Claim Missing Document
Check
Articles

SURAU WITHOUT BUYA: Authority and the Shifting Foundations of Minangkabau Cultural Life in Indonesia Febri Yulika; Iswandi Syahputra; Azhari Akmal Tarigan; Benny Ridwan; Fatahuddin Aziz Siregar
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 50, No 1 (2026)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v50i1.1568

Abstract

This study examines the shifting role of the surau within Minangkabau society in West Sumatra, where it once functioned as a central institution for worship, learning, and the moral formation of young men. Traditionally anchored in the authority of the buya, the surau embodied a living synthesis of Islamic teaching and customary values. Drawing on field-based research, including in-depth interviews with religious scholars, customary leaders, and cultural experts, this study traces a significant transformation in its contemporary meaning. The findings suggest that the gradual detachment of the surau from the figure of the buya has eroded its philosophical and cultural significance, reducing it to a largely symbolic or physical space. This shift is closely linked to the diversification of Islamic educational orientations and the growing influence of local political dynamics. As a result, the surau no longer operates as a formative cultural institution, raising broader questions about continuity, authority, and identity in Minangkabau society.
Eksistensi Maniliak Bulan Zulhijah di Era Modern: Studi Kasus Menjaga Tradisi Dalam Tantangan Globalisasi di Nagari Manggopoh Palak Gadang Ulakan Kabupaten Padang Pariaman Viona Anggia Putri; Febri Yulika
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v5i1.8014

Abstract

Tradisi maniliak bulan merupakan salah satu praktik keagamaan masyarakat Ulakan Tapakis yang dilakukan melalui pengamatan hilal secara langsung sebagai dasar penentuan awal bulan Zulhijah dalam penetapan Hari Raya Idul Adha. Tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan aspek keagamaan, tetapi juga mengandung nilai sosial, budaya, dan historis yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, perkembangan zaman dan pengaruh modernisasi menimbulkan tantangan terhadap keberlangsungan tradisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan tradisi maniliak bulan serta menganalisis eksistensinya dalam kehidupan masyarakat Nagari Manggopoh Palak Gadang Ulakan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan tokoh adat, alim ulama, serta masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi maniliak bulan masih tetap dilaksanakan hingga saat ini dengan tahapan pelaksanaan yang relatif konsisten, meliputi persiapan, pengamatan hilal, musyawarah, dan penyampaian hasil kepada masyarakat. Keberlanjutan tradisi ini didukung oleh peran aktif tokoh adat dan tokoh agama, serta adanya upaya pewarisan nilai-nilai tradisi kepada generasi muda. Dengan demikian, tradisi maniliak bulan memiliki peran penting tidak hanya sebagai penentu waktu keagamaan, tetapi juga sebagai sarana pelestarian identitas budaya dan nilai religius masyarakat Ulakan Tapakis.
The ethnoecology of the Malay sacred myth through narratives of Kampung Tua Nongsa in Batam Tomi Arianto; Adrias Adrias; Septriani Septriani; Febri Yulika
Studies in English Language and Education Vol 11, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/siele.v11i1.19006

Abstract

The condition of the Malays is significantly marginalized due to the migration and the rapid industrial development in Batam, Indonesia. However, the Malay sacred myth is still sustained as a local wisdom for the Malay generations. Therefore, this study aims to analyze the ethnoecology behind the story of the sacred myth of Bumbum, Puak, and Batu Belah as a representation of environmental Malay local wisdom in Kampong Tua Nongsa, Batam. Within the conceptual framework of ethnoecology as a bridge to understanding the relationship between literature in the form of folklore and the culture of society, this qualitative research collected data through observation by being directly involved in the community and in-depth interviews with 21 informants including the key jury of the sacred places, community advice, community leaders, village officials, and the younger generation of Malay people in Kampong Tua Nongsa. Data analysis was carried out by comparing, reconfirming, classifying, and interpreting the data with an ethnoecology approach. The results showed that there were three important ethnoecological representations: (1) the ecological ties between forests and humans in the sacred Bumbum, (2) the reflection of the wise king in the sacred of Puak, and (3) the sea as the central life of nature in the sacred of Batu Belah. Sacred site prohibitions reveal deep connections between human behavior and nature, emphasizing ethical considerations; these stories highlight cultural values, insights for heritage preservation, and solutions for environmental challenges within an ethnoecological framework, stressing the importance of ethics in human-nature interactions.
Tradisi ”Maantan Boreh Paanta Marapulai” Dalam Adat Pernikahan Masyarakat Nagari Pilubang Provinsi Sumatera Barat Azizah Panduwinata; Febri Yulika
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 2 (2026): Desember 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i2.8956

Abstract

Tradisi Maantan Boreh Paanta Marapulai di Nagari Pilubang, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, masih dipertahankan sebagai bagian dari adat pernikahan Minangkabau, namun pelaksanaannya mulai mengalami penyederhanaan akibat pengaruh modernisasi, sehingga berpotensi mengurangi makna simbolik yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses pelaksanaan serta mengungkap makna simbolik yang terkandung dalam tradisi Maantan Boreh Paanta Marapulai. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif karena mampu memahami fenomena budaya berdasarkan perspektif masyarakat pendukungnya. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan Kerapatan Adat Nagari (KAN), serta dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini dilaksanakan melalui tahap persiapan dan prosesi baarak dengan membawa berbagai bekal, seperti boreh, carano, karambia tumbuah, ikan kalai, ayam jantan, longkok-longkok, susu, dan nangkoa, yang masing-masing mengandung makna simbolik berupa doa, tanggung jawab, kebersamaan, keberanian, keharmonisan, keberkahan, dan keberlanjutan kehidupan rumah tangga. Dengan demikian, tradisi Maantan Boreh tidak hanya berfungsi sebagai prosesi adat, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai sosial, budaya, dan spiritual masyarakat Nagari Pilubang. Penelitian selanjutnya disarankan mengkaji pelestarian tradisi, keterlibatan generasi muda, kepercayaan spiritual, sanksi adat, serta dampak modernisasi terhadap keberlangsungan tradisi ini.
Co-Authors A Admiral Abdul Majid Abdul Majid Abdul Majid Abdul Majid, Abdul Majid Adrias Agung Eko Budi Waspada Ahmad Akmal Anak Agung Istri Agung Citrawati Andri Maijar Apriliana Apriliana Aprisia, Siska Ardi Rahmad Arianto, Tomi Asril Asril Azhari Akmal Tarigan Azizah Panduwinata Bambang Sunarto Benny Ridwan Benny Ridwan Benny Ridwan Dewi, Susi Fitria Dharsono Dharsono Dharsono Sony Kartika Edi Satria Edi Satria Ediwar Ediwar Elisabeth, Noprita Endrizal Erlina Pantja Sulistijaningtijas Ermagusti Ermagusti Ermagusti Ermagusti Febrian Martha Fithri, Widia Frastica, Yuliana Garaika Hakim, Atthoriq Chairul Hanefi Hanefi Hanefi Hanefi Hanefi, Hanefi Haq, Chairul Hasnah Anita Putri, Hasnah Anita Putri Hijratur Rahmi Ibnu Sina ikhsan, Dipo Ikhwanuddin Harahap Ilham, Muhamad Indra Maulana Intan Tursina Iswandi Syahputra Iswandi Syahputra Iswandi Syahputra Ivo Ramadhani Jelly Jelly Kartika, Dharsono Sony Lestari, Engga Masta, Putri Khairina Mauladi, Muhammad Farhan Mirda Aryadi Miswar, Vanesha Muhammad Ilham Muhammad Rizki Muhammad Rizki MULYADI Mulyadi Mulyadi Mutia Kahanna Nazhifah Amalia Nofi Rahmanita Nofialdi Nofialdi Nofialdi, Nofialdi Nurhayati Nurhayati Nursyirwan Nursyirwan Nursyirwan Nursyirwan Panjaitan, Sri Wahyuni Putra, Diki Pratama Rahmatika, Safara Fitri Rahmawati, Mila Rahmi Rahmi Rahmi, Hijratur Reza Sastra Wijaya Roby Masfian Dori Rosta Minawati Safarra Fitri Rahmatika Sakti, Reza Ginandha Selvi Kasman Septriani Septriani Septriani, Septriani Shindi Amanta Wulandari Siregar, Fatahuddin Aziz Siska Aprisia Sri Wahyuni Susas Rita Loravianti Syafwandi, Syafwandi Taufik Akbar Twidi Ramadhani Ulfa Putrinilam Sari Viona Anggia Putri Waspada, Agung Eko Budi Widia Fithri Wijaya, Reza Sastra Wirdanengsih, Wirdanengsih Wisnu Prastawa Yetty Oktayanty Yulimarni Yulimarni