Claim Missing Document
Check
Articles

Pemberdayaan Kader Posyandu dalam Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) pada Anak Usia 0 – 6 Tahun di Desa Cileles Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang Sri Hendrawati; Ai Mardhiyah; Henny Suzana Mediani; Ikeu Nurhidayah; Wiwi Mardiah; Fanny Adistie; Nenden Nur Asriyani Maryam
Media Karya Kesehatan Vol 1, No 1 (2018): Media Karya Kesehatan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.355 KB) | DOI: 10.24198/mkk.v1i1.17263

Abstract

Cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita tingkat Provinsi Jawa Barat masih jauh di bawah target yang ditetapkan yaitu 90%, termasuk untuk wilayah Kabupaten Sumedang, khususnya Desa Cileles Kecamatan Jatinangor, memiliki cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak masih rendah. Stimulasi, deteksi, dan intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) yang dilakukan di Posyandu tidak lengkap, hanya penimbangan dan pengukuran tinggi badan saja. Kader posyandu belum mampu melakukan deteksi dini dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang balita secara komprehensif. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memberdayakan kader posyandu dalam melakukan SDIDTK pada anak usia 0 – 6 tahun. Khalayak sasaran pada kegiatan ini adalah kader posyandu di Desa Cileles. Luaran dari kegiatan PKM ini yaitu tersusunnya modul SDIDTK pada anak usia 0 – 6 tahun yang aplikatif dan handbook praktikum deteksi dini tumbuh kembang anak. Metode kegiatan dilakukan dengan beberapa metode yaitu panel expert untuk pembuatan modul SDIDTK dan pelatihan SDIDTK yang terdiri dari kegiatan penyuluhan, small group discussion, praktikum serta simulasi. Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan mitra dari 5 buah posyandu di Desa Cileles yang diikuti oleh 25 kader posyandu. Evaluasi dilaksanakan dengan evaluasi kognitif dan psikomotor. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kader posyandu sangat antusias dalam mengikuti rangkaian kegiatan PKM ini. Sejumlah 25 orang kader lulus mengikuti semua tahapan dalam kegiatan PKM ini dengan indikator terdapat peningkatan pengetahuan tentang SDIDTK dan tumbuh kembang pada anak dari nilai rata-rata pretest 41,6 (SD = 18,9) menjadi nilai rata-rata posttest 65,6 (SD = 17,6), dengan rata-rata peningkatan skor 24,0 (SD = 18,3); dan kemampuan psikomotor peserta 100% lulus dalam kegiatan praktikum. Hasil kegiatan ini merekomendasikan agar pelaksanaan pelatihan SDIDTK pada kader posyandu ini perlu dilanjutkan secara berkesinambungan untuk meningkatkan kemampuan kader dalam melakukan stimulasi tumbuh kembang, deteksi dini tumbuh kembang, dan intervensi dini tumbuh kembang.Kata kunci: Anak usia 0-6 tahun, deteksi, intervensi dini, kader posyandu, stimulasi, tumbuh kembang
Promosi Kesehatan Kepada Orang Tua Mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat untuk Mencegah Hepatitis A pada Anak Ai Mardhiyah; Henny Suzana Mediani; Laili Rahayuwati
Media Karya Kesehatan Vol 2, No 1 (2019): Media Karya Kesehatan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.514 KB) | DOI: 10.24198/mkk.v2i1.21007

Abstract

Anak-anak merupakan sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan sangat pesat dan sangat fundamental bagi kehidupan selanjutnya, anak sangat aktif, dinamis, antusias, dan hampir selalu ingin tahu seolah tidak pernah berhenti untuk belajar. Anak-anak akan cenderung melihat dan menerapkan hal-hal yang ia temui di lingkungan, termasuk kebiasaan dengan teman-teman sebayanya. Hal tersebut dapat menimbulkan beberapa masalah kesehatan, salah satu kasus paling umum ialah diare dan tidak menutup kemungkinan untuk terjangkit penyakit yang rute persebarannya lewat fecal-oral, salah satunya adalah hepatitis. Selain dari perilaku hidup bersih dan sehat yang buruk, penyebaran Hepatitis A ini sangat didukung oleh sanitasi lingkungan yang buruk. Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini bertujuan untuk mengurangi risiko penularan Hepatitis A melalui pemberian Pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan pada orangtua dengan anak usia usia pra sekolah  4-6 tahun) dan usia sekolah tahun (6-12 tahun). Hasil kegiatan pendidikan dan promosi kesehatan adalah peningkatan pengetahuan tentang mencegah terjadinya suatu masalah penyakit di masyarakat. Selain itu meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap penyakit heoatatis dan penularannya. Kata kunci: Anak, bersih, sehat.
Pemberdayaan Guru Sekolah dalam Deteksi Dini Tuberkulosis pada Anak Sekolah Ikeu Nurhidayah; Henny Suzana Mediani; Ai Mardhiyah
Media Karya Kesehatan Vol 1, No 2 (2018): Media Karya Kesehatan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.705 KB) | DOI: 10.24198/mkk.v1i2.17125

Abstract

 Saat ini angka kejadian tuberkulosis (TB) dewasa di Indonesia meningkat. Hal ini berimplikasi terhadap peningkatan penularan tuberkulosis pada anak, karena anak merupakan kelompok usia yang sangat rawan tertular TB dan hanya akan mendapatkan tuberkulosis dari orang dewasa. Saat ini Kabupaten Cirebon menjadi kabupaten ke-empat dengan jumlah penderita TB dewasa terbanyak di Jawa Barat, yang akan berimplikasi pada peningkatan jumlah anak yang menderita tuberkulosis. Angka penemuan kasus TB anak di Kabupaten Cirebon masih rendah, terutama pada anak sekolah, sehingga diperlukan peningkatan kapasitas guru sekolah dalam melakukan deteksi dini TB pada anak sekolah. Kegiatan ini berupa pemberdayaan guru sekolah dasar dalam melakukan deteksi dini dan penemuan kasus tuberkulosis pada anak sekolah. Khalayak sasaran pada kegiatan ini adalah guru sekolah dasar di Kecamatan Sedong Kabupaten Cirebon, yakni sejumlah 25 orang guru sekolah. Luaran kegiatan ini adalah peningkatan kemampuan kognitif dan psikomotor guru dalam melakukan deteksi dini TB pada anak. Metode kegiatan ini dilakukan dengan ceramah, simulasi, small group discussion dan praktikum. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa rata-rata skor pengetahuan guru sebelum dilakukan kegiatan pemberdayaan adalah 46 (SD: 0,46), dan rata-rata skor pengetahuan guru setelah dilakukan kegiatan adalah 97,6 (SD: 0,21), dengan rata-rata peningkatan skor 50, 92 (SD: 0,45), dan kemampuan psikomotor peserta 100% dalam kategori baik. Hasil screening menunjukkan jumlah siswa yang dicurigai mengalami TB dan perlu pemeriksaan lebih lanjut adalah sebesar 52 siswa (8.5%) dari 612 siswa yang dilakukan screening. Hasil kegiatan ini merekomendasikan puskesmas untuk melakukan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan untuk meningkatkan capaian deteksi dini TB pada anak. Kata kunci: Anak sekolah, guru, pemberdayaan, tuberculosis.
Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kualitas Hidup Anak Penyandang Talasemia Mayor Lilis Lusiani; Henny Suzana Mediani; Ikeu Nurhidayah
Jurnal Kesehatan STIKes IMC Bintaro Vol. 1 No. 3 (2017): Jurnal STIKes IMC Bintaro
Publisher : STIKes IMC Bintaro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Talasemia mayor merupakan penyakit kelainan sintesis hemoglobin akibat kurangya satu rantai alfa atau rantai beta penyusun utama molekul hemoglobin normal yang menyebabkan anemia. Anemia berat secara fisik menyebabkan berbagai gangguan baik fisik, psikologis, sosial maupun fungsi sekolah pada anak sehingga dapat menurunkan kualitas hidup anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran tentang kualitas hidup anak penyandang talasemia mayor, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dilakukan dengan cara literature review terhadap 9 hasil penelitian original periode 2006-2017 dari database PUBMED, Google Scholar dan ScienceDirect yang relevan dengan kata kunci pencarian. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kualitas hidup anak penyandang talasemia lebih rendah dari nilai rata-rata normal pada anak sehat dan dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan anak, status ekonomi orang tua, tingkat pendidikan orang tua, kadar Hb pretranfusi, terapi kelasi besi, faktor fisik (ukuran limpa dan facies cooley) dan dukungan keluarga.
Incident of Mucositis and The Factors that Influence it on Children with Cancer Who Received Chemotherapy Sri Hendrawati; Ikeu Nurhidayah; Henny Suzana Mediani; Ai Mardhiyah
Jurnal Keperawatan Vol. 10 No. 2 (2019): Juli
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.793 KB) | DOI: 10.22219/jk.v10i2.5498

Abstract

Chemotherapy shows high effectiveness, but also has side effects, including mucositis. Mucositis can cause pain, difficulty sleeping, eating disorders, mood, and activity, which has implications for the quality of life of children. The purpose of this study was to identify the incidence of mucositis and the factors that influence the incidence of mucositis in cancerous children receiving chemotherapy treatment. This research method is descriptive correlational analysis with cross sectional design. Consecutive sampling technique was used to establish respondents as research samples so as to get 60 respondents. Data were analyzed univariately and bivariately. Bivariate analysis was performed with Chi square test and 2 mean difference test to see differences in the mean values of mucositis before and after chemotherapy. The results showed that almost all cancer children who received chemotherapy had 53 people (88.3%) and a small portion, 7 people (11.7%) had no mucositis. There was a significant difference in the mean value (p = 0,000) between before and after chemotherapy with an increase in the average mucositis value of 3.12. The research shows that there is a significant relationship (p <0.05) between previous mucositis experience (p = 0,000), type of cancer (p = 0.025), type of chemotherapy (p = 0.010), and duration of therapy (p = 0.027) and the incidence of mucositis. Meanwhile nutritional status was not related to the incidence of mucositis (p = 0.077). Nurses, as health workers who most often contact with patients, should be able to improve nursing care in cancer children who get chemotherapy in minimizing the occurrence of mucositis by conducting routine mucositis and oral care assessments.
EDUKASI PADA IBU HAMIL, KELUARGA DAN KADER POSYANDU TENTANG PENCEGAHAN STUNTING Sukmawati Sukmawati; Yanti Hermayanti; Furkon Nurhakim; Iceu Amira DA; Henny Suzana Mediani
Dharmakarya Vol 10, No 4 (2021): Desember, 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v10i4.33400

Abstract

Stunting merupakan salah satu masalah gizi kronis yang terjadi pada anak balita yang disebabkan kurangnya asupan nutrisi dalam waktu yang lama. Stunting berdampak mudah terkena penyakit, tidak optimalnya perkembangan kognitif, motorik dan verbal, postur tubuh, kapasitas belajar, performa saat usia sekolah, produktifitas, kapasitas kerja,  meningkatnya obesitas dan penyakit lain serta menurunnya sistem reproduksi. Salah satu penyebab stunting adalah kurangnya pengetahuan ibu sehingga diperlukan edukasi yang efektif untuk  mencegah terjadinya stunting. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah  untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil, keluarga dan kader  posyandu dalam pencegahan stunting melalui edukasi dengan metode yang digunakan edukasi melalui you tube, instagram dan webinar. Tahapan dalam pelaksanaan pengabdian pada masyarakat ini adalah pra lapangan untuk membuat rancangan, pelaksanaan edukasi melalui you tube, instragam dan webinar. Evaluasi dilakukan berdasarkan jumlah likes, view, followers, subscribe, hasil pre test dan post yang dianalisis berdasarkan uji wilcoxon. Setelah dilakukan edukasi melalui you tube tautan video https://youtu.be/V5fAtqbCpBU per tanggal 27 Februari 2021 jam 08.40 telah dilike 24 likes, view 47 x ditonton 17 subcriber. Berdasarkan tautan video  https://youtu.be/OBp6Rlxj7D8 per tanggal 26 Februari 2021 jam 22.06 telah dilike 20 orang 21 subscribe,  instagram @imulaidaridini.id dengan followers 84 orang dengan total 421 likes. Berdasarkan hasil pre test post test terjadi peningkatan rata-rata pengetahuan sebelem edukasi 58,375 dan setelah edukasi 66,75. Terdapat pengaruh edukasi terhadap pengetahuan peserta webiar (p value 0,023 Hasil edukasi ini dapat diharapkan dapat ditindak lanjuti oleh kader posyandu dan  petugas kesehatan untuk memantau pelaksanaan pencegahan stunting pada ibu hamil dan anak balita.
Exposure of Mental Health Nurses to Violence in Mental Hospital : a Systematic Review Iyus Yosep; Zabidah Putit; Helmy Hazmi; Henny Suzana Mediani
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 4 No. 3 (2016): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (673.348 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v4i3.292

Abstract

Shortage of nurses and declining interest in becoming a mental health nurse are often attributed to workplacedistress and violence. These have become global issues and believed that shortage of nurses decreases the qualityof health care services. It leads distress among nurses, which is exposure to violence and traumatic experiences.In addition, nurses are also accused of seizing the rights of patients and committing violence against a patient.This paper focuses on the violence that occurred in mental health nurses during working in unpredictablesituation. A literature search of systematic review through the CINAHL, Medline, Google scholars and PsycInfodatabases, the empirical report using a nursing sample includes data on rates of violence exposure includingviolence, aggressive behavior, bullying, and sexual harassment. The result, a total of 400 articles provide dataon 2742 publications indicates near all of nurses in mental health experienced verbal abuse in the past month,furthermore, most of respondents’ ever experienced psychological abuse, and less of respondents experiencedphysical violence and sexual harassment. Rates of exposure vary by world region (Developed countries, Asia,Europe and Middle East), with the highest rates for physical violence and sexual harassment in the USA,Australia, United Kingdom, New Zealand region, and the highest rates of psychological violence and bullyingin the Middle East. The presence of violence signals an "alarm" that violence against nurses calls for specialattention in many countries. Essentially, the world must give a "priority" to handling violence against nurses.
Factors Affecting Low Back Pain among ICU Nurses Dadang Rochman; Henny Suzana Mediani; Aan Nur’aeni
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 6 No. 3 (2018): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.233 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v6i3.395

Abstract

Low back pain is a pain syndrome that is often felt in the lower back region accompanied by spreading to the legs. It is often associated with work-related musculoskeletal disorders. This condition is often experienced by the Intensive Care Unit (ICU) nurses, from mild to severe LBP, which may affect the productivity of work and physic of the nurses. Aim to analyze and explore the factors that affected the number of low back pain incidents in ICU nurses in hospitals in the Banten Province. This study used the correlational analytic method with a crosssectional approach. The study sample was 82 ICU nurses, obtained by total sampling. Data collection used the LKQ questionnaire (Low back pain Knowledge Questions) and observation sheets. Data analysis used the Chisquare and multiple logistic regression analysis with a prediction model.   Knowledge factor p (0.001), height p (0.021), night shift frequency p (0.003), and weight with a p-value (0.021) had a significant relationship with low back pain, whereas the ICU space environment factor p (0.668), work period p (0.462), and age p (0.079) did not have a significant relationship with low back pain. From related factors, knowledge had the most significant relationship with low back pain incident (OR = 38.62). This study has significantly proven that knowledge, height, weight, and frequency of night shifts affected the low back pain in ICU nurses. The nurse’s knowledge factor is the most influential factor of low back pain incident in ICU nurses. Increasing the ICU nurse’s knowledge about body biomechanics by following training  and developing  standard operating procedures. It is suggested to reduce the amount of excessive night shift burden ICU nurses, select and setting criteria for nurses working in the ICU.
Pengaruh Swedish Massage Therapy terhadap Tingkat Kualitas Hidup Penderita Leukemia Usia Sekolah Dewi Umu Kulsum; Henny Suzana Mediani; Argi Virgona Bangun
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 5 No. 2 (2017): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1327.865 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v5i2.449

Abstract

Di Indonesia ALL menduduki peringkat tertinggi kanker pada anak yang menyebabkan kematian. Kemoterapi merupakan pengobatan kanker dengan jangka waktu yang lama dan paling sering dilakukan, dimana dapat menyebabkan efek samping yang mengganggu fungsi fisik dan fungsi psikososial. Fenomena di Rumah Cinta Anak Kanker Bandung pun menggambarkan dimana angka kejadian penderita leukemia pada anak cenderung meningkat dan berfokus pada conservative therapy. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh swedish massage therapy terhadap tingkat kualitas hidup penderita leukemia usia sekolah di Rumah Cinta Anak Kanker Bandung. Metode penelitian menggunakan quasi eksperimen dengan nonequivalent control group design with pretest and posttest. Sampel dalam penelitian ini adalah anak usia sekolah yang berjumlah 34 orang (masing–masing grup 17 orang) dengan menggunakan consecutive sampling. Instrumen penelitian menggunakan PedsQL general score dan cancer module yang berstandar internasional. Prosedur yang digunakan pada penelitian ini adalah tindakan swedish massage therapy yang dilakukan langsung oleh peneliti. Analisis data yang digunakan adalah paired t-test dan independent t-test.Hasil penelitian menggambarkan terdapat perbedaan kualitas hidup pada kelompok intervensi sebelum dan sesudah dilakukan swedish massage therapy (p = 0,000 pada α = 5). Hasil penelitian merekomendasikan bahwa swedish massage therapy bisa dipakai sebagai metode alternatif dalam meningkatkan kualitas hidup penderita leukemia usia sekolah.Kata kunci: Kualitas hidup, leukemia, swedish massage therapy.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Wound Dehiscence pada Pasien Post Laparatomi Tita Puspita Ningrum; Henny Suzana Mediani; Chandra Isabella H.P
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 5 No. 2 (2017): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1320.7 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v5i2.455

Abstract

Wound dehiscence sering terjadi setelah pembedahan mayor abdomen menimbulkan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Wound dehiscence dapat menimbulkan stress, eviserasi, reoperasi, gangguan citra tubuh, meningkatnya lama rawat dan biaya rawat, menurunkan kualitas hidup pasien serta kematian sehingga perlu menangani faktor yang mempengaruhi kejadian wound dehiscence. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian wound dehiscence pada pasien dewasa post laparatomi di RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung. Metode penelitian menggunakan analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan berjumlah 40 orang yang diambil dengan menggunakan consecutive sampling. Pengumpulan data dengan cara wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan kejadian wound dehiscence terjadi ketika perawatan di rumah (35%). Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara infeksi luka (p=0,0001), operasi emergensi (p = 0,020), hipoalbumin (p=0,037), anemia (p = 0,028), status nutrisi (0,010), dan adanya penyakit penyerta (p = 0,008) dengan kejadian wound dehiscence, serta tidak ada hubungan yang signifikan antara faktor usia (p = 0,581) dan jenis kelamin (p= 0,604) dengan kejadian wound dehiscence. Penting bagi perawat untuk mengidentifikasi potensial faktor risiko wound dehiscence pada pasien yang dilakukan operasi laparatomi dan segera melakukan intervensi yang diperlukan untuk mencegah terjadinya komplikasi wound dehiscence, diantaranya dengan melakukan discharge planning terkait perawatan luka dan pentingnya asupan protein yang adekuat supaya bisa dikenali ditahab mana terjadinya wound dehiscence.Kata kunci: Pasien, post laparatomi, wound dehiscence. Factors correlating of Wound Dehiscence in Patients after Laparatomi at Dr Hasan Sadikin General Hospital BandungAbsractWound dehiscence is often occurred after major abdominal surgery which impacts on morbidity and mortality rates and significantly contributes to prolonged hospital stays, implicit and explicit costs, associate with psychosocial stressor on patients, evisceration re-surgical operation, and may affect to quality of life patients. It is therefore necessary to identify factors affecting wound dehiscence. The aims of the study was to analyze factors correlating of post-operative wound dehiscence in adult patients at Dr Hasan Sadikin general hospital. Correlational analytic with cross sectional approach was used in this study. 40 patients were selected to be participated in this study by using consecutive sampling. Observations, interviews and study documents were conducted in data collection process. Univariate and Bivariate analysis with Chi Square were performed to analyze the data. Results of the study identified than wound dehiscence were occurred during patients at home (35%). Result of analysis bivariate showed that there was a significance correlation between wound infection (p=0, 0001), surgical emergency (p = 0,020), hypo albumin (p=0,037), anemia (p = 0,028), nutrition status (0,010), and other illness (p = 0,008) with wound dehiscence. Whereas, there was no correlation significantly between age factor (p = 0,581) and gender (p= 0,604) with wound dehiscence. It is important for nurses to identify potential risk factors of wound dehiscence in patients after post-operative laparotomy and prevent complication of wound dehiscence by doing discharge planning especially in term of wound care and the need of taking protein consumption adequately to avoid wound dehiscence.Key words: Adult patients, post-laparatomi, wound dehiscence.
Co-Authors Aan Nuraeni Aan Nur’aeni Abas, Latifa Hidayani Adila, Raisa Ahmad Yamin Ai Mardhiyah Ai Mardhiyah Ai Mardhiyah AI MARDHIYAH, AI Akbar, M. Agung Alifa Rufaida Anastasia Anna Anita Setyawati Anita Tiara Anjani Fikri Annita Olo Argi Virgona Bangun Audi Siti Sarah Avicena Farhan Ramadhan Azzahra Salsabila Bambang Aditya Nugraha Barkah Waladani Bhekti Imansari Cecep Eli Kosasih Cecep Eli Kosasih Cecep Eli Kosasih Cecep Eli Kosasih Cecep Eli Kosasih Cecep Eli Kosasih Cecep Eli Kosasih Chandra Isabella H.P Chatarina Surya Chatarina Suryaningsih Dadang Purnama Dadang Rochman DaiIa DahIia Rojabani Devita Madiuw Dewi Umu Kulsum Dheni Koerniawan Dwi Ningsih Handayani Setianing Budi Eka Puspita Ema Arum Rukmasari Emaliyawati, Etika - Ermiati Ermiati Etika Emaliyawati Evi Nurjanah Fanny Adistie Fanny Adistie Fauziah Rudhiati Fitria, Nita Fitria, Nita francisca sri susilaningsih Fristalia, Mikaela D. Furkon Nurhakim Furkon Nurhakim Furkon Nurhakim Gusgus Ghraha Ramdhanie Hafitriany, Syifa Aulia Hana Rizmadewi Agustina Helmy Hazmi Hendrawati Hendrawati Hidayat, Nenden Rostini Iceu Amira DA Ihsar, Aini Hayati Iin Inayah Iin Inayah Iin Inayah, Iin Ike Sintia Suci Ikeu Nurhidayah Ikeu Nurhidayah Ikeu Nurhidayah Ikeu Nurhidayah Ikeu Nurhidayah Ikeu Nurhidayah Indah Benita Tiwery Inni Zakiyah Iqra S Iwan Shalahuddin Iyus Yosep Juniarti, Neti Laili Rahayuwati Lesmana, Sena Lestari, Andini Tri Lilis Lusiani Lilis Mamuroh Linlin Lindayani Mamat Lukman Maria komariah Maya Atikasuri Mega Nurrahmatiani Meri Anggryni Mikaela D. Fristalia Millenika, Valencia Trie Muntiq Jannatunna’im Murtilita, Murtilita Murtiningsih Murtiningsih Nabilah, Nurul Azmi Nadia Amelia Rindiarti Nenden Nur Asriyani Maryam Nenden Nur Asriyani Maryam Nita Fitria Novi Novianti Novita Marcelina Kana Wadu Noviyanti Noviyanti Nunung Nurjanah Nunung Nurjanah Nurafni, Ratu Nuraziza Fatturahmi Firdianty Nurhakim, Furkon Nurul Taopik Maulud Olga Sandrela Mahendra Padila Padila Panduragan, Santhna Letchmi Pratiwi, Yayu Rai Nurussakinah Raisa Adila Ratnawati, Ai Siti Ratu Nurafni Riezky Fajri Septiani Rifda Nur Achriyana Arif Rifki Febriansyah Rindiarti, Nadia Amelia Riska Fauziah Nurmala Rizka Muliani Rusna Tahir Saifudin, I Made Moh. Yanuar Salsabila, Azzahra Santi MuIyani Selly Amalia Nurhasanah Sena Lesmana Setiawati Setiawati Shabarina, Adilla Sherly Manurung Sifa Nur Afriani Sifa Nuraini Sifva Fauziah Sinta Dwi Ananda Siti Fatimah Siti Yuyun Rahayu Siti Yuyun Rahayu Fitri Sonia Dwiastuti Pratiwi Sri Hendrawati Sri Hendrawati Sri Hendrawati Sri Hendrawati Sri Hendrawati Sri Hendrawati Sri Hendrawati Sri Hendrawati Sri Hendrawati Sri Purnama Alam Sri Wulandari Sri wulandari Sukmawati Sukmawati Sukmawati Sukmawati Sukmawati Sukmawati Sulastini, Sulastini Tahir, Rusna Tan, Julianus Yudhistira Tejaningsih, Oktaviani Tetti Solehati Tetti Solehati Tetti Solehati Tetti Solehati Theresia Eriyani Theresia Eriyani Tita Puspita Ningrum, Tita Puspita Titin Sutini, Titin Titis Kurniawan Togatorop, Via Eliadora Tuti Pahria Valencia Trie Millenika Vera Rosaria Indah Wahib Abdul Rahman Wahyu Ilahi Waladani, Barkah Windy Rakhmawati Windy Rakhmawati Wiwi Mardiah Wiwi Mardiah Wiwi Mardiah, Wiwi Yanti Hermayanti Yanti Hermayanti Yayat Suryati Zabidah Putit