Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS KEMAMPUAN KOGNITIF DAN MISKONSEPSI GURU SEKOLAH DASAR PADA PEMBELAJARAN IPA MATERI FOTOSINTESIS AGUSTIN WULANDARI; Sumarno; Joko Siswanto
IBTIDAI'Y DATOKARAMA: JURNAL PENDIDIKAN DASAR Vol. 3 No. 2 (2022): Jurnal Ibtidaiy Datokarama: Jurnal Pendidikan Dasar
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/ibtidaiy.Vol3.Iss2.45

Abstract

Tujuan pendidikan nasional Indonesia salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mewujudkan tujuan tersebut para guru diharuskan mempunyai pemahaman yang baik terhadap konsep-konsep dasar suatu bidang ilmu. Namun kenyataanya, pemahaman guru sekolah dasar terhadap konsep-konsep pembelajaran IPA masih sangat rendah. Banyak ditemukan berbagai kesalahan pada pemahaman guru sekolah dasar terhadap suatu konsep ilmu (miskonsepsi). Tidak jarang juga ditemukan guru yang sama sekali tidak paham mengenai konsep yang akan diajarkannya kepada peserta didik. Keadaan yang seperti ini apabila terus dibiarkan tanpa ditindaklanjuti maka akan berdampak pada penurunan kualitas pembelajaran dan tentunya pemahaman yang keliru ini terus terjadi pada diri peserta didik sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan kognitif dan kaitannya dengan miskonsepsi pembelajaran IPA materi fotosintesis pada guru sekolah dasar. Metode penelitian yang digunakan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan objek penelitian yaitu guru sekolah dasar di SPF-SDN Kupang 01. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah There Tier-Test yang digunakan untuk mengidentifikasi miskonsepsi yang terjadi pada calon guru SD. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum guru sekolah dasar mengalami miskonsepsi pada materi fotosintesis dengan persentase sebesar 56,57% dan hanya 38% yang sudah memahami konsep pada materi fotosintesis. Selebihnya terdapat miskonsepsi (false negative) sebesar 1,33% dan miskonsepsi (false positive) sebesar 4%. Dengan demikian, diperlukan suatu upaya yang serius yaitu dengan mengikuti berbagai seminar ilmiah sains atau menambah literasi sains dengan banyak membaca buku sehingga pemahaman guru SD akan semakin baik khususnya pada konsep-konsep materi fotosintesis
EFEKTIVITAS MODEL CIRCUIT LEARNING BERBANTU MEDIA DIORAMA MEMPENGARUHI MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS V Dyah Saraswati; Sumarno Sumarno; Anggun Dwi
JURNAL SINEKTIK Vol 3 No 1 (2020): JURNAL SINEKTIK:JUNI-2020
Publisher : FKIP, PGSD, Universitas Slamet Riyadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33061/js.v3i1.3763

Abstract

This research aimed to determine the effectiveness of circuit learning model assisted by diorama media for influencing the motivation and learning outcomes of class V on theme 7 at SDN Mangunharjo. This research used Pre-Experimental design, One Group Pretest-Posttest Design. The population of all class V students in SDN Mangunharjo numbered 35 by using nonprobality sampling techniques with saturated sampling types. The average score of pretest motivation was 60.17 and the posttest average was 80.53. The average value of the pretest of the results of learning outcomes is 57.94 and the posttest averages 84.34. This is evidenced by the results of the motivation t-test where tcount (14.31)> ttable (1.69). Calculation of t-test results of learning where tcount (13.28)> ttable (1.69). This is also supported by N-Gain motivation and learning outcomes that show criteria of moderate to high. The concluded that the circuit learning model assisted by diorama media effectively influences the motivation and learning outcomes of the fifth grade students of Mangunharjo Elementary School Semarang.
STUDI KOMPARASI KEEFEKTIFAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) DAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DITINJAU DARI KEMAMPUAN DAN SIKAP PEMECAHAN MASALAH PADA PEMBELAJARAN TEMATIK Sri Ratna Pratiwi; Sumarno; Aryo Andri Nugroho
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 9 No. 1 (2023): Volume 09 No 01, Maret 2023
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v9i1.713

Abstract

The purpose of this study was to compare the effectiveness of the Think Pair Share (TPS) learning model with the Problem Based Learning (PBL) learning model in terms of problem solving abilities and attitudes in thematic learning class IV Theme 8 Sub theme 3 Learning 3. This research is a comparative research that compares the results research on the ability and attitude of problem solving in the experimental class 1 (SD Negeri Kalibalik 01) with the TPS model and the experimental class 2 (SD Negeri Sembung 02) with the PBL model. The data collection instruments used were problem-solving ability assessment sheets, problem-solving attitude observation sheets, self-assessment sheets for problem-solving attitudes, peer-to-peer assessment sheets for problem-solving attitudes. This instrument was developed based on the supervisor's review, the assessment of expert lecturers and practitioners. Based on the assessment of problem solving abilities, an average value of 69 was obtained in the experimental class 1 with the TPS model and an average value of 81 in the experimental class 2 with the PBL model. The results of the assessment of problem solving attitudes in the TPS class which consisted of 18 students had an average score of 81.18 from observations, 58.72 and 57.83 for assessments between friends and self-assessment of problem solving attitudes. While the results of the attitude assessment in the PBL class which consisted of 16 students had an average score of 85.62 from observations, 61.18 and 60.06 from assessments between friends and self-assessment of problem solving attitudes. For the effectiveness test used is the normality test, homogeneity test and the Independent Sample t-Test. The results of the normality test have a significance value of more than 0.05, so H0 is accepted, which means that the data is normally distributed. The results of the homogeneity test obtained a significance value of more than 0.05 so that H0 was accepted which means that the two classes were homogeneous or there was no difference in variance. The test results of the Independent Sample t-Test show that the significance of 2-tailed is less than 0.05, so there are differences in problem solving abilities and attitudes of students in thematic learning using the TPS and PBL learning models
PENERAPAN PENDEKATAN TPACK UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS III SD NEGERI 1 KEMIRI Putri Dian Nusa; Sumarno Sumarno; Alimuddin Aziz
JURNAL HANDAYANI PGSD FIP UNIMED Vol 12, No 1: June 2021
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.597 KB) | DOI: 10.24114/jh.v12i1.26251

Abstract

Abstract : The purpose of this study was to describe the increase in activity and learning outcomes in third grade students of SD Negeri 1 Kemiri in online learning of Theme 8 Praja Muda Karana.The researcher applies the Technological, Pedagogical, and Content Knowledge (TPACK) approach to realize these two things. The subjects of this study were 15 third grade students of SD Negeri 1 Kemiri consisting of six boys and nine girls. This research data collection technique was carried out systematically by using observation sheets of learning activities and online-based evaluation tests. Based on learning observations in three learning cycles, the results in the third cycle showed that the TPACK approach was able to increase students' learning activities by 80% and the average cognitive learning outcomes reached 85.33 or 86.67% of the number of third grade students. With the findings and observations from the first cycle to the third cycle, there was a dominant increase and reached the success indicators set by the researcher. On this basis, the researcher concludes that by applying the TPACK approach in class III, it can increase students' activities and learning outcomes. Keywords: activity, learning outcomes, TPACK Abstrak : Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan aktivitas dan hasil belajar pada peserta didik kelas III SD Negeri 1 Kemiri pada pembelajaran daring Tema 8 Praja Muda Karana. Peneliti menerapkan pendekatan Technological, Pedagogical, and Content Knowledge (TPACK) untuk mewujudkan kedua hal tersebut. Subjek dari penelitian ini adalah 15 peserta didik kelas III SD Negeri 1 Kemiri yang terdiri dari enam laki-laki dan sembilan perempuan. Teknik pengumpulan data penelitian ini dilaksanakan secara sistematis dengan manggunakan lembar pengamatan aktivitas belajar dan tes evaluasi berbasis online. Berdasarkan pengamatan pembelajaran pada tiga siklus pembelajaran, hasil pada siklus ketiga menunjukkan bahwa melalui pendekatan TPACK mampu meningkatkan aktivitas belajar peserta didik sebesar 80% dan rata-rata hasil belajar kognitif mencapai 85,33 atau sebesar 86,67% dari jumlah peserta didik kelas III. Dengan temuan dan hasil pengamatan dari siklus pertama sampai siklus ketiga terjadi kenaikan yang dominan dan mencapai Indikator keberhasilan yang ditetapkan peneliti. Atas dasar tersebut, peneliti menarik simpulan bahwa dengan penerapan pendekatan TPACK pada kelas III dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik. Kata kunci : aktivitas, hasil belajar, TPACK
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN SAINTIFIK BERBASIS STEAM DAN LOOSE PARTS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF PADA SISWA Atik Wahidatul Hasanah; Sumarno; Ida Dwijayanti
Sinar Dunia: Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Ilmu Pendidikan Vol. 2 No. 1 (2023): Maret : Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Ilmu Pendidikan
Publisher : Universitas Maritim AMNI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1247.898 KB) | DOI: 10.58192/sidu.v2i1.503

Abstract

hasil analisis awal bahwa penggunaan model pembelajaran guru di RA Al Kautsar Kebonbatur Mranggen Demak masih sangat rendah sekali karena rata rata ada pada kategori kurang. Hal ini karena kebanyakan guru hanya melakukan pembelajaran dengen ceramah di depan dan menulis di papan tulis serta bernyanyi untuk menghidupkan suasana, pada pengamatan terhadap penggunaan alat bantu pembeljaaran ada pada kategori cukup ini artinya sudah ada alat bantu atau media pembelajaran, hanya kurang maksimal penggunaannya dan khusus alat bantu looseparts masih kurang. keaktifan belajar anak ada pada kategori kurang, hal ini disebabkan salama pembelajaran guru kurang dapat memberikan stimulasi secara tepat terhadap arah perkembangan kognitif anak sehingga keaktifan anak menjadi kurang, respon anak dalam pembelajaran ada pada kategori sangat kurang. Sedangkan keterlibatan anak dalam pembelajaran ada pada kategori kurang kemudian perkembangan kognitif anak ada pada ketegori kurang kemampuan kognitif diberbagai aspek masih kurang sekali seperti memecahkan masalah sederhana, berfikir logis sebab akibat, berpikir simbolik seperti konsep bialangan mengenal huruf dan lain sebagainya. Oleh sebab itu perlu dikembangkan model pembelajaran saintifik berbasis steam dan loose parts untuk meningkatkan kemampuan kognitif pada siswa.
Studi Komparasi Keefektifan Model PBL Dan AIR Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Asmuni; Joko Siswanto; Sumarno
JANACITTA Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.925 KB) | DOI: 10.35473/jnctt.v6i1.2024

Abstract

This study aims to prove whether there is a difference in the effectiveness of the Problem Based Learning (PBL) and Auditory, Intellectually and Repetition (AIR) models on students' critical thinking skills. This research is motivated by a problem in the education unit that many teachers have not used the PBL model according to Permendikbud No.22 of 2016. In learning theory, the PBL model can improve students' ability to think critically and solve problems in everyday life. The AIR model can improve students' ability to solve problems encountered in learning by listening to and repeating the material they have learned. The research used the Pretest-Postest Comparations Group Design method. The hypothesis test uses the Paired Sample Test Statistical Test, Independent t- Test and N-Gain Test. Statistical test with Paired level of significance for both class A and class B is 0.000 so that the two classes have no difference in students' critical thinking skills. In the t-Independent test, the significance level in class A and class B is 0.283, because 0.283 > 0.05, the two models are equally effective in improving students' critical thinking skills. With the N-Gain test in class A (PBL), the N-gain score for students' critical thinking skills was 0.7346 and the N-Gain Score in class B (AIR) was 0.4918. Based on the hypothesis test it was conclusively proven that class A using the PBL model was more effective than class B using the AIR model with a ratio of 0.7346 to 0.4918.   Penelitian ini bertujuan membuktikan ada tidaknya perbedaan  keefektifan antara model Problem Based Learning (PBL) dan Auditory,  Intelectually and Repetition (AIR) terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian ini dilatar belakangi karena masalah di satuan pendidikan banyak guru yang belum menggunakan model PBL sesuai Permendikbud No.22 Tahun 2016. Dalam teori belajar model PBL dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Model AIR dapat meningkatkan kemampuan siswa memecahkan masalah yang dihadapi dalam belajar dengan proses mendengar dan mengulang kembali materi yang dipelajarinya. Penelitian menggunakan metode Pretest-Postest Comparations Group Design. Uji Hipotesis menggunakan Uji Statistik Paired Sample Test, Uji t-Independent dan Uji N-Gain. Uji statistik dengan Paired tingkat signifikansinya baik kelas A maupun kelas B sebesar 0,000 sehingga kedua kelas tidak terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis siswa. Pada Uji t-Independent tingkat signifikansinya di kelas A maupun kelas B sebesar 0,283 , karena 0,283 > 0,05 maka kedua model juga dikatagorikan sama-sama efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Dengan uji N-Gain di kelas A (PBL), N-Gain skor kemampuan berpikir kritis siswa  sebesar 0,7346 dan N-Gain Skor di kelas B (AIR) sebesar 0,4918.  Berdasarkan uji hipotesis tersebut  terbukti secara meyakinkan bahwa kelas A dengan penggunaan model PBL lebih efektif dibanding kelas B yang menggunakan model AIR dengan perbandingan sebesar 0,7346 berbanding 0,4918.
Keefektifan Pembelajaran Lagsung Ditinjau dari Tujuan Pembelajaran Materi Listrik Dinamis Aninditya Kharisma Sari; Sumarno Sumarno; Maria Ulfah; Djoko Ichsanudin
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan ketercapaian tujuan pembelajaran yang dicapai peserta didik dalam penyelesaian soal pada materi listrik dinamis. Subjek data pada penelitian ini adalah peserta didik kelas IX H yang terdiri dari 27 anak. teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes dan dokumentasi, sedangkan bentuk instrument yang digunakan adalah soal evaluasi sebanyak 10 butir soal. Hasil analisis data berkaitan dengan ketercapaian indikator pencapaian kompetensi, maka diperoleh kesimpulan bahwa sebagian besar peserta didik sudah mencapai tujuan indikator pencapaian yang diukur. Hal itu terbukti dengan banyaknya peserta didik dalam menjawab soal dengan benar dan prosedur benar. Tetapi masih terdapat beberapa peserta didik yang menjawab salah dan prosedur benar, hal ini dapat dikarenakan peserta didik tersebut kurang teliti, serta masih ada beberapa peserta didik yang mengerjakan soal dengan salah dan prosedur yang dilakukan salah.
Penggunaan Aplikasi Canva pada Pembelajaran di Sekolah Dasar Anisatun Hidayatullah; Filia Prima Artharina; Sumarno Sumarno; Endang Rumiarci
Jurnal Educatio FKIP UNMA Vol. 9 No. 2 (2023): April-June
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/educatio.v9i2.4823

Abstract

Penggunaan media dalam pembelajaran sangatlah penting karena berguna untuk upaya meningkatkan mutu pendidikan. Kenyataan di lapangan menunjukkan kualitas pembelajaran masih sangat rendah. Rendahnya kualitas pada pembelajaran banyak dikarenakan oleh menurunnya minat dan motivasi belajar siswa. Kurang menariknya pembelajaran yang dibawakan oleh guru menyebabkan siswa merasa bosan mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Penggunaan Aplikasi Canva pada Pembelajaran di Sekolah Dasar. Penelitian ini berjenis penelitian kualitatif. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan aplikasi canva pada guru kelas V SD Negeri Sambirejo 02 Semarang dalam pembelajaran abad 21. Penggunaan aplikasi canva oleh guru kelas V SD Negeri Sambirejo 02 Semarang terlaksana dengan baik dan relevan dengan pembelajaran abad 21. Guru kelas V SD Negeri Sambirejo 02 Semarang menggunakan aplikasi canva untuk membuat media pembelajaran dalam bentuk presentasi pendidikan, lembar kegiatan peserta didik, lembar evaluasi. Pembelajaran abad 21 yang dilaksanakan oleh guru kelas V SD Negeri Sambirejo 02 Semarang membekali peserta didik keterampilan 4C yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan zaman. Dampak penggunaan aplikasi canva oleh guru kelas V SD Negeri Sambirejo 02 Semarang dalam pembelajaran abad 21 yaitu peserta didik menjadi aktif, peserta didik menjadi kreatif, dan peserta didik menjadi percaya diri.
Penggunaan Chromebook Pada Peserta Didik Kelas V SD Negeri Sambirejo 02 Semarang Ayu Puji Astuti; Suyoto Suyoto; Sumarno Sumarno; Endang Rumiarci
Jurnal Educatio FKIP UNMA Vol. 9 No. 2 (2023): April-June
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/educatio.v9i2.4825

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan Chromebook dalam pembelajaran IPA pada peserta didik kelas IV SD Negeri Sambirejo 02 Semarang. Fokus dari penelitian ini yaitu: 1) Langkah-langkah penggunaan Chromebook. 2) Perolehan belajar. Pendekatan penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan objek penelitian SD Negeri Sambirejo 02 Semarang. Subjek penelitian ini adalah: 1) Kegiatan pembelajaran dengan penggunaan Chromebook. 2) Peserta didik kelas IV 3) Guru Kelas IV. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Alat pengumpulan data adalah lembar observasi, pedoman wawancara dan dokumentasi. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Chromebook dalam pembelajaran IPAS meningkatkan perolehan belajar peserta didik kelas IV SD Negeri Sambirejo 02 Semarang. secara kualitatif, hal ini tampak dari hasil pengamatan dan hasil wawancara yang dilakukan bahwa sebagian besar peserta didik menyatakan senang terhadap penggunaan Chromebook dalam pembelajaran dan cukup memudahkan dalam memahami materi pembelajaran.
Model Storytelling Untuk Meningkatkan Ketrampilan Menyimak Dongeng Siswa Kelas III Sekolah Dasar Sri Mardiyanti; Sumarno Sumarno; Ida Wijayanti
Jurnal Insan Pendidikan dan Sosial Humaniora Vol. 1 No. 3 (2023): Agustus : Jurnal Insan Pendidikan dan Sosial Humaniora
Publisher : Universitas Katolik Widya Karya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59581/jipsoshum-widyakarya.v1i3.792

Abstract

This study aims to analyze the use of the storytelling method in improving the listening skills of class III students. The storytelling method was chosen because it can stimulate students' imagination and creativity, and help them understand and capture stories better. This study uses a qualitative approach. The research subjects consisted of 46 grade III students from 3 elementary schools. The research was conducted in three cycles, where each cycle consisted of planning, implementing, observing, and reflecting. The storytelling method is applied in each research cycle. Teachers use various storytelling techniques, such as the use of sound, movement, and visualization, to convey fairy tales to students. After each storytelling session, students are asked to do listening activities, such as answering questions about the story, retelling the story in their own words, or drawing story scenes. The results showed that the use of the storytelling method significantly improved the listening skills of grade III students. This improvement can be seen from significant changes in students' ability to understand stories, remember important details, and express their understanding orally and in writing. This study provides evidence that the storytelling method is effective in improving the listening skills of grade III students. It is hoped that this research can contribute to the development of interesting and interactive learning methods, as well as assist teachers in teaching and improve students' ability to listen and understand stories.