Claim Missing Document
Check
Articles

Found 54 Documents
Search
Journal : Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)

ANALISIS METODE ELEKTROKOAGULASI DALAM MENURUNKAN KESADAHAN AIR SUMUR (BUKIT INDAH) MENGGUNAKAN ELEKTRODA STAINLESS STEEL DENGAN VARIASI TEGANGAN DAN WAKTU rizki, sela rafidah; hakim, lukman; azhari, azhari azhari; sulhatun, sulhatun sulhatun; Kurniawan, eddy
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 6 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-December 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i6.15230

Abstract

Kesedahan adalah suatu sifat kimia yang terkandung di dalam udara, namun mengkonsumsi udara dengan kesadahan yang tinggi dapat membahayakan kesehatan. Metode elektrokoagulasi telah mendapatkan banyak perhatian sebagai pilihan yang menarik untuk menghilangkan berbagai ion dan bahan organik karena sifatnya yang sederhana. Demikianlah penelitian ini untuk mengetahui proses elektrokoagulasi apakah dapat digunakan untuk menurunkan kesadahan air sumur serta pengaruh tegangan dan waktu terhadap proses elektrokoagulasi. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental, elektrokoagulasi diharapkan menjadi model pengolahan air bersih yang dapat digunakan dengan biaya yang relatif murah dan sederhana. Penelitian ini menggunakan reaktor elektrokoagulasi dengan elektroda stainless steel dengan variasi tegangan 5 volt, 10 volt, 15 volt, 20 volt dan variasi waktu 15 menit, 30 menit, 45 menit, 60 menit. Sumur air Universitas Malikussaleh, Kampus Bukit Indah, Blang Pulo, Lhokseumawe digunakan dalam penelitian ini dengan hasil yang terbaik yaitu pada variasi tegangan 20 volt waktu 60 menit, penurunan TDS dan EC terbaik pada tegangan 20 volt waktu 60 menit dengan nilai berturut-turut 292 ppm dan 648 µs/cm, nilai pH terbaik dimulai pada tegangan 15 volt waktu 60 menit dengan nilai 6,68, kemudian uji kandungan besi, mangan dan kesadahan total (CaCO 3 ) terbaik pada tegangan 20 volt waktu 60 menit dengan hasil uji berturut-turut berturut-turut yaitu 0 ,03 mg/l, 0,047 mg/l dan 201 mg/l.
PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN BELIMBING WULUH (AVERRHOA BILIMBI L.) PLAT BAJA ST 41 SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA MEDIA AIR LAUT Luvia, Indal; Ibrahim, Ishak; Jalaluddin, Jalaluddin; Kurniawan, Eddy; Faisal, Faisal
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 5 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - October 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i5.15855

Abstract

Korosi adalah proses di mana material mengalami kerusakan yang menyebabkan penurunan kualitas logam tersebut. Dalam penelitian ini, bubuk daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dicampur dengan etanol 70% selama 24 jam untuk diekstrak, menghasilkan filtrat. Penelitian ini menggunakan plat baja ST 41 dengan ukuran 4x4x0,3 cm, dengan variasi konsentrasi 5, 7, 9, 11, dan 13 gr/ml, serta variasi waktu perendaman 8, 11, 11, dan 17 hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas ekstrak daun belimbing wuluh sebagai inhibitor laju korosi pada plat baja ST 41, serta untuk memahami pengaruh variasi waktu perendaman dan konsentrasi ekstrak daun belimbing wuluh terhadap laju korosi. Penelitian ini sudah pernah dilakukan sebelumnya, penelitian sebelumnya telah fokus pada pengaruh konsentrasi inhibitor terhadap laju korosi plat baja ST 41. Namun, masih ada beberapa variabel lain yang dapat dimasukkan ke dalam penelitian ini untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif. Seperti, waktu perendaman terhadap laju korosi juga dapat dieksplorasi.  Metode penelitian menggunakan metode ekstraksi maserasi. Pada sampel ini, dilakukan analisis tannin yang ditandai dengan perubahan warna setelah penambahan FeCl 5%, dan adanya gumpalan setelah penambahan gelatin 1%. Hasil analisis menunjukkan kehilangan massa tertinggi pada perendaman selama 17 hari adalah 0,24 gr, sedangkan yang terendah adalah 0,07 gr. Semakin banyak inhibitor yang digunakan, semakin rendah laju korosi yang terjadi. Efisiensi inhibisi tertinggi terjadi pada perendaman 17 hari dengan nilai 71,6%. Melalui analisis SEM, ditemukan bahwa semakin besar perbesaran gambar, semakin terlihat perubahan bentuk yang signifikan dari permukaan yang awalnya kasar hingga yang sudah mulai rusak akibat korosi. Namun, semakin tinggi perbesaran, gambar yang dihasilkan menjadi semakin jelas.
PEMBUATAN BRIKET DARI CAMPURAN KULIT BUAH DURIAN DAN CANGKANG KELAPA SAWIT SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF Hasibuan, Khalil Gibran; Kurniawan, Eddy; Jalaluddin, Jalaluddin; Bahri, Syamsul; Ibrahim, Ishak
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 5 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - October 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i5.13694

Abstract

Sebagai sumber bahan bakar alternatif itu murah dan mudah dibuat, briket merupakan biomassa padat. Kulit buah durian kaya akan lignin dan selulosa namun relatif rendah pati. Karena berat jenisnya yang tinggi dan kandungan karbon yang tinggi pada lignoselulosa yang terdapat pada cangkang kelapa sawit, bahan ini sangat cocok untuk digunakan sebagai arang. Mengetahui bagaimana penambahan getah pinus dan lateks karet pada kulit durian dan tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar air, kadar abu, laju pembakaran, dan nilai kalor cangkang kelapa sawit yang berkaitan dengan produksi briket. Penelitian ini sudah pernah dilakukan sebelumnya, tetapi belum pernah dilakukan dengan menggunakan perekat getah karet, getah pinus dan perbandingan komposisi bahan baku. Briket dibuat dari kulit buah kelapa sawit dan durian dikarbonisasi pada suhu 400oC dan 500oC. Perbandingan kulit durian dan cangkang sawit adalah 40%:60%, 50%:50%, atau 60%:40%. Partikelnya berukuran 50 mesh, dan kandungan perekatnya masing-masing 10%, 15%, 20%, atau 25% untuk lateks karet dan resin pinus. Briket selanjutnya diukur dengan mengukur kapasitas panas, laju pembakaran, jumlah abu, dan jumlah air. Jumlah air yang optimal terhadap perekat lateks karet pada campuran 40%:60% adalah 1,08%, jumlah optimal perekat abu terhadap lateks karet pada campuran 40%:60% adalah 4,36%, laju pembakaran optimal adalah 0,186 gr/ menit pada campuran 60%:40% dengan perekat lateks karet 10%, dan nilai kalor optimal pada campuran 50%:50% dengan perekat lateks karet 25% adalah sebesar 7427,82 kal/g. Penelitian ini menemukan bahwa bahan briket terbaik adalah campuran 50% air, 50% abu, dan 25% perekat lateks karet. Laju pembakaran ideal adalah 0,306 gr/menit, dan nilai kalor sebesar 7427,82 kal/g. Kadar air 1,82%, kadar abu 6,05%, dan perekat lateks karet 25%.
PENGARUH WAKTU FERMENTASI PADA PROSES PEMBUATAN VIRGIN COCONUT OIL (VCO) DENGAN MENGGUNAKAN ENZIM BROMELIN DAN RAGI ROTI Wulandari, Suci; Jalaluddin, Jalaluddin; Kurniawan, Eddy; Ulfa, Raudhatul; Ibrahim, Ishak
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 6 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-December 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i6.17952

Abstract

Produk, Virgin Coconut Oil (VCO) sangat menguntungkan karena manfaat kesehatannya yang luar biasa bagi tubuh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana waktu fermentasi berpengaruh serta penambahan ragi roti dan enzim bromelin terhadap kualitas virgin coconut oil (VCO). Kualitas tersebut diukur melalui laju kinetika, uji organoleptik (warna dan aroma), kadar air, asam lemak bebas, bilangan peroksida dan bilangan iod. Proses penelitian ini dilakukan di Teknik Kimia, Universitas Malikussaleh, dengan metode ekperimental laboratorium. Penelitian ini telah dilakukan sebelumnya, namun yang belum diteliti adalah pengaruh waktu fermentasi dengan perbandingan ragi roti dan enzim bromelin dengan metode fermentasi terhadap pembuatan virgin coconut oil (VCO), dimana penambahan ragi roti sebanyak 7, 9, 11, dan 13 gram, sedangkan penambahan enzim bromelin sebannyak 35, 40, 45, dan 50 gram dengan waktu fermentasi 24, 30, 36, dan 42 jam. Diperoleh hasil laju kinetika berada pada orde pertama, warna dan aroma yang dihasilkan dengan menggunakan metode fermentasi mengunakan ragi roti dan enzim bromelin telah memenuhi memenuhi standar SNI 7381:2008. Dengan penambahan ragi roti 0,01% pada 11 gram, kadar air VCO terbaik dicapai dengan waktu fermentasi 24 jam. Dengan menambah ragi roti ebanyak 7 gram,  asamlemak bebas mencapai tingkat yang optimal dengan waktu fermentasi 24 jam sebesar 0,1 %. Bilangan peroksida didapat sebesar <40 mg/kg pada sampel VCO yang menggunakan ragi roti dan enzim bromelin. Dan bilangan iod terbaik terdapat pada VCO menggunakan Ragi Roti sebesar 0,9130 gr iod/ 100 gr.
PENGARUH KONSENTRASI NaOH PADA PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM FOIL DAN KALENG BEKAS jannah, raudhatul; Kurniawan, Eddy; Jalaluddin, Jalaluddin; Zulnazri, Zulnazri; Kamar, Iqbal
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 5 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - October 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i5.15038

Abstract

Dalam pengolahan air limbah, tawas digunakan sebagai flokulan karena sangat baik untuk mengendapkan partikel tersuspensi baik koloid maupun suspensi. Sebaliknya, tawas juga bermanfaat saat digunakan untuk menjernihkan air dan menjaga makanan tetap segar. Sebelumnya, penelitian ini telah menggunakan pelarut KOH untuk melebur kertas aluminium dan kaleng pocari sweat. Dalam penelitian ini, pelarut NaOH digunakan untuk melebur kertas aluminium dan kaleng pocari sweat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi NaOH dalam jumlah tawas yang dibuat dari kertas aluminium dan kaleng pocari sweat. Dalam penelitian ini, NaOH digunakan dengan konsentrasi 20%, 25%, 30%, 35%, 40%, dan 30 % larutan H2SO4 6M untuk memperoleh tawas. Kemudian oven dengan suhu 70„ƒ selama 1 jam. Penelitian ini sudah pernah dilakukan dengan menggunakan pelarut KOH, maka dari itu di penelitian kali ini menggunakan pelarut NaOH. Tawas yang dihasilkan dihitung % yield, kelarutan dalam air. Dari hasil yang diperoleh % yield pada aluminium foil  konsentrasi 20 % sebesar 17,97 gr, konsentrasi 25 %  sebesar 19,33 gr, konsentrasi 30 % sebesar 39,10 gr, konsentrasi 35 % sebesar 44,02 gr dan konsentrasi 40 % sebesar 46,24 gr. Sedangkan pada kaleng pocari sweat % yield konsentrasi 20 % sebesar 12,27 gr, konsentrasi 25 % sebesar 12,93 gr, konsentrasi 30 % sebesar 14,59 gr, konsentrasi 35 % sebesar 30,03 gr dan konsentrasi 40 % sebesar 31,16 gr. Bagian tak larut dalam air pada aluminium foil paling tinggi pada 35 % sebesar 0,36 gr, sedangkan bagian tak larut dalam air pada kaleng pocari sweat paling tinggi pada konsentrasi 20 % sebesar 0,36 gr. Hasil menunjukkan bahwa melarutkan aluminium foil dan kaleng bekas lebih cepat dengan peningkatan konsentrasi yang digunakan, tetapi peningkatan konsentrasi ini harus disertai dengan peningkatan kadar H2SO4 agar proses pembentukan tawas lebih mudah dan lebih cepat.
Pemanfaatan Ekstrak Daun Pandan Wangi (Pandanus Ammaryllifolius) Sebagai Inhibitor Korosi pada Plat Baja ST 41 dalam Media Air Payau humairah, syarifah siti; Ibrahim, Ishak; Ginting, Zainuddin; Kurniawan, Eddy; Jalaluddin, Jalaluddin
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 4 No. 6 (2024): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-December 2024
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v4i6.16235

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas ekstrak daun pandan wangi sebagai inhibitor laju korosi pada plat baja ST 41 dalam air payau. Variasi konsentrasi ekstrak dan waktu perendaman dieksplorasi untuk mengetahui pengaruhnya terhadap laju korosi. Penelitian ini sudah pernah dilakukan sebelumnya, penelitian sebelumnya telah fokus pada pengaruh konsentrasi inhibitor terhadap laju korosi plat baja ST 41. Namun, masih ada beberapa variabel lain yang dapat dimasukkan ke dalam penelitian ini untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif. Seperti, waktu perendaman terhadap laju korosi juga dapat dieksplorasi. Metode ekstraksi maserasi digunakan untuk memperoleh filtrat ekstrak, yang kemudian diuji untuk menentukan kandungan tanin. Hasil analisis menunjukkan bahwa ekstrak daun pandan wangi memiliki potensi sebagai inhibitor korosi, dengan penurunan laju korosi seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak dan waktu perendaman. Efisiensi inhibisi tertinggi terjadi pada perendaman selama 16 hari dengan konsentrasi 12 gr/ml, mencapai 52,04%. Pengamatan menggunakan SEM juga mengkonfirmasi perubahan morfologi permukaan plat baja ST 41 akibat korosi, dengan tingkat kerusakan yang berkurang seiring dengan penambahan inhibitor. Dengan demikian, penelitian ini memberikan wawasan yang penting tentang potensi ekstrak daun pandan wangi sebagai agen anti-korosi dalam aplikasi praktis di lingkungan yang korosif.
PENGARUH PENAMBAHAN INHIBITOR EKSTRAK DAUN JAMBU BOL (Syzigium Malaccense) TERHADAP LAJU KOROSI PADA BAJA SS400 DALAM MEDIA H2SO4 Hijiriani, Awi Anugrah; Ibrahim, Ishak; Kurniawan, Eddy; Bahri, Syamsul; Zulnazri, Zulnazri
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 5 No. 1 (2025): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-April 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v5i1.16493

Abstract

Peristiwa erosi dilandasi oleh bentuk-bentuk elektrokimia, yaitu (perubahan/reaksi kimia) yang meliputi kedekatan energi. Bagian tertentu dari baja bertindak sebagai poros negatif (anoda oksidasi negatif), sedangkan bagian lainnya bertindak sebagai poros positif (katoda pengurangan positif).. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisa positif tanin dalam daun jambu bol, menganalisa kehilangan berat, menganalisa laju korosi, menganalisa efisiensi inhibisi ekstrak daun jambu bol serta menganalisa Scanning Electron Microscopy pada baja ss400 adanya dan tanpa inhibitor. Penelitian ini dilakukan di Teknik Kimia, Universitas Malikussaleh, dengan metode ekperimental laboratorium. Pada penelitian sebelumnya melakukan variasi konsentrasi inhibitor dan waktu perendaman baja, dipenelitian ini melakukan variasi perbedaan konsentrasi media korosif serta variasi konsentrasi inhibitor. Diperoleh hasil analisa kehilangan berat  tertinggi pada baja konsentrasi inhibitor 0 gr/L dalam konsentrasi asam sulfat 4 M sebesar 4,958 gram dan nilai terendah pada baja dengan konsentrasi inhibitor 125 gr/L dalam media korosif 2 M sebesar 3,711 gram. Diperoleh  nilai laju korosi terendah terdapat pada baja konsentrasi inhibitor 125 gr/L pada media korosif 2M dengan nilai laju korosi sebesar 494,1696 mpy dan nilai laju korosi tertinggi terdapat pada baja konsentrasi inhibitor 0 gr/L pada media korosif 6M dengan nilai laju korosi sebesar511,2145 mpy. Diperoleh efisiensi inhibisi tertinggi terdapat pada baja dengan konsentrasi inhibitor 125 gr/L didalam media korosif  3M dengan nilai efisiensi inhibitor sebesar 29,56%. Semakin pekat konsentrasi inhibitor maka semakin menurun nilai kehilangan berat dan nilai laju korosi.Kata Kunci : Efisiensi Inhibisi, Inhibitor, Kehilangan Berat, Konsentrasi, Korosi, dan Laju Korosi
PERBANDINGAN BIOAKTIVATOR PADA FERMENTASI PUPUK ORGANIK CAIR DARI KULIT KOPI DAN AIR TAHU Mulya, Maulana Heru; Kurniawan, Eddy; Jalaluddin, Jalaluddin; Ibrahim, Ishak; Kamar, Iqbal
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 5 No. 1 (2025): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-April 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v5i1.20953

Abstract

Pupuk adalah material yang diberikan kepada tumbuhan sebagai sumber nutrisi tambahan. Pembuatan pupuk dapat menggunakan limbah yang berasal dari tumbuhan seperti limbah kulit kopi dan limbah buangan industri berupa air tahu. Dalam pembuatan pupuk organik cair dibutuhkan bioaktivator untuk mempercepat proses fermentasi dan meningkatkan kualitas pupuk menjadi lebih baik. Jenis bioaktivator yang digunakan dapat mempengaruhi kualitas yang dihasilkan. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan bioaktivator yang paling efektif dalam meningkatkan kualitas kandungan pada pupuk organik cair sesuai dengan Menteri Pertanian No.261/KPTS/SR.310/M/4/2019 menggunakan bioaktivator M21 Dekomposer dan EM4 dengan volume masing-masing 75 ml dan waktu fermentasi selama 14 hari. Parameter yang di analisa adalah kandungan Nitrogen, Posfor, kalium, C-Organik, dan Rasio C/N. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan bioaktivator M21 Dekomposer dalam pengolahan pupuk organik cair menghasilkan hasil terbaik dengan Kadar Nitrogen 0,84%, Posfor 0,52%, kalium 0,45%, C-organik 12,21, dan rasio C/N 14,54%. Sedangkan EM4 dengan kadar Nitrogen 0,77%, Posfor 0,47%, kalium 0,33%, C-organik 8,80%, dan rasio C/N 11,43%. Bioaktivator M21 Dekomposer lebih unggul dibandingkan EM4 disebabkan jumlah mikroorganisme yang terkandung di dalamnya lebih tinggi. Jumlah mikroorganisme akan terus berkembang sehingga akan meningkatkan kandungan bahan organik pada pupuk. Namun demikian hasil penelitian belum memenuhi baku mutu berdasarkan menteri pertanian No.261/KPTS/SR.310/M/4/2019 meskipun C-organik dan C/N sudah  memenuhi persyaratan.
Pembuatan Bioetanol Dari Campuran Kulit Singkong dan Kulit Pisang Kepok dengan Proses Fermentasi Menggunakan Ragi Roti Chatimah, Husnul; Ibrahim, Ishak; Ginting, Zainuddin; Kurniawan, Eddy; Muhammad, Muhammad
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 5 No. 4 (2025): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-Agustus 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v5i04.20304

Abstract

Bioetanol pada dasarnya disebut juga molekul etanol atau alkohol yang diproduksi dengan mengaplikasikan mikroorganisme untuk memfermentasi biomassa. Dengan memanfaatkan limbah singkong dan kulit pisang yang dibuang di masyarakat, khususnya oleh pedagang gorengan dan kiripik, tujuan riset ini disebut juga untuk mengidentifikasi sifat-sifat bioetanol yang terbuat dari bahan-bahan limbah tersebut dengan memeriksa kepadatan, rendemen, dan kandungan bioetanolnya. Dengan mengaplikasikan campuran kulit singkong dan kulit pisang (100:0, 50:50, dan 0:100), teknik riset mengaplikasikan hidrolisis, fermentasi, dan distilasi. Variasi massa ragi yang diaplikasikan disebut juga 4 g, 6 g, dan 8 g, beserta waktu fermentasi selama 1, 3, 5, 7, dan 9 hari. Dari hasil riset dapat disimpulkan bahwa hasil terbaik diperoleh dari bahan baku kulit singkong dan kulit pisang kepok (0:100) dengan massa ragi 8 g dan lama fermentasi 9 hari disebut juga kepadatan 0,7907 gr/ml, kadar bioetanol 23,3434%, dan rendemen 4,4155%. Hasil analisis kadar bioetanol dengan GC-MS memaparkan adanya etanol.Kata Kunci:Bioetanol, Densitas, Fermentasi, Kadar Bioetanol dan Yield.
Karakteristik Briket Kulit Pinang (Areca Catechu l.) Dengan Variasi Konsentrasi Molase dan Suhu Pirolisis Wildan, Siti; Eddy Kurniawan; Ishak Ibrahim; Azhari; Rizka Mulyawan
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 5 No. 05 (2025): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-October 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v5i05.22774

Abstract

Kulit pinang (Areca catechu L.) merupakan limbah biomassa yang kaya α-selulosa hingga 53,20%, sehingga berpotensi sebagai bahan baku pembuatan briket arang. Pemanfaatan molase sebagai perekat alami, dengan kandungan karbohidrat 48–53% dan sifat pengikatnya yang kuat, dinilai mampu meningkatkan kualitas fisik dan kimia briket. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi suhu pirolisis (350°C, 400°C, 450°C) dan konsentrasi molase (5%, 10%, 15%, 20%, 25%) terhadap karakteristik briket kulit pinang. Proses pirolisis dilakukan dalam kiln tertutup, diikuti pencampuran arang berukuran 60 mesh dengan larutan molase (perbandingan 1:10), pencetakan hidrolik bertekanan 400 kg/cm², dan pengujian sifat briket meliputi kadar air, abu, zat volatil, karbon terikat, dan nilai kalor menggunakan metode standar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi suhu pirolisis 450°C dan konsentrasi molase 15% menghasilkan briket dengan kualitas terbaik, yakni kadar air 2,47%, kadar abu 19,69%, zat volatil 32,11%, karbon terikat 45,71%, dan nilai kalor maksimum sebesar 5445,49 kal/g. Peningkatan suhu pirolisis secara signifikan menurunkan kadar air dan meningkatkan karbon terikat serta nilai kalor. Namun, kadar abu yang tinggi menjadi faktor pembatas terhadap standar SNI 01-6235-2000. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun kadar abu tinggi, kualitas energi briket tetap unggul, dan molase terbukti efektif sebagai perekat alami dalam pembuatan briket kulit pinang. Penelitian ini merupakan salah satu kajian awal integrasi molase dalam pengolahan limbah pertanian lokal di Aceh Utara menuju bioenergi berkelanjutan.
Co-Authors AA Sudharmawan, AA abdullah, humaira Abrar, Muhammad Ifan Achmad Farid Adi Yusuf Agam Muarif Agus Salim Ahmad Farhan Ahmad Farhan, Ahmad Ananda, Dhea Riski Andri Nur rizky Andrianto, M. Heryadi Anggraini, Dea Riski Aprillia, Ricka Arif Widodo Armadani, Wika Aurora, Tassa Azhari Azhari Azhari Azhari Azhari azhari, azhari azhari Baladina, Ashlaha Basuki Santoso Chairina Chairina Chairinnisa, Chairinnisa Choirudin, Muhammad Alvin Cut Milya Cut Rika Saffira Dahliana Abdullah Devia Ayu Setyowati Diema Hernyka Satyareni Dwi Fibrian, Ivan Eggi Diswanto Eki Supratiwi Eni Suryani Evi Maulida Fadlan, Moh Faidah, Desi Nur Faisal Faisal Faisal Faisal Fajar DNA Fandi Ahmad Febri Prima Fitriani Fitriani Fuji Maharani GITA SURYANI LUBIS Gunawan . Gunawan Gunawan Harahap, Handoyo Harahap, Nurul Aulia Hasibuan, Khalil Gibran Hery Widijanto Hijiriani, Awi Anugrah Hijjrah, Nur Hijratul Izzati Hukaimah, Hashifah humairah, syarifah siti Husnul Chatimah, Husnul Ibrahim, Ishak Inggit Sari Inggit Sari Iqbal Kamar Ishak Ibrahim Ishak Ishak Ishak Ishak Ishak, I Jalaluddin Jalaluddin Jalaluddin Jalaluddin Jalaluddin Jalaluddin Jalaluddin Jalaluddin Jannah, Rouzatul Japri, Bryan Anthony Jasmani Jasmani Kamar, Iqbal Lalak Tarbiyatun Nasyin Maleiva Leni Maulinda, Leni Lisa Andriani Lukman Hakim Lukman Hakim Luvia, Indal Mahfuddara Mahfuddara Marcelina Marcelina, Marcelina Masrullita Masrullita Masrullita Masrullita Masrullita, Masrullita masud, Masud Mauliza Asri Meilasari, Fitriana Meriatna Meriatna Mochamad Imamudin Muammar Khadafi Muhammad Farhan MUHAMMAD IVANTO Muhammad Ma'shum Muhammad Muhammad Muhammad Muhammad Muhammad Muhammad Muhammad nur Ichsan Tamiogy Muhammad, Muhammad mukhamad masrur Muliadi Mulya, Maulana Heru Mulyatun Mulyatun Mulyawan, Rizka Muslikhin Hidayat Muslikhin Hidayat Mutiawati Mutiawati Nadira Diandra Nainggolan, Yuni O Narul ZA Nasrul ZA Nasrun Nasrun Nasrun, Mahdalena Ningrum, Gemilang Oktavia Nita Sari Novi Sylvia Nur Faidah, Desi Nurma Nurma Nuruddifa Alif Maghfirin Nurul Safriani Oktaviani, Eva Pramuni P Yolanda, Kristina Desideria Purwoko, Agus Puteri, Febbyola Putri Nurjannah Raudhatul Jannah Resi Silvia Rina Zahara Rizka Mulyawan Rizka Mulyawan Rizka Mulyawan Rizka Mulyawan rizki, sela rafidah Rosanti Dewi, Rosanti Rouzatul Jannah Rozanna Dewi Rully Marzuli Sigit Trahnawan Siti Mutrofin Siti Namira Sri Dea Varissa Suci Wulandari Sulhatun Sulhatun sulhatun, sulhatun sulhatun Sutrisno, Hendri Syafrudin, Tomy Syahfitri, Ajeng Syahrul Khairi Syaikhuddin, Muhammad Miftakhul Syamsul Arifin Syamsul Bahri Syamsul Bahri Syebrina, Annisa Tauhid Nursalim Teguh Prastyo, Arya Tri Agusna PA, Angga Ulfa, Raudhatul Umairoh, Ummi Usman A. Gani Vania, Sherryl Wahyudi Budi Sediawan Wahyudi Budi Sediawan Wildan, Siti Wivina Diah Ivontianti, Wivina Diah Wiza Ulfa Fibarzi Yupiyanti Yupiyanti Zahara Firda Zahratun Mauliza Zainuddin Ginting Zulfa, Rahmita Zulfida Najla Azni Zulnazri, Z