more constructive social media engagement among Generation Z.   ABSTRAK Penggunaan second account Instagram di kalangan Generasi Z semakin meningkat sebagai ruang alternatif untuk mengekspresikan diri secara lebih personal, privat, dan autentik dibandingkan akun utama. Kehadiran akun kedua memungkinkan pengguna untuk berbagi pikiran, perasaan, dan pengalaman kepada lingkaran sosial yang lebih terbatas sehingga mendorong terjadinya self-disclosure. Dalam konteks ini, faktor psikologis seperti interpersonal trust dan self-esteem diduga berperan penting dalam memengaruhi kecenderungan individu untuk mengungkapkan informasi pribadi di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh interpersonal trust dan self-esteem terhadap self-disclosure pada pengguna second account Instagram dari Generasi Z. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain asosiatif kausal. Partisipan penelitian terdiri atas individu Generasi Z berusia 18–29 tahun yang memiliki lebih dari satu akun Instagram. Data dikumpulkan menggunakan instrumen yang mengukur interpersonal trust, self-esteem, dan self-disclosure, kemudian dianalisis menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interpersonal trust berpengaruh positif terhadap self-disclosure, yang mengindikasikan bahwa individu dengan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi cenderung lebih terbuka dalam membagikan informasi pribadi melalui second account Instagram. Self-esteem juga berpengaruh positif terhadap self-disclosure, menunjukkan bahwa individu dengan penilaian diri yang lebih positif lebih mudah mengekspresikan pikiran, perasaan, dan pengalaman pribadinya. Selain itu, self-esteem ditemukan memiliki pengaruh yang lebih kuat dibandingkan interpersonal trust. Secara bersama-sama, kedua variabel tersebut berkontribusi dalam menjelaskan perilaku self-disclosure pada pengguna second account Instagram. Temuan ini menegaskan bahwa perilaku pengungkapan diri di media sosial dipengaruhi oleh faktor sosial dan personal. Oleh karena itu, penguatan kepercayaan interpersonal dan harga diri positif penting untuk mendukung penggunaan media sosial yang sehat dan konstruktif pada Generasi Z.
Potret Phubbing Generasi Z di Tengah Maraknya Konten Kuliner: Peran Adiksi Media Sosial dan Kontrol Diri Raissa Aulia Haryadi Putri; Yanti Tayo; Cempaka Putrie Dimala
Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol. 8 No. 6 (2026): RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/reslaj.v8i7.12417

Abstract

This study analyzes the role of social media addiction and self-control on phubbing behavior among Generation Z followers of Tiktok culinary content in West Java. This study employed a quantitative survey method with a causal-associative design. The study population consisted of Generation Z individuals who follow culinary content on Tiktok, using purposive sampling to select 386 respondents. Data were collected using the Generic Scale of Phubbing (GSP), the Bergen Social Media Addiction Scale (BSMAS), and the Brief Self-Control Scale (BSCS). Data analysis was performed using multiple linear regression, preceded by assumption tests, namely normality and linearity tests. The results indicate that social media addiction has a positive and significant effect on phubbing behavior (p=0,000), while self-control has a negative and significant effect on phubbing behavior (p=0,000). Simultaneously, social media addiction and self-control have a significant effect on phubbing behavior (p=0,000). The results of the coefficient of determination test indicate that the two independent variables account for 59.4% of the variance in phubbing behavior, while the remaining 40.6% is influenced by other variables outside the scope of this study. These findings suggest that higher levels of social media addiction are associated with higher levels of phubbing behavior, whereas better self-control is associated with lower levels of phubbing behavior. This study underscores the importance of strengthening self-control and managing social media use to minimize phubbing behavior among Generation Z. Future research is recommended to examine additional variables such as fear of missing out, loneliness, emotion regulation, or smartphone addiction that may also contribute to phubbing behave.
Kepuasan Hubungan Romantis pada Dewasa Awal: Peranan Attachment Avoidant dan Strategi Resolusi Konflik Inten Mayada; Cempaka Putrie Dimala; Anggun Pertiwi
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v4i3.7968

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh attachment avoidant dan strategi resolusi konflik terhadap kepuasan hubungan romantis pada individu dewasa awal berusia 18–29 tahun. Masa dewasa awal merupakan fase penting dalam pembentukan hubungan romantis yang sehat dan memuaskan, namun keberadaan konflik dan gaya kelekatan yang tidak aman, seperti attachment avoidant, dapat memengaruhi dinamika hubungan tersebut. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas, melibatkan 350 responden yang sedang atau pernah menjalani hubungan romantis. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Relationship Assessment Scale (RAS), Experiences in Close Relationships Questionnaire-Revised (ECR-R), dan Conflict Resolution Styles Inventory (CRSI). Analisis data mencakup uji normalitas, linearitas, regresi berganda, dan kategorisasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa attachment avoidant tidak berpengaruh signifikan terhadap kepuasan hubungan romantis, sedangkan strategi resolusi konflik berpengaruh signifikan dan negatif terhadap kepuasan hubungan romantis. Secara simultan, attachment avoidant dan strategi resolusi konflik berpengaruh signifikan terhadap kepuasan hubungan romantis dengan kontribusi sebesar 64,1%. Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan strategi resolusi konflik yang kurang adaptif, seperti menghindari konflik, akan menurunkan tingkat kepuasan dalam hubungan romantis. Temuan ini menegaskan pentingnya kemampuan pasangan dalam menerapkan strategi penyelesaian konflik yang konstruktif untuk meningkatkan kualitas dan kepuasan hubungan romantis pada masa dewasa awal.
PENGARUH EFIKASI DIRI DAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP OPTIMISME MENGHADAPI DUNIA KERJA SISWA KELAS XII SMK IPTEK SANGGABUANA PANGKALAN KARAWANG Winda Sri Pramesti Nugraha; Cempaka Putrie Dimala; Arif Rahman Hakim
Psikologi Prima Vol. 4 No. 1 (2021): Psikologi Prima
Publisher : unprimdn.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/psychoprima.v4i1.1909

Abstract

Dunia kerja merupakan dunia tempat sekumpulan individu dalam melakukan suatu aktivitas kerja baik di dalam perusahaan maupun organisasi. Sulitnya mendapatkan pekerjaan di masa globalisasi ini menjadi topik hangat yang sangat meresahkan bagi lulusan-lulusan SMK yang memang belum memiliki pengalaman dalam bekerja. Optimisme merupakan suatu pandangan secara menyeluruh melihat semua hal yang baik dan bisa berpikir secra positif serta berpikir peristiwa buruk hanya bersifat sementara. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh efikasi diri dan dukungan sosial terhadap optimisme menghadapi dunia kerja siswa kelas XII SMK IPTEK Sanggabuana Pangkalan Karawang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jumblah populasi keseluruhan kelas XII 270 siswa penggambilan sampel menggunakan sampling kuota yang berjumlah 152 siswa. Hasil uji hipotesis bahwa terdapat pengaruh efikasi diri dan dukungan sosial terhadap optimisme menghadapi dunia kerja siswa kelas XII SMK IPTEK Sanggabuana Pangkalan Karawang dengan jumlah nilai sebesar 51,3% dan nilai signifikan sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05).
An Examination of Self-Concept and Consumptive Behavior: The Phenomenon of Online Shopping Yufita Jasmine; Cempaka Putrie Dimala; Ananda Saadatul Maulidia
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 4 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v13i4.16833

Abstract

One of the basic elements that influences consumer behavior is self-concept. Online shopping is most often done by adolescents aged 18-21 years. This study aims to examine the influence of self-concept on consumer behavior in online shopping among adolescents in Karawang Regency. Participants in this study were adolescents aged between 12 and 21 years totaling 204 and using accidental sampling for this study. The Self-Concept Scale (PSC) contains eighteen valid questions on the Self-Concept Scale (reliability α = 0.942) and the Consumptive Behavior Scale twenty-three valid questions on the Consumptive Behavior Scale (reliability α = 0.948). Specifically, self-concept has an impact on consumer behavior (sig 0.000 <0.05). The regression coefficient of the self-concept variable is -0.155 which means there is a negative influence between self-concept and consumer behavior in online shopping among adolescents in Karawang Regency. Adolescents who have a high and positive self-concept tend to be wiser in shopping, while those with a low self-concept are more susceptible to external influences and more likely to engage in excessive consumer behavior.Salah satu elemen mendasar yang mempengaruhi perilaku konsumtif adalah konsep diri. Belanja online paling sering dilakukan oleh remaja yang berada di rentang usia 18-21 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh konsep diri terhadap perilaku konsumtif dalam berbelanja online pada remaja di Kabupaten Karawang. Partisipan dalam penelitian ini adalah remaja yang berusia antara 12 hingga 21 tahun yang berjumlah 204 dan menggunakan accidental sampling untuk penelitian ini. Skala Konsep Diri (PSC) terdapat delapan belas pertanyaan yang valid pada Skala Konsep Diri (reliabilitas α = 0,942) dan Skala Perilaku Konsumtif dua puluh tiga pertanyaan yang valid pada Skala Perilaku Konsumtif (reliabilitas α = 0,948). Secara khusus, konsep diri memiliki dampak pada perilaku konsumtif (sig 0.000<0.05). Koefisien regresi variabel konsep diri adalah -0.155 yang berarti ada pengaruh negatif antara konsep diri terhadap perilaku konsumtif dalam berbelanja online pada remaja di Kabupaten Karawang. Remaja yang memiliki konsep diri yang tinggi dan positif cenderung lebih bijaksana dalam berbelanja, sementara mereka yang memiliki konsep diri yang rendah lebih rentan terhadap pengaruh eksternal dan lebih cenderung terlibat dalam perilaku konsumtif yang berlebihan.
Cognitive flexibility as Mediator the Effect of Loneliness on Celebrity worship in Early adult Korean Wave Fans in Indonesia Muhamad Gilang Krismana; Puspa Rahayu Utami Rahman; Cempaka Putrie Dimala
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 4 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v12i4.12342

Abstract

Celebrity worship is an obsessive-addictive disorder where a person becomes involved in every detail of their idol's activities (Maltby et. al, 2005). This study aims to determine cognitive flexibility as a mediator of the effect of loneliness on celebrity worship in early adult korean wave fans in Indonesia. The research method uses quantitative and causality approaches. The measuring instruments used are the Cognitive Flexibility Inventory (CFI) scale by Dennis & Vander Wal (2010, the UCLA Loneliness Scale (ULS-20) scale by Russel (1996), and the Celebrity Attitude Scale (CAS) scale by Maltby et al (2004). The population of this study was early adult korean wave fans in Indonesia, with a sample of 496 participants including 113 men and 383 women. Mediation analysis was used using the SEM mediation analysis feature of the JASP software version 16. The results showed the value of the direct effect of the loneliness variable on celebrity worship, with a p value of 0.001 <0.05, which indicates that the loneliness variable has a significant effect on celebrity worship. On the other hand, the value of the indirect effect between the variable loneliness on celebrity worship and cognitive flexibility as a mediator was obtained, with a p value of 0.001 <0.05, which shows that cognitive flexibility functions as a mediator of the effect of loneliness on celebrity worship. which means that the cognitive flexibility variable can reduce celebrity worship caused by the loneliness variable.Celebrity worship merupakan gangguan obsesif-adiktif dimana seseorang menjadi terlibat pada setiap detail aktivitas idolanya (Maltby et. al, 2005). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cognitive flexibility sebagai mediator pengaruh loneliness terhadap celebrity worship pada dewasa awal penggemar korean wave di Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kausalitas. Alat ukur yang digunakan adalah skala Cognitive Flexibility Inventory (CFI) oleh Dennis & Vander Wal (2010, skala UCLA Loneliness Scale (ULS-20) oleh Russel (1996), dan skala Celebrity Attitude Scale (CAS) oleh Maltby et al (2004). Populasi penelitian ini merupakan dewasa awal penggemar korean wave di Indonesia, dengan sampel sebanyak 496 partisipan diantaranya 113 laki-laki dan 383 perempuan. Analisis mediasi digunakan menggunakan fitur SEM mediation analysis dari perangkat lunak JASP versi 16. Analisis mediasi digunakan menggunakan fitur SEM mediation analysis dari perangkat lunak JASP versi 16. Hasil penelitian menunjukkan nilai pengaruh langsung variabel loneliness terhadap celebrity worship. Di sisi lain, nilai pengaruh tidak langsung antara variabel loneliness terhadap celebrity worship dan cognitive flexibility sebagai mediator diperoleh, dengan nilai p 0,001 < 0,05, yang menunjukkan bahwa cognitive flexibility berfungsi sebagai mediator pengaruh loneliness terhadap celebrity worship. yang berarti variabel cognitive flexibility dapat penurunan celebrity worship yang disebabkan oleh variabel loneliness.
Overview of Academic Dishonesty in Students in Karawang Regency Agnia Putri Permatasari; Cempaka Putrie Dimala; Yulyanti Minarsih
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 4 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v12i4.12434

Abstract

Academic dishonesty occurs a lot in education. Academic dishonesty has been widely committed by students and students, and has a negative impact and causes problems in the future. This study aims to determine the picture of academic dishonesty in students in Karawang. The sampling technique used in this study used convenience sampling. The population used in this study is active students studying at five universities in Karawang with a total of 400 students. Data collection techniques in this research use two different ways, namely with scale sheets that are given directly and through scale sheets that can be accessed online. The instrument in this study used a Likert scale composed of four answer choices. The measuring instrument used in this study is Bashir & Bala's Academic Dishonesty Scale (ADS) (2018) which has 23 items. Data analysis techniques in this study used normality tests, categorization tests, and difference tests. The results in this study show that academic dishonesty in students in Karawang is relatively low. Based on gender, it was found that there was no difference between males and females. Furthermore, in the age range there was no difference between the age range between 18-21, 22-25 and 26-48 years. Meanwhile, based on education, there is no difference in academic dishonesty carried out in universities and in semesters there is no difference in academic dishonesty carried out by students in each semester.Academic dishonesty banyak terjadi di dunia pendidikan. ketidakjujuran akademik sudah banyak dilakukan oleh pelajar maupun mahasiswa, serta memiliki dampak negatif dan menimbulkan masalah dimasa yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran academic dishonesty pada mahasiswa di Karawang. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan convenience sampling. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif yang berkuliah di lima perguruan tinggi yang ada di Karawang dengan jumlah responden sebesar 400 orang mahasiswa. Teknik pengumpulan data dalam peneltian ini menggunakan menggunakan dua cara yang berbeda, yaitu dengan lembar skala yang diberikan secara langsung dan melalui lembar skala yang dapat di akses secara daring. Instrument dalam penelitian ini menggunakan skala likert yang tersusun dari empat pilihan jawaban. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Academic Dishonesty Scale (ADS) milik Bashir & Bala (2018) yang memiliki 23 aitem. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji normalitas, uji kategorisasi, dan uji beda. Hasil dalam penelitian ini menunjukan academic dishonesty pada mahasiswa di Karawang tergolong rendah. Berdasarkan jenis kelamin ditemukan bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Lebih lanjut pada rentang usia tidak ditemukan perbedaan antara rentang usia antara 18-21, 22-25 dan 26-48 tahun. Sedangkan berdasarkan pendidikan tidak memiliki perbedaan academic dishonesty yang dilakukan di perguruan tinggi dan pada semester tidakditemukan perbedaan academic dishonesty yang dilakukan mahasiswa di setiap semesternya.
Adult Attachment in Early Adulthood with Divorced Parents Amara Nezia; Cempaka Putrie Dimala; Dinda Aisha
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 1 (2025): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v14i1.14828

Abstract

Individuals from divorced families have a higher risk compared to those from intact families when entering adulthood. These individuals tend to feel less secure in forming attachments with others during early adulthood. This study aims to examine the adult attachment patterns of early adults with divorced parents in Karawang Regency. This descriptive quantitative research involves 100 early adults in Karawang, using non-probability sampling. Data collection was conducted through an online questionnaire distribution. Adult attachment was measured using the Revised Adult Attachment Scale (RAAS) with a Likert scale from 1 to 5. The results show that the dominant attachment type is anxiety attachment, held by 51% of early adults with divorced parents, followed by depend on attachment (26%) and close attachment (23%). Hypothesis testing reveals no significant differences between gender and attachment patterns, but there are significant differences between the age groups of 20-25 years (transition from adolescence to adulthood) and 26-40 years (early adulthood), as well as between the age at which parents divorced, specifically early childhood (2-6 years) and late childhood (7-12 years). No significant differences were found based on relationship status (dating, engaged, or married). These findings suggest that anxiety attachment patterns are more prevalent in individuals who experienced parental divorce at a younger age, and both age and parental divorce experiences influence early adulthood attachment patterns. Individu yang berasal dari keluarga yang bercerai memiliki resiko yang lebih besar dibanding individu dengan keluarga yang utuh ketika memasuki usia dewasa. Individu tersebut memiliki kecenderungan untuk merasa kurang aman dalam menjalin kelekatan dengan orang lain di saat dewasa awal. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran adult attachment pada dewasa awal dengan orang tua yang bercerai di Kabupaten Karawang. Penelitian kuantitatif deskriptif ini melibatkan 100 dewasa awal di Karawang dengan menggunakan non-probability sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan penyebaran kuesioner secara daring. Pengukuran adult attachment menggunakan Revised Adult Attachment Scale (RAAS) dengan skala Likert 1 hingga 5. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tipe anxiety attachment dominan dimiliki oleh dewasa awal dengan orang tua yang bercerai, dengan persentase sebesar 51%, diikuti dengan depend on attachment (26%) dan close attachment (23%). Uji hipotesis menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antara jenis kelamin terhadap pola kelekatan, namun terdapat perbedaan signifikan antara kelompok usia 20-25 tahun (masa transisi remaja menuju dewasa) dan 26-40 tahun (dewasa awal), serta antara usia ketika orang tua bercerai, yakni masa kanak-kanak awal (2-6 tahun) dan masa kanak-kanak akhir (7-12 tahun). Tidak ditemukan perbedaan signifikan berdasarkan status hubungan (berpacaran, tunangan, atau menikah). Temuan ini menunjukkan bahwa pola anxiety attachment lebih tinggi pada individu yang mengalami perceraian orang tua pada usia lebih muda, dan usia serta pengalaman perceraian orang tua mempengaruhi pola kelekatan dewasa awal.
Co-Authors Afero, Fanny Irawan Agnia Putri Permatasari Agustin, Sofhie Istiqomah Ahmad Fuad Fadhil Alfajri, Fauzan Ahmad Amara Nezia Ananda Saadatul Maulidia Ananda Saadatul Maulidia Andeli, Rossy Andika, Rizki Andyan Lutfahyanto Andyan P.L Anggun Pertiwi Anggun Pertiwi Anisa Priastuti Utami Arif Rahman Hakim Arif Rahman Hakim Arif Rahman Hakim Asep Saepuloh Atrianah Christina Rahayu Wulandari Dewi, Alba Putri Dewi, Andrea Puspita Dimas Prabowo Dinda Aisha Dwi Toni Indra Pamungkas Fadilahasanah, Salsa Fatima Azzahra Fauzul Adim Ubaidillah Febrianto, Helmi Fitria, Reni Haekal Mauludin Hartanti, Riska Tri Haryanti Mustika Haryanti Mustika Hidayatul Karomah Ibad, M Choirul Ibad, M. Choirul Indah Nur Azizah Inten Mayada Ivana Mara Salsabila Kanti Putri Febriani LATIFAH Lekatompessy, Shella Kristiani Leometa, Citra Hati Listiana, Yulinar Dwi Gita Lydia Putri Afandi M. Choirul Ibad M. Yogi Riyantama Isjoni Maharani, Alyssa Mardia, Eka Marwah, Siti Maulida, Ananda Saadatul Maulidia, Ananda Saadatul Mudinillah, Adam Muhamad Gilang Krismana Muharsih, Lania Musriyah, Azizah Mustika, Haryanti Nia Mardiana Nita Rohayati Nita Rohayati Nugroho, Sephtian Setyo Nurzaman, Robby Pandiangan, Saria Indriana Pertiwi, Anggun Pirli, Indriyani Dewi Agita Prasetya, Talitha Aisha Putri PRATOMO, BIMO Purwanti, Dewi Asih Puspa Rahayu Utami Puspa Rahayu Utami Rahman Putri Nur Rahmawati Rahman, Arif Hakim Raissa Aulia Haryadi Putri Ramadan, Regi Randwitya Ayu Ganis Hemasti Ratih Saraswati Riki Aprijal Riza, Wina Lova Rohayati, Nita Ryzka Salsabila Shabrina, Darin Salsa Silvi Dwianti Siregar, Linda Mora Sonia Puspitasari Susi Yeni Syamsiar, Syamsiar Tantia Yuliandina Tourniawan, Irwan Ulva, Maria Wahyudin Winda Sri Pramesti Nugraha Wulandari, Christina R Wulansari, Resi Yanti Tayo Yudha Adrianto Yufita Jasmine Yulyanti Minarsih Yustika Putri