Claim Missing Document
Check
Articles

KOMPOSISI FORAMINIFERA BENTIK BESAR PADA SEDIMEN MANGROVE Gabriel F. Tulung; Jane M. Mamuaja; Royke M. Rampengan; Hermanto W. K. Manengkey; Rignolda Djamaluddin; Rene C. Kepel
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 1 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.1.2023.53332

Abstract

Large benthic foraminifera are unicellular organisms that live at the surface of the sediments and have the ability to form shells of calcium carbonate (CaCO3). This research was conducted with the aim of describing and analyzing the composition of the large benthic foraminifera found in the coastal mangrove areas of Tasik Ria and Tongkeina. Sampling activities were carried out by taking sediment samples from mangrove areasTasik Ria and Tongkeina. The large benthic foraminifera identified were 3,680 specimens. Foraminifera species and genera obtained were 28 species from 15 genera in the mangrove sediments of Tasik Ria Beach and 23 species from 11 genera in the mangrove sediments of Tongkeina Beach. The dominant foraminifera genera with a proportion of more than 5% at both study sites were Ammonia, Amphistegina, Calcarina, Elphidium and Neorotalia. Based on the type of shells, foraminifera with light shells were more commonly found in the mangrove area of Tasik Ria than in Tongkeina. In contrast, more sandy-shelled foraminifera were found in the mangrove area of Tongkeina than in Tasik Ria. Furthermore, the Diversity Index for large benthic foraminifera obtained at both locations was in the medium category with values indicating the diversity of foraminifera species obtained in the mangrove area of the Tasik Ria coast was higher than the foraminifera obtained in the mangrove area of the Tongkeina coast. Keywords: Large Benthic Foraminifera, Mangrove Area, Tasik Ria Beach, Tongkeina BeachABSTRAKForaminifera bentik besar merupakan organisme uniseluler yang hidup di dasar perairan dan memiliki kemampuan membentuk cangkang dari zat kapur kalsium karbonat (CaCO3). Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis komposisi foraminifera bentik besar yang terdapat pada area mangrove pantai Tasik Ria dan Tongkeina. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi kegiatan pengambilan sampel hingga tahap identifikasi foraminifera bentik berukuran besar yang ditemukan pada sedimen mangrove pantai Tasik Ria dan pantai Tongkeina. Foraminifera bentik berukuran besar yang teridentifikasi adalah sebanyak 3.680 spesimen. Sejumlah 28 spesies dari 15 genus ditemukan pada sedimen mangrove Pantai Tasik Ria dan 23 spesies dari 11 genus pada sedimen mangrove Pantai Tongkeina. Genus foraminifera yang dominan dengan proporsi lebih dari 5% yang diperoleh pada lokasi penelitian adalahAmmonia, Amphistegina, Calcarina, Elphidium dan Neorotalia. Berdasarkan tipe cangkang, foraminifera bercangkang gampingan lebih banyak ditemukan di kawasan mangrove pantai Tasik Ria daripada di Tongkeina. Sebaliknya, foraminifera bercangkang pasiran lebih banyak ditemukan di kawasan mangrove pantai Tongkeina daripada Tasik Ria. Selanjutnya Indeks Keanekaragaman foraminifera bentik berukuran besar yang diperoleh pada kedua lokasi dikategorikan sedang dengan nilai yang diperoleh pada kawasan mangrove pantai Tasik Ria lebih tinggi dibandingkan kawasan mangrove pantai Tongkeina.Kata Kunci: Foraminifera Bentik Besar, Kawasan Mangrove, Pantai Tasik Ria, Pantai Tongkeina
Macroalgae Biodiversity in Ondong Coastal Waters. Kandati, Feibe R. S.; Kepel, Rene Charles; Rangan, Jety Kornela; Gerung, Grevo S.; Salaki, Meiske Sofie; Lasabuda, Ridwan
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 1 (2021): ISSUE JANUARY - JUNE 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.9.1.2021.34136

Abstract

This research was conducted in the coastal waters of Ondong, West Siau District, Siau Islands Regency Tagulandang Biaro with the aim of knowing the composition of macroalgae taxa through a morphological approach. Data retrieval is done by using the Line Transect quadratic method. The results of the study found 15 species consisting of 3 divisions, 3 classes, 10 orders, 12 families, and 12 genera.AbstrakPenelitian ini dilakukan di perairan pesisir pantai Ondong, Kecamatan Siau Barat, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro dengan tujuan untuk mengetahui komposisi taksa makroalga melalui pendekatan morfologi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode Line Transect kuadrat. Hasil penelitian menemukan 15 spesies yang terdiri dari 3 divisi, 3 kelas, 10 ordo, 12 famili, dan 12 genera.
Macroalgae Community Structure in Tanjung Merah Waters, Bitung City Achmad, Febrio V.; Kepel, Rene Ch.; Mandagi, Stephanus Vianny; Tilaar, Ferdinand F.; Tombokan, John L.; Ngangi, Edwin L. A.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 1 (2021): ISSUE JANUARY - JUNE 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.9.1.2021.34427

Abstract

Seaweed is a component of coastal ecosystems that makes a major contribution to the Indonesian economy. This marine plant is a potential food source and industrial raw materials that can be used to improve people's welfare as these marine macroalgae are widely distributed in Indonesian waters. This study was carried out because of its important role for the ecosystems and the economy of the country. The purpose of this research is to determine the community structure of this macroalgae in the waters of Tanjung Merah Village of Matuari District of Bitung City. The data were collected from January 2021 to March 2021 using a transect of 1 x 1 m2 which was placed along a 100 m line transect with 5 m intervals. The macroalgae found were 6 species consisting of 2 types of Chlorophyta class and 4 species of Rhodophyta class. The macroalgae diversity index of around is 1.06 categorized as moderate diversity; the index of dominant is 0.44 moderate and the evenness index is 1.79 or low.Keywords: Macroalgae; Community; Diversity.AbstrakRumput laut merupakkan komponen ekosistem wilayah pesisir yang memberikkan kontribusi yang besar bagi ekonomi Indonesia. Potensi sumberdaya hayati laut Sulawesi Utara, khususnya Kota Bitung yang cukup potensial untuk dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan bahan baku industri guna peningkatan kesejahteran masyarakatkarena makroalga termasuk salah satu sumberdaya hayati laut yang banyak terdapat di perairan Indonesia. Makroalga memiliki potensi besar untuk dikembangkan, karena memiliki peranan penting baik dari aspek ekologi dan memiliki nilai ekonomi.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas makroalga yang ada di perairan Kelurahan Tanjung Merah Kecamatan Matuari Kota Bitung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2021 sampai Maret 2021. Data dikumpulkan dengan cara di sampling menggunakan kuadrat berukuran 1x 1 m2 yang diletakkan pada garis transek sepanjang 100 m dengan interval 5 m. Makroalga yang ditemukan 6 spesies yang terdiri atas Kelas Chlorophyta berjumlah 2 jenis, dan kelas Rhodophyta 4 jenis. Indeks keanekaragaman makroalga sekitar 1.06 dikategorikan sedang, indeks dominasi 0.44 dikategorikan rendah dan untuk indeks kemerataan 1,79 dikategorikkan rendah.Kata kunci: Makroalga; Komunitas; Keanekaragaman
Analysis Of Types Of Carotenoid Pigments In Crab Sesarmops sp From Manado By Coast Adrian, Melinda Margareta; Paransa, Darus S. J; Paulus, James J. H; Kawung, Nickson J.; Bara, Robert A.; Kepel, Rene Ch.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.9.2.2021.35127

Abstract

Carotenoid pigments are a group of pigments that are yellow, orange, and red-orange in color. Pigments are natural dyes found in plants and animals, extracts of carotenoid pigments can be separated by chromatographic methods where the common chromatographic methods in determining the type of pigment are Column Chromatography (CC) and Thin Layer Chromatography (TLC). The purpose of this study was to determine the types of pigments contained in the carapace extract of the male crab Sesarmops sp. The Sesarmops sp crab has a brown dorsal carapace with blackish-brown leg spots known as mangrove crabs. Crabs in the Sesarmidae family have a carapace formation and wide legs, do not have swimming legs, and have a pair of claws that are faded purple, the presence of these colors can be identified as containing carotenoid pigments. The results of this study obtained the content of carotenoid pigment 25.2 g/gr and the value of the concentration of carotenoid pigment in the male crab extract Sesarmops sp 10.99 g. The results of the separation of the total pigment extract using column chromatography obtained the types of pigments -carotene, Ekinenon, Zeaxanthin, and Astaxanthin. Keywords: Column Chromatography (CC); Carotenoids; Sesarmops sp                                                                       AbstrakPigmen karotenoid adalah sekelompok pigmen yang berwarna kuning, oranye dan merah oranye. Pigmen adalah zat warna alami yang terdapat pada tumbuhan  dan hewan, ekstrak pigmen karotenoid dapat dipisahkan dengan metode kromatografi yang dimana metode kromatografi umum dalam menentukan jenis pigmen adalah Kromatografi Kolom (KK) dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jenis-jenis pigmen apa saja yang terdapar pada ekstrak karapas kepiting jantan Sesarmops sp. Kepiting Sesarmops sp memiliki karapas dorsal bewarna coklat dengan bintik kaki coklat kehitaman yang dikenal sebagai kepiting mangrove. Kepiting dalam keluarga sesarmidae memiliki bentukan karapas dan kaki yang lebar tidak memiliki kaki renang serta memiliki sepasang capit berwarna ungu pudar, adanya warna tersebut kepiting dapat diidentikasikan mengandung jenis pigmen karotenoid.  Dari hasil penelitian ini mendapatkan kandungan pigmen karotenoid 25,2 dan nilai konsentrasi pigmen karotenoid pada ekstrak kepiting jantan Sesarmops sp 10,99 . Hasil pemisahan dari ekstrak pigmen total menggunakan kromatografi kolom didapatkan jenis pigmen β-karoten, Ekinenon, Zeaxantin dan Astaxantin
Community Structure of Gastropod in Bahowo Mangrove Ecotourism Area Handayani, Maymanah; Rangan, Jety K.; Lumingas, Lawrence J. L.; Manginsela, Fransine B.; Kepel, Rene C.; Ompi, Medy
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v9i2.35634

Abstract

This article describes the structure of the gastropod community in the Bahowo Mangrove Ecotourism Area, Manado. From 30 sample units (squared) analyzed, obtained 185 individual gastropods belonging to 27 species with an average density of 6.17 individuals/m2. The Shannon index value (H') is quite high at 3.038, the evenness index (E) is also high at 0.922, and the dominance index (D) is low at 0.078. This variation in gastropod community structure occurs between transects. In Transect 1 there are 15 species with an average density of 7.6 individuals/m2. The most dominant species in this transect was Tectus fenestratus with a density of 1.6 individuals/m2 and a relative abundance of 21.05%. In Transect 2 there are 7 species with an average density of 2.6 individuals/m2. The most dominant species in this transect was Angaria delphinus with a density of 0.6 individuals/m2 and a relative abundance of 23.08%. On Transect 3 there are 9 species with an average density of 8.3 individuals/m2. The most dominant species in this transect was Terebralia sulcata with a density of 2.7 individuals/m2 and a relative abundance of 32.53%. Compared to the other two transects, Transect 2 had lower individual abundance and density, but also the poorest species richness. In terms of biodiversity, Transect 1 is the highest. With a composition of 15 species, Transect 1 has a higher H' index value than in Transect 2 and Transect 3. Between Transect 2 and Transect 3 there is no significant difference in the Shannon index value. The three transects showed a low dominance index value and a relatively high evenness index value.Keywords: Gastropod; Community; Mangrove; Bahowo AbstrakArtikel ini menggambarkan struktur komunitas Gastropoda di Kawasan Ekowisata Mangrove Bahowo, Manado. Dari 30 unit sampel (kuadrat) yang dianalisis, diperoleh 185 individu gastropoda yang termasuk dalam 27 spesies dengan rata-rata kepadatan 6,17 individu/m2. Diperoleh nilai indeks Shannon (H’) cukup tinggi yakni 3,038, indeks kemerataan (E) juga tinggi yakni 0,922, dan indeks dominansi (D) yang rendah yakni 0,078. Variasi stuktur komunitas Gastropoda ini terjadi antar transek. Pada Transek 1 terdapat 15 spesies dengan kepadatan rata-rata 7,6 individu/m2. Spesies paling dominan di transek ini  adalah Tectus fenestratus dengan kepadatan 1,6 individu/m2 dan kelimpahan relatif 21,05%. Pada Transek 2 terdapat 7 spesies dengan kepadatan rata-rata 2,6 individu/m2. Spesies paling dominan di transek ini adalah Angaria delphinus dengan kepadatan 0,6 individu/m2 dan kelimpahan relatif 23,08%. Pada Transek 3 terdapat 9 spesies dengan kepadatan rata-rata 8,3 individu/m2. Spesies paling dominan di transek ini  adalah Terebralia sulcata dengan kepadatan 2,7 individu/m2 dan kelimpahan relatif 32,53% Dibandingkan dengan dua transek lainnya, Transek 2 memiliki kelimpahan dan kepadatan individu lebih rendah, tapi juga paling miskin kekayaan spesies. Dari segi keanekaagaman hayati, Transek 1 adalah yang tertinggi. dengan komposisi 15 spesies, Transek 1 memiliki nilai indeks H’ lebih tinggi dibandingkan dengan di Transek 2 dan di Transek 3. Antara Transek 2 dan Transek 3 tidak menunjukkan perbedaan yang nyata nilai indeks Shannonnya. Pada ketiga transek menunjukkan nilai indeks dominansi yang rendah dan nilai indeks kemerataan yang relatif tinggi.Kata Kunci: Komunitas; Gastropoda; Mangrove; Bahowo
Carbon Absorption in Seagrasses in Tongkaina Coastal Waters, Bunaken District, Manado City, North Sulawesi Namoua, Dilivia J.; Wantasen, Adnan S.; Kondoy, Khristin I. F.; Kepel, Rene Ch.; Menajang, Febry S. I.; Pelle, Wilmy
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 2 (2022): ISSUE JULY-DECEMBER 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study was conducted to determine the types of seagrasses and calculate biomass and calculate how much carbon absorption in seagrasses was found in the location of Tongkaina Beach, Bunaken District, Manado City, North Sulawesi. The sampling procedure in the field is the method of cruising surveys. A cruising survey is a sample collection method that is carried out by walking through the coastal area of all seagrasses found.  After the sampling at the site is completed, the sample in the inventory is then photographed. The samples that have been obtained are analyzed in the laboratory using the loss on ignition (LOI) method. The results of the study on Tongkaina coastal waters covering an area of 25,000 meters with a coastal length of ±500 meters, in an area parallel to the coastline as wide as ±50 meters towards the sea and six types of seagrasses were obtained, namely: Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Syringodium isoetifolium, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, and Halodule pinifolia.  The biomass in seagrasses found had an average value of 78.10% with the highest individual seagrass biomass found in seagrass type Enhalus acoroides with a biomass value of 87.23grams of dry weight (gbk)/individual and the lowest type of seagrass individual biomass value was found in seagrass type seagrass with a biomass value of 66.67grams of dry weight (gbk)/individual.  The total carbon content calculated in the entire seagrass obtained was 46,0941gCKeywords: Tongkaina Beach; seagrasses; biomass; carbon absorptionAbstrakPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis lamun dan menghitung biomassa serta menghitung berapa serapan karbon pada lamun yang ditemukan dilokasi Perairan Pantai Tongkaina Kecamatan Bunaken Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara. Prosedur pengambilan sampel di lapangan menggunakan metode survei jelajah. Survei jelajah adalah metode pengumpulan sampel yang di lakukan dengan cara menyusuri daerah pantai terhadap semua lamun yang ditemukan. Setelah pengambilan sampel di lokasi selesai, sampel di inventarisir kemudian difoto. Sampel yang telah diperoleh dianalisa di laboratorium dengan menggunakann metode loss on ignition (LOI). Hasil penelitian pada perairan pantai Tongkaina seluas 25.000 meter dengan panjang pantai ±500 meter sejajar garis pantai dan lebar ±50 meter ke arah laut.  Ditemukan enam jenis lamun yaitu: Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Syringodium isoetifolium, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis dan Halodule pinifolia. Biomassa pada lamun yang ditemukan memiliki nilai rata-rata 78,53% dengan biomassa individu lamun tertinggi terdapat pada lamun jenis Enhalus acoroides dengan nilai biomassa mencapai 87,23gram berat kering (gbk)/individu dan nilai biomassa individu jenis lamun terendah terdapat pada lamun jenis Syringodium isoetifolium dengan nilai biomassa 66,67gram berat kering (gbk)/individu. Untuk total kandungan karbon yang dihitung pada keseluruhan lamun yang didapat sebesar 46,0941gC.Kata kunci: Pantai Tongkaina; Lamun; biomasa, serapan carbon
Gastropod Community An Vertical Distribution Pattern Of Littoraria Scabra (Linnaeus, 1758) In Mangrove Ecosystem, Tombariri District, Nort Sulawesi Bilaleya, Iman; Lalita, Jans; Mantiri, Rose O. S. E.; Kepel, Rene Ch.; Lumingas, Lawrence J.; Lohoo, Anneke V.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 11 No. 1 (2023): ISSUE JANUARY-JUNE 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v11i1.46497

Abstract

The Coast water of Tombariri District is an area that has a main ecosystem like mangroves, seagrass, and reef. This research is to aim to know the species various, the structure of the gastropod community, and the vertical distribution pattern of Littoraria scabra in the mangrove ecosystem in Tombariri District, North Sulawesi. Process of gastropod sampling horizontally where transects were put horizontal coastline on every location including Mokupa, Elu, and Tambala. Every transect long has 65 m and also has every transect has 15 quadrats where every quadrat is one-meter square. Therefore, every transect has 15 quadrats, so a total of 45 quadrats. Every quadrant was put systematic method, that is, at terrestrial closing mangrove of 5 quadrats, middle mangrove of 5 quadrats, and coast close mangrove of 5 quadrats. Process of sampling particularly L.scabra where taking vertically, especially on microhabitats that is, roots, stems, branches, and leaves of mangroves. High measuring by meter unit, conducted from the ground where L.scabra found at mangrove until the top vegetation. Based on the result of observation on the identification of gastropod sampling found in the mangrove ecosystem, Tombariri District, North Sulawesi as many 235 of individuals consisting of 5 orders, 23 families, and 32 genera having 78 species. The density of species on every location Mokupa, Elu and Tambala, that is, (D) = 4.60, 5.47, and 5.60 in ind/m2, index of diversity,(H) = 2.54, 3.07, and 3.51 and index of dominance, ID = 0.04, 0.07 and 0.13. Keywords: Microhabitat, density, diversity, and dominance Abstrak Perairan pantai Kecamatan Tombariri merupakan daerah yang memiliki ekosistim utama pesisir seperti mangrove, lamun, dan terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis, struktur komunitas gastropoda dan pola distribusi vertikal spesies Littoraria scabra di ekosistem mangrove Kecamatan Tombariri, Sulawesi Utara. Proses pengambilan sampel gastropoda secara horizontal, di mana transek ditempatkan sejajar garis pantai pada setiap lokasi yakni di Mokupa, Elu, dan Tambala. Panjang setiap transek 65 m dan setiap transek memiliki 15 kuadrat di mana kuadrat berukuran 1 x 1 m. Setiap transek punya 15 kuadrat sehingga total kuadrat seluruh transek adalah 45 kuadrat. Penempatan kuadrat menggunakan metode sistematik yaitu di bagian darat 5 kuadrat, pertengahan 5 kuadrat dan mangrove pinggir laut 5 kuadrat. Proses pengambilan sampel secara vertikal khusus Littoraria scabra, di mikrohabitat akar, batang, cabang dan daun mangrove,Sementara pengambilan sampel L.scabra diukur ketinggian di mana spesies Littoraria scabra ditemukan ldi pohon mangrove dengan menggunakan meteran, dimulai dari dasar sampai ke ujung pohon mangrove. Berdasarkan hasil pengamatan dan identifikasi sampel gastropoda yang ditemukan di ekosistem mangrove Kecamatan Tombariri, Sulawesi Utara ditemukan sebanyak 235 individu yang terbagi ke dalam 5 ordo, 23 famili dan 32 genera dari 78 spesies. Kepadatan Jenis pada masing-masing lokasi = 4,60, 5,47, dan 5,60 ind/m2. Keanekaragaman H’= 2,54, 3,07, dan 3,51. Dominansi C= 0,04, 0,07, dan 0,13. Kata Kunci : Mikrohabitat, Kepadatan, Keanekaragaman, Dominansi.
Community Structure of Macroalgaes in Coastal Waters of Molas, Bunaken District, Manado City Hadath, Deandra Starsha Bianca; Kepel, Rene Charles; Rangan, Jety Kornela; Sangari, Joudy R.R.; Mantiri, Rose O.S.E; Lasabuda, Ridwan
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 11 No. 2 (2023): ISSUE JULY-DECEMBER 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v11i2.47937

Abstract

As a marine biological resource macroalgae grow and develop naturally in the waters of Manado Bay, especially in the coastal waters of Molas. This study aims to analyze the community structure of macroalgae in the coastal waters of Molas, Bunaken District, Manado City. Data retrieval in the field using the Line Transect method with quadratic sampling technique performed at the lowest ebb analysis of the data required to obtain an overview of the macroalgae community structure and performed several formulas. Found 6 species consisting of 3 red algae (Rhodophyceae) G. edulis, G. salicornia, Gracilaria sp., 1 brown alga (Phaeophyceae) Padina australis, and 2 green algae (Ulvophyceae) Halimeda macroloba and Chaetomorpha crassa. Keywords: macroalgae, community structure, coastal waters, Molas, Manado Abstrak Sebagai sumberdaya hayati laut makroalga tumbuh dan berkembang secara alamiah di Perairan Teluk Manado, khususnya di pantai Molas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas makroalga di perairan pantai Molas Kecamatan Bunaken Kota Manado. Pengambilan data di lapangan menggunakan metode Line Transect dengan teknik sampling kuadrat dilakukan pada surut terendah Analisis data yang diperlukan untuk mendapatkan gambaran struktur komunitas makroalga dan dilakukan beberapa formula. Ditemukan 6 spesies yang terdiri dari 3 alga merah (Rhodophyceae) yaitu G. edulis, G. salicornia, Gracilaria sp., 1 alga coklat (Phaeophyceae) yaitu Padina australis, dan 2 alga hijau (Ulvophyceae) yaitu Halimeda macroloba dan Chaetomorpha crassa. Kata kunci: makroalga, struktur komunitas, perairan pantai, Molas, Manado
Macroalgae Communities In The Waters Of Tateli Village, Mandolang, And Mokupa Village Waters, Tombariri, Minahasa District, North Sulawesi Province Turangan, Septiara; Kepel, Rene Charles; Mandagi, Stephanus V.; Mantiri, Rose O. S. E.; Menajang, Febry S. I.; Kambey, Alex D.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.49441

Abstract

On the coast of Beton Panjang and Tasik Ria, there are tidal flats with white sand substrates and some seagrass beds (seagrass) and macroalgae. Until now, there is still limited research on macroalgae in Beton Panjang and Tasik Ria. However, studies on macroalgae, especially aspects of their anatomical characteristics, have not been carried out. Therefore, it is necessary to study the anatomical characteristics and structure of the community. Sampling was carried out at the lowest ebb with the help of an application (to find out the lowest ebb time). They are laying transects at each location for macroalgae data collection as many as 3 transect lines 50 m long drawn perpendicularly from the coast towards the sea with the assumption that the community is evenly distributed. The distance between transects is 30 m with a squared distance of 5 m. Each square is used for data collection measuring 1 x 1 m². Analysis of the density index and relative density in Beton Panjang coastal waters yielded a density value of 0.06 ind.m2 – 0,43 ind./m2. The lowest density value is in the speciesLaurencia papillosa and the highest is in speciesPadina australis With a total density of individuals per species of 0.43 ind./m2. In the coastal waters of Tasik Ria, the highest density index is for species Neomeris  annulled with a value of 0.63 ind./m2. The highest diversity index value is in the coastal waters of Tasik Ria with a value of H' = 2.33, while the highest dominance index is in the coastal waters of Beton Panjang with a dominance value of D = 0.16. The highest wealth and equity values ​​are in the coastal waters of Tasik Ria with a value of d = 2.27 and E = 0.94. Keywords: macroalgae, Beton Panjang, Tasik Ria, anatomical characteristics   Abstrak Di pesisir Beton Panjang dan Tasik Ria terdapat rataan pasang surut dengan substrat pasir putih dan beberapa hamparan lamun (seagrass) serta makroalga. Sampai saat ini, masih terbatas penelitian tentang makroalga di Beton Panjang dan Tasik Ria. Namun, kajian mengenai makroalga khususnya aspek karakteristik anatomi belum dilakukan. Oleh sebab itu, perlu dilakukan kajian karakteristik anatomi dan juga struktur komunitasnya.Pengambilan sampel dilakukan pada saat surut terrendah dengan bantuan aplikasi Tides (untuk mengetahui waktu surut terrendah). Peletakan transek pada masing-masing lokasi untuk pengambilan data makroalga sebanyak 3 garis transek sepanjang 50 m yang ditarik tegak lurus dari pantai ke arah laut dengan asumsi bahwa penyebaran komunitas merata. Jarak antar transek yaitu 30 m dengan jarak kuadrat yaitu 5 m. Setiap kuadrat dipakai untuk pengambilan data berukuran 1 x 1 m². Analisi indeks kepadatan dan kepadatan relatif di perairan pesisir Beton Panjang di dapat nilai kepadatan 0,06 ind.m2 – 0,43 ind./m2. Nilai kepadatan terendah ada pada spesies Laurencia papillosa dan yang tertinggi ada pada spesies Padina australis Dengan jumlah kepadatan individu perjenis 0,43 ind./m2. Pada perairan pesisir Tasik Ria, indeks kepadatan tertinggi ada pada spesies Neomeris annulata dengan nilai 0,63 ind./m2 . Nilai indeks keanekaragaman tertinggi ada pada pada perairan pesisir Tasik Ria dengan nilai H’= 2,33, sedangkan untuk indeks dominasi tertinggi ada pada perairan pesisir Beton Panjang dengan nillai dominasi D=0,16. Untuk nilai kekayaan dan kemerataan tertinggi ada pada perairan pesisir Tasik Ria dengan nilai d= 2,27 dan E= 0,94. Katakunci: makroalga, Beton Panjang, Tasik Ria, karakteristik anatomi.
Structure of the Seagrass Community, In Poopoh Beach Waters, Tombariri District, Minahasa Regency, North Sulawesi Province Mamonto, Riswanto; Kondoy, Khiristin Ivone Fisye; Wantasen, Adnan S.; Kepel, Rene Charles; Pratasik, Silvester Beny; Menajang, Febry Susana Ivone
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 1 (2024): ISSUE JANUARY-JUNE 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i1.49599

Abstract

Seagrass are flowering plants (Angiosperms) that are fully adapted to life immersed in the sea. This plant consists of rhizomes, leaves and roots, (Rhizomes are stems that sink and creep horizontally, leave and flower, and grow roots). It is these rhizomes and roots that hold back the waves and currents on seagrass plants. The purpose of this study was to determine seagrass species, species density, relative density, species frequency, relative frequency, species closure, relative closure, important value index, diversity index, domination index and aquatic environmental conditions. There are 4 species of seagrass found in the waters of Poopoh Beach, namely, Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halodule pinifolia, Halophila ovalis. The number of stands of seagrass species in the study area ranged from 53-965 individuals, species density (17.67-321.67) individuals/m2, relative density (3.98-72.61%), frequency (0.045-0.90), relative frequency (3.57-71.42%), species closure (0.41-7.31), relative coverage (1.04-78.12%), seagrass importance value index in Poopoh Beach waters shows that Thalassia hemprchii has the highest importance value index among the other 3 seagrass species namely (212.85%), diversity index (0.97), species dominance index (0.11-0.44%/m²). Environmental conditions in the waters of Poopoh Beach, which has a temperature range of 38°C, a salinity of 35‰, has a substrate of sand, sand mixed with mud, muddy and coral fragments. Keywords: Poopoh Beach, Seagrass, Community Structure. Abstrak Lamun adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang sepenuhnya menyesuaikan diri dengan hidup terbenam dalam laut. Tumbuhan ini terdiri dari rhizoma, daun dan akar, (Rhizoma adalah batang yang terbenam dan merayap secara mendatar, berdaun dan berbunga, serta tumbuh akar). Rhizoma dan akar inilah yang menahan hempasan ombak dan arus pada tumbuhan lamun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis lamun,  kerapatan spesies, kerapatan relatif, frekuensi jenis, frekuensi relatif, penutupan jenis, penutupan relatif, indeks nilai penting, indeks keanekaragaman, indeks dominasi dan kondisi lingkungan perairan. Spesies lamun yang ditemukan diperairan Pantai Poopoh berjumlah 4 spesies yaitu, Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Halodule pinifolia, Halophila ovalis. Jumlah tegakan spesies lamun dilokasi penelitian berkisar dari 53-965 individu, kerapatan spesies (17,67-321,67) individu/m2, kerapatan relatif (3,98-72,61%), frekuensi (0,045-0,90), frekuensi relatif (3,57-71,42%), penutupan jenis (0,41-7,31), penutupan relatif (1,04-78,12%), indeks nilai penting lamun diperairan Pantai Poopoh menunjukkan bahwa Thalassia hemprchii memiliki indeks nilai penting paling tinggi diantara ke 3 spesies lamun lainnya yakni (212,85%), indeks keanekaragaman (0,97), indeks dominasi spesies (0,11-0,44%/m²). Kondisi Lingkungan diperairan Pantai Poopoh yakni mamiliki kisaran suhu 28°C, salinitas 30‰, memiliki substrat pasir, pasir campur lumpur, berlumpur dan patahan karang. Kata Kunci: Pantai Poopoh, Lamun, Struktur Komunitas.
Co-Authors Abdul Latief Abadi Abdul Latief Abadi Abubakar, Salim Achmad, Febrio V. Achmad, M. Janib Adnan Sjaltout Wantasen Adnan Wantasen Adrian, Melinda Margareta Alex D. Kambey Alex D. Kambey Anneke V. Lohoo Antonius P. Rumengan Ariyati H. Fadel Bilaleya, Iman Billy J. Kepel Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Carolus P. Paruntu Chatrien A. L. Sinjal Darus S. Paransa Deiske A. Sumilat Deiske Adeliene Sumilat, Deiske Adeliene Edwin D Ngangi Engel V. Pandey Fadel, Ariyati H. Farnis B. Boneka Flora Pricilla Kalalo Fransine B. Manginsela Fransiscus Rori Gabriel F. Tulung Gaspar D. Manu, Gaspar D. Gaspar Duhar Manu Grevo S Gerung Hadad, M. Said Al Hadath, Deandra Starsha Bianca Handayani, Maymanah Haryani Sambali Hengki Djemie Walangitan Hengky J Sinjal Hermanto W. K. Manengkey Irwan Baino Iyanleba, Jonathan Yohanes Jane M. Mamuaja Jane Sulinda Tambas Jety K. Rangan John L. Tombokan Joshian Nicolas William Schaduw Joudy R.R. Sangari, Joudy R.R. Kandati, Feibe R. S. Katiandago, Theodora Maulina Khristin I. F. Kondoy, Khristin I. F. Kliwon Hidayat Kliwon Hidayat Kondoy, Khiristin Ivone Fisye Kristianto Parera, Kristianto Lalita, Jans Laurence J. L Lumingas Lawrence J. L Lumingas Lawrence J. L. Lumingas Lawrence J.L Lumingas Lawrence J.L. Lumingas, Lawrence J.L. Leonardus Ricky Rengkung Leslida, Ayu Lumingas, Lawrence J. M. Janib Achmad M. Said Al Hadad Mamonto, Riswanto Mandagi, Stephanus V. Mandagi, Stephanus Vianny Mantiri, Desy M. H Mantiri, Rose O.S.E Medy Ompi Menajang, Febry S. I. Menajang, Febry Susana Ivone Muhammad Aris Najamuddin Najamuddin Najamuddin Najamuddin, Najamuddin Namoua, Dilivia J. Nasprianto, - - Nasprianto, . Natalie D. C. Rumampuk Nebuchadnezzar Akbar Nickson J. Kawung, Nickson J. Ockstan Kalesaran Onibala, Hernie Pakasi, Ivone F Paluphi, Raut Wahyuning Patra, Frian Paulus, James Paulus, James J. H Pelle, Wilmy Preisy Meicy Meriam Watung Rafii, Keken Angliyana Rangan, Jety Rangan, Jety K. Rangan, Jety Kornela Raut Nugrahening Widhi Raut Wahyuning Paluphi Resya Ika Firmansyah Rey Wahyudi Simbala Richardo O. Roring Ridwan Lasabuda Rignolda Djamaluddin Rina Rina Rina Rina Rini M Wowor Riyadi Subur, Riyadi Robert A. Bara Ronald S. A. Posundu Rondonuwu, Arie B Rose O. S. E. Mantiri, Rose O. S. E. Rose O.S.E. Mantiri Royke M. Rampengan Rugaya H Serosero Rumengan, Anton Salaki, Meiske Sofie Serosero, Rugaya H Silvester B Pratasik Sinjal, Hengk Stephanus V. Mandagi Stephanus V. Mandagi Stephanus V. Mandagi Sujono, Riskezia Y Sunarti Sunarti Sunarti Suria Darwisito Suzanne L Undap Suzanne L. Undap Tamara, Giovanni Matthew A. J. Tambas, Jane Sulinda Tamrin Tamrin Tamrin Tassi, Maltonius Taufiq Abdullah Tawaluyan, Marthen Hansen Tilaar, Ferdinand F. Tombokan, John Leonard Turangan, Septiara Vivanda O.J. Modaso Wahidin, Nurhalis Wakkary, Paramitha G. Widhi, Raut Nugrahening Winda M. Mingkit Winda Mercedes Mingkid Yuyun Abubakar Yuyun Abubakar