Claim Missing Document
Check
Articles

Model Pendidikan Di Negara Maju dan Berkembang Marleni, Linna; Pardini, Aan Soka; kristian, Deddi; Yudisman, Afrien; Asmara, Adi; Kashardi, Kashardi
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4161

Abstract

Pendidikan merupakan faktor kunci dalam membangun sumber daya manusia dan mendorong perkembangan sosial-ekonomi suatu bangsa. Penelitian ini membahas perbandingan sistem pendidikan antara negara maju dan negara berkembang dengan fokus pada enam aspek utama, yaitu akses pendidikan, kurikulum dan kualitas pembelajaran, profesionalisme dan kesejahteraan guru, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan, pendanaan pendidikan, serta sistem evaluasi dan penilaian. Hasil kajian menunjukkan bahwa negara maju seperti Finlandia, Jepang, dan Korea Selatan telah menerapkan kebijakan pemerataan pendidikan secara efektif, didukung oleh sistem pendanaan yang kuat serta distribusi sarana prasarana yang merata. Kurikulum berbasis kompetensi, STEM, dan pembelajaran kontekstual menjadi pendekatan utama dalam meningkatkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Guru memperoleh pelatihan profesional berkelanjutan serta kesejahteraan yang tinggi sehingga berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran. Pemanfaatan teknologi digital semakin memperkuat model pembelajaran inovatif yang adaptif terhadap kebutuhan siswa. Sebaliknya, negara berkembang seperti Indonesia, Nigeria, dan Filipina masih menghadapi ketimpangan akses pendidikan akibat kondisi geografis, ekonomi, dan infrastruktur yang belum merata. Kurikulum yang berorientasi hafalan, keterbatasan pelatihan guru, rendahnya literasi digital, serta ketergantungan pada ujian nasional menjadi tantangan utama dalam peningkatan kualitas pendidikan. Pendanaan yang terbatas serta rendahnya investasi pada riset pendidikan menyebabkan inovasi belum berkembang optimal. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya reformasi kebijakan secara komprehensif untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mengurangi kesenjangan global.
Sistem Evaluasi dan Asesmen Pendidikan Perbandingan Indonesia dan Negara Lain Rahmadania, Rianti; Rahma, Isni Dwi; Iswandi, Wedi; Oktara, Yogi Rizki; Asmara, Adi; Kashardi, Kashardi
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4163

Abstract

Sistem evaluasi dan asesmen pendidikan memegang peran penting dalam memastikan keberhasilan proses pembelajaran serta peningkatan kualitas pendidikan nasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komparatif model evaluasi pendidikan di Indonesia dan beberapa negara maju, terutama terkait filosofi asesmen, instrumen, kebijakan tata kelola, serta dampaknya terhadap peningkatan mutu pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan mengkaji berbagai sumber ilmiah seperti jurnal internasional, laporan kebijakan OECD dan UNESCO, serta dokumen resmi terkait asesmen nasional dan global, termasuk PISA. Temuan penelitian menunjukkan bahwa negara maju cenderung menerapkan asesmen holistik yang menekankan perkembangan kompetensi abad ke-21, karakter, kreativitas, dan kemampuan problem-solving melalui asesmen formatif dan autentik. Sebaliknya, praktik asesmen di Indonesia masih didominasi oleh ujian sumatif dan nilai akhir sebagai tolok ukur keberhasilan akademik. Implementasi ANBK menjadi langkah awal menuju asesmen yang lebih komprehensif, namun masih menghadapi tantangan berupa ketimpangan fasilitas digital, kompetensi guru dalam asesmen formatif, dan kesenjangan mutu pendidikan antarwilayah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan kualitas asesmen nasional, diperlukan penguatan kebijakan, pemerataan akses teknologi, dan peningkatan kapasitas guru secara berkelanjutan. Hasil dari kajian ini diharapkan menjadi rujukan dalam pengembangan kebijakan asesmen yang lebih inklusif, adaptif, dan sejalan dengan kebutuhan global guna mendukung pemerataan pendidikan berkualitas di Indonesia.
Peran Pemerintah dan Kebijakan Pendidikan Perbandingan dengan Negara Lain Ningrum, Tri Rahayu Setya; Edwar, Yoni; Wibowo, Ari Isnu; Sularni, Sularni; Asmara, Adi; Kashardi, Kashardi
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4280

Abstract

Perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang cepat pada abad ke-21 menuntut setiap negara untuk memperkuat kebijakan pendidikan agar mampu menghasilkan sumber daya manusia yang adaptif, kompetitif, dan literat teknologi. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran pemerintah dalam kebijakan pendidikan melalui perspektif perbandingan internasional dengan mengkaji model kebijakan di negara maju dan berkembang. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan yang menghimpun sumber ilmiah dari jurnal, buku, laporan internasional, dan dokumen resmi pemerintah. Analisis dilakukan menggunakan teknik analisis konten untuk mengidentifikasi pola kebijakan, efektivitas implementasi, serta praktik terbaik yang dapat dijadikan rujukan bagi Indonesia.Hasil penelitian menunjukkan bahwa negara maju seperti Finlandia, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura berhasil membangun sistem pendidikan berkualitas melalui tata kelola yang konsisten, profesionalisasi guru, pendanaan berbasis kebutuhan, serta integrasi digital yang kuat. Sebaliknya, negara berkembang seperti Indonesia dan India masih menghadapi tantangan kesenjangan pendidikan, keterbatasan infrastruktur, dan variasi kualitas guru. Meskipun Indonesia telah melaksanakan reformasi melalui Kurikulum Merdeka, digitalisasi sekolah, dan program peningkatan kompetensi guru, implementasinya belum merata. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa Indonesia perlu memperkuat tata kelola pendidikan, meningkatkan pemerataan kualitas guru, memperluas infrastruktur digital, serta memperkuat kolaborasi multisektor untuk mewujudkan pendidikan yang inklusif dan kompetitif secara global. Studi ini memberikan rekomendasi strategis untuk pengembangan kebijakan pendidikan nasional yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Konsep dan Teori Perbandingan Sistem Pendidikan Rhomadoni, Indra Nur; Sugirad, Anang Erma Dona; Dahliah, Jeli; Asmara, Adi; Kashardi, Kashardi
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4266

Abstract

Kajian mengenai sistem pendidikan global semakin penting seiring meningkatnya tuntutan abad ke-21 terhadap kualitas pembelajaran. Transformasi digital, globalisasi ekonomi, dan kebutuhan keterampilan kompleks menuntut adaptasi cepat dari guru dan peserta didik. Digitalisasi pendidikan menghadirkan ekosistem pembelajaran daring, platform interaktif, dan kecerdasan buatan yang mampu meningkatkan efektivitas proses belajar, namun juga menimbulkan tantangan pemerataan akses, terutama di negara berkembang yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur. Analisis komparatif sistem pendidikan memungkinkan identifikasi keunggulan dan kelemahan kebijakan, kurikulum, kualitas guru, serta sistem asesmen antarnegara, sehingga memberikan wawasan strategis bagi peningkatan mutu pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa negara maju menekankan pemerataan kualitas layanan, peningkatan kompetensi pendidik, kurikulum berbasis kompetensi, serta integrasi teknologi dalam praktik pembelajaran. Sebaliknya, negara berkembang masih berhadapan dengan kesenjangan kompetensi guru, keterbatasan akses teknologi, disparitas geografis, serta minimnya dukungan sarana pembelajaran. Transformasi digital dan penguatan profesionalisme guru menjadi faktor kunci dalam peningkatan hasil belajar. Selain itu, sistem asesmen yang berfokus pada literasi, numerasi, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi dinilai mampu memperkuat proses evaluasi serta mendukung pengambilan keputusan pendidikan yang lebih akurat. Implementasi praktik terbaik dari negara maju yang disesuaikan dengan konteks sosial, budaya, dan infrastruktur Indonesia menjadi strategi efektif dalam mempercepat peningkatan kualitas pendidikan nasional. Kajian ini menegaskan pentingnya pendekatan komparatif sebagai dasar penyusunan kebijakan pendidikan yang adaptif dan berkelanjutan dalam menghadapi dinamika dan tantangan global yang terus berkembang.
Studi Kasus Kebijakan Pendidikan Global hamida, elis; fauzan, fauzan; latifah, haniyatul; aroma, nellys; asmara, adi; kashardi, kashardi
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4097

Abstract

Perbandingan pendidikan antarnegara dalam konteks studi kasus kebijakan pendidikan global merupakan kajian yang sangat penting untuk memahami bagaimana proses globalisasi memengaruhi arah, struktur, dan praktik sistem pendidikan di berbagai negara. Globalisasi mendorong negara-negara untuk mengadopsi standar pendidikan internasional, seperti penguatan literasi global, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penerapan indikator mutu pendidikan yang bersifat universal. Selain itu, globalisasi juga membuka ruang terjadinya pertukaran praktik terbaik (best practices) antarnegara sebagai upaya meningkatkan daya saing pendidikan di tingkat global. Melalui pendekatan pendidikan komparatif, kajian ini berupaya mengidentifikasi persamaan, perbedaan, serta bentuk adaptasi kebijakan pendidikan yang diterapkan oleh berbagai negara dalam merespons tuntutan global sekaligus kebutuhan lokal yang beragam. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk memahami bagaimana kebijakan pendidikan global diinterpretasikan dan diimplementasikan sesuai dengan konteks sosial, budaya, ekonomi, dan politik masing-masing negara. Studi ini juga menyoroti peran pendidikan internasional dalam membekali peserta didik dengan keterampilan abad ke-21, termasuk kemampuan berpikir kritis, komunikasi lintas budaya, serta pemahaman global yang semakin relevan di era digital dan mobilitas tinggi. Selain itu, penelitian ini mengkaji perkembangan kebijakan pendidikan di Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya dalam menghadapi dampak globalisasi, dengan fokus pada inovasi kurikulum, pemanfaatan teknologi pendidikan, serta upaya pemerataan akses dan kualitas pendidikan. Dengan pendekatan perbandingan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi strategis dan praktis bagi para pembuat kebijakan dalam mengembangkan sistem pendidikan yang adaptif, inklusif, dan berdaya saing internasional tanpa mengabaikan nilai-nilai lokal dan tujuan pembangunan nasional.
Hubungan Ekonomi dan Sistem Pendidikan Perbandingan Dengan Negara Lain B, Andre Nofriady; Firmansyah, Hendri; Heri, Septen; Christiana , Yona; Asmara, Adi; Kashardi, Kashardi
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4283

Abstract

Hubungan antara pembangunan ekonomi dan sistem pendidikan menjadi isu strategis dalam diskusi global, khususnya dalam lima tahun terakhir. Pendidikan dipandang sebagai motor utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Investasi pendidikan terbukti meningkatkan produktivitas tenaga kerja, mendorong inovasi, serta memperkuat daya saing nasional melalui penciptaan tenaga kerja yang adaptif terhadap perubahan. Dalam konteks perubahan ekonomi global yang ditandai transformasi digital dan percepatan perkembangan teknologi, negara dituntut memiliki sistem pendidikan yang relevan, adaptif, dan responsif terhadap kebutuhan industri modern. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan untuk menganalisis keterkaitan antara perkembangan ekonomi dan sistem pendidikan melalui perbandingan internasional antara negara maju dan negara berkembang. Temuan penelitian menunjukkan bahwa negara dengan investasi pendidikan tinggi, kurikulum terkini, kualitas pendidik yang baik, serta pemerataan akses pendidikan cenderung memiliki pertumbuhan ekonomi stabil dan struktur tenaga kerja kompetitif. Perbandingan dengan Finlandia, Jepang, Korea Selatan, dan Estonia menunjukkan bahwa kebijakan pemerataan, digitalisasi pendidikan, peningkatan literasi teknologi, serta penguatan pendidikan vokasi memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.Sementara itu, Indonesia masih menghadapi tantangan seperti ketimpangan akses pendidikan, skill mismatch antara lulusan dan kebutuhan industri, pendanaan yang belum efisien, serta kesiapan pendidik dalam menghadapi era digital. Kajian ini menegaskan urgensi integrasi kebijakan pendidikan dengan strategi pembangunan ekonomi agar Indonesia mampu meningkatkan daya saing di tengah dinamika global.
Pendidikan Inklusif dan Aksesibilitas Indonedia dan Negara Lain Fuadi, Diyoba Azhar; Istiana, Farika; Eriyanto, Eriyanto; Hadi, Janes Kurnia; Asmara, Adi; Kashardi, Kashardi
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.5087

Abstract

Pendidikan inklusif merupakan pendekatan strategis dalam menjamin hak belajar seluruh peserta didik tanpa diskriminasi, termasuk anak berkebutuhan khusus, kelompok marginal, serta peserta didik dengan latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan implementasi pendidikan inklusif dan aksesibilitas pendidikan antara negara maju dan negara berkembang, dengan fokus pada kebijakan, kurikulum, kompetensi guru, pemanfaatan teknologi, serta pendanaan pendidikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi kepustakaan dengan menganalisis buku ilmiah, artikel jurnal bereputasi, laporan lembaga internasional, serta dokumen kebijakan pendidikan nasional dan global. Teknik analisis data dilakukan menggunakan analisis konten untuk mengidentifikasi pola, persamaan, dan perbedaan praktik pendidikan inklusif antarnegara. Hasil kajian menunjukkan bahwa negara maju memiliki sistem pendidikan inklusif yang terintegrasi secara sistemik, didukung kebijakan yang kuat, pendanaan berkelanjutan, kurikulum adaptif, serta pengembangan kompetensi guru yang berkelanjutan. Sebaliknya, negara berkembang masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan infrastruktur ramah disabilitas, kesenjangan kompetensi pendidik, distribusi sumber daya yang belum merata, serta kesenjangan akses teknologi pembelajaran. Di Indonesia, meskipun kebijakan pendidikan inklusif telah dikembangkan melalui Kurikulum Merdeka, implementasinya masih menghadapi hambatan struktural dan kontekstual, khususnya di wilayah terpencil. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan kebijakan pendidikan inklusif, peningkatan kompetensi guru, optimalisasi teknologi pendidikan adaptif, serta pendanaan yang berkeadilan merupakan kunci utama dalam mewujudkan sistem pendidikan inklusif yang berkelanjutan dan berkeadilan sosial.
Exploration of Ethnomathematics on the Traditional Musical Instrument Serunai in Bengkulu Utomo, Wahyu Setyo; Kashardi, Kashardi; Riwayati, Selvi
Journal of Mathematics Instruction, Social Research and Opinion Vol. 5 No. 1 (2026): March
Publisher : MASI Mandiri Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58421/misro.v5i1.1036

Abstract

This study aims to explore the ethnomathematical concept embedded in the traditional musical instrument Serunai Bengkulu, with a focus on its geometric and symmetrical elements. Serunai, a local cultural heritage, has a physical form that reflects mathematical concepts, such as a cylinder, a truncated cone, and a circle. Using a descriptive qualitative approach with ethnographic methods, data were collected through direct observation, interviews with cultural experts, and visual documentation. The results show that parts of the Serunai, such as the funnel, stem, and ornaments, exhibit vertical and rotational symmetry, as well as geometric shapes consistent with mathematics learning materials at the Junior High School (SMP) level. Integrating local cultural elements into mathematics learning can provide a contextual learning experience, increase student interest, and bring mathematics closer to everyday life. These findings support the importance of implementing ethnomathematics in education, particularly in efforts to preserve local culture and to strengthen understanding of mathematical concepts in more meaningful ways. This study also recommends using cultural objects, such as musical instruments. traditional in learning as a contextual medium to introduce the concepts of geometry and symmetry to students.
The Use of Problem-Based Learning (PBL) and Inquiry Models to Develop Critical Thinking Skills and Improve Cognitive Learning Outcomes of Students at SMP Negeri 13 Lebong Poppy Lariski; Siti Darwa Suryani; Kashardi Kashardi
International Journal of Educational Research Vol. 2 No. 3 (2025): International Journal of Educational Research
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/ijer.v2i3.480

Abstract

This study aims to determine the effect of Problem Based Learning (PBL) and Inquiry learning models on students’critical thinking skills and cognitive learning outcomes on the topic of the human respiratory system. This research used a quasi-experimental design with a Non-Equivalent Pretest-Posttest Control Group Design. The research subjects were three eighth-grade classes at SMP Negeri 13 Lebong, consisting of two experimental classes taught using the PBL and Inquiry models and one control class using conventional methods. The research instruments included essay tests to measure critical thinking and multiple-choice tests to assess cognitive learning outcomes. Data were analyzed using ANOVA and LSD tests. The results showed significant differences among the three groups. The PBL model produced the highest improvement in both variables, followed by Inquiry, and lastly the control group. Therefore, PBL is proven to be the most Effective model inimproving students' critical thinking and cognitive learning outcomes in science education.
Geogebra-Assisted Animation Video Development and Artificial Intelligence for Critical Thinking Skills Susanti, Mustika Indah Baitul; Kashardi, Kashardi; Masri, Masri
Journal of Mathematics Instruction, Social Research and Opinion Vol. 5 No. 1 (2026): March
Publisher : MASI Mandiri Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58421/misro.v5i1.1152

Abstract

Learning mathematics in the 21st century requires developing critical thinking skills. However, traditional methods still dominate the classroom, such as using textbooks as learning resources and whiteboards as learning media, making it difficult for students to understand triangle congruence visually and dynamically. This research aims to develop animated video media using GeoGebra and Artificial Intelligence (AI) on triangle congruence material for grade IX junior high school students and to describe their validity and practicality. The research uses the Research and Development (R&D) method with the ADDIE model, which includes the stages of analysis, design, development, implementation, and evaluation. The test subjects were 14 grade IX students and 1 mathematics teacher, with validation sheet instruments and practicality questionnaires. The results showed that the average validity of the media was 90% with the very valid category, while the practicality reached 89.11% with the very practical category. These findings show that GeoGebra and AI-assisted animation videos are feasible alternatives to modern, interactive mathematics learning media that facilitate students’ critical thinking skills in triangle congruence materials.
Co-Authors Adriadi, Rekho Ali Syahbana Aminuyati Andik Purwanto Aroma, Nellys Asmara, Adi Astuti, Asmi B, Andre Nofriady Bella Nandita Christiana , Yona Dahliah, Jeli Desiningsih, Rina Dewi Kurnia Dwi Ismawati Edwar, Yoni Elmiana, Lisa Eriyanto, Eriyanto Fauzan . Firmansyah, Hendri Fuadi, Diyoba Azhar Hadi, Janes Kurnia Hamida, Elis Harahap, Mardhatillah Hafidzah Hartati, Merri Sri Haryana, Lia Heri, Septen Hutauruk, Lenni Mantili Idham Kamil Isnaeni Rofiah Istiana, Farika Iswandi, Wedi Junita, Shinta Kristian, Deddi Latifah, Haniyatul Lestari, Teri Lisa Elmiana M. Yogi Riyantama Isjoni Mahali, Jalaluddin Mantili, Lenni Mardiah Syofiana Marleni, Linna Masri Masri Masri Masri Medriati, Rosane Neti Kesumawati, Neti Ningrum, Tri Rahayu Setya Novita Sari Novita Sari Nyayu Masyita Ariani Oktara, Yogi Rizki Oktavia, Fina Olivia Faradila Pardini, Aan Soka Poppy Lariski Putri , Desy Hanisa RACHMAT HIDAYAT Rahayu, Irmaning Rahma, Isni Dwi Rahmadania, Rianti Rahmat Jumri Rhomadoni, Indra Nur Rika Handayani Rina Desiningsih Risnanosanti Risnanosanti Ristontowi, Ristontowi Riwayati, Selvi Rizky Oka Sasmaya Sari, Lorenza Puspita Sasmaya, Rizky Oka Shinta Junita Siswanto, Rangga Soeviatulfitri Soeviatulfitri Sugirad, Anang Erma Dona Sularni, Sularni Susanti, Mustika Indah Baitul Syahbana, Ali Syahfitri, Jayanti Syofiana, Mardiah Utomo, Wahyu Setyo Wibowo, Ari Isnu Winda Ramadianti, Winda Yolanda, Helpa Yossi Novita Yudisman, Afrien Yuriska Destania Zachriwan Zachriwan Zachriwan, Zachriwan