Anak perempuan yang mengetahui bahkan menjadi saksi perselingkuhan orang tua sering kali merasa terabaikan, tidak dihargai, dan kesulitan dalam memproses perasaan mereka, dan memaafkan keadaan dan kejadian yang dialami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pelatihan Pemaafan untuk meningkatkan Penerimaan Diri pada perempuan Dengan Orang Tua Berselingkuh. Subjek dalam penelitian ini adalah perempuan dengan rentan usia 18-24 tahun yang orang tuanya berselingkuh sebanyak 8 orang partisipan dengan kategori penerimaan diri rendah. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen one group pretest-posttest design. Penelitian ini menggunakan uji Wilcoxon dengan hasil analisis data yang diperoleh menunjukkan perbedaan sebelum dan sesudah pemberian pelatihan pemaafan dengan nilai taraf signifikansi sebesar 0,012 (p < 0,05) . Sehingga dapat dikatakan bahwa ada pengaruh pelatihan Pemaafan dalam meningkatkan Penerimaan Diri pada perempuan dengan orang tua berselingkuh. Hasil penelitian ini dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi individu yang mengalami kesulitan dalam memaafkan dan memiliki tingkat penerimaan diri yang rendah akibat pengalaman emosional tertentu, seperti konflik dalam keluarga.Selain itu temuan dari penelitian ini juga mampu memperkuat teoritis dan memberikan pemahaman terkait dengan pemaafan dan juga penerimaan diri pada anak. Dan bagi orang tua mampu memberikan gambaran tentang pemahaman bagaimana penerimaan diri pada anak akan sangat berpengaruh bagi kehidupan mereka.