Claim Missing Document
Check
Articles

Found 237 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

Kompetensi Komunikasi Guru dalam Kegiatan Belajar Mengajar Berbasis Student Center Learning di SMA N 9 Semarang Skripsi Disusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan Pendidikan Strata 1 Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Imu Politik Unive Wulandari, Novita; Naryoso, Agus; Rakhmad, Wiwied Noor
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.393 KB)

Abstract

Kompetensi Komunikasi Guru dalam Kegiatan Belajar MengajarBerbasis Student Center Learning di SMA N 9 SemarangCOMMUNICATION COMPETENCE OF TEACHER IN CLASS ACTIVITY-BASED ONSTUDENT CENTER LEARNING AT SMA N 9 SEMARANGAbstrakThe changing of Teacher Center Learning (TCL) methods which focuses on teacher as themain source of knowledge change become Student Center Learning(SCL) methods thatrequires students to be active in the learning process because Teacher Center Learningmethods is considered ineffective. This SCL methods require the teacher must be clever tostimulating students to be active in class activities. However, not all teachers have suchcapabilities. Communication competence can be measured from the motivationalcommunication, communication knowledge and communication skills. SCL methods thatapplied at Semarang 9 senior high school not always used in class activities. Application ofthe method used depends on the subject matter presented. The purpose of this research is todescribe the communication competence of teachers in class activity based on Student CenterLearning at Semarang 9 Senior High School. And this research is descriptive quantitativestatistics and the population are students of SMA N 9 Semarang, 1031 students. TheSampling technique is simple random. And to determine the number of samples taken,researchers used the Frank Lynch formula and got 88 samples that were selected randomly.Based on the findings and analysis research, assessment of the students tocommunication competence of teacher in class activities based on student center learning(SCL) in SMA N 9 Semarang competent classified. Motivation, teachers rated competent bythe students to motivate his students. This motivation can be measured by positif motivationas efforts and desire that drive teacher performance toward excellence and negativemotivation as result in fear, anxiety, or avoidance. Knowledge, content knowledge suchknowing what to communicate and procedural knowledge such knowing how tocummunicate, teachers have quite high knowledge. And teachers’s skills, have low skill.With low skills, teacher cannot practice knowledge. So high knowledge of teacher can not beapplied by the teacher in teaching and learning activities. And the teachers must pay attentionto skills many factors such as empathy, speaking, and listening comprehension.Key word: motivation, knowledge, communication skillKOMPETENSI KOMUNIKASI GURU DALAM KEGIATAN BELAJAR MENGAJARBERBASIS STUDENT CENTER LEARNING DI SMA N 9 SEMARANGAbstrakPerubahan metode belajar Teacher Center Learning (TCL) yang memusatkan guru sebagaisumber pengetahuan bergeser menjadi Student Center Learning yang menuntut murid untukaktif dalam proses kegiatan belajar mengajar, kebijakan tersebut ini didasari karena metodeTeacher Center Learning yang dianggap tidak efektif. Metode SCL ini menuntut guru haruspandai menstimuli kesediaan murid untuk aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Namun,tidak semua guru memiliki kemampuan seperti itu. Kompetensi komunikasi ini dapat diukurdari motivasi komunikasi, pengetahuan komunikasi dan ketrampilan komunikasi. MetodeSCL yang diterapkan SMA N 9 Semarang tidak selamanya digunakan dalam kegiatan belajarmengajar. Penerapan metode yang digunakan bergantung pada materi pelajaran yangdisampaikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kompetensi komunikasi gurudalam menyampaikan materi belajar berbasis Student Center Learning di SMA N 9Semarang. Jenis penelitian ini adalah statistik deskriptif yang bersifat kuantitatif denganpopulasi murid SMA N 9 Semarang yang berjumlah 1031 orang. Melalui teknik simpelrandom sampling peneliti mendapat 88 sampel yang dipilih secara random.Berdasarkan temuan dan analisis penelitian, penilaian murid terhadap kompetensikomunikasi guru dalam kegiatan belajar mengajar berbasis student center learning (SCL) diSMA N 9 Semarang tergolong dalam kategori kompeten. Dari unsur-unsur yang terdapatpada motivasi komunikasi, guru dinilai berkompeten oleh murid dalam memberikan motivasipada muridnya. Motivasi ini dapat dilihat dari motivasi positif seperti faktor-faktor yangmenyebabnkan ketertarikan, dorongan dan kesiapan untuk berkomunikasi serta motivasinegatif seperti faktor-faktor yang dapat menyebabkan ketakutan, kecemasan danpenghindaran. Sedangkan indikator pengetahuan seperti pengetahuan konten danpengetahuan prosedural, guru tergolong dikategorikan mempunyai pengetahuan yang baik.Pengetahuan konten merupakan pengetahuan apa yang akan diinformasikan dan pengetahuanprocedural adalah pengetahuan bagaimana cara menyampaikan pesan yang diciptakan.Sedangkan dari segi ketrampilan guru, guru dikatakan mempunyai ketrampilan yang rendah.Dengan ketrampilan komunikasi yang rendah ini, guru tidak dapat mempraktekanpengetahuan yang dimiliki sehingga pengetahuan yang dimilki tidak dapat diterapkan secarabaik oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar. Sehingga guru harus memperhatikanindikator ketrampilan seperti empati, ketrampilan berbahasa baik verbal ataupun non verbal,dan mendengarkan.Kata kunci : motivasi, pengetahuan, ketrampilan komunikasiPENDAHULUANHarus diakui hingga kini bahwa guru masih memainkan peranan utama dalam prosesmenghasilkan pendidikan yang berkualitas, namun guru bukan satu-satunya sumber ilmupengetahuan. Kegiatan belajar mengajar merupakan proses interaksi langsung antara siswadan guru. Perkembangan ilmu komunikasi juga berpengaruh pada metode pembelajaran.Model komunikasi yang pertama adalah model komunikasi linier, dalam proses model inikomunikator mengirimkan pesan pada komunikan dengan cara merubah pesan menjadisinyal-sinyal melalui alat pemancar kemudian sinyal-sinyal ini harus disesuaikan dengansaluran yang menuju alat penerima. Fungsi alat penerima mengubah kembali sinyal menjadipesan. Pesan yang diterima ini kemudian mencapai tujuan. Sinyal ini dapat berubah karenaadanya noise (gangguan) yang dapat terjadi (Suprapto, 2009: 62). Hal tersebut dapatmengakibatkan isi pesan yang dihasilkan oleh komunikator akan diterima oleh komunikandengan isi yang berbeda. Proses komunikasi linier sama dengan metode pembelajaranTeacher Center Learning (TCL), pembelajaran satu arah yang bersumber pada guru dalammentransfer pengetahuan pada murid tanpa ada timbal balik secara langsung. Karenaketidakmampuan komunikator untuk menyadari bahwa pesan yang dikirim dan pesan yangditerima tidak selalu identik, merupakan satu alasan sebuah komunikasi itu gagal (Suprapto,2009: 62).Model komunikasi linier ini kemudian dikembangkan menjadi model komunikasitransaksional. Dalam model ini komunikator dapat berperan sebagai komunikan dan jugasebaliknya, komunikan dapat berperan sebagai komunikator. Kemudian model inidikembangkan menjadi model komunikasi konvergen di mana komunikasi sebenarnya bukansekedar suatu proses pemindahan informasi, tetapi suatu proses konvergensi di mana duaorang atau lebih berpartisipasi dalam tukar menukar informasi untuk mencapai salingpengertian antara satu dengan yang lainnya (Suprapto, 2009: 77). Pada metode pembelajaranStudent Center Learning (SCL) ini guru dan murid memiliki peran yang sama yaitu sebagaipartisipan, tidak ada istilah peran komunikator dan komunikan pada model konvergensi ini,dan partisipan dituntut untuk sama-sama aktif dalam berkomunikasi. Perubahan metodebelajar Teacher Center Learning (TCL) yang mempusatkan guru sebagai sumberpengetahuan bergeser menjadi Student Center Learning (SCL) yang menuntut murid untukaktif dalam proses kegiatan belajar mengajar ini didasari karena metode Teacher CenterLearning (TCL) yang dianggap tidak efektif. Metode pembelajaran TCL, guru berperansebagai sumber pengetahuan yang utama sedangkan dalam metode pembelajaran SCL guruberperan sebagai fasilitator dan motivator dalam proses pembelajaran. Metode SCL inimenuntut guru harus pandai menstimulasi kesediaan murid untuk aktif dalam kegiatan belajarmengajar. Namun, tidak banyak guru yang memiliki kemampuan seperti itu.Realitanya, metode pembelajaran SCL ini tidak seefektif seperti yang dibayangkan.Murid yang diharapkan mempunyai kedudukan sejajar dengan guru lebih terkesan pasif dantidak siap dengan metode pembelajaran yang ada. Murid lebih terkesan mejadikan gurusebagai sumber utama pengetahuan dalam pembelajaran. Murid yang disiapkan untukmenjadi aktif dalam proses pembelajaran tidak berperan seperti guru yang juga mempunyaikedudukan yang sama sebagai partisipan. Kemampuan seorang guru yang kreatif dalammenyampaikkan pesan dalam bentuk materi pelajaran pada siswanya sangat dibutuhkan.Kemampuan seseorang dalam menyampaikan isi pesan dalam dunia komunikasi biasa disebutdengan kompetensi komunikasi. Kompetensi komunikasi merupakan kemampuan seorangkomunikator untuk mengirimkan pesan-pesan dengan baik menggunakan pesan-pesan yangdianggap tepat dan efektif dalam suatu situasi tertentu (Morreale et al, 2004: 28). Kompetensikomunikasi ini dapat diukur dengan indikator motivasi komunikasi, pengetahuan komunikasi,dan ketrampilan komunikasi (Morreale et al, 2004: 37).ISIMetode Student Center Learning (SCL) juga diterapkan di SMA N 9 Semarang. Metode SCLyang diterapkan tidak selamanya digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Penerapanmodel ini bergantung pada materi yang akan disampaikan, jika materi yang disampaikanterlalu rumit maka model Teacher Center Learning (TCL) yang digunakan. Seperti padamata pelajaran matematika, guru berperan menjadi sumber utama dari pengetahuan itusendiri, murid hanya menerima materi dari guru. Dan ketika murid tidak memahami materiyang disampaikan, murid memilih untuk bertanya pada teman atau pada guru les dari padabertanya pada guru yang mengajar. Selain itu, model SCL seperti diskusi kelompokmerupakan cara mengajar yang paling gemar diterapkan oleh guru. Walaupun murid telahdiposisikan dalam metode belajar yang menuntut mereka untuk aktif, tidak selamanya merekaberperilaku aktif seperti yang diharapkan. Dan hanya anak tertentu saja yang mampuberperilaku aktif dalam kegiatan belajar mengajar.Kompetensi komunikasi merupakan suatu keinginan yang dipenuhi melaluikomunikasi dengan sebuah cara yang sesuai dalam situasi tertentu (Morreale et al, 2004:28).Kompetensi komunikasi mengacu pada kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secaraefektif. Kompetensi sendiri memiliki pengertian kemampuan seseorang yang meliputiketerampilan, pengetahuan, dan sikap dalam melakukan sesuatu kegiatan atau pekerjaantertentu sesuai dengan standar-standar yang telah ditetapkan. Kata kunci dari kompetensiadalah kemampuan yang sesuai standar. Sedangkan kompetensi komunikasi memilikipengertian kemampuan yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang sesuaidalam mengelola pertukaran pesan verbal dan non-verbal berdasarkan patokan-patokantertentu.Kompetensi komunikasi mencakup hal-hal seperti pengetahuan tentang peranlingkungan (konteks) dalam mempengaruhi kandungan (content) dan bentuk pesankomunikasi (Devito, 1997: 27). Kemampuan merupakan potensi untuk melakukan beberapaaktifitas secara konsisten. Adapun komponen-komponen kompetensi komunikasi dapatdigambarkan dalam skema:Motivation (motivasi) + Knowledge (pengetahuan) + Skills (keterampilan) = CommunicationCompetencyMotivasi merupakan daya tarik dari komunikator yang mendorong seseorang untukberkomunikasi dengan orang lain. Pada dasarnya, aktifitas manusia selalu berhubungandengan adanya dorongan, alasan ataupun kemauan. Motivasi komunikasi ini terdiri dari duatipe yaitu motivasi positif dan motivasi negatif (Morreale et al, 2004:38). Motivasi negatifmengacu pada faktor-faktor yang mengakibatkan ketakutan, kecemasan, atau penghidaran.Faktor-faktor tersebut dapat berasal dari kepercayaan diri dan keyakinan yang kurangdimiliki oleh komunikator. Sedangkan motivasi positif merupakan hasil dari usaha dankeinginan yang mengarahkan perbuatan individu menuju hal yang positif seperti ketertarikan,dorongan untuk memulai komunikasi, kesiapan untuk berkomunikasi.Pengetahuan komunikasi merupakan kegiatan komunikator dalam mencari informasitentang lawan bicaranya sehingga dapat mengurangi tingkat kecemasan dalamberkomunikasi. Seorang individu harus memahami dan menyadari peraturan, norma, danharapan yang diasosiasikan dengan latar belakang orang yang berhubungan dengan individutersebut. Untuk menjadi kompeten, dibutuhkan dua jenis pengetahuan yaitu pengetahuankonten dan pengetahuan prosedural (Morreale, et al, 2004: 38). Pengetahuan konten meliputipengetahuan meliputi topik apa, kata-kata yang digunakan, pemahaman situasi danseterusnya yang dibutuhkan dalam suatu situasi. Pengetahuan prosedural merujuk padapengetahuan bagaimana cara menyusun, merencanakan, dan mentransfer pengetahuan yangdimilki dalam situasi tertentu.Ketrampilan komunikasi merupakan kemampuan yang dapat membimbing seseoranguntuk menghadirkan sebuah perilaku tertentu yang cukup dan mampu mendukung proseskomunikasi secara tepat dan efektif (Morreale et al, 2004: 39). Untuk mengurangiketidakpastian, seorang komunikator sedapat mungkin harus memiliki tiga ketrampilan yaituempati, berperilaku seluwes mungkin, dan kemampuan mengurangi ketidakpastian itusendiri.Tabel II.1Persentase Tanggapan Responden Terhadap Motivasi KomunikasiMotivasi Komunikasi F %Sangat Tinggi 7 8Tinggi 63 72Sedang 17 19Rendah 1 1Total 88 100Menurut data di atas, dapat dilihat bahwa motivasi komunikasi guru SMA N 9Semarang sudah tergolong berkompeten yaitu dengan terbukti angka 72% pada kategorijawaban motivasi komunikasi sangat tinggi dan 8% pada motivasi komunikasi tinggi.Responden atau murid di sini juga berpendapat bahwa motivasi komunikasi yang diberikanguru seperti motivasi positif dapat mendorong murid untuk berpendapat dalam kelas.Walaupun ada beberapa responden yang berpendapat bahwa 19% motivasi komunikasi gurusedang dan 1% motivasi komunikasi guru rendah.Tabel II.2Persentase Tanggapan Responden Terhadap Pengetahuan KomunikasiPengetahuan Komunikasi F %Sangat Tinggi 8 9Tinggi 42 48Sedang 38 43Rendah 0 0Total 88 100Dengan melihat data di atas, 48% responden berpendapat bahwa pengetahuankomunikasi yang dimiliki oleh guru SMA N 9 Semarang dalam kegiatan belajar mengajardapat dikatakan memiliki pengetahuan yang tinggi. Akan tetapi temuan angka pada kategoriberpengetahuan sedang juga tidak jauh dengan kategori berpengetahuan tinggi yaitu 43%,selisih 5% dengan kategori berpengetahuan tinggi.Tabel II.3Persentase Tanggapan Responden Terhadap Ketrampilan KomunikasiKetrampilan Komunikasi F %Sangat Terampil 6 7Terampil 32 36Kurang terampil 50 57Tidak terampil 0 0Total 88 100Sebagian responden berpendapat bahwa ketrampilan komunikasi guru masih dapatdikatakan kurang terampil. 57% responden berpendapat bahwa empati, perilaku luwes,kemampuan dalam mengurangi ketidakpastian guru belum dapat membantu murid untuk aktifberinteraksi di dalam kelas. Sehingga diperlukan usaha guru yang lebih untuk dapat menarikperhatian murid agar dapat ikut aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar baik itumelalui cara mengajar, kondisi kelas, dan lain-lain. Akan tetapi, 36% responden berpendapatbahwa ketrampilan komunikasi guru sudah masuk dalam katagori terampil.Untuk mengetahui gambaran kompetensi komunikasi secara keseluruhan berdasarkantabel-tabel yang telah dipaparkan sebelumnya, dapat dilihat melalui gabungan skor indikatormotivasi komunikasi, pengetahuan komunikasi dan ketrampilan komunikasi. Dari gabunganskor indikator tersebut diklasifikasikan ke dalam 4 kategori yaitu: sangat kompeten,kompeten, tidak kompeten dan sangat tidak kompeten.Tabel II.4Persentase Tanggapan Responden Terhadap Kompetensi KomunikasiKompetensi Komunikasi F %Sangat Kompeten 6 7Kompeten 42 48Tidak Kompeten 40 45Sangat Tidak Kompeten 0 0Total 88 100Berdasarkan perhitungan interval kelas di atas dapat diketahui bahwa persepsiresponden mengenai kompetensi komunikasi yang dimiliki oleh guru dalam kegiatan belajarmengajar berbasis Student Center Learning di SMA N 9 Semarang tergolong berkompeten.Terbukti dengan tingginya angka pada kategori kompeten sebesar 48% dan sangat kompeten7%. Meskipun begitu, terdapat sebagian yang menyatakan bahwa guru tidak berkompetendalam kegiatan belajar mengajar sebesar 45%. Penilaian responden pada motivasi,pengetahuan dan kompetensi komunikasi yang dimiliki guru dinilai belum berkompetensecara keseluruhan. Hal ini perlu menjadi perhatian bahwa guru perlu juga mengamati secaralangsung keadaan murid sehingga dalam kegiatan belajar mengajar berlangsung guru dapatmengetahui kondisi keadaan muridnya masing-masing.PENUTUPBerdasarkan latar belakang masalah, masalah dan tujuan penelitian, penilaian muridterhadap kompetensi komunikasi guru dalam kegiatan belajar mengajar berbasis studentcenter learning (SCL) di SMA N 9 Semarang, dari indikator kompetensi komunikasi yaitumotivasi komunikasi, pengetahuan komunikasi dan keterampilan komunikasi dapatdisimpulkan bahwa kompetensi komunikasi guru tergolong dalam kategori kompeten (datadalam bab III tabel III.41).Dari unsur-unsur yang terdapat pada motivasi komunikasi, guru dinilai berkompetenoleh murid dalam memberikan motivasi pada muridnya. Artinya, guru dapat memberikanmotivasi positif dalam mendorong murid untuk dapat mengeluarkan pendapat, menjawabpertanyaan, aktif berdiskusi dan lain-lain. Indikator pengetahuan komunikasi sepertipengetahuan konten dan pengetahuan prosedural, guru tergolong dikategorikan mempunyaipengetahuan yang tinggi (data dalam bab III tabel III.42). Dan hal ini berarti guru mempunyaipengetahuan apa yang harus disampaikan pada murid dan dalam cara bagaimana agar dapatmendorong murid aktif berpatisipasi dalam kegiatan belajar mengajar. Sedangkan darisegi ketrampilan komunikasi guru, guru dikatakan mempunyai ketrampilan yang rendah (datadalam bab III tabel III.43). Dengan ketrampilan komunikasi yang rendah ini, guru tidak dapatmempraktekan pengetahuan komunikasi yang dimiliki sehingga pengetahuan komunikasiyang tinggi tidak dapat diterapkan secara baik oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar.Walaupun guru mempunyai ketrampilan komunikasi yang kurang, dapat disimpulkansecara keseluruhan bahwa kompetensi komunikasi yang dimiliki guru SMA N 9 Semarangtermasuk dalam katagori kompeten (data dalam bab III tabel III.44). Seperti pada data temuansebelunya yang mendeskripsikan bahwa temuan angka pada ketegori tidak kompeten jugatidak jauh dari kategori kompeten yaitu sebesar 45%. Hanya 55% responden yangberpendapat bahwa guru memiliki kompetensi komunikasi yang kompeten.DAFTAR PUSTAKABeebe, Steven A, Susan J.Beebe, Mark V.Redmond. 2005. Interpersonal CommunicationRelating to Others. USA: Pearson Education.Devito, Joseph. 1997. Komunikasi Antar Manusia (edisi ke 5). Jakarta: ProfessionalBooks.Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariete dengan Program SPSS (cetakan ke 4).Semarang: Universitas Diponegoro.Morreale, Sherwyn P, Brian H. Spitzberg, J.Kevin Barge, Julia T. Wood, Sarah J.Tracy.2004. Introduction to Human Communication. USA: Wadsworth Group.Norton, Robert. 1983. Communicator Style. London: Beverly Hills.Sekaran, Uma. 2006. Metode Penelitian untuk Bisnis (cetakan ke 4). Jakarta: Salemba Empat.Siagian, Sondang P. 2004. Teori Motivasi dan Aplikasinya (cetakan ke 3). Jakarta:Rineke Cipta.Slameto. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya (cetakan ke 4). Jakarta:Rineka Cipta.Sugiyono. 2004. Metode Penelitian Bisnis (cetakan ke 7). Bandung: Alfabeta.. 2006. Statisitka untuk Penelitian (cetakan ke 9). Bandung: Alfabeta.Suranto, Aw. 2011. Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Graha Ilmu.Suprapto, Tommy. 2009. Pengantar Teori dan Manajemen Komunikasi (cetakan 1).Yogyakarta: Media Presindo.Syarbini, Amirulloh. 2011. Rahasia Sukses Mejadi Pembicara Hebat. Jakarta: Gramedia.Kurnaefi, “Buku Panduan Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi PendidikanTinggi” www.unud.ac.id diakses pada 2 April 2013
KOMUNIKASI PERSUASIF PENGURUS ORGANISASI SEPAK BOLA DALAM PEMBINAAN ETIKA DUKUNGAN KELOMPOK SUPORTER FANATIK KLUB SEPAK BOLA NASIONAL Muhammad Haikal, Khan; Naryoso, Agus
Interaksi Online Vol 7, No 2: April 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.261 KB)

Abstract

This study was done based on the poor ethical peformance of the Indonesian Football League supporters at giving the support to their favorite team, that leads to the both parties (supporters or football team) got negative consequences whether in a form of fining or suspension. This study aims to find out and analyze persuasive communication carried out by the management of the football club organization in fostering the ethical support of the fanatical support group. This study took the research subject of organizational management from PSIS Semarang and PSIM Jogja. PSIS Semarang was chosen because it is famous for League 1 clubs that have two groups of fanatical supporters, while PSIM Jogja was chosen because it is one of the oldest clubs in Indonesia. This research is a descriptive qualitative study that uses case studies as a research method with match pattern analysis as its analysis technique. The results of this study show how to compile persuasive messages, administrators of ball organizations use conventional logic and rhetorical logic. Rhetoric logic become the logical thinking of organizational management when meeting directly with supporter groups, while conventional logic becomes the logic of organizational management thinking on messages on social media. The rhetoric logic that is often used raises messages that show the position of the organization's management of the position of the relationship in obtaining coordination. This power of relationship position also influences the persuasive communication techniques used by the management of the organization. The technique of emotional attraction in persuasive communication by the organizers of soccer organizations is the one most often used. The emotional side that is most often used is to express the club's problems that must be paid for the reasons that are worse than the group of supporters. In addition to emotional attractiveness, the attraction of fear is also used by the organizers of the organization in fostering the ethics of the support of its supporters. The fear of the club will face difficulties and losses due to the act of the support group making supporters group think again to take actions that have been approved by the PSSI. For the sake of becoming a professional club, the club of course runs the rules of the AFC to foster good relations with the group of supporters.
Hubungan Intensitas Terpaan Iklan Media Luar Ruang dan Persepsi tentang Asosiasi Merek dengan Loyalitas Konsumen untuk Menggunakan Kartu Indosat IM3 Christiyanto, David Fredy; Nugroho, Adi; Yulianto, M; Naryoso, Agus
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.696 KB)

Abstract

Iklan media luar ruang merupakan salah media promosi yang masih dianggap efektifoleh perusahaan untuk melakukan promosi produk mereka. Dengan penempatan iklan diluar ruang diharapkan pesan yang ingin disampaikan bisa di terima oleh khalayak secaraluas. Selain iklan Pandangan khalayak yang mengenai sebuah brand juga akanberpengaruh kepada brand tersebut diterima masyarakat atau tidak. Kedua faktor diatasdianggap bisa memiliki hubungan bagaimana factor-faktor tersebut bisa menjadikankonsumen menjadi konsumen yang loyal. Loyalitas konsumen merupakan hal yangingin dicapai setiap brand yang bisa menimbulkan hubungan yang berkesinambunganantara perusahaan atau brand dengan konsumen.Untuk melihat bagaimana iklan media luar ruang dan asosiasi merek memilikihubungan dengan loyalitas pada penelitian ini peneliti menggunakan teori ElaborationLikelihood Model (ELM) dan Perception (DeVito). Hasil dari penelitian ini menemukanbahwa intensitas terpaan iklan media luar ruang dan persepsi tentang asosiasi merekIndosat IM3 memiliki hubungan dengan loyalitas konsumen untuk menggunakan kartuIndosat IM3. Bagaimanapun faktor-faktor tersebut bisa mempengaruhi nilai dariloyalitas konsumen terhadap brand.
Public speaking competency analysis of Indonesian legislative in the first election part of Central Java FITRI, DHEARAMA; Naryoso, S.Sos, M.Si, Agus
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.084 KB)

Abstract

This research was held to know and to evaluate public speaking competency of one of Indonesian Legislative members, Juliari Peter Batubara, with constituent research object who attended in recess in the first election part of Central Java. The method which be used is descriptive quantitative. The result of research showed that Juliari’s appearance looks tidy, with a fresh face, well dressed with matching suit, casual clothes and appropriate with theme of activity. Juliari could control his intonation, and has good tempo. Juliari has clear intonation and clear pronunciation. He used understandable analogy and language. The delivered material are actual, relevant with the audiences, complete with sample case, and give some supporting data from the speech. Juliari’s eyes contact is good and there is no over movement. Juliari did not utilize his body language in showing important point and his standing looks uncomfortable and seems awkward. The opening of his speech without giving a question, without shocking or interesting part, and there is no joke in it. Juliari gave and deliver some positive quotes to close his speech as an invitation. Juliari did not give joke in his speech like giving poetry in the beginning or end of his speech, closing with singing a song, or giving some jokes in his speech’s content when recess time in the first election part of Central Java. Based on this research, Juliari has good public speaking competency in some some aspects. The aspect which has not applied by Juliari in his speech is joke.
Interpersonal Communication to Build Commitment in Serious Courtship Naome, Elisabeth; Naryoso, S.Sos, M.Si, Agus
Interaksi Online Vol 4, No 3: Agustus 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.481 KB)

Abstract

Lots of adults being in relationship only for having fun and for eliminating „single‟ status with no seriousness for both future. In a relationship just for having fun often cause conflict within relationship because they have no trust and commitment which are the foundation. Interpersonal communication determine the success or failure of the couple to maintain and achieve one common goal. The purpose of this study was to understand interpersonal communication to build commitment in serious courtship for couples. This is a qualitative research with interpretative paradigm and phenomenological methodology. Research subjects are two couples which at least one year of dating. The theory in this research are Maintenance Relationship from Laura Stanford & Canary and Self Disclosure from Joseph Luft & Harry Ingham. Research shows that couples has interpersonal communication in self disclosure, self concept, verbal and nonverbal context in a good level. Openness between couples make them closer and getting more deeper private information of partners. Couples has positive self concept of them self. Verbal communication is often and nonverbal communication is for support. Nonverbal capable of being a lie detector between couples. In maintenance relationship, couples has high level of trust. They also keep and doing their commitment. The conclusions of this research is that low intensity of interpersonal communication can cause conflicts for couple. Moreover, one of the forms of interpersonal communication to build commitment in serious courtship is self disclosure from both couple. The quality of verbal and nonverbal communication necessary to avoid conflicts. Also a positive self concept is necessary to improve the relationship quality. Couple indicates love through verbal and nonverbal communication which can be seen through each other‟s way to reveal their feelings to their partner. And nonverbal can be seen through eye contact, distance proximity and touch when they met. Mutuality turn “me” into “us” and it can increase intimacy
PENGELOLAAN KONFLIK PASANGAN ASMARA YANG BERKENALAN DAN BERKOMITMEN MELALUI SOSIAL MEDIA TINDER Rizky F, Annisa; Naryoso, Agus
Interaksi Online Vol 7, No 4: Oktober 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.49 KB)

Abstract

The presence of Tinder social media is seen as a solution to get partners for some of its users, the use of Tinder in Indonesia itself has sufficiently developed and becomes increasingly in demand by teenagers and adults. Survey shows that 59.3% of Tinder users are male and Tinder itself is most downloaded by those aged 25-34 years, which amounted to 51.9%. Interestingly, Indonesia is ranked 7th as the most downloaders and online dating users in the world. However, along with the many users of Tinder social media in Indonesia, there are also many conflicts that can be obtained through Tinder. Based on the data of Application Poll (Jakpat) in 2017, there were 512 respondents aged 16-45 years who said that there were 12.52% of the online dating application users that have experienced verbal and visual harassment when accessing Tinder. Besides, there are many Tinder users who increasingly suspect and experience uncertainty, due to the low level of trust as well as knowledge of the potential partner. This study aims to determine how the conflict management and uncertainty reduction are conducted by individuals when they choose to meet up and decide to date partners that they met in Tinder. This study uses a qualitative method with phenomenological approach as well as the basic theory of maintenance relationship developed by Steford and Canary and the uncertainty reduction theory developed by Charles Berger. Data collection technique used in this research is in-depth interviews with the research subjects of lovers who met in social media Tinder and often falsify their identity until they decide to continue their relationship as in dating and one female informant who use ocial media Tinder with a false identity. The results show that couples who met and committed love through social media Tinder manage conflict by being silent and distant to his or her partner. It aims to avoid undesirable things as well as emotions that continue to remain inside. In addition, couples who met through Tinder often do stalking in order to reduce uncertainties.
PENGARUH PROMOSI, PUBLISITAS, DAN FREKUENSI WORD OF MOUTH TERHADAP MINAT KUNJUNGAN WISATA KE KABUPATEN SEMARANG Hutabarat, Oithona Gracelia R.; Nugroho, Adi; Naryoso, Agus; Gono, Joyo NS
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.25 KB)

Abstract

Perkembangan pariwisata di Indonesia saat ini didorong untuk menjadi salah satu sektor yang memberikan andil besar dalam pengembangan perekonomian dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Hal tersebut juga menjadi prioritas Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang, di mana sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang mampu mendukung pendapatan asli daerah.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan mengambil lokasi penelitian di Kab. Semarang. Pendekatan penelitian yang dilakukan mengunakan pendekatan kuatitatif untuk mengetahui pengaruh dari promosi, publisitas, dan WOM terhadap minat kunjungan wisata ke Kab. Semarang. Data didapatkan melalui penyebaran kuisioner secara merata terhadap populasi atau sampel penelitian, yaitu wisatawan dari Kota Semarang. Seluruh data dan informasi yang berhubungan dengan penelitian ini diwujudkan dalam bentuk angka dan dianalisis menggunakan statistik untuk penelitian. Dengan demikian, tujuannya adalah untuk mengetahui apakah promosi, publisitas, dan WOM berpengaruh signifikan terhadap keputusan wisatawan dalam melakukan kunjungan wisata ke Kabupaten Semarang.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa 1) Promosi berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap keputusan kunjungan wisata. 2) Publisitas berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap keputusan kunjungan wisata. 3) Word of Mouth berpengaruh negatif dan signifikan terhadap keputusan kunjungan wisata. 4) Promosi, Publisitas, dan frekuensi Word of Mouth secara bersama-sama berpengaruh terhadap minat kunjungan wisata ke Kab. Semarang.
Self-conception of Local Dangdut Female Singers Nicko Besari, Adita; Naryoso, S.Sos, M.Si, Agus
Interaksi Online Vol 4, No 4: Oktober 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.565 KB)

Abstract

The existence of local dangdut singers in family and environment tent to cause barriers in interpersonal communication which they have done. The prejudices and negative stereotypes are what the local dangdut singers’ get that can affect the forming process of the self-conception. These phenomena have affected the trusts and attitude of local dangdut singers when doing conflict resolution. This research uses phenomenology tradition approaches for learning from the local dangdut singers’ experience when the self-conception is in forming process in conflict resolution. It is alsouses the theory of perceptual accentuation that emphasizes the self-conception of local dangdut singer that affects the trust to handle the barriers. As the effort of doing the conflict resolution, this research also uses An Attribution Theory of Conflict, which emphasizes the efforts in achieving and conflict solving. The result of the research is shows that the relationships of local dangdut singers are tent to fail and could not find familiarity and even reach the destruction state. The prejudices and negative stereotype gives influence to local dangdut singers in personal. They value their self as a negative that affect their trust and the ability to handle the barriers. These things impacts on attitude variation when doing conflict resolution and gives more output variation of conflict solving in this research.
THE CORRELATION OF BUZZ MARKETING EXPOSURE OF EVENTSMGID AND EDUCATIONAL LEVEL OF FOLLOWER WITH FOLLOWER DECISION TO COME TO EVENTSMGID MEDIA PARTNER Maulana, Ahmad; Naryoso, S.Sos, M.Si, Agus
Interaksi Online Vol 5, No 2: April 2017
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.946 KB)

Abstract

Holding an event is one of marketing communication tool that conducted by a company, institution, or organization to achieve certain goals. In the implementation, to reach the desired targets of visitors, event organizer can invite buzzer media partner as third party to promote their event, including in Semarang city. One of buzzer media partner form that exist in Semarang is EVENTSMGID. EVENTSMGID have done media buzzing well to attract consumers. However, in reality there are some events which are cooperate and trusting marketing strategy through social media to EVENTSMGID could not reach the visitors that they want so they loss.Therefore, this research aim to know whether buzz marketing of EVENTSMGID is correlated with follower decision to come to EVENTSMGID Media Partner. Beside buzz marketing exposure, this research also examining the correlation of Educational Level of Follower with follower decision to come to EVENTSMGID Media Partner. The theory used in this research is Elaboration Likelihood Theory. This is explanatory research that will explaining cause and effect among variables. Sample of this research are active followers of EVENTSMGID during one last year. The amount of respondents are 96 peoples took based on purposive sampling. Data analysis used in this research is Kendall Tau-B analysis. The results of this research showed that the exposure of buzz marketing has positively correlated with follower decision to come to EVENTSMGID Media Partner and the educational level of follower has negatively correlated with follower decision to come to EVENTSMGID Media Partner.
Hubungan antara Terpaan Publisitas dan Faktor Demografis dengan Dukungan Masyarakat pada Kegiatan City Branding Jepara Wildan, Arbi Azka; Naryoso, Agus; Lestari, Sri Budi; Rahmiaji, Lintang Ratri
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.016 KB)

Abstract

City branding merupakan upaya atau strategi dari suatu kota untuk membuat positioning yang kuat di regional maupun global. Jepara memerlukan kegiatan city branding untuk memperkuat positoningnya diantara kota-kota lain, turut serta melibatkan masyarakat dan media juga sangat diperlukan dalam kegiatan city branding. Lalu, adakah hubungan antara terpaan publisitas dan faktor demografis dengan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding Jepara?Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji korelasi terpaan publisitas dan faktor demografis dengan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding Jepara. Hipotesis dari penelitian ini adalah Terdapat hubungan antara terpaan publisitas dengan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding Jepara dan Terdapat hubungan antara terpaan publisitas dan faktor demografis dengan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding Jepara. Penelitian ini menggunakan uji analisis korelasi pearson dan Reinforcement Theory serta Teori Kategori Sosial digunakan untuk menjelaskan hubungan antara terpaan publisitas dan faktor demografis dengan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding Jepara. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Jepara yang diambil sebanyak 50 orang, secara purposive.Adapun hasil penelitian menunjukkan nilai koefiensi korelasi terpaan publisitas kegiatan city branding kota Jepara menunjukkan angka sebesar 0,219, artinya terpaan publisitas kegiatan city branding kota Jepara dan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding memiliki korelasi rendah. Sedangkan koefisiensi korelasi faktor demografis menunjukkan angka 0,059, artinya faktor demografis dan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding memiliki korelasi sangat rendah. Nilai koefisiensi korelasi keduanya menujukkan angka positif (+), maka dapat disimpulkan bahwa keduanya memiliki hubungan yang searah atau linier, artinya semakin tinggi terpaan publisitas dan faktor demografis maka semakin tinggi pula dukungan masyarakat pada kegiatan city branding kota Jepara. Pada penelitian ini hasil uji korelasi menunjukkan korelasi rendah, berarti bahwa publikasinya rendah sehingga dukungan masyarakat pada kegiatan city branding juga rendah.
Co-Authors Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Saputro, Topo Adi Sukma Waldi Adita Nicko Besari, Adita Afny Khotiatina Afrida Renindyana Putri Agnesya Putri Winanda Ahmad Jailani Siregar Ahmad MAULANA Ahmad Mulyadi Ahyar Yuniawan Aini Fathuningtyas, Maghfira Ainurizaq Putri Aria Santi Al Ghifari, Rafdil Alam Tonggak Amarta Aldha Wulan Nugraheni Aldi Atwinda Jauhar Aldiansyah, Duvit Aldila Leksana Wati Alif Ardhi Wijaya Alifati Hanifah Alisha Mumtaz, Farah Ambar Rakhmawati Amelia Monica Amida Yusriana Amida Yusriana Aminuyati Amrina, Afrilla Anastasia Betsy Palupi Andhika Putra Nugraha Andika Al Hakiem, Muhammad Angelika Putri Ariyani Anggia Anggraini Anggita Muti Arani Zulaikho Anggita Primartiwi Anindhita Puspasari Anindya Ratna Pratiwi Anis Kurniasih Anisa Citra Mahardika Annisa Aulia Mahari Anugrah Beta Familio Anunsiata Vanda Sanderiana Apriani Rahmawati Apriliansyah, Dimas Arbi Azka Wildan, Arbi Azka Ardelia Fitriani, Neysa Arditya Drimulrestu Arifa Rachma Febriyani Arifa Rachma Febriyani Arum Fatimah, Zahra Arum Putri Anjaly Asri Rachmah Mentari Astifah Asdir Atasa Yudha Ergana Atina Primaningtyas Audrey Marsanda, Marchella Audrey Nathania Priscilla Karundeng AULIA NURHASANAH, LISTIA Auralia Wahyu Pradipta Aurisa Hangesti Putri Ayu Emilia Kurniawati Azalea Puspa Sessarina Azka Tsania Yahdini Bagas Satria Pamungkas Basir, Rafi Usman Bayu Bagus Panuntun Bayu Vita Al Hayuantana, Bayu Vita Beta Himawan Putra, Beta Himawan Bintang Diega Pratama Budi Adityo Budiansyah, Dadan Charisma Rahma Dinasih Chykla Azalika Cipta Uli Mediana, Cipta Danieta Rismawati David Fredy Christiyanto David Fredy Christiyanto, David Fredy Debi Astari Decyana Ristiani Deni Arifiin Denta Iswara Kiranasari Setiaji Desy Nurulita Devi Yuhanita Qorina, Devi Yuhanita DHEARAMA FITRI, DHEARAMA Dimas Luky Endra Sadewo, Dimas Dimas Muhammad Dinda Dwimanda Wahyuningtias Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Dubha Kaldota Diptapramana Dwi Candra Rini Dwi Purbaningrum Dwi Purbaningrum, Dwi Dyah Pitakola, Dyah Dyah Woro Anggraeni Egi Famela Elbert Adinugraha Christianto, Anthony Elisabeth Diana Tindarana Elisabeth Naome, Elisabeth Elisabeth Putri Widasari Elisabeth Sianturi Endang Retnowati Endivi Reksi Novrinta Reksi Novrinta Eryke Pramestaningtyas Fajrina Aulia Arumdhani Fajru Akbari Putra Sinik, Fikri Falah, Moh. Imam Fajrul Febriyanti, RT Annisa feby mangireta . Felisitas Yolandita Suryo Kinasih Fetiyana Luthfi Prihandini Feyza Syifa Ashila Fitri Kaniyah Fitri Nur Hidayat Gabryella, Cathrine Gebiya Efriman Putri Ghaisani, Shabrina Ghozi Garbo Sumarsono Hafiz Maulana Sadiq Hanan Hauzan, Muhammad Hapsari Dwiningtyas Harry Vidita Eka Putra Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hendrianto Noor Ikhwan Henny Novita Rumono Hesti Rahmawati, Widiastri Hilal Al Roshid, Fhatwa Hosa Abirama Kalandara Hutauruk, Bagas Ilman Mursid Andaru Imam Dwi Nugroho Indah Pratiwi Intan Murni Handayani Irawati Sri Wulandari Irfan Zuldi Irine Rachmitasari, Irine IVON BAHARANI, IVON Jana Miani Ulfah Jaza Akmala Ramada Jeffry Septian Putra Jehovani Ratna Mourina, Stella Jessica Inez Indriani, Febronia Joyo NS Gono Joyo Nur S Gono Joyo Nur Suryanto Gono Joyo Nur Suryanto Gono Joyo Nur Suyanto Gono Juita Putri Tristanti, Juita Junelsa Panggalo Kaloka, Rintulebda A. Karina Desi Hariyanto Kartika Ayu Pujamurti Kevin Surya Laksmana, Muhammad Khairunnisa Azizah Khalwah Nabilah Ustushfia Khansa Faadilah Kiky Rizkiana Laeis, Zuhdiar Lintang Ratri Rahmiaji Lintang Ratri Ramiaji Lizzatul Farhatiningsih Lovegi David Sanjaya, Lovegi David Lutfi Oktavia Dewi M Bayu Widagdo M Yulianto M. Ikhlasul Amal Maghfira Ainun F. Maharani Harris, Marsya Manggala Hadi Prawira Maria Elgyptya Assegaff Marlia Rahma Diani Marshanda Putri, Tyara Martha Caesarin Putri Yulinta Maya Puji Lestari Melinda Ayu Santosa Mellisa Indah Purnamasari Mia Michaela Michael Lucky Ananda Mj Rizqon Hasani Mj Rizqon Hasani, Mj Rizqon Much Yulianto Much Yulianto M.Si Much Yulianto M.Si, Much Yulianto Much. Yulianto Muchamad Yuliyanto Muchamad Yuliyanto Muchamad Yuliyanto Muhammad Haikal, Khan Muhammad Hasan Atqiya Muhammad Kholis Nuha Muhammad Raihan Alifiardy Muhammad Rizki Maulana Mujahidah Amirotun Nisa Mustika Berlinda, Lisa Nabila Rezki, Anisa Nabila, Nisrina Laila Nadhif Zufar Faizal, Sulthan Nadia Audy Janatun Adn Nadia Dwi Agustina Nadin Khairun Nisa Nadya Putri Arnolia Naili Farida Nanda Immanuella Natasya Elizabeth Nimas Sintha Naurisma Ninda Nadya Nur Akbar Novia Widiastuti Novita Wulandari NS Gono, Joyo Nur Suryanto Gono, Joyo Nurayyan, Amanda D Nurist Surayya Ulfa Nuriyatul Lailiyah Nurrist Suraya Ulfa Nurriyatul Lailiyah Nurul Hasfi Oithona Gracelia R. Hutabarat, Oithona Gracelia R. Phopy Harjanti Bulandari Pinondang Caroline, Andrea Primada Qurrota Ayun Putri Susiandi, Alya Radhityo Ryandhika Rakadiputra Rahmanuz Zidan, Aimar Rahmi Hayati Rakanita Oktaviani Hadi Saputri Rakasiwi Oktaviana Hadi Saputri Rasyid Farhan Taufik, Mohammad RATIH KHOIRUNNISA Raynaldo Faulana Pamungkas Razan Fathantra, Ryan Renindyana Putri, Afrida Retno Wulandari Retno Wulandari Reza Andriana Dewanti Rian Irmawan Ribka Minatisari Sekeon Rifka Ayu Pertiwi Rintulebda A.K Rintulebda Anggung Kaloka Rismiyati Rismiyati Rizki Nuriandini Rizky F, Annisa Rizky Johanuari Putri Rony Kristanto Setiawan Rr Ratri Feminingrum Rukti Rumekar S Rouli Manalu Saiful Imron Sakinah KP, Dianti Santoso, Hedi Pudjo Saskia Elvira Saundra Centauria Selo Pangestu Imawan Sembiring, Rinawati Shabrina Farahzatu Ghassania Shahnaz Natasha Anya Shinta Maheswari, Irene Silvia Kartika C Dewi Silviana, Resy Siska Nofianti . Siti Ahmaniar Cahya Lestari Siti Ahmaniyar Siti Hawa . Somadi, Ayunda Fitria Sri Ageng Wirdhana Sri Budi Lestari Sri Budi Lestari Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Stephany Alamanda Sunarto Sunarto Sunarto Sunarto Surya Prabhaswara, Fauzan Sutandi, Richard Jeremy Suwanto Adhi Tandiyo Pradekso Tantri Puji Widyasari Tatia Ridho Ramadhanti Taufik Suprihartini Tegar Tuanggana Teresia Kinta Wuryandini Tiur Agata, Elisa Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo U Simanullang, Friska Ulya Saida Velina Prismayanti Susanto Vinna Dewi Haryanti Wafda Afina Dianastuti Wahyu Tri Oktaviani Wening Jiwandaru Pradanari Wibisono, Andika Widya K. Siahaan Williams Wijaya Saragih Wiwid Noor Rakhmad Wiwied Noor Rakhmad Wiwied Noor Rakhmad Wulan Ferra Safitri Xavera A, Patrick Yanuar Luqman Yekholia Maoureenth Priharjanto Yeni Setyowati Yenny Puspasari Yenny Puspitasari Yolan Enggiashakeh Soemantri yossie Christy Thenu Yossie Chrity Thenu Yuaristi Ekantina Yuliani Khoirun Nisaa Yulistra Ivo Azhari Yuliyanto, Muh. Zahra Natty Fakhrana Zamratul Khairani Z, Zamratul Khairani Zulinda Vidiatama