Claim Missing Document
Check
Articles

QIRĀ’AH RIWAYAT AL-KISĀ’I Rahmi Damis
Jurnal Tafsere Vol 4 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1019.339 KB)

Abstract

Hamzah ibnu Habib al-Zayyat dan al-Kisā’i merupakan salah seorang Imam qirā’at sab’ah yang fasih dan dabit, berasal dari Kufah. Periwayatnya ada dua: Pertama, Abū al-Haris. Ia terpercaya, cerdas, teliti, dabit. siqah dan menguasai bacaan al-Kisā’i. Kedua Al-Dūri. Ia terpercaya dalam qirā’at, konsisten dan akurat, akan tetapi tidak hanya berguru pada al-Kisā’i, melainkan juga kepada yang lain yakni ‘Abū ‘Amr, sehingga bacaannya terkadang berbeda dengan al-Kisā’i. Penerapan qirā’at al-Kisā’i dalam al-Qur’an secara garis besar terlihat pada kaidah umum dan kaidah khusus. Kaidah umum meliputi mim jāma’, ha kināyah, izhār dan idgām serta imālah kubrā. Sedang kaidah khusus meliputi farsy al-huruf.
KAIDAH QIRA'AH ABU AL-HASAN AL-KISA'I Rahmi Damis
Jurnal Tafsere Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.01 KB)

Abstract

Hamzah ibnu Habib al-Zayyat dan al-Kisa'i merupakan salah seorang Imam qira'ah sab’ah yang fasih dan dabit, berasal dari Kufah. Periwayatnya ada dua: Pertama, Abu al-Haris. Ia terpercaya, cerdas, teliti, dabit, tsiqah dan menguasai bacaan al-Kisa'i. Kedua Al-Dūri. Ia terpercaya dalam qira’ah, konsisten dan akurat, akan tetapi tidak hanya berguru pada al-Kisa'i, melainkan juga kepada yang lain yakni ‘Abu ‘Amr, sehingga bacaannya terkadang berbeda dengan al-Kisa'i. Penerapan Qira'ah al-Kisa'i dalam al-Qur’an secara garis besar terlihat pada kaidah umum dan kaidah khusus. Kaidah umum meliputi mim jama’, ha kinayah, izhar dan idgam serta imalah kubra. Sedang kaidah khusus meliputi farsy al-hurup.
Komunikasi Sebagai Interaksi Sosial dengan Non Muslim Dalam Alquran Hapsah Hafid; Mardan Mardan; Rahmi Damis; Asriadi Asriadi
RETORIKA : Jurnal Kajian Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Retorika
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Sinjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/retorika.v5i1.1617

Abstract

Interaksi social berarti tindakan(action) yang berbalasan antar individu atau antar kelompok. Tindakan saling memengaruhi ini seringkali dinyatakan dalam bentuk symbol-simbol atau konsep-konsep. Secara sederhana komunikasi dapat dikatakan sebagai proses interaksi maupun proses perubahan social yang lebih baik, dan pada prinsipnya melalui kegiatan komunikasi yang kita bangun diharapkan mampu memunculkan proses interaksi maupun perubahan social bagi masyarakat baik muslim dan non muslim.Islam adalah agama universal yang ajarannya ditujukan kepada umat manusia secara keseluruhan. Inti ajarannya selain memerintahkan kepada penegakan keadilan dan mengeliminasi kedzaliman, juga meletakkan pilar-pilar perdamaian yang diiringi dengan himbauan kepada umat manusia agar hidup dalam suasana persaudaraan dan toleransi tanpa memandang perbedaan ras. Interaksi sosial dibangun atas dasar nilai persamaan toleransi, keadilan, kemerdekaan dan persaudaraan. Nilai-nilai al-Ikhwah alInsaniyah tersebut idealnya untuk menjadi landasan utama membangun interaksi sosial dalam kemajemukan demi mewujudkan perdamaian abadi di muka bumi secara seluruhnya dan di Indonesia khususnya. Interaksi sosial muslim kepada nonmuslim adalah sikap saling menghargai dan menghormati dalam urusan sosial kemasyarakatan yang didasarkan kepada nilai-nilai luhur yang bersumber dari ajaran alQuran dan al-hadits (agama Islam). Nilai-nilai tersebut adalah saling mengenal (memahami), membangun budaya kompromi, berbuat baik, berperilaku adil dan saling membantu, regulasi tertulis (dokumen) yang menunjukkan komitmen dan konsisten serta persamaan dalam arti yang seadil-adilnya. Nilai-nilai tersebut direkomendasikan untuk menjadi landasan dalam menangani masalah multikultur, multiagama, multibahasa, multibangsa atau kehidupan yang plural secara umum. Kata Kunci: Komunikasi, Interaksi Sosial
Environmental Theology and Its Relevance to Islamic Law: Perception of Makassar Muslim Scholars, Indonesia Latif, Muhaemin; Hanafi, Darmawati; Damis, Rahmi; Goncing, Abdi
Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam Vol 7, No 3 (2023): Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/sjhk.v7i3.18905

Abstract

This article discusses environmental theology with Islamic law from the perspective of scholars and scholars in Makassar City, South Sulawesi. The research uses qualitative methods with a theological approach and Islamic law as an analytical tool. Theology is used to analyze Islamic concepts of the environment as opposed to Islamic law. In obtaining the data, researchers interviewed religious figures who became role models for the people of Makassar, in addition to using literature study techniques. The results showed that Makassarese Muslim scholars are well aware that environmental theology is an alternative solution to overcome the environmental crisis. They believe that the two main sources of Islam, the Quran and Hadith, pay great attention to the protection and maintenance of the environment. Similarly, Prophet Muhammad PBUH is the best example among leaders who care deeply about the environment. Furthermore, this study also concludes that first, environmental theology is a theology that not only discusses man's relationship with God but also discusses man's relationship with social, cultural, environmental, and social reality. Environmental theology focuses on the extent of human concern for nature and the environment. Second, the foundation of environmental theology can be traced from two main sources of Islam, namely the Qur'an, and Hadith. The Qur'an pays great attention to the protection and preservation of the environment. Likewise, Prophet Muhammad PBUH, in his various traditions also emphasized the importance of protecting and maintaining the environment. Third, environmental theology is closely related to Islamic law specifically ecological fiqh, which focuses on practical explanations of how to protect the environment. If environmental theology is oriented towards philosophical foundations in environmental conservation, then Islamic law requires the importance of protecting the environment as a benefit for humans and nature.
IMPLEMENTASI SUFISTIK DALAM AJARAN ANNANG GURU POCCI DI POLEWALI MANDAR SULAWESI BARAT Damis, Rahmi; Nurbaethy, Andi
Aqidah-ta: Jurnal Ilmu Aqidah Vol 7 No 2 (2021)
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/aqidahta.v7i2.54254

Abstract

Pengamalan keagamaan yang dipraktekkan oleh masyarakat, khususnya para ulama tokoh masyarakat yang menjadi guru, banyak yang mengandung praktek kesufian sekalipun tidak menamakan diri mereka sebagai sufi, seperti yang dilakukan oleh salah seorang tokoh di Polewali Mandar yakni Annang Guru Pocci, sehingga perlu dikaji ajarannya untuk mengetahui implementasi tasawuf di dalamnya. Metode yang digunakan dalam mengumpulkan data yang diperlukan adalah melalui wawancara dan observasi, karena jenis penelitian ini adalah diskriptif kualitatif. Adapun Hasil penelitian Annang Guru Pocci memiliki ajaran yang bernuansa sufistik seperti; Masalah keimanan yang meyakini semua yang terdapat dalam rukun Iman. Masalah ibadah adalah semua ibadah yang diwajibkan harus dilaksanakan. Secara khusus Annang Guru Pocci memiliki ajaran shalat yang cepat untuk shalat sunnat. Zikir (Zikir tubuh, lailahaillallah, Zikir nyawa, allah, Zikir hati, hu, Zikir rahasia, ah) dan pandangan tentang Manusia memiliki unsur lahir (Hati, Nyawa, Rahasia, Syariat, Hakikat, Ma’rifah) dan bathin (Ahadiyah, Wahdah, Wahidiyah, Alam Arwah, Alam Misal, Alam ajsam, Alam Insan). Pelaksanaan ajaran Annang Guru Pocci dilakukan secara; Syari’at, Tarekat dan Hakikat. Walaupun tidak dijelaskan oleh pengikut Annang Guru Pocci terkait dengan tujuan yang akan dicapai dalam ajarannya, akan tetapi pada umumnya dalam tarekat bertujuan untuk mencapai Ma’rifatullah.
Implementasi Moderasi Beragama: Studi Penganut Tarekat Mu’tabarah di Kota Makassar Damis, Rahmi; Nurbaethy, Andi; Ibrahim, Ibrahim; Darwin, Darwin
AL-MUTSLA Vol. 6 No. 2 (2024): Jurnal Al Mutsla
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v6i2.1351

Abstract

The research question explored in this exploration is ‘How is religious moderation implemented among followers of the Mu'tabarah Tariqah (authorized sufistic schools) in Makassar City? Data collection methods employed in this exploration comprise interview and observation, in addition to documents or literature related to the subject discussed. As for the approach, this inquiry applies philosophical and phenomenological approaches. Research findings indicate that religious moderation in the view of Mu’tabarah Tariqah followers means an attitude that accepts all differences, both in terms of beliefs and culture, by prioritizing justice, tasamuh (toleration) and tawazun (balance). Implementation of religious moderation comes to forms with ground principles comprising: 1). Tolerance is a basic teaching of Islam, which respects different religious beliefs and understandings as humans are essentially the same and equally come from God. In this sense harming or despising those with different religious beliefs is equivalent to harming or despising one’s own self. 2). Social service is carried out as a form of awareness as God’s creatures who must share and love each other. It is performed in the month of Ramadan and the Ied festival (Ied al-Qurban), or even at any time when someone needs help, for humans are essentially brothers who help each other. 3) Be religious with love, that is, religious teachings are carried out based on love, since all beings are God’s creation, and they must live side by side peacefully and full of love. The implementation of religious moderation among adherents of the Mu'tabarah Tariqah results in: a) creating peace in society, b) increasing bonds of brotherhood among human beings, even among fellow creatures, who will live in harmony and peace despite their different cultures and beliefs. Other words, the bonds of friendship between fellow creatures will be well established.
Gender, Sufism, and Qur’anic Exegesis: Perceptions of Women’s Leadership within Sufi Orders in South Sulawesi Damis, Rahmi; Nurbaethy, Andi; Arsyad, Aisyah; Matsyah, Ajidar; Lahmuddin, Fakhruddin
Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam Vol 9, No 1 (2025): Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/sjhk.v9i1.26145

Abstract

This study focuses on two key areas: the interpretation of Qur’anic verses regarding women’s leadership and its implementation within Sufi orders (tariqa) in South Sulawesi. The central question explored is how Sufi orders interpret these verses through a gender lens. To answer this question, a qualitative methodology employing interpretive and gender studies approaches was used. Data were collected through interview and literature review. The results of the research show that the perceptions of tarekat followers in South Sulawesi regarding the interpretation of verses regarding women's leadership in the public sphere. Some interpretations, based on Surah At-Tawbah [9:71], allow for women’s leadership by defining “awliya” as leaders, allies, and advisors, suggesting that both men and women can assume leadership roles if they possess the necessary competencies. Conversely, others, citing Surah An-Nisa’ [4:34], restrict women’s leadership. However, a closer examination indicates that Surah At-Tawbah [9:71] is a more general verse, while Surah An-Nisa’ [4:34] is context-specific, referring primarily to domestic matters. The implementation of leadership within Sufi orders is generally not at odds with these interpretations. In the public sphere, women have equal rights to men, including the right to vote and be elected. Moreover, there is no gender distinction in the concept of becoming a waliyullah, as exemplified by Rabi’ah al-Adawiyah. However, women have not yet assumed the role of murshid (spiritual guide) within Sufi orders due to several factors, including the historical precedent of male prophets and the physical and spiritual demands of the role. However, from a gender perspective,  women often hold the position of khalifah (spiritual deputy) assisting the murshid in teaching and even coordinating regional activities.
Komunikasi Sebagai Interaksi Sosial dengan Non Muslim Dalam Alquran Hafid, Hapsah; Mardan, Mardan; Damis, Rahmi; Asriadi, Asriadi
RETORIKA : Jurnal Kajian Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Retorika
Publisher : LP2M Universitas Islam Ahmad Dahlan Sinjai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/retorika.v5i1.1617

Abstract

Interaksi social berarti tindakan(action) yang berbalasan antar individu atau antar kelompok. Tindakan saling memengaruhi ini seringkali dinyatakan dalam bentuk symbol-simbol atau konsep-konsep. Secara sederhana komunikasi dapat dikatakan sebagai proses interaksi maupun proses perubahan social yang lebih baik, dan pada prinsipnya melalui kegiatan komunikasi yang kita bangun diharapkan mampu memunculkan proses interaksi maupun perubahan social bagi masyarakat baik muslim dan non muslim.Islam adalah agama universal yang ajarannya ditujukan kepada umat manusia secara keseluruhan. Inti ajarannya selain memerintahkan kepada penegakan keadilan dan mengeliminasi kedzaliman, juga meletakkan pilar-pilar perdamaian yang diiringi dengan himbauan kepada umat manusia agar hidup dalam suasana persaudaraan dan toleransi tanpa memandang perbedaan ras. Interaksi sosial dibangun atas dasar nilai persamaan toleransi, keadilan, kemerdekaan dan persaudaraan. Nilai-nilai al-Ikhwah alInsaniyah tersebut idealnya untuk menjadi landasan utama membangun interaksi sosial dalam kemajemukan demi mewujudkan perdamaian abadi di muka bumi secara seluruhnya dan di Indonesia khususnya. Interaksi sosial muslim kepada nonmuslim adalah sikap saling menghargai dan menghormati dalam urusan sosial kemasyarakatan yang didasarkan kepada nilai-nilai luhur yang bersumber dari ajaran alQuran dan al-hadits (agama Islam). Nilai-nilai tersebut adalah saling mengenal (memahami), membangun budaya kompromi, berbuat baik, berperilaku adil dan saling membantu, regulasi tertulis (dokumen) yang menunjukkan komitmen dan konsisten serta persamaan dalam arti yang seadil-adilnya. Nilai-nilai tersebut direkomendasikan untuk menjadi landasan dalam menangani masalah multikultur, multiagama, multibahasa, multibangsa atau kehidupan yang plural secara umum. Kata Kunci: Komunikasi, Interaksi Sosial
Penciptaan Bumi dalam Al-Qur'an (Kajian Epistemologis Ayat-Ayat Kauniyah) Hatmin, Gunawan; Mahfudz, Muhsin; Damis, Rahmi
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 3, No 1 (2025): February
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.14749615

Abstract

Penelitian ini dirumuskan untuk mengkaji penciptaan Bumi dalam Al-Qur’an melalui pendekatan epistemologis ayat-ayat kauniyah. Fokus utama penelitian ini adalah untuk menyelami makna penciptaan Bumi yang terdapat dalam ayat-ayat kauniyah, serta memahami kerangka epistemologis filosofis dari ayat-ayat tersebut. Penelitian ini menggunakan metode pustaka dengan pendekatan deskriptif, ilmu tafsir, dan filsafat. Data penelitian diperoleh melalui teknik menyadur, mengutip, dan menganalisis literatur yang relevan dengan topik pembahasan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penciptaan Bumi dalam Al-Qur’an tidak hanya dipahami sebagai peristiwa fisik, tetapi juga memiliki dimensi teologis, kosmologis, dan metafisik, yang mencakup tahapan-tahapan tertentu seperti penyatuan awal, pemisahan langit dan Bumi, serta penyempurnaan ciptaan dengan aturan yang harmonis. Selain itu, penelitian ini juga menegaskan urgensi penciptaan Bumi sebagai tempat tinggal manusia dan sebagai medan ujian spiritual untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah. Fenomena alam seperti pergantian siang dan malam serta siklus kehidupan menjadi sarana refleksi akan kebesaran Allah swt. Implikasi penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih dalam terhadap proses penciptaan dan memperkaya pemahaman keagamaan pembaca tentang ajaran Al-Qur’an.
Al-Qur’an dan Hak Milik: Perspektif Kepemilikan Individu dan Sosial Rahmat; Achmad Abu bakar; Rahmi Damis
Al Iman: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 8 No. 2 (2024): Al-Iman Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan
Publisher : STID Raudlatul Iman Sumenep

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the concept of property rights in the Qur'an through the perspective of individual and social ownership. The type of research used is qualitative which adopts thelibrary research method. The results show that property rights are the authority given to a person to own, manage, and utilize property with the freedom regulated by sharia. Allah established property rights as a means to fulfill the personal and social needs of humans collectively. True ownership (hakiki) belongs to Allah as the Creator and Ruler of all things, while humans only have majazi rights, namely as managers who are given the mandate to utilize property according to His will. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep hak milik dalam al-Qur’an melalui prespektif kepemilikan individu dan sosial. Adapun jenis penelitian yang digunakan yaitu kualitatif yang mengadopsi metode penelitian kepustakaan (library research). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hak milik merupakan kewenangan yang diberikan kepada seseorang untuk memiliki, mengelola, dan memanfaatkan harta benda dengan kebebasan yang diatur oleh syariat. Allah menetapkan hak milik sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial manusia secara kolektif. Kepemilikan sejati (hakiki) adalah milik Allah sebagai Pencipta dan Pengatur segala sesuatu, sementara manusia hanya memiliki hak majazi, yakni sebagai pengelola yang diberi amanah untuk memanfaatkan harta sesuai kehendak-Nya.