Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS SEMIOTIKA VISUAL DESAIN MASKOT KOTA MAKASSAR Miftahul Jannah At Tabrani; Elda Franzia Jasjfi; Acep Iwan Saidi
Jurnal Seni dan Reka Rancang: Jurnal Ilmiah Magister Desain Vol. 6 No. 2 (2023): Jurnal Seni dan Reka Rancang : Jurnal Ilmiah Magister Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jsrr.v6i2.17763

Abstract

An effective mascot is one that can depict a city, its philosophy, convey its vision and mission, and become a part of its public. In 2005, the Makassar City Government introduced the Si Jago mascot in its city branding. This research aims to analyse the design of the Makassar City mascot using Charles Sanders Peirce's semiotics approach with the concept of the meaning triangle, in which a sign is formed by the triangular relationship between the representamen related to the selected object, ultimately resulting in an interpretant. The analysis was conducted on the Si Jago mascot using a qualitative method. The results of this study conclude that the visualisation of the Si Jago mascot, which is a representamen, has iconic, symbolic, and indexical presence. Si Jago mascot becomes a great and distinctive identity of the local culture so that it can be a means of introducing Makassar City to a wider audience so that the culture of Makassar City can be widely known. Keywords : Mascot, Peirce’s Semiotics, Makassar City Maskot yang efektif adalah maskot yang mampu menggambarkan sebuah kota, filosofi, membawa gambaran visi dan misi, serta mampu menjadi bagian dari dari publik itu sendiri. Di tahun 2005, Pemerintah Kota Makassar menghadirkan maskot Si Jago pada city brandingnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam desain maskot Kota Makassar menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce dengan konsep segitiga makna, di mana tanda dibentuk oleh hubungan segitiga antara representamen berhubungan dengan objek yang dipilih, pada akhirnya akan menghasilkan interpretan. Analisis dilakukan terhadap maskot Si Jago menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa visualisasi maskot Si Jago yang merupakan representamen yang kehadiran bersifat ikonik, simbolik dan indeksikal. Maskot Si Jago menjadi kehebatan dan penuh identitas ciri khas budaya setempat sehingga dapat menjadi wadah pengenalan Kota Makassar ke masyarakat lebih luas agar budaya Kota Makassar dapat diketahui secara umum. Kata Kunci : Maskot, Semiotika Pierce, Kota Makassar
ANALISIS IKLAN SEPATU COMPASS EDISI “IKLAN INI TIDAK LULUS SENSOR” Widiya Lestari Harahap; Drajatno Widi Utomo; Acep Iwan Saidi
Jurnal Seni dan Reka Rancang: Jurnal Ilmiah Magister Desain Vol. 6 No. 1 (2023): Jurnal Seni dan Reka Rancang : Jurnal Ilmiah Magister Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jsrr.v6i1.18720

Abstract

AbstractAdvertising is the use of paid media by a seller to communicate persuasive information about the product (idea, goods, services) owned (M. SUYANTO, n.d.). The use of visual elements in the advertisement creates its own message in it. One of them is what the Compass shoe brand did in the “Iklan Ini Tidak Lulus Sensor” edition of the ad which uses visual elements that are a sign as a means of conveying the advertising message. The focus of the problem to be researched in the “Iklan Ini Tidak Lulus Sensor” edition of advertising are the visual elements that shape the message in the ad. This study aims to understand the meaning in the level of denotation and connotation and describe what message is displayed in the “Iklan Ini Tidak Lulus Sensor” edition of the ad. To analyze it used the analysis of Barthes semiotics. Through this research, it is hoped that it can enrich understanding in understanding the message contained in a painting. Keywords: Advertising, Compass, Barthes SemioticsAbstrakPeriklanan merupakan penggunaan media bayaran oleh seorang penjual untuk mengkomunikasikan informasi persuasive tentang produk (ide, barang, jasa) yang dimiliki (M.SUYANTO, n.d.). Penggunaan elemen-elemen visual yang ada pada iklan menciptakan pesan tersendiri didalamnya. Salah satunya yaitu yang dilakukan oleh brand sepatu Compass dalam iklan edisi “Iklan Ini Tidak Lulus Sensor” yang menggunakan elemen-elemen visual yang merupakan sebuah tanda sebagai sarana menyampaikan pesan iklan. Fokus masalah yang akan diteliti dalam iklan edisi “Iklan Ini Tidak Lulus Sensor” adalah elemen-elemen visual pembentuk pesan pada iklan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna dalam tingkatan denotasi dan konotasi serta mendeskripsikan pesan apa yang ditampilkan pada iklan edisi “Iklan Ini Tidak Lulus Sensor”. Untuk menganalisisnya digunakan analisis semiotika Barthes. Melalui penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman dalam memahami pesan yang terdapat pada suatu lukisan.
Semiotic Analysis of The Garuda Pancasila on The Indonesian National Football Team Jersey Wicaksana, Adhika; Saidi, Acep Iwan
Jurnal Lemhannas RI Vol 12 No 1 (2024)
Publisher : Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55960/jlri.v12i1.449

Abstract

Purpose: Garuda Pancasila, displayed on the Indonesian National Team's jersey, has been a prominent feature in football since Indonesia's independence. It is widely embraced by players, fans, and the Indonesian community, symbolising national resilience. Study Design/Methodology/Approach: This descriptive qualitative study aims to elucidate the significance of the Garuda Pancasila emblem on the Indonesian national football team's jersey. The research employs Roland Barthes' semiotic method and Althusser's ideological theory, focusing on jerseys from the 2022–2024 seasons. Textual analysis is utilised to interpret the data. Findings: The study reveals that the Garuda Pancasila emblem transcends mere decoration; it is a revered symbol embedded in the national identity and pride of its wearers. Since the Old Order under President Soekarno, the emblem has been a vehicle for political expression and ideological discourse within Indonesian society. Originality/Value: The findings underscore the enduring importance of the Garuda Pancasila emblem, which continues to embody national unity, resilience, and ideological continuity in modern Indonesia. Its presence on the jersey reflects a rich cultural heritage and political history, highlighting the emblem's significance in both national and sports contexts.
Camera movement concept on social media in digitizing era Dewi, Agustina Kusuma; Piliang, Yasraf Amir; Irfansyah, Irfansyah; Saidi, Acep Iwan
International Journal for Educational and Vocational Studies Vol. 4 No. 4 (2022)
Publisher : Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/ijevs.v4i4.7568

Abstract

Digital advertisement with various visualization techniques affects human daily-life and lifestyle. Movement Concept in advertising is in line with kinetic on digitizing era. It visualized through videography. The lack of research that has been done regarding the characteristics of camera movement as visual stimuli exposure in advertisements has led to further research on consumer perceptions. The case study is Adidas Originals Nite Jogger version DAY&NIGHT GISEOK CHO that has been released on YouTube, April 2019. Using Documentation Analysis with Computer Web-Based Q's for collecting data, this mixed-method research using one-shot case study, aimed to identify Camera Movement Concept which applied into digitizing process. Several logical explanations of the audience's perceptions constructed by visual stimuli of Camera Movement Concept on social media in Digitizing era have been resulted; it relates to audience cognition and affection. The research concluded fast motion that is constructed through distortion as one of Camera Movement Concept to gain audience attraction; and if it applied with Camera 360° could have more possibilities to construct exaggerated visual stimuli exposure in advertising.
Caring Design: A Multimodal Analysis of Woman Embodiment in Kampung Halaman Foundation Design by Novi Kristinawati Senja Aprela Agustin; Acep Iwan Saidi; Irma Damajanti; Hafiz Aziz Ahmad
PANGGUNG Vol 34, No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i2.3513

Abstract

Gagasan perawatan dalam desain dan arsitektur melekat pada karya perempuan desainer se- bagai bentuk kebertubuhan perempuan yang berhubungan dengan konteks sosial. Demikianlah peran perempuan dalam tatanan sosial yang sering diasosiasikan dengan perawatan dan peng- asuhan seperti layaknya alam telah menggemakan dualisme gender, yang turut mempengaruhi perbedaan karakteristik desain yang diciptakan oleh keduanya. Beberapa penelitian sebelum- nya telah mengeksplorasi gagasan desain perawatan, terutama dalam arsitektur, mencakup eksplorasi material alami yang dapat menyampaikan identitas budaya, pengalaman multisen- sorik, dan arsitektur afektif. Namun, studi mengenai karya perempuan desainer, khususnya dalam arsitektur yang merangkul konsep ‘desain perawatan’, dan berfokus pada kebertubuhan masih kurang dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk memahami gagasan perawatan se- bagai bentuk kebertubuhan perempuan desainer yang terefleksikan dalam karyanya, dengan studi kasus desain arsitektur Yayasan Kampung Halaman di Yogyakarta oleh Novi Kristinawa- ti. Melalui metode semiotika, khususnya analisis multimodal teks dari Gunther Kress dan Theo van Leeuwen, makna perawatan diungkapkan melalui penelusuran tiga metafungsi: makna representasi, makna interaktif, dan makna komposisi yang muncul dari mode-mode sebagai sumber semiotika. Temuan studi ini memperlihatkan bahwa Novi Kristinawati merefleksikan kebertubuhannya dalam desain Yayasan Kampung Halaman. Gagasan perawatan sebagai bentuk kebertubuhan perempuan antara lain: muncul dalam simbol arketipe ibu; desain yang memberikan pengalaman multisensori dengan mengaburkan batas antara eksterior alam dan interior; desain yang fleksibel dan mengalir yang memenuhi nilai guna serta dapat memfasil- itasi jarak sosial pengguna desain; mengutamakan kesetaraan dan pengakuan kedua gender dalam desain tanpa sekat; serta desain yang mampu mendengarkan kebutuhan pemesan de- sain. Penelitian ini adalah upaya untuk memahami desain dalam kerangka kebertubuhan per- empuan dan kontribusinya dalam wacana pengetahuan desain. Kata Kunci: desain perawatan, perempuan desainer, kebertubuhan perempuan, analisis multimodal, arsitektur, Novi Kristinawati
Visualisasi dan Transformasi Kebertubuhan Dalam Film Animasi Planes (Ke Arah Pembentukan Mitos Baru) Acep Iwan Saidi; Agung Eko Budiwaspada
PANGGUNG Vol 25 No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.41

Abstract

ABSTRACTThis research is entitled “Visualization and Transformation of Embodiment in the Film of Planes Animation”. As an animation film, Planes is interesting because it is using inanimate objects, in this case the planes, as characters. This fact indicates that the character transformation is done by an animator, from the character of inanimate objects in to live character. By using the methods of structural and semiotic analysis, found that the transformation is done not only for personification (it is made as if the inanimate objects becomes alive). In the Planes, “the living things” not only exist in the mind as imagination, but it is exist out of the mind, as an autonomous reality. Based on that, Planes is the animation film which opens space for creating a new myth in the history of culture. Like the fable as a myth in the tradition of primary orality, Planes allows the formation of myth in digital oral tradition.Key Words: Transformation, visualization, embodiment, personification, metaphor, tradition, myth ABSTRAKPenelitian ini bertajuk “Visualisasi dan Transformasi Kebertubuhan dalam Film Animasi Planes”.Sebagai film animasi, Planes menarik karena menggunakan benda-benda mati, dalam hal ini pesawat, sebagai tokoh cerita. Fakta ini mengindikasikan dilakukannya transformasi karakte r ole h animator, yakni dari karakte r “yang mati” ke “yang hidup”.Dengan menggunakan metode analisis structural dan semiotik, ditemukan bahwa transformasi tersebut dilakukan melampaui sarana retorika personifikasi (membuatseolah- olah yang mati menjadi hidup).Di dalam Planes, “yang hidup” itu tidak berada di dalam pikiran dan imajinasi apresiator sebagai yang seolah-olah, melainkan hadir di luar pikiran, berdiri sendiri sebagai realita sotonom. Berdasarkan hal itu, Planes merupakan film animasi yang membuka ruang bagi terciptanya mitos baru dalam sejarah cerita. Jika fable merupakan mitos dalam tradisi kelisanan primer, Planes memungkinkan terbentuknya mitos dalam tradisi lisan digital.Kata kunci: transformasi, visualisasi, kebertubuhan, personifikasi, metafora, tradisi, mitos.
Representasi Identitas Melalui Komunikasi Visual Dalam Komunitas Virtual Palanta Urang Awak Minangkabau Elda Franzia; Yasraf Amir Pialang; Acep Iwan Saidi
PANGGUNG Vol 25 No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.45

Abstract

ABSTRACTIn virtual community, identity represented through various form. A person as community member is appearing through profile picture and doing communication activity between members in virtual community. The communication held actively in verbal and visual communication form consists of message exchange and meaning through symbols that understand thoroughly based on culture and custom with certain characteristic differ to each ethnic groups. Palanta Urang Awak Minangkabau is one of the virtual communities in Facebook social network. As an active virtual community, the communication is ongoing intensely between members. Conversation and interac- tion are often beginning with image posting by member. This research is aim to explain the variety of visual communication form in this certain virtual community as part of virtual identity con- struction of Minangkabau ethnic group. The method is virtual observation and documentation, with semiotic method analysis in cultural studies approach. This research gave the understanding of image typology and cultural symbolism in Minangkabau culture, especially in the context of virtual community in Facebook.Keywords: identity, communication, visual, Minangkabau, Facebook ABSTRAKDalam komunitas virtual, identitas direpresentasikan melalui berbagai bentuk. Individu yang menjadi anggota komunitas dihadirkan melalui foto profil dan melakukan aktivitas komunikasi antar individu dalam ruang komunitas virtual tersebut. Komunikasi berlangsung secara aktif meliputi tukar menukar pesan dan pemaknaan secara verbal dan visual melalui simbol-simbol penandaan yang dipahami bersama, dengan berbasis budaya dan adat dengan karakteristik tertentu yang berbeda antara etnis satu dengan yang lain. Palanta Urang Awak Minangkabau merupakan salah satu komunitas virtual di jejaring sosial Facebook. Sebagai komunitas virtual yang aktif, komunikasi berlangsung secara intens antar anggotanya. Percakapan dan interaksi sering kali dimulai dengan gambar yang dipaparkan oleh anggota komunitas. Kajian ini bertujuan untuk memaparkan ragam bentuk dan cara penyampaian komunikasi visual di dalam komunitas virtual ini sebagai bagian dari konstruksi identitas virtual etnis Minangkabau. Metode yang digunakan adalah observasi dan dokumentasi virtual, melalui analisis semiotik dengan pendekatan cultural studies. Kajian ini memberi pemahaman terhadap tipologi gambar dan simbol-simbol budaya yang berlaku dalam adat Minangkabau, khususnya dalam konteks komunitas vir- tual di Facebook.Kata kunci: identitas, komunikasi, visual, Minangkabau, Facebook
Pergeseran Bentuk Siluet Kostum Tari Jaipongan Tahun 1980-2010 Mira Marlianti; Acep Iwan Saidi; Achmad Haldani Destiarmand
PANGGUNG Vol 27 No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i1.233

Abstract

ABSTRACKThis article is aimed at identifying the shift in silhouette of Jaipongan costume from its first appearance (in 1980) until thirty years later (2010). The silhouette of Jaipongan costume keeps changing at present, and is believed to become trends followed by other costume designers in different areas. Since it has never been studied by other researchers, the study result is expected to be the reference for future studiesthat focus on Jaipongan. The approach used in this study is aesthetics of form. The result shows that the aesthetics shift in silhouette of Jaipongan costume took place because the designers hadopportunities and freedom to be more expressive in designing Jaipongan dance costumes appropriate to current trends of the era and of the show. The shifts includesilhouette of blouse that entirely appears in silhouette fited and silhouette of skirt from slim line to fit and flare line. While the silhoutte cutting has shifted from amphora silhouette, hourglass silhouette, redingote silhouette toextra redingote silhouette.Keywords: shift, silhouette, Jaipongan costume periode 1980-2010ABSTRAKTampilan kostum Jaipongan sejak awal kemunculannya hingga kini semakin bervariasi, sehingga memungkinkan terjadinya pergeseran dalam hal siluet kostumnya. Tulisan ini bertujuan mengidentifikasi pergeseran bentuk siluet kostum Jaipongan tahun 1980-2010 di wilayah Bandung. Persoalan ini penting dikaji karena kajian terhadap bentuk siluet kostum Jaipongan belum pernah dilakukan oleh peneliti lain dan kostum Jaipongan di Bandung disinyalir menjadi trend senter yang banyak ditiru para penata kostum di wilayah lainnya.Tahun 1980-2010 dipilih karena untuk melihat pergeseran bentuk siluet kostum Jaipongan dari awal kemunculannya hingga genap tiga puluh tahun keterkinian-nya yang masih terus berkembang hingga kini. Pendekatan yang digunakan untuk kepentingan tersebut adalah estetika. Hasil kajian menunjukkan bahwa pergeseran bentuk siluet kostum Jaipongan terjadi karena bermunculanya kreativitas-kreativitas baru yang lebih bebas dan lebih ekspresif dalam hal perancangan desain kostum tari Jaipongan, sebagai upaya menyeimbangan akan tuntutan jaman dan tuntutan pertunjukan. Pergeseran tersebut meliputi siluet kostum atasan yang seluruhnya tampil dalam silhouette fited, dan bentuk siluet kostum bawahan yang berawal dari slim line menjadi fit and flare line. Adapun potongan silhouette diawali amphora silhouette, hourglass silhouette, redingote silhouette, dan diakhiri ekstra redingote silhouette.Kata Kunci: pergeseran, bentuk siluet, kostum Jaipongan rentang tahun 1980-2010 
Problematika Film Alih Media: Dari Transformasi Hingga Kontroversi Acep Iwan Saidi; Dyah Gayatri Puspitasari
PANGGUNG Vol 30 No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v30i2.1203

Abstract

ABSTRACTThis article contains a study of film adaptation from a literature media (novel) into audio-visual media(film). This research is a case study of Perempuan Berkalung Sorban film by Hanung Bramantyo, whichwas adapted from a novel with the same title that was written by Abidah el-Khalieqy. By combining a textanalysis method from Thomas Leittch, Mathew T. Jones’ film adaptation theory and the result of interviewto confirm the text analysis, this research produced some interesting findings. The research verified thatthe adaptation’s process does not merely focus on technical issue in media adaptation (from novel tofilm), but also focuses on another aspects that will involve the audience i.e. a fact that text and dialoguebecome references that will be appreciated by audience. As a result, there were excessive distortions anddeviations on the text that were created by the film maker caused a bias interpretation. Audiences nolonger interpreted the film as a visual text objectively. Instead, they would think about certain prejudiceagainst the film maker. In film adaptation, certain tendencies of film maker are easy to be predicted byaudience. This fact has caused film adaptation becomes controversial easily.Keywords: Media Adaptation, Transformation, Opposition, ControversyABSTRAKArtikel ini berisi kajian tentang alih media, yakni dari media verbal sastra (novel) kemedia visualfilm. Kajian ini berupa studi kasus terhadap film Perempuan Berkalung Sorban karya HanungBramantyo, yang merupakan adaptasi dari novel dengan judul sama karya Abidah el-Khalieqy.Dengan menggunakan metode gabungan, yakni analisis teks yang berdasar pada teori adaptasifilm dari Thomas Leittch, Mathew T. Jones, dan wawancara tertulis untuk mengkonfirmasianalisis teks tadi, kajian ini menemukan hal menarik, yakni alih media bukan sekedar persoalanteknis pemindahan media, melainkan juga pemindahan yang menimbulkan efek-efek tertentubagi penonton. Apresiasi penonton dilandasi kesadaran bahwa terdapat teks lain yang menjadirujukan film bersangkutan. Akibatnya, distorsi dan deviasi yang terlalu jauh yang dilakukansutradara atas teks sumber berpotensi mengakibatkan bias pemahaman. Penonton tidak lagimemaknai film sebagai teks visual secara objektif, tetapi juga dibarengi praduga-pradugatertentu terhadap sutradara. Pada genre film alih media, tendensi tertentu dari sutradara mudahdibaca penonton. Fakta ini mengakibatkan film sangat rentan menimbulkan kontroversi.Kata Kunci: alih media, transformasi, oposisi, kontroversi
Caring Design: A Multimodal Analysis of Woman Embodiment in Kampung Halaman Foundation Design by Novi Kristinawati Senja Aprela Agustin; Acep Iwan Saidi; Irma Damajanti; Hafiz Aziz Ahmad
PANGGUNG Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i2.3513

Abstract

Gagasan perawatan dalam desain dan arsitektur melekat pada karya perempuan desainer se- bagai bentuk kebertubuhan perempuan yang berhubungan dengan konteks sosial. Demikianlah peran perempuan dalam tatanan sosial yang sering diasosiasikan dengan perawatan dan peng- asuhan seperti layaknya alam telah menggemakan dualisme gender, yang turut mempengaruhi perbedaan karakteristik desain yang diciptakan oleh keduanya. Beberapa penelitian sebelum- nya telah mengeksplorasi gagasan desain perawatan, terutama dalam arsitektur, mencakup eksplorasi material alami yang dapat menyampaikan identitas budaya, pengalaman multisen- sorik, dan arsitektur afektif. Namun, studi mengenai karya perempuan desainer, khususnya dalam arsitektur yang merangkul konsep ‘desain perawatan’, dan berfokus pada kebertubuhan masih kurang dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk memahami gagasan perawatan se- bagai bentuk kebertubuhan perempuan desainer yang terefleksikan dalam karyanya, dengan studi kasus desain arsitektur Yayasan Kampung Halaman di Yogyakarta oleh Novi Kristinawa- ti. Melalui metode semiotika, khususnya analisis multimodal teks dari Gunther Kress dan Theo van Leeuwen, makna perawatan diungkapkan melalui penelusuran tiga metafungsi: makna representasi, makna interaktif, dan makna komposisi yang muncul dari mode-mode sebagai sumber semiotika. Temuan studi ini memperlihatkan bahwa Novi Kristinawati merefleksikan kebertubuhannya dalam desain Yayasan Kampung Halaman. Gagasan perawatan sebagai bentuk kebertubuhan perempuan antara lain: muncul dalam simbol arketipe ibu; desain yang memberikan pengalaman multisensori dengan mengaburkan batas antara eksterior alam dan interior; desain yang fleksibel dan mengalir yang memenuhi nilai guna serta dapat memfasil- itasi jarak sosial pengguna desain; mengutamakan kesetaraan dan pengakuan kedua gender dalam desain tanpa sekat; serta desain yang mampu mendengarkan kebutuhan pemesan de- sain. Penelitian ini adalah upaya untuk memahami desain dalam kerangka kebertubuhan per- empuan dan kontribusinya dalam wacana pengetahuan desain. Kata Kunci: desain perawatan, perempuan desainer, kebertubuhan perempuan, analisis multimodal, arsitektur, Novi Kristinawati
Co-Authors Achmad Haldani Destiarmand Achmad Haldani Destiarmand Achmad Syarief Achmad Syarief Adinda Maharani AG. Andi Hismanto Agung Eko Budi Waspada Agung Eko Budiwaspada Agus Sachari Agustin, Senja Aprela Agustina Kusuma Dewi Ahmad Auliya Zul Hazmi Aisyah, Lani Siti Noor Aminudin TH Siregar Aniendya Christianna Aquarini Priyatna Astrid Kusumowidagdo Azhar Natsir Ahdiyat Azhar Natsir Ahdiyat Azhar, Ghina Zoraya Cama Juli Rianingrum Ciawita Atmadiratna Lautama Dana Waskita Darmawan, Adam Dave Johsua M. Rumengan Dendi Ismi Sofian Dody achmad Nawawi Dwikartini, Fanny Dyah Gayatri Puspitasari Dyah Gayatri Puspitasari Dyah Gayatri Puspitasari Dyah Gayatri Puspitasari, Dyah Gayatri Elda Franzia Elda Franzia Jasjfi Elda Franzia, Elda Fadly Latif Faiz, Muhammad Syukri Ferry Fauzi Hermawan Firdyanza Pramono Firmanda Satria Galih Wisudha Pratama Ganal Rudiyanto Ganal Rudiyanto, Ganal Hafiz Aziz Ahmad Harifa Ali Alba Siregar Hendriyo Kustrianjaya Hendy Yuliansyah Hismanto, AG. Andi Ida Ayu Putu Sri Widnyani Iman Sudjudi Indrayati, Refita Ika Intan Rizky Mutiaz Irfansyah Irfansyah Irfansyah Irfansyah Irma Damajanti Irma Damajanti Ivan Setiawan Junaidi Wirawan Krishna Hutama Krishna Hutama Krishna Hutama, Krishna Kunto Adi Wibowo Lani Siti Noor Aisyah Lina Meilinawati Rahayu Marina Wardaya Mario Alvine Wangarry Markus Jiuhanteng Mestika Nawang Sukma Miftahul Jannah At Tabrani Mohamed Razeef Abdul Razak Muhammad Syukri Faiz Mulyawati, Netari NIA KURNIASIH Nugraha Nugraha Nugraha Nugraha Nuning Yanti Damayanti Parung, Christabel Pertiwi, Untari Gunta Pindi Setyawan Pramono, Firdyanza Prayogo, Matheus Purwaramdhona, Ananda Bintang Rahmat Refita Ika Indrayati Rendy Iswanto Riama Maslan Sihombing Riksa Belasunda Senja Aprela Agustin Senja Aprela Agustin Senja Aprela Agustin Setiawan Sabana Setyawan, Pindi Siregar, Harifa Ali Albar Sofian, Dendi Ismi Thirathep Chonmaitree Tommi Tommi Totok Rikanto Tri Sulistyaningtyas Triyadi Guntur Wiratmo Utomo, R. Drajatno Widi Vebriyanti, Evi Azizah Vyana Lohjiwa Wangarry, Mario Alvine Wegig Murwonugroho Wicaksana, Adhika Widiya Lestari Harahap Yan Yan Sunarya Yan Yan Sunarya Yan Yan Sunarya Yasraf Amir Pialang Yasraf Amir Pialang, Yasraf Amir Yasraf Amir Piliang Yasraf Amir Piliang Yasraf Amir Piliang Yasraf Amir Piliang Yusron Falahi