Claim Missing Document
Check
Articles

Kelas Sosial dalam Serial Drama Squid Game (Studi Semiotika Roland Barthes dari Perspektif Karl Marx) Phillip, Olivia Yuriko; Sari, Wulan Purnama
Koneksi Vol. 7 No. 2 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i2.21484

Abstract

A film is a complex piece of mass media. Movies consist of audio and video that can affect the audience's emotions. There are various categories in film, one of which is drama series. This study uses Karl Marx's theory to describe and analyze the social class in the drama series 'Squid Game.' The research method used is semiotics, according to Roland Barthes. Karl Marx defines the concept of social class based on the integration of economic relations, occupation, and education. Based on the results of Roland Barthes' semiotic analysis that has been carried out in the drama series 'Squid Game,' it can be seen that there is a description of social class like Karl Marx's theory. Scenes and symbols in the drama series show a picture of social class based on the integration of economic relations where people with lower social status will be treated arbitrarily by those with higher social status. Film terdiri dari audio dan video yang dapat mempengaruhi emosi penonton. Ada berbagai macam kategori dalam film, salah satunya yaitu serial drama. Penelitian ini ingin memberikan gambaran dan menganalisis kelas sosial yang ada dalam serial drama ‘Squid Game’ dengan menggunakan teori milik Karl Marx. Metode penelitian yang digunakan adalah semiotik menurut Roland Barthes. Karl Marx mengartikan konsep kelas sosial didasarkan pada integrasi hubungan ekonomi, pekerjaan, dan pendidikan. Berdasarkan hasil analisis semiotika Roland Barthes yang telah dilakukan dalam serial drama ‘Squid Game’, dapat diketahui bahwa terdapat gambaran mengenai kelas sosial seperti teori Karl Marx. Adegan dan symbol dalam serial drama menunjukkan gambaran kelas sosial yang didasarkan pada integrasi hubungan ekonomi di mana orang-orang yang memiliki status sosial yang lebih rendah akan diperlakukan secara semena-mena oleh mereka yang memiliki status sosial lebih tinggi.
Strategi Komunikasi Caster dalam Era Digital di Dunia Esports Tuwendi, William Alexander; Sari, Wulan Purnama; Salman, Doddy
Koneksi Vol. 7 No. 1 (2023): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v7i1.21519

Abstract

Electronic sports or esports, especially in Indonesia, have been recognized as one of the national sports branches and are included in Law No. 3/2005 concerning the National Sports System. With the increase in esports in Indonesia, more and more people are aiming for jobs in the world of esports, not only as pro players, but one of them is as a shoutcaster. Shoutcaster or better known as caster, has an important role, namely the duty to comment on and describe every situation in the match. Even though many already know what a caster does, there are still many people who don't know about caster's communication strategy. The purpose of this research is to find out caster's communication strategy in the world of esports. Researchers use communication theory, communication strategy, esports, and commentators. This study used qualitative research methods. The result of this research is that caster conveys messages according to the execution and the form of the contents using redundancy methods and informative methods. caster uses the media as an intermediary to communicate with the audience online. Barriers experienced by caster, such as physical barriers, semantic and psycho-social barriers still occur frequently. Electronic sports atau esports khususnya di Indonesia sudah diakui sebagai salah satu cabang olahraga nasional dan masuk dalam Undang- Undang No.3/2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. Dengan Meningkatnya esports di Indonesia semakin banyak orang yang mengincar pekerjaan didalam dunia esports bukan hanya sebagai pro player melainkan salah satunya adalah sebagai shoutcaster. Shoutcaster atau yang lebih dikenal dengan caster, memiliki peranan penting yaitu bertugas untuk mengomentari dan menggambarkan setiap situasi dalam pertandingan. Meskipun sudah banyak yang sudah mengetahui apa saja yang dilakukan oleh seorang caster, namun masih banyak orang yang belum mengetahui bagaimana strategi komunikasi caster. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui strategi komunikasi caster dalam dunia esports. Peneliti menggunakan teori komunikasi, strategi komunikasi, esports, dan komentator. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian ini adalah caster menyampaikan pesan menurut pelaksanaan dan bentuk isinya menggunakan metode redundancy dan metode informatif. Caster menggunakan media sebagai perantara untuk berkomunikasi dengan penonton secara online. Adanya hambatan yang dialami oleh caster, seperti hambatan secara fisik, hambatan semantic dan psiko-sosial pun masih sering terjadi.
Persepsi Generasi Z dengan Pernyataan “Kerja Sesuai Passion” dalam Menentukan Profesi Octavia, Shinta; Sari, Wulan Purnama
Koneksi Vol. 8 No. 1 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i1.21659

Abstract

This research was conducted because researchers wanted to see Generation Z's (Gen Z) perceptions of the statement "Work According to Passion" which is widely discussed on social media. Reporting from katadata.id, Gen Z is the largest internet user in Indonesia, with almost 40 million people. Social media can be accessed by various groups of people, one of them is teenagers or Gen Z. With social media, information can develop rapidly, so that it can create different perceptions for everyone. The purpose of conducting this research is to find out Gen Z's perception of the statement "Work According to Passion" and as a reference when Gen Z chooses a profession. This research approach is quantitative with descriptive statistical data processing techniques to find the average value of Gen Z perceptions. The sampling technique used is simple random sampling (SRS) with a total of 130 respondents. The results of this study show that the highest average result is in the statement "I want a job that matches my passion," and the lowest average result is the statement "Work According to Passion," which is a pressure for me. It can be concluded that the results of Gen Z perceptions show that the majority of Gen Z want to be able to work according to their passion. Ramai diberitakan di media sosial terhadap pernyataan “Kerja Sesuai Passion” terutama di kalangan generasi Z. Dilansir dari katadata.id, Gen Z merupakan pengguna internet terbanyak di Indonesia yaitu hampir 40 juta jiwa. Media sosial dapat diakses oleh beragam kalangan masyarakat, salah satunya remaja atau Gen Z. Dengan adanya media sosial, informasi dapat berkembang dengan pesat, sehingga hal tersebut dapat menciptakan persepsi yang berbeda di setiap orang. Adapun tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi Gen Z terhadap pernyataan “Kerja Sesuai Passion” serta sebagai acuan ketika Gen Z menentukan profesi. Pendekatan penelitian ini adalah kuantitatif dengan teknik pengolahan data statistik deskriptif untuk mencari nilai rata-rata dari persepsi Gen Z. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling (SRS) dengan jumlah sebanyak 130 responden. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa hasil hitung rata-rata tertinggi yaitu ada pada pernyataan “Saya menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan passion saya” dan hasil hitung rata-rata terendah dengan pernyataan ‘Kerja Sesuai Passion’ merupakan tekanan bagi saya”. Dapat disimpulkan bahwa hasil persepsi Gen Z menunjukkan bahwa mayoritas Gen Z menginginkan untuk dapat bekerja sesuai dengan passion.
Analisis Semiotik Kesadaran Palsu dalam Media Baru (Augmented Reality) dalam Film Ketika Berhenti di Sini Santoso, Maria Regina Yanuarika Putri; Sari, Wulan Purnama
Koneksi Vol. 8 No. 1 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i1.27636

Abstract

The film When Stop Here combines the romance genre with a sci-fi theme which highlights innovative technological advances in creating new media based on virtual reality, Augmented Reality. This technological reality projection can trigger individuals to experience disorientation and change their beliefs about the reality they see, this is what is called false consciousness. The aim of this research is to show a picture of false consciousness in new media (Augmented Reality) contained in the film Kapan Stop Here using Charles Sander Pierce's semiotic method. The concept of depicting false consciousness is characterized by changes brought about by individuals through gestures and speech which are associated with hegemony, which is the dominance of one group over another group. The results of the analysis of this film show that there is a picture of false consciousness in new media (Augmented Reality) experienced by the character Dita which is caused by disorientation from the Augmented Reality projection which causes dependency, thereby triggering changes in attitudes and behavior that disrupt her relationships with the people around her. Film Ketika Berhenti di Sini menggabungkan genre romansa dengan tema sci-fi yang menonjolkan inovasi kemajuan teknologi dalam menciptakan media baru berbasis realitas virtual Augmented Reality. Projeksi realitas teknologi tersebut dapat memicu individu untuk mengalami disorientasi dan merubah keyakinan individu terhadap realitas yang dilihatnya, hal inilah yang disebut dengan kesadaran palsu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan gambaran kesadaran palsu dalam media baru (Augmented Reality) yang terkandung dalam film Ketika Berhenti Di Sini dengan menggunakan metode semiotik Charles Sander Pierce. Konsep penggambaran kesadaran palsu ditandai oleh perubahan yang ditimbulkan oleh individu lewat gestur maupun tutur kata yang dikaitkan dengan hegemoni yang merupakan dominasi satu kelompok terhadap kelompok lainnya. Hasil analisis dari film ini menunjukkan adanya gambaran kesadaran palsu dalam media baru (Augmented Reality) yang dialami oleh tokoh Dita yang disebabkan oleh disorientasi realitas dari projeksi Augmented Reality yang menyebabkan ketergantungan sehingga memicu perubahan sikap dan perilaku yang mengganggu relasinya dengan orang-orang di sekitarnya. 
Komunikasi Intrapersonal dan Gambaran Diri Remaja (Studi pada Remaja yang Memiliki Adiksi Game Dota 2) Rosario, Fernando; Sari, Wulan Purnama
Koneksi Vol. 8 No. 2 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i2.27648

Abstract

In this modern era, technology has developed greatly, one of which is the use of the internet. The internet itself is not only used to communicate but can also be used to play online games. DOTA 2 is a Multiplayer online battle arena type game, DOTA 2 is very popular with teenagers. The aim of this research is to identify what is gained from the positive and negative sides due to addiction to the DOTA 2 game. In this research the researcher used quantitative methods with a descriptive approach. The data collection technique in this research used a purposive sampling technique. The results of this research are the self-image of teenagers who are addicted to DOTA 2, that is, the self-image of teenagers tends to be negative, because as a result of being addicted to DOTA 2, teenagers do not implement a good learning system, which affects their education, teenagers also create bad habits such as wasting money. Use money to buy items in the game. But teenagers also get several positive things such as being able to get to know other cultures, knowing the strengths and weaknesses of teenagers and expanding their friendships. Di era serba teknologi ini banyaknya inovasi berkembang, salah satunya adalah penggunaan Internet. Internet sendiri bukan hanya sebagai alat berkomunikasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk bermain permainan daring. DOTA 2 merupakan permainan yang berjenis multiplayer online battle arena, DOTA 2 sangat digemari oleh para remaja. Penelitian bertujuan mengindentifikasi sisi positif dan negatif akibat kecanduan game DOTA 2. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Hasil dari penelitian ini adalah gambaran diri remaja yang memiliki kecanduan DOTA 2 yaitu cenderung ke arah negatif, karena akibat kecanduan DOTA 2 para remaja tidak menerapkan sistem belajar yang baik sehingga memengaruhi pendidikan remaja. Para remaja juga menciptakan kebiasaan yang buruk seperti pemborosan uang untuk membeli barang di dalam game tersebut. Tetapi para remaja juga mendapatkan beberapa hal positif seperti dapat mengenal budaya lain, mengetahui kelebihan dan kekurangan para remaja dan memperluas pertemanan.
Pemanfaatan Musik Modern dengan Mempertahankan Budaya Lokal (Studi Kasus @Kojekrapbetawi) Risky, Qonitha; Sari, Wulan Purnama
Koneksi Vol. 8 No. 2 (2024): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v8i2.27731

Abstract

This research will explore how musicians' strategies to maintain local culture in the era of globalization have the potential to shift local values and culture. Researchers took a case study on Kojek Rap Betawi, a combination of local Betawi culture musicians and outside culture, namely rap music. This research uses a qualitative approach with data collection techniques in the form of interviews, observation, and documentation. Researchers used intercultural communication theory. This research concludes that the strategy carried out by Kojek Rap Betawi is a strategy to develop accessibility for all people who want to know Betawi culture through rap music, a trendy music genre. Brilliant ideas are also found in the musicians themselves, namely how Kojek Rap Betawi can spread their work nationally and internationally through digital music platforms.   Penelitian ini akan mengupas bagaimana strategi musisi untuk mempertahankan budaya lokal di era globalisasi yang berpotensi mengeser nilai dan budaya lokal. Peneliti mengambil studi kasus pada Kojek Rap Betawi yang merupakan perpaduan musisi budaya lokal Betawi dan budaya luar yaitu musik rap. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Peneliti menggunakan teori komunikasi antar budaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi yang dilakukan oleh Kojek Rap Betawi merupakan strategi dengan mengembangkan aksesibilitas seluruh kalangan yang ingin mengenal budaya Betawi melalui musik rap, aliran musik yang sedang trend. Gagasan brilian juga didapatkan dalam pribadi musisi itu sendiri yaitu bagaimana Kojek Rap Betawi dapat menyebar luaskan karyanya melalui platfom musik digital baik nasional maupun internasional.
Intercultural Communication to Preserve Harmony Between Religious Group in Jaton Village Minahasa (Komunikasi Lintas Budaya dalam Menjaga Kerukunan antara Umat Beragama di Kampung Jaton Minahasa) Paramita, Sinta; Sari, Wulan Purnama
Jurnal Pekommas Vol 1 No 2 (2016): October 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30818/jpkm.2016.2010205

Abstract

Indonesia is a multicultural country. This condition makes Indonesia become highly vulnerable to conflicts between ethnic or inter-religious. To avoid conflicts, as a country Indonesia required tolerance to maintain inter-religious harmony in Indonesia. Minahasa, especially Jaton Village is one of the areasin Indonesia, which can maintain its sense of tolerance and harmony. Jaton village is a village full of history and the majority of its citizens are Muslims, but the villagers were able to mingle and interact with the Christian’s citizens. The theories used in this research are the concept of intercultural communication and intercultural conflict by Samovar et all and Littlejohn & Domenici. This research is also used the concept of social interaction by Gillinand Gillin. This research was conducted using qualitative case study methods, with the aim to find out the intercultural communication between the residents in Jaton village, and as the result the harmony can be maintained. Based on this research, researcher find that acculturation is happens between Muslims citizens and Christian citizens as majority. This acculturation indicates that the interaction formed between the two religious groups is an associative interaction patterns, so there is no conflict as it is in other areas.Indonesia merupakan negara yang multikultural. Hal ini menjadikan Indonesia sangat rentan terkena konflik antaretnis atau antaragama. Untuk menghindari konflik tersebut diperlukan toleransi untuk menjaga kerukunan antara umat beragama. Salah satu daerah yang dapat memelihara toleransi dan kerukunan tersebut adalah Minahasa atau lebih tepatnya di Kampung Jaton yang merupakan kampung yang penuh sejarah dan mayoritas warganya beragama Islam, tetapi penduduk desa tersebut mampu berbaur dan berinteraksi dengan baik pada warga Minahasa lainnya yang beragama Kristen. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep komunikasi lintas budaya dan konflik antar budaya oleh Samovar dan Littlejohn & Domenici. Kemudian juga digunakan konsep interaksi sosial dari Gillin dan Gillin. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif studi kasus, dan dengan tujuan untuk mencari komunikasi lintas budaya seperti apa yang terjadi antara penduduk di Kampung Jaton dengan warga mayoritas yang berbeda agama sehingga kerukunan dapat terus terjaga. Berdasarkan penelitian ini didapatkan hasil bahwa terjadi akulturasi antara warga yang beragama Islam dengan yang beragama Kristen. Akulturasi ini menandakan bahwa interaksi yang terbentuk antara kedua kelompok agama merupakan pola interaksi asosiatif, sehingga tidak terjadi konflik seperti yang terdapat pada daerah lain.
Penyingkapan Diri Ibas Yudhoyono Dalam Instagram Dan Reaksi Ani Yudhoyono Terhadap Postingan Instagram Ibas Suzy Azeharie; Wulan Purnama Sari
Jurnal Komunikasi Vol. 7 No. 1 (2015): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v7i1.11

Abstract

AbstrackEdy Baskoro Yudhoyono’s or well known as Ibas is the youngest son of the former President SBY and currently active as a politician for Democratic Party and member of Parliament. Thus it is important for Ibas as a political actor to do self-disclosure and convey political messages through his social media accounts. The main object of this paper is Ibas’s post in his Instagram account as a media for unveiling himself. This paper will also discuss about Mrs. Ani Yudhoyono or Ibas’s mother, the former first lady, in given response and reaction on the Ibas’s post. Methodology used for data collection in this paper is content analysis. The results of the content analysis show that Ibas was frequently post pictures of his family than his political activities. Moreover Ibas himself never respond to all incoming comments from his followers. Eventhough it was positive comments. Surprisingly, reaction and response was given by Mrs. Ani Yudhoyono. In many of Ibas’s post, Mrs. Ani Yudhoyono was sharp and yet keen on responding to the comments coming from Ibas’s followers. Mrs. Ani Yudhoyono response was often received disapproval and negative comments from other followers, because to their concern Mrs. Ani Yudhoyono was not using the right grammar of English and this eventually led to a hot debate between fellow follower's comments. The final conclusion that can be obtained is Ibas did not make his Instagram account as a media unveiling herself but only using his account as a medium for sharing photos. Which appear to be more active in doing communication and self-disclosure is Mrs. Ani Yudhoyono herself.AbstrakEdy Baskoro Yudhoyono atau lebih dikenal dengan nama Ibas merupakan putra bungsu dari mantan presiden SBY dan saat ini aktif sebagai politikus Partai Demokrat dan juga anggota DPR RI. fokus utama dalam penelitian ini adalah postingan Ibas dalam akun instagramnya yang merupakan sarana untuk penyingkapan dirinya, serta bagaimana reaksi Ibu Ani Yudhoyono mengenai postingan-postingan Ibas tersebut. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi. Berdasarkan hasil analisis isi yang dilakukan diperoleh hasil bahwa Ibas lebih sering melakukan posting tentang keluarganya daripada mengenai kegiatan politiknya. Selain itu Ibas tidak pernah sekalipun merespon semua komentar yang masuk dari para follower-nya, baik itu komentar baik ataupun mencela. Respon aktif justru diberikan oleh Ibu Ani. Ibu Ani memberikan komentar dalam bahasa inggris untuk merespon komentar-komentar yang masuk kedalam postingan Ibas. Respon Ibu Ani ini seringkali mendapat celaan dari para follower lainnya, karena dianggap tidak sesuai dengan tata bahasa inggris dan pada akhirnya berujung pada perang komentar antar sesama follower. Kesimpulan akhir yang dapat diperoleh adalah Ibas tidak menjadikan akun instagram sebagai media penyingkapan dirinya, instragram hanya digunakan Ibas sebagai media untuk berbagi foto, dan yang tampak aktif melakukan komunikasi dan penyingkapan diri adalah Ibu Ani. 
Konflik Budaya Dalam Konstruksi Kecantikan Wanita Indonesia (Analisis Semiotika Dan Marxist Iklan Pond’s White Beauty Versi Gita Gutawa) Wulan Purnama Sari
Jurnal Komunikasi Vol. 7 No. 2 (2015): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v7i2.18

Abstract

AbstractThis study will explore the cultural conflict that is displayed in the advertisements Pond's White Beauty Gita version Velasquez with pretty white theme flushed like korea. Where this ad makes the construction of beauty in women Indonesia becomes opaque, just for the sake of following the trend that there are women in Indonesia made into a false consciousness of the concept of beauty. This research was conducted by using the method of semiotic analysis and Marxist analysis. The conclusion that can be derived from these studies is advertising Pond's creates a cultural conflict in terms of the meaning of beauty for women in Indonesia. Semiotic analysis shows that advertising Pond's White Beauty featuring stereotypes about the picture of beauty for women in Indonesia. Beautiful woman is a white female Korean people while for the people of Indonesia who have different genetic, it is becoming a benchmark that can not be equated. Pond's ad showing false consciousness, in which Indonesian women can have white skin like Korea only by using Pond's products. Based on Marxist analysis can be seen that ad Pond's is made for the benefit of the capitalists, which in this case is the product manufacturer Unilever. Unilever as capitalist menghegomoni Indonesian women to buy Pond's beauty products using advertising media to create false consciousness in the minds of Indonesian women about the picture of beauty.AbstrakPenelitian ini akan menggali konflik budaya yang ditampilkan dalam iklan Pond’s White Beauty versi Gita Gutawa dengan tema cantik putih merona seperti korea. Dimana iklan ini menjadikan konstruksi kecantikan pada wanita Indonesia menjadi buram, hanya demi mengikuti trend yang ada wanita di Indonesia dibuat menjadi memiliki kesadaran palsu akan konsep kecantikan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis semiotik dan juga analisis Marxist.  Kesimpulan yang dapat diperoleh dari studi ini adalah iklan Pond’s menciptakan konflik budaya dalam hal makna kecantikan bagi perempuan Indonesia. Analisis semiotik menunjukkan bahwa iklan Pond’s White Beauty menampilkan stereotip mengenai gambaran kecantikan bagi perempuan Indonesia. Perempuan yang cantik merupakan perempuan yang putih seperti orang Korea padahal bagi orang Indonesia yang memiliki genetik berbeda, hal ini menjadi tolak ukur yang tidak dapat disamakan. Iklan Pond’s ini menampilkan kesadaran palsu, dimana perempuan Indonesia dapat memiliki kulit putih seperti Korea hanya dengan menggunakan produk Pond’s. Unilever sebagai kapitalis menghegomoni para perempuan Indonesia untuk membeli produk kecantikan Pond’s dengan menggunakan media iklan untuk menciptakan kesadaran palsu dalam pikiran para perempuan Indonesia tentang gambaran kecantikan.
Analisis Wacana Kritis Kasus Penyerangan Terhadap Jemaah Ahmadiyah di Cikeusik Wulan Purnama Sari
Jurnal Komunikasi Vol. 10 No. 1 (2018): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jk.v10i1.1507

Abstract

This paper examines the phenomenon of Ahmadiyah congregation in Indonesia which has long been a conversation for many years. The phenomenon of Ahmadiyah congregation raised in this paper is the result of news from Kompas Online media, in case of attack in Cikeusik in 2011 ago. The method used is critical discourse analysis from Theo Van Leeuwen, who sees the representation of social actors and activities displayed in a text. The representation of the actor and the social act is shown through exclusion and inclusion. The main news that became the object of analysis is the news published by Kompas Online on February 06, 2011, entitled "Thousands of Citizens Cikeusik Serang Jemaah Ahmadiyah". This study examines the use of language on the news to find what discourse is trying to be produced through the news. This study also aims to know the constellation of power in the news, how the representation of Ahmadiyah congregation groups in the news. As a result it is known that the Ahmadiyya congregation group is described as a marginal group, there is an unequal power relationship between the minority and the majority. The Ahmadiyya congregation is unfairly displayed in the discourse or in other words there is discrimination against the Ahmadiyya congregation. It is hoped that this publication will make all Indonesian citizens aware of the existence of discrimination and can be critical in facing it, especially in understanding the news about a particular case in the mass media.  Tulisan ini mengkaji fenomena jemaah Ahmadiyah di Indonesia yang telah lama menjadi perbincangan selama bertahun - tahun. Fenomena jemaah Ahmadiyah yang diangkat pada tulisan ini merupakan hasil pemberitaan dari media Kompas Online, pada kasus penyerangan di Cikeusik tahun 2011 silam. Metode yang digunakan adalah analisis wacana kritis dari Theo Van Leeuwen, yang melihat representasi aktor sosial dan kegiatan ditampilkan dalam suatu teks. Representasi aktor dan tindakan sosial tersebut ditampilkan melalui eksklusi dan inklusi. Berita utama yang menjadi objek analisis adalah berita yang diterbitkan oleh Kompas Online pada 06 Februari 2011, dengan judul “Seribuan Warga Cikeusik Serang Jemaah Ahmadiyah”. Penelitian ini mengkaji penggunaan bahasa pada berita tersebut untuk mencari wacana apa yang berusaha diproduksi melalui berita tersebut. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui konstelasi kekuatan dalam berita tersebut, bagaimana representasi kelompok jemaah Ahmadiyah dalam berita tersebut. Sebagai hasilnya diketahui bahwa kelompok jemaah Ahmadiyah digambarkan sebagai kelompok marginal, terdapat hubungan kekuasaan yang tidak imbang antara kelompok minoritas dengan kelompok mayoritas. Kelompok jemaah Ahmadiyah ditampilkan secara tidak adil dalam wacana tersebut atau dengan kata lain terdapat diskriminasi terhadap jemaah Ahmadiyah. Diharapkan dengan adanya pemberitaan ini menjadikan seluruh masyarakat Indonesia menjadi sadar akan adanya tindak diskriminasi dan dapat bersikap secara kritis dalam menghadapinya, teruatama dalam memahami pemberitaan tentang suatu kasus tertentu di media massa.
Co-Authors A , Tyas Martika Abner lumika Arung Ai Ping Teoh Aldi Nirjana Alexandra Virginia Alyya Siddiqa, Alyya Amalia, Tasya Syawa Amesz, Mutiara Fransisca Andi Setiawan Andrea, Dika Andriyani, Risa Aqila, Mu’Amar Zaki Archie Gredyon ARDIANSYAH ARDIANSYAH Arrafi, Muhamad Iman Atwar Bajari Audrey Sugito Augustine, Michelle Auliya, Puri Ben Thiodanu Cahyani, Regita Emelia Carolina, Alexandra Carolina, Christine Vonny Catherine Dwitama Shan Catherine Gisela Chandra Ronaldo Chang, Keysha Abigail Christabella, Marvelyn Christina Christina Christine Natalia Chandra Christine Vonny Carolina Cindy Cindy Clarisa Tan Clemens Clemens Daniel Kurniawan Harijanto Devita Novelia Dewi Dewi DF, Filia Klarasinta Dionisius Kevin Doddy Salman Eko Harry Susanto Elvi Valentina Enzo Scifo Jauwinata Evelyn Thelia Farid Fatmoko, Adlim Dwi Felicia Masali Felisia Ferina, Sheren Fitria, Khofifah Habibah Fransisca Graciela M B Fransisca Kristy Franslie, Reynaldo Frinico Alfian Friscilla Purnama Sari Gavrila, Sherina Grace Nathasya Graceica Octavia Haikal, Faldie Muhamad Hanny Hafiar Hardja, Diovanny Helen, Helen Heru Chandra Litmanen Hetty Karunia Tunjungsari Hidayat, Angel Hokky Putra Pangestu Hutomo Rio Pangesthio Ibanez Vienoza Ngan Ihsan, Zainur Irena, Lydia Ivan Surya Ivander Stefanus Jason Subandi Jennifer Jennifer Jennifer Lauren Jesselyn, Eunike Jessica Febriani Thoeng Jessyca Indra Joko Susilo Jonathan, Maureen Julianto, Irwan Dwi Junaidi Diharyo Karina Wongso KENI KENI Keni Keni Kezia Stephanie Halim Khairunnisa, Julia Khang, Helen Lady Ta, Yesha Lie, Michelle Lioni Lioni Lulu Ferent Lusia Savitri Setyo Utami Maulana, Muhammad Irfan Mei Ie Messy Stella Fabiola Michelle Jennifer Michelle, Laurencia Mita Restinia Morisca Morisca Myesha Adira Nigar Pandrianto Nirwasita, Wulan Novianty, Melinda Nurtami Soedarsono Paramita, Sinta Pearlees Tjoeng Pesik, Vanessa Thabita Regina Phillip, Olivia Yuriko PUJI LESTARI Putra, Kiki Pradana Putra, Rio Sanjaya Putri, Aneesa Joenice Qonitha Risky Queennie Millendian Rahmawati, Dea Indi Ravinazan, Ravinazan Reginald Gusli Reniati Reniati Rezasyah, Teuku Rheza Alfredo Bunyamin Ria Puspitawati Rianty, Fety Fajar Ridwan, Salwa Salsabilla Rika Rachmawati Riris Loisa Risky, Qonitha Riwanda, Josephine Kayla Rizky Ferdy Rizky, Fitri Nur Romi Ferdian Rosario, Fernando Roswita Oktavianti, Roswita Ruth Ambar Santoso, Maria Regina Yanuarika Putri Sella Desember Selvina Suryanto Shafira Nusa Kusuma Shella Oskania Shella Shella shinta Octavia Shinta Octavia, Shinta Sinta Paramita Sinta Paramita Sri Wahyuni Stefany Stefany Stephanie Violita Chandra Sukendro, Gregorius Genep Suzy Azeharie Suzy Azeharie, Suzy Teoh, Ai Ping Theja, Calista Takako Thing, Yi Tindaon, Elisabeth Indira Dameria Tomy Andreas Tursilawati , Heri Tuwendi, William Alexander Vendy Octavian Verina Bellini Haryadi Vincent Vincent Vincent Vincent, Vincent Viriyaputra, Kevin Vony Anatya Winduwati, Septia Winnie Agustina Wiraguna, Daniel Gabriel Yasir Hudzaifah Yeni Yeni Yoedtadi, Muhammad Gafar Yohanes Yohanes Zhafirah Sholihah