Articles
Motif Menggunakan Media WhatsApp Messenger Terhadap Kepuasan Dalam Menyampaikan Pesan (Studi Pada Remaja Di Jakarta)
Dewi Dewi;
Eko Harry Susanto;
Wulan Purnama Sari
Koneksi Vol 1, No 1 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v1i1.1353
Media sosial saat ini telah menjadi media yang wajib dipakai oleh semua kalangan untuk melengkapi kegiatan komunikasi mereka. Salah satunya yang akan dibahas pada penelitian ini adalah WhatsApp Messenger. WhatsApp Messenger adalah media sosial yang saat ini sedang tren di kalangan dewasa. Biasanya WhatsApp Messenger dipakai sebagai media komunikasi para pekerja yang memiliki umur 20 hingga 35 tahun. Namun pada penelitian ini akan membahas pada kalangan remaja akhir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui motif yang dimiliki dalam memakai WhatsApp Messenger serta tingkat kepuasan yang didapatkan dalam menggunakan WhatsApp Messenger. Jenis penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif. Penelitian ini memakai metode survei. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja akhir yang berada di DKI Jakarta dengan sampel penelitian sebanyak 130 responden. Hasil akhir dapat dilihat pada uji regresi linier sederhana sebesar 0,482 yang artinya memiliki pengaruh yang positif. Motif tertinggi ada pada motif integrasi dan interaksi sosial serta kepuasan tertinggi ada pada dimensi persepsi kualitas.
Citra Diri dalam Instagram Jokowi
Cindy Cindy;
Wulan Purnama Sari
Koneksi Vol 3, No 2 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v3i2.6380
Communication is one of the basic human basic needs in living life as a social creature. Along with the development of the times that there is technology developing until social media is very developed, one of which is developing social media is Instagram which is now present in the middle of the community. The community can use Instagram social media which is currently also as a media that can make everyone able to communicate both remotely and short distance. Instagram can also see how one's self-image in an existing social media like in a post on Instagram that can show someone's activities. One of them is Instagram owned by the President of the Republic of Indonesia, Joko Widodo, who is fairly active on Instagram social media, despite having a very crowded activity. Jokowi also showed his image through every post uploaded on Instagram. President Joko Widodo is very active in uploading every post whether in political activities, family or even community activities. In this study, the author wants to find out how the attitude of a President of the Republic of Indonesia Joko Widodo on social media Instagram on society, family, and politics. The author will analyze each of Jokowi's posts from June to August to find out how the attitude of a President of the Republic of Indonesia on social media Instagram. The purpose of the research to be achieved by the writer is to know and describe the self-image in Instagram Jokowi.Komunikasi merupakan salah satu pokok yang menjadi kebutuhan dasar manusia dalam menjalani kehidupan sebagai makhluk sosial. Seiring perkembangan zaman yang ada teknologi berkembang hingga media sosial pun sangat berkembang, salah satunya media sosial yang berkembang adalah Instagram yang saat ini telah hadir ditengah masyarakat. Masyarakat dapat menggunakan media sosial Instagram yang saat ini juga sebagai media yang dapat membuat setiap orang dapat berkomunikasi baik secara jarak jauh maupun jarak dekat. Instagram juga bisa melihat bagaimana citra diri seseorang dalam sebuah media sosial yang ada seperti pada postingan di Instagram yang dapat memperlihatkan kegiatan seseorang. Salah satunya Instagram milik Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang terbilang aktif di media sosial Instagram, meski memiliki kegiatan yang sangat padat. Jokowi juga menunjukkan citra dirinya melalui setiap postingan yang diunggah di Instagram. Presiden Joko Widodo sangat aktif dalam mengunggah setiap postingan baik dalam kegiatan politik, keluarga bahkan sampai kegiatan bersama masyarakat. Dalam penelitian ini, penulis ingin mengetahui bagaimana penyikapan diri seorang Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dalam media sosial Instagram terhadap masyarakat, keluarga, dan politik. Penulis akan menganalisis setiap postingan Jokowi dari bulan Juni hingga Agustus untuk mengetahui bagaimana penyikapan diri seorang Presiden Republik Indonesia dalam media sosial Instagram. Tujuan penelitian yang ingin dicapai oleh penulis adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan Citra diri dalam Instagram Jokowi
Komunikasi Antar Persona Ibu dan Anak Bertato
Ivan Surya;
Wulan Purnama Sari
Koneksi Vol 3, No 1 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v3i1.6145
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana komunikasi antar persona atau komunikasi interpersonal yang terjadi antara ibu dan anak bertato. Apakah terdapat perubahan dalam komunikasi antar persona antara seorang ibu dengan anaknya, sesudah dan sebelum mempunyai tato. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan metode fenomenologi. Pengumpulan data yang didapat adalah melalui tiga cara yaitu dokumentasi, observasi, serta wawancara mendalam. Peneliti menyimpulkan bahwa komunikasi antar persona yang terjadi pada setiap narasumber berbeda-beda. Seorang ibu akan menerima anaknya kembali seperti semula walaupun anaknya sudah berbuat hal yang negatif atau buruk. Alasan terkuat seorang ibu melarang anaknya untuk mempunyai tato adalah supaya tidak terkena penyakit atau merusak bagian kulit dan tubuhnya. Hal ini karena ibu lebih mementingkan kesehatan anaknya.
Pola Komunikasi Kelompok pada Tim Bola Basket Merah Putih Samator
Jessica Febriani Thoeng;
Wulan Purnama Sari
Koneksi Vol 2, No 1 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v2i1.2434
Komunikasi merupakan sarana untuk membangun kerja sama dalam tim. Pada suatu tim terjadi komunikasi kelompok yang akan membentuk pola komunikasi berbeda-beda. Pola komunikasi tersebut akan membentuk aliran komunikasi sehingga penelitian ini dilakukan untuk memahami proses komunikasi kelompok yang terjadi dalam tim bola basket Merah Putih Samator dengan menggunakan konteks kedalaman suatu pesan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan empat subjek penelitian. Objek dari penelitian ini yaitu pola komunikasi antara pelatih-pemain begitu juga antar pemain dan juga media komunikasi yang membantu terjadinya komunikasi. Teori yang digunakan adalah teori pola jaringan sehingga hasil dari penelitian ini terdapat dua pola yang dibentuk oleh tim tersebut yaitu pola rantai dan semua saluran. Pola rantai terbentuk melalui komunikasi pelatih dan pemain dengan pesan tidak mendalam dan menggunakan alur two step flow communication. Sedangkan pola semua saluran terbentuk pada komunikasi antar pemain dengan pesan tidak mendalam dan menggunakan alur one step flow communication. Komunikasi yang terjadi pada tim tersebut lebih menggunakan pesan yang informatif. Pada tim tersebut terdapat bentuk kepemimpinan yaitu kepemimpinan demokratis.
Komunikasi Verbal dan Nonverbal dalam Game Online League of Legends
Ivander Stefanus;
Wulan Purnama Sari
Koneksi Vol 4, No 2 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v4i2.8156
91% of Indonesian people use mobile phones in their daily lives and 22% of people use laptops or computers in their daily lives and not infrequently they also play games from their gadgets or computers. Game is known as a mere intermezo, but with globalization game that should’ve been entertainment to drive away fatigue after daily activities has growing rapidly to become competitive with the existence of online games. In team-based online games one of the factors to achieve victory is communication because with communication players can produce synergies and a plan to win the game. In analyzing this study, author uses the theory of verbal and nonverbal communication between players in League of Legends, in order to find out the forms of verbal and nonverbal communication between players in League of Legends. The main theory in this study is the theory of verbal and nonverbal communication. This Research use a qualitative approach that is descriptive and using phenomenology method. The results of this study indicate that in League of Legends, there are verbal communication in the form of in-game chat, voice chat, and through Discord. Whereas nonverbal communication is in the form of smart ping, and emotes.Sebanyak 91% masyarakat Indonesia menggunakan handphone dalam kehidupan sehari-hari serta sebanyak 22% masyarakat menggunakan laptop atau komputer dalam kehidupan sehari-hari mereka dan tak jarang pula mereka memainkan game dari gadget atau komputer mereka. Game lebih dikenal sebagai sebuah intermezo belaka, namun seiring berkembangnya zaman game yang seharusnya menjadi hiburan untuk mengusir penat setelah aktivitas sehari-hari secara pesat telah berkembang menjadi kompetitif dengan adanya game online. Dalam game online berbasis tim salah satu faktor untuk mencapai kemenangan dalam game adalah komunikasi karena dengan adanya komunikasi maka tim dapat menghasilkan sinergi dan rencana yang matang untuk memenangkan game. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk komunikasi verbal dan nonverbal di antara pemain dalam game online League of Legends dengan tujuan untuk mengetahui bentuk komunikasi verbal dan nonverbal di antara pemain dalam game online League of Legends. Teori utama dalam penelitian ini adalah teori komunikasi verbal dan nonverbal. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dan metode fenomenologi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa dalam game League of Legends terdapat saluran komunikasi verbal yaitu berupa in-game chat, voice chat, dan melalui Discord. Sedangkan komunikasi nonverbal berupa smart ping, dan emotes.
Representasi Perempuan dalam Film Dangal Karya Disney dan Aamir Khan Productions
Myesha Adira;
Wulan Purnama Sari
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v2i2.3925
Dangal merupakan film keluarga dengan genre drama bertemakan olahraga yang diproduksi oleh Walt Disney Pictures dan Aamir Khan Productions karya sutradara Nitesh Tiwari. Film yang diangkat dari kisah nyata ini, menceritakan tentang dua orang kakak beradik perempuan asal India bernama Geeta dan Babita, yang mengalami kehidupan tidak sewajarnya seperti perempuan kebanyakan. Geeta dan Babita sengaja dilatih oleh sang ayah menjadi atlet gulat untuk dapat mengibarkan bedera negaranya dalam ajang kejuaraan olimpiade, yang mana olahraga gulat sangat terkenal di India. Film ini berbeda dari film-film Disney terdahulu, karena dalam film Dangal ini menggambarkan perempuan mengambil peran yang sebelumnya didominasi oleh laki-laki dalam bidang gulat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana representasi perempuan di dalam film tersebut. Dalam menganalisis film ini, metode yang digunakan yaitu semiotika yang dipelopori oleh Roland Barthes, yang membagi ke dalam denotasi, konotasi dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran penggambaran perempuan sebagai karakter yang kuat dan berani, perempuan dengan sikap feminime mampu untuk bersaing dengan laki-laki.
Adaptasi Kultural Pendatang India terhadap Kebudayaan Baru di Jakarta
Devita Novelia;
Wulan Purnama Sari
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v5i1.10149
Culture plays an important role in oneself, when one moves and settles into a new environment, they must adapt to the new environment and culture. The interaction between Indian migrants and the residents of Jakarta creates anxiety and uncertainty for Indian migrants. This study describes the process of cultural adaptation as well as the efforts made by Indian migrants in managing the feeling of anxiety and uncertainty in cross – cultural communication, using Gudykunts' theory of anxiety / uncertainty management. The approach used is qualitative with phenomenological methods and data collection techniques by interviews and observations. The anxiety faced by migrants is due to differences in attitudes and behavior of Jakarta residents compared to Indians in general, while the uncertainty that arises is due to the inability of newcomers to predict the behavior and circumstances that will occur. Indian immigrants try to adjust themselves in order to create effective communication with the residents of Jakarta, because according to migrants adapting to the Jakarta environment is easier than adapting to the behavior and attitudes of the Jakarta residents themselves.Budaya memainkan peran penting dalam diri individu, sehingga ketika individu tinggal dan menetap di lingkungan baru, individu harus melakukan adaptasi terhadap lingkungan dan budaya barunya. Interaksi antara pendatang India dengan penduduk Jakarta menimbulkan kecemasan (anxiety) dan ketidakpastian (uncertainty) dalam diri pendatang. Penelitian ini mendeskripsikan proses adaptasi budaya serta upaya yang dilakukan pendatang India dalam pengelolaan kecemasan dan ketidakpastian dalam komunikasi antarbudaya, dengan menggunakan teori anxiety/uncertainty management dari Gudykunts. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode fenomenologi dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan obeservasi. Kecemasan yang dihadapi pendatang adalah karena adanya perbedaan sikap dan perilaku penduduk Jakarta dibandingkan orang India pada umumnya, sedangkan ketidakpastian yang muncul dikarenakan ketidakmampuan pendatang dalam memprediksi perilaku maupun keadaan yang akan terjadi. Pendatang India berupaya menyesuaikan diri guna menciptakan komunikasi yang efektif dengan penduduk Jakarta, karena menurut pendatang beradaptasi dengan lingkungan Jakarta lebih mudah dibandingkan beradaptasi dengan perilaku dan sikap penduduk Jakarta sendiri.
Gambaran Maskulinitas Melalui Film (Studi Pandangan Generasi Milenial Pada Tokoh Dilan di Film “Dilan 1990”)
Shafira Nusa Kusuma;
Wulan Purnama Sari
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v2i2.3935
Melalui perkembangan industri film di Indonesia, film lokal saat ini sudah mulai menjadi wadah penyampaian nilai, bahkan film dapat menjadi acuan gaya hidup pada masyarakat terhadap tokoh yang terdapat dalam film tersebut. Pada 25 Januari 2018 lalu, industri film Indonesia hadir dengan menayangkan film dari novel kisah nyata karya Pidi Baiq yang berjudul “Dilan 1990”. Film tersebut mendapatkan jumlah penonton di atas 5 juta penonton dari berbagai kalangan, terutama generasi millenial. Banyak faktor yang mendorong penonton untuk menonton film tersebut, salah satunya adalah gambaran maskulinitas dari sosok Dilan. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) untuk mengetahui gambaran maskulinitas tokoh Dilan pada Film “Dilan 1990‟ pada penonton generasi milenial, 2) untuk mengetahui sifat maskulinitas tokoh Dilan dari pandangan generasi milenial. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan survei sederhana deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa generasai milenial setuju bahwa tokoh Dilan adalah sosok yang maskulin, dengan dimensi Give em hell yang menunjukkan nilai tertinggi sebesar 414.
Self- Representation di Era Digital (Analisis Semiotika Acara TV Black Mirror Episode Nosedive)
Clarisa Tan;
Wulan Purnama Sari
Koneksi Vol 3, No 2 (2019): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v3i2.6402
The rise of technology and information makes it easier for humans to communicate, introducing new aspects about the relationship between individual freedom and technology. Digital technology and social media are very influential in everyday life, communication between family and friends is not limited by geographical challenges. Social media makes it easier to express and understand ourselves through online communities. This research aims to see how self-representation in the digital era is shown through Netflix TV show Black Mirror episode Nosedive by Charlie Brooker. The reasercher conducted a semiotic analysis on the first episode in Season 3, "Nosedive," regarding the self-representation shown and how the relationship was created through social media in all Lacie Pound's relationships. Obsessed with social rankings Lacie must carry out positive interactions and represent herself according to social standards. Rating values in Nosedive make relationships between people seemed fake because they are concerned with the judgments given to each other. All people in the world must follow the existing social standards or they can be exiled because they have low rating. Nosedive mimics the real life problem of obsession with social achievement through cognitive alienation, that tells their current excitement with digital and social connectivity. This study uses Charles Sanders Pierce's semiotics theory with a qualitative research method approach. Researchers collect data by observation and documentation, library research and online sources.Munculnya teknologi dan informasi memudahkan manusia untuk berkomunikasi, memperkenalkan aspek-aspek baru tentang hubungan antara kebebasan individu dan teknologi. Teknologi digital dan media sosial sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi antara keluarga dan teman tidak dibatasi oleh tantangan geografis. Media sosial memudahkan mengekspresikan dan memahami diri kita sendiri melalui komunitas online. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana self-representasi di era digital yang ditunjukan dalam acara TV Black Mirror episode Nosedive karya Charlie Brooker. Penulis melakukan analisis semiotika pada episode pertama di Musim 3, "Nosedive," mengenai self-representasi yang ditunjukan dan bagaimana hubungan yang diciptakan terhadap melalui media sosial dalam semua hubungan Lacie Pound. Terobsesi dengan peringkat sosial Lacie harus melakukan interaksi positif dan merepresentasikan dirinya sesuai dengan standar sosial. Peringkat nilai dalam Nosedive membuat hubungan antar masyarakat menjadi palsu karena mereka mementingkan penilaian yang diberikan satu sama lain. Semua masyarakat dalam dunia itu harus mengikuti standar sosial yang ada atau mereka dapat diasingkan karena memiliki penilaian yang rendah. Nosedive meniru masalah kontemporer obsesi prestasi sosial melalui pengasingan kognitif, yang menceritakan kegembiraan mereka saat ini dengan konektivitas digital dan sosial. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Charles Sanders Pierce dengan pendekatan penelitian metode kualitatif. Peneliti mengumpulkan data dengan observasi dan dokumentasi, studi pustaka dan sumber online.
Komunikasi Interpersonal Anak dan Orangtua Yang Berbeda Agama
Daniel Kurniawan Harijanto;
Wulan Purnama Sari
Koneksi Vol 4, No 1 (2020): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24912/kn.v4i1.6687
Family is one of the important inner-structure institutions along with community and religion. Family is classified as a formal-primary social group. Each social group has perspectives which are determined by culture. Religion is one of culture’s elements. Different religions have differences in the inherited messages and thing(s) to believe. Interpersonal communication in a family with different religions between individuals becomes important. This research aims to know the interpersonal communication between a son/daughter and his/her parents whose parents have different religions. The theories used are attraction theory, family’s form, social penetration, characteristics of relationship and communication patterns in a family. Researchers use intrinsic case study methods for this research. This research’s content shows that religious differences between father and mother is not always a barrier for communication between family members. Similarities in passion, sex and religion can cause attraction in communication between family members. Openness cannot warrant that penetration reaches deep and personal conversations, but openness can determine the discussion result’s form between discussing individuals.Keluarga menjadi salah satu institusi inner-structure yang penting bagi manusia bersama dengan komunitas dan agama. Keluarga termasuk ke dalam kelompok sosial formal-primer. Setiap kelompok sosial memiliki cara pandang yang ditentukan oleh budaya. Agama menjadi salah satu elemen budaya. Agama yang berbeda memiliki perbedaan dalam pesan yang bertahan dan apa yang harus dipercayai. Komunikasi interpersonal dalam keluarga dengan perbedaan agama antar individu menjadi penting. Penelitian ini bertujuan mengetahui komunikasi interpersonal antara anak dengan orangtuanya dimana terdapat perbedaan agama antara ayah dengan ibunya. Teori yang digunakan antara lain teori tentang atraksi, bentuk keluarga, penetrasi sosial, karakteristik-karakteristik hubungan dan pola komunikasi dalam keluarga. Peneliti menggunakan metode studi kasus intrinsik. Penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan agama antara ayah dan ibu tidak selalu menjadi penghambat dalam komunikasi antarpribadi antar anggota keluarga. Kesamaan minat, jenis kelamin dan agama dapat menimbulkan ketertarikan dalam komunikasi antar anggota keluarga. Keterbukaan tidak menjamin penetrasi mencapai percakapan yang dalam dan pribadi. Namun demikian, keterbukaan dapat menentukan bentuk hasil diskusi antar individu yang berdiskusi.