Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Studi Eksperimental Caval Sindrome Pada Berbagai Tingkat Infeksi Dirofilaria immitis Exsperimental Study For Caval Syndrome At Diffetent Levels Of Infection Dirofilaria immitis Purnama Sari; T Fadrial Karmil; M Hanafiah; Syafruddin Syafruddin; Winaruddin Winaruddin; Arman Sayuti
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 3, No 4 (2019): AGUSTUS-OKTOBER
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v3i4.13017

Abstract

ABSTRAKPenelitian dilakukan  untuk mengetahui proses terjadinya Caval Sindrome (CS) yang diakibatkan oleh Dirofilaria immitis (D. immitis) dengan berbagai tingkat infeksi, Sampel yang digunakan yaitu 3 ekor anjing lokal yang terinfeksi D. immitis dengan tingkat infeksi ringan (380 mf/ml), sedang (1,305 mf/ml) dan berat (1,600 mf/ml). Untuk mengetahui tingkat infeksi dilakukan identifikasi menggunakan metode Modified Fadrial Technigue (MFT). Setelah diketahui tingkat infeksi D. immitis, anjing diberi perlakuan excercise menggunakan perlakuan melalui pengamatan berdasarkan kecepatan dan durasi yang sudah ditetapkan. Hasil dari penelitian ini diperoleh bahwa proses terjadinya CS pada anjing yang diberi perlakuan exercise dengan kecepatan 30 km/jam, 40 km/jam dan 45 km/jam selama durasi 10 menit, 15 menit dan 20 menit pada infeksi ringan dan sedang anjing toleran terhadap exercise (tidak terjadi CS), sedangkan pada tingkat infeksi berat anjing intoleran terhadap exercise pada menit ke-10 (dapat terjadi CS). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa anjing yang derajat kesakitan tinggi intoleran terhadap exercise.Kata kunci: Dirofilaria  immitis,  tingkat  infeksi,  Modified  Fadrial  Technigue (MFT) dan Caval Sindrome.   ABSTRACT    This study was conducted to determine the process of Caval Syndrome (CS) caused by Dirofilaria immitis (D. immitis), with various levels of infection. The sampels used were 3 local dogs infected with D. immitis with a mild infection rate (380 mf/ml), moderate (1,305 mf/ml) and weight (1,600 mf/ml). to determine the level of infection Modifien Fadrial Technigue (MFT) method. After knowing the level of infection, dog were treated using exercise treatment through observation based on the speed and duration that have been set. The results of this study found that the process of CS  in dogs treated with exercise at a speed of 30 km/h, 40 km/h, and 45 km/h for a duration of 10 minutes, 15 minutes and 20 minutes in mild and moderate infections of dogs tolerant of exercise (CS does not occur), whereas at the level of severe dog infection tolerant of exercise  at the 10th minute (CS can occur). From this study in can be concluded that.Keywords : Dirofilaria immitis, infection rate, Modified Fadrial Technigue (MFT) and Caval Syndrome.
IDENTIFIKASI PARASIT GASTROINTESTINAL PADA BERUANG MADU (Helarctos malayanus) DI TAMAN MARGASATWA MEDAN (IDENTIFICATION OF GASTROINTESTINAL PARASITES IN SUN BEAR (Helarctos malayanus) IN TAMAN MARGASATWA MEDAN) Putri Utami Jenantika; Yudha Fahrimal; Arman Sayuti
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 3, No 3 (2019): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.348 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v3i3.11213

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi parasit gastrointestinal pada beruang madu (Helarctos malayanus) di Taman Margasatwa Medan. Penelitian ini menggunakan sampel feses dari 5 ekor beruang madu yang diperiksa tiga kali dengan interval waktu 3 minggu. Penelitian ini mengunakan metode sentrifus, metode McMaster, dan metode Boray dan hasil penelitian ini dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 3 dari 5 sampel terinfestasi parasit gastrointestinal Ancylostoma spp dan Trichuris spp. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa beruang madu (Helarctos malayanus) di Taman Margasatwa Medan tereinfestasi parasit gastrointestinal Ancylostoma spp dan Trichuris spp. Kata kunci : Parasit gastrointestinal, Beruang Madu, Ancylostoma spp, Trichuris spp. ABSTRACT          This study aims to identify the gastrointestinal parasite in the sun bear (Helarctos malayanus) in Medan Wildlife Park. This study used fecal samples from  5 sun bears taken three times with 3 weeks interval. This study used the centrifuge method, McMaster method, and the Boray method and the results of this study were analyzed descriptively. The results of this study indicate that 3 of  5 sun bear were infested with gastrointestinal parasites Ancylostoma spp and Trichuris spp. Thus it can be concluded that  the sun bear (Helarctos malayanus) in Medan Wildlife Park are infested with gastrointestinal parasites Ancylostoma spp and Trichuris spp. Keywords : Gastrointestinal parasites, Sun bear, Ancylostoma spp, Trichuris spp
EFEKTIVITAS ANTELMINTIK SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN PADA GAJAH SUMATERA (Elephas maximus sumatranus) DI LOKASI CONSERVATION RESPONSE UNIT (CRU) DAN PUSAT KONSERVASI GAJAH (PKG) ACEH Syarifah Mawaddah Zilfa; Yudha Fahrimal; Arman Sayuti; Farida Athaillah; Abdullah Hamzah; Wahyu Eka Sari
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 6, No 3 (2022): MEI-JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/jim vet..v6i3.18028

Abstract

Gajah sumatera merupakan satwa endemik Indonesia yang tercatat ke dalam status yang terancam punah atau kritis. Dalam mempertahankan keberadaan dan kelestariannya maka populasi gajah harus dijaga. Gajah sumatera rentan terhadap berbagai penyakit, salah satunya disebabkan oleh parasit gastrointestinal. Infeksi parasit gastrointestinal merupakan faktor yang mengganggu kesehatan gajah sumatera. Penelitian ini bertujuan melihat keefektifan antelmintik dengan melihat keberadaan jenis endoparasit sebelum dan sesudah pemberian antelmintik pada gajah sumatera di tujuh lokasi Conservation Respon Unit (CRU) dan PKG Saree Aceh. Penelitian ini dilakukan pada Laboratorium Parasitologi FKH USK dan pengambilan sampel feses gajah pada CRU Sampoiniet Kabupaten Aceh Jaya, CRU Alue Kuyuen, Kabupaten Aceh Barat, CRU Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, CRU Mila, Kabupaten Pidie Jaya, CRU Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, CRU Das Peusangan, Bener Meriah, dan PKG Saree Aceh. Data yang diperoleh dianalisis dengan Fecal Egg Count Reduction Test (FECRT). Hasil FECRT menunjukkan efektivitas antelmintik yang digunakan dalam mengobati gajah sumatera pada CRU Aceh sangat efektif hingga mencapai 100% terhadap parasit yang menyerang gajah sumatera di CRU dan PKG Aceh. Kata kunci: gajah sumatera, parasit pada gajah, antelmintik Sumatran elephants are endemic to Indonesia which are listed as endangered or critical. In maintaining its existence and sustainability, the elephant population must be maintained. Sumatran elephants are susceptible to various diseases, one of which is caused by gastrointestinal parasites. Gastrointestinal parasitic infection is a factor that interferes with the health of the Sumatran elephant. This study aims to examine the effectiveness of anthelmintics by observing the presence of endoparasites before and before offering anthelmintics to Sumatran elephants at seven locations of the Conservation Response Unit (CRU) and PKG Saree Aceh. This research was conducted at the USK FKH Parasitology Laboratory and took samples of elephant feces at the Sampoiniet CRU, Aceh Jaya Regency, Alue Kuyuen CRU, West Aceh Regency, Trumon CRU, South Aceh Regency, Mila CRU, Pidie Jaya Regency, Serbajadi CRU, East Aceh Regency, CRU Das Peusangan, Bener Meriah, and PKG Saree Aceh. The data obtained were analyzed by Fecal Egg Count Reduction Test (FECRT). FECRT results show the effectiveness of deworming drugs used in treating Sumatran elephants at CRU Aceh is very effective up to 100% against parasites that attack Sumatran elephants at CRU and PKG Aceh. Key words: Sumatran elephant, parasites in elephant, anthelmintic
INHIBIN B MENURUNKAN KONSENTRASI FOLLICLE STIMULATING HORMONE (FSH) PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus): UPAYA PENGEMBANGAN KONTRASEPSI HORMON PRIA BERBASIS PEPTIDA Muslim Akmal; Aulanni’am A; M. Aris Widodo; Sutiman B. Sumitro; Basuki B. Purnomo; Tongku Nizwan Siregar; Muhammad Hambal; Amiruddin A; Syafruddin S; Dwinna Aliza; Arman Sayuti; Mulyadi Adam; T. Armansyah; Erdiansyah Rahmi
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 1 (2015): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.745 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i1.2788

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui efek injeksi inhibin B terhadap penurunan konsentrasi follicle stimulating hormone (FSH) di dalamserum pada tikus putih (Rattus norvegicus). Dalam penelitian ini digunakan 24 ekor tikus putih berjenis kelamin jantan dengan strain Wistar berumur 4 bulan dengan bobot badan 150-200 g. Tikus-tikus dikelompokkan secara acak ke dalam 4 kelompok, yaitu KK0, KP1, KP2, dan KP3, masing-masing kelompok terdiri atas 6 ekor. Kelompok KK0 merupakan kelompok kontrol hanya diinjeksi dengan phosphate buffer saline (PBS), sedangkan kelompok KP1, KP2, dan KP3 diinjeksi dengan inhibin B dengan dosis berturut-turut 25, 50, dan 100 pg/ekor. Injeksi inhibin B dilakukan secara intraperitoneum sebanyak 5 kali selama 48 hari dengan interval waktu 12 hari. Injeksi pertama inhibin B dilarutkan dengan0,05 ml PBS dan 0,05 ml Freud’s complete adjuvant (FCA). Injeksi kedua sampai kelima, inhibin B dilarutkan dengan 0,05 ml PBS dan 0,05 ml Freud’s incomplete adjuvant (FICA). Pada hari ke-6 setelah injeksi inhibin B terakhir, tikus dikorbankan secara dislocatio cervicalis,lalu darah dikoleksi langsung dari jantung dan didiamkan hingga didapatkan serum untuk pemeriksaan konsentrasi FSH dengan menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa injeksi inhibin B dengan dosis 100 pg/ekor menurunkan konsentrasi FSH secara nyata (P0,05) bila dibandingkan dengan kelompok kontrol. Berdasarkan hal tersebut, inhibin B berpeluang untuk dikembangkan sebagai kandidat kontrasepsi pria hormon berbasis peptida.
PENGARUH PEMBERIAN GETAH BUAH PEPAYA (Carica papaya L.) DAN POVIDONE IODINE TERHADAP KESEMBUHAN LUKA KASTRASI PADA KUCING (Felis domestica) JANTAN Amiruddin -; Syafruddin -; Zuraidawati -; Riani Desky; Tongku Nizwan Siregar; Arman Sayuti; Abdul Harris
Jurnal Medika Veterinaria Vol 9, No 1 (2015): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v9i1.2994

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian getah buah pepaya (Carica papaya, L.) dan povidone iodine terhadap kesembuhan luka kastrasi pada kucing (Felis domestica) jantan. Penelitian ini menggunakan enam ekor kucing yang dibuat luka kastrasi, dibagi dalam dua kelompok perlakuan. Kelompok I (K1) dioleskan dengan getah buah pepaya dan Kelompok II (K2) dioleskan povidone iodine dua kali sehari selama tujuh hari berturut-turut. Parameter yang diamati adalah kesembuhan luka dengan memperhatikan tingkat kemerahan pada luka, kebengkakan, cairan radang, dan pertautan tepi luka. Pengamatan dilakukan setiap hari dan data hasil pengamatan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luka kastrasi pada K1 lebih cepat sembuh yaitu pada hari ke 4-5 dibandingkan K2 yaitu pada hari 6-7. Getah buah pepaya bisa dijadikan alternatif pengobatan tradisional dalam penyembuhan luka terutama luka sayat.
12. Lipid profile in the Blood of the Sumatran Elephant (Elephas maximus sumatranus) in Elephant Conservation Center (ECC) Saree, Aceh Besar mahmudi kamaruddin; Al Azhar; Arman Sayuti; Zuhrawati Zuhrawati; Nuzul Asmilia; Sri Wahyuni
Jurnal Medika Veterinaria Vol 11, No 1 (2017): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v11i1.4341

Abstract

This study was done to investigate lipid profile in the blood of Sumatran elephants at the ECC of Saree. In this stud blood samples were drawn from the auricular vein of 8 sumatran elephants at the ECC. Reasurement of total cholesterol, low density lipoprotein (LDL), high density lipoprotein (HDL), and triglicerida (TG) was carried spectrophotometrically by the commercial service of research laboratory in Banda Aceh. The results showed that the average concentrations of total cholesterol, LDL, HDL, and TG in the blood of Sumatran elephants were 155,86±54,39 mg/dL, 40,13±3,40 mg/dL, 101,13±46,16 mg/dL, dan 84,89±32,86 mg/dL. It can be concluded that the average concentrations of the lipid profile in the blood of the sumatran elephants at the ECC in Aceh were higher than that of reported in other subspecies of Asian elephant
3. Lactobacillus casei Fermented Milk as a Treatment for Diabetes in Mice (Mus musculus) Pratiwi Purnama Sari; Nurliana Nurliana; M. Hasan; Arman Sayuti; Sugito Sugito; Amiruddin Amiruddin
Jurnal Medika Veterinaria Vol 11, No 1 (2017): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v11i1.4088

Abstract

The study aimed to find out the effect of Lactobacillus casei fermented milk as diabetic drug (Therapeutic). Mice were 3-4 month old, male and body weight ranged 20-30 g. This Research used Completely Randomized Design with factorial pattern, consisted of dose and  duration of  feeding. Treatments were divided into four treatment, P1 (no treatment), P2 (mice were induced with alloxan), P3 (mice were induced with alloxan and fed with fermented milk L. casei with 0.5 mL/mice) and P4 (mice were induced with alloxan and fed with Lactobacillus casei fermented milk 1 mL/mice). Provision of L. casei fermented milk provided at libitium and L. casei fermented milk given for 7 and 14 days. Blood  were collected from Vena lateralis and dropped on the strip test Easy Touch GGHb. The results showed that not only dose administration of L. casei fermented milk had significantly decrease (P0.01) of glucose levels in mice, but also duration of treatment. It can be concluded that the administration of fermented milk L. casei can be used as a complement therapy for diabetic mice
INTERPRETASI UKURAN JANTUNG ORANGUTAN SUMATERA(Pongo abelii) BERDASARKAN FOTO RONTGEN TORAKS DI PUSAT KARANTINA ORANGUTAN SUMATERA UTARA Qaida Minati; Arman Sayuti; Idawati Nasution
Jurnal Medika Veterinaria Vol 7, No 2 (2013): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v7i2.2936

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui ukuran jantung orangutan sumatera (Pongo abelii) berdasarkan foto rontgen toraks dengan proyeksi posterior anterior. Foto yang digunakan adalah foto rontgen orangutan sehat sebanyak 48 ekor di Pusat Karantina Orangutan Sumatera Utara yang terdiri atas 24 ekor jantan dan 24 ekor betina yang merupakan sitaan dari Mei 2003 hingga November 2011.  Foto rontgen dikelompokkanberdasarkan jenis kelamin dan tingkatan umur. Pengukuran ukuran jantung dilakukan berdasarkan foto rontgen toraks dan selanjutnya  dilakukanperhitungan dengan cardiothoracic ratio (CTR). Nilai rata-rata CTR pada orangutan jantan dengan kelompok umur  bayi (0-2,5 tahun), anak(2,5-7 tahun), remaja (7-10 tahun) masing-masing adalah 45,2;  41,6; dan 38,8% sedangkan untuk orangutan betina masing-masing adalah 45,6;42,1; dan 40,3%.  Bayi orangutan memiliki nilai CTR yang paling besar.  Cardiothoracic ratio (CTR) menurun pada setiap peningkatan umurdari kedua jenis kelamin
TINGKAT KERENTANAN Fasciola gigantica PADA SAPI DAN KERBAU DI KECAMATAN LHOONG KABUPATEN ACEH BESAR Muhammad Hambal; Arman Sayuti; Agus Dermawan
Jurnal Medika Veterinaria Vol 7, No 1 (2013): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v7i1.2921

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi tentang perbedaan tingkat kerentanan sapi dan kerbau terhadap Fasciola gigantica di Kecamatan Lhoong, Kebupaten Aceh Besar. Sampel diperoleh dari lima desa yang  terdapat di Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. Sampel terdiri atas 150 ekor  sampel  feses kerbau dan 150 sampel feses sapi segar, masing-masing terdiri atas 75 ekor sampel feses kerbau jantan, 75 ekor sampel feses kerbau betina,75 ekor sampel  feses sapi  jantan, 75 ekor sampel feses sapi betina. Identifikasi dan perhitungan telur Fasciola gigantica menggunakan metode sedimentasi modifikasi Borray. Hasil penelitian dianalisis secara deskriptif. Dari hasil penelitian terlihat perbedaan tingkat kerentanan sapi dan kerbau terhadap Fasciola gigantica di Kecamatan Lhoong Kabupaten Aceh Besar dengan total prevalensi pada kerbau jantan; kerbau betina; sapi jantan; dan sapi betina masing-masing adalah 93,3; 90,6; 92,0; dan 89,3%. Rata-rata intensitas telur pada kerbau jantan; kerbau betina; sapi jantan; dan sapi betina masing-masing adalah 26,16; 29,11; 20,96; dan 10,29. Rata-rata intensitas telur pada kerbau dan sapi masing-masing 25,40 dan 14,24. Prevalensi pada kerbau umur 0-6, 7-12, dan 12 bulan masing-masing adalah 80, 96,  dan100%. Prevalensi pada sapi umur 0-6, 7-12, dan 12 bulan masing-masing adalah 78, 100, 94%. Intensitas telur pada kerbau umur 0-6; 7-12; dan12 bulan masing-masing adalah 7,79; 19,49;  dan 51,27. Intensitas telur pada sapi umur 0-6; 7-12; dan12 bulan masing-masing adalah7,38; 18,87; dan 19,24. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan adanya tingkat kerentanan terhadap Fasciola gigantica pada sapi dan kerbau di Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar.
4. Hemoglobin and hematocrit Levels of the Sumatran elephants (Elephas maximus sumatranus) at the Elephant Conservation Center (ECC) of Saree, Aceh Besar Ayu Andella Agustina; Al Azhar; Nuzul Asmilia; Amiruddin Amiruddin; Arman Sayuti; Sri Wahyuni
Jurnal Medika Veterinaria Vol 11, No 1 (2017): J. Med. Vet.
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.med.vet..v11i1.3748

Abstract

This research was done to determine the levels of hemoglobin (Hb) and hematocrit (Ht) of the sumatran elephants captivated at the Elephant Conservation Center (ECC) of Saree, Aceh Besar. In this study blood samples were drawn from 16 sumatran elephants at the ECC using EDTA as an anticoagulant. The levels of Hb and Ht were determined using Sahli and micro-hematocrit methods, respectively. Data was analyzed using t-test. The results showed that Hb concentrations in male and female sumatran elephans were 11.74±0.58 g/dL and 11.84±0.55 g/dL, respectively. Hb levels in sumatran elephants aged 10-30 and 30 years old were 11.87±0.56 g/dL and 11.79±0.50 g/dL, respectively. There was no significant different of Hb levels (P0.05) according to sex and age. Ht values in male sumatran elephants were 38.140.79% and significantly lower (P0.05) than that in female sumatran elephants, 42.001.37%. Similar to that of Hb, Ht values in sumatran elephants aged 10-30 and 30 years old, 40.45±1.21% and 40.22±1.48%, respectively, were not significantly different (P0.05). In conclusion, in the sumatran elephants Hb values were not influenced by sex and age, but Ht values were influenced by sex.
Co-Authors . Darmawi . Darniati . Syafruddin Abd. Rasyid Syamsuri Abdul Harris Abdul Rahman Abdullah Hamzah Agus Dermawan Al Azhar Al- Azhar Amalia Sutriana Amiruddin - Amiruddin . Amiruddin A Amiruddin Amiruddin Atika Agusty Atikah Rahma Putri Aulanni'am, Aulanni'am Ayu Andella Agustina Basuki B. Purnomo Budianto Panjaitan Dessy Ayu Mega Putri Dian Masyitha Dimas Rizqo Sucitrawan Dwinna Aliza Erdiansyah Rahmi Erdiansyah Rahmi Erina Erina fadli amri Farida Athaillah Farida Farida Farida Farida Fhatania Amalia Gholib Gholib Hafizuddin Hafizuddin Hamdan Hamdan Hamdani . Herrialfian Herrialfian Idawati Nasution Indah Kesuma Siregar Juli Melia Lisa Syabaniar M Hanafiah M Hasan M Isa M Jalaluddin M. Aris Widodo M. Hasan mahmudi kamaruddin Megi Satria Muhammad Hambal Muhammad Hambal Muhammad Hanafiah Muhammad Isa Mulyadi Adam Muslim Akmal Muslim Akmal Nazaruddin Nazaruddin Nur Afriyanti NURLIANA NURLIANA Nuzul Asmilia Oppi Oktaviany Pratiwi Purnama Sari Purnama Sari Putri Utami Jenantika Qaida Minati R Roslizawaty Rahmat Nazif Riani Desky Roslizawaty - Roslizawaty Roslizawaty Rosmaidar Rosmaidar roza Agravion Rusli - Rusli Rusli S Syafrudddin Sara Febria Putri Sastika Rani Sri Wahyuni Sugito Sugito Sugito Sugito Sutiman B. Sumitro syafriza harliyanda Syafruddin - Syafruddin . Syafruddin S Syafruddin Syafruddin Syarifah Mawaddah Zilfa t fadrial karmil T. Armansyah Teuku Armansyah Tongku N Siregar Tongku Nizwan Siregar Tongku Nizwan Siregar Tongku Nizwan Siregar Tongku Nizwan Siregar, MP Triva Murtina Lubis Ummu Balqis wahyu eka sari Winaruddin Winaruddin Yudha Fahrimal Zainuddin Zainuddin Zakiah Heryawati Manaf Zoerul Fahlevi Zuhrawati Zuhrawati Zuhrawaty - Zuhrawaty NA ZURAIDA ZURAIDA Zuraidawati -