Claim Missing Document
Check
Articles

UPAYA MENGEMBANGKAN MENTAL SANTRI MELALUI KEGIATAN MUHADLOROH DI PONDOK PESANTREN RAUDLATUL ULUM 1 Moch Umar Faroq Al Farizi1; Muhammad Husni
JURNAL ILMIAH RESEARCH STUDENT Vol. 3 No. 1 (2026): Maret
Publisher : KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jirs.v3i1.8672

Abstract

. This study aims to develop students' mental capacity through muhadhoroh activities at Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1. Muhadhoroh is a public speaking practice that includes speeches, lectures, sermons, and master of ceremony roles. The method used is participatory mentoring with stages of initial observation, activity planning, routine muhadhoroh implementation, and evaluation and reflection. The results show that structured and routine muhadhoroh activities can increase self-confidence, courage to speak in public, and students' communication skills. This activity also shapes students' mentality to be more prepared to become missionary cadres and community leaders. The outcomes of this activity are increased student self-confidence, the formation of more structured muhadhoroh activities, and a community service report.
RELEVANSI METODE MENGHAFAL NADZAMAN BAGI SANTRI UNTUK MEMAHAMI DAN MENGINGAT PELAJARAN Moch Umar Faroq Al Farizi; Muhammad Husni
JURNAL ILMIAH RESEARCH STUDENT Vol. 3 No. 1 (2026): Maret
Publisher : KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jirs.v3i1.8673

Abstract

This study aims to analyze the relevance of the nadzaman memorization method as a learning strategy in Islamic boarding schools (pesantren) in enhancing students’ ability to understand and remember lesson materials. Nadzaman is a traditional method in the form of Arabic poetry or verses containing summaries of religious knowledge in easily memorizable stanzas. This research employs a qualitative approach with literature study and field observation methods in several pesantren. The findings indicate that the nadzaman method has high relevance in the context of pesantren learning due to several factors: (1) it facilitates the memorization process through rhyme and rhythm patterns, (2) enhances long-term memory retention, (3) integrates Arabic language learning with religious materials, and (4) preserves the classical Islamic scholarly tradition. This study concludes that the nadzaman method remains relevant as one of the learning methods in modern pesantren, although it needs to be integrated with contemporary learning methods for more optimal results.
Analisis Dampak Positif dan Negatif Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap Proses Pembelajaran di Madrasah Junaidi; Muhammad Husni
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterapkan pemerintah Indonesia sejak 2025 bertujuan meningkatkan gizi siswa dan mendukung proses pembelajaran, namun dampaknya terhadap madrasah masih perlu dianalisis secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak positif dan negatif MBG terhadap proses pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah Hidayatul Mubtadiin, Kabupaten Kubu Raya. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain eksplanatori sekuensial, melibatkan 93 siswa kelas IV-VI, 5 guru PAI, dan orang tua melalui kuesioner, observasi kelas selama 3 bulan, serta wawancara mendalam. Data kuantitatif dianalisis menggunakan uji t-test dan regresi linier berganda, sementara data kualitatif melalui analisis tematik. Hasil menunjukkan dampak positif berupa peningkatan konsentrasi belajar (rata-rata 25%) dan partisipasi siswa dalam pembelajaran PAI, didukung asupan gizi yang lebih baik. Namun, dampak negatif mencakup gangguan jadwal belajar akibat waktu makan (15% penurunan efektivitas jam pelajaran) dan masalah higienitas distribusi makanan di fasilitas madrasah terbatas. Kesimpulan menyatakan MBG berpotensi optimal jika disesuaikan dengan konteks madrasah melalui penataan waktu dan infrastruktur pendukung.
Power Relations and Structural Inequality in Late-Life Divorce: A Socio-Legal Analysis of the Palembang Islamic Court Decisions in 2022 Ellis Lindini Putri; Ari Azhari; Rahmat Abdullah; Muhammad Husni
Indonesian Journal of Sharia and Socio-Legal Studies Vol. 1 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Sharia and Socio-Legal Studies
Publisher : Elkuator Research and Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/ijssls.1.1.16

Abstract

The increasing incidence of divorce among older couples signifies a notable shift in both the social structure and the legal framework of family law in Indonesia. While long-term marriages are typically associated with emotional stability and strong commitment, data from the Palembang Islamic Court indicate that individuals aged 56 and older remain susceptible to marital dissolution. This article aims to analyze the typology of causes behind late-life divorce and examine the legal reasoning employed by Muslim judges in adjudicating such cases. Adopting a socio-legal approach, the study integrates empirical data with a jurisprudential analysis of 56 divorce decisions issued by the Palembang Islamic Court in 2022. The findings reveal that late-life divorce does not occur abruptly; rather, it is the culmination of long-standing, structurally embedded conflicts, including domestic violence, economic subordination, and inequality in emotional and sexual relations. Furthermore, the study demonstrates that the judicial reasoning of Muslim judges is not entirely neutral; it reflects the internalization of prevailing social norms and institutionalized power relations within the adjudicative process. Accordingly, this article argues that late-life divorce should not be perceived merely as a personal failure but as a manifestation of gender-based structural inequality operating across two primary domains: the domestic and the institutional. Thus, the study calls for a reformulation of Islamic legal approaches and the development of a more gender-responsive religious court system capable of addressing structural disparities in the context of elderly divorce. [Fenomena meningkatnya angka perceraian pada pasangan usia lanjut menandai pergeseran penting dalam struktur sosial dan konfigurasi hukum keluarga di Indonesia. Meskipun pernikahan jangka panjang sering diasosiasikan dengan stabilitas emosional dan komitmen yang kuat, data dari Pengadilan Agama Palembang menunjukkan bahwa pasangan berusia 56 tahun ke atas tetap berada dalam kondisi rentan terhadap perceraian. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis tipologi penyebab perceraian usia lanjut dan mengkaji konstruksi argumentasi hukum yang digunakan oleh hakim muslim dalam memutus perkara, melalui pendekatan sosio-legal yang mengintegrasikan studi lapangan dengan analisis yurisprudensi terhadap 56 putusan Pengadilan Agama Palembang tahun 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceraian pada usia lanjut tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi konflik jangka panjang yang bersifat struktural, termasuk kekerasan domestik, subordinasi ekonomi, serta ketimpangan dalam relasi seksual dan emosional. Temuan ini juga memperlihatkan bahwa argumentasi hukum hakim muslim dalam memutus perkara tidak sepenuhnya bersifat netral, tetapi turut mencerminkan internalisasi norma sosial dan struktur relasi kuasa yang terlembaga dalam sistem peradilan. Dengan demikian, artikel ini menegaskan bahwa perceraian usia lanjut bukan sekadar kegagalan relasi personal, melainkan perlu dipahami sebagai manifestasi dari ketidaksetaraan gender yang beroperasi dalam dua arena utama: domestik dan institusional. Oleh karena itu, diperlukan reformulasi pendekatan hukum Islam dan penguatan sistem peradilan agama yang lebih responsif terhadap dimensi ketimpangan struktural berbasis gender dalam konteks perceraian lansia.]