Claim Missing Document
Check
Articles

Feminisasi Maritim Di Kawasan Tempat Pelelangan Ikan Lappa Kabupaten Sinjai Tamrin, Sopian; Kamaruddin, Syamsu A; Adam3, Arlin
JURNAL PARADIGMA : Journal of Sociology Research and Education Vol. 6 No. 2 (2025): JURNAL PARADIGMA: Journal of Sociology Research and Education
Publisher : Labor Program Studi Pendidikan Sosiologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/wj30e118

Abstract

Pekerjaan sebagai nelayan masih didominasi oleh aktor laki laki Hal tersebut terlihat pada hampir semua Masyarakat maritim termasuk di desa Lappa Kabupaten Sinjai Perempuan tidak jarang hanya berdiam di rumah sebagai ibu rumah tangga Sehingga tidak jarang konstruksi peran melanggengkan proses domestifikasi bagi perempuan Penelitian ini berupaya menyingkap bagaimana dominasi laki laki dalam kerangka kerja kemaritiman melalui analisis teori hegemoni maskulinitas dari Raewyn Connel Penelitian ini merupakan jenis kualitatif dengan pendekatan deskriptif Data dikumpulkan melalui kegiatan observasi wawancara dan pendokumentasian situasi lapangan Hasil menunjukkan bahwa sektor kemaritiman telah didominasi oleh laki laki sebagai nelayan; baik mereka yang berperan sebagai punggawa maupun sebagai sawi Sama sekali tidak ada Perempuan yang terlibat dalam pekerjaan sebagai nelayan Namun dengan keberadaan Tempat Pelelangan Ikan TPI di Desa Lappa Sinjai telah mengkanalisasi ruang penghidupan social ekonomi terutama bagi perempuan Di Kawasan TPI Perempuan muncul sebagai pihak yang menopang ekosistem kawasan dengan mendirikan rumah makan Hanya saja mereka memilih kondisi yang bergaman ada yang berperan sebagai pemilik usaha rumah makan ada pemilik tempat dan ada juga yang hanya sebagai pekerja rumah makan atau berjualan Penelitian menyimpulkan bahwa memang terjadi maskulinitas hegemonic tapi sifatnya terbatas Hegemoni tidak mengusai keseluruhan kompleksitas kegiatan ekonomi maritim Artinya patriarki yang tumbuh ditengah masyarakat tidak mengekang seutuhnya namun tetap terbuka adanya negosiasi peran antara laki laki dan Perempuan pada kehidupan social yang lebih kompleks Pada akhirnya TPI Lappa mendorong feminisasi sektor kemaritiman yang menjadikan Perempuan sebagai aktor yang berkonstribusi dalam kegiatan social dan ekonomi nbsp;< p>
Strategi Bertahan Hidup Sopir Pete-Pete pada Era Transportasi Online di Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar Muhammad Fiqri H; Ashari Ismail; Sopian Tamrin
PREDESTINATION: Journal of Society and Culture Vol 6, No 1 (2026): Volume 6 No.1 Maret 2026
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/prd.v6i1.77679

Abstract

Penelitian ini membahas dinamika ketahanan hidup dan pilihan rasional sopir pete-pete ditengah maraknya transportasi online. Jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Informan dalam penelitian ini yaitu sopir pete-pete yang merasakan perubahan dari sebelum dan sesudah hadirnya transportasi online. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sopir pete-pete (aktor) dalam mempertahankan eksistensi di era transportasi online saat ini memanfaatkan sumber daya berupa strategi aktif, pasif, dan strategi jaringan sosial untuk bertahan hidup. Strategi aktif dilakukan dengan mengubah waktu operasional, menjaga loyalitas penumpang, diversifikasi pekerjaan, dan memaksimalkan penghasilan melalui anggota keluarga. Strategi pasif sopir pete-pete dilakukan dengan efisiensi pengeluaran. Sementara itu, strategi jaringan terwujud dalam solidaritas antar sopir, penerimaan jasa carter dari langganan tetap seperti ibu rumah tangga dan anak sekolah, serta praktik pinjam-meminjam uang di antara keluarga, kerabat terdekat, tetangga, sesama sopir dan kepada pemilik pete-pete, maupun meminjam uang di bank atau koperasi. Strategi-strategi tersebut dijalankan sebagai bentuk rasionalitas bertahan hidup, setiap aktor memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya, seperti pengalaman kerja lebih dari 10 tahun, dukungan keluarga, dukungan sosial dari langganan dan sesama sopir pete-pete, layanan dengan fleksibilitas rute dan waktu operasional, serta digitalisasi sistem tarif digital melalui pembayaran nontunai. Namun, terdapat beberapa faktor penghambat sopir pete-pete dalam bertahan hidup karena penurunan jumlah penumpang akibat meningkatnya preferensi terhadap transportasi online (seperti Gojek, Grab, Maxim, Maxride, Trans Mamminasata) yang dianggap lebih efisien, dan persaingan dengan sopir angkutan lain. Faktor penghambat lainnya juga meliputi kurangnya dukungan dari pemerintah dan keterbatasan sebagian sopir pete-pete menggunakan teknologi digital.
Pernikahan Dini Tidak Tercatat di Kelurahan Rangas, Kabupaten Majene Muh. Agym Supriadi; Mario Mario; Sopian Tamrin
PREDESTINATION: Journal of Society and Culture Vol 6, No 1 (2026): Volume 6 No.1 Maret 2026
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/prd.v6i1.84931

Abstract

Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor pendorong terjadinya pernikahan dini yang tidak tercatat serta menganalisis dampak sosialnya dalam kehidupan keluarga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Informan dipilih secara purposive yang terdiri dari pasangan yang melakukan pernikahan dini tidak tercatat, orang tua, serta masyarakat. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Uji keabsahan data menggunakan triangulasi, sedangkan teknik analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pernikahan dini yang tidak tercatat didorong oleh kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, pergaulan bebas remaja yang memicu kehamilan di luar nikah, serta peran keluarga dalam mengambil keputusan menikahkan anak. Selain itu, lembaga pendidikan belum mampu mempertahankan keberlanjutan pendidikan remaja sehingga banyak yang berhenti sekolah dan memilih menikah. Dampak yang ditimbulkan meliputi lemahnya ketahanan keluarga karena ketidaksiapan ekonomi dan mental pasangan, serta kesulitan memperoleh pekerjaan akibat rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan. Di sisi lain, KUA tidak dapat mencatat pernikahan karena pasangan belum memenuhi syarat usia sesuai ketentuan hukum, sehingga pernikahan tetap berlangsung secara sosial namun tidak tercatat secara administratif. Temuan penelitian ini dianalisis menggunakan teori struktural fungsional Talcott Parsons melalui skema AGIL, yang menunjukkan bahwa fenomena pernikahan dini tidak tercatat mencerminkan adanya ketidaksesuaian fungsi sosial, khususnya pada aspek adaptasi, integrasi, dan pencapaian tujuan, sehingga sistem sosial tidak berjalan secara optimal antara masyarakat dan lembaga formal seperti (KUA).
Perubahan Perilaku Konsumsi Ditengah Isu Boikot Pada Ibu-Ibu Rumah Tangga di Yayasan As-Sunnah Kota Makassar Putri Indah Ramadhan; Firdaus W Suhaeb; Sopian Tamrin
PREDESTINATION: Journal of Society and Culture Vol 6, No 1 (2026): Volume 6 No.1 Maret 2026
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/prd.v6i1.82213

Abstract

Isu Konflik Palestina-Israel bukanlah hal yang asing bagi telinga masyarakat sipil di seluruh dunia. Dengan gerakan boikot Israel yang menyebar ke secara internasional, termasuk Indonesia, bagian kecil dari struktur sosial yang terpengaruh adalah keluarga dan aktor utama di dalamnya, yaitu para Ibu rumah tangga, yang terpengaruh oleh boikot merek-merek tertentu dalam memilih produk di rumah. Dengan metode penelitian kualitatif, terlihat bahwa ibu rumah tangga tampaknya termotivasi secara emosional oleh kebutuhan untuk menunjukkan solidaritas, sambil tetap mempertahankan rasionalitas dalam pengambilan keputusan. Hal ini menghasilkan keputusan yang fleksibel, terutama dipengaruhi oleh seruan dari yayasan yang mereka ikuti dan informasi tentang penderitaan warga sipil Palestina.
Feminist entrepreneurship: A critique of the capitalist economic system Sopian Tamrin; Muhammad Syukur; Firdaus W Suhaeb
Jurnal Anifa: Studi Gender dan Anak Vol. 6 No. 1 (2025): June 2025
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/anifa.v6i1.10444

Abstract

This study presents a literature review on feminist entrepreneurship as a critique of the capitalist economic system, which often fails to uphold gender justice and ecological sustainability. The study draws on academic journals, books, and reports that examine the socio-economic and environmental consequences of capitalism particularly in relation to gender. The data were analyzed thematically using a feminist critical theory framework, with a focus on ecofeminism. The findings suggest that feminist entrepreneurship offers an alternative model that prioritizes not only economic outcomes but also values of solidarity, inclusivity, and sustainability. It seeks to challenge and transform discriminatory economic structures by empowering women, redistributing resources, and promoting community-based business models. Feminist entrepreneurship also elevates the importance of care work and ecological stewardship—elements often marginalized in capitalist systems. This paper argues that feminist entrepreneurship can serve as a strategic response to gender inequality and contribute to the development of a more inclusive and human-centered economy. Ultimately, it reflects the author's engagement in discursive resistance to capitalism and calls for the creation of a more equitable economic paradigm.
PEGUATAN KAPASITAS PEBELAJAR ENTERPRENERSHIP MELALUI PEMANFAATAN ARTIFICIAL INTELLEGENCE BAGI PELAJAR SMA NEGERI 10 GOWA Firdaus W. Suhaeb; Muh Rijal; Mario Mario; Sopian Tamrin; Saifuddin Saifuddin
BHAKTI NAGORI (Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat) Vol. 5 No. 2 (2025): BHAKTI NAGORI (Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat) Desember 2025
Publisher : LPPM UNIKS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36378/bhakti_nagori.v5i2.4857

Abstract

Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa transformasi signifikan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk sektor pendidikan. AI menjadi instrumen strategis yang mampu meningkatkan kualitas proses belajar mengajar melalui sistem pembelajaran adaptif, personalisasi materi, serta penyediaan akses informasi yang lebih cepat dan relevan. Kemajuan teknologi AI telah mengubah cara pendidikan disampaikan, dikelola, dan diakses oleh siswa dan pendidik. Dengan adanya AI, pendidikan menjadi lebih personal, adaptif, dan inovatif. Sehubungan dengan itu maka di pandang penting untuk siswa mengetahui pemanfaatan AI yang lebih maksimal guna mendukung proses pembelajaran. Adapun tujuan dari kegiatan ini yaitu 1) memperkenalkan kepada siswa macam-macam teknologi artificial intelligence dalam entrepreneurship,2)meningkatkan pengetahuan siswa dalam penggunaan artificial intelligence dalam meningkatkan kapasitas pembelajar yang mandiri, kritis, kreatif, inovatif dan partisipatif, 3) mengimplementasikan teknologi artificial intelligence dalam meningkatkan kapasitas pembelajar yang mandiri, kritis, kreatif, inovatif dan partisipatif. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pelatihan dan pendampingan. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini yaitu meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa dalam mengaplikasikan berbagai teknologi. Siswa tidak hanya memperoleh wawasan konseptual mengenai pentingnya sikap kreatif, inovatif, dan mandiri, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktis memanfaatkan artificial intelligence (AI) sebagai media penunjang ide dalam pembelajaran dan ide kewirausahaan
MAKNA HEALING DI KALANGAN MAHASISWA DI UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR Muhammad Ibnu Hannan; Sopian Tamrin; Muhammad Aksha Wahda
SABANA: Jurnal Sosiologi, Antropologi, dan Budaya Nusantara Vol. 5 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sabana.v5i1.7953

Abstract

This study aims to determine the forms of healing activities undertaken by students and analyze how they interpret healing as part of social dynamics. The study used a qualitative approach with a phenomenological method to understand students' subjective experiences. Informants were selected using purposive sampling from the Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Faculty of Language and Literature, Faculty of Engineering, Faculty of Sport and Health Sciences, Faculty of Education, Faculty of Social Sciences and Law, and Faculty of Psychology. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. Data validity was checked using triangulation techniques. Data analysis techniques were carried out through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results showed that healing activities include simple activities such as playing games, watching digital content, reading books, cleaning rooms, to outdoor activities such as walks to the beach, mountains, parks, or nature tours with friends. Healing is defined as an activity carried out in leisure time to strengthen social relations and build self-image on social media. Thus, healing among students is a phenomenon that functions as a representation of lifestyle and social identity in contemporary digital culture. Healing cannot be separated from the social context, digital culture, and academic structures surrounding students. From a leisure perspective, healing can be understood as not only an act of coping with stress, but also a social practice imbued with symbolic meaning.
The Dynamics Of Space Struggles Over The Lae-Lae Island Reclamation Project In Makassar City Sopian Tamrin; Riri Amandaria; Idham Irwansyah; Najamuddin Najamuddin
Jurnal Mamangan Vol 13, No 1 (2024): Jurnal Ilmu Sosial Mamangan Accredited 2 (SK Dirjen Ristek Dikti No. 0173/C3/DT
Publisher : LPPM Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/mamangan.v13i1.8077

Abstract

The planned reclamation of Lae-Lae Island undoubtedly poses a threat to the marine ecosystem and the livelihoods of the surrounding fishing communities. This research aims to depict the dynamics of spatial contestation arising from this situation. To elucidate these dynamics, the researcher employs Henri Lefebvre's sociology of space and Edward Soja's geographical imagination. Utilizing a qualitative descriptive approach, data were gathered through observation, interviews, and documentation involving twenty-three informants. Findings reveal the dynamics of spatial contestation on Lae-Lae Island, including the emergence of spatial awareness as a socio-economic arena and the mobilization of resources from both the island community and external parties. Internal mobilization, led by community leaders, actively fosters solidarity among residents in rejecting the reclamation, while external resource mobilization involves actors from environmental organizations, media, and academia. The research concludes that community resistance stems from the direct implications of reclamation on residents' living space and livelihoods, particularly those of fishermen. The integration of Henri Lefebvre's sociological analysis and Edward Soja's geographical imagination provides a fresh perspective on social movement phenomena and spatial contestation.
QURBANI AS SOCIAL REDISTRIBUTION: Class Boundary Negotiation and Solidarity in South Sulawesi Najamuddin Najamuddin; Sopian Tamrin
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 50, No 2 (2026)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v50i2.1784

Abstract

Traditional scholarship often focuses on dogmatic theology or nutritional outcomes of sacrifice, leaving a gap in understanding religious rituals as active social mechanisms for class negotiation. As such, this study is an attempt to examine Qurbani (sacrifice) as a non-state redistributive practice in South Sulawesi. Integrating Islamic Studies with sociological analysis, This research explores how this ritual facilitates situational solidarity within contemporary stratified societies by integrating Islamic Studies with sociological analysis. A multi-site qualitative case study was employed; data were collected through participant observation of slaughtering and meat distribution, in-depth interviews with donors, committee members, and recipients, and community document analysis across urban, semi-urban, and rural areas. The findings demonstrate that sacrifice functions as a ‘redistributive ritual’ embedded in Maqâshid al-Syarî‘ah principles, where the transfer of material resources temporarily softens symbolic class boundaries and promotes social justice. The novelty of this study lies in its articulation of ‘negotiated solidarity’—a situational corrective for social fragmentation. However, increasing digitalization reveals an ambivalence, where technocratic efficiency risks depersonalizing the relational encounters vital for social cohesion. This article contributes a new theoretical framework by positioning ritualized redistribution as a key mechanism for managing inequality in contemporary Muslim societies.