Claim Missing Document
Check
Articles

IDENTIFIKASI GEJALA PENYAKIT DAN CENDAWAN PATOGEN TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascolonicum) DI KECAMATAN BUNTU BATU KABUPATEN ENREKANG Rezki Ramadani Djamaluddin; Eka Sukmawaty; Masriany Masriany; Hafsan Hafsan
Teknosains Vol 16 No 1 (2022): Januari-April
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/teknosains.v16i1.26027

Abstract

Bawang merah (Allium ascalonicum) merupakan salah satu komoditas sayuran unggul yang diperhatikan pemerintah Indonesia karena terus mengalami peningkatan permintaan konsumsi. Rendahnya hasil produksi karena infeksi penyakit yang disebabkan oleh cendawan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gejala tanaman bawang merah yang terserang cendawan patogen dan mengetahui jenis cendawan patogen pada tanaman bawang merah di lahan pertanian Kecamatan Buntu Batu Enrekang. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode observasi yakni pengamatan gejala tanaman bawang di lapangan dan pengukuran parameter lingkungan tanah yaitu pH, kelembaban, dan suhu. Cendawan patogen diidentifikasi sampai tingkat genus berdasarkan ciri makroskopis dan mikrokopis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman bawang merah dari semua stasiun yang terserang cendawan patogen menunjukkan gejala berupa tanaman kerdil dan mengalami kelayuan, daun berwarna hijau kekuningan dan kebanyakan daun kering, umbi berukuran kecil dan berwarna putih pucat hingga pada pangkal tampak pembusukan, serta akar yang mulai membusuk dan berwarna kecoklatan. Adapun jenis cendawan yang menginfeksi bawang merah (Allium ascolanicum) di Kecamatan Buntu Batu Enrekang yang telah diidentifikasi diperoleh tiga jenis yaitu genus Fusarium spp. sebanyak 9 isolat, Aspergillus sp. sebanyak 4 isolat dan Colletotrichum sp. sebanyak 1 isolat.
DIAGNOSIS VISUAL MASALAH UNSUR HARA ESENSIAL PADA BERBAGAI JENIS TANAMAN Devi Armita; Wahdaniyah Wahdaniyah; Hafsan Hafsan; Hafizhah Al Amanah
Teknosains Vol 16 No 1 (2022): Januari-April
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/teknosains.v16i1.28639

Abstract

Essential nutrients are chemical elements needed by plants to support their growth and development. Essential nutrients based on the level of plant needs are divided into three, namely basic nutrients, macronutrients and micronutrients. Plants have the potential to experience nutrient problems, either deficiency or toxicity. Nutrient deficiency and toxicity experienced by plants can be identified by performing a visual diagnosis which is the easiest method to apply. This study aims to identify nutrient problems experienced by various types of plants based on visual symptoms shown by plants. This research was conducted in November 2021 in the vicinity of the researcher's residence. This research is an exploratory descriptive study conducted by observing various types of plants suspected of having nutrient deficiency and toxicity problems which are then compared with related references (books and journals). The results showed that there were 10 plant species that showed symptoms of deficiency or toxicity of macronutrients and micronutrients based on visual symptoms, namely rambutan, mung beans, gude beans, corn, cassava, bananas, onion, hibiscus, elephant ears, and taro. Keywords: deficiency; macronutrient, micronutrient; plant; toxicity; visual diagnosis
Ketahanan Bakteri Asam Laktat Asal Dangke Terhadap Garam Empedu Sebagai Kandidat Probiotik Siti Rabiatul Adawiyah; Hafsan Hafsan; Fatmawati Nur; Muhammad Khalifah Mustami
Prosiding Seminar Biologi Vol 1 No 1 (2015): Prosiding Seminar Nasional Mikrobiologi Kesehatan dan Lingkungan
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v1i1.2134

Abstract

Bakteri asam laktat (BAL) merupakan kelompok bakteri yang menghasilkan asam laktat sebagaiproduk  utama  dalam  metabolisme  karbohidrat.  BAL  sebagai  kandidat  probiotik  harus  memenuhi salah satu syarat yang memiliki ketahanan garam empedu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketahanan bakteri asam laktat berasal dari dangke susu sapi terhadap garam empedu dengan berbagai konsentrasi yaitu 0,1% , 0,3%, dan 0,5% dan tanpa garam empedu sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri asam laktat isolat susu sapi asli dangke L. fermentum dan L. acidophillus memiliki  ketahanan  garam  empedu. Lactobacillus  acidophilus isolat  memiliki  ketahanan  garam empedu lebih baik dari Lactobacillus fermentum. Perbedaan antara jumlah BAL koloni pada media + oxgall terhadap kontrol (A0 dan B0) untuk masing-masing konsentrasi Oxgall  0,1%, 0,3%, dan 0,5% masing-masing dari L. fermentum: 1,4 x 106, 1,7 x 106, 4 x 106, sedangkan L. acidophillus: 0,7 x 106, 0,9 x 106 dan 1,4 x 106. Ketahanan L. acidophillus pada berbagai konsentrasi garam empedu menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dengan nilai P = 0,445 sama seperti ketahanan L. fermentum pada  variasi  empedu  konsentrasi  garam  juga  menunjukkan  tidak  ada  perbedaan  yang signifikan  dengan  nilai  P  =  0,133. L.  fermentum dan L.  acidophillus memiliki  kemampuan  untuk bertahan terhadap garam empedu yang menunjukkan potensi sebagai probiotik kandidat.
Potensi Bakteri Endofit Dari Zea mays L. Sebagai Penghasil Fitase Hafsan Hafsan; Nurhikmah Nurhikmah; Yuniar Harviyanti; Eka Sukmawaty; Isna Rasdianah Aziz; Cut Muthiadin; Laily Agustina; Asmuddin Natsir; Ahyar Ahmad
Prosiding Seminar Biologi Vol 3 No 1 (2017): Prosiding Seminar Nasional Biology for Life
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v3i1.4676

Abstract

Asam fitat (C6H18O24P6) merupakan senyawa kimia yang terdiri atas inositol dan asam fosfat, asam fitat merupakan senyawa yang selalu terdapat pada bahan pakan yang berasal dari tanaman serealia dan merupakan senyawa yang tidak dapat didigesti oleh ternak monogastrik, sehingga dibutuhkannya enzim fitase yang dapat menghidrolisis asam fitat. Fitase (myo-inositol heksakisfosfat fosfohidrolase) adalah enzim yang dapat menghidrolisis ikatan fosfoester pada asam fitat, menghasilkan fosfat anorganik dan ester fosfat. Enzim fitase dapat dihasilkan oleh mikroorganisme, salah satunya adalah bakteri endofit. Bakteri endofit adalah mikroorganisme yang menguntungkan yang berinteraksi dengan tanaman inang tanpa menyebabkan gangguan atau kerusakan pada tanaman tersebut, pada penelitian ini bakteri endofit telah diisolasi dari tanaman jagung (Zea mays) yang digunakan sebagai sampel penelitian. Isolasi dilakukan dari masing-masing organ tanaman jagung (Zea mays) dan diseleksi menggunakan media selektif PSM (Phytase Screening Media). Empat isolat yang terpilih dari masing-masing organ berdasarkan IF (Indeks Fitatik) tertinggi kemudian diidentifikasi molekuler dan memperoleh hasilisolat akar 10-7 HF.7 (IF=1,365 cm) merupakan bakteri Burkholderia lata, batang 10-7 HF.2 (IF=1,095 cm) merupakan bakteri Pantoea stewarti subsp. indologens, daun 10-6 HF.3 (IF=1,36 cm) merupakan bakteri Enterobacter ludwigi dan biji 10-8 HF.1 (IF=0,98 cm) merupakan bakteri Enterobacter cloaceae.
Stabilitas Aktivitas Fitase Dari Bukholderia lata Strain HF.7 Hafsan Hafsan; Laily Agustina; Asmuddin Natsir; Ahyar Ahmad
Prosiding Seminar Biologi Vol 3 No 1 (2017): Prosiding Seminar Nasional Biology for Life
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v3i1.4678

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stabilitas fitase ekstraseluler Bukholderia lata strain HF.7 terhadap suhu, pH, dan aktivitas protease sebagaimana kondisi saluran pencernaan unggas pada umumnya. Uji stabilitas suhu dilakukan dengan memaparkan pada suhu yang bervariasi (20, 30, 37, 40, 45, 50, 55, 60, dan 65oC), sedangkan uji stabilitas pH dilakukan dengan cara menginkubasi fitase pada buffer Na-asetat dengan pH bervariasi (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8). Uji stabilitas fitase terhadap protease dilakukan dengan penambahan protease dengan level perlakuan P0: tanpa protease, P1: penambahan pepsin (5000 unit/ mL), P2: penambahan pepsin (5000 unit/ mL) dan P3: penambahan pepsin + tripsin (@2500 unit/ mL) dengan Rancangan Acak Lengkap. Nilai aktivitas fitase pada suhu dan pH dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif dengan mengamati nilai rata-rata dari aktivitas fitase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fitase ekstraseluler Bukholderia lata strain HF.7 memiliki aktivitas yang lebih baik pada kemurnian yang lebih tinggi serta optimum pada pH 4 dan suhu 37oC. Fitase yang dihasilkan juga aktivitas yang stabil pada pH maupun suhu serta protease (pepsin dan tripsin) sebagaimana kondisi saluran pencernaan unggas pada umumnya. Temuan ini menunjukkan prospek potensial fitase ekstraseluler Bukholderia lata strain HF.7 yang dapat diaplikasikan pada pakan unggas untuk meningkatkan produktivitas.
Sorgum untuk Indonesia Swasembada Pangan (Sebuah Review) Syahrul Gunawan; St Aisyah S; Hafsan Hafsan
Prosiding Seminar Biologi Vol 3 No 1 (2017): Prosiding Seminar Nasional Biology for Life
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v3i1.4807

Abstract

Masalah utama penggunaan biji sorgum sebagai bahan pangan maupun pakan adalah kandungan tanin yang cukup tinggi, yakni mencapai 2,7-10,2%. Kandungan tanin yang tinggi, selain mempengaruhi rasa, juga bersifat antigizi. Oleh karena itu untuk meningkatkan citarasa dan nilai gizi sorgum, perlu diupayakan menurunkan kandungan tanin serendah mungkin. Penelitian untuk menurunkan kadar tanin dapat dilakukan dengan cara perendaman air, larutan asam, larutan basa dan germinasi, penyosohan, perendaman dengan larutan Na2CO3 0,3% selama 8 jam. Masalah selanjutnya adalah pengembangan sorgum yang nilai keunggulan komparatif dan kompetitif sorgum masih rendah, penanganan pascapanen yang masih sulit, dan usaha tani sorgum di tingkat petani belum intensif. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan pengelolaan sistem produksi sorgum secara menyeluruh (holistik) yang mencakup empat dimensi, yaitu: 1) wilayah, (areal tanam), 2) ekonomi (nilai keunggulan komparatif dan kompetitif sorgum terhadap komoditas lain), 3) sosial (sikap dan persepsi produsen terhadap sorgum sebagai bagian dari usaha tani), dan 4) industri (nilai manfaat sorgum sebagai bahan baku industri makanan dan pakan).
Aplikasi ekstrak kayu manis (Cinnamomum burmanii) sebagai anti kontaminan pada kultur Stevia (S. rebaudiana) secara in vitro Marliana Marliana; Hafsan Hafsan; Masriany Masriany; Fatmawati Nur
Prosiding Seminar Biologi Vol 7 No 1 (2021): PROSIDING BIOLOGI ACHIEVING THE SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS WITH BIODIVERSITY I
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v7i1.24711

Abstract

Stevia (S. rebaudiana) merupakan salah satu tanaman pemanis alami yang memiliki tingkat kemanisan lebih tinggi dibandingkan dengan pemanis alami lainnya, kandungan pemanis stevia yaitu senyawa stevioside (4-15%) dan rebaudioside (2-4%) dan dulkosida A (0,4-0,7%). Karena adanya potensi sebagai pemanis yang lebih baik dibandingkan pemanis alami lainnya sehingga stevia ini lebih potensial untuk diperbayak, namun perbanyakan melalui konvensional memiliki beberapa faktor pembatas ketersediaan tanaman stevia, sehingga diperlukan Teknik kultur jaringan untuk mengatasi masalah ketersediaan tanaman stevia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak kayu manis (Cinnamomum burmanii) dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur pada kultur jaringan stevia (S. rebaudiana) dan untuk mengetahui konsentrasi ekstrak kayu manis (Cinnamomum burmanii) yang memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan Stevia (S. rebaudiana). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan 5 perlakaun yaitu K0: Kontrol (Media MS), K1: Media MS + Novachlor (kontrol posistif), K2: Media MS + Kayu manis 0.5 ml/liter K3: Media Kayu manis 1.0 ml/l dan K4: Media Kayu manis 1.5 ml/l. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak kayu manis pada perlakuan K4 merupakan konsentrasi terbaik untuk memberikan zona hambat pertumbuhan bakteri dan jamur pada kultur jaringan tanaman stevia serta memberikan pengaruh nyata terhadap pertambuhan tinggi tanaman stevia (S. rebaudiana) tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah daun.
The Utilization of Coconut Water Waste As a Growth Media of the In-Vitro Potato Cutting Hafsan Hafsan; Muhammad Khalifah Mustami; Masriany Masriany; Isna Rasdianah Aziz; Mustakim Mustakim
Scientiae Educatia: Jurnal Pendidikan Sains Vol 7, No 2 (2018): December (2018)
Publisher : Tadris Biologi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN SYEKH NURJATI CIREBON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.064 KB) | DOI: 10.24235/sc.educatia.v7i2.2636

Abstract

The limited number of potato seed caused the demand  The demand to be unfulfilled especially in South Sulawesi. The use of pathogen-free seeds is absolutely necessary that can be obtained through tissue culture. This study aims to determine the effect of adding coconut water on the growth of in vitro potato plant cuttings and the most effective type of treatment. This research used Varying Concentration of the coconut water, then measure its effect on potato growth (a high number of leaves and plantlets). This study consisted of 4 treatments: TQ0 (without coconut milk), TQ1 (100 ml/l), TQ2 (150ml/l), and TQ3 (200 ml/l). The results showed that the addition of coconut water on the growth of micro cuttings of potato (Solanum tuberosum L.) gave significant effect on the observed parameters, leaf number and plantlets weight. While TQ2 gave the best effect on the growth of in vitro micro cutting of potato.
The Effect of Betel Leaf Extract on The Growth of Colletotrichum capsici in Red Chili Mashuri Masri; Hafsan Hafsan; Siska Tri Desianti; Fifi Dismayanti Indriani Nainu; Delima Engga Maretha; Lianah Lianah; Rusny Rusny
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 14, No 2 (2021): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v14i2.21919

Abstract

Abstrak Tanaman cabai merupakan jenis sayuran penting yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat. Namun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa produksi cabai mengalami penurunan yang salah satunya disebabkan oleh Colletotrichum capsici. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun sirih terhadap pertumbuhan C. capsici. Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 kali pengulangan. Proses ekstraksi daun sirih dilakukan dengan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% dan uji antifungi dilakukan dengan metode difusi Kirby-Bauer. Konsentrasi ekstrak daun sirih yang digunakan adalah 5%, 10%, 15%, 20%, dan kontrol negatif menggunakan dimetil sulfoksida (DMSO). Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan uji One-Way Anova dan uji lanjut Least Significant Difference (LSD). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak daun sirih 20% menghasilkan zona hambat terbesar, yaitu 0,84 mm. Berdasarkan hasil pengujian disimpulkan bahwa ekstrak daun sirih memiliki aktivitas antifungi dalam menekan pertumbuhan C. capsici.AbstractChili plants are important vegetables normally used by the community. However, based on the data of Badan Pusat Statistik, chili production is decreasing because of many factors, including Colletotrichum capsici pathogen. This study was aimed to determine the effect of betel leaf extract on the growth of C. capsici. This research was conducted using a completely randomized design with 3 replications. The extraction process was carried out by the maceration method with 96% ethanol solvent and the antifungal test was performed by the Kirby-Bauer diffusion method. The concentration of betel leaf extract used was 5%, 10%, 15%, 20%, and dimethyl sulfoxide (DMSO) was used as the negative control. The data obtained were analyzed statistically using the One-Way Anova test and the Least Significant Difference (LSD) posthoc test. The results of this study showed that the concentration of 20% betel leaf extract produced the largest inhibition zone of 0.84 mm. Based on the test results, it is concluded that betel leaf extract had antifungal activity in suppressing the growth of C. capsici. 
SKRINING FITOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETIL ASETAT CENDAWAN ENDOFIT Aspergillus sp. Eka Sukmawaty; Hafsan Hafsan; Mashuri Masri; Inna Shintia; Sinar Wahyuni; Ulfa Nur Alfriani Amir
Biotik Vol 8, No 2 (2020): JURNAL BIOTIK
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/biotik.v8i2.8194

Abstract

Cendawan endofit telah diketahui menghasilkan banyak senyawa bioaktif salah satunya senyawa antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan fitokimia dan  aktivitas antioksidan cendawan endofit Aspergillus sp. secara in vitro dan in vivo. Penentuan aktivitas antioksidan secara in vitro dilakukan dengan metode DPPH. Aktivitas antioksidan secara in vivo dilakukan dengan melihat kemampuannya menurunkan kadar MDA serum darah mencit yang diberi stress oksidatif. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas antioksidan Ekstrak etil asetat Aspergillus sp. tergolong sangat kuat dengan IC50 sebesar 38,64, dan mampu menurunkan kadar MDA mencit pada konsentrasi 45 ppm/kgBB. Hasil uji fitokima menunjukkan terdapat kelompok senyawa Flavonoid, Alkaloid, Terpenoid dan Tanin yang dihasilkan dari ekstrak etil asetat cendawan endofit Aspergillus sp.
Co-Authors Abbas Abbas, Abbas AHMAD MUZAKKI Ahyar Ahmad Alfian Alfian Amalia, Andi Dewi Reski Amanda, Sabilla Suryaning Amin, Abd Rauf Muh Andi Nur Fadhilah, Andi Andi Wahdiniar, Andi Anwar, Zulfahri Ar. Syarif Hidayat Arifuddin Ahmad Arsyad, Muh Ali Asaad, Andi Indra Jaya Asmuddin Nasir Asmuddin Natsir Asri asri Asriani A Ayu Febriani Ayu Febriyanti, Ayu Cut Muthiadin Cut Muthiadin Delima Engga Maretha Devi Armita Dewi Paramitasari Dirhamzah, Dirhamzah Elkheir Hassaballah Abdallah Ernitasari, Ernitasari Fahira, Nurul Faten Khudaer Faten Khudair Fatimah Mansir Fatmawati Nur Fatmawati Nur Fatmawati Nur Fifi Dismayanti Indriani Nainu Firdaus Firdaus Hadidarma, Nasyrah Hafizhah Al Amanah Hajah Thaha, Aminah Hajrah Hajrah Hajrah Hajrah, Hajrah Hamina , Hamina, Hamina Hasrawati, Hasrawati Ibrahim Ibrahim Inaya, Nur Inna Shintia Irna, Ade Irwan Misbach Isna Rasdianah Aziz Isna Rasdianah Aziz Jumriani Rusli Khaerani Kiramang Khudaer , Faten Khudaer, Faten Kurnia Makmur Kurnia Ramadani Kurniati Kurniati Laily Agustina Laily Agustina, Laily Lianah Lianah, Lianah Lutvianti, Rizqi Maharani Retna Duhita Marliana Marliana Mashuri Masri Maslan Maslan Maslan, Muhammad Masriany Masriany Masriany Masriany Masriany, Masriany Melinda, Nurul Meriem, Selis Muh. Khalifah Muhammad Khalifah Mustami Muhammad Maslan Muhammad Rusdi Rasyid Mustakim Mustakim Muthmainna, Nur Nur Alfisah Nur Hanisa, Andi NUR, FATMAWATY Nurhidayah Nurhidayah Nurhikmah Nurhikmah Nurjannah Nurjannah Permatasari, Artha Rezki Pratiwi, Afryanti RACHMAWATI, WULAN Rahmaniah Rahmaniah Retno Prayudyaningsih Rezki Ramadani Djamaluddin Rini Anggraeni Rusli, Jumriani Rusmadi Rukmana Rusny Rusny Sakinah Sakinah Sinar Wahyuni Siska Tri Desianti Siti Rabiatul Adawiyah St Aisyah S St. Aisyah Sijid Sukmawaty, Eka Suryaning Amanda, Sabilla Syahrul Gunawan Tridesianti, Siska Ulfa Nur Alfriani Amir Ulfa Triyani A Latif Ulfa Triyani A Latif, Ulfa Triyani A Wahdaniyah Wahdaniyah Wirawan, Hadi Purnama Yuniar Harviyanti Yusminah Hala Zainuddin, Dhea Nanda Zulkarnain ZURAIDAH ZURAIDAH