Claim Missing Document
Check
Articles

Kajian Pustaka: Enterotoxemia pada Kambing Rastiti, Ni Made; Wardani, Putu Intan Kusuma; Diana, Kadek Leni Martha; Burhan, Haris; Yogiana, Wayan; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.755

Abstract

Enterotoxemia adalah gangguan pencernaan akibat penyerapan racun yang dihasilkan oleh spesies genus Clostridium perfringens yang merupakan flora normal dalam saluran pencernaan kambing, akan tetapi bisa menyebabkan masalah apabila jumlahnya berlebihan. Enterotoxemia menjadi salah satu ancaman bagi ternak kambing karena dapat menyebabkan kematian mendadak pada semua kelompok umur. Prevalensi tingkat enterotoxemia berkisar antara 24,13% sampai 100% dan dilaporkan dari berbagai negara di seluruh dunia. C. perfringens diklasifikasikan menjadi lima tipe toksin (A, B, C, D, dan E) menurut produksi empat racun utama, yaitu alpha (CPA), beta (CPB), epsilon (ETX), dan iota (ITX). C. perfringens tipe D merupakan penyebab umum kematian kambing di seluruh dunia. Kehadiran C. perfringens tipe D yang meningkat di usus kecil bersama dengan perubahan mendadak ke diet kaya karbohidrat, pengenalan rumput subur atau tumbuhan lain, dan stres adalah faktor predisposisi utama penyakit ini. Penyebab predisposisi enterotoxemia terjadi yaitu konsumsi pakan yang berlebihan sehingga menyebabkan gangguan pencernaan dan menciptakan lingkungan yang ideal untuk mikroorganisme C. perfringens tipe D berkembang di usus hewan dan pelepasan racun yang menyebabkan penyakit pada inang. Proliferasi C. perfringens yang diikuti dengan produksi toksin dapat merusak jaringan tubuh di sekitarnya, sehingga memudahkan penyebaran. Gejala keracunan karena enterotoksin C. perfringens dapat berupa nyeri perut bagian bawah, diare dan pengeluaran gas, serta jarang disertai dengan demam dan pusing. Perawatan harus difokuskan pada menghambat proliferasi bakteri, mencegah penyerapan racun dari usus, menetralkan racun yang sudah diserap (seroterapi), dan pengobatan tambahan untuk melawan dehidrasi, asidosis, dan syok.
Laporan Kasus: Infeksi Saluran Pernapasan Atas pada Kucing Kampung Putri, Dwi Aprilia; Anthara, Made Suma; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (3) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.3.451

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) merupakan suatu penyakit yang menyerang saluran pernapasan. Kucing kasus adalah seekor kucing kampung/domestik bernama Cimoy, berjenis kelamin betina dengan umur 18 bulan dan memiliki bobot 2,7 kg, rambut berwarna cokelat-hitam, dan belum divaksin. Kucing mengalami keluhan mengeluarkan leleran berwarna kuning dari hidung dan berbau busuk, kucing dalam keadaan lemas, muntah, sesak napas, dan mengalami bersin-bersin semenjak sepuluh hari sebelum dilakukan pemeriksaan. Inspeksi dilakukan pada kucing kasus teramati mengalami sesak napas yang dapat dilihat dari cepatnya gerakan toraks, mukosa mulut berwarna merah muda pucat. Palpasi pada bagian trakea menunjukkan respons nyeri dan batuk, turgor kulit kucing kasus melambat dan limfonodus mandibularis mengalami pembengkakan pada bagian kiri. Auskultasi dan perkusi dilakukan pada daerah paru (toraks) dan terdengar bunyi vesikuler dan tidak terdengar suara abnormalitas. Pemeriksaan x-ray dilakukan dan ditemukan adanya penyempitan pada trakea. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan sel darah merah mengalami makrositik hiporomik dengan kenaikan jumlah MCV (69,3 fL; nilai referensi, 39-52 fL) dan penurunan jumlah MCHC (250 g/L; nilai referensi, 300-380 g/L), penurunan jumlah PLT (62x10^9/L; nilai referensi, 100-514x10^9/L) yang mengindikasikan terjadinya trombositopenia dan penurunan jumlah PCT (0,060%; nilai referensi, 0,1-0,5%) yang mengindikasikan terjadinya reaksi inflamasi. Kucing kasus didiagnosis mengalami ISPA yaitu rhinofaringitis dan stenosis trakhea. Penanganan dilakukan pemberian obat antiradang nonsteroid berupa asam tolfenamat dengan jumlah pemberian 0,27 mL (q24h secara IM), pemberian antibiotik cefotaxime dengan jumlah pemberian 1,08 mL (q12h secara IM), pemberian multivitamin dengan jumlah pemberian 3 mL (q24h secara SC) dan dilakukan nebulizer dengan salbutamol sulfat dengan jumlah pemberian 1 mL+5 mL NaCl (q24h) dan pemberian obat jalan berupa doksisiklin tablet dengan dosis 5 mg/kg BB (q12h secara PO). Pada hari ketujuh leleran dari hidung kucing sudah sangat berkurang, sesak napas sudah tidak teramati lagi walaupun nafsu makan belum kembali seperti semula.
Laporan Kasus: Penanganan Skabiosis pada Kucing Domestik dengan Terapi Kombinasi Ivermectin dan Sabun Sulfur Ningrum, Ni Made Adinda Arya; Batan, I Wayan; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (5) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.5.657

Abstract

Skabiosis pada kucing merupakan penyakit yang menular disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei dari genus Sarcoptes. Laporan kasus ini bertujuan untuk mengetahui diagnosis pada penyakit skabiosis dengan metode superficial skin scraping dan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan hematologi rutin. Seekor kucing domestik diperiksa di Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan anamnesis mengalami kerontokan dan gatal-gatal. Hasil pemeriksaan klinis terdapat hiperkeratosis pada telinga, krusta pada telinga luar, dan leher, alopesia pada regio leher disertai eritema pada wajah dan leher. Kucing menunjukkan gejala pruritus skor 8/10 dengan menggaruk-garuk daerah telinga dan tengkuk. Pemeriksaan skin scraping di bawah mikroskop ditemukan tungau dan telur dari Sarcoptes scabiei. Hasil dari pemeriksaan hematologi rutin diperoleh peningkatan White Blood Cell (WBC) dan granulosit, sedangkan nilai platelet dan plateletcrit (PCT) mengalami penurunan. Hal ini menginterpretasikan bahwa kucing kasus mengalami leukositosis, granulositosis, dan trombositopenia. Kucing kasus didiagnosis mengalami skabiosis dengan prognosa fausta. Pengobatan menggunakan ivermectin 0,02 mg/kg BB secara subkutan dengan dua kali pemberian pada interval 14 hari dan sabun sulfur digunakan untuk mandi dua kali seminggu. Terapi simptomatik berupa diphenhydramine HCl 1 mg/kg BB secara intramuskular satu kali pemberian selama dua hari berturut-turut dan terapi suportif diberikan fish oil satu kapsul sehari selama 30 hari. Dari penggunaan terapi tersebut menunjukkan hasil yang baik dengan ditandai perubahan pada area lesi yang menunjukkan kesembuhan pada hari ke-7 pasca pemberian terapi.
Laporan Kasus: Dermatofitosis Akibat Infeksi Jamur Curvularia sp. pada Kucing Peranakan Persia Patabang, Denselina Lilis; Anthara, Made Suma; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (4) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.4.563

Abstract

Dermatofitosis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi jamur. Tujuan dilakukan pemeriksaan pada kucing kasus adalah untuk mengetahui genus jamur penyebab dermatitis pada kucing. Pada pemeriksaan fisik, ditemukan adanya tanda klinis seperti pruritus, eritema, alopesia, scale/sisik disertai kulit yang lembap pada area telinga dan wajah. Kemudian bagian lesi tersebut dilakukan pemeriksaan dengan tape smear yang menunjukkan hasil adanya jamur Curvularia sp., pemeriksaan diteguhkan dengan melakukan kultur pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) dan menunjukkan hasil positif. Pemeriksaan hematologi menunjukkan terjadinya penurunan nilai hemoglobin, MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration), dan trombositopenia serta peningkatan nilai MCV (Mean Corpuscular Volume). Pengobatan yang diberikan yaitu antijamur itraconazol 5mg/kg BB satu kali sehari selama 14 hari per oral, multivitamin B kompleks satu kali sehari selama 10 hari per oral, minyak ikan satu kali sehari selama 14 hari, dan mandi sabun yang mengandung asam salisilat satu kali sehari dalam seminggu secara topikal. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang dapat disimpulkan kucing peranakan persia bernama Tom didiagnosis mengalami dermatofitosis akibat infeksi jamur Curvularia sp. Evaluasi selama 14 hari pengobatan, pruritus menghilang, kulit area telinga yang awalnya eritema, lembap dan alopesia mulai merendah kemerahannya, kulit yang lembap mengering dan ditumbuhi rambut. Pada area wajah eritema telah menghilang dan mulai ditumbuhi rambut.
Kajian Pustaka: Obstruksi Esofagus oleh Benda Asing pada Ternak Sapi Betina dari Berbagai Ras Harvani, Bq.; Al Ma'arif, M. Farhan; Sari, Yeni Ratna; Lailia, Milda; Ningrum, Ni Made Adinda Arya; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 12 (6) 2023
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/imv.2023.12.6.897

Abstract

Obstruksi esofagus adalah suatu kondisi abnormal akibat adanya penyempitan atau penyumbatan saluran kerongkongan/esofagus. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui metode diagnosis dan cara-cara penanganan pada kasus obstruksi esofagus. Penyumbatan pada esofagus dapat disebabkan oleh tertelannya benda asing. Penyumbatan esofagus yang telah lama terjadi dapat menyebabkan kembung/bloat pada rumen dan retikulum penderita karena hewan sulit untuk melakukan sendawa/eruktasi gas yang umum dilakukan oleh hewan ruminansia besar. Tanda klinis yang diderita hewan bervariasi berdasarkan penyebab dan letak terjadinya obstruksi, tetapi tanda klinis yang umum ditemukan ialah hewan terlihat gelisah, hipersalivasi, penurunan nafsu makan, dan anoreksia. Dari lima kasus yang dibahas dalam artikel ini, peneguhan diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan menggunakan sonde lambung atau stomach tube/oro-ruminal probe. Hasil pemeriksaan umumnya menunjukkan adanya massa yang menghambat masuknya stomach tube menuju rumen. Penanganan pada kasus obstruksi esofagus adalah dengan cara mengupayakan secara manual dengan mendorong benda asing masuk ke rumen atau dengan pembedahan. Empat dari lima kasus yang dilaporkan penanganannya dilakukan dengan pembedahan, satu di antaranya mengalami kematian saat dilakukan pemeriksaan penunjang. Untuk pengobatan pascaoperasi, pasien diberikan secara paraenteral sediaan antibiotik seperti penicillin-streptomycin serta meloxicam sebagai anti radang. Diagnosis obstruksi esofagus dapat ditegakkan berdasarkan riwayat, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan penunjang seperti endoskopi, sedangkan penanganannya dapat dilakukan dengan pemijatan esofagus eksternal, penggunaan nasogastric tube, tabung endotrakeal, endoskopik, dan pembedahan.
Sindrom Pernapasan Akut Parah Akibat Infeksi Virus Corona-2 (Sars Cov-2) pada Kucing Bengal Puri Prihatiningsih, Nur Liliana; Sri Kayati Widyastuti; I Wayan Batan
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 11 No. 1 (2023): Maret 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.11.1.26-33

Abstract

Sindrom pernapasan akut yang parah coronavirus-2 (SARS CoV-2) adalah agen etiologi covid-19 merupakan agen jenis baru yang sebelumnya belum pernah diidentifikasi pada manusia atau hewan, juga tidak terkait dengan virus corona kucing (FCoV) yang umum terjadi terkait dengan infeksi peritonitis kucing. Seekor kucing bengal betina steril bernama Inka berumur 8 tahun 7 bulan dengan bobot 5,45 kg dibawa ke klinik dengan keadaan terdapat luka terbuka di dekat anus dan ekor. Setelah 5 hari perawatan di klinik, kucing mengalami gejala bersin, batuk, adanya leleran pada mata, dan juga terdapat perubahan pada konsistensi feses. Pemeriksaan hematologi rutin ditemukan peningkatan jumlah total leukosit dan neutrofil serta penurunan platelet. Pada pemeriksaan biokimia darah ditemukan kenaikan aktiva Alanine Aminotransferase. Hasil pemeriksaan rapid tes antigen dan Reverse Trancription Polymerase Chain Reaction menunjukkan kucing positif SARS Cov-2. Berdasarkan anamesis, gejala klinis dan pemeriksaan laboratoris kucing didiagnosis SARS Cov-2. Penanganan yang dilakukan dengan memberikan nebulasi Ventolin® sebanyak 1,25mL, Pulmicort® sebanyak tiga tetes, dan gentamycin 0,1 mL. Kucing mengalami perbaikan klinis pada hari ke-21 dan dinyatakan sembuh dari SARS Cov-2 pada hari ke-32.
Rhipicephalus sanguineus Infestation with Ehrlichiosis in Shitzu-Pomeranian Crossbred Dogs Treated using Red Fermented Rice: A Case Report Diana, Kadek Leni Martha; Jayanti, Putu Devi; Batan, I Wayan
Jurnal Medik Veteriner Vol. 6 No. 2 (2023): October
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jmv.vol6.iss2.2023.303-311

Abstract

This report aimed to provide information on the diagnosis, treatment, and therapeutic evaluation of Ehrlichiosis in crossbreed dogs treated using red fermented rice. A Shitzu-Pomeranian crossbreed was indicated with decreased appetite, weight loss, and the presence of high levels of pruritus due to suffering from blood parasites. Physical examination showed an infestation of Rhipicephalus sanguineus around the eyes and back area. A complete hematological examination and blood smear showed leukocytosis, lymphocytosis, thrombocytopenia, increased granulocytes, and the presence of intracytoplasmic bodies in monocytes. The results of the examination using the test kit showed that the sample was positive for Ehrlichiosis. Treatment using Doxycycline (5 mg/kg BW, for 28 days), Ivermectin 1% (0,2 ml SC), Diphenhydramine HCl 10 mg/kg (1,1 ml IM), Chlorpheniramine maleate (1 tablet/day for 14 days), Vitamin B12 (1 tablet/day for 28 days), and 5 ml of red fermented rice solution twice a day for 21 days. After 21 days, the whole treatment reported the appetite returned to normal, reduced infestation of R. sanguineus, and reduced frequency of pruritus.
LAPORAN KASUS: KESEMBUHAN ENTERITIS HEMORAGIKA PADA ANAK ANJING KACANG YANG TERINFEKSI CANINE PARVOVIRUS Purwitasari, Made Santi; Soma, I Gede; Batan, I Wayan
JURNAL KAJIAN VETERINER Vol 10 No 1 (2022): Jurnal Kajian Veteriner
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jkv.v10i1.6290

Abstract

Canine parvovirus (CPV) is an infectious disease with clinical signs of bloody diarrhea (hemorrhagic enteritis) which is cause of death in infected dogs. A five-month-old female local dog with a weight of 4.3 kg, black and white coat on the ventral side came to the Rumah Sakit Hewan Pendidikan, Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University with complaints of weakness, loss of appetite since the day before and vomiting in the morning of the examination. The dog is rescued and never been vaccinated before. Clinical examination showed weakness such as holding pain, pink pale eye mucosae, delayed skin turgor, Capillary Refill Time (CRT) more than two seconds, and increased respiratory rate. Dogs do not respond to handfeeding. On observation the dog experienced clear and foamy vomiting and foul-smelling bloody diarrhea. The native stool faecal examination showed negative results, while the CPV antigen rapid test examination showed positive results. Complete blood count showed that on the first day of hospitalization the dog had leukopenia, granulocytopenia, hyperchromic normocytic anemia and thrombocytopenia. The dog was diagnosed with CPV with a dubious prognosis. Dogs were given fluid therapy using sodium chloride 0.9% infusion and vitamin B complex, anti-emetic ondansetron, antibiotic cefotaxime, and vitamin K. Dogs were also treated with traditional medicine Fu Fang 1 mL and trigona honey 1 mL. Dogs are given a special feed Hills Prescription Diet A/D Urgent Care. The dog's condition improved after offering therapy for seven days and the dog was declared cured and could be sent home on the ninth day.
Urine Chemical Profile of Boerka Crossbreed Goats of Indonesia at Sanda Village, Tabanan, Bali Freitas, Merlinde da Costa; Batan, I Wayan; Pemayun, I Gusti Agung Gde Putra
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis Vol 10, No 1 (2023): JITRO, January
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jitro.v10i1.28448

Abstract

Boerka Goat is a small ruminant that has the potential to be developed to meet the demand for goat meat products. One of the methods to examine livestock health is through urinalysis. Qualitative urinalysis testing includes an examination of leukocytes, protein, bilirubin, urobilinogen, ketones, nitrites, pH, specific gravity, red blood cells, and glucose. This research aims to identify the chemical profile of boer-kacang goat urine chemical profile. During analysis a total of 16 urine sample of boer-kacang crossbreed goats from Walung Amertha Farm, Sanda Village, Pupuan, Tabanan were analyzed.  The urine samples taken were midstream urine. Sampling was carried out once then continue with the dipstick testing about three times on each sample.  The analysis data were tabulated and averaged before be presenting in a tabular form with descriptive analysis.  The results of the study on the chemical profile of boerka goat urine showed leukocytes positive1+ in 19% goats, bilirubin 1+ in 13% goats, nitrite positive in 6% goats, positive red blood cells in 13% goats, while the specific gravity with an average of 1.002 and the average value of pH with 8.25.  Based on the research, it concludes that the urine chemical profile of boer-kacang goat positively contains erythrocytes, leukocytes, bilirubin, and nitrite although other profiles such as protein, urobilinogen, ketones, and glucose is undetected.  Urine specific gravity measured using a dipstick was 1,000-1,010 whereas the acidity level/pH is normal.
Co-Authors - HERBERT Abdul Azis Nasution Abdul Azis Nasution Abdul Azis Nasution Abriansyah, Mohammad Ghaiz Adrian Hasan Rahmatullah Adryani Ris Agung, Mochamad Bale Aida Lousie Tenden Rompis Ainaya Luthfi Anindya Aisjiah Girinda Akbar, Muhammad Wilmar Al Ma'arif, M. Farhan Amar Wira Anindya, Ainaya Luthfi Annas Farhani Apsari, Ni Wayan Diah Archie Leander Maslim Ariandoko, Ariandoko Arief Boediono Azizah, Hidayatul Baiti, Nur baskaradwaja, i gede mardawa Berutu, Fazral Anshari Betharia Criselda Fanggidae Bhala, Anastasia Bibiana W Lay BIBIANA W LAY Bili, Maria Dolorosa Leta Bolla, Nelci Elisabeth Br Sembiring, Irene Cristina Bravanasta Glory Rahmadyasti Utomo Budiartawan, I Komang Alit Burhan, Haris Calvin Iffandi Calvin Iffandi Calvin Iffandi Caroline, Grace Christiani, Zefanya Coornelia, Gledys Daud, Richard Christian Dayanti, Marissa Divia Dharmawan, I Wayan Chandra Dhayanti, Ni Luh Evy Dhika, I Gede Abijana Satya Diana Mustikawati Diana, Kadek Leni Martha Distira, Luh Ayu Yasendra Ekowati Handayani Eldarya Envisari Depari Elpira Sukaratha, Elpira Emy Sapta Budiari Ene, Theresia Eustokia Yulisa Madu, Eustokia Yulisa FERDANIAR FAKHIDATUL ILMI Findri Andriani, Findri Firdaus, Muchammad Wildan Florensia, Dheadora Freitas, Merlinde da Costa Ginting, Regina Bonifasia Br Harvani, Bq. Harvani, Bq. Harvani Herbert . Herbert . Hernomoadi Hoeminto Humaira, Sarah Hutagaol, Wanda Della Oktarin I Gede Soma I Gusti Agung Gede Putra Pemayun I Gusti Made Krisna Erawan I Ketut Gunata I Ketut Suada I Ketut Suatha I Made Kardena I Made Suma Anthara i Nengah Wandia I Nyoman Suarsana I Nyoman Suartha I Putu Cahyadi Putra, I Putu Cahyadi I Putu Gede Yudhi Arjentinia I Putu Sampurna I Wayan Syartama Hadi Nugraha I Wayan Wirata Ida Bagus Ketut Indra Permana Ihtifazhuddini, Fiqi Manaya Tibyana Imam Sobari imam sobari Indrawan, Hieronimus INNA RAKHMAWATI Islamiati, Feren Salsabila Ita Djuwita Juniartini, Wieke Sri Kadek Karang Agustina Kakang, Dorteany Mayani Ketut Adnyane Mudite Kusumaning Arumsari Wimbavitrati Lailia, Milda Lase, Linus Putra Jaya Lestari, Devi Latifah Puji Luh Putu Listriani Wistawan Made Suma Anthara Maha Arta, I Komang Wira Kusuma Maha Putra, Anak Agung Gede Wahyu Mahaputra, I Made Mahasanti, I Gusti Puji Ayu Mahindra, Aditya Try Makrina Weni Misa Maranata, Pieter Mbolo Margaretha, Aloysiana Mas ruroh, Mas Mesquita, Nelviana Minda Nealma Mochammad Imron Awalludin Mu'ayyanah, Siti Muazdzam Lil Abrori Narendri, Kadek Anggita Puspa Natalia, Grace Kristin Nazara, Agustina Lesmauli Ni Nyoman Sutiati Ni Nyoman Widiasih Ni Wayan Listyawati Palgunadi Ni Wayan Listyawati Palgunadi Ni Wayan Sri Wiyanti Nicolas Yarisetouw, Nicolas Ningrum, Ni Made Adinda Arya Nining Handayani Nining Handhayani Novianti, Syinthia Arya Nugraha, Elisabeth Yulia Nurmayani, Seli Nurrohman, Fahmi Galuh NURUL FAIZAH Nurul Faiziah Nurul Faiziah Nurul Masyita, Nurul Oktaviviani, Syafiana Fairizca Paramita, Putu Wahyuni Patabang, Denselina Lilis Permatasari, Serly Nur Indah PRANSIKA EKSY YONITA Pratama, Rendi Tegar Priharyanthi, Luh Komang Ayu Puteri Puri Prihatiningsih, Nur Liliana Purwitasari, Made Santi Pusparini, Ni Putu Dyah Prashanti Putera, I Gusti Ngurah Dwipayana Putra, Widihantoro Gunawan Putri, Dwi Aprilia Putu Ayu Sisyawati Putriningsih Putu Devi Jayanti Putu Wirat Qutrotu ain, Salsabila R, Ni Wayan Ayu Rasdi yanah Rasdiyanah . Rasdiyanah . Rastiti, Ni Made Remontara, Al Afuw Niha Resman, Martin Pedro Krisenda Ridwan, Isabella Anjari Riesta, Baiq Deby Aprila Riza, Devand Ainur Robi, I Made Ruslie, Sabella Ivana Sadipun, Elizabeth Liliane Sari, Yeni Ratna Sayu Raka Padma Wulan Sari, Sayu Raka Padma Wulan Septianingsih, Rayni Septianira, Firnanda Silaban, Root Elisa Sousa, Rojelio Dias Trindade Sri Kayati Widiastuti, Sri Kayati Sri Kayati Widyastuti Sri Milfa Sri Milfa Sukoco, Hendro Supar - Supar . Suprabha, Kadek Dewi Suwartama, Beny Takariyanti, Dzikri Nurma'rifah Tama, Kevin Tri Tjokorda Sari Nindhia Umi Reston Utami, IGA Monica Rizki Utomo, Bravanasta Glory Rahmadyasti Utomo, Kurniawan Cahyo Wahono Esti Prasetyaningtyas Wahono Esti PrasetyoningtyaserB Wardani, Putu Intan Kusuma Wirawan, I Gede Yogiana, Wayan Yundari, Yundari Yunita Lestyorini Yunita Lestyorini