Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS TINGKAT KECERNAAN PAKAN DAN LIMBAH NITROGEN (N) BUDIDAYA IKAN BANDENG SERTA KEBUTUHAN PENAMBAHAN C-ORGANIK UNTUK PENUMBUHAN BAKTERI HETEROTROF (BIOFLOK) Usman Usman; Neltje Nobertine Palinggi; Enang Harris; Dedi Jusadi; Eddy Supriyono; Munti Yuhana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.627 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.3.2010.481-490

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kecernaan pakan dan beban limbah nitrogen (N) dan karbon organik (C) pada pembesaran ikan bandeng untuk dijadikan acuan penumbuhan bakteri heterotrof (bioflok). Pakan uji yang digunakan adalah pakan komersial yang memiliki kadar protein berbeda yaitu 17%, 21%, dan 26%. Pakan tersebut digiling ulang, lalu ditambahkan kromium oksida (Cr2O3) sebagai indikator kecernaan. Untuk menentukan total limbah N termasuk ekskresi amonia, dilakukan juga pemeliharaan ikan bandeng selama 45 hari dan menghitung retensi N. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecernaan ketiga pakan tersebut tidak berbeda nyata yaitu antara 77,2%-78,2% untuk bahan kering; 88,6%-90,0% untuk protein; dan 81,6%-83,1% untuk C-organik. Namun total limbah N per 100 g pakan yang masuk ke perairan meningkat secara nyata dengan meningkatnya kadar protein pakan yaitu 2,27 g N untuk pakan berprotein 17%; 2,76 g N untuk pakan berprotein 21%; dan 3,28 g N untuk pakan berprotein 26%. Untuk mengkonversi limbah N dari budidaya bandeng ini menjadi bakteri heterotrof (bioflok), diperlukan aplikasi C-organik sebanyak 22,7 g; 27,6; dan 33 g per 100 g pakan berturut-turut untuk pakan yang berprotein 17%, 21%, dan 26%.This experiment was conducted to analyze the feed digestibility and nitrogen (N) waste of milk fish grow-out and assessment of organic-C addition to promote heterotrophic bacteria (biofloc). The three commercial diets were used containing different protein levels i.e. (A) 17%, (B) 21%, and (C) 26%. Chromic oxide was used as the digestibility marker. To assess the total nitrogen waste, the milk fish with initial weight of 48 g/fish were reared for 45 days and the protein retention was calculated. The results showed that the apparent digestibility of the all three tested diets was not significantly different (>0.05) i.e. 77.2%-78.2% for dry matter, 88.6%-90% for protein, and 81.6%-83.1% for organic-C. However, the total nitrogen waste per 100 g of feed released to the waters tended to increase with the increase of protein content of the feed, i.e. 2.27g N for 17% of diet protein content; 2.76 g N for 21% of diet protein content, and 3.28 g N for 26% of diet protein content. Conversion of the total N waste of milk fish grow-out to promote heterotrophic bacteria needed additional organic-C of 22.7 g; 27.6 g; 33 g per 100 g of feed which have 17%, 21%, and 26% protein contents.
PENGARUH BERBAGAI RASIO ENERGI PROTEIN PADA PAKAN ISO PROTEIN 30% TERHADAP KINERJA PERTUMBUHAN BENIH IKAN PATIN (Pangasius hypophthalmus) Mas Bayu Syamsunarno; Ing Mokoginta; Dedi Jusadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.58 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.1.2011.63-70

Abstract

Tujuan percobaan ini adalah untuk menentukan rasio energi protein optimum yang menghasilkan pertumbuhan maksimum benih ikan patin (Pangasius hypophthalmus). Percobaan menggunakan 5 (lima) pakan iso protein dengan rasio energi protein berbeda, yaitu: 8,5; 9,0; 9,5; 10,0; dan 10,5 kkal DE/g protein. Benih patin berukuran 1,84±0,02 g ditebar secara acak ke dalam 15 akuarium (50 cm x 40 cm x 35 cm) dengan kepadatan 20 ekor per akuarium. Benih ikan patin tersebut diberi pakan uji dua kali sehari sekenyangnya (satiation) selama 40 hari. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kandungan protein tubuh tertinggi dihasilkan oleh pakan dengan rasio energi protein 9,0 kkal DE/g protein, sedangkan lemak tubuh terendah dicapai oleh perlakuan 8,5 kkal DE/g protein. Namun, protein karkas adalah sama untuk perlakuan 8,5–9,5 kkal DE/g protein dan kandungan lemak karkas terendah dicapai oleh 8,5 kkal DE/g protein. Konsumsi pakan, retensi protein, dan pertumbuhan tertinggi dihasilkan oleh pakan dengan rasio energi protein 9,0 kkal DE/g protein (P<0,05) dan konversi pakan tidak berbeda nyata antar perlakuan (P>0,05). Oleh karena itu, kandungan optimum rasio energi protein 9,0 kkal DE/g protein memberikan pertumbuhan tertinggi pada benih ikan patin
EVALUASI KECERNAAN PAKAN, KANDUNGAN GOSSYPOL DAN ASAM SIKLOPROPENOAT DALAM ORGAN, DAN PERTUMBUHAN IKAN MAS YANG DIBERI FORMULASI PAKAN DENGAN KANDUNGAN TEPUNG BIJI KAPUK BERBEDA O.D. Subakti Hasan; Enang Harris; M. Agus Suprayudi; Dedi Jusadi; Eddy Supriyono
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 1 (2013): (April 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.884 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.1.2013.97-107

Abstract

Biji kapuk memiliki potensi sebagai bahan baku lokal pakan ikan karena ketersediaannya dan mengandung protein dan asam lemak linoleat yang cukup tinggi, namun juga mengandung zat antinutrisi gossypol dan asam siklopropenoat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan tepung biji kapuk ini dalam pakan terhadap kecernaan pakan, gambaran darah, dan kinerja pertumbuhan ikan mas. Hewan uji yang digunakan adalah ikan mas berukuran 5 g, yang dipelihara dalam akuarium kaca berukuran 80 cm x 50 cm x 40 cm dengan kepadatan 20 ekor/akuarium. Perlakuan yang dicobakan adalah pakan uji yang mengandung tepung biji kapuk berbeda yaitu 0%,10%, 20%, 30%, 40%, dan 50% bahan kering. Ikan diberi pakan uji secara satiasi tiga kali sehari selama 60 hari. Hasil penelitian menunjukkan perbedaankadar tepung biji kapuk dalam pakan memberikan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan ikan dan pemanfaatan pakan. Laju pertumbuhan harian, efisiensi pakan, retensi protein, dan lemak menurun dengan meningkatnya kandungan tepung biji kapuk dalam pakan. Aktivitas enzim pencernaan dan koefisien kecernaan pakan juga menurun dengan meningkatnya kandungan tepung biji kapuk dalam pakan. Peningkatan tepung biji kapuk dalam pakan meningkatkan kandungan gossypol dalam darah, hati, dan ginjal ikan mas, dan selanjutnya menurunkan kecernaan dan pemanfaatan nutrien pakan bagi pertumbuhan ikan mas. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kandungan biji kapuk 7 10% memperlihatkan pertumbuhan terbaik.
PENUMBUHAN BIOFLOK DALAM MEDIA BUDIDAYA IKAN BANDENG Usman Usman; Enang Harris; Dedi Jusadi; Eddy Supriyono; Munti Yuhana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (April 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.224 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.1.2011.41-50

Abstract

Bioflok merupakan agregat campuran heterogen mikroba yang diinisiasi oleh bakteri heterotrof dan memiliki nutrisi yang cukup baik yang dapat dimanfaatkan sebagai makanan oleh beberapa jenis ikan. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi metode menumbuhkan bioflok dalam media budidaya ikan bandeng intensif. Penumbuhan bakteri heterotrof dilakukan dengan mempertahankan keseimbangan rasio Karbon/Nitrogen (C/N) sebesar 10 dalam media budidaya. Sumber nitrogen berasal dari limbah 40 ekor ikan bandeng (bobot rata-rata 75 g/ekor) yang dipelihara dalam bak fibre glass berisi air bersalinitas 25 ppt sebanyak 625 L. Ikan uji diberi pakan komersial dengan kadar protein 26%. Molase digunakan sebagai sumber Corganik. Perlakuan yang dicobakan adalah: (A) tanpa inokulasi bakteri heterotrof (0 cfu/mL), (B) inokulasi bakteri heterotrof sebanyak 102 cfu/mL, (C) inokulasi bakteri heterotrof sebanyak 104 cfu/mL, dan (D) inokulasi bakteri heterotrof sebanyak 106 cfu/mL. Hasil percobaan selama masa 30 hari menunjukkan bahwa penambahan inokulasi bakteri heterotrof sebanyak 106 cfu/mL cenderung lebih meningkatkan laju konversi limbah N menjadi bioflok dibandingkan jumlah inokulasi bakteri yang lebih rendah dan kontrol. Indikator utamanya dapat dilihat dari pola penurunan konsentrasi TAN dan peningkatan VSS. Penambahan inokulasi bakteri heterotrof (Bacillus sp.) cenderung meningkatkan kandungan asam amino bioflok
Development of Siganid (Siganus guttatus) larvae during the transition period Darsiani Darsiani; Mia Setiawati; Dedi Jusadi; Muhammad Agus Suprayudi; Asda Laining
Depik Vol 11, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.223 KB) | DOI: 10.13170/depik.11.1.22296

Abstract

Siganid is better known as rabbit fish. In hatcheries, constraint that is still faced is the low survival, which was assumed to occur because of the timing for initial feeding is not solidly known. This research aimed to examine the best initial feeding time for siganus, based on evaluation on eyes and yolk reserves during the transition. The research was conducted from 24-29 March 2021 in IPUW Barru, South Sulawesi. Larvae were obtained from the second progeny (G2) of domesticated Siganus guttatus. Larvae were reared for 5-6 days without feeding. Evaluated parameters include eyes diameter and yolk reserves. Samples were observed with microscope and will be explained descriptively. Water quality parameters were measured, namely DO, salinity, pH and temperature. Eyes diameter at 6 Hour After Hatching (HAH) ranges between 81.5-128.9 µm, 13 HAH= 125.5-167.7 µm, 24 HAH= 138.2-213.9 µm, two days after hatching 2 Day After Hatching (DAH) = 113.6-193.1 µm, 3 DAH= 163.1-219.2 µm, 4 DAH= 190.4-212.6 µm. Yolk reserves diameter ranged between 137-194µm (6 HAH), 13 HAH= 152-191µm, 24 HAH= 94.0-185µm, 2 DAH= 75.3-99.63µm, 3 DAH= 42.33-87.58µm, 4 DAH= 38.17-55.59µm. After age 5 DAH, there are no larvae found alive (dead). Eyes developed at age 6 HAH and experienced pigmentation at age 24 HAH. Conversely, yolk reserves diameters were getting smaller since age 24 HAH and completely disappear at age 4 DAH. It indicates that eyes effectively see feeds at age 2 DAH. Therefore, initial feeding should be started. The water quality parameters measured were still in normal conditions according to the life of S. guttatus larvae. From this research, it can be concluded that eyes have been well functioned at age 2 DAH and yolk reserves was finished at age 4 DAH. Therefore, the initial feeding should be done at the age of 2 DAH.Keywords:Development, Siganus guttatus larvae,Transition
Development of Siganid (Siganus guttatus) larvae during the transition period Darsiani Darsiani; Mia Setiawati; Dedi Jusadi; Muhammad Agus Suprayudi; Asda Laining
Depik Vol 11, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.11.1.22296

Abstract

Siganid is better known as rabbit fish. In hatcheries, constraint that is still faced is the low survival, which was assumed to occur because of the timing for initial feeding is not solidly known. This research aimed to examine the best initial feeding time for siganus, based on evaluation on eyes and yolk reserves during the transition. The research was conducted from 24-29 March 2021 in IPUW Barru, South Sulawesi. Larvae were obtained from the second progeny (G2) of domesticated Siganus guttatus. Larvae were reared for 5-6 days without feeding. Evaluated parameters include eyes diameter and yolk reserves. Samples were observed with microscope and will be explained descriptively. Water quality parameters were measured, namely DO, salinity, pH and temperature. Eyes diameter at 6 Hour After Hatching (HAH) ranges between 81.5-128.9 µm, 13 HAH= 125.5-167.7 µm, 24 HAH= 138.2-213.9 µm, two days after hatching 2 Day After Hatching (DAH) = 113.6-193.1 µm, 3 DAH= 163.1-219.2 µm, 4 DAH= 190.4-212.6 µm. Yolk reserves diameter ranged between 137-194µm (6 HAH), 13 HAH= 152-191µm, 24 HAH= 94.0-185µm, 2 DAH= 75.3-99.63µm, 3 DAH= 42.33-87.58µm, 4 DAH= 38.17-55.59µm. After age 5 DAH, there are no larvae found alive (dead). Eyes developed at age 6 HAH and experienced pigmentation at age 24 HAH. Conversely, yolk reserves diameters were getting smaller since age 24 HAH and completely disappear at age 4 DAH. It indicates that eyes effectively see feeds at age 2 DAH. Therefore, initial feeding should be started. The water quality parameters measured were still in normal conditions according to the life of S. guttatus larvae. From this research, it can be concluded that eyes have been well functioned at age 2 DAH and yolk reserves was finished at age 4 DAH. Therefore, the initial feeding should be done at the age of 2 DAH.Keywords:Development, Siganus guttatus larvae,Transition
Development of Siganid (Siganus guttatus) larvae during the transition period Darsiani Darsiani; Mia Setiawati; Dedi Jusadi; Muhammad Agus Suprayudi; Asda Laining
Depik Vol 11, No 1 (2022): April 2022
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.11.1.22296

Abstract

Siganid is better known as rabbit fish. In hatcheries, constraint that is still faced is the low survival, which was assumed to occur because of the timing for initial feeding is not solidly known. This research aimed to examine the best initial feeding time for siganus, based on evaluation on eyes and yolk reserves during the transition. The research was conducted from 24-29 March 2021 in IPUW Barru, South Sulawesi. Larvae were obtained from the second progeny (G2) of domesticated Siganus guttatus. Larvae were reared for 5-6 days without feeding. Evaluated parameters include eyes diameter and yolk reserves. Samples were observed with microscope and will be explained descriptively. Water quality parameters were measured, namely DO, salinity, pH and temperature. Eyes diameter at 6 Hour After Hatching (HAH) ranges between 81.5-128.9 µm, 13 HAH= 125.5-167.7 µm, 24 HAH= 138.2-213.9 µm, two days after hatching 2 Day After Hatching (DAH) = 113.6-193.1 µm, 3 DAH= 163.1-219.2 µm, 4 DAH= 190.4-212.6 µm. Yolk reserves diameter ranged between 137-194µm (6 HAH), 13 HAH= 152-191µm, 24 HAH= 94.0-185µm, 2 DAH= 75.3-99.63µm, 3 DAH= 42.33-87.58µm, 4 DAH= 38.17-55.59µm. After age 5 DAH, there are no larvae found alive (dead). Eyes developed at age 6 HAH and experienced pigmentation at age 24 HAH. Conversely, yolk reserves diameters were getting smaller since age 24 HAH and completely disappear at age 4 DAH. It indicates that eyes effectively see feeds at age 2 DAH. Therefore, initial feeding should be started. The water quality parameters measured were still in normal conditions according to the life of S. guttatus larvae. From this research, it can be concluded that eyes have been well functioned at age 2 DAH and yolk reserves was finished at age 4 DAH. Therefore, the initial feeding should be done at the age of 2 DAH.Keywords:Development, Siganus guttatus larvae,Transition
The Effect of Enriched Daphnia sp. with Different Source of Oil on the Survival Rate and the Growth of Oreochromis niloticus Larvae Mokoginta, I.; Jusadi, Dedi; Pelawi, T.L.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.769 KB) | DOI: 10.19027/jai.2.7-11

Abstract

ABSTRACTThis experiment was conducted to evaluate best source of oil to enriched Daphnia sp. before fed it to Oreochromis niloticus larvae. Four treatments were used in this experiment; first, Daphnia sp. without encrichment, second Daphnia sp. enriched with fish oil, third Daphnia sp. enriched with corn oil and the fourth Daphnia sp. enriched with coconut oil. Three days old larvae fed on Daphnia sp. with size of £ 0,5 mm at the first week and 0,6 – 1,0 mm as the second week of this experiment. Larvae fed on Daphnia sp. 5 times daily, ad libitum, for 14 days. Larvae was reared in the small cages (2,25 l), and all cages was placed in the aquarium. Larvae density was 48 larvae/l. This experiment showed that the lipid level in Daphnia sp. enriched with oil was higher than that of no enrichment Daphnia sp. The highest n3- fatty acid level was found in Daphnia sp. enriched with fish oil, and the highest n6- fatty acid level was found in Daphnia sp. enriched with corn oil. Larvae fed on Daphnia sp. enriched with oil have a higher relative growth rate than that fed on Daphnia sp. without enrichment. The highest survival rate of larvae was found by feeding them with Daphnia sp. enriched with corn oil (p < 0,05).Key words : Daphnia sp., enrichment, larvae, Oreochromis niloticus ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi sumber minyak yang terbaik bagi pengkayaan Daphnia sp. sebelum diberikan ke larva ikan nila, Oreochromis niloticus. Ada 4 perlakuan dalam penelitian ini yaitu Daphnia sp. yang tidak diperkaya minyak; Daphnia sp. yang diperkaya minyak ikan; Daphnia sp. yang diperkaya minyak jagung; dan Daphnia sp. yang diperkaya minyak kelapa. Larva ikan nila, Oreochromis niloticus berumur 3 hari ditebar dalam hapa kecil (volume 2,25 l) sebanyak 48 ekor/l, dan seluruh hapa diletakkan dalam akuarium berukuran 100x50x40 cm. Daphnia sp. diperkaya terlebih dahulu dengan minyak sesuai perlakuan sebelum diberikan ke larva. Pada minggu pertama pemeliharaan larva, ukuran Daphnia sp. yang digunakan adalah £ 0,5 mm dan pada minggu ke dua 0.6 – 1.0 mm. Daphnia sp. diberikan sebanyak 5 kali dalam sehari secara ad libitum dan pemberian pakan dilakukan selama 14 hari. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa kadar lemak Daphnia sp. yang diperkaya minyak lebih tinggi dari Daphnia sp. yang tidak diperkaya, dan hal ini berpengaruh pula pada kadar lemak tubuh larva. Kadar asam lemak –n3 tertinggi terdapat pada Daphnia sp. yang diperkaya minyak ikan dan kadar asam lemak –n6 tertinggi terdapat pada Daphnia sp. yang diperkaya minyak jagung. Larva yang diberi Daphnia sp. yang diperkaya dengan minyak mempunyai pertambahan bobot relatif dan tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi dari larva yang diberi Daphnia sp. yang tidak diperkaya; dan tingkat kelangsungan hidup larva yang tertinggi dihasilkan oleh perlakuan pemberian Daphnia sp. yang diperkaya minyak jagung (P < 0,05), walaupun pertumbuhan bobot relatifnya sama dengan perlakuan lainnya (p > 0,05).Kata kunci : Daphnia sp., pengkayaan, larva, Oreochromis niloticus
Effects of Probiotic Bacillus sp. on Food Convertion and Growth of Catfish Pangasius hypophthalmus Jusadi, Dedi; Gandara, E.; Mokoginta, Ing
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.85 KB) | DOI: 10.19027/jai.3.15-18

Abstract

A triplicate experiment was conducted to evaluate the addition of probiotic Bacillus sp. into the diet on feed convertion and growth of catfish Pangasius hypophthalmus. Twenty fish with an initial body weight of 1,85 ± 0,09 g were stocked in a 60-1 aquarium. During rearing period, fish were fed on the diet three times a day at satiation. Prior the feeding, probiotic (contained Bacillus sp. 4,2x106 CFU.ml-1) were added into the diet at a dosage of 0, 5, 15 or 25 ml.kg-1 diet. The probiotic were added once a day at the noon. The results showed that maximum protein retention, lipid retention, growth rate, and minimum feed convertion was found in the group of fish fed on the diet supplemented with 15 ml probiotic kg-1 diet. Irrespective to the dosage of probiotic, food consumption and survival rate of fish were the same among the treatments. Key words : Probiotic. Bacillus sp.. catfish Pangasius hypophthalmus.   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis yang optimal dari probiotik Bacillus sp. yang ditambahkan pada pakan komersil terhadap konversi pakan dan pertumbuhan benih ikan patin Pangasius hypophthalmus. Dua puluh ekor ikan patin dengan bobot rata-rata 1.85 ± 0,09 g ditebar dalam setiap akuarium frekuensi 50x40x35 cm yang diisi air 60 1. Selama 40 had masa pemeliharaan. ikan diberi pakan buatan berkadar protein 27% dengan frekwensi tiga kali sehari, at satiation. Sebelum diberikan ke ikan, pakan tersebut ditambah produk probiotik (mengandung Bacillus sp. 4,2 x 106 CFU/ml) dengan dosis 0, 5, 15 atau 25 ml/kg pakan. Pakan yang mengandung probiotik hanya diberikan sekali setiap hari, yakni pada pukul 13.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya penambahan probiotik dalam pakan sampai dosis 15 ml/kg pakan menyebabkan terjadinya peningkatan retensi protein, retensi lemak dan laju pertumbuhan harian ikan, serta menurunkan konversi pakan. Penambahan probiotik lebih lanjut (25 ml/kg pakan) menurunkan kinerja pertumbuhan di atas. Sementara itu. kelompok ikan di setiap perlakuan mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang tidak berbeda nyata, yaitu antara 132,43 g sampai 137,84 g. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penambahan probiotik di dalam pakan tidak memberikan adanya perbedaan yang nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan, yaitu antara 98,3% - 100%. Kata kunci: Probiotik. Bacillus sp.. ikan patin Pangasius hypophthalmus
Pair replacement on the spawning success of broodstock Seahorse (Hippocampus barbouri) Syafiuddin, .; Junior, M. Zairin; Jusadi, Dedi; Carman, Odang; Affandi, Ridwan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1111.033 KB) | DOI: 10.19027/jai.10.29-37

Abstract

Seahorse, (Hippocampus barbouri) is one of marine living resources having high commercial values and has commonly been traded especially as live ornamental aquarium fish, raw material of traditional medicine and as souvenirs. This expriment was conducted to determine the succces of spawning rate by replacing the broodstock pair of seahorse. This study was done experimentally with treatment of replacement of broodstock pair after spawning under control condition. The experiment was designed to apply completely randomize design by using the following treatments: Treatment A, without replacement neither male nor female. Treatment B, spawned female broodstock  was being mated with her unpaired male broodstock.  Treatment C, a male broodstock that still brood was being mated with his unpaired female broodstock.  Treatment D, a spawned male broodstock that has released larva was being mated with his unpaired female broodstock.  Results showed that under control condition the replacement of broodstock pairs of seahorse had significantly influenced the spawning interval, number of eggs released and number of juveniles produced (P0,05).  It can be concluded that seahorse is not monogamous, either male or female after being spawned may accept other pair for the next spawning. Key words: pair replacement, broodstock, success spawning, Hippocampus barbouri   ABSTRAK Kuda laut, (Hippocampus barbouri) merupakan salah satu sumberdaya hayati laut yang memiliki nilai komersial dan telah banyak diperdagangkan terutama sebagai ikan hias, bahan baku obat tradisional dan juga sebagai suvenir. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji tingkat keberhasilan pemijahan dengan penggantian pasangan induk kuda laut pada wadah budidaya. Percobaan ini dilakukan secara ekperimental dengan perlakuan penggantian pasangan induk setelah pemijahan dalam wadah budidaya. Percobaan dirancang dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan sebagai berikut: Perlakuan  A, pemijahan   sepasang  induk kuda laut (tanpa pergantian). Perlakuan B, pemijahan induk betina yang telah memijah dengan induk jantan bukan pasangannya. Perlakuan C, pemijahan  induk  jantan  yang telah memijah (mengerami telur) dengan induk betina bukan pasangannya. Perlakuan D, pemijahan induk jantan yang telah melahirkan dengan induk betina bukan pasangannya. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggantian pasangan induk pada wadah budidaya sangat berpengaruh terhadap interval pemijahan, jumlah telur yang dikeluarkan dan jumlah juwana yang dihasilkan (P0,05). Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa kuda laut, tidak bersifat monogami, artinya baik jantan maupun betina setelah memijah dapat menerima pasangan lain untuk pemijahan berikutnya. Kata kunci: induk, keberhasilan pemijahan, pergantian pasangan, Hippocampus barbouri
Co-Authors , Sarmin , Sofian, , . Syafiuddin A. Shofy Mubarak A.I. Nirwana Achmad Noerkhaerin Putra Adang Saputra Ade Sunarma Adiasmara Giri, I Nyoman Agustinus Ngaddi Ahmad Ghufron Mustofa Ahmad Yazid Latif Aimma, Muhammad Ariful Alimuddin Aliyah Sakinah, Aliyah Andi Tiara Eka Diana Puteri, Andi Tiara Eka Diana Anny Hary Ayu Apriana Vinasyiam Arbajayanti, Rahma Dini Asda Laining Asda Laining Ayi Rahmat Azis Kurniansyah B.A. Hasyim Dadang Syafruddin Darina Putri Darsiani Darsiani darsiani, Darsiani Deddy Yaniharto Deddy Yaniharto dedy yaniharto Dewi Sulasingkin Diamahesa, Wastu Ayu Didi Humaedi Yusuf, Didi Humaedi Dinamella Wahjuningrum Dini Harianto Dodi Hermawan E. Gandara Eddy Supriyono Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Enang Harris Endang Purnama Sari Fardila Putri, Rizqiyatul Febrina Rolin Fitriani, Farida Hasan Abidin Hasan Nasrullah Hendriana, Andri Hestirianoto, Totok I Made Artika I MADE ARTIKA I Nyoman Adi Asmara Giri I. Mokoginta Ichsan Achmad Fauzi Ika Wahyuni Putri Imron Imron, Imron Ing Mokoginta Ing Mokoginta ING MOKOGINTA Ing Mokoginta Ing Mokoginta Ing Mokoginta Irzal Effendi Ismail Rahmat Ismarica, Ismarica Jefry Jefry Jr., Muhammad Zairin Juli Ekasari Julie Ekasari Jullie Ekasari Ketut Sugama Ketut Sugama Kukuh Nirmala M. Zairin Junior Mas Bayu Syamsunarno Mas Tri Djoko Sunarno Mas Tri Djoko Sunarno Mas Tri Djoko Sunarno, Mas Tri Djoko Meilisza, Nina Mia Setiawati Mohamad Amin MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Muhammad Roikhan Amanullah Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Muhammad Zairin Jr. Mujizat Kawaroe MUNTI YUHANA Nadisa Theresia Putri Neltje Nobertine Palinggi Neltje Nobertine Palinggi nFN Safratilofa Nina Meilisza Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur Hikma Mahasu Nur, Abidin NurBambang Priyono Utomo Nurina Pratiwi Odang Carman Otie Dylan Soebhakti Hasan Pangentasari, Dwinda R Rifai Rakhmawati, Rakhmawati, Rasidi Rasidi Rasidi, Rasidi Reza Samsudin Ria Septy Anggraini, Ria Septy Ricky Ramadhan RIDWAN AFFANDI Rina Hirnawati Riska Diana Rizkan Fahmi Robin, , Shella Marlinda Shidik, Taufik Shidik Adi Nugroho Siti Komariyah Siti Murniasih Sri Nuryati Sri Nuryati Suardi Laheng Sumantri, Iwan Sumiana, I Kadek Syarifah Ruchyani Syefti Palmi, Revita T.L. Pelawi Talita Shofa Adestia Thoy Batun Citra Rahmadani Tira Silvianti Titin Kurniasih Toshiro Masumoto Triana Retno Palupi Tulas Aprilia Ucu Cahyadi Usman Usman Usman Usman Usman Usman Uttari Dewi Wahyu Pamungkas Wahyu Pamungkas Wahyudi, Imam Tri Wasjan Wasjan Wasjan WIDANARNI WIDANARNI Widya Puspitasari Wijianti, Hani Wiwik Hildayanti Yulfiperius, Yulfiperius Yulintine Yulintine YULISMAN Yuni Puji Hastuti Yutaka Haga Zuraida .