p-Index From 2021 - 2026
8.222
P-Index
This Author published in this journals
All Journal E-Journal of Tourism Sosiohumaniora Indonesian Journal of Applied Linguistics (IJAL) Jurnal Pariwisata Pesona Paramita: Historical Studies Journal Harmonia: Journal of Research and Education BAHASA DAN SASTRA Journal of Indonesian Tourism and Development Studies Jurnal Master Pariwisata (JUMPA) Dharmakarya : Jurnal Aplikasi Ipteks Untuk Masyarakat Journal of Visual Art and Design JURNAL SOSIAL HUMANIORA (JSH) AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah Jurnal Sejarah Citra Lekha Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan MUDRA Jurnal Seni Budaya Panggung SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Journal of Islamic Architecture Al-Daulah : Jurnal Hukum dan Perundangan Islam Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan VISI : Jurnal Ilmiah Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal Jurnal Pariwisata Terapan JSM (Jurnal Seni Musik) Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Jurnal Penelitian Kehutanan Bonita Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Altasia : Jurnal Pariwisata Indonesia Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Jurnal Inovasi Penelitian Atrat: Jurnal Seni Rupa JKTP Jurnal Ekonomi PARAHITA : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Journal of Mandalika Review Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Pariwisata Budaya: Jurnal Ilmiah Pariwisata Agama dan Budaya Barista : Jurnal Kajian Bahasa dan Pariwisata Masyarakat Pariwisata: Journal of Community Services in Tourism Panggung
Claim Missing Document
Check
Articles

CULTURAL-BASED TOURISM IN CIREBON: A STUDY OF COMMODIFICATION IN CULTURAL TOURISM Nyai Kartika; Reiza Dienaputra; Susi Machdalena; Awaludin Nugraha
Sosiohumaniora Vol 24, No 3 (2022): Sosiohumaniora: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, NOVEMBER 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v24i3.33432

Abstract

The people of Cirebon have various religious, ethnic and cultural backgrounds. However, they can live harmoniously in such diversity. Cirebon is interesting to explore due to its abundant culture-based tourism. However, in the tourism industry, the process of commodification is inevitable as part of current development. Therefore, this study employed a qualitative method using historical, social, and cultural commodification approaches expected to provide a better overview and information regarding culture-based tourism in Cirebon. The commodification of culture allows cultural forms to be a tradable commodity. It changes culture as originally a social relationship into culture as an economic relationship. Thus, it is important to apply historical and social approaches in the study to determine the existence of cultural heritage. This encourages the researchers to further discover the extent to which commodification is implemented in the culture-based tourism industry in Cirebon, aiming to provide information to the public to give more attention as well as participate in preserving cultural heritage in the midst of the challenges of modern times. The results of this study show an overview of cultural tourism in Cirebon, in which various elements of society are expected to help preserve and maintain culture as self-identity.
Dinamika konflik panembahan dan residen: Kebijakan sistem irigasi dan implikasinya terhadap masyarakat Madura (1850-1907) Mohammad Refi Omar Ar Razy; Reiza D. Dienaputra
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 13, No 1 (2023)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/ajsp.v13i1.12614

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis politik lingkungan hidup yang terdapat di Madura. Fokus utamanya yaitu permasalahan sistem irigasi yang dikelola Panembahan dan Residen yang pada akhirnya menjadi konflik tersendiri dalam pusaran pemerintahan di Madura. Konflik ini sebenarnya akibat pengambilalihan kekuasaan penguasa lokal seperti kerajaan Bangkalan, Pamekasan dan Sumenep yang oleh Belanda sejak 1850-an terjadi sebuah peralihan sistem pemerintahan yang mengelola hajat hidup masyarakat di Madura. Dalam perkembangannya banyak terjadi berbagai perlawanan yang diinisiasi para Panembahan bersama dengan rakyat Madura dengan melakukan perlawanan dalam pembangunan irigasi yang dibangun oleh Residen di Madura. Hal ini tentu menjadi fenomena yang langka pada masa kolonial. Di satu sisi mereka membutuhkan irigasi untuk kebutuhan pokok serta mengairi sawah. Di sisi lain, sebagian dari masyarakat Madura mencoba untuk menghancurkannya. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Beberapa data di dapatkan dari Arsip Nasional Republik Indonesia, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan media online yang terpercaya seperti delpher.nl dan Gahetna. Sumber yang didapatkan berupa arsip dan manuskrip. Hasil penelitian menunjukkan dinamika konflik antara Panembahan dan Residen diawali oleh pengambilalihan kekuasaan lokal oleh pemerintah kolonial sehingga menimbulkan kepentingan kekuasaan yang cukup berlawanan antara keduanya. Adapun konflik tersebut mengakibatkan kerusakan lingkungan di Madura.
KAJIAN KONSEP EKOWISATA BERBASIS MASYARAKAT DALAM MENUNJANG PENGEMBANGAN PARIWISATA: SEBUAH STUDI LITERATUR Rifqi Asy’ari; Reiza D. Dienaputra; Awaludin Nugraha; Rusdin Tahir; Cecep Ucu Rakhman; Rifki Rahmanda Putra
Jurnal Pariwisata Budaya: Jurnal Ilmiah Pariwisata Agama dan Budaya Vol 6 No 1 (2021)
Publisher : UHN IGB Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.967 KB) | DOI: 10.25078/pariwisata.v6i1.113

Abstract

Along with the development of the era, the terminology of ecotourism has continued to develop without eliminating the essential in the definition of ecotourism itself, namely conservation or conservation for nature, culture and society itself. The concept of community-based ecotourism became a concept that developed in the 2000s where the terminology of this concept is more appropriate to involve the community in planning, implementing ecotourism management and all the benefits that are obtained. This study examines the extent to which the concept of community-based ecotourism supports tourism development and what are the obstacles in the concept of community-based ecotourism which can then become recommendations for further research. The method used is a qualitative method in the form of a literature study of the 20 articles obtained. The search tool used is to analyze or dismantle, then the data is analyzed using the literature review method with traditional review techniques. The concept of community-based ecotourism in the context of tourism development can be interpreted as a form of development in resource use by involving the community as the key holder. The concept of community-based ecotourism is also a new concept and opens up opportunities to enrich the study. The indicators obtained from the analysis show that the indicators of resources, community and tourists are factors in tourism development using the concept of community-based ecotourism.
Motif Batik Ciwaringin sebagai Identitas Budaya Lokal Cirebon Susi Machdalena; Reiza D. Dienaputra; Agus S. Suryadimulya; Awaludin Nugraha; N. Kartika; Susi Yuliawati
PANGGUNG Vol 33, No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (954.87 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v33i1.2476

Abstract

Artikel ini membahas motif-motif Batik Ciwaringin yang mempunyai kekhasan dan keunikan tersendiri. Batik Ciwaringin dibuat tidak menggunakan pola dalam proses membatiknya, dikerjakan para ibu yang sudah berumur lanjut, untuk mewarnai batik digunakan bahan pewarna alam, motif batik kental dengan nilai-nilai Islam, karena awal mulanya terdapat batik di Ciwaringin dibuat oleh para santri di pesantren. Hal-hal tesebut menjadi unggulan Batik Ciwaringin dan menjadi identitas masyarakatnya. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pendekatan ini digunakan untuk memaparkan kearifan lokal dan identitas masyarakat Ciwaringin. Data-data yang berupa motif-motif batik Ciwaringin diperoleh dari sanggar Batik Muhammad Suja’i dan sanggar Batik Risma. Data-data dipilah berdasarkan pola motif batik. Terdapat lima pola motif, yaitu pola geometris, pangkaan, byur, ceplak-ceplok, laseman, dan pola kombinasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motif-motif batik dengan berbagai ragam hias berasal dari alam di sekitar Desa Ciwaringin. Batik Ciwaringin merupakan hasil ekspresi kultural para perajinnya dengan motif-motif yang tidak keluar dari sosio-kultural Islam karena sejak awal adanya Batik Ciwaringin berpedoman pada ajaran-ajaran Islam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Batik Ciwaringin menunjukkan identitas budaya Ciwaringin yang kaya akan flora dan fauna. Kata kunci: Motif batik, kearifan lokal, identitas Kata kunci: Motif batik, kearifan lokal, identitas.
Unveiling cultural intelligence: A comparative study of Japanese and Indonesian idiomatic expressions Agus Suherman Suryadimulya; Reiza D. Dienaputra; Susi Machdalena; Awaludin Nugraha; Nyai Kartika
Indonesian Journal of Applied Linguistics Vol 13, No 1 (2023): Vol. 13, No.1, May 2023
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ijal.v13i1.58248

Abstract

This paper delves into the realm of cultural intelligence inherent in Japanese and Indonesian idiomatic expressions. In the context of intercultural communication, Indonesian speakers utilize diverse cultural intelligence frameworks to express various facets of Japanese culture, with language serving as a prominent component. While a plethora of studies have examined idioms from semantic and semiotic perspectives, a notable gap exists in the literature regarding the exploration of cultural intelligence within idiomatic expressions in both languages, encompassing both structural and semantic analyses. Filling this research void, the present study aims to elucidate the concept of cultural intelligence, specifically focusing on the comprehension of Japanese and Indonesian idioms, particularly those related to the notion of "face". Employing a descriptive research approach, data comprising 16 Japanese idioms and 13 Indonesian idioms were meticulously examined to unveil the cultural significance within each group. The idioms were sourced from various dictionaries and specifically focused on expressions related to body parts, especially the face, which are commonly employed in everyday life. These idiomatic expressions were systematically classified into three categories and subjected to comprehensive analysis. The findings reveal that the majority of the idioms convey emotions, personal characteristics, and concepts of honor, thereby reflecting both cultural similarities and differences between Indonesian and Japanese cultures through idiomatic expressions. This study sheds further light on the intersection between cultural intelligence and idiomatic language, enhancing our understanding of how culture influences language use and interpretation.
INVENTARISASI POTENSI OBJEK PEMAJUAN KEBUDAYAAN DI JAWA BARAT Reiza D. Dienaputra; Susi Machdalena; Nyai Kartika
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 3 (2023): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i3.14467

Abstract

Abstrak: Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) menjadi kata kunci yang dapat digunakan untuk mengukur pemajuan kebudayaan. Hal tersebut secara tegas dijelaskan dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dengan demikian, pemajuan kebudayaan suatu daerah pada kabupaten, kota, provinsi, atau pada wilayah administratif lainnya yang berada di bawah kabupaten dan kota, baik itu kecamatan, desa atau kelurahan, dapat diukur atau didekati dari profil OPK yang dimilikinya, termasuk jenis aktivitas pemajuan kebudayaan yang dimilikinya, baik itu berkenaan dengan pelestarian, pengembangan, pemanfaatan maupun pembinaan. Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk inventarisasi Objek Pemajuan Kebudayaan di Desa Cimekar Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung. Metode dilakukan mulai tahap persiapan, inventarisasi kemudian dilakukan pendokumentasian, dan evaluasi atas kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan. Mitra kegiatan ini adalah Desa Cimekar. Masyarakat yang terlibat dalam kegiatan ini adalah orang-orang yang tergabung di dalam sanggar kesenian, orang-orang yang perduli pada OPK di daerahnya. Hasil dari kegiatan inventarisasi tersebut tidak saja memberi penjelasan tentang kekayaan Objek Pemajuan Kebudayaan Desa Cimekar, tetapi yang jauh lebih penting dari itu, mampu mendorong tampilnya Desa Cimekar sebagai Desa Pemajuan Kebudayaan, tidak hanya di Kecamatan Cileunyi akan tetapi juga pada tingkat Kabupaten dan Provinsi. Peluang ini cukup terbuka luas bila mengingat kekayaan Objek Pemajuan Kebudayaan yang dimiliki Kecamatan Cimekar. Dari 10 Objek Pemajuan Kebudayaan, Desa Cimekar memiliki kekayaan berupa delapan Objek Pemajuan Kebudayaan ditambah dengan cagar budaya.Abstract: The Object for the Advancement of Culture (OPK) is a keyword that can be used to measure the advancement of culture. This is explicitly explained in Law number 5 of 2017 concerning the Advancement of Culture. Thus, the promotion of the culture of an area in the district, city, province, or in other administrative areas that are under the regency and city, be it sub-districts, villages or sub-districts, can be measured or approached from the OPK profile they have, including the types of cultural promotion activities. owned, both with regard to preservation, development, utilization and development. This Community Service aims to inventory objects for the Advancement of Culture in Cimekar Village, Cileunyi District, Bandung Regency. The method is carried out from the preparation and inventory stages. The partner of this activity is Cimekar Village. The results of the inventory activity not only provides an explanation of the wealth of Cimekar Village Culture Advancement Objects, but far more important than that, it is able to encourage the appearance of Cimekar Village as a Cultural Advancement Village, not only in Cileunyi District but also at the District and Provincial levels. This opportunity is quite wide open when considering the wealth of Cultural Advancement Objects owned by the Cimekar District. Of the 10 objects for the promotion of culture, Cimekar Village has wealth in the form of eight objects for the promotion of culture plus cultural heritage.
Strategi Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Desa Lambangjaya Susianty Natalia Dewi; Reiza Dienaputra; Cecep Ucu Rakhman
Barista : Jurnal Kajian Bahasa dan Pariwisata Vol. 9 No. 1 (2022): Juni
Publisher : Unit Bahasa, Politeknik Pariwisata NHI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34013/barista.v9i01.394

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji potensi wisata dan strategi pengembangan wisata di Desa Lambangjaya. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian lainnya adalah lokasi penelitian yang diangkat merupakan lokasi penelitian yang belum pernah ditinjau dalam aspek pariwisata. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi yang dimiliki Desa Lambangjaya sebagai daya tarik pariwisata, serta strategi pengembangan pariwisata secara berkelanjutan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang memaparkan keadaan pariwisata di Desa Lambangjaya menggunakan analisis SWOT dengan mengkaji faktor internal dan eksternal. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara dan studi kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Desa Lambangjaya memiliki potensi pariwisata berbasis alam, budaya dan masyarakat. Strategi pengembangan Desa Lambangjaya yaitu menjaga kelestarian dan memanfaatkan potensi desa untuk dijadikan daya tarik wisata guna memikat kunjungan wisatawan. Stategi pengembangan Desa Lambangjaya lainnya juga dilihat dari aspek 3A (Atraksi, Aksesibilitas dan Amenitas); SDM, Masyarakat dan Industri; serta strategi pemasaran BAS (Branding, Advertising dan Selling).
Sintren as a Traditional Performing Art in Mirat Village Kartika, Nyai; Reiza D. Dienaputra; Susi Machdalena; Awaludin Nugraha; Agus S. Suryadimulya; Susi Yuliawati; Sriwardani, Nani
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 39 No 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v39i2.2551

Abstract

Sintren art is a traditional art that developed in almost all coastal areas of the island of Java. In Majalengka, sintren art developed in Mirat Village, Leuwimunding District. Sintren as a traditional art grew among rural communities that were becoming modern so sintren then survived as a traditional performing art that had an influence on the social life of the community. This research was carried out using qualitative research methods which are believed to be a scalpel in research so as to help explain the research object factually. Data collection techniques were carried out by direct observation and interviewing sources. The results of this research show that sintren in Mirat Village is not only a traditional art that was initially performed in ceremonies or rituals, but also a traditional performing art that can be performed during circumcision celebrations, weddings, and welcoming guests who come to the village. There has been a shift in sintren performances, currently sintren can be performed anytime and anywhere depending on the enthusiasm and demand of the community, because currently the values contained in this sintren performing art are no longer closely tied to a ceremony or ritual alone. Sintren art absorbs the cultural values of the community so Sintren performing arts have become part of the culture of the Mirat community.
Perubahan gunung kunci dari fungsi benteng pertahanan menjadi taman hutan raya, 1917-2023 Mutawally, Anwar Firdaus; Dienaputra, Reiza D.
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 14, No 1 (2024)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/ajsp.v14i1.16717

Abstract

Penelitian ini bertujuan menelusuri perkembangan fungsi benteng gunung kunci di Kabupaten Sumedang. Selama ini dikenal masyarakat karena unsur mistis, sehingga belum banyak yang mengetahui sisi historis maupun upaya konservasi alam. Diperlukan kajian ilmiah yang membahas gunung kunci dari segi sejarah maupun konservasi alam. Fokus penelitian adalah perkembangan gunung kunci mulai benteng pertahanan pada masa kolonial hingga menjadi taman hutan raya pada masa kemerdekaan. Metode sejarah digunakan dalam penelitian ini dengan empat tahap yakni heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Penulis mendapatkan data sejarah dari perpustakaan, lembaga kearsipan, sumber daring, lokasi benteng dan koleksi pribadi. Sumber penelitian dari dokumen, buku, jurnal, laporan penelitian, prasasti dan sumber lisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gunung kunci bermula sebagai benteng pertahanan pada 1917. Hal ini dilakukan sebagai bentuk preventif pemerintah kolonial untuk menghindari serangan dari luar atau pemberontakan. Perubahan fungsi benteng dari infrastruktur pertahanan. Di mulai sejak tahun 1960-an dengan utilisasi gunung kunci sebagai kawasan hutan produksi pinus. Sejak tahun 1977 menjadi objek wisata yang dibuka bebas untuk pengunjung. Pada tahun 2004, beserta Gunung Palasari ditetapkan statusnya menjadi taman hutan raya di Indonesia.
The Role of Stakeholders in Developing Agricultural Educational Tourism Attractions in Tegalsumedang Village, Bandung Regency Gusdi, Taqiy; D. Dienaputra , Reiza; Rakhman, Cecep Ucu
Barista : Jurnal Kajian Bahasa dan Pariwisata Vol. 11 No. 01 (2024): June
Publisher : Unit Bahasa, Politeknik Pariwisata NHI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34013/barista.v11i01.1565

Abstract

Tegalwisata Village is one of the villages located in Rancaekek District, Bandung Regency, West Java. This village has topographic and demographic potential that can be developed into tourism, with the development of tourism villages, the right stakeholders are needed so that the village can be developed effectively and efficiently. Agricultural educational tourism itself is explained as educational tourism that focuses on business activities in an organization that manages biological assets and sells and converts related things into agricultural products and other biological assets. This research seeks answers to the problem of stakeholder positions in tourism development. The Pentahelix Stakeholder method is used in identifying stakeholders who play a role in village development. This method reviews each role of stakeholders ranging from government, local entrepreneurs, communities, academics, and the media. This research is a qualitative study taken with observation and interview methods. The main result of this research discusses the position of each stakeholder in the development of tourism villages. This research shows that each stakeholder has performed their roles well. However, the roles recorded have not yet led to the tourism sector. The results of the research show that there needs to be direction to the tourism sector for each stakeholder in Tegalsumedang Village. In addition, human resource development and media stakeholder development to meet the needs of the media role in Tegalsumedang Village.
Co-Authors Abdul Rasyad Abdullah, Nabila Nurrahmadina Abdurrahman, Dida I. Acep Rahmat Agus Cahyana Agus S Suryadimulya Agus S. Suryadimulya Agus S. Suryadimulya Agus Suherman Suryadimulya Agus Suherman Suryadimulya Agusmanon Yunaidi Agusmanon Yunaidi Agusmanon Yuniadi Agustina Eka Putri Andi Arismunandar Andini, Mustika Anggiat Tornado Anggiat Tornado Anggiat Tornado, Anggiat Arovah, Eva Nur Aryanto, Peranciscus Asy'ari, Rifqi Asy'ari, Rifqi Awaludin Nugraha Ayu Septiani Bambang Hermanto Bambang Hermanto Bucky Wibawa Karya Guna Bucky Wibawa Karya Guna Budi Muljana Cecep Ucu Rakhman Dadang Sudrajat Dadang Sudrajat Dadang Suganda Deni Yana Dida I. Abdurrahman Doni Wahidul Akbar Dwi Agusta Ekawardhani, Yully Ambarsih Eldo Delamontano Emmy Sundari Eva Mardiyana Evi Novianti Evi Novianti Evi Novianti Evi Novianti Fajriasanti, Ruwaida Farida, Pingkan D Fauziah Hanum Fauziah Ismi Desiana Florenza, Lovinda Lusya Guna, Bucky Wibawa Karya Gusdi, Taqiy Harprianto, RM Anto Hazmirullah Aminuddin Hendrayana, Dian Hermanto, Bambang Heryadi Rachmat I Syarief Hidayat Imam Santosa Indar Buana Pradipta Kartika, N. kasiran, sugiarti Krishna Yuliawati, Ayu Kunkun Kurniawan Lukman, Kevin Muhamad Mas Dadang Enjat Munajat Mohammad Refi Omar Ar Razy Muhamad Adji Muhammad Rinaldy Syarifulloh Mulyadi, R M Mutawally, Anwar Firdaus N Kartika Nandang Rachmat Nany Ismail Niknik Dewi Pramanik NIKNIK DEWI PRAMANIK, NIKNIK DEWI Nina Herlina Lubis Nugraha, Muhamad Satria Nur Solihah Nyai Kartika Oktavia, Dina Pepen Efendi Peranciscus Aryanto Priani, Zalsa Az Zahra Prima Agustina Prima Agustina Mariamurti R. M. Mulyadi Rachmat, Nandang Raden Muhammad Mulyadi Rahman, Farid Asfari Rifki Rahmanda Putra Rifqi Asy’ari Rizkiyah, Nurul Farikhatir Roni Tabroni Roni Tabroni Rony Hidayat Rony Hidayat Sutisna Rusdin Tahir Rusdin Tahir Rusdin Tahir Sahabudin, Arfah Setiawan Sabana Setiawan Sabana Setiawan Sabana Sri Astuti Pratminingsih Sri R. Wardiani Sriwardani, Nani Sundari, Emmy Suryadimulya, Agus S Suryadimulya, Agus S. Susi Machdalena Susi Machdalena Susianty Natalia Dewi Sutisna, Rony Hidayat Syahrani, Tirana Devi Syifa Afifah Qalby Tahir, Rusdin Teddi Muhtadin Tita Juwita Titin Nurhati Ma'mun Titin Nurhayati Ma’mun U Sudjana Ute Lies Siti Khadijah Uud Wahyudin Wardiani, Sri R. Widyo Nugrahanto Witakania Sundasari Witakania Sundasari Som Withaningsih, Susanti Yan Yan Sunarya Yan Yan Sunarya Yasraf Amir Piliang Yuliawati, Susi Yully Ambarsih Ekawardhani Yustikasari Zahra, Izzatun Zakaria, Mumuh Muhsin Zhafarini, Ghaziana