p-Index From 2021 - 2026
5.667
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Litera LITERASI: Jurnal Ilmu-Ilmu Humaniora ATAVISME JURNAL ILMIAH KAJIAN SASTRA LOKABASA UNEJ e-Proceeding Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya Gondang: Jurnal Seni dan Budaya JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Indonesian EFL Journal Jurnal Studi Al-Qur'an Jurnal Kajian Bahasa, Sastra dan Pengajaran (KIBASP) JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Kandai Journal of Indonesian Language Education and Literary English Language and Literature International Conference (ELLiC) Proceedings Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Sarwahita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat BAHTERA : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra JENTERA: Jurnal Kajian Sastra JUDIKA (JURNAL PENDIDIKAN UNSIKA) Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Jurnal Sastra Indonesia Aksara: Jurnal Ilmu Pendidikan Nonformal Community Development Journal: Jurnal Pengabdian Masyarakat Getsempena English Education Journal BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Jurnal Adat dan Budaya Indonesia Majalah Ilmiah Tabuah: Ta`limat, Budaya, Agama dan Humaniora Jurnal Ilmiah SEMANTIKA Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal International Journal of Education and Digital Learning (IJEDL) Lililacs Journal PROSIDING SEMINAR NASIONAL DAN INTERNASIONAL HIMPUNAN SARJANA-KESUSASTRAAN INDONESIA Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Claim Missing Document
Check
Articles

KONSERVASI CERITA SI PITUNG MELALUI PELATIHAN STORY TELLING BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI MASARAKAT MARUNDA PULO JAKARTA UTARA Siti Gomo Attas; Novi Anoegrajekti; Rizky Wardhani; Ely Rusliawati
Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT - SNPPM2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program Pengabdian Kepada Masyarakat Wilayah Binaan Unggulan Universitas (PPM-PWBU) ini bertujuan untuk melestarikan sastra lisan melalui model pelatihan C berbasis cerita rakyat Si Pitung di Kawasan Marunda Pulo, Cilincing, Jakarta Utara. Pengabdian ini  bertujuan sebagai upaya konservasi warisan budaya Betawi yang kian tergerus oleh perkembangan zaman. Kegiatan ini melibatkan masyarakat setempat, terutama generasi muda, dalam pelatihan teknik bercerita (story telling) agar mereka dapat memahami, mengapresiasi dan mewariskan kembali cerita kisah Si Pitung sebagai simbol heroisme, keberanian dan keadilan dalam budaya Betawi. Model Pelatihan story telling  dibagi dalam dua bagian yaitu proses memberi rangsangan para  peserta dengan  sejarah Marunda dan cerita yang berkembang di sekitar Cagar Buday si Pitung, Selanjutnya Para peserta akan dilatih menuliskan kembali cerita si Pitung yang diingat berdasarkan  memori kolektif sebagai warga Marunda yang kental dengan cerita si Pitung. Selanjutnya  para peserta dalam lokakarya menunjukkan interaktif, pendampingan intensif serta simulasi pementasan untuk meningkatkan keterampilan peserta dalam menyampaikan cerita secara menarik dan berkesan. Hasil dari program ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian sastra lisan, memperkuat identitas budaya lokal serta mendorong partisipasi aktif generasi muda dalam mencitai cerita rakyat sebagai kearifan lokal masyarakat Pesisir masyarakat Marunda Pulo.   ABSTRACT The Community Service Program for Excellent Development Areas of the University (PPM-PWBU) aims to preserve oral literature through a storytelling-based training model inspired by the Betawi folk tale of Si Pitung in the Marunda Pulo area, Cilincing, North Jakarta. This program serves as an effort to conserve Betawi cultural heritage, which is increasingly being eroded by modernization. The activity involves local communities, especially the younger generation, in storytelling training so that they can understand, appreciate, and pass down the story of Si Pitung a symbol of heroism, courage, and justice in Betawi culture. The storytelling training model is divided into two parts. The first phase stimulates participants with insights into the history of Marunda and the stories surrounding the Si Pitung Cultural Heritage Site. The second phase trains participants to rewrite the Si Pitung story based on their collective memory as Marunda residents closely connected to the legend. Participants then engage in interactive workshops, intensive mentoring, and performance simulations to enhance their storytelling skills in a captivating and memorable way. The outcomes of this program are expected to increase public awareness of the importance of preserving oral literature, strengthen local cultural identity, and encourage active participation among the younger generation in appreciating folk tales as a form of local wisdom within the coastal community of Marunda Pulo.
Metaphor in Parable from the Noble Qur’an: A Corpus Based Stylistic Approach Djamdjuri, Dewi Suriyani; Zuriyati , Zuriyati; Attas, Siti Gomo
Jurnal Studi Al-Qur'an Vol 18 No 1 (2022): Jurnal Studi Al-Qur'an
Publisher : Islamic Religious Education Departement

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JSQ.018.1.03

Abstract

A compelling speech figure, a parable, or a metaphor in the Qur'an seeks to explain a crucial point by sticking in the mind and helping us absorb the message and firmly lodge it in our hearts. The stylistic method utilized in this study was a corpus-based stylistic method, which entails a contextual assessment of the term or pattern in issue. The information is based on passages from the Qur'anic corpus that have been translated into English. The stylistic corpus-based approach was used to investigate four different types of metaphor. They are standard, implied, visual, and extended metaphors, as evidenced by the findings. From the result finding it shows that there are 21 verses in the metaphor that are classified as standard metaphors, accounting for 61% of the metaphor. There are 5 verses, or 13%, of implied metaphor, 7 verses, or 18%, of visual metaphor, and 3 verses, or 8%, of extended metaphor. The metaphor that appeared the most frequently is a standard metaphor.
The Hegemony of Social, Cultural, and Discourse Power Indonesian Language Literary Criticism Course Materials Muhammad Amien Denis; Siti Gomo Attas; Miftahulkhairah Anwar
International Journal of Education and Digital Learning (IJEDL) Vol. 1 No. 5 (2023)
Publisher : Lafadz Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47353/ijedl.v1i5.32

Abstract

One class dominates or is supported across numerous social aspects in hegemony. This study used critical discourse analysis to analyze data. This research aimed to analyze social hegemony in Indonesian literary criticism course materials. Thus, this study formulated problems as follows. (1) Social hegemony in Indonesian literary criticism course materials. (2) Persuasive cultural hegemony in Indonesian literary criticism course materials (3) Power hegemony in Indonesian literary criticism textbooks. In Indonesian literary criticism course materials, discursive practices, social identity, and social interaction are dialectical. Literary discourse is examined from three angles: the text, discourse practices, and the socio-cultural setting. Literary discourse as a manifestation of social interaction, its ability to regulate or manipulate behavior and material existence, and its role in establishing and maintaining power, status, and social roles are examined in the context of social hegemony. Critical examination of literary discourse in Indonesian literary criticism course materials is possible by considering cultural hegemony. According to the first assumption, symbols create meaning. b) Indonesian literary criticism textbooks link knowledge to values. Indonesian literary criticism course materials include cultural discourse from several fields. The hegemony of power is examined in Indonesian literary criticism course materials. a) Authority affects daily life. Power is coercive. Indonesian literary criticism course materials allow readers to criticize and disrupt social, cultural, and authority systems through literary discourse.
GINOKRITIK DALAM PERHIMPUNAN GUNAWAN BAGI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN KARYA KHATIJAH TERUNG Nureza Dwi Anggaeni; Siti Gomo Attas
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 18 No 1 (2022)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/0s9hzy37

Abstract

Khatijah atau lebih dikenal Khatijah Terung adalah salah satu penulis perempuan dalam tradisi sastra Melayu klasik Riau Lingga. Sebagai salah satu anggota kerajaan karena dinikahi oleh cucu Raja Ali Haji, hidupnya dikelilingi oleh tradisi sastra yang baik. Namun, namanya tidak diketahui dalam sejarah sastra Melayu klasik. Dengan menggunakan perspektif sastra feminis ginokririk, penelitian ini mengkaji eksistensi Khatijah Terung, khususnya dalam menulis Perhimpunan Gunawan bagi Laki-Laki dan Perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perhimpunan Gunawan bagi Laki-Laki dan Perempuan ditulis oleh Khatijah Terung untuk memberikan pemahaman kepada perempuan, para istri khususnya, bahwa kebahagiaan rumah tangga juga berada pada kuasa perempuan. Oleh karena itu para perempuan diajarkan untuk mendapatkan kepuasan seksual dengan melayani suaminya. Bukan hanya memberi kepuasan, tetapi juga mendapatkan kebahagiaan. Meskipun karya ini erotika, Khatijah Terung mengemas dalam bentuk pantun dan syair serta ditambahkan narasi. Hal ini membuat Khatijah Terung menjadi perempuan Melayu pertama pada awal abad ke 20 yang menyatakan secara terus terang tentang apa yang boleh mereka lakukan untuk membuat laki-laki atau suami merasa terangsang dan menyayangi mereka. Walau bagaimanapun, karya semacam ini luar biasa dan sangat jarang ditulis oleh perempuan.
UPAYA PELESTARIAN PALEMBANG (ALUS) BEBASO Indah Windra Dwie Agustiani; Siti Gomo Attas; Novi Anoegrajekti
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 18 No 2 (2022)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/23n9tc13

Abstract

Bahasa tidak terpisahkan sebagai bagian dari suatu budaya. Palembang memiliki 2 macam bahasa bahasa sari-sari atau bahasa Pasaran dan bahasa alus bebaso. Saat ini masyarakat Palembang cenderung menggunakan bahasa sehari sehari dengan dialek penggunaan ‘O’ seperti apa menjadi apo dan kenapa menjadi ngapo. Tujuan artikel ini untuk membuat pemahaman kepada masyarakat tentang asal usul Bahasa Palembang Bebaso dan menelusuri upaya-upaya yang pernah ada dalam melestarikan Bebaso sampai saat ini. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Wawancara dan studi Pustaka digunakan sebagai teknik pengumpulan data. Data dianalisis dengan cara di deskripsikan untuk dapat ditarik kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah (1) Palembang Alus bebaso memang tidak dapat terlepas dengan pengaruh pulau Jawa, karena setelah runtuhya kerajaan Demak, bangsawan Demak kembali ke Palembang meneruskan Kesultanan Aria Damar atau Aria Dilla. Kesultanan Palembang terbentuk sehingga penggunaan bahasa jawa dijadikan bahasa resmi kesultanan sehingga terjadilah akulturasi budaya bahasa jawa dan melayu yang membentuk bahasa baru yaitu bahasa alus Palembang atau bebaso (2) Bebaso masih sering dipakai pada tahun 1970-1980 dan menginjak tahun 2000 masyarakat Palembang sangat jarang menggunakannya. (3) Upaya yang pernah ada untuk melestarikan bebaso adalah adanya pertunjukan wayang Palembang, dibuatnya Syair penggiring tari sondok Piyogo dari pihak Kesultanan Palembang Darussalam, adanya lagu lagu daerah seperti Cek Ayu dan Bandel Hakiki, adanya penelitian yang mengusulkan penggunaan Bebaso sebagai muatan lokal, pembuatan kamus Bebaso dan pembuatan buku ilustrasi interaktif tentang Bebaso: Bahasa Palembang Alus untuk anak-anak dan adanya komunitas bahasa daerah di Palembang yang mempelajari Bebaso.
Systematic Journal Review: Literasi Kritis sebagai Strategi Menghadapi Brain Rot pada Anak Remaja Awal Switia Dewi Quraisyin; Eva Leiliyanti; Siti Gomo Attas
SOSMANIORA: Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sosmaniora.v5i1.7604

Abstract

The rapid development of digital technology and the high intensity of social media consumption among early adolescents have contributed to the emergence of brain rot, which negatively affects cognitive functioning. This condition highlights the urgency of examining critical literacy as an educational strategy to strengthen adolescents’ cognitive resilience. This study aims to systematically analyze the role of critical literacy in addressing brain rot among early adolescents based on recent scientific evidence. This study employed a systematic journal review design guided by the PRISMA framework. Relevant articles were retrieved from multiple international and national databases using strict inclusion criteria. A total of ten primary studies were analyzed through thematic synthesis. The findings indicate that excessive digital media consumption is associated with decreased attention, memory impairment, and shallow cognitive engagement among early adolescents. Critical literacy was found to enhance reflective and evaluative thinking as well as awareness of algorithmic manipulation in digital media. Moreover, the integration of critical literacy supports improved self-regulation and cognitive resilience. In conclusion, critical literacy represents an effective preventive and corrective strategy in addressing brain rot among early adolescents.