Claim Missing Document
Check
Articles

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DENGAN QASHASH AL-QUR’AN Alfajri Alfajri; Achmad Abubakar; Abdul Ghany
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 5 (2025): MEI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Qashash al-Qur’an atau kisah-kisah dalam al-Qur’an yang mengisi seperempat al-Qur’an diyakini kebenarannya sebagai kisah nyata yang diturunkan Allah untuk diambil pelajaran (ibrah), hikmah dan dijadikan sumber teladan dalam keseharian. Sebagian kisah tersebut telah didapatkan bukti sejarahnya melalui penelitian arkeologis, sementara sebagiannya yang lain belum didapatkan buktinya. Banyak cara yang dilakukan guna menggali ibrah dari kisah-kisah tersebut. Penguatan pendidikan karakter dapat ditemukan dengan memahami dalam qashas al-qur’an yang jelasnya dibahas dalam tulisan ini. Penelitian deskriptif riset pustaka dari bebera tulisan sebelumnya dikaji menjadi tulisan dengan pembaharuan yang telah di telaah menjadi sebuah tulisan baru. Penguatan pendidikan karakter melalaui kisah atau cerita qashash al-qur’an dengan mengembangkan metode bercerita yang bersumber dari qashash al-Qur’an kita sebagai umat Muslim diharapkan dapat memanfaatkan media yang memang telah disiapkan oleh Allah Swt. Untuk membentuk karakter generasi selanjutnya agar lebih baik.
Pengaruh Kaidah Ilmu Jadal (Berargumentasi) Dalam Ulumul Qur’an Terhadap Pemahaman Ayat Mutasyabihat Ilham Ilham; Achmad Abubakar; Abdul Ghany
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 6 (2025): JUNI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ilmu jadal sebagai cabang dari logika Islam dan retorika debat yang menjadi metode sistematis dalam menyusun hujjah (argumen) berdasarkan premis yang kuat dan sahih. Ayat-ayat mutasyabihat sering kali dijadikan dalih untuk ekstremisme atau ideologi sesat. Oleh karena itu, kajian pengaruh kaidah-kaidah ilmu jadal terhadap proses pemahaman ayat-ayat mutasyabihat dalam kerangka ulumul Qur’an perlu dilakukan. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan yaitu dengan data dari kitab tafsir (klasik dan kontemporer) terkait interpretasi Qur’an, buku ulumul Qur’an, kitab ushul fikih dan ilmu jadal serta jurnal-jurnal ilmiah tentang ilmu jadal serta logika Islam. Teknik Analisis Data yang menggunakan Analisis terhadap ayat-ayat mutasyabihat dan penafsiran menggunakan pendekatan kaidah kaidah ilmu jadal. Terdapat 5 kaidah ilmu jadal yang digunakan dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat 1) Al-Muqaddimah al-Maqbūlah: Premis yang diterima akal dan syariat; 2) Kaidah Al-Tanaqudh (Penolakan Kontradiksi); 3) Kaidah al-Muqaddimah al-Maqbūlah (Premis Yang Diterima Akal Dan Syara'); 4) Munāẓarah: Adab dialog ilmiah; 5) Istiqrā’: Induksi dengan mengumpulkan semua ayat dan hadis terkait tema tertentu, lalu menyimpulkan makna umum. Melalui penerapan kaidah-kaidah ilmu jadal, mufassir dapat menafsirkan ayat-ayat mutasyābihāt dengan tetap menjaga keselarasan akidah dan menghindari penafsiran yang menyimpang
Muhkam dan Mutasyabih Dalam Al-Qur'an: Implikasi Teologis dari AlMuhkam dan Al-Mutasyabbih dalam Al-Qur'an Waode Mabrukah Azzahrah; Achmad Abubakar; Abdul Ghany
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 6 (2025): JUNI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menyelidiki gagasan tentang ayat-ayat muhkam dan mutasyabih dalam Al-Qur'an dan konsekuensikonsekuensi religius yang terkait. Ayat-ayat muhkam adalah ayat-ayat yang memiliki implikasi yang jelas, tegas, dan tersurat, yang memberikan dasar dan standar yang kuat dalam pelajaran Islam. Ayat-ayat mutasyabih, di sisi lain, mengandung simbolisme dan metafora yang meningkatkan aspek spiritual dan intelektual dari teks suci dan memiliki makna yang ambigu dan memerlukan analisis mendalam. Penelitian ini menunjukkan bahwa ayat-ayat muhkam memberikan panduan praktis dan hukum yang jelas bagi umat Islam, sedangkan ayat-ayat mutasyabih mendorong refleksi yang mendalam dan pengembangan pemahaman teologis dengan menganalisis karakteristik, fungsi, dan tujuan dari kedua jenis ayat ini. Dalam menafsirkan Al-Qur'an, di mana ayat-ayat muhkam dan mutasyabih saling melengkapi satu sama lain dalam menyampaikan pesan Ilahi, studi ini menekankan pentingnya pemahaman yang komprehensif dan holistik. Ayat-ayat tersebut memiliki implikasi teologis yang penting bagi perkembangan pemikiran Islam kontemporer, termasuk pemahaman yang lebih mendalam tentang sifat Tuhan, esensi ajaran Islam, dan dinamika penafsiran teks-teks suci.
JAM’UL QUR’AN : PROSES DAN METODE PENGUMPULAN AL-UR’AN DI MASA NABI MUHAMMAD SAW Sulaeman Sulaeman; Achmad Abubakar; Abdul Ghany
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 3 (2025): JUNI-JULI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas bagaimana proses dan metode pengumpulan Al-Qur’an di masa Nabi Muhammad SAW. Yang merupakan periode fundamental dalam sejarah wahyu. Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam, memerlukan upaya pelasterian unutk menjaga keasliannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualititaif dengan fokus pada literatur, bertujuan untuk menggali secara mendalam proses jam’ul Qur’an dan prespektif historis. Hasil penelitian menunjukka bahwa pengumpulan Al-Qur’an dilakukan melalui dua metode utama: penghafalan (hifzuhu) dan penulisan (kitabuhu kullihi). Meskipun pada masa Nabi belum ada kodifikasi dalam bentuk mushaf, pengumpulan dilakaukan secara sistematis melalui pengajaran langsung dari Nabi kepada para sahabat dan kegiatan mu’aradah yang rutin. Proses ini memastikan bahwa teks Al-Qur’an tetap terjaga daru pemalsuan dan kesalahan, serta memperkuat pemahaman umats Islam terhadap wahyu yang diturunkan. Penelitian ini menegaskan pentingnya metode jam’ul Qur’an dalam mempertahankan kemurnian dan integritas kitab suci Al-Qur’an di tengah tantangan zaman.
Konsep Jaminan Sosial Dalam Islam: Kajian Surah Al-Ma’un 2-3 Wiwik Permatasari; Halimah Basri; Achmad Abubakar; Muh. Azka Fazaka Rif’ah
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Keilmuan Mandira Cendikia Vol. 1 No. 5 (2023)
Publisher : Yayasan Pendidikan Mandira Cendikia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-quran adalah kitab suci yang memberikan kabar baik dan petunjuk kepada orang-orang beriman yang beramal shaleh ke jalan yang lebih lurus. Keseluruhan kebenaran dibawa dengan hadirnya Al-Quran. Salah satu surah yang menerangkan mengenai nilai-nilai kemasyarakatan adalah surah Al-Maaun ayat 2-3. Ayat-ayat ini menggambarkan perilaku, pemikiran, dan karakter yang dipandang baik dan benar oleh masyarakat, dan patut ditiru oleh orang lain agar dapat mewujudkannya dalam kehidupan. Strategi penelitian kualitatif dengan teknik analisis deskriptif dan prosedur analisis kajian melalui tinjauan pustaka merupakan metodologi penelitian yang digunakan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penafsiran surat Al-Maaun ayat 2-3 menegaskan bahwa pada ayat 2 disebutkan berbagai sifat pembohong agama, antara lain mereka yang sungguh-sungguh jauh dari keutamaan dan memperlakukan anak yatim secara sewenang-wenang. Lebih lanjut, ayat 3 tidak mengatakan untuk saling mendukung dalam berbuat baik dan tidak menunjukkan kepedulian terhadap penderitaan orang miskin
Wawasan Al-Qur’an tentang Keadilan Fiskal: Relevansi Ayat-Ayat Makroekonomi Islam terhadap Pengentasan Kemiskinan: Quranic Insights on Fiscal Justice: The Relevance of Islamic Macroeconomic Verses to Poverty Alleviation Fatchul Muin, Tri Subegti; Achmad Abubakar; Muhsin Mahfudz
AL-KHIYAR: Jurnal Bidang Muamalah dan Ekonomi Islam Vol. 5 No. 2 (2025): AL-KHIYAR: Jurnal Bidang Muamalah dan Ekonomi Islam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M), Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar, IndonesiaInstitut Agama Islam STIBA Makassar, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36701/al-khiyar.v5i2.2696

Abstract

Poverty is a structural problem rooted not only in economic inequality but also in the failure of conventional fiscal systems to achieve distributive justice. The Qur’an provides theological and normative insights into fiscal justice, emphasizing the balance between individual ownership rights and collective social responsibility. This study aims to explore the relevance of Qur’anic verses concerning economic justice and wealth distribution in alleviating poverty within the framework of Islamic macroeconomics. The research employs a library-based qualitative method using a thematic tafsir (maudhu‘i) and a normative-descriptive analysis of Qur’anic concepts such as al-‘adl (justice), al-qisṭ (equity), al-infaq (spending), and prohibitions against al-israf (extravagance) and al-bukhl (miserliness). The findings reveal that fiscal justice in the Qur’anic perspective functions not only as an economic mechanism but also as a spiritual instrument to achieve social welfare (al-falah al-ijtima‘i). This perspective provides a conceptual foundation for formulating contemporary Islamic fiscal policies aimed at equity and community empowerment. The study contributes to the development of Islamic economic epistemology by integrating Qur’anic theological values into modern macroeconomic frameworks.
EKSPLORASI AMSAL DALAM SURAH AL-BAQARAH SEBAGAI INSTRUMEN PEMBINAAN AKHLAK ISLAMI Pephitasya Juliana; Achmad Abubakar; Halimah Basri
IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman Vol. 9 No. 4 (2025): Desember
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/imtiyaz.v9i4.2825

Abstract

This study aims to explore the meaning and function of proverbs (parables) in Surah Al-Baqarah as an instrument for fostering Islamic morals. Proverbs in the Qur’an are one of the communicative and pedagogical methods used to convey moral and spiritual values concretely, so that the moral messages can be understood deeply and applied in daily life. Surah Al-Baqarah was chosen because it contains various parables rich in ethical and theological meanings, such as the parable of the hypocrites, the one who spends wealth ostentatiously, and the parable of the fly, which illustrates human weakness before Allah's power. The approach in this study uses a qualitative-descriptive method with library research through thematic analysis. The results of this study indicate that proverbs in Surah Al-Baqarah function as instruments of moral education that guide humans toward the values of sincerity, patience, honesty, trustworthiness, and reliance on God. Proverbs also serve as a means of spiritual reflection that fosters awareness of the relationship between humans and God as well as with others. This study emphasizes that exploring Quranic proverbs has significant relevance in the development of contemporary Islamic character education and can be used as a conceptual model in moral guidance within Islamic educational institutions.
KONTRIBUSI ILMU AL-MUNASABAH TERHADAP KONSISTENSI PESAN DAKWAH DALAM SURAH MAKKIYAH Selfa Rosmita; Achmad Abubakar; Halimah Basri
IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman Vol. 9 No. 4 (2025): Desember
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/imtiyaz.v9i4.2826

Abstract

The science of Munasabah is a branch of Qur'anic jurisprudence that examines the interconnectedness and harmony of meaning between verses and suras in the Quran. This study aims to analyze the contribution of the science of Munasabah to the consistency of the da'wah message in the Makkiyah Surahs, particularly regarding key themes such as monotheism, prophecy, and the Day of Resurrection. This study employed a descriptive qualitative approach with library research methods. Data were collected through a review of classical and contemporary tafsir books, as well as the latest scientific literature relevant to the concept of munasabah and Qur'anic da'wah. The analysis was conducted thematically to identify patterns of verse relationships and meaning structures that reinforce the da'wah message. The results show that the science of Munasabah plays a crucial role in maintaining the coherence and unity of the da'wah theme in the Makkiyah Surahs. The logical interconnectedness between verses creates a continuous argumentation that reinforces the message of monotheism and the faith of Muslims in the early days of the prophethood. Munasabah also proves that the Qur'anic revelation is systematically structured and free from contradictions, allowing the message of da'wah to be conveyed rationally, persuasively, and contextually. Thus, the science of al-Munasabah not only reveals the miraculous aspects and rhetorical beauty of the Qur'an but also strengthens the effectiveness of Islamic da'wah as a complete and continuous system of theological communication.
JAM’UL QUR’AN PADA MASA NABI DAN PARA SAHABAT KAJIAN HISTORIS TENTANG PROSES PENGUMPULAN BESERTA AUTENTISITASNYA Muhammad Widinur Caronge; Achmad Abubakar; Halimah Basri
IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman Vol. 9 No. 4 (2025): Desember
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/imtiyaz.v9i4.2866

Abstract

This study examines the process of Jam‘ul Qur’an during the time of the Prophet Muhammad ﷺ and his companions, focusing on the historical context of revelation, the system of collection, and the authenticity of the mushaf. The findings show that the codification of the Al-Qur’an began gradually during the Prophet’s lifetime rather than after his death. This process operated through the institution of revelation, with the Prophet as the authoritative recipient, Gabriel as the transmitter, the kuttāb al-wahy as scribes, and the companions’ collective memorization as guardians of oral transmission. During the era of the Khulafā’ ar-Rāshidīn, codification progressed through two major phases that is the initial compilation of the mushaf under Abu Bakar as-Ṣiddīq and the standardization of the text under ‘Utsmān bin ‘Affān. Using qualitative methods and both classical and contemporary literature, the study affirms the Al-Qur’an’s authenticity through dual transmission channels mutawātir memorization and written documentation. Unlike earlier studies that emphasize a single codification period, this research provides a historical synthesis across phases and connects modern textual criticism with the epistemology of Islamic revelation. It concludes that the Al-Qur’an used today is an authentic continuation of the ‘Utsmānī codex, whose integrity has been preserved throughout history.
KISAH DALAM AL-QUR’AN ; “NILAI-NILAI MORAL DAN PENDIDIKAN DALAM KISAH ASHABUL KAHFI: TELAAH TEMATIK AL-QUR’AN” Suci Septiani; Achmad Abubakar; Halimah Basri
IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman Vol. 9 No. 4 (2025): Desember
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/imtiyaz.v9i4.2911

Abstract

One form of divine education for humans is realized through the stories told in the Koran. The story of Ashabul Kahf is part of the Qur'anic narrative which is full of values of faith, steadfast principles, and divine protection for a group of young people who maintain monotheism amidst the pressures of an infidel environment. This research aims to reveal the thematic meaning of the story of Ashabul Kahf through a maudhu'i (thematic) tafsir approach, by tracing the verses of the QS. Al-Kahf: 9–26 and examines various interpretations from classical and contemporary scholars such as Ibn Kathir, Al-Maraghi, and M. Quraish Shihab. This research uses a qualitative-descriptive method, with data collection techniques through literature studies that examine various relevant academic literature sources. The research results show that the story of Ashabul Kahf contains the main message about steadfastness of faith (tsabat al-iman), moral courage, and total surrender to Allah as a form of pure monotheism. This story also affirms God's power over time and human life, while also reflecting that God's protection and help will always accompany His faithful and consistent servants. The story's relevance in the contemporary context is evident in efforts to foster the character of the younger generation of Muslims, ensuring they remain steadfast in the values of faith and integrity amidst the challenges of modernity