Claim Missing Document
Check
Articles

Penerapan Kaidah Majaz Mursal dalam Al-Qur’an: (Kajian Balagah mengetahui Struktur dan Fungsinya dalam Penafsiran al-Qur’an) Jannah, Raudatul; Achmad Abubakar; Muhammad Irham; Anggun Puspita Ningrum; Sri Virnawati
Al-Aqwam: Jurnal Studi Al-Quran dan Tafsir Vol. 4 No. 1 (2025): Online Journal
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58194/alaqwam.v4i1.2291

Abstract

This article aims to analyze the interpretation of the Qur’an using the language style of majaz, especially in majaz mursal. Because the language style of majaz influences, expands the meaning of the word arrangement in the Qur’an and the understanding of the meaning desired by Allah swt, has implications for translation and interpretation, several verses of the Qur’an are interesting both in terms of sentence composition and rhetoric (balaghiyyah) this study uses a descriptive method of analysis of majaz mursal in verses of the Qur'an, both in different contexts and themes. This study uses methods from qualitative data sources. This application shows the richness of language and depth of thought in sacred texts, and invites people to better understand Islamic teachings holistically.
Konsep Hutang Piutang dalam Ekonomi Islam : Kajian Qs. Al-Baqarah Ayat 282 dalam Perspektif Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim Karya Ibnu Katsir Samsidar; Syamsurianto; Achmad Abubakar; Halimah Basri; Muh. Azka Fazaka Rifa’i
VISA: Journal of Vision and Ideas Vol. 4 No. 1 (2024): VISA: Journal of Vision and Ideas
Publisher : IAI Nasional Laa Roiba Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47467/visa.v4i1.1482

Abstract

Debt is a transaction in which two people voluntarily give money to another person and then return it to them in the same way. This study aims to determine how Ibnu Katsir views the concept of accounts payable and receivable from an Islamic economic perspective. Although we know that debts and receivables are permitted, Islam advises its followers to avoid debts as much as possible, regardless of whether they can afford to buy something with cash or not when they are in limited economic conditions. Because debt is always a heavy burden and threatens morality. Rasulullah saw. once refused to pray for the body of someone who owed a lot of debt to his family and did not have the means to pay it. As explained in the Koran, recording or writing is the first step in debt and receivable transactions. This research uses library research methods with an interpretive science approach using the tahlili method. The results of this research show that people who owe money are obliged to tell the clerk about the debt they admit because they are worried that there will be fraud against those who owe it. If it is a buying and selling transaction, it is permissible not to record or write down the transaction. Furthermore, there is a need for fair witnesses. In terms of testimony, Ibnu Katsir stated that being a witness is fardlu kifayah or not mandatory for the person concerned unless there is another person who can replace his position
PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DENGAN QASHASH AL-QUR’AN Alfajri Alfajri; Achmad Abubakar; Abdul Ghany
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 5 (2025): MEI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Qashash al-Qur’an atau kisah-kisah dalam al-Qur’an yang mengisi seperempat al-Qur’an diyakini kebenarannya sebagai kisah nyata yang diturunkan Allah untuk diambil pelajaran (ibrah), hikmah dan dijadikan sumber teladan dalam keseharian. Sebagian kisah tersebut telah didapatkan bukti sejarahnya melalui penelitian arkeologis, sementara sebagiannya yang lain belum didapatkan buktinya. Banyak cara yang dilakukan guna menggali ibrah dari kisah-kisah tersebut. Penguatan pendidikan karakter dapat ditemukan dengan memahami dalam qashas al-qur’an yang jelasnya dibahas dalam tulisan ini. Penelitian deskriptif riset pustaka dari bebera tulisan sebelumnya dikaji menjadi tulisan dengan pembaharuan yang telah di telaah menjadi sebuah tulisan baru. Penguatan pendidikan karakter melalaui kisah atau cerita qashash al-qur’an dengan mengembangkan metode bercerita yang bersumber dari qashash al-Qur’an kita sebagai umat Muslim diharapkan dapat memanfaatkan media yang memang telah disiapkan oleh Allah Swt. Untuk membentuk karakter generasi selanjutnya agar lebih baik.
Pengaruh Kaidah Ilmu Jadal (Berargumentasi) Dalam Ulumul Qur’an Terhadap Pemahaman Ayat Mutasyabihat Ilham Ilham; Achmad Abubakar; Abdul Ghany
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 6 (2025): JUNI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ilmu jadal sebagai cabang dari logika Islam dan retorika debat yang menjadi metode sistematis dalam menyusun hujjah (argumen) berdasarkan premis yang kuat dan sahih. Ayat-ayat mutasyabihat sering kali dijadikan dalih untuk ekstremisme atau ideologi sesat. Oleh karena itu, kajian pengaruh kaidah-kaidah ilmu jadal terhadap proses pemahaman ayat-ayat mutasyabihat dalam kerangka ulumul Qur’an perlu dilakukan. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan yaitu dengan data dari kitab tafsir (klasik dan kontemporer) terkait interpretasi Qur’an, buku ulumul Qur’an, kitab ushul fikih dan ilmu jadal serta jurnal-jurnal ilmiah tentang ilmu jadal serta logika Islam. Teknik Analisis Data yang menggunakan Analisis terhadap ayat-ayat mutasyabihat dan penafsiran menggunakan pendekatan kaidah kaidah ilmu jadal. Terdapat 5 kaidah ilmu jadal yang digunakan dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat 1) Al-Muqaddimah al-Maqbūlah: Premis yang diterima akal dan syariat; 2) Kaidah Al-Tanaqudh (Penolakan Kontradiksi); 3) Kaidah al-Muqaddimah al-Maqbūlah (Premis Yang Diterima Akal Dan Syara'); 4) Munāẓarah: Adab dialog ilmiah; 5) Istiqrā’: Induksi dengan mengumpulkan semua ayat dan hadis terkait tema tertentu, lalu menyimpulkan makna umum. Melalui penerapan kaidah-kaidah ilmu jadal, mufassir dapat menafsirkan ayat-ayat mutasyābihāt dengan tetap menjaga keselarasan akidah dan menghindari penafsiran yang menyimpang
Muhkam dan Mutasyabih Dalam Al-Qur'an: Implikasi Teologis dari AlMuhkam dan Al-Mutasyabbih dalam Al-Qur'an Waode Mabrukah Azzahrah; Achmad Abubakar; Abdul Ghany
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 6 (2025): JUNI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menyelidiki gagasan tentang ayat-ayat muhkam dan mutasyabih dalam Al-Qur'an dan konsekuensikonsekuensi religius yang terkait. Ayat-ayat muhkam adalah ayat-ayat yang memiliki implikasi yang jelas, tegas, dan tersurat, yang memberikan dasar dan standar yang kuat dalam pelajaran Islam. Ayat-ayat mutasyabih, di sisi lain, mengandung simbolisme dan metafora yang meningkatkan aspek spiritual dan intelektual dari teks suci dan memiliki makna yang ambigu dan memerlukan analisis mendalam. Penelitian ini menunjukkan bahwa ayat-ayat muhkam memberikan panduan praktis dan hukum yang jelas bagi umat Islam, sedangkan ayat-ayat mutasyabih mendorong refleksi yang mendalam dan pengembangan pemahaman teologis dengan menganalisis karakteristik, fungsi, dan tujuan dari kedua jenis ayat ini. Dalam menafsirkan Al-Qur'an, di mana ayat-ayat muhkam dan mutasyabih saling melengkapi satu sama lain dalam menyampaikan pesan Ilahi, studi ini menekankan pentingnya pemahaman yang komprehensif dan holistik. Ayat-ayat tersebut memiliki implikasi teologis yang penting bagi perkembangan pemikiran Islam kontemporer, termasuk pemahaman yang lebih mendalam tentang sifat Tuhan, esensi ajaran Islam, dan dinamika penafsiran teks-teks suci.
JAM’UL QUR’AN : PROSES DAN METODE PENGUMPULAN AL-UR’AN DI MASA NABI MUHAMMAD SAW Sulaeman Sulaeman; Achmad Abubakar; Abdul Ghany
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 3 (2025): JUNI-JULI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas bagaimana proses dan metode pengumpulan Al-Qur’an di masa Nabi Muhammad SAW. Yang merupakan periode fundamental dalam sejarah wahyu. Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam, memerlukan upaya pelasterian unutk menjaga keasliannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualititaif dengan fokus pada literatur, bertujuan untuk menggali secara mendalam proses jam’ul Qur’an dan prespektif historis. Hasil penelitian menunjukka bahwa pengumpulan Al-Qur’an dilakukan melalui dua metode utama: penghafalan (hifzuhu) dan penulisan (kitabuhu kullihi). Meskipun pada masa Nabi belum ada kodifikasi dalam bentuk mushaf, pengumpulan dilakaukan secara sistematis melalui pengajaran langsung dari Nabi kepada para sahabat dan kegiatan mu’aradah yang rutin. Proses ini memastikan bahwa teks Al-Qur’an tetap terjaga daru pemalsuan dan kesalahan, serta memperkuat pemahaman umats Islam terhadap wahyu yang diturunkan. Penelitian ini menegaskan pentingnya metode jam’ul Qur’an dalam mempertahankan kemurnian dan integritas kitab suci Al-Qur’an di tengah tantangan zaman.
Konsep Jaminan Sosial Dalam Islam: Kajian Surah Al-Ma’un 2-3 Wiwik Permatasari; Halimah Basri; Achmad Abubakar; Muh. Azka Fazaka Rif’ah
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Keilmuan Mandira Cendikia Vol. 1 No. 5 (2023)
Publisher : Yayasan Pendidikan Mandira Cendikia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-quran adalah kitab suci yang memberikan kabar baik dan petunjuk kepada orang-orang beriman yang beramal shaleh ke jalan yang lebih lurus. Keseluruhan kebenaran dibawa dengan hadirnya Al-Quran. Salah satu surah yang menerangkan mengenai nilai-nilai kemasyarakatan adalah surah Al-Maaun ayat 2-3. Ayat-ayat ini menggambarkan perilaku, pemikiran, dan karakter yang dipandang baik dan benar oleh masyarakat, dan patut ditiru oleh orang lain agar dapat mewujudkannya dalam kehidupan. Strategi penelitian kualitatif dengan teknik analisis deskriptif dan prosedur analisis kajian melalui tinjauan pustaka merupakan metodologi penelitian yang digunakan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penafsiran surat Al-Maaun ayat 2-3 menegaskan bahwa pada ayat 2 disebutkan berbagai sifat pembohong agama, antara lain mereka yang sungguh-sungguh jauh dari keutamaan dan memperlakukan anak yatim secara sewenang-wenang. Lebih lanjut, ayat 3 tidak mengatakan untuk saling mendukung dalam berbuat baik dan tidak menunjukkan kepedulian terhadap penderitaan orang miskin
ECOLOGICAL EDUCATION IN THE PERSPECTIVE OF THE QUR’AN: ISLAMIC SOLUTIONS TO ENVIRONMENTAL CRISIS AND CLIMATE CHANGE Moge, Romi; Achmad Abubakar; Mardan
Irfani Vol. 21 No. 3 (2025): Irfani (e-Journal)
Publisher : LP2M IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30603/irfani.v21i3.6996

Abstract

The phenomenon of ecological damage and climate change has developed into a multidimensional crisis that threatens the sustainability of human life on earth. This crisis is not only ecological, but also reflects a moral and spiritual crisis due to the loss of human awareness of the Divine mandate in preserving nature. This research aims to examine the concept of ecological education in the perspective of the Qur'an as an Islamic solution to the global environmental crisis. The focus of research is directed at the values of monotheism, the principle of balance (mīzān), and the prohibition of damage (fasād) as the basis for the development of ecological awareness oriented towards responsibility and sustainability.Using a qualitative approach based on thematic interpretation (maudhu'i), this study analyzes the verses of the Qur'an that discuss the earth (ardh) and the relationship between humans and nature. The results of the study show that the Qur'an places the earth as a Divine mandate that must be maintained through the principles of responsibility, balance, and sustainability. These findings led to the construction of a Qur'anic ecological education model that emphasizes the spiritual and ethical dimensions in human interaction with the environment. The implications of the study affirm the importance of integrating ecotheological education into the Islamic curriculum as well as the formulation of global environmental policies based on Qur'anic values as a preventive step in dealing with contemporary ecological crises.
Wawasan Al-Qur’an tentang Keadilan Fiskal: Relevansi Ayat-Ayat Makroekonomi Islam terhadap Pengentasan Kemiskinan: Quranic Insights on Fiscal Justice: The Relevance of Islamic Macroeconomic Verses to Poverty Alleviation Fatchul Muin, Tri Subegti; Achmad Abubakar; Muhsin Mahfudz
AL-KHIYAR: Jurnal Bidang Muamalah dan Ekonomi Islam Vol. 5 No. 2 (2025): AL-KHIYAR: Jurnal Bidang Muamalah dan Ekonomi Islam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P3M), Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar, IndonesiaInstitut Agama Islam STIBA Makassar, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36701/al-khiyar.v5i2.2696

Abstract

Poverty is a structural problem rooted not only in economic inequality but also in the failure of conventional fiscal systems to achieve distributive justice. The Qur’an provides theological and normative insights into fiscal justice, emphasizing the balance between individual ownership rights and collective social responsibility. This study aims to explore the relevance of Qur’anic verses concerning economic justice and wealth distribution in alleviating poverty within the framework of Islamic macroeconomics. The research employs a library-based qualitative method using a thematic tafsir (maudhu‘i) and a normative-descriptive analysis of Qur’anic concepts such as al-‘adl (justice), al-qisṭ (equity), al-infaq (spending), and prohibitions against al-israf (extravagance) and al-bukhl (miserliness). The findings reveal that fiscal justice in the Qur’anic perspective functions not only as an economic mechanism but also as a spiritual instrument to achieve social welfare (al-falah al-ijtima‘i). This perspective provides a conceptual foundation for formulating contemporary Islamic fiscal policies aimed at equity and community empowerment. The study contributes to the development of Islamic economic epistemology by integrating Qur’anic theological values into modern macroeconomic frameworks.
EKSPLORASI AMSAL DALAM SURAH AL-BAQARAH SEBAGAI INSTRUMEN PEMBINAAN AKHLAK ISLAMI Pephitasya Juliana; Achmad Abubakar; Halimah Basri
IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman Vol. 9 No. 4 (2025): Desember
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/imtiyaz.v9i4.2825

Abstract

This study aims to explore the meaning and function of proverbs (parables) in Surah Al-Baqarah as an instrument for fostering Islamic morals. Proverbs in the Qur’an are one of the communicative and pedagogical methods used to convey moral and spiritual values concretely, so that the moral messages can be understood deeply and applied in daily life. Surah Al-Baqarah was chosen because it contains various parables rich in ethical and theological meanings, such as the parable of the hypocrites, the one who spends wealth ostentatiously, and the parable of the fly, which illustrates human weakness before Allah's power. The approach in this study uses a qualitative-descriptive method with library research through thematic analysis. The results of this study indicate that proverbs in Surah Al-Baqarah function as instruments of moral education that guide humans toward the values of sincerity, patience, honesty, trustworthiness, and reliance on God. Proverbs also serve as a means of spiritual reflection that fosters awareness of the relationship between humans and God as well as with others. This study emphasizes that exploring Quranic proverbs has significant relevance in the development of contemporary Islamic character education and can be used as a conceptual model in moral guidance within Islamic educational institutions.