Claim Missing Document
Check
Articles

Persamaan dan Perbedaan Aspirasi Pendidikan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah tentang Isu-Isu Strategis Pendidikan Fiqriani, Maula; Khairunnisa, Fadhilah Izzah; Sirozi, Muhammad
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 8, No 2 (2025): April
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v8i2.46188

Abstract

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama mempunyai peran penting dalam kehidupan politik serta proses demokratisasi pada era Reformasi di Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya kebijakan yang ditetapkan oleh kedua organisasi Kedua organisasi massa Islam terbesar di Indonesia ini tentu memiliki peran yang sangat penting dalam proses demokratisasi di negri ini. Terbukti, kebijakankebijakan yang dilaksanakan oleh kedua organisasi ini telah mampu mewarnai kehidupan politik di negeri ini. Selain itu, kedua organisasi ini juga telah membantu proses pendewasaan para anggotanya untuk berdemokrasi. Pemikiran pendidikan Islam sebuah proses mengembangkan dan mendidik emosi serta perilaku sikap dengan ajaran agama Islam menjadi pribadi dengan karakter yang sesuiai dengan nilai keislaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan peninjauan literatur (Literatur review). Literatur review berfokus pada artikel original yang di dalamnya terdapat abstrak, pendahuluan, metode dan hasil. Literatur review termasuk dalam jenis penelitian kualitatif, sehingga pengelolahan data menggunakan pengelolahan data kualitatif. penelitiannya berfokus pada kepentingan. Isu-Isu Konterversial terkait Pendidikan Nasional. pendidikan Islam merupakan sebagai sebuah pondasi atau dasar pokok dari berjalannya pendidikan, sebab ajaran-ajaran pendidikan Islam memiliki sifat universal menyimpan ketentuan-ketentuan yang mangatur semua point kehidupan manusia mulai dari hubungan manusia dengan tuhannya hingga hubungan manusia dengan sesama. Dan pendidikan itu sendiri merupakan sebagai sebuah usaha terencana dan sadar dalam mewujudkan proses serta suasana dalam belajar mengajar agar peserta didik dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya secara aktif dalam aspek spiritual, kepribadian, kecerdasan, pengendalian diri, akhlaq mulia serta ketrampilan. Pendidikan juga merupakan sebuah upaya dalam proses mengembangkan potensi manusia. Pendidikan Islam pada dasarnya memiliki tujuan untuk mencetak pemimpin yang memiliki amar maruf nahi mungkar.
Prinsip-Prinsip Perencanaan Pengembangan Mutu Guru Pendidikan Agama Islam Sirozi, Muhammad; Lestari, Elsya Anugrah
Journal of Law, Administration, and Social Science Vol 4 No 5 (2024)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/jolas.v4i5.920

Abstract

Penelitian ini berjudul "Prinsip-prinsip Perencanaan Pengembangan Mutu Guru Pendidikan Agama Islam (PAI)". Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research). Kajian pustaka digunakan sebagai panduan untuk menggali masalah penelitian, sedangkan desain penelitian berfungsi sebagai panduan dalam mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Proses penelitian dimulai dengan mengidentifikasi masalah yang akan diteliti, kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan referensi pustaka, penyaringan literatur, dan tabulasi data yang dianalisis untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan kebutuhan penelitian. Berdasarkan hasil dan pembahasan, ditemukan bahwa pengembangan mutu guru PAI di sekolah dapat ditingkatkan melalui beberapa prinsip perencanaan. Pertama, menganalisis kebutuhan terhadap guru PAI untuk memastikan mereka memiliki kompetensi yang sesuai. Kedua, mengembangkan profesionalisme guru secara berkelanjutan dengan pendekatan kolaboratif, memfasilitasi berbagi pengalaman dalam proses pembelajaran PAI. Ketiga, integrasi teknologi yang efektif bagi guru PAI, mengingat teknologi merupakan aspek integral dalam pembelajaran modern. Fokus juga diberikan pada peningkatan kompetensi guru PAI sebagai upaya penting dalam pengembangan mutu. Selain itu, pelaksanaan evaluasi dan refleksi secara berkelanjutan juga diperlukan untuk memastikan perbaikan terus-menerus.
Problematika Penyusunan Dan Penerapan Perencanaan Strategis Di SMA N 1 Rambutan-Banyuasin Firzal, Juanda; Sirozi, Muhammad
Journal of Law, Administration, and Social Science Vol 4 No 5 (2024)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/jolas.v4i5.936

Abstract

Penelitian ini berjudul problematika penyusunan dan penerapan perencanaan strategis di SMA N 1 Rambutan Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Jenis penelitian yakni kualitatif, dengan pendekatan deskripstif. Metode pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data melalui pengumpulan data, penyajian dara dan verifikasi serta penarikan Kesimpulan. Berdasarkan hasil dan pembahasan bahwa sekolah dalam menyusun dan penerapkan perencanaan strategis di sekolah meliputi beberapa tahap penting. Tahap pertama adalah Analisis, yang mencakup analisis lingkungan internal dan eksternal menggunakan analisis SWOT dengan melibatkan para pemangku kepentingan. Pada tahap ini, dilakukan kajian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi mutu sekolah, pengumpulan informasi tentang kondisi sekolah saat ini dan masa depan, serta evaluasi hasil pelaksanaan program-program pada periode sebelumnya. Selanjutnya adalah Tahap Perumusan Strategi, yang dilakukan oleh tim dengan menyesuaikan kondisi sekolah dan mempertimbangkan harapan dari para pemangku kepentingan. Strategi implementasi perencanaan strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan di SMAN 1 Rambutan melibatkan pemangku kepentingan dengan memberikan wewenang kepada staf-staf, mengumumkan program-program di awal tahun, mengadakan rapat koordinasi bulanan, memberikan tugas sesuai bidang masing-masing, dan memaksimalkan sumber daya yang ada dengan menganggarkan biaya untuk pelaksanaan program serta memberikan pelatihan. Evaluasi dan Implikasi dari implementasi perencanaan strategis terhadap mutu pendidikan di SMAN 1 Rambutan melibatkan evaluasi internal dan eksternal terhadap seluruh program yang telah dan belum terlaksana, evaluasi terhadap lulusan setiap tahun, penilaian profesionalisme guru, evaluasi prestasi yang dicapai, serta monitoring yang dilakukan oleh pengawas pendidikan dari Kementerian Agama dan akreditasi dari BAN SM. Dampak dari implementasi ini adalah peningkatan mutu pendidikan yang ditunjukkan oleh beberapa indikator: peningkatan efektivitas proses KBM, peningkatan prestasi yang diraih, peningkatan jumlah peserta didik, peningkatan persentase lulusan, dan terpenuhinya sarana penunjang proses pembelajaran sesuai dengan SNP.
STEAM and Islamic Education Integration in Madrasah: Cultivating Muslim Scientists from Early Education Ihwanah, Al; Sirozi, Muhammad
Jurnal Cendekia Media Komunikasi Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Islam Vol. 17 No. 02 (2025): Cendekia October 2025
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Billfath

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37850/cendekia.v17i02.1026

Abstract

This article aims to examine the integration of STEAM education (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) with Islamic values at MI Al-Khoiriyah as an effort to foster scientific literacy among Muslim elementary students. A qualitative case study approach was employed, with data collected through classroom observations, in-depth interviews with teachers, and analysis of instructional documents. The findings reveal that project-based learning grounded in Islamic principles effectively enhances student engagement, strengthens understanding of scientific concepts, and promotes the development of critical and collaborative thinking skills. Integrating Islamic values into the learning process enables students to perceive science not merely as knowledge, but also as a means of strengthening faith and character. However, major challenges include the absence of a systematic, integrative curriculum and the limited capacity of teachers to implement interdisciplinary approaches. Therefore, this study recommends strong institutional support, continuous professional development programs for teachers, and developing a national curriculum that formally integrates STEAM with Islamic education. This integrative model is considered a strategic approach to shaping a generation of Muslim scientists who are intellectually competent and spiritually grounded from an early stage of education.
The Role of Emotional Intelligence (Emotional Quotient/EQ) in Shaping Students’ Personality From the Perspective of Educational Psychology Kalsum, Umi; Sirozi, Muhammad
Journal of Educational Sciences Vol. 9 No. 6 (2025): Journal of Educational Sciences
Publisher : FKIP - Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jes.9.6.p.5732-5742

Abstract

This study aims to analyse the role of emotional intelligence (EQ) in shaping students’ personalities through a literature review approach. Emotional intelligence refers to the ability to recognise, understand, manage, and direct emotions effectively, both in oneself and in others. This competence has significant implications for the development of students’ character and social adjustment. Using a qualitative literature study method, this research examines relevant theories and findings from previous studies on emotional intelligence and personality formation. It integrates the perspectives of Salovey and Mayer, Daniel Goleman, Reuven Bar-On, Howard Gardner, Sigmund Freud, Gordon Allport, Carl Rogers, and Erik Erikson. The analysis reveals that emotional intelligence significantly contributes to the development of a stable, adaptive, and positive personality. Core dimensions influencing this process include self-awareness, self-regulation, empathy, motivation, and social skills. Personality theories by Freud, Allport, Rogers, and Erikson support the notion that emotional regulation is essential for identity formation, integrity, and healthy social relations. Therefore, this study highlights the importance of educational strategies that integrate intellectual and emotional growth within family and school environments to foster balanced, resilient, and morally grounded student personalities.
The Theory of Multiple Intelligences and Its Implications for Islamic Religious Education Learning Aziza, Nur; Sirozi, Muhammad
Journal of Educational Sciences Vol. 9 No. 6 (2025): Journal of Educational Sciences
Publisher : FKIP - Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jes.9.6.p.5743-5751

Abstract

This study examines the application of Howard Gardner's Multiple Intelligences (MI) theory to Islamic Religious Education (PAI) learning in Indonesia. MI theory asserts that intelligence consists of various types, such as linguistic, logical-mathematical, visual-spatial, musical, kinesthetic, interpersonal, intrapersonal, and naturalistic. The research method used was a qualitative literature study approach, analyzing literature related to the integration of MI in Islamic Religious Education (PAI) learning to develop students' holistic potential. The results show that the application of MI enables teachers to design more varied, interactive, and student-centered learning, tailored to individual learning styles. However, obstacles remain, such as limited teacher understanding and pedagogical skills and an education system that emphasizes cognitive outcomes over affective and psychomotor aspects. Therefore, continuous teacher professional development, the provision of creative learning tools, and a more comprehensive assessment system are needed. Overall, the application of MI theory in PAI contributes significantly to increased learning motivation, character development, and spiritual awareness among students, making religious education more meaningful, enjoyable, and contextualized in everyday life.
Critical Philosophy of Education: An Analysis of Paulo Freire's Thoughts on Modern Educational Practices Saifullah, Muhammad Irsyad; Mahadi, Rahmad; Sirozi, Muhammad
Journal of Educational Sciences Vol. 9 No. 6 (2025): Journal of Educational Sciences
Publisher : FKIP - Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jes.9.6.p.5972-5981

Abstract

This study analyzes Paulo Freire’s philosophy of critical education and its relevance to modern educational practices, especially within the Indonesian context, by integrating it with Syed Muhammad Naquib al-Attas’s concept of ta’dīb. The background of this research is the dominance of traditional and neoliberal educational systems that often marginalize critical awareness, ethics, and spirituality in learning. The purpose of this research is to reinterpret Freire’s pedagogical framework to construct a more humanistic, dialogical, and spiritually grounded educational paradigm. Using a qualitative library research method, this study collects and analyzes primary sources from Freire’s works (Pedagogy of the Oppressed, Education for Critical Consciousness) and secondary literature from 2019–2025. The findings reveal that Freire’s key ideas, conscientização (critical consciousness), dialogue, and praxis, remain highly relevant in transforming education into a process of humanization and liberation. However, structural rigidity, exam-oriented curricula, and digital inequality still hinder its practical implementation. The synthesis of Freire’s praxis and al-Attas’s ta’dīb concept offers a holistic vision: education as both liberation from social oppression and purification of the self. The study concludes that integrating ethical and spiritual dimensions into critical pedagogy can reorient education toward forming reflective, responsible, and spiritually aware individuals, making it a transformative force for both personal and societal change.
The Effect of Structured Music Activities on Executive Function in Kindergarten Children: A Quasi-Experimental Study Oskar, Ruani; Chan, Rahul; Sirozi, Muhammad
Journal of Social Work and Science Education Vol. 7 No. 1 (2026): Journal of Social Work and Science Education
Publisher : Yayasan Sembilan Pemuda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52690/jswse.v7i1.1387

Abstract

This study aims to analyze the effect of structured music activities on the development of executive function in kindergarten-aged children at Bina Insan Islamic School Kindergarten. The study used a quasi experimental design with an experimental group and a control group. The subjects were kindergarten children in Group B. The experimental group participated in structured music activities that included singing, rhythm, and guided music games for eight weeks, while the control group participated in regular learning activities. Measurements of executive function included inhibitory control, working memory, and cognitive flexibility through standardized observations and teacher assessment sheets. Data were analyzed using comparative statistical tests. The results showed a significant increase in executive function in children in the experimental group compared to the control group, especially in aspects of self-control and the ability to follow rules. Structured music activities can be integrated as an effective learning strategy in early childhood education. This study highlights structured music as an Islamic school-based educational intervention. This research enriches early childhood education studies related to the development of executive function through a musical approach.
Analisis Masa Keemasan dan Implikasinya terhadap Pendidikan Anak Usia Dini Sania, Fitri; Sirozi, Muhammad
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 9 No. 6 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v9i6.7533

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis teori The Golden Age dalam perkembangan anak usia dini, mencakup pengertian, konsep dasar, relevansinya terhadap pembelajaran, serta urgensi implementasinya dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan penelusuran sistematis terhadap empat basis data (Google Scholar, DOAJ, ERIC, dan Scopus) dengan tanggal pencarian terakhir 20 November 2025. Dari 126 rekaman awal, 54 artikel disaring melalui pemeriksaan judul abstrak, dan 15 studi memenuhi kriteria inklusi sebagai dasar sintesis tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar literatur neurosains dan pendidikan menegaskan masa The Golden Age sebagai periode sensitif perkembangan anak yang ditandai oleh tingginya plastisitas otak, sehingga stimulasi kognitif, sosial-emosional, moral, dan spiritual perlu diberikan secara konsisten melalui aktivitas bermain yang terarah dan pembiasaan nilai karakter. Relevansinya tercermin dalam kurikulum PAUD yang menekankan pendekatan holistik dan kontekstual, sementara urgensinya terlihat pada kuatnya konsensus penelitian bahwa kualitas stimulasi awal berkorelasi dengan kesiapan belajar jangka panjang. Implikasi praktis bagi pendidik dan orang tua meliputi penyediaan aktivitas bermain terstruktur untuk mengembangkan bahasa, regulasi emosi, interaksi sosial, serta pembiasaan nilai moral-spiritual dalam rutinitas harian, dengan keterlibatan aktif keluarga sebagai lingkungan stimulasi utama.
Reconstruction of John B. Watson's Behaviorism Principle in Indonesia's Education System in The Digital Age Zahra, Latiafatuz; Asiana, Asiana; Sirozi, Muhammad
Journal of Educational Sciences Vol. 10 No. 1 (2026): Journal of Educational Sciences
Publisher : FKIP - Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/jes.10.1.p.1485-1495

Abstract

This research reconstructs the core principles of John B. Watson’s behaviorism in the context of Indonesia’s educational system during the digital age. Modern education necessitates adaptability to technological advancements, prompting a reevaluation of traditional learning theories. The objective of this study is to investigate the relevance of Watson’s psychological behaviorism in relation to contemporary digital learning and to assess its implementation in current teaching methodologies. Employing a qualitative library research approach, the study references a diverse range of literature, including books, journals, and research papers pertinent to behaviorism and educational technology. The results indicate that behaviorism, which focuses on stimulus–response interactions and reinforcement, continues to be effective for structured and quantifiable learning processes, thereby facilitating adaptive digital instruction. Nevertheless, it also uncovers certain limitations, such as a decrease in student creativity and an overreliance on external motivation. The study concludes that while behaviorism provides systematic and observable learning advantages, it should be combined with constructivist and humanistic theories to more effectively address emotional and cognitive aspects, ultimately improving learning outcomes within Indonesia’s digital education framework.