Claim Missing Document
Check
Articles

Sign and Its Significance in John's Gospel Warseto Freddy Sihombing; Iwan Setiawan Tarigan
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 6, No 1 (2022): January 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.168 KB) | DOI: 10.46445/ejti.v6i1.401

Abstract

John uses the term 'sign' in his Gospel to describe particular miracles that Jesus performs in His ministry as evidence of His divinity and sign posts to receive eternal life from God. By using an historically and theologically oriented hermeneutical method as a part of qualitative research, this article provides an interpretation of the seven signs in Gospel of John as authentic evidence of the main work of Jesus during His ministry on earth: namely, the revelation of Jesus divinity and consequent demands on people's lives, like responding to his claim as Savior. John deliberately chose the seven signs or miracles that Jesus performed. The significance of those signs reveals the glory of God within Jesus to a sinful world, so that those who see and know them will believe in Jesus Christ and receive the eternal life.
Pendidikan Agama Kristen di Masa Lalu-Masa Kini dan pada Persfektif Masa Depan Tiur Imeldawati; Binur Panjaitan; Warseto Freddy Sihombing
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.777 KB) | DOI: 10.31004/jptam.v6i2.4601

Abstract

Pendidikan Agama Kristen tidak lekang oleh waktu. Memang telah terukir sejarah yang Panjang akan hal ini. Dalam dalam kajian ini penulis memaparkan perihal Pendidikan Agama Kristen di masa lalu, masa kini dan dalam persfektif masa depan, dimana tantangan terhadap pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen semakin kompleks. Bukan hanya dalam lingkup PAK di gereja, melainkan juga dalam PAK di sekolah dan PAK dalam keluarga. Dalam kenyataannya, teori yang ideal memang tidak serta merta bisa dipraktekkan dengan baik. Demikian juga dengan teori tentang Pendidikan Agama Kristen, dimana selalu saja ada kendala, hambatan, tantangan dan fakta yang tidak sesuai dengan harapan. Hal-hal apalah yang bisa ditempuh untuk menghasilkan sebuah layanan yang bisa menjawab kebutuhan? Itulah yang coba dipaparkan oleh penulis dalam riset ini, untuk bisa menjawab masalah-masalah yang melatar belakangi riset ini. Melalui penelitian kualitatif yang dilakukan, didapatkan hasil yang akhirnya bisa dipakai menjdi acuan dan menjadi bahan study lanjutan perihal bagaimana mengelola pelaksaanaan pendidikan agama Kristen dan mempersiapkan diri untuk tidak tertinggal atau digilas peradaban yang semakin canggih ini
Penggunaan Kata κοινωνία Dalam 1 Korintus 1:9 Dan Interpretasinya Dalam Mengatasi Perpecahan Di Jemaat Warseto Freddy Sihombing; Seri Antonius
KAMASEAN: Jurnal Teologi Kristen Vol. 3 No. 1 (2022): Kamasean: Jurnal Teologi Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/kamasean.v3i1.104

Abstract

The purpose of this research is to explore the meaning of the word (koinonia: fellowship) which is found in 1 Corinthians 1:9. In Paul's letter, it is explained about the call as believers to share in fellowship with Jesus Christ. God calls believers to fellowship with Jesus Christ, the Son of God, which is God's ultimate goal. This fellowship of believers parallels the fellowship of the Father, Jesus Christ, and the Holy Spirit. This fellowship is a supernatural (spiritual) interaction between the person of God and His church on earth which is the theological implication of the concept of the Triune God. Using the hermeneutic method, the writer finds that Paul's explanation regarding (koinonia: fellowship) is the main basis for providing solutions to the problem of division that occurred in the Corinthian church. This is also an example for the congregation today in finding the best solution for the problem of division that occurs. Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali makna kata κοινωνία (koinonia: persekutuan) yang terdapat dalam 1 Korintus 1:9. Dalam surat Paulus ini dijelaskan mengenai panggilan sebagai orang percaya untuk turut mengalami persekutuan dengan Yesus Kristus. Allah memanggil orang percaya kepada persekutuan dengan Yesus Kristus, Anak Allah, yang merupakan tujuan utama Allah. Persekutuan orang percaya ini pararel dengan persekutuan antara Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Persekutuan ini adalah sebuah interaksi supranatural (rohani) antara pribadi Allah dan gereja-Nya di bumi yang merupakan implikasi teologis dari κοινωνία terhadap konsep Allah Trituggal. Dengan metode hermeneutik penulis menemukan bahwa penjelasan Paulus berkaitan dengan κοινωνία (koinonia: persekutuan) ini menjadi dasar utama untuk memberikan solusi dalam masalah perpecahan yang terjadi di jemaat Korintus. Hal ini juga menjadi contoh bagi jemaat saat ini dalam menemukan solusi terbaik untuk persoalan perpecahan yang terjadi.
KONSEP KESELAMATAN UNIVERSALISME Warseto Freddy Sihombing
JURNAL PIONIR Vol 6, No 2 (2020): Juli
Publisher : Universitas Asahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36294/pionir.v7i3.1397

Abstract

AbstrakSeseorang meyakini paham universalisme tidak dibuktikan dari pengakuannya apakah dia percaya Yesus Kristus atau tidak melainkan dari penolakannya akan keberadaan neraka. Kasih Allah yang nyata dalam Yesus Kristus bagi manusia berdosa yang mau percaya kepada-Nya akan berdampak kepada hidup kekal bersama Yesus di sorga, sedangkan bagi mereka yang menolak untuk percaya akan beroleh penghukuman kekal di neraka. Baik sorga, maupun neraka merupakan konsekuensi dari dua sifat Allah: kasih dan adil. Jadi, ide tentang neraka atau penghukuman kekal adalah alkitabiah. Pemahaman kaum universalisme tentang tidak adanya penghukuman Allah bagi manusia berdosa di neraka lebih disukai oleh sebagian orang yang tidak menyukai kebenaran dan lebih suka hidup dalam dosa. Mengenal dasar pemikiran, tokoh dan konsep keselamatan universalisme akan memberikan pengertian dasar mengapa kaum universalisme meyakini konsep keselamatan universal yang non-alkitabiah. Kata Kunci: Yesus Kristus, keselamatan, universalisme, neraka dan sorga 
Siapa dan Apa Misi Yesus: Suatu Interpretasi Teologi Misi dari Percakapan Yesus dan Nikodemus (Yohanes 3:1-21) Warseto Freddy Sihombing
Tepian : Jurnal Misiologi dan Komunikasi Kristen Vol. 2 No. 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Tepian : Jurnal Misiologi dan Komunikasi Kristen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.064 KB) | DOI: 10.51667/tjmkk.v2i1.834

Abstract

Abstract: Jesus’ conversation with Nicodemus contains about the person of Jesus and what Jesus’ mission was to come to the world. The character of Nicodemus and the setting of the conversation placed at the beginning of the Gospel of John make this section as important as it is important to know and know who and what the mission of Jesus came to the world. The ultimate goal of writing the Gospel of John is a challenge so that people who read have faith in Jesus and have a desire to know Jesus more, believe that Jesus is the perfect revelation of God who gives eternal life to everyone who believes in Him. Keywords:Nicodemus, who is Jesus, what is Jesus’ mission. Abstrak Percakapan Yesus dengan Nikodemus memuat perihal pribadi Yesus dan apa misi Yesus datang ke dunia. Tokoh Nikodemus dan seting percakapan yang ditempatkan di awal Injil Yohanes menjadikan bagian ini penting sebagaimana pentingnya mengenal dan mengetahui siapa dan apa misi Yesus datang ke dunia. Sasaran akhir dari penulisan Injil Yohanes adalah sebuah tantangan agar orang yang membaca memiliki iman kepada Yesus dan memiliki kerinduan untuk mengenal Yesus lebih lagi, percaya bahwa Yesus adalah penyataan Allah yang sempurna yang memberikan hidup kekal kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Kata-kata kunci : Nikodemus, siapa Yesus, apa misi Yesus
Craft Making Learning Design for Sunday School Teachers in the Silindung Area Jungjungan Simorangkir; Emmi Silvia Herlina; Warseto Freddy Sihombing; Frainskoy Rio Naibaho
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 14, No 4 (2022): AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v14i4.1812

Abstract

This research aims to create a learning design for craft making. This research was conducted in the Silindung area, North Tapanuli Regency. This research is development research. The research subjects were GKPI Sunday school teachers throughout the Silindung area. The instrument used is a questionnaire with a Likert scale with four alternative answers. The instrument's validity was carried out by expert judgment with the Cronbach alpha method. Data analysis was carried out using quantitative descriptive techniques. This development research produces products in the form of learning media for making craft beads and guidelines for their use. The development of learning media refers to the ADDIE development model, which consists of (1) analysis, (2) planning, (3) development, (4) implementation, and (5) evaluation. The results showed that the usefulness value was 3.71 on a scale of 4. In short, it can be concluded that the usefulness aspect was categorized as very feasible. Meanwhile, the results of the effectiveness assessment by media experts were 3.44 on a scale of 4. So that the effectiveness aspect was categorized as very feasible.
Adam dan Kristus: Studi Komparasi Antara Penghukuman Dan Pembenaran Allah Berdasarkan Roma 5:18-19 Warseto Freddy Sihombing; Seri Antonius
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.268

Abstract

AbstractSalvation in Jesus Christ is only obtained by sinners through faith. Without faith in Jesus Christ, no one will be saved. God only justifies those who believe in Jesus Christ, so they will not receive God's wrath. By inductive method, this article explores the truth of apostle Paul's statement in Romans 5:18-19; that disobedience of first Adam made all men being sinful and cursed. On the other hand, the Jesus Christ’s obedience as the second / last Adam has made sinful men being right before God and have hope for eternal life. Paul gives a comparison between Adam and Christ — between the first Adam and the last Adam. The first Adam has caused men (his descendants) commite to sin, but the second/last Adam has finally provided a way out of God’s punishment and wrath. This is a great grace of God.Keywords: first adam; second adam; obedience; disobedience; justification; comparisonAbstrakKeselamatan di dalam Yesus Kristus hanya diperoleh orang berdosa melalui iman. Tanpa iman kepada Yesus Kristus, seorang pun tidak akan beroleh keselamatan. Allah hanya membenarkan mereka yang beriman kepada Yesus Kristus, dengan demikian mereka tidak akan mengalami murka Allah. Dengan metode induktif, artikel ini menggali kebenaran dari pernyataan rasul Paulus dalam Roma 5:18-19; bahwa ketidataaktaatan Adam pertama telah menjadikan semua manusia berdosa dan terkutuk. Di pihak lain, ketaatan Yesus Kristus sebagai Adam kedua/terakhir telah menjadikan manusia yang telah berdosa tersebut benar di hadapan Allah dan memiliki pengharapan untuk memperoleh hidup kekal. Paulus memberikan sebuah komparasi antara Adam dan Kristus—antara Adam pertama dan Adam terakhir. Adam pertama telah mengakibatkan manusia (keturunannya) berdosa, tetapi Adam kedua/terkahir telah  memberikan jalan keluar dari penghukuman dan murka Allah. Ini merupakan kasih karunia Allah yang besar.Kata-kata kunci: adam pertama, adam kedua, ketaatan, ketidaktaatan, pembenaran,                   komparasi
Membangun Teologi Pendidikan Agama Kristen di Gereja Lokal Warseto Freddy Sihombing; Seri Antonius
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 1: Agustus 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i1.70

Abstract

Christian Religious Education (PAK) is a central part of Christianity and can be applied not only in schools, but also in local churches. This certainly requires serious handling as part of an ecclesiastical ministry. The church in carrying out its function as a place of fellowship for believers with God is bound by the teaching of God's word contained in the Bible. Education is the goal of the great commission ordered by Jesus. The delivery of God's word from the servant of God or the pastor of the local church can be conveyed to the congregation by applying the PAK pedagogical principles. In long church’s history, we have honestly recorded the strengths and weaknesses of the church while in this world. The theological basis of PAK in the local church is a biblical reason related to the importance of PAK teaching which consists of PAK tasks, processes and objectives. AbstrakPendidikan Agama Kristen (PAK) adalah bagian yang sentral dalam kekristenan dan dapat diterapkan bukan hanya di sekolah, melainkan juga di gereja lokal. Hal ini tentu membutuhkan penanganan yang serius sebagai bagian dari pelayanan gerejawi. Gereja dalam menjalankan fungsinya sebagai tempat persekutuan orang percaya dengan Tuhan terikat dengan pengajaran firman Tuhan yang terdapat dalam Alkitab. Pendidikan adalah tujuan dari amanat agung yang dipesankan oleh Yesus. Penyampaian firman Tuhan dari hamba Tuhan atau pendeta jemaat lokal dapat disampaikan kepada jemaat dengan menerapkan prinsip pedagogis PAK. Dalam perjalanan sejarah gereja yang panjang, secara jujur telah mencatat kelebihan dan kelemahan gereja selama ada di dunia ini. Dasar teologis PAK dalam gereja lokal adalah alasan alkitabiah berkaitan dengan pentingnya pengajaran PAK yang terdiri dari tugas, proses dan tujuan PAK.
Hukum Kasih Sebagai Fondasi Hidup Kristen Sejati Iwan Setiawan Tarigan; Maria Widiastuti; Warseto Freddy Sihombing
Jurnal Teologi Cultivation Vol 6, No 1 (2022): JULI
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jtc.v6i1.1597

Abstract

Hukum kasish dalam Matius 22:37-40 adalah satu topik yang penting dalam pembicaraan dan juga pelayanan Yesus. Yesus menyimpulkan bahwa di dalam hukum ini tergantung seluruh hukum Taurat dan Kitab para nabi. Artimya bahwa jika seseorang ingin mengerti dengan sederhana apa isi firman Tuhan, maka simpulan kesemuanya ada dalam hukum ini. Yesus di dalam hidupnya mencoba memaparkan ulang bahwa hukum yang terutama dan yang utama adalah mengasihi Tuhan dan sesama. Hal ini diaplikasikan di dalam hidup-Nya sendiri selama Ia di bumi ini. Kasih kepada Allah diwujudnyatakan melalui penggenapan rencana Allah di dalam hidup-Nya, dan juga memberitakan Injil kerajaan Sorga. Ini merupakan hal yang utama dilakukan Yesus. Namun dalam pelayanan-Nya juga, kasih kepada sesama bgitu nyata, dimana hal ini diaplikasikan melalui mengajar orang banyak dengan berbagai pengajaran yang menolong seseorang hidup berkenan kepada Allah. Ia juga memenuhi kebutuhan orang banyak melalui penyembuhan berbagai penyakit dan memberi makan orang banyak. Tidak hanya itu, semua pelayanan yang Ia lakukan terhadap orang banyak, kesemuanya didasari oleh belas kasihan yang ada pada-Nya. Hidup dan pelayanan yang dilakukan oleh Yesus menjadi teladan dan standar hidup Kristen sejati.
Adam dan Kristus: Studi Komparasi Antara Penghukuman Dan Pembenaran Allah Berdasarkan Roma 5:18-19 Warseto Freddy Sihombing; Seri Antonius
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 5, No 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v5i1.268

Abstract

AbstractSalvation in Jesus Christ is only obtained by sinners through faith. Without faith in Jesus Christ, no one will be saved. God only justifies those who believe in Jesus Christ, so they will not receive God's wrath. By inductive method, this article explores the truth of apostle Paul's statement in Romans 5:18-19; that disobedience of first Adam made all men being sinful and cursed. On the other hand, the Jesus Christ’s obedience as the second / last Adam has made sinful men being right before God and have hope for eternal life. Paul gives a comparison between Adam and Christ — between the first Adam and the last Adam. The first Adam has caused men (his descendants) commite to sin, but the second/last Adam has finally provided a way out of God’s punishment and wrath. This is a great grace of God.Keywords: first adam; second adam; obedience; disobedience; justification; comparisonAbstrakKeselamatan di dalam Yesus Kristus hanya diperoleh orang berdosa melalui iman. Tanpa iman kepada Yesus Kristus, seorang pun tidak akan beroleh keselamatan. Allah hanya membenarkan mereka yang beriman kepada Yesus Kristus, dengan demikian mereka tidak akan mengalami murka Allah. Dengan metode induktif, artikel ini menggali kebenaran dari pernyataan rasul Paulus dalam Roma 5:18-19; bahwa ketidataaktaatan Adam pertama telah menjadikan semua manusia berdosa dan terkutuk. Di pihak lain, ketaatan Yesus Kristus sebagai Adam kedua/terakhir telah menjadikan manusia yang telah berdosa tersebut benar di hadapan Allah dan memiliki pengharapan untuk memperoleh hidup kekal. Paulus memberikan sebuah komparasi antara Adam dan Kristus—antara Adam pertama dan Adam terakhir. Adam pertama telah mengakibatkan manusia (keturunannya) berdosa, tetapi Adam kedua/terkahir telah  memberikan jalan keluar dari penghukuman dan murka Allah. Ini merupakan kasih karunia Allah yang besar.Kata-kata kunci: adam pertama, adam kedua, ketaatan, ketidaktaatan, pembenaran,                   komparasi
Co-Authors Adi Sinamo Alon Mandimpu Nainggolan Andrianus Nababan Antonius, Seri Arip Surpi Sitompul Aritonang, Hanna Dewi Arnol Martumpu Manurung Bernard Lubis Bernhardt Siburian Bestian Simangunsong Betty Putri Irene Hulu Binur Panjaitan Br Sinaga, Rut Yesika Christmas Jonathan Simanugkalit Delila Bancin Delima Padang Delima Padang Despriana Rismawati Tumangger Dicky Cibro Donny Paskah Martianus Siburian Elisamark Sitopu Emmi Silvia Herlina Erman Saragih Erman Sepniagus Saragih Erwati, Sarah Ester Novita Lumban Gaol Firman Gani Manik Flesia Nanda Uli Boangmanalu Frainskoy Rio Naibaho Ginting, Tasya Salonika Grecetinovitria Butar-Butar Gultom, Rogate Artaida Tiarasi Hanna Dewi Aritonang Haposan Silalahi Helen Angelita Purba Herdiana Boru Hombing Herdiana Sihombing Hombing, Herdiana Boru Hondo, Wantri Hutabarat, Eduard H. Ibelala Gea Icca Berutu Imeldawati, Tiur Indra Putra Adi Sinamo Irfan Manik Jungjungan Simorangkir Junjungan Simorangkir Junjungan Simorangkir Listrawati Bancin Bancin Liyus Waruwu Lubis, Bernard Lumban Gaol, Ester Novita Lustani Samosir Manullang, Megawati Maria Kristina Simarmata Maria Widiastuti Maria Widiastuti, Maria Marlinawati Situmorang Marlinawati Situmorang Martua Sihaloho Megawati Manullang Merlin Asima Hutagaol Napitupulu, Tianggur Medi Nenobais, Mesakh Nicolas Sinaga Nurelni Limbong Nurelni Limbong Nurjannah Sintya Sihotang Nursalina Sihombing P., Julita Herawati Parsaoran Tambunan Pelealu Samuel G Pinayungan, Presman Anju Raykapoor, Raykapoor Rencan Carisma Marbun Renti Ardina Gajah Rida Gultom Robert JT. Sitio Saragih, Erman Sepniagus Saragih, Ratna Sarnita - Seri Antonius Sidabutar, Benny Anton Sigiro, Adi Suhenra Sihombing, Salomo Simamora, May Rauli Simangunsong, Bestian Simorangkir, Junjungan Sinambela, Maringan Sirait, Cindy Monika Sitanggang, Rawatri Sitompul, Arip Surpi SITOMPUL, SABAR RUDI Sri Agustina Manalu Tamba, Tiffany TARIGAN, IWAN SETIAWAN Tarigan, Yan Pratama Tesdiami Berutu Tifany Tamba Tiffany Tamba Tiur Imeldawati Tiur Imeldawati Tobing, Lucia J. L. Tumba, Patresia R. Veronika Uliarta Sinaga Waruwu, Liyus Yefta Nainggolan