Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : At-Turats

The Growth of Islamic Schools in Singkawang in the Colonial Era Prabowo, Mohammad Rikaz; Firmansyah, Andang; Mirzachaerulsyah, Edwin
AT-TURATS Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/at-turats.v18i2.3210

Abstract

The purpose of this study is to describe the development of Islamic schools in Singkawang during the Dutch East Indies colonial era (1901-1942). This era was marked by the transformation of Islamic education from traditional to formal, which was driven by the need to integrate general subjects. Interestingly, Islamic schools were able to exist amidst the rapid growth of Catholic Mission schools and the dominance of the Chinese community in Singkawang.Based on the results of the study through historical methods with the stages of heuristics, verification, interpretation, and historiography, it shows the following. Traditional Islamic education still dominated in the early 20th century through pengajian and alim-ulama as teachers. This practice occurred in several places around Singkawang, such as in the large mosque (Jami), surau in Selakau led by H. Muhammad As'ad, Semelagi, and other Malay villages. Driven by the development of Pan-Islamism, the existence of educated natives, and the wild school ordinance, traditional Islamic education was transformed into formal schools. Islamic schools that were once established in Singkawang during this era included the Islamiyah School in the city center, Madrasah in Semelagi Besar, Semelegi Kecil, Sungai Daun, Setapuk Besar, Madrasah Diniyah Setapuk, and Ahhadiah School Sedau. The curriculum used continued to emphasize Islamic religious studies plus general subjects in the three-year Volkschool and the five-year Standaarschool. The existence of Islamic schools in this city has encouraged the birth of the national movement with the establishment of various national movement organizations.Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan perkembangan sekolah Islam di Singkawang pada era kolonialisme Hindia-Belanda (1901-1942). Era ini ditandai dengan terjadinya transformasi pendidikan Islam dari corak tradisional ke formal, yang didorong perlunya pengintegrasian pelajaran umum. Hal ini menjadi menarik bahwa sekolah Islam mampu eksis di tengah pesatnya sekolah Misi Katolik dan dominasi masyarakat Tionghoa di Singkawang. Berdasarkan hasil penelitian melalui metode sejarah dengan tahapan heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi, menunjukkan hal berikut. Pendidikan Islam tradisional masih mendominasi pada awal abad ke-20 lewat pengajian dan alim-ulama sebagai pengajarnya. Praktik ini terjadi di beberapa tempat sekitar Singkawang, seperti di masjid besar (jami’), surau di Selakau pimpinan H. Muhammad As’ad, Semelagi, dan kampung-kampung Melayu lainnya. Didorong berkembangnya paham Pan Islamisme, keberadan bumiputera terpelajar, dan ordonansi sekolah liar, pendidikan Islam bercorak tradisional itu bertransformasi menjadi sekolah formal. Sekolah Islam yang pernah berdiri di Singkawang di era ini antara lain Islamiyah School di pusat kota, Madrasah di Semelagi Besar, Semelegi Kecil, Sungai Daun, Setapuk Besar, Madrasah Diniyah Setapuk, dan Ahhadiah School Sedau. Kurikulum yang digunakan tetap menekankan pelajaran agama Islam ditambah pelajaran umum yang ada di Volkschool tiga tahun dan Standaarschool lima tahun. Keberadaan sekolah Islam di kota ini telah mendorong lahirnya pergerakan kebangsaan dengan berdirinya berbagai organisasi pergerakan nasional.
Co-Authors Abdullah, Imam Achmadi Achmadi Adinda Azzahra Adlika, Nur Meily Adveniati, Angelia Ovi Afianto*, Risky Agus Sastrawan Noor Agus Sastrawan Noor Agus Sastrawan Noor Ahmad Imamul Arifin Alghifari, Muhammad Aqif Aminuyati Amrazi Zakso Ananda, Razi Andari, Desi Anggraini, Joya Reza Asih, Astri Astrini Eka Putri Aulia, Zakiah Baiyeni Amalia Hasanah Baiyeni Amalia Hasanah Bakti, Yunita Chorina, Malisa Delta, Delta Dewantara, Jagad Aditya Dewi Annisa Dianisty, Rizky Ananda Dodi Dores, Florianus Doyok, Hendoyo Dwija Saptahadi Edwin Mirzachaerulsyah Edwin Mirzachaerulsyah Efriani Efriani Eka Putri, Astrini Ellisya Sejarah Evi Dwi Lestari, Evi Dwi Firmansyah, Haris Firmansyah, Harris Fitriani Fitriani Galuh Bayuardi Hadi Kurniawan, Hadi Hadi Wiyono Haris Firmansyah Haris Firmansyah Haris Firmansyah Harris Firmansyah Hasmidar, Oktaviani Helen Sasty Pratiwi Hemri Yansa Hermanu Joebagio Ika Rahmatika Ika Rahmatika Chalimi Ika Rahmatika Chalimi Irena Yovanka T.A. Januarti*, Kartika Jemsy*, Steven Julianda*, Rizky Junaidi, Eko Wahyu Kamini, Tri Kartono , Kevins*, Ligorius Khofifah Nur Rahmah Kristoforus Bagas Romualdi Laila*, Alfa Lestari*, Putri Pratama Lindaria Purba Maria Ulfah Marsudi, Muhammad Ramadhan Miranda, Kinana Dede Riski Mohammad Rikaz Prabowo Novia Adidatil Jamilia Novitasari Novitasari Novitasari, Intan Patmawati Patmawati, Patmawati Prabowo, M. Rikaz Prabowo, Mohammad Rikaz Pratama, Rio Pratiwi Juniar Putri Purnama Dewi Puspita Sari*, Rini Putri Tipa Anasi Putri*, Wella Prasetya Rahmad Silahudin* rahmah, Khofifah nur Rahmahwati, Ratih Reyhan Ainun Yafi Riski Miranda, Kinana Dede Risky Afianto* Romualdi, Kristoforus Bagas Rum Rosyid Rustiyarso Rustiyarso Rustiyarso, Rustiyarso Salwa Wardina, Yastrid Saptahadi, Dwija Sari, Natalia Shelli Shelli Silahudin*, Rahmad Siti Halidjah Sofian, Ilham Nur Sri Buwono . Sri Maharani Steven Jemsy* Subarjo Subarjo subarjo, Subarjo Sulistyarini, Sulistyarini Superman Superman Tiningsih, Alpi Wahyu Vebianti, Popi Venny Karolina Veronika Senu Wahyuni, Nunung Wiwik Handayani Yansa, Hemri Yuristin, Puput Titania Elisa Yusawinur Barella Zahro, Hanifatuz