Claim Missing Document
Check
Articles

PENDAMPINGAN PEMBUATAN SABUN CAIR FILTRAT LIDAH BUAYA & DAUN MINT SEBAGAI SABUN ANTISEPTIK PENCEGAHAN COVID-19 PADA KADER & IBU PKK KELURAHAN DASAN CERMEN Lale Budi Kusumadewi; Ari Khusuma; Agrijanti Agrijanti
Jurnal Pengabdian Masyarakat Multidisiplin Vol 5 No 1 (2021): Oktober
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/jpm.v5i1.2046

Abstract

Covid-19 is a disease caused by the SARS-CoV-2 virus and has symptoms similar to the common cold, which can progress to severe illness and pneumonia (pneumonia), causing difficulty breathing. One of the basic protective measures for individuals against COVID-19 is to wash their hands with soap and running water. Soap is a cleanser made from oil or fat with a strong base. In the final manufacture of soap, dyes, fragrances and natural ingredients are generally added to improve the characteristics of the soap. Aloe vera is one of the plants that are efficacious for maintaining healthy skin. The specialty of aloe vera lies in its gel which is able to seep into the skin tissue so that it resists losing too much fluid from the skin. The use of antibacterial from synthetic materials can prevent infection, but not a few have side effects such as irritation. To solve community problems related to the spread and control of cases of the spread of COVID 19, the implementation of this community service was carried out in the form of training and assistance in making aloe vera and mint leaf filtrate liquid soap as antiseptic soap for the prevention of COVID 19 in mosque cadres and youth in the Dasan Cermen Asri neighborhood. , Dasan Cermen Mataram City. The results of this activity are in the form of increasing the knowledge and skills of partners in making soap and marketing soap produced online.
Odds Ratio of Increase in Hemoglobin Level Associated with Consumption of Songgak Coffee in Patients with Pulmonary TB Lale Budi Kusuma Dewi; Sri Hartuti; I Wayan Getas; Agrijanti Agrijanti; Erlin Yustin Tatontos; Ida Bagus Rai Wiadnya; Siti Zaetun; Ari Khusuma
Jurnal Kefarmasian Indonesia VOLUME 15, NUMBER 1, FEBRUARY 2025
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulmonary TB cases in Indonesia are the second highest in the world. The incidence of Anemia in pulmonary TB patients can be as high as 90%. Anemia can lead to poor outcomes in the recovery of pulmonary TB. Songgak coffee is a coffee with a mixture of spices that is commonly consumed by the people of Central Lombok to make the body healthy and increase vitality, including pulmonary TB patients. Songgak coffee is made from 7 types of spices mixed with coffee. The results of previous research show that Songgak coffee has quite good antioxidant content and is an immunostimulant. Antioxidants may increase Hemoglobin levels. This was a case-control study. A total of 26 new pulmonary TB patients were divided into 2 groups. Group A received songgak coffee as an additional anti-TB drug, while group B received anti-TB drug therapy alone. Hemoglobin levels in groups A and B were measured before drug administration and 14 days after treatment. The data collected were nominal data, reported as increasing and non-increasing. A total of 12 out of 13 patients in group A had an increase in Hemoglobin, while only 1 person in group B had an increase in Hemoglobin. The odds ratio value for increasing Hemoglobin levels in pulmonary TB patients who consume songgak is 12. The odds ratio value for increasing Hemoglobin in pulmonary TB patients taking songgak is 12. The odds ratio value for increasing Hemoglobin levels in pulmonary TB patients who take Songgak is 12 times higher than in pulmonary TB patients who do not take Songgak.
Pengaruh Sebelum Dan Sesudah Scaling Gigi Terhadap Jumlah Entamoeba gingivalis Pada Penderita Periodontitis Syawaliyah Sulastri; Ari Khusuma; Nurul Inayati; Erna Kristinawati
Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Teknologi Laboratorium Medik Borneo
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan dan Sains Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jutelmo.v5i2.1988

Abstract

Periodontitis adalah peradangan pada gusi dan jaringan penyangga gigi. Faktor utama yang mempengaruhi perkembangan periodontitis adalah kebersihan mulut yang buruk dan keberadaan parasit seperti Entamoeba gingivalis . Scaling merupakan perawatan mekanis efektif untuk membersihkan plak, kalkulus, dan mikroorganisme dari permukaan gigi serta area bawah gusi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh scaling gigi terhadap jumlah Entamoeba gingivalis pada penderita periodontitis sebelum dan sesudah perawatan. Metode yang digunakan adalah desain pra-eksperimental dengan model One Group pretest-posttest . Populasi adalah penderita periodontitis yang menjalani scaling gigi di wilayah kerja Puskesmas Labuapi dan Banyumulek. Sampel diambil dari usap area gigi dan gusi, kemudian dianalisis menggunakan pewarnaan Giemsa. Data diuji secara statistik dengan uji Wilcoxon . Hasil menunjukkan dari 24 sampel, rata-rata jumlah Entamoeba gingivalis sebelum scaling adalah 3,13, sedangkan setelah scaling menurun menjadi 0,46. Uji statistik menghasilkan nilai signifikansi (p value) 0,000, yang berarti ada pengaruh signifikan scaling terhadap pengurangan jumlah Entamoeba gingivalis pada penderita periodontitis.
Penggunaan Songgak Suku Sasak Untuk Menurunkan Kadar Gula Darah Penderita Diabetes Mellitus Ari Khusuma; Lale Budi Kusumadewi; Agrijanti Agrijanti
Alamtana: Jurnal Pengabdian Masyarakat UNW Mataram Vol 7 No 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : LPPM UNIVERSITAS NAHDLATUL WATHAN MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jaltn.v7i2.1061

Abstract

Berdasarkan data profil Puskesmas Babakan, angka obesitas penduduk, dari 3.824 yang diperiksa, ditemukan 1.053 orang (27%) di antaranya dinyatakan obesitas. Hiperglikemia adalah suatu kondisi medis berupa peningkatan kadar glukosa darah melebihi normal yang merupakan ciri dari beberapa penyakit, terutama diabetes mellitus di samping berbagai kondisi lainnya. Diabetes melitus (DM) saat ini menjadi salah satu ancaman kesehatan global. Dalam masyarakat suku Sasak, bumbu selalu dibutuhkan. Masakan khas suku Sasak membutuhkan bumbu-bumbu dari jenis yang sangat beragam. Selain digunakan sebagai bumbu masakan, bumbu juga digunakan sebagai songgak. Hasil penelitian tahun 2021 menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian songgak suku Sasak terhadap kadar glukosa darah hewan coba tikus yang diinduksi aloksan. Sebagai upaya membantu pengendalian kadar glukosa darah penderita hiperglikemia dengan ramuan tradisional, direncanakan kegiatan pengabdian masyarakat pada tahun 2022 dengan judul sosialisasi pemanfaatan Songgak Suku Sasak untuk menurunkan kadar glukosa darah penderita diabetes mellitus. Tujuan dari penelitian ini adalah mensosialisasikan penggunaan Songgak Suku Sasak untuk menurunkan kadar glukosa darah penderita diabetes mellitus. Metode dalam penelitian ini adalah penyuluhan, pemeriksaan, pendampingan, dan evaluasi kegiatan yang dilaksanakan selama 3 bulan terhitung mulai bulan Mei sampai dengan Juli 2022. Hasil: Dalam kegiatan evaluasi dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah untuk menilai keberhasilan songgak dalam menurunkan kadar glukosa darah. Kegiatan evaluasi dilakukan setelah masyarakat mengkonsumsi Songgak selama 2 minggu. Sebanyak 40 peserta mengikuti kegiatan evaluasi, hasil pemeriksaan glukosa darah peserta, sebanyak 21 orang peserta mengalami penurunan kadar glukosa darah dan 11 orang diantaranya merupakan peserta yang sebelumnya memiliki kadar glukosa darah 200 mg/ dl. Peningkatan kadar glukosa darah terjadi pada 2 orang penderita DM berturut-turut dari 406 mg/dl menjadi 487 mg/dl dan 294 mg/dl menjadi 365 mg/dl. Seluruh masyarakat yang berjumlah 45 peserta kegiatan tersebut ingin mencoba konsumsi songgak. Sebagian besar masyarakat yang mengikuti kegiatan tersebut merasakan manfaat tidak membuat tubuh lebih segar dan ringan, serta meredakan pegal-pegal.
Comparison of Serum Creatinine Levels in Cervical Cancer Patients Receiving Cisplatin-Based and Non-Cisplatin-Based Chemotherapy at NTB Provincial General Hospital Kadek Vera Ardiani; Ari Khusuma; Thomas Tandi Manu; Lalu Srigede
Media Informasi Vol. 22 No. 2 (2026): June
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37160/mijournal.v22i2.1449

Abstract

Background: Cervical cancer is one of the leading causes of morbidity and mortality among women worldwide. Cisplatin-based chemotherapy is widely used because of its effectiveness in inhibiting tumor cell growth. However, its clinical use is limited by nephrotoxicity, which can lead to impaired renal function. Serum creatinine is a key laboratory parameter routinely used to assess kidney function during chemotherapy. Objectives: This study aimed to compare serum creatinine levels between cervical cancer patients receiving cisplatin-based chemotherapy and those treated with non-cisplatin regimens at the Regional General Hospital of West Nusa Tenggara Province. Methods: This analytical observational study employed a cross-sectional design using retrospective medical record and laboratory data. Subjects meeting the inclusion criteria were selected through total sampling. Data were analyzed descriptively and compared using the Mann–Whitney U test because the data were not normally distributed. Statistical significance was set at p<0.05. Results: Serum creatinine levels in the cisplatin group ranged from 0.20 to 4.10 mg/dL, with a mean of 1.60 mg/dL. In the non-cisplatin group, levels ranged from 0.50 to 3.10 mg/dL, with a mean of 0.91 mg/dL. The Mann–Whitney U test showed a statistically significant difference between the two groups (p=0.030). Conclusion: Cervical cancer patients receiving cisplatin-based chemotherapy had significantly higher serum creatinine levels than those receiving non-cisplatin regimens. These findings emphasize the importance of regular renal function monitoring to detect nephrotoxicity and support safe chemotherapy management
Co-Authors Adila Ika Rahmayati Agata, Annisa Agata, Annisa Agrijanti, Agrijanti Ananda, Dewa Ayu Putu Wiweka Anisa Prisilia Prisilia Annisa Agata Annisa Agata Annisa Agata Annisa Agata Annisa Mulia Anasis Annisa Mulia Annasis Annisa Yuniarni Arfi, Sofiyan Dwi Arini Pradita Roselyin Arini Pradita Roselyn Arini Pradita Roselyn Arini Rosa Sinensis Astriani, Astriani Avinni Maula Fardha Baiq Husaevi Agustiningrum Cahayaningrum, Aryani Dewi, Lale Budi Kusuma Dharmajaya Gisu, I Ketut Budi Erlin Yustin Tatontos Erlin Yustin Tatontos Erna Kristinawati Erna Kristinawati Ershandi Resnhaleksmana Eustachius Hagni Wardoyo Fakhmi, Shausan Nabila Fihiruddin, Fihiruddin Fitri Anita, Fitri Getas, I Wayan Hanifa Falahul Ilmi I Gede Arya Santika Arya I Wayan Getas I Wayan Getas Intan Suryawatie Yomo, Meidiana Ismalia Husna Iswari Pauzi Iswari Pauzi Japlani, Vida Lia Jasmine Chairunnisa Kadek Sinta Cahyani, Ni Diah Kadek Vera Ardiani Kristinawati, Erna Kurnia Rizki Laila Nisa, Isra Lale Budi Kusumadewi Lalu Sri Gede Lalu Srigede Lalu Srigede Lalu Srigede, Lalu Mahayani, I Gusti Ayu Putu Sachita Ni Komang Harmoni S Ni Putu Winda Novianty, Alfiah Nurul Inayati Nurul Inayati Nurul Inayati Pancawati Ariami Pancawati Ariami Permatasari, Lina Pradita, Arini Putri, Ni Putu Sintyani RAI WIADNYA, IDA BAGUS Reginata, Ni Luh Vira Rohmi Rohmi Rohmi, Rohmi Roselyn, Arini Pradita Salsabila, Nadira Siti Zaetun Siti zaetun Siti Zaetun, Siti Sri Hartuti Suhartiningsih Suhartiningsih Sukma, Al Hadawiyah Pertiwi Supriyanti, Ispi Syawaliyah Sulastri Thoha Firdaus Thomas Tandi Manu Thomas Tandi Manu Urip Urip, Urip Vani Nurcahyanti Viefa Avrilian Alifah Wiodi Nazhofatunnisa Umami Wulandari, Ayu Nurislami Yudha Anggit Jiwantoro Yudha Anggit Jiwantoro Yunan Jiwintarum Yuriska Safitri Yusari, Lala Deswinta Zaena Safitri, Trysia Zainal Fikri