ABSTRAKSrimpen Manggala Retna merupakan tari klasik gaya Surakarta, yang diciptakan oleh S. Ngaliman Tjondropangrawit, pada tahun 1970. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui, menganalisis dan mendeskripsikan karakteristik visual tari Srimpen Manggala Retna. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan koreografi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Penelitian karakteristik visual tari Srimpen Manggala Retna dapat diketahui melalui bentuk penyajian yang dapat dilihat secara visual tentang ciri khas yang ada pada tarian ini. Melalui bentuknya dapat dianalisis dari keutuhan jika dikaitkan dengan konsep Jawa tentang sêlirang sêtangkêp dan loro-loroning atunggal. Variasi dapat disejajarkan dengan wilêd dalam Hasta Sawanda. Repetisi atau pengulangan dapat diketahui dari perhitungan beberapa motif yang sering diulang. Kontras dapat diketahui dari motif gerak yang berlawanan. Transisi dapat disejajarkan dengan pancad dalam Hasta Sawanda.Urutan dapat diketahui dari struktur koreografi dan struktur iringan. Klimaks dapat diketahui dari struktur koreografi dan struktur gendhing. Proporsi dapat diketahui dari besar kecilnya kuantitas antara gerak, tempat pertunjukan dan penari. Keseimbangan dapat dikaitkan dengan konsep Jawa tentang sangkan paraning dumadi. Selaras dapat diketahui dari keselarasan gendhing pengiring dengan gerak-gerak yang lembut, runtut, luruh, teratur, serta mbanyu mili.ABSTRACTSrimpen Manggala Retna is a classical dance from the Surakarta style, created by S. Ngaliman Tjondropangrawit in 1970. This research aims to identify, analyze, and describe the visual characteristics of the Srimpen Manggala Retna dance. A qualitative research method with a choreographic approach was employed. Data was collected through literature review, observation, interviews, and documentation. Data analysis was conducted using qualitative descriptive analysis. The visual characteristics of the Srimpen Manggala Retna dance can be identified through its visual presentation, revealing the unique features of this dance. Through its form, it can be analyzed in terms of its wholeness when linked to the Javanese concept of sêlirang sêtangkêp and loro-loroning tunggal. Variation can be equated with wilêd in Hasta Sawanda. Repetition can be determined by counting the frequency of repeated motifs. Contrast can be identified through opposing movement motifs. Transition can be equated with pancad in Hasta Sawanda. Sequence can be determined from the choreographic structure and the accompanying musical structure. Climax can be identified from the choreographic structure and the structure of the gendhing. Proportion can be determined by the quantity of movement, performance space, and dancers. Balance can be linked to the Javanese concept of sangkan paraning dumadi. Harmony can be identified from the harmony of the accompanying gendhing with the gentle, flowing, smooth, and rhythmic movements."