Claim Missing Document
Check
Articles

Tradisi Lisan dalam Melestarikan Lingkungan Alam di Kampung Adat Dukuh, Desa Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut Nyai Kartika; Reiza D. Dienaputra; Susi Machdalena; Awaludin Nugraha; Nani Sriwardani
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 37 No 3 (2022)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v37i3.1982

Abstract

Life in kampung adat is always interesting to study. Not only it has different culture than what is fostered by the community in general, kampung adat also has local wisdom that is ardently upheld by its community. One example is an oral tradition in Kampung Adat Dukuh, Ciroyom Village, Cikelet Subdistrict, Garut District, which is known as Uga Mandeling. The oral tradition contains local wisdom in preserving the natural environment. This study aims to further explore Uga Mandeling oral tradition and the extent to which it affects the life of the community. This study applied a historical method with four stages, namely heuristics, criticism, interpretation, and historiography, to analyze Uga Mandeling in Kampung Adat Dukuh. The results show that, in addition to maintaining the natural environment, Uga Mandeling also contains an appeal to lead a harmonious life with other communities as well as the government. This study is expected to contribute to the relevant literature, particularly related to Kampung Adat Dukuh.
Budaya Tradisi Sebagai Identitas dan Basis Pengembangan Keramik Sitiwangun di Kabupaten Cirebon Deni Yana; Reiza D Dienaputra; Agus S Suryadimulya; Yan Yan Sunarya
PANGGUNG Vol 30, No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1860.167 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v30i2.1045

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kondisi sentra kerajinan keramik Sitiwinangun di Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon yang produknya saat ini semakin menurun baik secara kualitas maupun  kuantitas. Keadaan ini  merupakan hal yang ironis mengingat sentra tersebut memiliki potensi sumber daya alam, manusia dan budaya yang cukup kuat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan produk kerajinan keramik    Sitiwinangun melalui pemanfaatan  budaya tradisi lokal sebagai penguatan identitas dan basis pengembangan produknya. Penelitian ini menggunakan pendekatan budaya dan estetika melalui teori morfologi estetik dan metode ATUMICS dengan tahapan identifikasi, analisis, pengembangan desain, aplikasi desain dan evaluasi. Hasil dari penelitian ini berupa produk keramik yang lebih modern dalam bentuk karya seni, hias dan fungsi dengan identitas budaya tradisi lokal Cirebon. Budaya tradisi dalam konteks  konservasi dan revitalisasi kerajinan keramik secara umum dapat menjadi alternatif sebagai basis pengembangan dan penguatan identitas lokal produknya.Kata kunci : budaya, cirebon,keramik, sitiwinangun, tradisi. 
Penciptaan Alam Semesta dalam Naskah Layang Musa Kang Kapisan Kaaranan Purwaning Dumadi: Kajian Teologi dan Komparasi Kitab Agami Samawi Doni Wahidul Akbar; Titin Nurhati Ma'mun; I Syarief Hidayat; Reiza Dienaputra
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 10, No 1 (2019): Juli
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.788 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v10i1.24

Abstract

Naskah kuna Nusantara merupakan warisan budaya masa lalu yang isinya bernilai tinggi, tidak hanya untuk masa lalu juga untuk masa kini. Salah satu naskah yang memiliki arti penting kekinian bagi masyarakat Nusantara adalah naskah Layang Musa Kang Kapisan Kaarangan Purwaning Dumadi. Penelitian ini menggunakan teori filologi dan metode teologi dengan pendekatan komparasi. Naskah ini menjelaskan pokok-pokok ajaran Kristiani yang meliputi terjadinya alam semesta, penciptaan manusia, dosa manusia, manusia jatuh dalam dosa, dan usaha Tuhan membantu manusia bangkit dari dosa yang mereka perbuat. Informasi itu diaktualisasikan penyebarannya melalui budaya Jawa dan aksara yang berlaku pada saat itu yaitu aksara Arab Pegon yang digunakan dalam Alqur’an. Hal itu menunjukkan bahwa naskahLayang Musa Kang Kapisan Kaarangan Purwaning Dumadi sebagai dokumen penyebaran ajaran Kristiani pada zaman Islam yang berada di Jawa. Temuan dari kajian ini adalah penjelasan tentang persamaan dan perbedaan kronologi penciptaan alam serta pedoman teologi ketuhanan agama Kristen.
INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI OBJEK PEMAJUAN KEBUDAYAAN DI DESA GEGESIK LOR KECAMATAN GEGESIK KABUPATEN CIREBON Reiza D. Dienaputra; Agusmanon Yunaidi; Susi Yuliawati
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 2 (2022): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v5i2.36850

Abstract

Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) menjadi kata kunci yang dapat digunakan untuk mengukur pemajuan kebudayaan. Hal tersebut secara tegas dijelaskan dalam UU No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dengan demikian, pemajuan kebudayaan suatu daerah pada kabupaten, kota, provinsi, atau pada wilayah administratif lainnya yang berada di bawah kabupaten dan kota, baik itu kecamatan, desa atau kelurahan, dapat diukur atau didekati dari profil OPK yang dimilikinya, termasuk jenis aktivitas pemajuan kebudayaan yang dimilikinya, baik itu berkenaan dengan pelestarian, pengembangan, pemanfaatan maupun pembinaan. Wilayah terbaik dalam hal pemajuan kebudayaan bisa dipastikan adalah wilayah yang tidak sekadar memiliki kesepuluh OPK akan tetapi juga memiliki aktivitas pemajuan kebudayaan di keempat bidang. Berangkat dari pemikiran tersebut, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini difokuskan pada upaya inventarisasi dan dokumentasi OPK di Desa Gegesik Lor Kecamatan Gegesik Kabupaten Cirebon. Pemilihan Desa Gegesik Lor sebagai lokasi PPM dikarenakan posisi penting yang dimiliki Desa Gegesik Lor sebagai salah satu Desa Budaya di Kecamatan Gegesik Kabupaten Cirebon. Selanjutnya, dari kegiatan inventarisasi dan dokumentasi tersebut tidak saja akan memberi penjelasan tentang kekayaan OPK Desa Gegesik Lor akan tetapi yang jauh lebih penting dari itu, mampu mendorong tampilnya Desa Gegesik Lor sebagai Desa Pemajuan Kebudayaan, tidak hanya di Kecamatan Gegesik akan tetapi juga pada tingkat Kabupaten serta  Provinsi.
Dinamika konflik panembahan dan residen: Kebijakan sistem irigasi dan implikasinya terhadap masyarakat Madura (1850-1907) Mohammad Refi Omar Ar Razy; Reiza D. Dienaputra
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 13, No 1 (2023)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/ajsp.v13i1.12614

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis politik lingkungan hidup yang terdapat di Madura. Fokus utamanya yaitu permasalahan sistem irigasi yang dikelola Panembahan dan Residen yang pada akhirnya menjadi konflik tersendiri dalam pusaran pemerintahan di Madura. Konflik ini sebenarnya akibat pengambilalihan kekuasaan penguasa lokal seperti kerajaan Bangkalan, Pamekasan dan Sumenep yang oleh Belanda sejak 1850-an terjadi sebuah peralihan sistem pemerintahan yang mengelola hajat hidup masyarakat di Madura. Dalam perkembangannya banyak terjadi berbagai perlawanan yang diinisiasi para Panembahan bersama dengan rakyat Madura dengan melakukan perlawanan dalam pembangunan irigasi yang dibangun oleh Residen di Madura. Hal ini tentu menjadi fenomena yang langka pada masa kolonial. Di satu sisi mereka membutuhkan irigasi untuk kebutuhan pokok serta mengairi sawah. Di sisi lain, sebagian dari masyarakat Madura mencoba untuk menghancurkannya. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Beberapa data di dapatkan dari Arsip Nasional Republik Indonesia, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan media online yang terpercaya seperti delpher.nl dan Gahetna. Sumber yang didapatkan berupa arsip dan manuskrip. Hasil penelitian menunjukkan dinamika konflik antara Panembahan dan Residen diawali oleh pengambilalihan kekuasaan lokal oleh pemerintah kolonial sehingga menimbulkan kepentingan kekuasaan yang cukup berlawanan antara keduanya. Adapun konflik tersebut mengakibatkan kerusakan lingkungan di Madura.
KAJIAN KONSEP EKOWISATA BERBASIS MASYARAKAT DALAM MENUNJANG PENGEMBANGAN PARIWISATA: SEBUAH STUDI LITERATUR Rifqi Asy’ari; Reiza D. Dienaputra; Awaludin Nugraha; Rusdin Tahir; Cecep Ucu Rakhman; Rifki Rahmanda Putra
Jurnal Pariwisata Budaya: Jurnal Ilmiah Pariwisata Agama dan Budaya Vol 6 No 1 (2021)
Publisher : UHN IGB Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.967 KB) | DOI: 10.25078/pariwisata.v6i1.113

Abstract

Along with the development of the era, the terminology of ecotourism has continued to develop without eliminating the essential in the definition of ecotourism itself, namely conservation or conservation for nature, culture and society itself. The concept of community-based ecotourism became a concept that developed in the 2000s where the terminology of this concept is more appropriate to involve the community in planning, implementing ecotourism management and all the benefits that are obtained. This study examines the extent to which the concept of community-based ecotourism supports tourism development and what are the obstacles in the concept of community-based ecotourism which can then become recommendations for further research. The method used is a qualitative method in the form of a literature study of the 20 articles obtained. The search tool used is to analyze or dismantle, then the data is analyzed using the literature review method with traditional review techniques. The concept of community-based ecotourism in the context of tourism development can be interpreted as a form of development in resource use by involving the community as the key holder. The concept of community-based ecotourism is also a new concept and opens up opportunities to enrich the study. The indicators obtained from the analysis show that the indicators of resources, community and tourists are factors in tourism development using the concept of community-based ecotourism.
Motif Batik Ciwaringin sebagai Identitas Budaya Lokal Cirebon Susi Machdalena; Reiza D. Dienaputra; Agus S. Suryadimulya; Awaludin Nugraha; N. Kartika; Susi Yuliawati
PANGGUNG Vol 33, No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (954.87 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v33i1.2476

Abstract

Artikel ini membahas motif-motif Batik Ciwaringin yang mempunyai kekhasan dan keunikan tersendiri. Batik Ciwaringin dibuat tidak menggunakan pola dalam proses membatiknya, dikerjakan para ibu yang sudah berumur lanjut, untuk mewarnai batik digunakan bahan pewarna alam, motif batik kental dengan nilai-nilai Islam, karena awal mulanya terdapat batik di Ciwaringin dibuat oleh para santri di pesantren. Hal-hal tesebut menjadi unggulan Batik Ciwaringin dan menjadi identitas masyarakatnya. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pendekatan ini digunakan untuk memaparkan kearifan lokal dan identitas masyarakat Ciwaringin. Data-data yang berupa motif-motif batik Ciwaringin diperoleh dari sanggar Batik Muhammad Suja’i dan sanggar Batik Risma. Data-data dipilah berdasarkan pola motif batik. Terdapat lima pola motif, yaitu pola geometris, pangkaan, byur, ceplak-ceplok, laseman, dan pola kombinasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motif-motif batik dengan berbagai ragam hias berasal dari alam di sekitar Desa Ciwaringin. Batik Ciwaringin merupakan hasil ekspresi kultural para perajinnya dengan motif-motif yang tidak keluar dari sosio-kultural Islam karena sejak awal adanya Batik Ciwaringin berpedoman pada ajaran-ajaran Islam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Batik Ciwaringin menunjukkan identitas budaya Ciwaringin yang kaya akan flora dan fauna. Kata kunci: Motif batik, kearifan lokal, identitas Kata kunci: Motif batik, kearifan lokal, identitas.
Unveiling cultural intelligence: A comparative study of Japanese and Indonesian idiomatic expressions Agus Suherman Suryadimulya; Reiza D. Dienaputra; Susi Machdalena; Awaludin Nugraha; Nyai Kartika
Indonesian Journal of Applied Linguistics Vol 13, No 1 (2023): Vol. 13, No.1, May 2023
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ijal.v13i1.58248

Abstract

This paper delves into the realm of cultural intelligence inherent in Japanese and Indonesian idiomatic expressions. In the context of intercultural communication, Indonesian speakers utilize diverse cultural intelligence frameworks to express various facets of Japanese culture, with language serving as a prominent component. While a plethora of studies have examined idioms from semantic and semiotic perspectives, a notable gap exists in the literature regarding the exploration of cultural intelligence within idiomatic expressions in both languages, encompassing both structural and semantic analyses. Filling this research void, the present study aims to elucidate the concept of cultural intelligence, specifically focusing on the comprehension of Japanese and Indonesian idioms, particularly those related to the notion of "face". Employing a descriptive research approach, data comprising 16 Japanese idioms and 13 Indonesian idioms were meticulously examined to unveil the cultural significance within each group. The idioms were sourced from various dictionaries and specifically focused on expressions related to body parts, especially the face, which are commonly employed in everyday life. These idiomatic expressions were systematically classified into three categories and subjected to comprehensive analysis. The findings reveal that the majority of the idioms convey emotions, personal characteristics, and concepts of honor, thereby reflecting both cultural similarities and differences between Indonesian and Japanese cultures through idiomatic expressions. This study sheds further light on the intersection between cultural intelligence and idiomatic language, enhancing our understanding of how culture influences language use and interpretation.
KAJIAN KONSEP EKOWISATA BERBASIS MASYARAKAT DALAM MENUNJANG PENGEMBANGAN PARIWISATA : SEBUAH STUDI LITERATUR Rifqi Asy'ari; Reiza D. Dienaputra; Awaludin Nugraha; Rusdin Tahir; Cecep Ucu Rakhman; Rifki Rahmanda Putra
PARIWISATA BUDAYA: JURNAL ILMIAH AGAMA DAN BUDAYA Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/pba.v6i1.1969

Abstract

Seiring dengan perkembangan zaman, terminologi ekowisata terus berkembang tanpa menghilangkan esensial dasar yang ada dalam pengertian ekowisata itu sendiri, yaitu konservasi atau pelastarian baik untuk alam, budaya dan masyarakat itu sendiri. Konsep ekowisata berbasis masyarakat menjadi konsep yang berkembang di tahun 2000-an yang di mana terminologi dari konsep ini lebih menekan pada pelibatan masyarakat yang ada dalam perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan usaha ekowisata dan segala keuntungan yang diperoleh. Penelitian ini mengkaji terkait sejauh mana konsep ekowisata berbasis masyarakat dalam menunjang pengembangan pariwisata dan hal apa saja yang masih menjadi hambatan dalam konsep ekowisata berbasis masyarakat tersebut untuk kemudian dapat menjadi rekomendasi bagi penelitian selanjutnya. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif berupa studi literatur dari 20 artikel yang didapat. Alat bantu pencarian yang digunakan adalah harzing’s publish or perish. Selanjutnya, data dianalisis dengan metode tinjauan pustaka dengan teknik traditional review. Konsep ekowisata berbasis masyarakat dalam konteks pengembangan pariwisata dapat diartikan sebagai wujud pengembangan dalam pemanfaatan sumberdaya dengan pelibatan masyarakat sebagai pemegang kunci. Konsep ekowisata berbasis masyarakat juga menjadi konsep yang masih baru dan membuka peluang untuk memperkaya kajian tersebut.  Indikator yang didapat dari hasil analisis bahwa indikator sumber daya, masyarakat dan wisatawan menjadi faktor dalam pengembangan pariwisata yang menggunakan konsep ekowisata berbasis masyarakat.
Sintren as a Traditional Performing Art in Mirat Village Kartika, Nyai; Reiza D. Dienaputra; Susi Machdalena; Awaludin Nugraha; Agus S. Suryadimulya; Susi Yuliawati; Sriwardani, Nani
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 39 No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v39i2.2551

Abstract

Sintren art is a traditional art that developed in almost all coastal areas of the island of Java. In Majalengka, sintren art developed in Mirat Village, Leuwimunding District. Sintren as a traditional art grew among rural communities that were becoming modern so sintren then survived as a traditional performing art that had an influence on the social life of the community. This research was carried out using qualitative research methods which are believed to be a scalpel in research so as to help explain the research object factually. Data collection techniques were carried out by direct observation and interviewing sources. The results of this research show that sintren in Mirat Village is not only a traditional art that was initially performed in ceremonies or rituals, but also a traditional performing art that can be performed during circumcision celebrations, weddings, and welcoming guests who come to the village. There has been a shift in sintren performances, currently sintren can be performed anytime and anywhere depending on the enthusiasm and demand of the community, because currently the values contained in this sintren performing art are no longer closely tied to a ceremony or ritual alone. Sintren art absorbs the cultural values of the community so Sintren performing arts have become part of the culture of the Mirat community.
Co-Authors Abdul Rasyad Abdurrahman, Dida I. Agus Cahyana Agus S Suryadimulya Agus S. Suryadimulya Agus S. Suryadimulya Agus Suherman Suryadimulya Agus Suherman Suryadimulya Agusmanon Yunaidi Agusmanon Yunaidi Agusmanon Yuniadi Agustina Eka Putri Agustina, Prima Andini, Mustika Anggiat Tornado Anggiat Tornado Anggiat Tornado, Anggiat Arovah, Eva Nur Aryanto, Peranciscus Asy'ari, Rifqi Asy'ari, Rifqi Awaludin Nugraha Awaludin Nugraha Awaludin Nugraha Awaludin Nugraha Awaludin Nugraha Ayu Septiani Bambang Hermanto Bucky Wibawa Karya Guna Bucky Wibawa Karya Guna Budi Muljana Cecep Ucu Rakhman Dadang Sudrajat Dadang Sudrajat Dadang Suganda Dadang Suganda Dadang Suganda Deni Yana Dida I. Abdurrahman Doni Wahidul Akbar Dwi Agusta Ekawardhani, Yully Ambarsih Eldo Delamontano Emmy Sundari Eva Mardiyana Evi Novianti Evi Novianti Evi Novianti Farida, Pingkan D Fauziah Hanum Guna, Bucky Wibawa Karya H. Dadang Suganda H. Dadang Suganda, H. Dadang Hazmirullah Aminuddin Hendrayana, Dian Hidayat, Rony I Syarief Hidayat Imam Santosa Indar Buana Pradipta Kartika, N. kasiran, sugiarti Krishna Yuliawati, Ayu Kunkun Kurniawan Mas Dadang Enjat Munajat Mohammad Refi Omar Ar Razy Muhamad Adji Muhammad Rinaldy Syarifulloh Mulyadi, R M Mumuh Muhsin Zakaria Mutawally, Anwar Firdaus N. Kartika Nandang Rachmat Nany Ismail Niknik Dewi Pramanik NIKNIK DEWI PRAMANIK, NIKNIK DEWI Nina Herlina Lubis Nugraha, Awaludin Nugraha, Muhamad Satria Nyai Kartika Nyai Kartika Pepen Efendi Peranciscus Aryanto Priani, Zalsa Az Zahra R. M. Mulyadi Rachmat, Nandang Raden Muhammad Mulyadi Rahman, Farid Asfari Rifki Rahmanda Putra Rifqi Asy’ari Roni Tabroni Roni Tabroni Rusdin Tahir Rusdin Tahir Rusdin Tahir Sahabudin, Arfah Setiawan Sabana Setiawan Sabana Setiawan Sabana Sri Astuti Pratminingsih Sri R. Wardiani Sriwardani, Nani Sundari, Emmy SUNDASARI, Witakania Suryadimulya, Agus S Suryadimulya, Agus S. Susi Machdalena Susi Machdalena Sutisna, Rony Hidayat Tahir, Rusdin Teddi Muhtadin Tita Juwita Titin Nurhati Ma'mun Titin Nurhayati Ma’mun U Sudjana Ute Lies Siti Khadijah Uud Wahyudin Wardiani, Sri R. Widyo Nugrahanto Yan Yan Sunarya Yan Yan Sunarya Yasraf Amir Piliang Yuliawati, Susi Yully Ambarsih Ekawardhani Zahra, Izzatun Zhafarini, Ghaziana