Claim Missing Document
Check
Articles

Respon Tanaman Tomat Varietas Umagna dan Levanso Terhadap Teknik Budidaya dengan Sistem Hidroponik Substrat di Bandung Frederico Tunggal; Asep Setiawan; Megayani Sri Rahayu
Buletin Agrohorti Vol. 7 No. 3 (2019): Buletin Agrohorti
Publisher : Departemen Agronomi dan Hortikultura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.25 KB) | DOI: 10.29244/agrob.v7i3.30260

Abstract

Teknik budidaya hidroponik merupakan salah satu cara untuk meningkatkan hasil dan kualitas tanaman tomat. Kegiatan di PT Amazing Farm dilakukan bulan Maret hingga Juli 2018. Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mempelajari dan meningkatkan kemampuan dalam aspek teknis dan aspek manajerial dalam budidaya sayuran, khususnya tanaman tomat. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk menentukan laju pertumbuhan dua varietas tomat berbeda yang ditanam di rumah kaca yang sama. Metode langsung diterapkan untuk mendapatkan data yang terkait dengan aspek teknis dan manajemen. Aspek teknis terdiri dari beberapa kegiatan yaitu: persiapan lahan, persiapan bahan tanam, persiapan penanaman dan penanaman, pemeliharaan, panen, dan pascapanen. Untuk mempelajari aspek manajerial, penulis telah aktif terlibat sebagai karyawan harian lepas, asisten mandor, dan pengawas. Metode tidak langsung dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder dan data pendukung dari perusahaan seperti informasi umum perusahaan, arsip taman dan studi literatur. Secara umum, PT Agrikultura Amazing Farm telah menerapkan praktik pertanian yang baik. Uji coba melibatkan dua varietas yaitu varietas umagna dan levanso. Percobaan dilakukan dengan 3 ulangan dan unit pengamatan terdiri dari 5 sampel tanaman. Praktek budidaya yang diberikan terdiri dari penyiraman tanaman sebanyak 5 kali setiap hari dengan dosis setiap penyiraman pada 1 - 2 MST dengan larutan nutrisi 100 ml AB mix dan kadar EC 2 ms / cm, pada 3 - 4 MST dengan 150 ml AB mix dan kadar EC 2 ms / cm, pada 5 -7 MST dengan 200 ml AB mix dan kadar EC2,2 ms / cm, dan pada 8-24 MST dengan 300 ml AB mix dengan kadar EC 2,2 ms / cm. Hasil menunjukkan bahwa teknik budidaya tunggal dapat diterapkan untuk dua varietas yang berbeda dan menghasilkan hasil yang sama baiknya.
Analisis Yuridis Standar Prosedur Pelayanan Operasional (Sppop) Notaris Dalam Pembuatan Akta Terkait Klausul Proteksi Diri Notaris Berdasarkan Pasal 15 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris Asep Setiawan; Gunarto Gun
Jurnal Akta Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Program Magister (S2) Kenotariatan, Fakultas Hukum, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/akta.v4i1.1538

Abstract

Penelitian ini berangkat dari banyaknya kasus yang menimpa beberapa Notaris, informasi tersebut telah saya peroleh dari beberapa dosen pada saat masa pekuliahan di Program Pasca Sarjana Magister Kenotariatan Unissula. Kasus-kasus yang menimpa beberapa Notaris saat ini adalah penyangkalan yang dilakukan para pihak terhadap isi Akta yang dibuat oleh Notaris, para pihak yang sedang bersengketa tidak sedikit mengikutsertakan Notaris ke dalam permasalahannya. Hal tersebut dikarenakan para pihak berasumsi bahwa Notaris terlibat didalam pembuatan Akta tersebut, padahal Notaris bukanlah pihak didalam Akta tersebut, karena para pihak dalam membuat akta atas keinginannya sendiri dan Notaris hanya mengkonstantir apa yang dikehendaki oleh para pihak untuk dimasukan kedalam Akta.Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk menganalisis Bagaimana Standar Prosedur Pelayanan Operasional (SPPOP) Notaris dalam pembuatan Akta notariil untuk memproteksi diri Notaris, dan (2) Untuk menganalisis Apakah klausul proteksi diri dalam akta tentang identitas, sengketa dan keterangan penghadap mempunyai pengaruh, jika ada penghadap yang menyangkal.Penelitian ini menggunakan Metode pendekatan Yuridis Normatif, karena berdasarkan studi kepustakaan terhadap peraturan yang satu dengan peraturan yang lain. Penelitian ini dilakukan di beberapa Kantor Notaris dan PPAT di Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes.Hasil penelitian Standar Prosedur Pelayanan Operasional (SPPOP) Notaris dalam menjalankan tugas dan jabatannya sebagai seorang Notaris tentunya dengan memintakan data-data atau Identitas dari para penghadap yang hendak membuat Akta Notariil dan Akta Notaris sebagai bukti Autentik harus dilihat sebagaimana yang tercantum atau tertulis didalamnya, sepanjang sudah sesuai dengan aturan-aturan yang terkandung dalam UUJN dan Kode Etik maka Akta tersebut telah benar dan mempunyai kekuatan pembuktian yang sah dan/atau sempurna. Adanya Klausul Proteksi diri bagi para Notaris sangat berpengaruh, mengingat dalam menjalankan tugas jabatannya perlu adanya perlindungan bagi dirinya.Kata Kunci : Klausul Proteksi, Akta Autentik.
Pengaturan Arsitektur Tanaman untuk Menyeimbangkan Sink dan Source serta Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Kacang Koro Pedang Abdullah Sarijan; Memen Surahman; Asep Setiawan; Giyanto Giyanto
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 25 No. 1 (2020): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.181 KB) | DOI: 10.18343/jipi.25.1.43

Abstract

The research to improve the growth, production, and seed quality of Jack Bean (Canavalia ensiformis L.) through pruning, which was carried out from May to October 2016 in Purwasari Village, Dramaga, Bogor Regency and continued by seed testing at the Seed Testing Laboratory, Bogor Agricultural University in December 2016. The research was designed in a randomized block design (RBD) with eight treatment of stem and branch pruning and one treatment without pruning as a control, i.e. without pruning of branches and stems (P1), pruning on the 10th stem nodes (P2 ), pruning on the 11th stem nodes (P3), pruning on the 5th branch nodes (P4), pruning on the five branch nodes and the 10th stem nodes (P5), pruning on the 5th branch nodes and stem nodes to -11 (P6), pruning on the 6th branch nodes (P7), pruning on the 6th branch nodes and 10th stem nodes (P8), and pruning on the 6th branch nodes and 11th stem nodes (P9). The results showed that pruning affected some of the results of the study, but was not able to increase the production of Jack Bean. Pruning treatment on the 5th branch nodes and 10th stem nodes (P5) produced the highest seed production (3.4 tons ha-1), the physical quality of the seeds produced was classified as moderate with a weight of 1000 seeds between 1273.3-1291.7 g. The physiological quality of the seed is moderate with maximum growth potential 84.0-90.7%, germination percentage 73.3-82.7%, germination speed 9.1-116.1% / etmal, germination uniformity 40.0-49 , 3% and vigor index of 14.0-20.0%. Keywords: germination rate, inflorescence, oas bakol, pod
Evaluasi Keragaman Fenotipik Pisang Cv. Ampyang Hasil Iradiasi Sinar Gamma di Rumah Kaca Reni Indrayanti; Nurhajati A. Mattjik; Asep Setiawan; , Sudarsono
Jurnal Hortikultura Indonesia Vol. 3 No. 1 (2012): Jurnal Hortikultura Indonesia
Publisher : Indonesian Society for Horticulture / Department of Agronomy and Horticulture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (844.6 KB) | DOI: 10.29244/jhi.3.1.24-34

Abstract

ABSTRACTBanana  and plantain   are  important  for  food  security.   Increase  of genetic variability  is  difficult because  most  of  edible  bananas  are  triploid,  sterile and  parthenocarpy.   Therefore,  breeding  through convetional  method are difficult.  The objective of  this research were to evaluate  phenotypic variation of banana  cv.  Ampyang  (Musa  acuminata,  AAA,  subgroup  non-Cavendish) regenerated  from  in  vitro induced  mutation  by  gamma  irradiation  in  a greenhouse.   The  objectives  of  this  research  were  to characterize and evaluate phenotypic diversity of banana cv. Ampyang plant, in vi tro regenerated from gamma irradiated plantlet in a greenhouse. The phenotypes (both quantitative and qualitative characters) were evaluated when the plants were at six months after acclimatization. Result indicated banana plant sregenerated from gamma irradiated explants exhibited lower plant height, shorter leaf, and leaf length by leaf width ratio than from non-irradiated ones. Population of banana cv. Ampyang gamma irradiated at30, 40, 45 and 50 Gy showed broader variation in  qualitative characters than those  treated with 0 Gy. Banana cv. Ampyang originated from explants treated with 0 Gy showed similar stomatal density than those from explants treated with 45 and 50 Gy. On the other hand, those originated from explants treated with 20, 25, 30 or 40 Gy showed lower stomatal densities than those treated with 0 Gy.  The results have demonstrated  that  mutation  breeding  with  in vitro  technique could produce morphological changes as well as increase in variability of  quantitative traits.  A number of these  parameters were supposed to be applicable for characterization of variation in other banana cultivars.Key words:  Musa acuminata (AAA), stomata density, doses of gamma irradiationABSTRAKPisang  penting  untuk  keamanan  pangan.   Peningkatan keragaman  genetik   pada  pisang  sulit dilakukan  karena  sebagian  besar  pisang  yang  dapat dimakan  bersifat  triploid,  steril  dan  partenokarpi.Oleh sebab itu, pemuliaan tanaman secara konvensional sulit dilakukan. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengevaluasi variasi fenotipik pisang cv. Ampyang (Musa acuminata, AAA, subgroup non-Cavendish)yang diregenerasikan dari kultur in vitro dan diinduksi mutasi dengan sinar gamma.  Fenotipe (karakter kualitatif dan kuantitatif) dievaluasi ketika tanaman berumur 6 bulan setelah aklimatisasi. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa  tanaman  pisang  yang  diregenerasikan dari  eksplan  yang  diiradiasi  sinar  gamma memiliki tinggi tanaman yang lebih rendah, daun yang lebih pendek, dan rasio panjang dan lebar daun yang lebih  rendah  dibanding  tanaman  non-iradiasi.  Populasi  pisang  cv. Ampyang hasil  iradiasi  sinar gamma  30, 40, 45  dan  50 Gy  menunjukkan variasi yang lebih lebar dalam karakter kualitatif dibanding tanaman kontrol (0 Gy). Pisang cv. Ampyang asal eksplan kontrol (0  Gy) menunjukkan densitas stomata yang sama dengan tanaman eksplan yang diiradiasi sinar gamma 45 dan 50 Gy. Tanaman yang berasal dari eksplan yang diiradiasi sinar gamma  20, 25, 30 or 40 Gy  menunjukkan densitas stomata yang lebih rendah dari tanaman kontrol (0 Gy).  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemuliaan mutasi dengan teknik in vitro dapat menghasilkan perubahan morfologi dan juga peningkatan variabilitas sifat kuantitatif dan  sejumlah  parameter  tersebut diharapkan  dapat  diaplikasikan  untuk  karakterisasi  variasi  kultivar pisang lainnya.Kata kunci : Musa acuminata (AAA), densitas stomata, dosis iradiasi sinar gamma
Gen Pengendali Sifat Ketahanan Penyakit Blas (Pyricularia grisea Sacc.) pada Spesies Padi Liar Oryza rufipogon Griff. dan Padi Budi Daya IR64 Dwinita Wikan Utami; Sugiono Moeljopawiro; Hajrial Aswidinnoor; Asep Setiawan; Ida Hanarida
Jurnal AgroBiogen Vol 1, No 1 (2005): April
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jbio.v1n1.2005.p1-6

Abstract

Improvement of rice for durable resistance rice blast is difficult due to the complexity of the inheritance of resistance. As study was conducted to analyze blast resistance in rice using two different approaches, i.e., blast QTL mapping and comparison of resistance spectrum and genetic control. The blast QTL mapping was done using an interspesific population originated from backcrossing between a wild rice, Oryza rufipogon, and a cultivated rice, IR64. Comparison of resistance spectrum and genetic control was based on phenotypic reactions. Results of the experiment showed that based on the blast QTL mapping, genes Pirf2-1(t) and Pir2-3(t) were mapped on chromosome 2. Gene Pirf2-1(t) was isolated from chromosome 2 of O. rufipogon and coding for resistance to P. grisea race 001, while gene Pir2-3(t), which was isolated from rice cultivar IR64, was coding for resistance to P. grisea race 173. Based on the resistance spectrum, O. rufipogon has a non-race specific resistance. Gene Pirf2-1(t) on O. rufipogon contributed a dominant mode of resistance to blast which was affected by a duplicate epistasis. The other gene, Pir2-3(t) contributed an additive mode of resistance which was affected by a complementary epistasis.
Pengelolaan Limbah Ternak pada Kawasan Budidaya Ternak Sapi Potong di Kabupaten Majalengka (Waste Management at Beef Cattle Raising Area in Majalengka) Asep Setiawan
Jurnal Ilmu Ternak Vol 13, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jit.v13i1.5117

Abstract

Salah satu jenis usaha pada sub sektor peternakan yang berpotensi untuk dikembangkan adalah peternakan sapi  potong.  Sapi  potong  ditetapkan sebagai  komoditas unggulan sub sektor  peternakan di  Kabupaten Majalengka. Kecamatan Kertajati, Kecamatan Lemahsugih dan Kecamatan Majalengka merupakan wilayah unggulan budidaya ternak sapi potong di Kabupaten Majalengka dimana ternak sapi potong banyak dipelihara. Usaha ternak sapi potong menghasilkan limbah yang relatif banyak dan berpotensi menjadi sumber pencemaran. Limbah ternak yang dikelola dengan baik limbah ternak dapat memberikan keuntungan baik bagi  peternak maupun masyarakat di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status pengelolaan limbah ternak sapi potong saat ini serta faktor-faktor yang mendorong dan menghambat dalampengelolaan limbah ternak sapi potong. Penelitian ini dilakukan dengan mengunakan metode campuran antara pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk menguji faktor-faktor yang mendorong dan menghambat peternak sapi potong dalam melakukan pengelolaan limbah ternak, yaitu faktor karakteristik peternak, faktor karakteristik inovasi pengelolaan limbah ternak,dan faktor kondisi   lingkungan.   Adapun   pendekatan  kualitatif  digunakan   untuk   memperoleh   gambaran   status pengelolaan limbah  ternak sapi  potong  yang  dilakukan saat  ini.  Hasil  penelitian menunjukkan  bahwa peternak sapi potong telah melaksanakan pengelolaan limbah ternak dengan pemanfaatan yang paling banyak adalah sebagai pupuk organik. Faktor yang paling berpengaruh terhadap status pengelolaan limbah ternak sapi potong adalah faktor kondisi lingkungan yaitu sebesar 21,2% kemudian variabel karakteristik inovasi pengelolaan limbah ternak sebesar 9,9% sedangkan pengaruh faktor karakteristik peternak hanya 7,0% dan tidak signifikan.Kata kunci :  limbah ternak, sapi potong, status pengelolaan limbah
KERAGAMAN GENETIK, HERITABILITAS, DAN KORELASI ANTAR KARAKTER 10 GENOTIPE TERPILIH JARAK PAGAR (JATROPHA CURCAS L.) R r. SRI HARTATI; ASEP SETIAWAN; BAMBANG HELIYANTO; SUDARSONO SUDARSONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n2.2012.74-80

Abstract

ABSTRAKUntuk menyusun program pemuliaan jarak pagar berdaya hasiltinggi, diperlukan populasi dasar yang memiliki keragaman genetik yangtinggi terutama pada karakter yang berkaitan dengan daya hasil tanaman.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaman genetik,heritabilitas, dan korelasi antar karakter genotipe terpilih. Sepuluhgenotipe dievaluasi di Kebun Percobaan Balai Penelitian TanamanRempah dan Aneka Tanaman Industri Pakuwon, Sukabumi mulai bulanAgustus 2009 - Juli 2010. Rancangan lingkungan adalah acak kelompoklengkap dengan 3 ulangan. Setiap unit percobaan terdiri atas 5 tanamanyang ditanam dalam 1 baris dengan jarak antar baris 2 m dan jarak dalambaris 1 m. Evaluasi dilakukan terhadap karakter vegetatif (meliputi tinggitanaman, lingkar batang, lebar kanopi, dan jumlah cabang total), karaktergeneratif (meliputi jumlah cabang produktif, umur mulai berbunga, jumlahtandan bunga, jumah tandan buah, fruit set), serta komponen hasil yaitujumlah buah per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan 10 genotipe yangdievaluasi memiliki keragaman genetik yang luas pada karakter generatifumur mulai berbunga, jumlah tandan bunga, jumlah tandan buah, danjumlah buah per tanaman dengan nilai koefisien keragaman genetik(KKG) berturut-turut 21,89; 29,77; 32,08; dan 33,75. Karakter-karakter inimemiliki ragam genetik luas dan heritabilitas dalam arti luas yang tinggisehingga dapat dimanfaatkan sebagai kriteria seleksi. Karakter vegetatifjumlah cabang total memiliki keragaman genetik agak luas, heritabilitastinggi, dan berkorelasi positif dengan jumlah tandan bunga, jumlah tandanbuah, dan jumlah buah per tanaman sehingga dapat dipertimbangkansebagai kriteria seleksi.Kata kunci : Jatropha curcas, keragaman fenotipik, koefisien keragaman,ragam genetik, kriteria seleksiABSTRACTGenetic variability, heritability, and correlation amongcharacters of 10 selected genotypes of physic nut(Jatropha curcas L.)To arrange breeding programme of jatropha high yielding varieties,it is required population base having high genetic variabilities, especiallyin yield components. The objectives of this research were to evaluategenetic variability, heritability estimate, and analyze correlation amongcharacters of 10 physic nut genotypes. Ten Jatropha curcas genotypeswere evaluated at Pakuwon Experimental Station of Indonesian Spice andIndustrial Crops Research Institute, Sukabumi, from August 2009 - July2010. A randomized complete block design with 3 replicates was appliedin this experiment. Each experimental unit consisted of five plants grownin a row with 2 m spacing in line and 1 m in row. The observations weremade for vegetative characters (plant height, stem girth, canopy width, andnumber of total branches per plant), generative characters (days toflowering, number of productive branches, inflorescences, fruit bunchesper plant, and fruit set percentages), and yield component : number of fruitper plant. Results of the experiments indicated that the evaluatedgenotypes had wide genetic variability on several generative characters i.e.days to flowering, number of inflorescences, number of fruit bunches, andnumber of fruits per plant with genotypic variability coefficient (GVC)values of 21.89; 29.77; 32.08; and 33.75, respectively. Their geneticvariabilities were broad and high heritability. The total number of branchesas a vegetative character was fairly wide in genetic diversity, highheritability, and positively correlated with number of inflorescences,bunches, and fruits per plant. These characters can be considered asselection criteria.Key words : Jatropha curcas L., phenotypic variability, coefficient ofvariation, genetic variability, selection criterion
PELACAKAN TETUA POPULASI KELAPA DALAM MAPANGET No.32 (DMT-32) MENGGUNAKAN ANALISIS ALIRAN GEN (Gene Flow) BERDASARKAN PENANDA MIKROSATELIT (SSR) DONATA S PANDIN; ALEX HARTANA; HAJRIAL ASWIDINNOOR; ASEP SETIAWAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n4.2008.131-140

Abstract

ABSTRAKKelapa Dalam Mapanget (DMT) merupakan salah satu kelapadalam unggul produksi dan kadar minyak serta protein yang baik.Beberapa populasi generasi DMT telah diseleksi selama tahun 1957 –1979 menghasilkan populasi DMT 32. Penelitian ini bertujuan untukmelacak tetua melalui aliran gen dalam beberapa generasi populasi kelapaDMT-32 hasil penyerbukan campuran polen, pada taraf DNA berdasarkanpenanda mikrosatelit (SSR). Bahan tanaman yang digunakan dalampenelitian ini adalah populasi hasil penyerbukan kelapa DMT-32 generasikedua (DMT-32 S2), populasi DMT-32 generasi ketiga (DMT-32 S3), danpopulasi DMT-32 generasi keempat (DMT-32 S4) berturut-turut sebanyak9, 40, dan 38 pohon. Analisis hubungan tetua dengan zuriatnya meng-gunakan program komputer CERVUS ver. 2.0. Jumlah primer SSR yangdigunakan sebanyak 19 primer dan 15 di antaranya dapat digunakan untukmelacak tetua dari individu-individu kelapa DMT-32 S3 dan DMT-32 S4.Semua individu DMT-32 S2 menjadi tetua dari individu-individu DMT-32S3, tetapi tidak semua individu DMT-32 S3 menjadi tetua dari DMT-32S4. Hasil pelacakan tetua menunjukkan bahwa 2 pohon DMT-32 S3 yangbenar-benar hasil penyerbukan hasil zigot polen sendiri dari satu pohonkelapa DMT-32 S2 No.8, dan 1 pohon zuriat dari DMT-32 S2 No.3. PadaDMT-32 S4 ada 2 individu pohon yang benar-benar merupakan hasilpenyerbukan zigot polen sendiri pohon DMT-32 S3 No.28, masing-masing1 pohon zuriat dari DMT-32 S3 No.32 dan DMT-32 S3 No.35. DMT-32S2 No.1 merupakan tetua dari 8 individu DMT-32 S3, dan lima darizuriatnya adalah tetua dari 13 individu DMT-32 S4. DMT-32 S2 No. 2adalah tetua dari 9 individu DMT-32 S3 dan empat nomor di antaranyamenjadi tetua dari 14 individu DMT-32 S4. DMT-32 S2 No.3 merupakantetua dari 11 individu DMT-32 S3 dan enam nomor pohon di antaranyamenjadi tetua dari 18 individu DMT-32 S4. DMT-32 S2 No.4 memiliki 5zuriat dan dua nomor pohon di antaranya menjadi tetua dari 7 individuDMT-32 S4. DMT-32 S2 No.5 merupakan tetua dari 10 pohon DMT-32S3 dan enam nomor pohon di antaranya menjadi tetua dari 24 pohonDMT-32 S4. DMT-32 S2 No.6 adalah tetua dari 4 zuriat DMT-32 S3 danhanya satu nomor pohon yang menjadi tetua dari 4 individu pohon DMT-32 S4. DMT-32 S2 No.7 merupakan tetua dari 10 zuriat pohon DMT-32S3, lima di antaranya merupakan tetua dari 20 pohon DMT-32 S4. DMT-32 S2 No.8 memiliki 12 zuriat DMT-32 S3, dan empat di antaranyaadalah tetua dari 15 pohon DMT-32 S4. DMT-32 S2 nomor 9 merupakantetua dari 7 pohon DMT-32 S3, dan empat diantaranya adalah tetua dari17 pohon DMT-32 S4.Kata kunci : Cocos nucifera L, Mapanget Tall Coconut (DMT 32),mikrosatelit, SSR, pelacakan tetuaABSTRACTParentage analysis of Mapanget Tall Coconut No.32 (DMT-32)population via gene flow based on Microsatellite Markers (SSR)Mapanget Tall Coconut (DMT) is one of the superior coconut for itsproduction, coconut oil and protein. Several generation of the DMTpopulation has been selected in 1957 – 1979 producing DMT 32generations. The aim of this research was to analyze the parents ofMapanget Tall Coconut No.32 (DMT-32) in DNA level via gene flowbased on microsatellite markers (SSR). Plant materials used in thisresearch were nine (9) palms of DMT-32 S2, 40 palms of DMT-32 S3 and38 palms of DMT-32 S4. Relationship between parents and progeny wereanalyzed by using CERVUS ver. 2.0 computer program. Among 19 SSRprimers used, 15 of them can be used in parentage analysis of MapangetTall Coconut No.32 of third and fourth generations. All of 9 (nine) palmsof DMT-32 S2 are the parents of DMT-32 S3, but some of those palms ofDMT-32 S3 are not the parents of DMT-32 S4. The result of parentageanalysis showed that two palms of DMT-32 S3 were progeny of selfedDMT-32 S2 No.8, and one palm was progeny of selfed DMT-32 S2 No.3.In DMT-32 S4 there were two palms progeny of DMT-32 S3 No.28 andone palm was progeny of DMT-32 S3 No.32 and DMT-32 S3 No.35respectively. DMT-32 S2 No.1 had 8 progeny in DMT-32 S3 and five ofthose were the parents of 13 individu DMT-32 S4. DMT-32 S2 No. 2 had9 progeny in DMT-32 S3 and four of those were the parents of 14 individuDMT-32 S4. DMT-32 S2 No.3 had11 progeny in DMT-32 S3 and six ofthose were the parents of 18 individu DMT-32 S4. DMT-32 S2 No.4 had 5progeny in DMT-32 S3 and two of those were the parents of 7 individuDMT-32 S4. DMT-32 S2 No.5 had 10 progeny in DMT-32 S3 and six ofthose were the parents of 24 individu DMT-32 S4. DMT-32 S2 No.6 had 4progeny in DMT-32 S3 and only one was the parent of 4 individu DMT-32S4. DMT-32 S2 No.7 had 10 progeny in DMT-32 S3 and five of thosewere the parents of 20 individu DMT-32 S4. DMT-32 S2 No.8 had 12progeny in DMT-32 S3 and four of those were the parents of 15 individuDMT-32 S4. DMT-32 S2 No.9 had 7 progeny in DMT-32 S3 and four ofthose were the parents of 17 individu DMT-32 S4.Key words : Cocos nucifera L, Mapanget Tall Coconut (DMT-32),microsatellite, SSR, parentage analysis
PENGEMBANGAN MARKA SIMPLE SEQUENCE REPEAT UNTUK Jatropha spp. DARMAWAN SAPTADI; R.R. SRI HARTATI; ASEP SETIAWAN; BAMBANG HELIYANTO; SUDARSONO SUDARSONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n4.2011.140-149

Abstract

ABSTRAKPemuliaan tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) untukmenghasilkan varietas berdaya hasil dan berkadar minyak tinggi perludilakukan. Penggunaan marka molekuler dapat membantu mempercepattercapainya tujuan pemuliaan tanaman jarak pagar. Marka simple sequencerepeat (SSR) merupakan marka ko-dominan yang efektif untuk mendu-kung program pemuliaan tanaman, tetapi penerapannya pada jarak pagarmasih terbatas. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk : (i) merancangprimer spesifik SSR menggunakan aksesi DNA jarak pagar yang tersediadi GenBank DNA database dan (ii) mengevaluasi efektivitas pasanganprimer yang dirancang untuk menghasilkan marka SSR yang polimorfikuntuk jarak pagar dan J. multifida. Dua puluh delapan pasang primerspesifik SSR telah berhasil dirancang menggunakan aksesi DNA asal jarakpagar yang ada di GenBank DNA database. DNA genomik jarak pagar danJ. multifida yang diisolasi dapat digunakan sebagai templat untukamplifikasi PCR. Dari 28 pasang primer yang dikembangkan, semuanyamampu menghasilkan marka SSR dari genom jarak pagar dan hanya 19pasang primer yang menghasilkan marka SSR dari genom J. multifida.Dari 19 pasangan primer spesifik SSR yang dievaluasi mampu dihasilkan44 alel dengan ukuran produk amplifikasi berkisar antara 100-360 bp.Sebanyak 35 alel (79,5%) yang diamati merupakan alel yang polimorfik.Marka SSR yang didapatkan tidak polimorfik intra-aksesi jarak pagar atauintra-aksesi J. multifida tetapi polimorfik untuk inter-aksesi kedua spesies.Karena marka SSR yang dihasilkan bersifat polimorfik untuk aksesi jarakpagar dengan aksesi J. multifida maka dapat digunakan sebagai markauntuk mendeteksi hasil persilangan F 1 inter-spesies J. curcas x J. multifida.Kata kunci : Jatropha curcas L., jarak pagar, J. multifida, DNA berulang,rancangan primerABSTRACTDevelopment of Simple Sequence Repeat Markers forJatropha spp.Breeding of physic nut (Jatropha curcas L.) to obtain new varietiesthat are high in yield and oil content needs to be conducted. Molecularmarker could be used to assist breeding of physic nut (J. curcas). Simplesequence repeat (SSR) marker is a co-dominant marker and theoretically itcould be used to support physic nut breeding program. However, onlylimited information has been available regarding molecular analysis ofphysic nut. The objectives of this research were: (i) to design SSR specificprimer based on DNA sequences available in the GenBank DNA databaseand (ii) to evaluate effectiveness of the primer pairs to produce polymor-phic SSR markers for J. curcas and J. multifida. Twenty eight primer pairswere designed and developed using physic nut DNA available in theGenBank DNA database. Total genomic DNA isolated from J. curcas andJ. multifida could be used as DNA templates for PCR amplification. Of the28 primer pairs developed in this research yielded SSR marker using J.curcas genomic DNA, while only 19 out of 28 pairs yielded SSR markersusing J. multifida genomic DNA. As many as 44 alleles with the size ofamplified products ranged from 100-360 bp were identified. Thirty fivealleles (79.5%) out of 44 identified ones were polymorphic. Results ofanalysis indicated that identified SSR markers generated using thedesigned primers were not polymorphic intra accession of J. curcas norintra-accession of J. multifida either. However, the generated SSR markerswere polymorphic for inter-accession of the two Jatropha species. Sincethe generated markers were only polymorphic for J. curcas and J.multifida, they could be used as markers for identifying interspecific F 1hybrids derived from crossing between J. curcas and J. multifida.Key words: Jatropha curcas L., physic nut, J. multifida, DNA repeatsequence, primer design
APLIKASI TEKNIK MARKER ASSISTED SELECTION (MAS) DALAM SELEKSI INTROGRESI GENOTIP TAHAN PATOGEN BLAS DARI Oryza rufipogon KE DALAM IR 64 Dwinita W. Utami; Hajrial Aswidinnoor; Asep Setiawan; Sugiono Moeljopawiro; Edi Guhardja
Zuriat Vol 15, No 2 (2004)
Publisher : Breeding Science Society of Indonesia (BSSI) / PERIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/zuriat.v15i2.6809

Abstract

Perakitan varietas unggul yang memiliki sifat ketahanan terhadap pathogen blas (Pyricularia grisea) merupakan salah satu program utama dalam pemuliaan padi. Untuk mendukung program tersebut diperlukan gene pool yang luas terutama untuk trait kuantitatif. Salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah dengan mengidentifikasi lokus kuantitatif (QTL) yang terdapat pada spesies liar dan mentransfernya ke dalam kultivar padi. Spesies padi liar Oryza rufipogon diidentifikasi mempunyai lokus ketahanan kuantitatif (QRL) terhadap patogen blas. Pemanfaatan marka molekuler dalam pemuliaan tanaman salah satunya adalah untuk mempercepat seleksi (MAS) kembalinya genom tetua pemulih dalam persilangan silang balik. Dalam rangka menseleksi progeni persilangan O. rufipogon dengan IR64 menggunakan marka molekuler, dalam penelitian ini dilakukan seleksi introgresi genotip tahan yang hanya sedikit membawa fragmen dari tanaman padi liar. Tujuan dari penelitian ini adalah menseleksi genotip tahan blas dan menganalisis introgresi dan keterpautannya dengan tentative QTL tahan blas. Hasil analisis menunjukkan terdapat 20 genotip tahan dengan tingkat introgresi yang bervariasi dari 9%–40% dari total kromosom yang terpetakan. Analisis keterpautan menunjukkan bahwa genotip nomor 118 mempunyai QTL tahan blas pada kromosom 2, genotip nomor 337 mempunyai QTL tahan blas pada kromosom 12 dan genotip nomor 343 mempunyai QTL tahan blas pada kromosom nomor 9. Nomor-nomor genotip yang telah terseleksi tingkat ketahanan dan introgresinya dapat mempercepat kembalinya genome tetua pemulih, sebagai bahan untuk pembentukan populasi lebih lanjut.
Co-Authors . Giyanto Adi Tia Setiawan Ady Kusuma Nurcholis Afifah Farida Jufri Aghus Jamaludin Kharis Agus Purwantara Agustian, Yanyan AJAR DIRGANTORO Ajeng Amanda Thayeb AK Sembiring, Desy ALEX HARTANA Alfianta Cesario Rizky Maulana Anah Sasmita Andreas Tan Aris Purwanto Arya Panca Asroni Asroni Ayu Puspita Ningrum Azrai, Muhammad S Bambang Eko Widyanto Bambang Heliyanto BAMBANG HELIYANTO BAMBANG HELIYANTO Bambang Heliyanto Bayu Brahmantia Betty Mauli Rosa Bustam Cecep Effendi Darmawan Saptadi Darmawan Saptadi Darmawan Saptadi Devi Novianti Dhanang Ajie Dinar Meidiana Dindin Abidin DONATA S PANDIN Dwi Putri Maulida Dwinita W. Utami Dwinita Wikan Utami Edi Guhardja Elfan Fanhas Fatwa Khomaeny Endang Sulastri Erwin Yuniar Rahadian Fadli Wahab Frederico Tunggal Gina Rahma Utami Gunanto , Djoni Gunarto Gun H. Hardhienata HAJRIAL ASWIDINNOOR Hamka Hamka Hanan Dwiky Masshafy Hani Handayani Haris Aprianto Setiawan Harmonis Hendrik Syaputra Heri Budiawan Ida Hanarida Indarini Dwi Pursitasari Iriana Bakti Iswara, Vidya Itkonul Akbar Kadeni Kadeni, Kadeni Kamajaya, Ryan Muhammad Azizulfiqar Lilis Lismayanti Maesaroh Lubis Megayani Sri Rahayu Memen Surahman Memen Surahman Miftahul Falah Miftahul Ulum Muhamad Asykal Rizki Muhamad Fikri Dzam-Dzam Muhammad Isa Asyrofuddin Mujiarto Mujiarto Nadya Paramitha Nandang Ahmad W Nandang Ahmad Waluya Naufal Fauzi Akbar Neni Nuraeni Neni Sholihat Nofirman Nurhajati A. Mattjik Nurhajati A. Mattjik Nurhalim Nuri Aslami Pabendon, Marcia B Palupi, Endah R. Pito Fernando Puspa Khoerun Nisa R r. SRI HARTATI R.R. SRI HARTATI Reni Indrayanti Rino Vanchapo , Antonius Risma Rahmawati Rizka Putra Roberdi, Roberdi S Rr Sri Hartati Rr. Sri Hartati Rubiyo Rubiyo Sarijan, Abdullah - Septina Putri Laia Setiani, Revina Putri Slamet Riyadi Sony Sumaryo Sri Mulyanti Sri Yunanto Sudarsono Sudarsono SUDARSONO SUDARSONO SUDARSONO SUDARSONO Sudarsono Sudarsono Sudarsono Sudarsono SUGIONO MOELJOPAWIRO Sugiono Moeljopawiro Suhartanto, Muhammad Rahmad Sulastri Rini Rindrayani Surti Kurniasih Surtikanti Sutrisno, Sutrisno S Suwarto Suwarto Syahnanto Noerdin Tisngatul Aliyah UBHI, Trias Inang Novanti Usni Wahyu Hidayat Yanyan Mochamad Yani Yudha Purwanto