Claim Missing Document
Check
Articles

HAK PENCIPTA FILM TERHADAP KARYANYA YANG DIBAJAK SECARA ILEGAL PADA WEBSITE LK21 Marcellino, Jason; Martinelli, Imelda; Arrifa, Reisa
UNES Law Review Vol. 5 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/unesrev.v5i4.622

Abstract

Due to the rise in cases of film piracy in Indonesia, this has motivated the writer to conduct research on this case. By using a qualitative descriptive writing method, the data is obtained from observations and also from literature studies. The concludes from the author's research, someone who uploads a film without any permission from relevant party can be declared as film piracy, but unfortunately there are still many people who even support this. Because if you watch through illegal websites it is free, but they arn’t aware that this act is a violation of the ITE Law. The main factor is that the perpetrators of piracy get a lot of profit from the audience, and also get a good response from the public who prefer to use illegal websites rather than using illegal websites. with a legal film player application. Stopping film piracy carried out by the LK 21 website has been terminated by blocking the lk 21 website by the Ministry of Communication and Informatics, for viewers to be wiser by watching films through the official site or application so that piracy does not occur.
Keabsahan Perjanjian Financial Technology Lending Dengan Konsep Kontrak Roscoe Pound Martinelli, Imelda; Audrey Serena, Michelle; Natashya, Natashya
UNES Law Review Vol. 6 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/unesrev.v6i1.1200

Abstract

The era of technology has given birth to significant transformation in the financial sector, particularly in the form of Financial Technology Lending (Fintech Lending). Fintech Lending is the result of the fusion of technology and the financial sector, enabling individuals and businesses to access loans quickly, easily, and transparently. Specifically, this journal discusses the validity of Fintech Lending agreements from the perspective of civil law and other legal aspects related to Fintech Lending agreements. Using a normative legal research method and supported by relevant secondary data on the validity of Financial Technology Lending agreements, collected, selected, and processed as the primary data source in this study, as well as the development of descriptive-analytical research based on applicable legal regulations. This is analyzed with legal theories related to issues or problems in Financial Technology Lending. This journal examines the validity of agreements through the Civil Code Book Articles 1313, 1314, and 1320, Financial Services Authority Regulation No. 77 of 2016 Article 1 Number 3, Law No. 11 of 2008 concerning Electronic Information and Transactions Article 1 Number 17 and Article 18. The validity of a Fintech Lending agreement is also correlated with the concept of contracts as proposed by Roscoe Pound through four theories, namely, the Will Theory, the Bargain Theory, the Equivalent Theory, and the Injurious-Reliance Theory. Efforts to establish a Fintech Lending Data Center (Pusdafil) which aims to monitor and manage risks. These steps demonstrate efforts to secure the online loan process and protect the parties involved from possible fraud or default.
Keterbukaan dan Kepastian Hukum dalam Teori Kontrak Roscoe Pound Martinelli, Imelda; Reinhart, Frederick; Natalie, Cicilia; Milianty, Yessa
UNES Law Review Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/unesrev.v6i2.1248

Abstract

The role of transparency and legal certainty in business contracts is crucial to prevent failures. This research, conducted through case study analysis and qualitative research methods, found that transparent business contracts, where the rights and obligations of the parties are clearly defined, significantly reduce the risk of misunderstandings and enhance trust among the involved parties. Meanwhile, legal certainty establishes a solid foundation, providing guidance for dispute resolution and reinforcing the integrity of business relationships. This study delves into the dynamics of transparency and legal certainty in the contract theory proposed by Roscoe Pound. Against the backdrop of rapid changes in the global business environment, questions about the extent to which Pound's concepts of legal certainty and transparency can be applied and integrated into modern business contract practices become paramount.The analysis indicates that while legal certainty is a key element in building a stable legal foundation, transparency is necessary to facilitate legal adaptation to social and economic changes, as grounded in Pound's research. The most significant findings of this study reflect the tension between the need for high legal certainty and the need for transparency to address the complexities of the modern market. In the context of Pound's theory, social justice through law is a crucial foundation in the design and implementation of business contracts. This study not only contributes to the understanding of Roscoe Pound's contract theory but also provides new insights into how these concepts can be applied in the dynamic legal and business framework of today. It is recommended that business practitioners collaborate with legal professionals and governments to establish clearer guidelines on transparency and legal certainty. In an increasingly complex business era, these steps are expected to assist business practitioners in building relationships based on integrity, trust, and long-term success.
Legalitas dan Efektivitas Penggunaan Teknologi Blockchain Terhadap Smart Contract Pada Perjanjian Bisnis di Masa Depan Martinelli, Imelda; Mahva Tsabita, Nabilla; Eka Putri, Amanda Fitriani; Novela, Devina
UNES Law Review Vol. 6 No. 4 (2024)
Publisher : Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/unesrev.v6i4.2049

Abstract

Perkembangan teknologi sangat marak terjadi di era digitalisasi, banyak perusahaan yang mengembangkan bisnisnya dengan mengikuti trend zaman salah satunya dengan menerapkan teknologi blockchain pada smart contract. Teknologi ini merupakan turunan dari Cryptocurrency yang saat ini menjadi trend mata uang dalam bidang perdagangan aset. Sistem blockchain pada Cryptocurrency tersebutlah yang menarik smart contract untuk dapat dirancang bekerja sendiri melalui teknologi blockchain dengan menggunakan bahasa pemrograman yang diterjemahkan kedalam bahasa hukum. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis Legalitas Penggunaan Teknologi blockchain Terhadap smart contract Sebagai Produk hukum di Era Digital dan mengetahui Efektivitas Teknologi blockchain Terhadap smart contract pada Perjanjian Bisnis Antar Perusahaan Indonesia. Pada penelitian ini kami menggunakan metode penelitian yuridis normatif yang berfokus pada aturan-aturan hukum yang berlaku terkait dengan legalitas dan efektivitas dari penggunaan Teknologi blockchain pada smart contract. Sehingga, dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa potensi blockchain terhadap smart contract sangat besar mengingat efisiensi dan kepraktisan teknologi ini juga dapat menghemat biaya transaksi. Namun dalam penerapannya teknologi ini masih perlu beradaptasi agar dapat berjalan beriringan dengan teknologi yang ada dan dapat mudah diterima langsung oleh masyarakat serta mempunyai jaminan lebih secara hukum dalam penerapannya.
PERSPEKTIF SOSIAL BUDAYA TERHADAP PERKAWINAN DI BAWAH UMUR PADA DAERAH PANGANDARAN, JAWA BARAT Elda, Sevira; Martinelli, Imelda
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 10, No 6 (2023): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v10i6.2023.3017-3027

Abstract

Perkawinan di bawah umur merupakan suatu fenomena yang sering terjadi di daerah Pangandaran, seolah hal ini sudah menjadi biasa dan lumrah di kalangan masyarakat. Timbulnya perkawinan di bawah umur dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu kehamilan, perjodohan, dan hal lainnya. Sehingga sering ditemukan bahwa pasangan-pasangan yang menikah belum mencukupi umurnya tidak siap secara ekonomi, mental, dan pola pikir. Hal tersebut lah yang membuat tingkat perceraian menjadi tinggi, salah satu faktor lainnya adalah rendahnya tingkat pendidikan, sehingga tidak dapat Memahami bahwa pentingnya menikah memiliki kesiapan.  Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deksriptif kualitatif, dan pembahasan ini menghasilkan bahwa pandangan masyarakat Pangandaran terhadap perkawinan dini merupakan salah satu penyelesaian masalah atau upaya untuk menghindari halt idak diinginkan dan budaya perjodohan tidak dapat dipisahkan.
KEABSAHAN KLAUSULA PERUBAHAN TERHADAP PERJANJIAN PERDAMAIAN DALAM PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG (Putusan Mahkamah Agung Nomor 718 K/Pdt.Sus-Pailit/2019) Alwi Paruhuman Lubis, Hamzah; Martinelli, Imelda
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 10, No 6 (2023): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v10i6.2023.2920-2930

Abstract

Dalam praktek terdapat perkara tentang perubahan terhadap perjanjian perdamaian yang sudah disahkan oleh Pengadilan Niaga yang didasarkan pada klausula perubahan dalam perjanjian perdamaian tersebut, antara lain perkara Putusan Mahkamah Agung Nomor 718 K/Pdt.Sus-Pailit/2019. Dalam perkara tersebut terdapat perbedaan pendapat antara hakim Pengadilan Niaga dengan hakim Mahkamah Agung pada tingkat kasasi, dimana hakim Pengadilan Niaga  menyatakan klausula perubahan dalam perjanjian perdamaian adalah sah, sedangkan hakim Mahkamah Agung menyatakan klausula perubahan tersebut tidak sah dan bertentangan dengan azas keseimbangan dalam hukum kepailitan Oleh karena itu, tujuan penelitian ini untuk menganalisis keabsahan klausula perubahan terhadap perjanjian perdamaian dan penerapan azas keseimbangan dalam hukum kepailitan ditinjau dari hukum perjanjian pada Putusan Mahkamah Agung Nomor 718 K/Pdt.Sus-Pailit/2019 tersebut. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klausula perubahan terhadap perjanjian perdamaian pada Putusan Mahkamah Agung Nomor 718 K/Pdt.Sus-Pailit/2019 merupakan klausula yang sah. Apabila ditinjau dari hukum perjanjian, maka penerapan azas keseimbangan dalam hukum kepailitan untuk menentukan keabsahan klausula perubahan tersebut tidak tepat.
KONSEP KEABSAHAN PASAL 2 AYAT (1) UNDANG-UNDANG PERKAWINAN TERHADAP PERKAWINAN BEDA AGAMA BERDASARKAN IZIN DARI PENETAPAN PENGADILAN Athaya Fidela, Putri; Martinelli, Imelda
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 10, No 6 (2023): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v10i6.2023.2936-2942

Abstract

Indonesia yang masyarakatnya heterogen tidak menutup kemungkinan adanya perkawinan yang terjadi antara masyarakat yang berbeda agama. Perkawinan beda agama dinilai tidak selaras dengan undang-undang yang berlaku karena dalam Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan nyatalah bahwa perkawinan harus dilaksanakan sesuai dengan hukum agama masing-masing. Namun dengan kehadiran Pasal 35 huruf (a) UU Administrasi Kependudukan yang mengatur perihal tata cara pencatatan perkawinan, memberi peluang terhadap perkawinan beda agama agar mampu dicatatkan dengan syarat adanya penetapan dari pengadilan. Sehingga membuat banyak pasangan beda agama mengajukan permohonan ke pengadilan negeri agar dapat mencatatkan perkawinan mereka. Dengan adanya penelitian ini, bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis konsep keabsahan Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan terhadap perkawinan beda agama berdasarkan izin dari penetapan pengadilan. Metode penelitian yang digunakan merupakan penelitian hukum normatif serta didukung pula oleh data dari tinjauan pustaka untuk memperkuat hasil penelitian. Hasilnya adalah perkawinan beda agama tidak sah karena tidak memenuhi syarat sah perkawinan pada Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan. Namun dengan adanya Pasal 35 huruf (a) UU Administrasi Kependudukan, maka perkawinan beda agama yang dicatatkan dengan adanya penetapan pengadilan dianggap sah.
DAMPAK DIGITALISASI PADA PERUBAHAN ETIKA DAN BUDAYA DALAM PEMBAYARAN QRIS PADA MAHASISWA UNIVERSITAS TARUMANAGARA martinelli, imelda; howard, christopher; sebastian, louis; adi, rama
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 1 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i1.23970

Abstract

Digitalization occurs in all kinds of areas of life. In this study, the digitization in question is digitization in the field of digital payments. Digital payments, which are being intensively worked on by the government, are of interest to many traders and buyers in making transactions. In interviews with traders around Tarumanagara University, it was found that the majority of buyers used digital payments when buying their wares, so the traders asked to make Qris. These digital payments are not entirely good. Therefore, not all traders around Tarumanagara University provide digital payment options, due to the relatively small trading capital. Particularly for Qris, the disbursement of funds only occurs after 24 hours after the transaction takes place, so that traders find it difficult to get their trading money back. In the view of buyers, 94.2% of Tarumanegara University community buyers have completely switched to digital payments. They feel that conventional or cash payments are no longer relevant to the way they transact. Easy culture and communication ethics are the basis of what is considered contemporary. Moreover, every digital payment has been protected by law in Indonesia. In the process, these transaction activities are protected by Law No. 11 of 2008 concerning Information and Electronic Transactions, from consumers, producers to third parties, each has their own duties and obligations. The interest of the Tarumanagara University community's buyers is higher in merchants who provide digital payments or Qris which, from the seller's point of view, are influential in their income. Digitalisasi terjadi di segala macam bidang kehidupan. Pada penelitian ini digitalisasi yang dimaksud adalah digitalisasi pada bidang pembayaran digital. Pembayaran digital yang sedang gencar–gencarnya digarapkan oleh pemerintah menjadi minat banyak pedagang dan pembeli dalam melakukan transaksi. Dalam wawancara dengan pedagang di sekitar Universitas Tarumanagara, ditemukan bahwa mayoritas pembeli menggunakan pembayaran digital saat membeli dagangannya, sehingga pedagang mengajukan pembuatan QRIS. Pembayaran digital ini tidak sepenuhnya memberi dampak yang baik. Oleh sebab itu tidak semua pedagang di sekitar Universitas Tarumanegara memberi opsi pembayaran digital, dikarenakan modal dagang yang tidak terlalu besar. Khususnya QRIS, pencairan dana baru terjadi setelah 24 jam setelah transaksi berlangsung, sehingga pedagang kesulitan untuk memutar uang dagangannya kembali. Dalam pandangan pembeli, 94,2% pembeli mahasiswa Universitas Tarumanagara telah beralih sepenuhnya ke pembayaran digital. Mereka merasa bahwa pembayaran konvensional sudah tidak relevan terhadap cara bertransaksi. Budaya serba mudah dan etika berkomunikasi menjadi dasar yang dianggap kekinian. Dalam prosesnya kegiatan transaksi ini dilindungi oleh UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, mulai dari konsumen, produsen hingga pihak ketiga memiliki tugasnya masing masing dan kewajibannya masing masing untuk menjaga kesepakatan yang disepakati oleh unsur-unsur itu, contohnya pada pasal 21 ayat 3 dijelaskan bahwa jika terjadi malfungsi yang kemudian menyebabkan kerugian pada produsen dan konsumen maka yang bertanggung jawab atas kerugian tersebut adalah pihak ketiga sebagai pelayan transaksi digital. Minat pembeli mahasiswa Universitas Tarumanegara lebih tinggi pada pedagang yang menyediakan pembayaran digital atau QRIS yang pada sudut pandang penjual menjadi hal yang berpengaruh dalam pendapatan mereka.
THE CONCEPT OF LEGAL SUBJECT COMPETENCE IN THE AUTHORITY TO ACT ON MARRIAGE LAW IN INDONESIA Martinelli, Imelda; Priyono, F.X. Joko; Yunanto, Yunanto
Indonesia Law Review Vol. 13, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article focuses on discussing legal politics related to one important issue which is very basic, namely regarding the criteria for the ability to act of a human being as a legal subject within the scope of civil law, especially marriage law regarding the minimum age limit for entering into a marriage, who come from backgrounds with different interests and ideologies, make this an issue that can be highlighted. So the problem in this paper becomes whether there is a concept regarding the legal subject's competence in the authority to act on marriage law in Indonesia that accommodates the law in a unique manner? Problems will be answered using normative research methods that use secondary materials as well as legal and conceptual approaches. The conclusion is that there is still no unifying law regarding the authority to act on marriage law in Indonesia because the substance of marriage law is in an area that is not neutral and ambiguous because legal products are unificatory but the implementation of the law is sometimes still pluralistic.
Ai, Ethics, and Law: Who is Responsible? Martinelli, Imelda; Limmartin, Tesalonika Valerie; Daya, Priscilla Angelia; Safrico, Hierico Misael; Patricia, Meilody
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 8, No 4 (2025): October
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v8i4.50498

Abstract

In Indonesian law, only humans and legal entities are recognized as legal subjects. The development of AI capable of independent thought and action raises new issues when its actions cause harm, because AI is not yet recognized as a legal subject. As a result, civil liability for AI actions remains unclear and creates a legal vacuum. This study aims to analyze the relationship between AI, ethics, and law in the context of liability for actions generated by artificial intelligence systems. The research method is normative with a comparative approach, comparing legal policies in several countries that have begun to formulate a legal framework for AI, such as the European Union, the United States, Japan, and South Korea. The results of the study show that Indonesia needs to immediately establish specific regulations governing the legal status and responsibility of AI in the realm of civil law. This law is expected to provide legal certainty, protect the rights of the people, and create a balance between technological progress and the principles of legal justice
Co-Authors Abdilah, Arya Dapin Adi, Rama Adopan Alsotira, Adian Adzra Athayya, Keira Alwi Paruhuman Lubis, Hamzah Anastasya, Vannya Aprilia Fong, Fanesa Aprilliani, Fitri arrifa, Reisa ary yunanto Athaya Fidela, Putri Audrey Serena, Michelle Azahra, Natasya Sabrina Baloch, Sania Mari Batu, Jeremy Santos Lumban Bayu Prasetyo, Bayu Benyamin Hasibuan, Armando Bravo, Antonio Burnama, Yustince Chandra, Stefvanno Lesley Christian Samuel, Christian Daya, Priscilla Angelia Depiantoro, Lufi Diffany Nuzan, Namira Dyon Geraldi, Kaniko Eida, Tri Salwa Nur Eka Putri, Amanda Fitriani Elda, Sevira Fadloli, Muhammad Ferselli, Aurellia Karin Gabriella Kaendo, Karen Eklesia Godfrey Gunawan, Gregorius Graciella Gunawan, Devika Hadi Wibowo, Satria Hartono, Ernita Dewy Hasibuan, Armando Benyamin Hendriko, Klaudine Shyne Hisyam, Sulthan Fadhil Howard, Christopher Jardhan, Rheno Joe Daffa Lawahizh Khoe, Kelvin Joko Priyono Jonatan, Frangky Jusuf Habibie Hasta, Baharuddin Khoe, Kelvin Joe Daffa Lawahizh Latifa, Nur Alia Leeland, Deryl Lesmana, Jordano Liauw, Jonathan Licardi, Sigit Limmartin, Tesalonika Valerie Lingga, Elya Fransisco Beckham Mahaputra Alfariza, Raden Maheswari Andreas, Gertrud Felita Mahva Tsabita, Nabilla Marcellino, Jason Matondang, Matthew Mikha Sebastian Meilika Nadilatasya, Putri Meilody Patricia Milianty, Yessa Muflihah, Rifdah Natalie, Cicilia Natashya, Natashya Novela, Devina Nugraha, Arjuna Nobel Nurasisa, Nurasisa Ocarina Fae, Majolica Pangestu, Kartika Patricia, Meilody Priyono, F.X. Joko Putri Yandika, Nayla Rahmadani Dianova, Eriyan Reinhart, Frederick Rhemrev, Evellyn Abigael Rifel, Madeline Rifqy, Muhamad Khoeril Rusni Sabrina, Silvia Safrico, Hierico Misael Saputra, Vinshen sebastian, louis Siswanto, Viviene Olivia Sola Kira*, Joseph Hugo Vieri Iusteli Sugiarto, Ivan Richard Sugiawan, Fricila Anggitha Sulastri Sulastri Tarigan, Egieta Christy Tesalonika Valerie Limmartin Vadia, Nada Vani Candra, Destiana Wijaya, Jonathan Kenneth William, Lavienda Zulianty, Renita