Claim Missing Document
Check
Articles

Uji Stabilitas dan Efektivitas Formulasi Serum Gel Ekstrak Bunga Melati (Jasmine sambac (L)) Sebagai Anti Jerawat: Stability and Effectiveness Test of Serum Gel Formulation of Jasmine Flower Extract (Jasmine sambac (L)) as an Anti Acne Malahayati, Siti; Kurniawati, Darini; Novianty, Nadya; Noval, Noval
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 10 No. 2 (2024): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v10i2.7822

Abstract

Acne vulgaris atau yang biasa disebut jerawat merupakan masalah kulit berupa infeksi dan peradangan pada unit pilosebasea. Salah satu alternatif terapi yang sudah terbukti efektif untuk mengatasi jerawat berdasarkan uji pra klinik adalah bunga melati putih. Ekstrak bunga melati putih (Jasminum sambac l.) mampu menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acne. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hasil stabilitas dan efektivitas formulasi sediaan serum gel ekstrak bunga melati sebagai anti jerawat. Metode yang digunakan dengan cara membuat konsentrasi ekstrak bunga melati yang berbeda-beda yaitu 12%, 13,5% dan 15% kemudian ketiga formula ini akan dilakukan uji efektivitas formula menggunakan nutrient agar dengan bakteri jerawat yaitu Propionibacterium acne, kemudian dilakukan uji stabilitas menggunakan metode stabilitas dipercepat dimana uji stabilitas dilakukan sebelum dan sesudah penyimpanan dengan suhu 40±20C dan RH 75% ± 5% menggunakan Climatic Chamber selama selama 30 hari dimana tiap sebelum dan sesudah penyimpanan dilakukan evaluasi yang meliputi uji pH, uji organoleptis, uji homogenitas, uji daya lekat, uji daya sebar, uji viskositas. Hasil yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan metode Paired T-Test Hasil penelitian dari uji aktivitas antijerawat diperoleh hasil ekstrak bunga melati termasuk kategori antibakteri yang kuat. Hasil evaluasi pada semua formulasi memenuhi persyaratan uji pH, daya lekat, dan viskositas. Pada uji daya sebar formula 2 dan 3 memenuhi persyaratan, tetapi pada formula 1 tidak memenuhi persyaratan. Berdasarkan hasil penelitian formula 3 merupakan formula yang paling optimal dengan konsentrasi 15%.
Formulasi dan Stabilitas Sediaan Sabun Cair Ekstrak Kulit Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) Sebagai Antiseptik: Formulation and Stability Test of Liquid Soap Preparation of Lime Peel Extract (Citrus Aurantifolia) as an Antiseptic Sari, Putri Indah; Malahayati, Siti; Kurniawati, Darini
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 10 No. 3 (2024): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v10i3.9007

Abstract

Antiseptik merupakan bahan atau zat yang mampu melindungi tubuh dari bakteri atau kuman yang menempel pada kulit. Oleh karena itu, diperlukan sediaan pembersih kulit serta dapat melindungi kulit dari paparan bakteri atau kuman yaitu sediaan sabun cair ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia). Ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia) memiliki kandungan senyawa flavonoid yang tinggi yang berfungsi sebagai antiseptik. Kelebihan dari sabun cair yaitu lebih higienis dan mudah dibawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi yang ideal dan stabilitas yang baik dari sediaan sabun ekstrak kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia). Penelitian ini menggunakan metode Quasy Experimental Design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji organoleptis menghasilkan sabun cair warna jingga, aroma khas jeruk dan tekstur cair. Uji homogenitas semua formula dinyatakan homogen. Uji pH pada semua formula memenuhi persyaratan 4,5-5,5. Uji viskositas pada semua formula memenuhi persyaratan 400-4000 cPs. Uji tinggi busa semua formula memenuhi persyaratan 7-22 cm. Uji bobot jenis semua formula memeuhi persyaratan 1,01-1,10 g/ml. Uji asam lemak bebas semua formula memenuhi persyaratan mekasimal 0,14%. Simpulan dari ketiga formulasi tersebut yaitu formula yang ideal dan stabil terdapat pada formula I berdasarkan hasil data statistik dan evaluasi fisikokimia.
Aktivitas Antibakteri Ekstrak dan Fraksi N-Hexan Daun Benalu (Dendrophthoe Pentandra (L.) Miq.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Bacillus Subtilis dan Enterobacter Aerogenes : Antibacterial Activity of Ektract and N-Hexan of Benalu Leaves (Dendrophthoe Pentandra (L.) miq.) Against the Growth of Bacteria Bacilius Subtilis and Enterobacter Aerogenes Hepriana, Yemima; Nastiti, Kunti; Kurniawati, Darini; Hakim, Ali Rakhman
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 10 No. 3 (2024): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v10i3.9071

Abstract

Tanaman Benalu (Dendrophthoe pentandra (L.) Miq.) merupakan salah satu kelompok tanaman yang dapat tumbuh liar, melekat menjadi parasit pada tanaman lain. Tanaman ini juga dapat dimanfaatkan sebagai antioksidan, antiinflamasi dan antibakteri. Mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak dan fraksi n-Hexan daun Benalu (Dendrophthoe pentandra (L.) Miq.) terhadap pertumbuhan bakteri Bacillus subtilis dan Enterobacter aerogenes. Metode yang digunakan adalah True Experimental yang membagi ekstrak dan fraksi n-Hexan menjadi beberapa kelompok perlakuan yaitu konsentrasi ekstrak dan fraksi 25%, 50%, dan 100%, serta kontrol negatif dan kontrol positif. Pengujian potensi antibakteri menggunakan metode difusi cakram dengan mengukur diameter zona hambat yang terbentuk.Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap Bacillus subtilis dengan konsentrasi ekstrak 50; 100% diameter zona hambat sebesar 16,72; 22,28 mm. Sedangkan, dengan konsentrasi fraksi 50; 100% diameter zona hambat sebesar 9,90; 19,00 mm. Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap Enterobacter aerogenes dengan konsentrasi ekstrak 25; 50; 100% diameter zona hambat sebesar 14,49; 17,43; 22,52 mm. Sedangkan, dengan konsentrasi fraksi 25; 50; 100% diameter zona hambat sebesar 2,19; 17,46; 18,18 mm. Pada penelitian ini ekstrak mempunyai zona hambat yang lebih besar terhadap bakteri Bacillus subtilis dan Enterobacter aerogenes daripada fraksi n-Hexan pada seluruh konsentrasi yang diujikan.
P Profil Kromatografi Dan Penetapan Kadar Flavonoid Total Fraksi Etil Asetat Daun Kalangkala (Litsea Angulata Blum) Menggunakan Spektrofotometri Uv-Vis: Profil Kromatografi Dan Penetapan Kadar Flavonoid Total Fraksi Etil Asetat Daun Kalangkala (Litsea Angulata Blum) Menggunakan Spektrofotometri Uv-Vis Mardlatillah, Mardlatillah; Rohama, Rohama; Kurniawati, Darini
Jurnal Pelayanan Kefarmasian dan Sains Vol 4 No 1 (2023): Journal of Pharmaceutical Care and Sciences (JPCS)
Publisher : LPPM Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/jpcs.v4i1.276

Abstract

Background: Kalangkala is a fruit plant typical of Kalimantan and belongs to the species of the genus Litsea which is thought to have potential as a natural antioxidant. Empirically, some people in South Kalimantan use the kalangkala plant, especially the seeds of the fruit, to treat boils. One of the compounds that have antioxidant and antibacterial content is flavonoids.Objectives: To determine the thin layer chromatography profile of the total flavonoid compound of the ethyl acetate fraction and to calculate the total flavonoid content of the ethyl acetate fraction of the leaf extract of Kalangkala (Litsea angulata Blum).Method: Thin Layer Chromatography Profile and Determination of Total Flavonoid Content of the Ethyl Acetate Fraction of Kalangkala Leaf Extract using the UV-Vis Spectrophotometry method. The data were then analyzed qualitatively and quantitatively.Results: The chromatographic profile of the total flavonoids of the ethyl acetate fraction of Kalangkala leaf eluent that was most optimal was Ethyl acetate : n-Hexane (3:7) because it showed the most stains, namely 5 stains. And in the uv-vis spectrophotometry method, the total flavonoid content of the ethyl acetate fraction of Kalangkala leaves (Litsea angulata Blum) was 0.9 mg QE/g.Conclusion: Kalangkala leaf extract on the TLC profile using ethyl acetate : n-Hexane (3:7) showed a total of 5 stains. And the value of the total flavonoid content of the ethyl acetate fraction of kalangkala leaves was 0.9 mg QE/g.
E Etnomedicine Tumbuhan Obat di Masyarakat Desa Belangian, Kalimantan Selatan: Syahfitri, Laili Shinta Ayu; Nastiti, Kunti; Kurniawati, Darini; Rohama, Rohama
Jurnal Pelayanan Kefarmasian dan Sains Vol 4 No 2 (2024): Journal of Pharmaceutical Care and Sciences (JPCS)
Publisher : LPPM Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/jpcs.v4i2.549

Abstract

Background: The diversity of tribes and cultures in Indonesia makes culturaldifferences and traditional knowledge, one of which is in utilizing plants for thetreatment of a disease. One of the widespread tribes on the island of Kalimantanthat is thick with traditional medicine is the Banjar Tribe located in BelangianVillage, South Kalimantan. Ethnomedisin is a treatment by certain ethnicities basedon hereditary traditions in traditional medicine, in this case the use of medicinalplants.Objective: The purpose of this study was to determine the ethnomedicine ofmedicinal plants used by the Banjar Tribe of Belangian Village, Aranio District,South Kalimantan Province.Methods: This research is descriptive using qualitative and quantitative methods.Quantitative analysis with Fidelity Level (FL) calculations for each type ofmedicinal plant.Result: Based on the results of research from 38 informants, 58 species with 36families were obtained. There are 50 diseases that can be treated from 58 types ofmedicinal plants. The most popular method of processing is boiled 56.89 then drunk72.41%. The most widely used part of medicinal plants is the leaf part of 41.73%.Five types of plants with the highest FL values that stated effectiveness for treatmentwere Cymbopogon citratus 86.84%, Zingiber officinale 78.94%, Jatropha multifidaL 73.64%, Peronema canescens jack 68.42%, Syzygium polyanthum 65.78%. Thetradition of treatment with medicinal plants by the Banjar Tribe has been passeddown for generations with the value of local wisdom in its use.Conclusion: There are 58 types of medicinal plants that can be used as medicineor relief for certain diseases by the people of the Banjar Tribe, Belangian Village.With the highest FL value of five is found in Cymbopogon citratus plants 86.84%,Zingiber officinale 78.94%, Jatropha multifida L 73.64%, Peronema canescensjack 68.42%, Syzygium polyanthum 65.78%.
Monitoring Efek Samping Obat Antihipertensi Di Puskesmas Kertak Hanyar Kabupaten Banjar Trisia, Trisia; Kurniawati, Darini; Nastiti, Kunti; Aryzki, Saftia
Jurnal Pelayanan Kefarmasian dan Sains Vol 5 No 2 (2025): Journal of Pharmaceutical Care and Sciences (JPCS)
Publisher : LPPM Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/jpcs.v5i2.720

Abstract

Latar belakang: Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah mengalami peningkatan dari keadaan normal atau mencapai 140/90 mmHg. Di Indonesia, prevalensi hipertensi mengalami peningkatan, terutama di Kalimantan Selatan. Penggunaan obat antihipertensi diperlukan untuk mengontrol tekanan darah dan digunakan dalam jangka panjang, namun tidak jarang menimbulkan efek samping yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Maka diperlukan monitoring efek samping obat untuk memantau reaksi tidak diinginkan setelah pemberian obat. Tujuan:  Untuk mengidentifikasi karakteristik pasien yang mengalami efek samping dan mengidentifikasi kejadian efek samping obat antihipertensi. Metode:  Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan rancangan Cross Sectional dan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik pusposive sampling. Instrumen pengambilan data menggunakan lembar observasional berupa kuesioner. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berusia 56-65 tahun (36,08%), jenis kelamin perempuan (55,70%), pendidikan SD (36,72%) dan bekerja sebagai petani (36,70%). Obat antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah Captopril tunggal (44,30%) dan terdapat 110 responden (69,62%) yang mengalami efek samping obat berupa batuk kering (47,27), bengkak (23,63%), pusing (16,36%) dan gatal (12,72%). Simpulan:  Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan dari 158 responden, 110 melaporkan mengalami efek samping obat. Efek samping yang paling umum dilaporkan adalah batuk kering, bengkak, pusing dan gatal.
Studi Farmakovigilans Efek Samping Obat Hipertensi pada Pasien Rawat Jalan di RSUD Ulin Banjarmasin: Pharmacovigilance Study of Hypertension Drug Side Effects in Outpatients at Ulin General Hospital Banjarmasin Viviana, Viviana; Kurniawati, Darini; Agustina, Ani; Yuwindry, Iwan
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 11 No. 3 (2025): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v11i3.11951

Abstract

Hipertensi merupakan kondisi medis yang tidak menular, namun menjadi pemicu utama penyakit jantung dan stroke. Efek samping penggunaan obat hipertensi dipengaruhi oleh durasi pemakaian jangka panjang serta peningkatan dosis obat. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengkajian terkait efek samping obat hipertensi menggunakan Algoritma Naranjo.Tujuan Penelitian mengetahui kejadian efek samping yang terjadi pada pengobatan hipertensi dan mengidentifikasi ketegori efek samping dengan Naranjo.Metode Observasional Analitik pendekatan Cross Sectional dan kuisioner Algoritma Naranjo untuk mengetahui kategori efek samping obat. Didapatkan hasil efek samping yang dirasakan 36 responden yaitu batuk kering 13 responden (36,11%), kaki bengkak11 responden (30,55%), pusing 8 responden (22,22%), sakit kepala dan kadang sulit tidur 2 responden (5,55%), sakit kepala 1 responden (2,77%) dan batuk kering disertai sakit kepala 1 responden (2,77%). Berdasarkan kuesioner Naranjo diperoleh 14 responden (38,88%) Possible, dan 22 responden (61,11%) Probable. Obat yang menimbulkan kejadian efek samping yaitu Captopril, Amlodipine, Candesartan, Bisoprolol, dan Propanolol. Dapat disimpulkan bahwa 36 responden mengalami efek samping dari obat hipertensi yaitu batuk kering, kaki bengkak, pusing, sakit kepala dan kadang sulit tidur, sakit kepala, dan batuk kering disertai sakit kepala. Berdasarkan Algoritma Naranjo 14 responden (Possible), dan 22 responden (Probable).
Profil Penggunaan Obat Antipsikotik Pada Pasien Skizofrenia Rawat Inap Di Rumah Sakit Jiwa Kalawa Atei Kalimantan Tengah Triwibowo, Drajat; Kurniawati, Darini; Mukti, Yusuf Anggoro; Atmaja, Dewi Susanti
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 4 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i4.1052

Abstract

Pendahuluan: Sebuah kondisi psikotik yang melibatkan pengunduran diri sosial, gangguan emosional, dan afektif dengan kemungkinan halusinasi dan delusi. Salah satu pendekatan utama dalam penanganan skizofrenia adalah pemberian obat antipsikotik. Antipsikotik merupakan agen yang digunakan dalam pengobatan gangguan psikotik, gangguan mental berat. Penggolongan antipsikotik dibagi menjadi dua, yaitu antipsikotik tipikal dan antipsikotik atipikal. Tujuan: Mengetahui profil penggunaan obat antipsikotik pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Jiwa  Kalawa Atei Kalimantan Tengah. Metode: Jenis penelitian yang diterapkan merupakan studi kuantitatif non-eksperimen, dengan rancangan penelitian deskriptif observasional yang dilakukan melalui telaah terhadap data rekam medis pasien skizofrenia yang menjalani perawatan rawat inap. Hasil: didapatkan data dari 181 pasien yang menjalani rawat inap periode Januari–Agustus 2025 dengan jumlah terbanyak berjenis kelamin laki-laki yaitu 146 pasien (80,66%) dan perempuan yaitu 35 pasien (19,34%), dengan rentang umur 25 – 50 tahun berjumlah 122 pasien (67,40%). Skizofrenia (F20) sebanyak 100 pasien (55,25%). Kemudian, tipe skizofrenia tidak terorganisasi sebanyak 47 pasien (25,97%) dan tipe skizofrenia tak terdeferensiasi sebanyak 30 pasien (16,57%). Penggunaan Antipsikotik Tipikal (Generasi Pertama) (Haloperidol + Trifluoperazin + Chlorpromazin). Haloperidol 5 mg  menjadi obat yang paling dominan di seluruh kelompok. Haloperidol dikenal efektif untuk mengatasi gejala positif akut (halusinasi, delusi) dan sering digunakan dalam situasi kegawatdaruratan psikiatri (agitasi atau mengamuk). Simpulan: Penggunaan obat terbanyak adalah antipsikotik kombinasi tipikal dan atipikal, terutama chlorpromazine, fluphenazine, olanzapine, dan clozapine. Lorazepam dan Diazepam digunakan sebagai terapi adjuvan untuk mengatasi kecemasan, insomnia, atau agitasi akut pada pasien skizofrenia.  Trihexyfenidil 2 mg dari agen antikolinergik ini menunjukkan adanya upaya pencegahan atau pengobatan EPS yang diinduksi oleh antipsikotik, terutama Haloperidol dan antipsikotik tipikal lainnya.
ENHANCING COMMUNITY KNOWLEDGE AND SELF-EFFICACY IN HYPERTENSION PREVENTION THROUGH HERBAL EDUCATION PROGRAM Dewi Susanti Atmaja; Kurniawati, Darini; Fadhli, Muhammad Akhzani; Damayanti, Damayanti; Khatimah, Indah Husnul; Dian Puspita, Melinda; Sifra Lorenza, Synthia
Jurnal Pengabdian Masyarakat Dalam Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jpmk.v8i1.77802

Abstract

Introduction: Hypertension is a major public health problem and often called a “silent killer” because it can cause serious complications without early symptoms. Community knowledge about prevention and management remains limited, especially in urban areas. This activity aimed to increase public knowledge about hypertension and to introduce the use of celery leaves (Apium graveolens L.) as a complementary herbal therapy. Methods: The community service activity was carried out in Kampung Ketupat, involving 20 residents. The program included lectures, distribution of educational leaflets, and demonstration of celery juice preparation. Knowledge improvement was assessed through discussions and active participation during the session. Results: Participants showed increased understanding of hypertension and expressed strong enthusiasm in learning about herbal management. The demonstration of celery juice preparation was well received, and participants reported confidence to replicate the practice at home. Conclusion: Health education on herbal management successfully improved public knowledge and self-efficacy of hypertension prevention and control. Celery juice was accepted as an easily applicable complementary method in daily life. KEYWORDS education; herbal; hypertension; prevention
Edukasi dan Pelatihan Tanaman Herbal, Teh Rosella Untuk Mengatasi Hipertensi (Darah Tinggi) di Masyarakat [Education and Training on Herbal Plants, Rosella Tea, to Treat Hypertension (High Blood Pressure) in the Community] Kurniawati, Darini; Irpiana, Irma; Kiptiyah, Mariyatul; Alfisah, Firda; Daud, Muhammad Alfian
Indonesia Berdaya Vol 7, No 3 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261492

Abstract

Hypertension or high blood pressure is one of the non-communicable diseases that is the leading cause of premature death in the world, which if left untreated can trigger serious complications such as heart disease and stroke. One alternative non-pharmacological treatment that is starting to be widely developed in the community is the use of the herbal plant Rosella (Hibiscus sabdariffa). The objectives and focus of this activity are: Increase public knowledge about the dangers of hypertension, Provide education about the content of anthocyanin compounds in Rosella flowers that function as natural ACE-inhibitors and diuretics, Provide training on how to process dried Rosella flower petals into a safe brewed tea, and introduce the correct dosage to avoid side effects for the stomach. There was an 83,75% increase in public knowledge about complementary therapies after the counseling. The community is now able to independently process Rosella tea as a family health drink that is economical and effective in helping to maintain stable systolic and diastolic blood pressure. Abstrak. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kematian dini di dunia, yang jika tidak ditangani dapat memicu komplikasi serius seperti penyakit jantung dan stroke. Salah satu alternatif pengobatan non-farmakologis yang mulai banyak dikembangkan di masyarakat adalah pemanfaatan tanaman herbal Rosella (Hibiscus sabdariffa). Tujuan dan fokus kegiatan ini adalah untuk: Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai bahaya hipertensi, Memberikan edukasi mengenai kandungan senyawa antosianin dalam bunga Rosella yang berfungsi sebagai ACE-inhibitor alami dan diuretik, Memberikan pelatihan cara pengolahan kelopak bunga Rosella kering menjadi teh seduhan yang aman dikonsumsi, serta mengenalkan dosis penggunaan yang tepat agar tidak menimbulkan efek samping bagi lambung. Terdapat peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai terapi komplementer sebesar 83,75% setelah dilakukan penyuluhan. Masyarakat kini mampu secara mandiri mengolah teh Rosella sebagai minuman kesehatan keluarga yang ekonomis dan efektif dalam membantu menjaga kestabilan tekanan darah sistolik dan diastolik.
Co-Authors Agustina, Ani Ahnafani, Mayada Nur Ahnafani, Miyada Nur Alfisah, Firda Ali Rakhman Hakim Ananda, Melin Sofia Anita Herawati, Anita Annisa Fitria Armilawati, Karien Fitria Aryani, Norsarida Aryzki, Saftia Bella Aprilia Punlin Charmelya, Estyvania Nur Ciky, Melsandra Daifa, Tri Masruratun Damayanti Damayanti Daud, Muhammad Alfian Dewi Susanti Atmaja Dian Puspita, Melinda Diana Diana Esti Yuandari, Esti Fadhli, Muhammad Akhzani Fajriannor TM, M. Fitri Yuliana, Fitri Fuaddah, Munawarah Ganesa, Brianty Habibah, Nor Hanovani, Hanovani Hepriana, Yemima Irpiana, Irma Iswandari , Novita Dewi Jayanti, Tri Dewi Kamelia citra, Mia Khatimah, Indah Husnul Kiptiyah, Mariyatul Latif, Akmal Leluni, Adelia Lestari, Ema Harta Lestari, Helda Dwi Mahpujah, Maisya Malahayati, Siti Mardlatillah, Mardlatillah Marsellino, Doni Irawan Prancisco Melviani, Melviani Mia Audina, Mia Montella, Clara Muhammad Rifqi Mukti, Yusuf Anggoro Mustaqimah Mustaqimah Nafisa, Sherin Nasiroh, Nasiroh Nastiti, Kunti Noval Noval Novianty, Nadya NURUL HIDAYAH Nur’afa, Maulida Octavia, Mutia Octaviani, Via Panjaitan, Pungky Angeliana Putri Pawestri, Hasna Perdana, Ratna Dewi Wulandari Putri Pituwat, Cesilia Isana Putri, Marcelina Putri, Ni Luh Nadia Santika Rahmadani Rahmadani Raihana, Raihana Rakhman Hakim, Ali Redho Nugraha, Zen Achmad Rina Saputri Rohama, Rohama Rudiah, Siti Saftia Aryzki Salsabila, Tasya Salsa Sari, Intan Rahma Sari, Putri Indah Sary, Ariska Yulia Sifra Lorenza, Synthia Sismeri Dona, Sismeri Sri Suhartini Subhi Hartanto, Ahmad Ridho Surya Nata, Angelyna Syahfitri, Laili Shinta Ayu Syamsu, Erlina Tangkas, Hansel Hens Tania, Maria Amelinda Thong, Vertirico Trisia, Trisia Triwibowo, Drajat Tuti Alawiyah Ulfah, Annisa Umi Hasanah, Umi Viviana, Viviana Wahyu Pangi Astuti, Ni Nyoman Winda, Nadia Oktavia Yuwindry, Iwan Zuraida Zuraida