p-Index From 2021 - 2026
8.222
P-Index
This Author published in this journals
All Journal E-Journal of Tourism Sosiohumaniora Indonesian Journal of Applied Linguistics (IJAL) Jurnal Pariwisata Pesona Paramita: Historical Studies Journal Harmonia: Journal of Research and Education BAHASA DAN SASTRA Journal of Indonesian Tourism and Development Studies Jurnal Master Pariwisata (JUMPA) Dharmakarya : Jurnal Aplikasi Ipteks Untuk Masyarakat Journal of Visual Art and Design JURNAL SOSIAL HUMANIORA (JSH) AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah Jurnal Sejarah Citra Lekha Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan MUDRA Jurnal Seni Budaya Panggung SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Journal of Islamic Architecture Al-Daulah : Jurnal Hukum dan Perundangan Islam Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Patanjala : Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan VISI : Jurnal Ilmiah Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal Jurnal Pariwisata Terapan JSM (Jurnal Seni Musik) Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Jurnal Penelitian Kehutanan Bonita Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Altasia : Jurnal Pariwisata Indonesia Titian: Jurnal Ilmu Humaniora Jurnal Inovasi Penelitian Atrat: Jurnal Seni Rupa JKTP Jurnal Ekonomi PARAHITA : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Journal of Mandalika Review Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Pariwisata Budaya: Jurnal Ilmiah Pariwisata Agama dan Budaya Barista : Jurnal Kajian Bahasa dan Pariwisata Masyarakat Pariwisata: Journal of Community Services in Tourism Panggung
Claim Missing Document
Check
Articles

Batik Pasiran: Wujud Kearifan Lokal Batik Kampung Pasir Garut Nyai Kartika; Reiza D. Dienaputra; Susi Machdalena; Awaludin Nugraha
PANGGUNG Vol 30, No 4 (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2445.017 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v30i4.1368

Abstract

Batik Pasiran merupakan wujud seni batik yang dihasilkan oleh masyarakat Kampung Pasir,Desa Cintakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut. Batik Pasiran tergolong batik yangbaru berkembang dan diperkenalkan oleh masyarakat Kampung Pasir. Batik tersebut memilikikeunikan dan nilai-nilai leluhur Kampung Adat Pasir, bentuk kearifan lokal masyarakatnya.Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan analisis budaya yang diharapkanmampu mengungkap dan menjabarkan bagaimana bentuk kearifan lokal yang dikiaskandalam Batik Pasiran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitiankualitatif yang akan membantu mengabstraksikan pertalian antara bentuk seni dalam hal inibatik dengan nilai-nilai kearifan lokal yang hidup di dalam budaya masyarakat KampungPasir. Hasil penelitian menjelaskan bahwa corak motif Pasiran menggambarkan kehidupanmasyarakat yang menyatu dengan alam. Dalam hal ini batik, bukan hanya sekedar hasil budaya,lebih jauh lagi makna dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya merupakan ungkapan daripengalaman empiris dan keseharian masyarakat yang membentuk satu kesatuan budaya.Kata Kunci: Batik, Pasiran, Kearifan Lokal
Reduplikasi Upacara Adat Bapelas Sebagai Simbol Kekuasaan Kerajaan Kutai Kartanegara Emmy Sundari; Reiza D Dienaputra; Awaludin Nugraha; Susi Yuliawati
PANGGUNG Vol 31, No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (740.195 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v31i3.1679

Abstract

Subjek penelitian ini adalah upacara adat Bapelas. Objek pembahasannya tentang pembacaansimbol-simbol kekuasaan di upacara adat Bapelas. Pembacaan simbol dilakukan dalam bentukreduplikasi dan pengamatan langsung struktur pelaksanaan upacara adat Bapelas. Pengkajianini dilakukan melalui pengumpulan data-data secara empiris, bersifat induktif, menggunakanmetode kualitatif dan analisis interpretatif. Reduplikasi upacara adat Bapelas merupakanpengulangan upacara ritual-sakral warisan leluhur secara turun-temurun dari tahun ke tahun.Upacara adat Bapelas menyimpan banyak simbol-simbol yang mencerminkan kekuasaansultan sebagai pemegang kekuasaan di Kerajaan Kutai. Namun sultan sendiri tidak memegangkekuasaan dan wewenang di masa pemerintahan Republik Indonesia. Kekuasaan dalampenelitian ini, hanya sebatas kekuasaan sultan sebagai pemegang kekuasaan adat di kerajaan.Kekuasaan dan wewenang hanya sebagai simbol legitimasi atau pengakuan bahwa KerajaanKutai Kartanegara sampai saat ini masih berdiri. Pemerintah Indonesia menjadikan Kerajaanini sebagai warisan budaya (kearifan lokal) dan pariwisata bagi kemajuan ekonomi, sosial, danpolitik Kutai Kartanegara .Kata Kunci: Bapelas, simbol, kekuasaan.
Rekonstruksi Sejarah Seni Dalam Konstruk Sejarah Visual Reiza D Dienaputra
PANGGUNG Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.953 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v22i4.64

Abstract

ABSTRACTArt History is a category of history writing that is rich with research object. This is along withthe width of art definition scope. In the most current development, the work of art history iseasier to find in the form of scientific work at university, either essay of undergraduate (skripsi),thesis, or dissertation. Observing the encouraging development, some efforts to make the arthistory work either more qualified or more interesting to be enjoyed are needed. One of theefforts can be taken is by reconstructing art history in the visual history construct.Reconstruction of art history in visual art construct requires the using of visual source as themain source of writing and visual history research method as the chosen method. By using themethod, the produced art history will be rich with visual fact, either moving pictures or staticones.Keywords: art history, visual history, visual sourceABSTRAKSejarah seni adalah sebuah kategori penulisan sejarah yang kaya dengan obyekpenelitian. Hal ini seiring dengan luasnya ruang lingkup definisi seni. Dalamperkembangan terbaru, karya sejarah seni lebih mudah ditemukan dalam bentukkarya ilmiah di universitas, baik tulisan para sarjana (skripsi), tesis, ataupun disertasi. Dalam mencermati perkembangan yang menggembirakan tersebut, diperlukan upaya- upaya untuk membuat karya sejarah seni yang lebih berkualitas dan lebih menarikuntuk dinikmati. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah denganmerekonstruksi sejarah seni dalam konstruk sejarah visual. Rekonstruksi sejarah senidalam konstruk sejarah visual memerlukan penggunaan sumber visual sebagai sumberutama penulisan sejarah dan metode penelitian visual sebagai metode yang dipilih. Dengan menggunakan metode ini, sejarah seni yang dihasilkan menjadi kaya akanfakta visual, baik gambar-gambar bergerak maupun gambar-gambar statis. Kata kunci: sejarah seni, sejarah visual, sumber visual
POTENSI WISATA RELIGI SERTA MAKNA ZIARAH DI GUNUNG SRANDIL KABUPATEN CILACAP Eva Mardiyana; Reiza D Dienaputra; Ayu Krishna Yuliawati; Evi Novianti; Ute Lies Siti Khadijah
Jurnal Inovasi Penelitian Vol 1 No 10: Maret 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47492/jip.v1i10.508

Abstract

Gunung Srandil, terletak di Desa Glempang Pasir, Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Kawasan Gunung Srandil memiliki wisata yang bernuansa keagamaan atau religius terdapat tempat untuk ziarah berupa dua makam prajurit Diponegoro bernama Kuncisari dan Danasari yang disebut makam Sukmasejati. Selain itu ada beberapa petilasan lainnya yaitu Syekh Jambu Karang atau Dampo Awang, Mbah Gusti Agung Heru Cokro Prabu atau Syekh Baribin, Eyang Sukma Sejati. Dewi Tunjung Sekarsari dan Kaki Tunggul Sabdo Jati Doyo atau Kyai Semar. Beberapa pelaku wisata religi berkunjung ke kawasan tersebut dengan tujuan berbeda-beda dan juga memaknai ziarah dengan kepercayaan masing-masing. Tujuan Penelitian yaitu mengambarkan wisata religi serta makna ziarah di Gunung Srandil. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif bersifat deskriptif dengan melakukan wawancara mendalam kepada beberapa pelaku wisata religi yang sedang melakukan ziarah di kawasan wisata religi Gunung Srandil, untuk menentukan narasumber menggunakan sampling purposive. Hasil penelitian bahwa wisata religi Gunung Srandil merupakan tempat keramat yang sudah ada sejak dahulu dan turun temurun dari leluhur. Kawasan ini dipercaya sebagai salah satu obyek wisata religi yang di kramatkan oleh kalangan masyarakat yang selalu mempercayainya secara turun-temurun. Makna wisata religi khususnya ziarah setiap individu tentu berbeda-beda. Menurut hasil wawancara bahwa beberapa tujuan datang adalah untuk berdoa dan meminta kepada Yang Maha Kuasa, mengadakan syukuran dan wayangan, serta untuk menenangkan diri dan mencari petunjuk dan memenangkan pemilu. Dengan berdatangngannya para pelaku wisata religi di kawasan Gunung Srandil diharapkan pengelola dapat menjaga tempat petilasan tersebut.
KAJIAN IDEOLOGI SENI RUPA 1990-AN: STUDI KASUS AGUS SUWAGE Anggiat Tornado; Dadang Suganda; Setiawan Sabana; Reiza D. Dienaputra
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 1, No 1 (2013): MEDIA DALAM BUDAYA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v1i1.398

Abstract

The new minset, which evolves in society, becomes the minset held by all member of society, including the artists. However, differences show up in the progressing minset. The artists as the social and cultural agent have their own way to provide solution towards the differences thrpugh their creative works. The ideology of arts in the 1990’s tends to voice the injustice happening in the society using aesthetic language, the artists give criticisms to all member of society, from the state to the artists themselves. The progress of visual arts in thw 1990’s can eventually be concluded as having it’s own from and theme; it expresses the artists ideas more than their works. Agus Suwage who starter his career s painter prefer painting as his from of expression. Those who have been helped through his from of campaign posters are non-govermental organizations (Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM) such as the Commission dor Disappearances and Victims of Violence Kontras (Komisi Nasional untuk Orang Hilang) and Indonesian. Legal Aid Foundation (LBHI/Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) in his process of creative works, Agus Suwage tends to make himself as part of problem. He obtains a lot of information from mass media that finally influences his aesthetis works.Keywords: Ideology, Art in The 1990’s
Sinkretisme pada Pertunjukan Seni Gamelan Koromong Kampung Cikubang Rancakalong Kabupaten Sumedang Rony Hidayat Sutisna; Dadang Suganda; Reiza D Dienaputra; Bucky Wibawa Karya Guna
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol 3, No 1 (2019): Gondang: Jurnal Seni dan Budaya, Juni 2019
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.898 KB) | DOI: 10.24114/gondang.v3i1.12789

Abstract

Tujuan artikel ini mendiskusikan tentang simbol-simbol sinkretisme dalam pertunjukan seni gamelan koromong yang berada di wilayah Kampung Cikubang Kabupaten Sumedang Jawa Barat. Melalui pendekatan desain riset kualitatif dengan metode studi kasus terhadap gejala atau fenomena yang terdapat pada seni gamelan koromong ini, dapat disimpulkan bahwa acara rutin yang dilaksanakan tiap tanggal 14 Maulud pada tahun Islam ini menunjukan adanya perpaduan antara konteks Sunda, Islam, dan Hindu. Konteks Sundanya tercermin dalam gambaran simbol-simbol peribadatan dengan pola-pola tertentu yang menyiratkan kuatnya kepercayaan terhadap sesuatu yang bersifat transendental. Dalam kegiatan yang sama, diyakini pula bahwa penanggalan Islam yang di pakai sekaligus memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Hal lainnya yang mewarnai proses sinkretisme dalam upacara ritual ini yaitu pemahaman terhadap animisme dan dinamisme dalam ajaran Hindu seperti mempercayai kekuatan benda dan hubungan dengan nenek moyang (karuhun). 
WÈWÈKAS DAN IPAT-IPAT SUNAN GUNUNG JATI BESERTA KESESUAIANNYA DENGAN AL-QUR’AN Eva Nur Arovah; Nina Herlina Lubis; Reiza Dienaputra; Widyo Nugrahanto
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 9, No 3 (2017): PATANJALA VOL. 9 NO. 3, SEPTEMBER 2017
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (946.197 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v9i3.309

Abstract

Tidak ada yang menyangsikan peran Sunan Gunung Jati sebagai salah satu sosok penting dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa khususnya. Pun, tidak ada yang menyangsikan kehebatannya dalam kancah politik tradisional, karena berhasil membawa Cirebon “merdeka” dari Kerajaan Sunda dan mendirikan Kerajaan Islam Cirebon. Dari sini Sunan Gunung Jati hadir sebagai raja dan sebagai wali, yang menguasai sebagian wilayah (yang sekarang) Jawa Barat sekaligus mengajak dan menyemangati sisi spiritual warganya dalam memeluk Islam. Salah satu wujud ajakan Sunan Gunung Jati tersebut tertuangkan dalam bentuk wèwèkas dan ipat-ipat (perintah dan larangan) atau nasehat yang berhubungan dengan persoalan agama, maupun persoalan sosial-kemanusiaan. Penelitian ini berusaha mengkaji bagian Pangkur naskah Cirebon yang berjudul Sejarah Peteng (Sejarah Rante Martabat Tembung Wali Tembung Carang Satus-Sejarah Ampel Rembesing Madu Pastika Padane) di mana didalamnya terdapat gambaran tentang wèwèkas dan ipat-ipat Sunan Gunung Jati serta mencari kesesuiannya dengan Al-Qur’an dan nilai-nilai kemanusiaan. Kata Kunci: wèwèkas, ipat-ipat, Sunan Gunung Jati, Al-Qur’an, Kemanusiaan
AKULTURASI BUDAYA SUNDA DAN JEPANG MELALUI PENGGUNAAN IGARI LOOK DALAM TATA RIAS SUNDA SIGER Fauziah Ismi Desiana; Reiza D. Dienaputra
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 1 (2019): PATANJALA Vol. 11 No. 1, MARCH 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.683 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i1.399

Abstract

Akulturasi budaya Jepang dan Sunda dalam bingkai tata rias Sunda Siger membuktikan bahwa tata rias tradisional dapat dikemas modern dalam balutan teknik Igari Look. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data didapatkan dari wawancara dengan make-up artist yang menggunakan teknik make-up Igari Look dalam tata rias Sunda Siger dan aktif mengunggah hasil tata riasnya dalam sebuah portofolio di Instagram. Akulturasi kebudayaan Sunda dan Jepang dalam tata rias Sunda Siger merupakan bukti bahwa masyarakat Sunda terbuka dengan situasi multikultural. Keberadaan Igari Look dalam bingkai tata rias Sunda Siger pada hakikatnya bukan bertujuan untuk memarjinalkan makna filosofis dan historis dalam setiap unsur tata rias Sunda Siger, namun proses inovasi dari make-up artist ini perlu dimaknai sebagai sumbangsih untuk menghidupkan kembali tata rias tradisional agar lebih diminati oleh kaum muda. Acculturation of Japanese and Sundanese culture in frame Sunda Siger cosmetology proves that traditional cosmetology can be filled with modern dressing in the Igari Look technique. This study uses qualitative methods using descriptive. Data collection was obtained from interviews with make-up artists who used the Igari Look make-up technique in the Sunda Siger makeup and actively uploaded the makeup results in a portfolio on Instagram. Acculturation of Sundanese and Japanese culture in Sundanese Siger makeup is proof that Sundanese society is open with multiculturalism. The existence of Igari Look in the Sunda Siger makeup frame in essence is not an agreement to marginalize philosophical and historical meanings in any Sundanese Siger makeup, the innovation process of this make-up artist needs to be interpreted as cleft of young people.
DINAMIKA PENGGUNAAN BANTENG DALAM LAMBANG PARTAI-PARTAI POLITIK (1955-1999): KAJIAN SEJARAH VISUAL Reiza D. Dienaputra
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 4, No 2 (2012): PATANJALA VOL. 4 NO. 2 JUNE 2012
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.196 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v4i2.138

Abstract

AbstrakKajian ini bertujuan untuk merekonstruksi penggunaan banteng sebagai elemen visual dalam lambang partai-partai politik yang berhasil meraih kursi DPR dalam Pemilu 1955 hingga Pemilu 1999. Berbagai permasalahan berkaitan dengan keberadaan banteng dalam lambang partai-partai politik diungkap, seperti dinamika visualisasi banteng, eksplanasi sejarah dan budaya, serta pengaruh sistem politik terhadap visualisasi banteng dalam lambang. Untuk menjawab permasalahan tersebut, digunakan metode sejarah, yang di dalamnya meliputi tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Sebagai sebuah kajian sejarah visual, sumber utama yang digunakan adalah lambang partai-partai politik. Selanjutnya, untuk menganalisispenggunaan banteng dalam lambang partai-partai politik digunakan pendekatan seni dan disain, pendekatan politik dan pendekatan kebudayaan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pengunaaan banteng sebagai elemen visual dalam lambang memiliki akar sejarah yang panjang. Secara budaya banteng pun merupakan binatang yang akrab dzengan banyak suku bangsa di tanah air. Sebagai elemen visual, penggunaan banteng dalam lambang partai politik  pada umumnya hanya digunakan oleh partai-partai politik beraliran nasionalis. Namun demikian, representasi visual banteng dalam lambang mengalami dinamika yang menarik, tidak hanya karena kebutuhan partai politik tetapi juga disebabkan pengaruh sistem politik yang berlaku. AbstractThis study aims to reconstruct the use of bulls as visual element in the symbols of political parties that were voted in the legislative (DPR) during 1955-1999 general election. The author reveals many dynamic use of bulls in political parties, including its visualization, historical and cultural explanation, and political system that influenced bull visualization on the symbols. The author conducts history method, covering critique, interpretation, and historiography. As a study of visual history, the research objects are the symbols of political parties. We approach the problem from many angles, including art and design, as well as political and cultural ones. The result finds that the use of bull as visual element in the symbol of political parties has a long root in the history of this country. Culturally, bulls are very familiar to many ethnic group in Indonesia, and generally they are used by nationalist parties. Nevertheless, visual representation of bulls has experienced an interesting dynamics: using bulls as symbol is not only for the benefit of certain political parties but it is also influenced by the political system applied at a certain time.
DISKRIMINASI RAS DALAM NOVEL SUNDA SRIPANGGUNG KARYA TJARAKA: ANALISIS DEKONSTRUKSI DERRIDA Nur Solihah; Reiza D. Dienaputra
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.767 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i3.397

Abstract

Novel “Sripanggung” karya Tjaraka memuat rekaan gambaran kehidupan masyarakat etnis Sunda di perkebunan teh yang hidup sebagai buruh kontrak dan hidup di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Belanda. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana gambaran perlakuan diskriminasi pemerintah kolonial Belanda terhadap pribumi, khususnya etnis Sunda yang saat itu dipandang sebagai masyarakat kelas bawah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pembacaan dekonstruksi,  di mana teks sastra berupa ujaran yang ada di dalam novel “Sripanggung” karya Tjaraka dianalisis untuk mengungkapkan tindakan diskriminasi yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda terhadap etnis Sunda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ujaran-ujaran teks sastra dalam novel “Sripanggung” karya Tjaraka memuat representasi tindakan diskriminasi berdasarkan ras yang dilakukan pihak kolonial Belanda terhadap kaum pribumi etnis Sunda sehingga memengaruhi perkembangan struktur sosial masyarakat Sunda kala itu.  Tjaraka’s “Sripanggung” novel portrays of Sundanese familie’s daily life as labor contract of tea plantation that owned the Dutch colonial government. This article purpose is to reveal the discriminatory treatment of the Dutch colonial goverment against indigenous people, especially Sundanese who were seen as a lower class society. By using deconstruction reading method. “Sripanggung” by Tjaraka’s is in a form of literary works and inside of it contain of speech that analyzed to reveal the discriminatory action of Dutch Colonial government against Sundanese people. The result showed, the speeches in the novel accomodate representation of discrimination act based racial by the Dutch Colonial government against indigenous Sundanese people that affected the development of social structure of sundanese at that time.
Co-Authors Abdul Rasyad Abdullah, Nabila Nurrahmadina Abdurrahman, Dida I. Acep Rahmat Agus Cahyana Agus S Suryadimulya Agus S. Suryadimulya Agus S. Suryadimulya Agus Suherman Suryadimulya Agus Suherman Suryadimulya Agusmanon Yunaidi Agusmanon Yunaidi Agusmanon Yuniadi Agustina Eka Putri Andi Arismunandar Andini, Mustika Anggiat Tornado Anggiat Tornado Anggiat Tornado, Anggiat Arovah, Eva Nur Aryanto, Peranciscus Asy'ari, Rifqi Asy'ari, Rifqi Awaludin Nugraha Awaludin Nugraha Awaludin Nugraha Awaludin Nugraha Awaludin Nugraha Awaludin Nugraha Ayu Septiani Bambang Hermanto Bambang Hermanto Bucky Wibawa Karya Guna Bucky Wibawa Karya Guna Budi Muljana Cecep Ucu Rakhman Dadang Sudrajat Dadang Sudrajat Dadang Suganda Dadang Suganda Dadang Suganda Deni Yana Dida I. Abdurrahman Doni Wahidul Akbar Dwi Agusta Ekawardhani, Yully Ambarsih Eldo Delamontano Emmy Sundari Eva Mardiyana Evi Novianti Evi Novianti Evi Novianti Evi Novianti Fajriasanti, Ruwaida Farida, Pingkan D Fauziah Hanum Fauziah Ismi Desiana Florenza, Lovinda Lusya Guna, Bucky Wibawa Karya Gusdi, Taqiy H. Dadang Suganda H. Dadang Suganda, H. Dadang Harprianto, RM Anto Hazmirullah Aminuddin Hendrayana, Dian Hermanto, Bambang Heryadi Rachmat I Syarief Hidayat Imam Santosa Indar Buana Pradipta Kartika, N. kasiran, sugiarti Krishna Yuliawati, Ayu Kunkun Kurniawan Lukman, Kevin Muhamad Mas Dadang Enjat Munajat Mohammad Refi Omar Ar Razy Muhamad Adji Muhammad Rinaldy Syarifulloh Mulyadi, R M Mumuh Muhsin Zakaria Mutawally, Anwar Firdaus N Kartika Nandang Rachmat Nany Ismail Niknik Dewi Pramanik NIKNIK DEWI PRAMANIK, NIKNIK DEWI Nina Herlina Lubis Nina Herlina Lubis Nugraha, Awaludin Nugraha, Awaludin Nugraha, Muhamad Satria Nur Solihah Nyai Kartika Oktavia, Dina Pepen Efendi Peranciscus Aryanto Priani, Zalsa Az Zahra Prima Agustina Prima Agustina Mariamurti R. M. Mulyadi Rachmat, Nandang Raden Muhammad Mulyadi Rahman, Farid Asfari Rifki Rahmanda Putra Rifqi Asy’ari Rizkiyah, Nurul Farikhatir Roni Tabroni Roni Tabroni Rony Hidayat Rony Hidayat Sutisna Rusdin Tahir Rusdin Tahir Rusdin Tahir Sahabudin, Arfah Setiawan Sabana Setiawan Sabana Setiawan Sabana Sri Astuti Pratminingsih Sri R. Wardiani Sriwardani, Nani Sundari, Emmy Suryadimulya, Agus S Suryadimulya, Agus S. Susi Machdalena Susi Machdalena Susianty Natalia Dewi Sutisna, Rony Hidayat Syahrani, Tirana Devi Syifa Afifah Qalby Tahir, Rusdin Teddi Muhtadin Tita Juwita Titin Nurhati Ma'mun Titin Nurhayati Ma’mun U Sudjana Ute Lies Siti Khadijah Uud Wahyudin Wardiani, Sri R. Widyo Nugrahanto Witakania Sundasari Witakania Sundasari Som Withaningsih, Susanti Yan Yan Sunarya Yan Yan Sunarya Yasraf Amir Piliang Yuliawati, Susi Yully Ambarsih Ekawardhani Yustikasari Zahra, Izzatun Zhafarini, Ghaziana